buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 11 September 2013

Mr. Independent BAB TIGA

Hasby menjatuhkan diri dikursi kayu didepan kanvasnya dan mengernyit merasakan sakit ditulang belakangnya yang menyentuh bangku kayu cukup keras. Luapan amarah masih bergemuruh dihatinya. pikirannya masih dilingkupi oleh hawa panas yang terasa membakar otaknya. Berani-beraninya dia . ia menarik nafas panjang saat merasakan butir-butir peluh membasahi wajahnya. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Sebelumnya belum pernah ada orang yang mengusiknya seperti anak baru itu. ia berjanji tidak akan pernah membiarkan anak baru itu mengganggu hidupnya lagi. Setelah nafasnya mulai beraturan ia melirik ke kanvasnya. Menatap sosok gadis cantik yang begitu sempurna. Wajahnya, senyumnya, suarannya, wanginya, masih begitu melekat dalam ingatan hasby. Begitu hangat hingga akhirnya matanya menyalang tajam. Ia menekan kepalan tangannya ke kanvas itu hingga menembus kanvas itu, tidak cukup sekali ia melakukan berulang kali hingga kanvas itu hancur tak bersisa. Ia berdiri dari kursinya dan menendang penyanggah kanvasnya hingga terjatuh kelantai. Ia menelan ludah dan menarik nafas sebentar lalu menguatkan hati untuk pergi dari ruangan itu. meninggalkan lukisan itu dengan keadaan mengenaskan. Lukisan yang ia buat selama berminggu-minggu. Lukisan yang sudah begitu banyak menguras waktunya. Dan sekarang ia hancurkan begitu saja.

***

Siska menengguk air mineral yang langsung dibelinya saat sampai dikantin, sedangkan sita hanya diam sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah. “sorry ya ta, gue ga tau kalo ada hasby disana.” kata siska saat berhasil menghabiskan setengah botol dan langsung menatap sita penuh penyesalan. “cewe yang tadi siapa ya sis?” sita bertanya sambil berfikir mencoba mengacuhkan permohonan maaf siska.
“waah… bener-bener lo ya. Udah dibentak-bentak gitu. Masih aja bisa penasaran.” Siska mengerutkan kening sambil geleng-geleng kepala. Mencoba mencari akal supaya sita tidak lagi berurusan dengan hasby.
“siapapun dia, gue ga peduli dan sebaiknya lo juga ga peduli. Lo liat kan ta gimana marahnya hasby tadi?” siska sekali lagi berusaha mengingatkan sita bagaimana amarah hasby tadi. Sita menatap siska sambil tersenyum. Dan lagi-lagi membuat siska menaikkan alis.
“menurut lo lukisan hasby tadi itu sosok nyata atau Cuma imajinasi dia aja?”
“lo bener-bener suka sama dia ya ta?” siska melirik pergelangan tangan sita yang memar akibat cengkraman hasby beberapa menit lalu.
“gue ga papa kok sis.” Katanya mencoba meyakinkan siska kalau memar ditangannya sama sekali bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan walau sebenarnya ia membohongi siska. Cengkraman hasby tidak hanya membuat pergelangan tangannya merah tapi juga meninggalkan rasa nyeri disana. saraf-sarafnya menegang sehingga terasa sakit kalau digerakkan.
“jawab pertanyaan gue ta, lo suka sama hasby?” siska menatap mata sita dalam-dalam. Mencoba mencari kebenaran disana. dengan acuh sita mengangkat bahu lalu beranjak untuk membeli minum. ia kembali dan langsung menyeruput soft drinknya hingga tersisa setengah.
“gue kan udah pernah jawab.” Sita menatap pandangan siska dengan skeptis.
“penasaran? dan masih penasaran setelah liat dia marah kaya gitu?” sekali lagi ia melirik pergelangan tangan sita dan secepat itu juga sita menutupinya dengan tangan yang satunya.
***
Hasby membuka pintu kamarnya dan menimbulkan bunyi berderit cukup keras. Ia melempar tas keatas meja belajarnya lalu menjatuhkan diri ke ranjang bersprei berwana putih itu dengan sepatu yang masih menghiasi kakinya. Pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. Dan seketika itu juga api amarah terasa membakar seluruh tubuhnya. Diingatnya wajah sita yang berbinar penuh keingin tahuan saat melihat lukisannya.
Tok..tok..tok…  suara itu berhasil membuyarkan pikirannya. Setelah mendengar suara mamanya ia menyahut dan mempersilahkan masuk. Setelah pintu terbuka ia mendudukkan diri di ranjangnya sambil menatap wanita muda masuk ke kamarnya.
“kamu baru pulang?” mamanya duduk disamping ranjang dan menatap wajah tampan anaknya. Hasby mengangguk sambil membuka blazer sekolahnya dan menyampirkannya ke kursi belajar yang tak jauh dari sana dengan sembarang.
“tadi di mall mama ketemu vi….” Hasby berdehem cukup keras sebelum mamanya berhasil menyelesaikan kata-katanya. Seakan ia tidak mau nama itu terdengar olehnya. Air muka hasby langsung berubah ,Tapi ia hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun.
“kamu udah ngelupain dia kan sayang?” hasby sebenarnya ingin berteriak tidak… ia masih mencintai dan menyayangi wanita itu, ia masih berharap semuanya bisa kembali seperti dulu, tapi akhirnya ia menarik nafas panjang dan mengangguk dengan mantap. Mencoba meyakinkan mamanya kalau ia baik-baik saja.
            “hasby baik-baik aja ma.” Katanya lagi saat mendapati tatapan mata mamanya yang masih diliputi keraguan. Mungkin ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari mamanya tapi ia tidak mau melihat mamanya terlalu mengkhawatirkannya. Toh, ini Cuma masalah anak muda biasa dan mungkin dirinya yang terlalu melebih-lebihkan.
            ***
            Sita memberanikan diri membuka gagang pintu putih itu. setelah terbuka bau khas langsung menyengat hidungnya. Ia menatap keindahan yang terlihat disekelilingnya. Perpaduan warna yang begitu cantik. Ia mengelilingi ruangan itu, menelik satu-persatu lukisan yang ada disana. mulai dari yang terpajang didinding sampai yang digeletakkan menyandar ditembok juga yang masih kokoh dipenyanggah dan menanti untuk diselesaikan.
            Semuanya indah tapi bukan itu yang ia cari. Ia terus mengelilingi ruangan hingga akhirnya matanya berhenti dipojok ruangan. Kesebuah kanvas yang sudah tak berbentuk dan dibiarkan tergeletak seperti sampah. Perlahan ia bergerak menghampiri apa yang menjadi objek tatapannya beberapa detik lalu.
            “kenapa ancur begini?” ia mengambil kepingan kanvas itu agar bisa melihat kembali lukisan hasby. Dan sekali lagi terpana akan kejeniusan hasby dalam hal yang satu ini. wanita dalam lukisan itu terasa begitu nyata dan begitu hidup.
        
    ***

            “wahai pria tampan yang ada didalam, buruan keluar donk. Gue udah telat nih.” Seorang wanita berteriak nyaring dan langsung memekakaan telinga hasby yang sedang memasang dasinya didepan cermin.
            “berisik banget sih, mobil lo kemana?” katanya sambil menarik bagian segitiga dasinya ke ujung kerah.
            “masuk bengkel sayaaaaang. Hadeh.. buruan deh, gue ada kuis pagi ini tau.” Katanya kesal sambil terus menggedor-gedor pintu kamar hasby.
            “iyeeh baweeeel.” Hasby membuka pintu dan melihat wanita dengan kaos putih dan blazer coklat juga blue jeans. Sepersekian detik setelah hasby menampakkan diri wanita itu langsung menarik tangan hasby menuju ruang makan.
            “makannya dijalan aja.” Wanita itu tersenyum kepada mama hasby dan akhirnya tertawa melihat hasby yang menaikkan sebelah alisnya. “lo pikir gue kuda makan sambil jalan.” Katanya sambil menyeruput susu hangatnya. “hasby… kalo gue ampe telat gue ga mungkin bisa ikut kuis. Dosen yang ini tuh killer banget tau.” Katanya was-was sambil menatap hasby yang terlihat begitu menghayati susu hangatnya seakan sengaja memperlambatnya. “lo kan bisa naek taxi.” Hasby menaruh gelas kosongnya diatas meja makan. Dan mulai memilih roti tawar yang ada dimeja makan. “kan ada elo, ngapain naek taxi. Bareng lo kan ketauan gratis.” Katanya sambil menarik tangan hasby tepat saat hasby berhasil mengambil dua lembar roti tawar dan siap memasukkan ke mulutnya. “tante, via duluan yaa.” Teriaknya sambil menjauh dari ruang makan sedangkan hasby hanya mengikuti arah tangannya sambil berusaha menelan roti yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya.
            “woy, kalo gue mati keselek gimana.” Katanya setelah sampai digarasi dan dengan susah payah berhasil menelan hingga melewati tenggorokkannya. Setelah puas mengomel hasby mulai menjalankan motornya membelah kemacetan ibukota menuju salah satu universitas negeri dijakarta. “ntar ga usah jemput gue, gue bareng temen gue aja.” Hasby yang diajak bicara mengerutkan dahi. “idiih.. lagian siapa juga yang jemput lo. Kerajinan.” Katanya sambil tertawa menampakkan deretan gigi putihnya.
        
    ***

            Sita mengerutu saat mendapati tinta pulpennya habis ditengah-tengah ujian fisika. Ia melirik kearah hasby yang sedang serius dengan lembar jawabannya. Lalu menelan ludah saat mengetahui kalau hasby tidak mungkin bisa dimintai bantuan. Ia meraih tempat pensilnya dan mencoba pulpen yang masih ia simpan disana, tapi naasnya semuanya habis. Inilah kebiasaan buruknya, selalu menyimpan barang yang tidak berguna dan akhirnya malah menyusahkannya. Ia beralih ke tasnya dan mengorek-orek berharap masih ada keajaiban disana. tapi akhirnya ia mendengus saat mendapati usahanya nihil.
            Sekali lagi ia melirik kearah hasby dan berfikir tidak ada salahnya mencoba.
            “by, boleh pinjem pulpen gak?” katanya sambil berbisik berusaha tidak mengganggu ketenangan yang sedang tercipta dikelas itu. tanpa menoleh hasby berkata cepat. “nggak”
            Sudah sita duga, selain jutek hasby juga pelit. “pelit ih.” Katanya refleks dan pelan tapi cukup terdengar jelas ditelinga hasby. “kalau gue juga Cuma punya satu, gimana gue mau minjemin lo. Mending lo beli dikoprasi sana, ada dilorong sebelum kantin.” Katanya sambil mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dan meletakkannya dimeja depan sita. Membuat sita menaikkan alis. Apa maksudnya niih . katanya dalam hati.
            “makasih atas bantuan materilnya, tapi gue ga butuh.” Katanya sambil menggeser uang itu kemeja hasby dan beranjak dari tempat duduknya. Sepanjang perjalanan ke koperasi ia sibuk menggerutu dalam hati tidak menyangka kalau hasby bisa melakukan tindakan seperti itu. dia pikir gue semiskin itu apa? Setelah sampai dikoperasi ia membeli setengah lusin pulpen sekaligus untuk cadangan. Juga sebagai ajang balas dendam pada hasby akibat merendahkannya tadi. Ia tertawa sendiri membayangkan reaksi hasby nanti.  Setelah mengambil kembalian dari pria paruh bawa penjaga koperasi ia kembali ke kelas dan langsung melanjutkan ujiannya agar tidak kehilangan banyak waktu. Setelah bel berbunyi ia lekas maju untuk mengumpulkan lembar ujiannya begitu juga anak-anak yang lain.
            “niih by, buat lo.” Katanya sambil menaruh tiga buah pulpen dimeja hasby, membuat hasby menoleh dengan tatapan bingung. “lo kan ga punya pulpen cadangan.” Sita berusaha menjelaskan maksud dan tujuannya.
            “gue emang ga punya pulpen cadangan tapi gue masih punya cukup uang.” Katanya jutek sambil beranjak dari kursinya, menghilang entah kemana padahal masih ada satu mata pelajaran lagi sebelum istiahat.
            Sita tersenyum melihat raut wajah hasby yang terlihat kesal, tidak.. ia sebenarnya ingin tertawa keras. Rasain lo.. emang enak… kutuknya dalam hati.
            Beberapa menit setelah ibu andien sang guru matematika masuk hasby menyusul dan langsung duduk disampingnya. Sita masih belum bisa menyembunyikan senyumnya bahkan saat guru itu mulai menjelaskan angka-angka dipapan tulis ngalor-ngidul.
            “sita… are you okay??” sita langsung menatap wajah bu andien sambil mengangguk pelan. Ia pikir semuanya sudah selesai tapi ternyata tidak. Bu andien menyuruh sita mengerjakan satu dari tiga soal dipapan tulis. Mati gue… makinya dalam hati. Sita tidak bisa dibilang bodoh tapi jujur ia paling benci dengan pelajaran ini dari dulu. Terus gimana menjawab bahkan sedari tadi ia tidak pernah tau bu andien menjelaskan apa.
            Dengan gemetar ia beranjak dari kursi dan mengambil spidol dari tangan bu andien lalu menatap papan tulis. Wajahnya mulai pucat melihat angka-angka dengan pangkat kuadrat dipapan tulis. Perlahan ia mulai membaca catatan bu andien yang masih ada di papan tulis sebelah kiri atas, berharap mendapat jawaban dari sana. “siapa yang bisa mengerjakan nomor dua?” bu andien bersuara kembali dan sama sekali tidak membantu sita.
            Sita membulatkan matanya saat melihat hasby berdiri disampingnya dan dengan sepertinya dengan mudah mengerjakan soal itu, ia tidak Cuma mengerjakan soal nomer dua tetapi juga soal nomor tiga. Kerjain soal gue juga dong sita berteriak dalam hati sambil menampakkan wajah memelas membuat hasby tersenyum sinis kearahnya. hasby sialan. Sita mengatai hasby saat mendengar hasby berkata “selamat berjuang” dan dengan enteng meninggalkan sita yang masih menjadi tontonan gratis semua penghuni kelas. Sita sempat mendengar ada suara cekikikan yang mungkin mentertawakan kebodohannya.
            “sita.” Suara bu andien menyedarkan sita dari lamunan panjang yang tidak menghasilkan apa-apa. “saya ga ngerti bu.” Jawabnya jujur. “duduk. Lain kali kalau saya sedang menjelaskan tolong diperhatikan ya.” Guru itu mengulurkan tangannya dan mengambil spidol dari tangan sita. Sita tersenyum sambil mengangguk lalu kembali ke mejanya.
            “payaah.. soal kaya gitu aja gak bisa.” Suara hasby membuat sita menoleh dengan geram. Menahan diri untuk tidak mencolok mata tajam hasby dengan jari-jarinya
            ***
            “pak..pak berhenti pak.” Sita membuka kaca gelap mobilnya dan terpaku melihat seseorang yang sedang bermain basket dilapangan belakang sekolah. setelah memberi instruksi supirnya agar pulang duluan ia turun dari mobil dan menghampiri lapangan basket yang berada ditengan sebuah taman hijau itu.
            Hasby berdiri ditengah-tengah lapangan dengan sebuah bola besket ditangannya. Beberapa kali ia mencoba melempar bola oranye itu ke ring tapi gagal. Sita tersenyum “payaah, gitu aja ga bisa.” Ia setengah berlari dan merebut bola basket dari tangan hasby. Mendribblenya dua kali dan dalam satu gerakan melemparkan ke ring dan tepat sasaran.
            Ia tersenyum puas melihat hasby hanya menatapnya tanpa ekspresi. “baru bisa maen basket ya? Gitu aja bangga.” Hasby berjalan kepinggir lapangan. Mengambil ranselnya yang tergeletak disana dan mulai menjauh dari pandangan sita. Sita masih berada ditengah-tengah lapangan dan memperhatkan hasby yang mulai menghilang. Ia sama sekali tidak berniat mengejar laki-laki itu.
untuk masalah yang satu ini sita bisa dibilang berbakat. Sejak SMP Ia selalu menjadi anggota tim basket dan kemampuannya dalam memainkan bola oranye itu tidak perlu diragukan lagi.
Suara dering handphone mengembalikan sita ke alam nyata. Ia melihat wajah siska menghiasi layar ponselnya. Dan akhirnya ia baru ingat kalau ia ada janji untuk pergi ke toko buku. “ta, lo dimana? Gue udah ditoko buku nih.” Siska langsung menyerocos saat sita mengangkat telpon genggamnya. “gue masih dibelakang sekolah, gue langsung kesana niih.” Katanya setengah berlari menuju jalan besar untuk mencari taxi.
        
    ***

            “ampun deh ya, lo itu naek odong-odong yaa. Lama amat nyampenya. Gue ama ricky hampir lumutan nih.” Omel siska saat melihat sita menghampirinya. Sita tertawa melihat siska mengerucutkan bibirnya. Agak keterlaluan memang, karena sita yang minta diantar siska ke toko buku tapi malah membiarkan ia dan ricky menunggu lama karena ia tidak bisa menahan diri untuk mengalihkan pandangannya ke hasby yang sedang asik sendiri dilapangan basket.
“ricky mana?” sita melihat kebelakang siska, mencoba mencari keberadaan ricky.
“dia lagi asik maen di fun world.” Mereka akhirnya masuk kesebuah toko buku di mall itu. sita berniat membeli beberapa buku yang ia butuhkan untuk sekolah barunya sedangkan siska malah sibuk ke rak novel.
“ga usah beli buku banyak-banyak ta, kaya dibaca aja.” Siska menghampiri sita dengan sebuah tas plastik tempat buku-buku yang akan dibelinya.
“biar ga dibaca tapi harus punya, lo tau sendiri kalo hasby pelitnya minta ampun.” Siska terdengar tertawa kecil saat sita menampakkan wajah jengkel saat menyebut nama hasby.
“heyy.. wanita-wanita rumpi.. udahan belom? Kagak pada inget rumah apa ya?” suara itu berhasil membuat kedua wanita itu menoleh kearah datangnya suara secara serempak. Ricky berada tak jauh dari tempat mereka berdiri, seragamnya sudah kusut dan wajahnya tampak lelah. Seperti anak kecil yang baru saja bermain dikubangan lumpur.
“Lo kenapa ky, muka lu kusut amat?” Tanya sita sambil memasukkan buku terakhir ke tas plastik yang dipegangnya. “kusut juga masih ganteng kan?” ia tertawa lalu jalan mendekat. “gue abis adu maen basket sama anak orang.” jawabnya polos sambil mengambil tentengan dari tangan pacarnya. “biar gue tebak. Lo pasti kalah.” Sita menyahut sambil berjalan duluan menuju kasir. “gue bukannya kalah, tapi gue ngalah.” Jawabnya penuh percaya diri, tapi sita justru terkekeh mendengar jawaban ricky.


BERSAMBUNG KE BAB EMPAT

No comments:

Post a Comment