buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Thursday, 30 October 2014

Gadis Nila

BAB SATU

       “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Aku berteriak melihat sesosok tubuh terbungkus kain putih yang penuh dengan bercak darah diranjangku. Disamping tempatku memejamkan mata malam ini. Aku yang kaget sontak berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu itu rapat-rapat. Percuma sebenarnya, karena aku masih bisa merasakan keberadaannya dengan begitu jelas. Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar jelas saat aku mulai menyalakan kran dan mulai membasuh tubuhku dibawah shower. “kamu kenapa valia?” mendengar suara ibu, aku langsung mematikan kran dan mulai menyahut bahwa aku baik-baik saja.
       Setengah jam kemudian aku keluar dari kamarku dan menarik nafas panjang-panjang. Sosok menakutkan itu sudah tidak terlihat lagi diranjangku tapi kau masih bisa merasakan keberadaan  mereka disekitarku.

       "kamu kenapa sayang?” ibuku bertanya saat aku sampai dimeja makan. Aku mencoba tersenyum dan melihat ayahku sudah ada disana.
     “kamu masih digangguin? Apa kita perlu pindah rumah lagi?” ibuku terlihat cemas sedangkan aku hanya tersenyum kecut.
    “nggak bu, mau kita pindah dimanapun valia selalu bisa merasakan keberadaan mereka.”

        Aku menyantap sarapan pagiku dengan tenang. melirik adikku yang duduk disamping ayahku dan beberapa kali melirikku dengan dingin. setelah selesai aku berpamitan dengan kedua orang tuaku dan mulai berjalan ke depan komplek untuk mencari bus yang sudah dua minggu ini mengantarkanku ke sekolah. sekolahku sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah baruku. Oia, aku dan keluargaku adalah Pindahan dari Yogyakarta. Aku lahir dan dibesarkan dikota keraton itu. tapi karena satu dan lain hal aku dan keluargaku memutuskan untuk pindah ke Jakarta tepat saat aku masuk SMA. Sebenarnya aku menolak meninggalkan kota kelahiranku itu tapi sudah terlalu banyak pengalaman buruk disana sehingga aku menuruti ajakan kedua orangtuaku.
            
      Aku masuk ke gerbang hitam itu dan melambaikan tangan kepada indah, teman baruku sekaligus sahabatku. Dia tersenyum dan berhenti sedangkan aku mulai berlari-lari kecil menghampirinya.
        “udah ngerjain tugas IPA belum lo? Nyontek donk gue?” tanyanya setengah merayu.
        “belum, lagian bu Novi ga masuk kok. Jadi tenang aja.”
        “tau dari mana lo?” tanyanya dengan wajah tidak percaya.
     “hhmmm… kemarin gue denger dia agak ga enak badan gitu.” Dia berhenti dan menatapku dengan pandangan aneh.

      “awas sha, ati-ati jatoh.” Aku meneriaki sha-sha, salah satu temanku yang berlari menuju kelas mendahului langkahku dan indah cukup kencang. Membuat beberapa pasang mata menoleh kearahku.

        “lebay banget lo val, kaya sha-sha anak kecil aja.” Indah menyorakiku tapi langsung diam saat kami berada diambang pintu. Aku hanya menampakkan wajah tanpa ekspresi melihat sha-sha terduduk dilantai dikelilingin beberapa anak-anak lain. Sepatunya sudah terlepas dari kakinya dan ia terlihat mengoleskan salep ke pergelangan kakinya.

         “lo ga apa-apa sha?” tanyaku.
      “bener kata lo val, gue harusnya hati-hati.” Ia meringis menahan perih dan indah langsung menggandeng tangannku ke tempat duduk kami.

      “kok lo tau kalau sha-sha bakal jatoh?” tatapan indah kali ini dingin. Aku menarik nafas panjang. “kebetulan. Lagian gue tau kalau sepatu sha-sha itu baru dan alasnya itu licin. Soalnya gue juga punya sepatu macam gitu juga.”  Kali ini indah mengunci mulut rapat-rapat dan lebih memilih memperhatikan bu fania yang sudah muncul ke permukaan kelas. Tapi buatku, bukan bu fania yang menarik perhatianku. Melainkan sesosok wanita dengan gaun putih dan rambut panjang sebahu yang ikut masuk dan bergerak dibelakang bu fania. Aku menarik nafas panjang dan mencoba untuk tenang. wanita itu menatapku dengan wajah tidak karuhan. Wajahnya hancur dengan darah segar yang menghiasi wajahnya. Wanita itu kini bergerak kearahku, benar-benar membuatku gemetar. Aku lekas menunduk dan mencoba menghiraukannya.

         “lo kenapa val?” indah yang mungkin merasakan keanehanku langsung bertanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban tercepat.

      Aku mendengar suara desahan pelan dan bau-bau aneh disekelilingku. Untuk beberapa saat aku hanya bisa menunduk, sama sekali enggan mengangkat kepalaku. Aroma kemenyan masih terus menguar memenuhi sela-sela hidungku.

    Beberapa menit kemudian, setelah memastikan keadaan kembali normal. Aku mengangkat wajahku dan melihat sosok itu keluar dari ruangan.

***

       “bener kata lo val, bu novi ga masuk. Kok bisa kebetulan gitu ya. Untung gue ga repo-repot ngerjain tugas.” Indah tertawa saat kami sampai dikantin dan duduk disalah satu meja kosong disana. “eehh, si Nathan kemana?” indah mengedarkan pandangannya mencari jonathan, atau yang akrab kami panggil Nathan. Dia adalah cowok berkulit kuning langsat dengan senyum yang menurutku cukup mempesona. Tingginya kurang lebih 173cm dengan bobot kurang lebih 54kg. sampai saat ini hanya Nathan dan indah yang mau jadi sahabatku. Hhmm… aku memang termasuk siswi kurang gaul… atau mungkin sedikit anti sosial. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian dan lebih suka menyendiri. Tapi semenjak aku mengenal indah dan Nathan, aku cukup nyambung mengobrol dengan mereka berdua. Mereka tidak menganggapku berbeda dengan yang lain walau pada kenyataannya aku berbeda.

        “waah.. panjang umur tuh anak.” Indah melambaikan tangan kearah Nathan yang kulihat sedang berjalan kearah kami.
      “NATHAN STOP.” Aku berteriak sekeras mungkin dan berhasil membuat Nathan berhenti melangkah, bukan hanya Nathan tapi semua anak-anak dikantin kini menatapku dengan pandangan aneh. Aku ikut terdiam hingga beberapa detik kemudian sebuah papan slogan berukuran 30x35 meter yang tergantung dilangit-langit kantin terjatuh dan menimbulkan bunyi berdebam cukup keras. Aku menarik nafas lega lalu tersenyum kearah Nathan seraya mengisyaratkannya akan kembali berjalan. “kok lo bisa tau kalo tu papan mau jatuh?” Nathan masih menatapku dengan tatapan tidak percaya saat duduk didepanku. Tidak hanya Nathan tapi indah dan semua penghuni kantin masih menatapku dengan tatapan aneh.

         “gue Cuma lebih teliti aja dari lo semua. Gue udah liat kalau tali gantungannya itu udah mau putus. Masuk akal kan?” aku mencoba meyakinkan kedua temanku, dan akhirnya kembali menyantap makananku setelah melihat bahu mereka melemas.

         “thanks banget kalo gitu, gue ga tau apa jadinya kalo lo gak kasih warning  ke gue tadi.” Nathan langsung menyeruput jus jeruk yang sudah aku pesankan untuknya. Ini bukan hal pertama yang terjadi denganku. Tapi satu-satunya yang aku inginkan adalah aku ingin semua yang ada disekelilingku tidak berfikir yang aneh-aneh tentangku. Betapa aku ingin mereka melihat hal ini sebagai suatu hal yang wajar. Dan betapa aku berusaha mengeluarkan alasan-alasan logis untuk menjelaskan kepada meraka kalau ini adalah hal biasa. Dan aku hanya gadis biasa.

         “sebagai tanda terima kasih. Gimana kalau nanti sepulang sekolah lo gue traktir mie ayam depan sekolah.” kata Nathan yang langsung disambut rajukan indah karena minta ditraktir juga.
          “iya deh, lo juga.”
         Tapi aku langsung kekeuh menolak. Aku memang selalu menolak jika diajak makan ditempat itu. padahal tempat itu selalu ramai. Bukan karena tidak ingin mengantri tetapi aku selalu melihat sesosok anak kecil berkepala plontos atau mungkin akrab orang kenal dengan nama tuyul terduduk diatas gerobak tukan mie ayam itu. mungkin itulah yang membuat mie ayam itu selalu ramai diburu para penikmatnya. Dan untuk kali ini aku tidak tau harus memberikan alasan seperti apa. Mau bilang kalau aku tidak suka mie ayam. Mustahil karena pada kenyataannya aku tidak pernah menolak diajak makan mie ayam ditempat lain.  

         “gue gak suka aja makan disana.” kataku saat mereka mulai menanyakan kenapa aku tidak mau makan disana. “tempatnya ga steril.” Lanjutku yang langsung diprotes dengan aksi mengerutkan kening dari kedua sahabatku.

         “pokoknya gue gak mau.” Kataku lagi saat tidak mendapati tanggapan dari mereka. Aku melihat senyum dari Nathan dan ajakan makan ditempat lain dan aku menyetujuinya begitu juga dengan indah.

         Setelah bel pulang berbunyi aku dan kedua sahabatku langsung melesat menuju mall yang jaraknya tidak jauh dari sekolah kami. Di halte, Aku memejamkan mata merasakan sesuatu berputar dalam otak kecilku. “kita tunggu bis selanjutnya aja.” Kataku saat melihat sebuah bis yang seharusnya aku taiki muncul diujung jalan.

         “apa?” Tanya Nathan spontan.
     “kita jangan naik bis itu. Kita naik bis selanjutnya aja.” Kataku memperjelas. Membuat indah membantah karena bis itu tidak padat seperti biasa dan kita bisa dipastikan mendapat tempat duduk di bis itu. tapi aku membentak dan membuat mereka akhirnya diam.

       Semoga tuhan menjaga kalian. Kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mungkin menyuruh supir bis itu menghentikan kegiatannya. Aku bisa di kira gila. Tapi seharusnya aku tidak begitu  khawatir karena bukan hal pertama dalam hidupku. Bertahun-tahun lalu aku sering di kira orang gila sampai orang yang menderita kelainan. Karena aku berbeda dengan mereka. Aku unik, aku spesial, aku istimewa. Itulah yang selalu aku katakan pada diriku sendiri kala mereka menganggapku berbeda.
            
        Aku sampai disalah satu mall dijakarta dan langsung menuju toko buku. Salah satu tempat favoritku. Aku mustahil melewatkan tempat ini saat berada di mall. Baik seorang diri, bersama keluarga, ataupun saat bersama Nathan dan indah. Aku bergerak ke rak buku yang memajang buku-buku tentang politik. Sedangkan Nathan dan indah berpencar entah kemana.

       Aku mengambil salah satu buku yang bercerita tentang teori konspirasi. Buku itu masih tersegel rapi dan aku hanya menatap buku itu baik-baik. Tidak lama seorang petugas toko buku itu menghampiriku dan mulai menawarkan buku yang sedang kupegang. Sebenarnya aku ingin sekali menyumpal mulutnya pakai apapun yang bisa kugunakan. Tapi akhirnya aku menunggu sampai ia berhenti berbicara.

         “makasih mbak. Tapi saya udah tau kok ini buku isinya apa aja.” Dengan penuh rasa hormat, aku kembali menaruh buku itu ditempatnya dan kembali berjalan, mencoba mencari keberadaan dua sahabatku. Aku menemukan indah berada dirak yang memajang novel-novel keluaran terbaru. Melirik satu persatu lalu membaca sinopsisnya dan kemudian memasukkannya ke tas untuk dibawa ke kasir.

    “ngapain lo beli buku banyak-banyak?” tanyaku sambil melirik ke arah tas belanjaannya. Membuatnya ikut mengarahkan pandangannya ke sesuatu yang tergantung ditangan kanannnya.

        “buat dibaca lah.” Jawabnya enteng. Aku lantas mendekat dan memperhatikan buku-buku yang terpajang disana.

         “buku murahan, ga berguna, ga ada manfaatnya. Gue bingung kenapa banyak orang yang mau buang-buang duit buat buku kaya gini?” aku menyerocos panjang lebar mengenai pendapatku tentang buku-buku itu tanpa memperhatikan indah yang menatapku dengan sarkastik.

     “lo ngomong apaan sih?” aku kini menatap wajah indah yang seratus persen kebingungan. Aku yang seakan tersadar langsung menggeleng. Menguatkan rasa itu agar buru-buru pergi. “gak apa-apa. Ayo cari Nathan.” Aku manarik tangan indah menyusul Nathan yang rupannya sudah berdiri tegak bak security dipintu masuk.

         Aku dan kedua sahabatku melanjutkan perjalanan menuju salah satu restoran. Dan sesuai kesepakatan awal kalau Nathan yang akan mentraktir. Biarpun aku baru mengenal Nathan. Tapi aku bisa lihat kalau Nathan berasal dari ekonomi kelas atas. Bukan karena barang-barang yang dipakainya selalu mewah atau ber-merk. Nathan bersikap seperti anak-anak biasa, tidak ada yang mencolok dari dirinya. Tapi hanya dengan menatap matanya, aku bisa tahu kalau ayahnya bekerja sebagai pengacara dan ibunya adalah seorang notaris yang begitu aktif bekerja. Ia salah satu tipe anak yang kurang kasih sayang, setidaknya itu yang bisa aku simpulkan darinya. Mengingat kedua orangtuanya selalu berangkat sebelum ia terbangun dan pulang setelah ia tertidur lelap.

         Berbeda dengan Nathan indah adalah tipe anak manja yang memang berlimpah kasih sayang. walau orang tuanya tidak sekaya orang tua Nathan tapi tetap bisa diperhitungkan sebagai keluarga menengah ke atas. Ayahnya bekerja sebagai manager disebuah perusahaan asing dijakarta, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang setiap harinya disibukkan dengan kegiatan shopping dan arisan bersama ibu-ibu satu komplek dengannya. yang sama dari mereka berdua adalah sama-sama terlahir sebagai anak tunggal. Walaupun aku tahu kalau sebenarnya Nathan sangat ingin memiliki adik. Ia berfikir kalau ia memiliki adik, rumahnya tidak akan sepi, akan ada orang yang diajaknya bermain, yang membuat rumahnya tidak seperti rumah kosong.

         aku dan Nathan masih berada di restoran itu saat indah pamit untuk pulang. Yaahh.. seperti yang kubilang. Indah adalah tipe anak manja yang semua tindak-tanduknya selalu diperhatikan ibunya.

         “lo ngga mau pulang tan?” tanyaku pada Nathan saat aku benar-benar merasa bosan. Bayangkan saja. Aku dan Nathan hanya duduk disana dan berbicara ngalor-ngidul tanpa tujuan yang jelas. Walau aku akui obrolan kami cukup menarik dan aku berusaha untuk tidak merasa boring Mungkin untuk anak sebayaku ini mungkin yang di namakan “nongkrong”. Tapi buatku, ini benar-benar hal yang sia-sia. Kita harusnya bisa melakukan hal lain yang lebih berguna dibanding duduk-duduk tidak jelas seperti ini.

         “bentar lagi ya val. Ntar lo gue anterin sampe rumah deh.” Katanya dengan wajah memelas. Dan saat itu juga aku bisa merasakan kesepiannya. Ia sendiri, ia kesepian, ia butuh seseorang. Akhirnya aku berusaha menahan diri dan mengikuti kemauannya. Kami kembali terlibat obrolan asik. ia menceritakan minatnya terhadap basket, hobinya bermain gitar, cita-citanya yang ingin menjadi seorang pemain musik.

         “tapi bokap lo ga suka lo main musik?” tanyaku disela-sela curhatannya.
         “iya, kok lo tau?” Nathan agak kaget dengan pertanyaanku karena ia memang tidak menyinggung sama sekali soal keluarganya.

         “nebak aja. Hidup lo kaya cerita sinetron.” Aku tertawa kecil mencoba menetralisir keadaan. Dan aku melihat Nathan mengangguk sambil menyeruput minumannya. “tapi mending kita pulang yuk… nyokap lo udah sampai dirumah tuh.” Aku lekas membereskan barang-barangku dan bersiap-siap pergi, tidak memperhatikan raut wajah Nathan yang berubah bingung.

         “ga mungkin nyokap gue jam segini balik. Jangan sok tau deh lo.” Aku menoleh dan melihat wajah Nathan berubah. Ia sepertinya jadi sensitif kalau menyangkut keluarganya.

         “lo harus percaya sama gue karena kayanya nyokap lo sakit deh.” Aku berdiri dan memaksanya ikut berdiri hingga akhirnya ia memberontak. “gue ga mau pulang.” Aku menatap matanya dengan tajam aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan Nathan.

         “tapi lo harus balik sekarang karena nyokap lo sakit.” Aku berusaha berbicara pelan agar tidak menarik perhatian orang-orang disekitarku. “jangan kaya dukun deh.” Aku mendengar nada suaranya meninggi “apa lo bilang? Dukun?” saat itu juga amarah bergemuruh dihatiku. Aku benci kata-kata itu ataupun sejenisnya. Dukun, peramal, paranormal. aku lekas berlari menjauhi Nathan Dan masih sempat mendengar dia memanggil namaku berkali-kali hingga kahirnya suara itu hilang. Aku berlari keluar dan mencari taxi. Aku ingin menangis dan menyesal. Seandainya aku tidak sok tahu dan terus berusaha menjadi anak biasa.  Tapi dia sahabatku, aku tidak mungkin tidak peduli padanya. Suara handphone membuat sedikit perhatianku teralihkan. Ada nama Nathan dilayar touchscreen itu. setelah membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya, sebuah pesan singkat menyusul masuk ke ponselku.

“val, maafin gue klo gue nyinggung lo.”
Sender : jo_nathan


           Aku hanya memperhatikan pesan itu tanpa berniat membalasnya. Tak berselang lama, panggilan itu muncul lagi tapi aku malah mematikannya. 

No comments:

Post a Comment