Sita
sampai disekolah saat jam masih menunjukkan 06.05. udara masih begitu segar
saat ia menghela nafas panjang dan angin sejuk memenuhi paru-parunya. Ia
berjalan pelan melewati koridor-koridor menuju kelasnya dan mengedarkan
pendangan kesekeliling. Mencoba memperhatikan sekolah barunya. Sekolah barunya
termasuk sekolah swasta elit kalau dilihat dari bentuk gedung memang lebih
mewah daripada sekolah-sekolah lain. Memiliki fasilitas-fasilitas extra yang
mungkin tidak akan ada disekolah-sekolah lain. Terdiri dari empat lantai yang
dilengkapi dengan lift untuk mencapai tiap lantainya. Dibagian kanan sekolah
ada taman yang cukup luas, hijau dan menawarkan kesejukan untuk mata yang
memandang. Lantai dasar dipergunakan sebagai kantor guru, ruang tata usaha, laboraturium-laboratorium
praktek dan juga lapangan olahraga baik indoor maupun outdoor. Sedangkan untuk
tiga lantai atas sebagai ruang kelas.
Ia keluar dari lift dilantai tiga
dan berjalan menuju ruang kelasnya dan berfikir kalau ia sepertinya datang terlalu
pagi karena sekolah masih sangat sepi. ia masuk kekelasnya dan melihat sosok
hasby sudah duduk rapi dibangkunya. Ia tersenyum lebar dan langsung
menghampirinya. “kemaren gak pulang ya?” ia tersenyum sambil melepas tasnya
dari gelungan pundaknya. Hasby menoleh dan langsung menatap sita tajam.
“lo emang biasa dateng jam segini
ya?”
Suasa hening… beberapa detik berlalu
dan hasby belum juga membuka suara untuk menjawab pertanyaan sita. Lo itu tuli ato apa sih by?? Aneh banget
jadi orang. batinnya
“gak usah sok kenal deh sama gue.
Gue gak suka.” Hasby membanting komik yang sedang dibacanya diatas meja dan
beranjak pergi dari sana. Meninggalkan sita dalam kebingungan yang luar biasa.
“Ini gue yang salah apa emang dianya
yang aneh siih? Perasaan pertanyaan gue wajar deh.” Sita berkata pada diri
sendiri.tapi sesaat kemudian ia tersenyum, membayangkan raut wajah hasby yang
jutek malah membuatnya ingin tertawa. Entah perasaan apa yang menyulut garis
bibirnya hingga mengembang. Dan dihatinya, saat melihat hasby yang muncul
adalah rasa penasaran bukan kekesalan atau yang lainnya. Ia yakin dan percaya
kalau semua sikap hasby yang tidak wajar itu pasti beralasan. Dan entah sejak
kapan ia bertekad untuk mengatahui alasan itu.
***
“sis, lo tau ga sih kenapa hasby itu
bisa sejutek itu?” sita bertanya pada siska saat mereka berada dikantin. Siska
yang sedang larut dengan makanannya mulai tertarik mendengar pertanyaan sahabat
barunya itu. ia lantas melepaskan tangannya dari sendok garpu dan menumpuk
kedua lengannya diatas meja. “udah gerah ya sama sikapnya?” katanya setengah
berbisik. Sita hanya mengangguk seraya membenarkan. Diingatnya sepanjang
pelajaran tadi hasby sama sekali tidak menoleh kearahnya maupun mengajaknya
bicara. Laki-laki itu seakan tidak pernah menganggap kalau sita ada
disampingnya.
Sitapun akhirnya menceritakan
insiden tadi pagi dan membuat siska terbahak, seakan sita baru saya
menceritakan kejadian lucu. Ia mendengus dan pasrah dirinya dijadikan bahan
tertawaan sahabat barunya itu. “kalo lo mau cari aman sama hasby? Satu-satunya
cara ya lo diem. Anggep aja hasby ga ada.” Siska terkekeh dengan kata-katanya
sendiri. Membuat sita mengernyit. “gilo lo, lo pikir gue batu apa.” Jawabnya
lantang walau sebenarnya kalau dipikir-pikir mungkin itu adalah pilihan
terbaik.
“lo tau gak sih kenapa dia bisa kaya
begitu?” saat sita bertanya ricky datang menghampiri mereka dan langsung duduk
disamping wanitanya. Mencoba langsung menatap gadis didepan dan disebelahnya
seakan tidak ingin ketinggalan berita. “ada apa nih, dari jauh keliatannya seru
banget?” dan tanpa basa-basi siska menceritakan semua yang baru saja
diceritakan sita kepada ricky, membuat laki-laki itu tertawa juga.
“haduh.. udah donk.. cariin solusi
kek, malah ngetawain lagi.” Sita merajuk melihat kedua temannya malah sibuk
menertawakan dirinya.
“abis lo lucu ta, udah dibilang
kemaren hasby itu jutek. Malah berani-beraninya nyapa dia.” Ricky terkekeh membayangkan
ekpresi jutek hasby.
“emang dia semenakutkan itu ya?”
sita bertanya tepat saat pesanannya datang. Setelah mengucapkan terima kasih
kepada penjualnya ia langsung mengadu sendok dan garpu dipiringnya.
“lebih dari itu sita. Hasby itu
terkenal dingin banget sama cewe. Lo mau nanya baik-baik juga pasti jawabannya
pasti jutek.” Siska memperhatikan sita yang sibuk dengan makanannya tapi ia
tahu kalau telinga sita pasti masih difungsikan seratus persen.
“pantes aja duduk sendiri. Pasti ga
akan ada yang mau deket-deket sama dia.” Sita masih mengunyah saat mengeluarkan
kata-kata barusan. Membuat siska yang sedang menyeruput soft drinknya
menggeleng cepat. “jangan salah, salah satu cewe paling tajir dan paling
popular disekolah ini justru cinta mati sama dia.” Sita mengernyit dan sesaat
terbersit wajah hasby. Wajah hasby memang tampan, dan sejauh yang ia lihat ia
tampak sempurna secara fisik. Walau pada akhirnya tuhan menunjukkan
keadilannya. Hasby diberi fisik yang rupawan tapi tidak dengan sikap dan
sifatnya.
“kayanya sejauh ini Cuma dia yang
kebal sama hasby. Tapi udah dikejar kaya apa juga hasby mana mau luluh. Lagian
siapa juga mau sama cewe kaya dia.”
“kaya gimana maksud lo?”
“sok berkuasa mentang-mentang orang
tuanya termasuk salah satu donator terbesar disekolah ini. suka berbuat
seenaknya, pokoknya cewe yang super duper nyebelin deh.” Siska menggeram
mengingat sikap cewe yang diceritakannya. Membuatnya terbakar emosi. Dan
seketika itu juga membuat sita terkikik. “lo kayanya punya dendam pribadi ya
sama tu orang?” simpulnya
“gue ga suka aja sama sikapnya yang
sok berkuasa itu. untungya dia minggu ini lagi izin. Kabarnya sih keluar
negeri. Tau deh negeri mana. Gue berdoa sih semoga tu anak nyasar terus ga
balik lagi kesini.” Katanya sambil tertawa membayangkan betapa damainya sekolah
ini kalau keinginannya menjadi kenyataan.
“cewe lo parah banget ky.”. ricky
langsung mengangguk membenarkan. “kalau ngomongin tu orang emang dia selalu
emosi bawaannya.”
***
“pak..pak tolong ikutin motor itu
dulu ya. Tapi agak jaga jarak” Sita menyuruh supirnya membelokkan mobil kearah
berlawanan dengan arah yang seharusnya. Ia melihat hasby dan motornya menikung
tepat didepan mobilnya. Walau hasby memakai helm full face dan jaket yang
menutupi seluruh badannya dari panasnya sinar matahari. Ia yakin karena sangat mengenali ransel hasby.
Atau entah sejak kapan ia mulai memperhatikannya. Dengan patuh, mobilnya kini
mengekori sepeda motor hasby dengan jarak agak jauh tapi masih bisa dilihat.
Motor mewah hasby meluncur mulus
membelah kemacetan Jakarta. Ia mulai masuk kesebuah komplek yang sebenarnya tidak
jauh dari sekolahnya dan masuk kesebuah rumah berplang “SANGAR SENI ANANDA”.
Sita menyuruh supirnya berhenti
lebih dekat lalu membuka kaca mobilnya. Ia melihat hasby memarkirkan motornya
dipelataran sanggar. Beberapa anak disana terdengar menyapa dengan senyum
paling ramah. Hasby terlihat melengkungkan garis bibirnya sambil membuka
jaketnya dan langsung masuk kedalam sanggar.
Itu
orang bisa senyum juga toh. Tapi Buat
apa hasby disini?? Apa dia salah satu anggota disanggar ini?? sita membatin
sambil menyuruh supirnya kembali menginjak gas. Tapi semenit kemudian ia
kembali menyuruh supirnya berhenti karena rasa penasaran kembali menyeruak
dihatinya.
“bapak pulang duluan ya, nanti sita
naik taksi aja.” Katanya sambil turun dari mobilnya. Setelah orang yang diajak
bicara mengangguk mobilnya mulai berjalan meninggalkannya hingga hilang dari
pandangan. Ia kembali mendekati rumah berplang itu dan memperhatikan sejenak.
dari luar gerbang ia dapat melihat dengan jelas beberapa anak yang kemungkinan
usia SMP dan mungkin sebayanya terlihat bergerombol dihalaman sanggar. Setelah
memperhatikan sebentar ia berbalik dan masuk ke sebuah café yang tepat berada
didepan sanggar itu. ia bisa jamin kalau orang yang ada dicafe itu sebagian
adalah anggota disanggar itu karena letak café berada tepat didepan sanggar dan
beberapa dari mereka terlihat memakai kaos yang sama dengan tulisan yang sama
dengan nama sanggar. ia mengedarkan pandangan dan langsung duduk dipojok
ruangangan dekat kaca yang arahnya langsung menghadap kegerbang sanggar. setelah
memesan minum yang sita lakukan hanya memandang kearah gerbang sanggar hingga
akhirnya terdengar suara anak-anak sebayanya yang duduk didepan mejanya.
“ka hasby emang pendiem gitu ya
orangnya?” seseorang yang berambut pendek yang masih berseragam SMP terlihat
bersemangat bertanya dengan dua orang dihadapannya.
“emang gitu, tapi kalo lo udah
kenal. Ka hasby baik kok.” Orang yang berbaju merah menyahut sambil tersenyum.
Sita makin menajamkan telinganya
mendengar nama hasby diperbincangkan.
“tapi aneh ya, ganteng-ganteng gitu
kok ga punya pacar.” Salah seorang yang lain buka suara.
***
Hasby memarkirkan motornya dan
langsung masuk kedalam sanggar. menyapa beberapa anak yang langsung
menyambutnya dengan senyum paling manis. Setelah manaruh tas diruang aula. Ia
bergegas kebelakang sanggar. hanya disini ia bisa tersenyum ramah Karena pada kenyataannya hanya disinilah ia
merasa nyaman. Hanya dirinya, kuas dan kanvas.
Sudah
bertahun-tahun ia menghabiskan waktu ditempat ini. mulai dari menjadi anggota
sanggar lukis hingga sekarang menjadi salah satu pengajar disini. Ia melangkah
menuju gazebo luas tempatnya mengajar. Melihat dari jauh anak-anak yang sudah berkumpul
menunggunya.
Jam menunjukkan pukul 16.50 ia
keluar dari sangar menuju café diseberang untuk membeli minum. sejak keluar
dari sanggar matanya langsung tertuju ke salah satu bangku café yang ditempati
seorang gadis berseragam dan saat mata mereka bertemu gadis itu langsung
menutup wajahnya dengan buku menu.
Hasby masuk kecafe itu dan langsung
memesan jus alpukat favouritnya. Terdengar beberapa anak yang dikenalnya
menyapa ramah. Tapi mata hasby hanya menatap ke pojok ruangan, ke tempat
beberapa menit lalu pandangannya tertuju. Setelah meyakinkah diri bahwa ia
mengenal orang yang duduk disana ia menghampiri.
“ngapain lo disini?” katanya .
sepersekian detik kemudian sita terpaksa menurunkan buku menu yang sedari tadi
menutupi wajahnya. Ia tersenyum melihat hasby dengan wajah datar menatapnya bak
polisi yang menemukan tersangka.
“emang gue ga boleh ada disini.”
Sita membalas tatapan hasby yang semakin tajam
“lo ngikutin gue?” hasby mengingat
mobil yang mengikutinya dari tikungan sekolah menuju sanggar.
“ternyata selain jutek, lo juga
kepedean banget yah. Siapa juga yang ngikutin lo. Inikan tempat umum, suka-suka
gue donk.” Sita tertawa melihat wajah hasby yang mulai menampakkan kebingungan
besar. Hasby masih berdiri ditempatnya sedangkan sita sudah beranjak mendekati
kasir dan setelah membayar minumannya ia keluar dari café diikuti tatapan heran
dari beberapa penghuni isi café.
***
Sita terlonjak dari tidurnya saat
menyadari sinar matahari terasa menyilaukan wajahnya. Ia mengerjapkan mata dan
terperangah melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.15. Ia berlari menuju kamar
mandi dan dalam jangka waktu beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar sudah
dalam keadaan rapi. “ma, sita duluan yaa.. udah telat nih.” Ia mencium punggung
telapak tangan ibunya dan mengambil sepotong roti ditangan ibunya. Setelah
mengucapkan salami ia tersenyum melihat ibunya yang geleng-geleng kepala.
“ayo berangkat pak.” Sita menepuk
pungguk supirnya dan hampir saja membuat kopi yang baru diseruput pria paruh
baya itu menyembur. “iya non.” Katanya sambil menghabiskan segelas kopi
miliknya sebelum akhirnya mengikuti sita masuk ke mobilnya.
Dimobil sita sibuk memperhatikan jam
tangannya. Waktu berjalan cepat tapi ia merasa gerak mobilnya lambat karena
macet yang sudah dimulai dijalanan ibukota. Dan mobilnya berhenti mulus didepan
gerbang sekolahnya yang sudah tertutup tepat saat jam menunjukkan pukul 07.20.
ia langsung menghambur keluar dari mobil dan sedikit membanting pintu mobil
sebelum akhirnya berhasil mencapai gerbang.
Untung saja satpam yang baik hati
itu masih memperbolehkannya masuk. Sedetik setelah pintu gerbang terbuka ia
berlari sekuat tenaga menyusuri lorong-lorong menuju lift yang berada di ujung
koridor. Tapi belum sempat ia mencapai lift. Di pertigaan koridor ia menabrak
seseorang hingga jatuh tersungkur. Ia belum mendongkak karena mulai merasakan
lututnya yang terasa panas. “kalo mau main lari-larian jangan disini.
Dilapangan sana.” Suara yang begitu dikenal sita membuatnya terpaksa
menengadahkan kepalanya. Hasby berdiri disana dengan wajah datar seperti biasa.
Dan yang paling tidak diduga sita adalah, hasby hanya menatap sita sebentar
lalu berlalu begitu saja. Tanpa memberikan pertolongan atau hanya sekedar
basa-basi meminta maaf.
***
Setelah mengumpulkan sisa-sisa
tenaga sita kembali berdiri dan sekilas melihat lututnya yang memerah dan ada
rasa nyeri disana. hasby sialan runtuknya
dalam hati. Setelah meminta maaf dan menberika beribu-ribu alasan dari guru
piket, ia bisa meluncur mulus ke kelasnya tanpa mendapatkan hukuman karena
telat. Hasby duduk tenang dibangkunya dengan raut wajah yang sama sekali tidak
bisa ditebak. Hasby Belum menatapnya dan berbicara apapun saat sita berhasil
mendudukan diri disana.
Tapi saat sita mengeluarkan buku
pelajarannya hasby menoleh kearahnya, memutar badannya empat puluh lima derajat
kearahnya. cukup lama menatap sita dengan tatapan datar dan ekspresi tidak
terbaca. Seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi begitu sulit keluar dari
tenggorokkannya. Apa sebegitu sulitnya
minta maaf . sita berkata dalam hati. Sita yang merasa risih akhirnya
menyeletuk. “ga usah minta maaf, gue yang salah.” Sita membalik badan berusaha
menghindari tatapan hasby yang terasa sedingin es.
“gak salah?” suara hasby berhasil
membuat sita kembali menoleh. Ia menaikkan alis karena bingung
“siapa juga yang mau minta maaf. Gue
Cuma mau bilang, jadi anak baru kok telat.”
“anak baru juga manusia kali.” Sita
mendengus dengan marah sekaligus malu karena berfikir laki-laki disampingnya
ingin meminta maaf padanya. Ia kembali memfokuskan pandangan kedepan. Ke seorang
guru wanita yang sibuk mengoceh tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.
“ternyata hasby selain dingin dan
jutek, juga tidak berperi kemanusiaan yaa.” Sita mengoceh saat siska datang
bermaksud mengajaknya ke kantin sekolah. Orang yang dibicarakan kebetulah sudah
kabur entah kemana tak lama setelah bel istirahan berbunyi.
Siska manatap tajam kearah sita, ada
keingintahuan disana. setelah menghela nafas panjang sita menceritakan kejadian
tadi pagi. Dan kali ini tidak membuatnya tertawa tapi simpati kepada kemalangan
yang dialami oleh gadis yang kini menjadi sahabatnya itu.
“sabar ya ta, gue ga tau kalau hasby
jadi kelewatan gitu.” Siska melempar pandangan kasihan kepada sita.
“tapi lo tau sanggar seni ananda
gak?” raut wajah dan cara bicara sita berubah antusias saat mengingat sesuatu.
Membuat siska mengernyit karena merasa kalau sahabatnya sangat pintar memainkan
raut mukanya. Ia diam sambil menerawang, mencoba mengingat sesuatu yang
ditanyakan sita.
“yang ada dikomplek belakang
sekolah?” katanya meyakinkan sedikit ingatannya.
“iya.”
“kenapa emang sama sanggar itu?”
katanya sambil membolak-balik buku catatan yang ada didepannya.
“kemaren gue ngikutin hasby sampe
kesana.”
“HAH??” kali ini siska tidak bisa
menyembunyikan keterkejutannya. Memikirkan apa maksud sita mengikuti hasby
sampai sana. “waah… lo cari masalah aja deh. Tapi dia gak tau kan?”
“dia ngeliat gue dan kayanya dia
pasti tau persis kalogue ngikutin dia.”
Siska
menepuk jidatnya mendengar tingkah konyol sahabatnya. “jangan bilang lo suka
sama hasby?”
Sita mengulum senyum dan membuat
siska semakin waswas. Pasalnya kalau sampai sita tertarik dengan hasby dan
menunjukkan secara terang-terangan, sita juga pasti akan berurusan dengan elit.
“mungkin, gue ngerasa dia beda aja dari yang lain.” Sedetik kemudian siska
menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda ketidaksetujuannya. Membuat sita
kembali berujar “bukan berarti gue mengharapkan dia juga, tapi yang jelas gue
harus tau alasan kenapa dia bisa sedingin itu sama cewe.”
***
Sita memasuki gerbang sekolahnya
saat hari masih sangat pagi. Beberapa petugas kebersihan terlihat sibuk
mengepel sepanjang koridor sekolah. “hasby?” sita menatap bingung melihat hasby
sudah terduduk dibangkunya. Emang selalu
sepagi ini ya? Ia menelan ludah dan berjalan pelan menghampirinya. Suasana
begitu hening karena tidak ada yang membuka suara. Seperti biasa, hasby sedang
sibuk dengan komik favouritnya. Hasby sendiri menyadari kedatangan sita. Tapi
ia lebih memilih diam dan menganggap tidak ada orang. sebelumnya juga seperti
itu.
“lo anggota disanggar ananda itu ya
by?” dengan keberanian penuh sita bertanya. Terdengar suara helaan nafas dari
laki-laki disampingnya disusul suara berdebam keras dari buku yang dibanting.
“bukan urusan lo.” Katanya cepat.
“gue nanya baik-baik by, bisa nggak
jawabnya ga usah ketus gitu?” sita menatap hasby yang masih acuh. Laki-laki itu
menoleh. “gak bisa. Kalo ga mau diketusin ga usah ikut campur urusan orang.”
hasby memundurkan bangkunya dengan keras dan berjalan hingga berlalu dari
pandangan sita. Tapi entah dorongan apa yang membuat sita akhinya ikut keluar
dari kelas. Ia melihat kesekeliling dan menemukan hasby didepan lift. Dia
setengah berlari, tapi akhirnya ia menendang bak sampah didepan lift hingga
meninbulkan bunyi nyaring saat lift itu sudah bergerak turun. Tak lama pintu
lift terbuka, sita masuk dan menyusul hasby, walau ia sama sekali tidak tau
hasby mendarat dilantai berapa. Ia akhirnya menekan tombol satu. Setelah pintu
terbuka ia melihat kesekililing dan sama sekali tidak meninggalkan jejak hasby.
Setelah berfikir cukup lama ia mulai bergerak ke koridor sebelah kanan. Kenapa gue jadi aneh gini sih, sita mulai bertanya-tanya dalam hati atas
rasa penasarannya atas semua sikap hasby. Selama masuk sekolah ini ia
benar-benar menjadi orang yang tidak dikenalnya. Suka bersikap impulsif dan ia
benar-benar membenci dirinya sendiri.
Ia terus berjalan hingga akhirnya
sebuah ruangan menarik perhatiannya. Ruang
galeri, ia melongok kejendela bening yang menyelimuti ruangan itu. tembok
yang menghalangin pandangan hanya sebatas lehernya. Sehingga ia bisa dengan
jelas siapa sosok yang baru saja mendudukan diri disana. Hasby… sedang mengayunkan kuas diatas kanvas dengan posisi
memblakanginya sehingga sita tidak bisa melihat apa yang dilukis hasby. Dengan
penasaran ia berjalan pelan kepintu galeri yang tidak tertutup rapat untuk
melihat hasby lebih jelas.
Beberapa menit ia berdiri disana
sama sekali tidak membuatnya bisa melihat kanvas hasby. Ia berfikir kalau hasby
mungkin saja meluapkan amarah padanya diatas kanvas itu.
“dooorrr…” suara itu hampir saja
membuat jantungnya copot kedasar jurang. Tapi sedetik kemudian hening
menyelimuti mereka. Sita hanya menatap hasby yang kini menolehnya dengan wajah
merah padam. Begitupun siska yang sadar kalau ia bercanda disaat yang tidak
tepat.
“lo lagi?? Ngapain sih?” hasby maju
mendekati sita yang langsung beringsut menjauh dan menabrak siska yang ada
dibelakangnya. Dan saat itulah sita bisa melihat apa yang sedang dilukis hasby.
“cantik.” Ia tidak sadar mengucapkan kata itu keras-keras, membuat amarah hasby
makin tersulut. “dia siapa by?” sita bertanya tanpa melihat hasby yang siap
meledakkan amarahnya. Sedangkan siska sudah berusa menyadarkan sita dengan
menarik tangannya. Tapi sita masih diam disana. menatap seorang wanita cantik
yang tergambar dikanvas hasby. Wanita tinggi dengan kulit kuning lansat dan
rambut yang keriting menggantung sampai pinggang. Wanita anggun dengan gaun
putih selutut yang sedang tersenyum manis kearahnya.
“CUKUP, SEKARANG LO PERGI ATAU GUE
YANG BAKAL NYERET LO KELUAR DARI SINI.” Hasby mencengkeram pergelangan tangan
sita, membuat sita tersadar kealam nyata dan langsung meronta sekuat tenaga. Tapi
usahanya gagal saat cengkraman hasby semakin mengencang dan ia yakin akan
meninggalkan bekas memar dipergelangan tangannya.
“ini kan tempat umum. Gue boleh donk
ada disini juga?” sita menantang saat
dirinya mulai kelelahan karena usahanya melepaskan diri dari hasby tidak juga
berhasil.
“tapi bukan berarti lo bisa nanya-nanya
seenaknya. Lagian lo bukan salah satu anak lukis kan? Jadi bisa dibilang LO
TERLARANG MASUK RUANGAN INI.” mata tajam hasby membara menatap sita dan
cengkramannya semakin kuat, membuat sita mengernyit kesakitan. Ia sebenarnya
tidak mau berbuat kasar kepada siapapun. Tapi anak baru yang ada dihadapannya
ini benar-benar menganggu hidupnya. Dan ia sama sekali tidak menyukai itu.
BERSAMBUNG KE BAB TIGA
No comments:
Post a Comment