BAB
SATU
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”
Aku berteriak melihat sesosok tubuh terbungkus kain putih yang penuh dengan
bercak darah diranjangku. Disamping tempatku memejamkan mata malam ini. Aku
yang kaget sontak berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu itu rapat-rapat.
Percuma sebenarnya, karena aku masih bisa merasakan keberadaannya dengan begitu
jelas. Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar jelas saat aku mulai menyalakan
kran dan mulai membasuh tubuhku dibawah shower. “kamu kenapa valia?” mendengar
suara ibu, aku langsung mematikan kran dan mulai menyahut bahwa aku baik-baik
saja.
Setengah jam kemudian aku keluar
dari kamarku dan menarik nafas panjang-panjang. Sosok menakutkan itu sudah
tidak terlihat lagi diranjangku tapi kau masih bisa merasakan keberadaan mereka disekitarku.
"kamu kenapa sayang?” ibuku bertanya saat aku sampai dimeja makan. Aku mencoba tersenyum dan melihat ayahku sudah ada disana.
"kamu kenapa sayang?” ibuku bertanya saat aku sampai dimeja makan. Aku mencoba tersenyum dan melihat ayahku sudah ada disana.
“kamu masih digangguin? Apa kita
perlu pindah rumah lagi?” ibuku terlihat cemas sedangkan aku hanya tersenyum
kecut.
“nggak bu, mau kita pindah dimanapun
valia selalu bisa merasakan keberadaan mereka.”
Aku
menyantap sarapan pagiku dengan tenang. melirik adikku yang duduk disamping
ayahku dan beberapa kali melirikku dengan dingin. setelah selesai aku
berpamitan dengan kedua orang tuaku dan mulai berjalan ke depan komplek untuk
mencari bus yang sudah dua minggu ini mengantarkanku ke sekolah. sekolahku
sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah baruku. Oia, aku dan keluargaku adalah
Pindahan dari Yogyakarta. Aku lahir dan dibesarkan dikota keraton itu. tapi
karena satu dan lain hal aku dan keluargaku memutuskan untuk pindah ke Jakarta
tepat saat aku masuk SMA. Sebenarnya aku menolak meninggalkan kota kelahiranku
itu tapi sudah terlalu banyak pengalaman buruk disana sehingga aku menuruti
ajakan kedua orangtuaku.
Aku masuk ke gerbang hitam itu dan melambaikan tangan kepada indah, teman baruku sekaligus sahabatku. Dia tersenyum dan berhenti sedangkan aku mulai berlari-lari kecil menghampirinya.
“udah ngerjain tugas IPA belum lo?
Nyontek donk gue?” tanyanya setengah merayu.
“belum, lagian bu Novi ga masuk kok.
Jadi tenang aja.”
“tau dari mana lo?” tanyanya dengan
wajah tidak percaya.
“hhmmm… kemarin gue denger dia agak
ga enak badan gitu.” Dia berhenti dan menatapku dengan pandangan aneh.
“awas sha, ati-ati jatoh.” Aku
meneriaki sha-sha, salah satu temanku yang berlari menuju kelas mendahului
langkahku dan indah cukup kencang. Membuat beberapa pasang mata menoleh
kearahku.
“lebay banget lo val, kaya sha-sha
anak kecil aja.” Indah menyorakiku tapi langsung diam saat kami berada diambang
pintu. Aku hanya menampakkan wajah tanpa ekspresi melihat sha-sha terduduk
dilantai dikelilingin beberapa anak-anak lain. Sepatunya sudah terlepas dari
kakinya dan ia terlihat mengoleskan salep ke pergelangan kakinya.
“lo ga apa-apa sha?” tanyaku.
“bener kata lo val, gue harusnya
hati-hati.” Ia meringis menahan perih dan indah langsung menggandeng tangannku
ke tempat duduk kami.
“kok lo tau kalau sha-sha bakal
jatoh?” tatapan indah kali ini dingin. Aku menarik nafas panjang. “kebetulan.
Lagian gue tau kalau sepatu sha-sha itu baru dan alasnya itu licin. Soalnya gue
juga punya sepatu macam gitu juga.” Kali
ini indah mengunci mulut rapat-rapat dan lebih memilih memperhatikan bu fania
yang sudah muncul ke permukaan kelas. Tapi buatku, bukan bu fania yang menarik
perhatianku. Melainkan sesosok wanita dengan gaun putih dan rambut panjang
sebahu yang ikut masuk dan bergerak dibelakang bu fania. Aku menarik nafas
panjang dan mencoba untuk tenang. wanita itu menatapku dengan wajah tidak
karuhan. Wajahnya hancur dengan darah segar yang menghiasi wajahnya. Wanita itu
kini bergerak kearahku, benar-benar membuatku gemetar. Aku lekas menunduk dan
mencoba menghiraukannya.
“lo kenapa val?” indah yang mungkin
merasakan keanehanku langsung bertanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban
tercepat.
Aku mendengar suara desahan pelan
dan bau-bau aneh disekelilingku. Untuk beberapa saat aku hanya bisa menunduk,
sama sekali enggan mengangkat kepalaku. Aroma kemenyan masih terus menguar
memenuhi sela-sela hidungku.
Beberapa menit kemudian, setelah
memastikan keadaan kembali normal. Aku mengangkat wajahku dan melihat sosok itu
keluar dari ruangan.
***
“bener kata lo val, bu novi ga
masuk. Kok bisa kebetulan gitu ya. Untung gue ga repo-repot ngerjain tugas.”
Indah tertawa saat kami sampai dikantin dan duduk disalah satu meja kosong
disana. “eehh, si Nathan kemana?” indah mengedarkan pandangannya mencari
jonathan, atau yang akrab kami panggil Nathan. Dia adalah cowok berkulit kuning
langsat dengan senyum yang menurutku cukup mempesona. Tingginya kurang lebih
173cm dengan bobot kurang lebih 54kg. sampai saat ini hanya Nathan dan indah
yang mau jadi sahabatku. Hhmm… aku memang termasuk siswi kurang gaul… atau
mungkin sedikit anti sosial. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian dan lebih
suka menyendiri. Tapi semenjak aku mengenal indah dan Nathan, aku cukup
nyambung mengobrol dengan mereka berdua. Mereka tidak menganggapku berbeda
dengan yang lain walau pada kenyataannya aku berbeda.
“waah.. panjang umur tuh anak.”
Indah melambaikan tangan kearah Nathan yang kulihat sedang berjalan kearah
kami.
“NATHAN STOP.” Aku berteriak sekeras
mungkin dan berhasil membuat Nathan berhenti melangkah, bukan hanya Nathan tapi
semua anak-anak dikantin kini menatapku dengan pandangan aneh. Aku ikut terdiam
hingga beberapa detik kemudian sebuah papan slogan berukuran 30x35 meter yang
tergantung dilangit-langit kantin terjatuh dan menimbulkan bunyi berdebam cukup
keras. Aku menarik nafas lega lalu tersenyum kearah Nathan seraya
mengisyaratkannya akan kembali berjalan. “kok lo bisa tau kalo tu papan mau
jatuh?” Nathan masih menatapku dengan tatapan tidak percaya saat duduk
didepanku. Tidak hanya Nathan tapi indah dan semua penghuni kantin masih
menatapku dengan tatapan aneh.
“gue Cuma lebih teliti aja dari lo
semua. Gue udah liat kalau tali gantungannya itu udah mau putus. Masuk akal
kan?” aku mencoba meyakinkan kedua temanku, dan akhirnya kembali menyantap
makananku setelah melihat bahu mereka melemas.
“thanks banget kalo gitu, gue ga tau
apa jadinya kalo lo gak kasih warning ke gue tadi.” Nathan langsung menyeruput jus
jeruk yang sudah aku pesankan untuknya. Ini bukan hal pertama yang terjadi
denganku. Tapi satu-satunya yang aku inginkan adalah aku ingin semua yang ada
disekelilingku tidak berfikir yang aneh-aneh tentangku. Betapa aku ingin mereka
melihat hal ini sebagai suatu hal yang wajar. Dan betapa aku berusaha mengeluarkan
alasan-alasan logis untuk menjelaskan kepada meraka kalau ini adalah hal biasa.
Dan aku hanya gadis biasa.
“sebagai tanda terima kasih. Gimana
kalau nanti sepulang sekolah lo gue traktir mie ayam depan sekolah.” kata
Nathan yang langsung disambut rajukan indah karena minta ditraktir juga.
“iya deh, lo juga.”
Tapi aku langsung kekeuh menolak.
Aku memang selalu menolak jika diajak makan ditempat itu. padahal tempat itu
selalu ramai. Bukan karena tidak ingin mengantri tetapi aku selalu melihat
sesosok anak kecil berkepala plontos atau mungkin akrab orang kenal dengan nama
tuyul terduduk diatas gerobak tukan mie ayam itu. mungkin itulah yang membuat
mie ayam itu selalu ramai diburu para penikmatnya. Dan untuk kali ini aku tidak
tau harus memberikan alasan seperti apa. Mau bilang kalau aku tidak suka mie
ayam. Mustahil karena pada kenyataannya aku tidak pernah menolak diajak makan
mie ayam ditempat lain.
“gue gak suka aja makan disana.”
kataku saat mereka mulai menanyakan kenapa aku tidak mau makan disana.
“tempatnya ga steril.” Lanjutku yang langsung diprotes dengan aksi mengerutkan
kening dari kedua sahabatku.
“pokoknya gue gak mau.” Kataku lagi
saat tidak mendapati tanggapan dari mereka. Aku melihat senyum dari Nathan dan
ajakan makan ditempat lain dan aku menyetujuinya begitu juga dengan indah.
Setelah bel pulang berbunyi aku dan
kedua sahabatku langsung melesat menuju mall yang jaraknya tidak jauh dari
sekolah kami. Di halte, Aku memejamkan mata merasakan sesuatu berputar dalam
otak kecilku. “kita tunggu bis selanjutnya aja.” Kataku saat melihat sebuah bis
yang seharusnya aku taiki muncul diujung jalan.
“apa?” Tanya Nathan spontan.
“kita jangan naik bis itu. Kita naik
bis selanjutnya aja.” Kataku memperjelas. Membuat indah membantah karena bis
itu tidak padat seperti biasa dan kita bisa dipastikan mendapat tempat duduk di
bis itu. tapi aku membentak dan membuat mereka akhirnya diam.
Semoga
tuhan menjaga kalian. Kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak
mungkin menyuruh supir bis itu menghentikan kegiatannya. Aku bisa di kira gila.
Tapi seharusnya aku tidak begitu khawatir
karena bukan hal pertama dalam hidupku. Bertahun-tahun lalu aku sering di kira
orang gila sampai orang yang menderita kelainan. Karena aku berbeda dengan
mereka. Aku unik, aku spesial, aku istimewa. Itulah yang selalu aku katakan
pada diriku sendiri kala mereka menganggapku berbeda.
Aku sampai disalah satu mall
dijakarta dan langsung menuju toko buku. Salah satu tempat favoritku. Aku
mustahil melewatkan tempat ini saat berada di mall. Baik seorang diri, bersama
keluarga, ataupun saat bersama Nathan dan indah. Aku bergerak ke rak buku yang
memajang buku-buku tentang politik. Sedangkan Nathan dan indah berpencar entah kemana.
Aku mengambil salah satu buku yang
bercerita tentang teori konspirasi. Buku itu masih tersegel rapi dan aku hanya
menatap buku itu baik-baik. Tidak lama seorang petugas toko buku itu
menghampiriku dan mulai menawarkan buku yang sedang kupegang. Sebenarnya aku
ingin sekali menyumpal mulutnya pakai apapun yang bisa kugunakan. Tapi akhirnya
aku menunggu sampai ia berhenti berbicara.
“makasih mbak. Tapi saya udah tau
kok ini buku isinya apa aja.” Dengan penuh rasa hormat, aku kembali menaruh
buku itu ditempatnya dan kembali berjalan, mencoba mencari keberadaan dua
sahabatku. Aku menemukan indah berada dirak yang memajang novel-novel keluaran
terbaru. Melirik satu persatu lalu membaca sinopsisnya dan kemudian
memasukkannya ke tas untuk dibawa ke kasir.
“ngapain lo beli buku
banyak-banyak?” tanyaku sambil melirik ke arah tas belanjaannya. Membuatnya
ikut mengarahkan pandangannya ke sesuatu yang tergantung ditangan kanannnya.
“buat dibaca lah.” Jawabnya enteng. Aku
lantas mendekat dan memperhatikan buku-buku yang terpajang disana.
“buku murahan, ga berguna, ga ada
manfaatnya. Gue bingung kenapa banyak orang yang mau buang-buang duit buat buku
kaya gini?” aku menyerocos panjang lebar mengenai pendapatku tentang buku-buku
itu tanpa memperhatikan indah yang menatapku dengan sarkastik.
“lo ngomong apaan sih?” aku kini
menatap wajah indah yang seratus persen kebingungan. Aku yang seakan tersadar
langsung menggeleng. Menguatkan rasa itu agar buru-buru pergi. “gak apa-apa.
Ayo cari Nathan.” Aku manarik tangan indah menyusul Nathan yang rupannya sudah
berdiri tegak bak security dipintu
masuk.
Aku dan kedua sahabatku melanjutkan
perjalanan menuju salah satu restoran. Dan sesuai kesepakatan awal kalau Nathan
yang akan mentraktir. Biarpun aku baru mengenal Nathan. Tapi aku bisa lihat
kalau Nathan berasal dari ekonomi kelas atas. Bukan karena barang-barang yang
dipakainya selalu mewah atau ber-merk. Nathan bersikap seperti anak-anak biasa,
tidak ada yang mencolok dari dirinya. Tapi hanya dengan menatap matanya, aku
bisa tahu kalau ayahnya bekerja sebagai pengacara dan ibunya adalah seorang
notaris yang begitu aktif bekerja. Ia salah satu tipe anak yang kurang kasih
sayang, setidaknya itu yang bisa aku simpulkan darinya. Mengingat kedua
orangtuanya selalu berangkat sebelum ia terbangun dan pulang setelah ia
tertidur lelap.
Berbeda dengan Nathan indah adalah
tipe anak manja yang memang berlimpah kasih sayang. walau orang tuanya tidak
sekaya orang tua Nathan tapi tetap bisa diperhitungkan sebagai keluarga menengah
ke atas. Ayahnya bekerja sebagai manager disebuah perusahaan asing dijakarta,
sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang setiap harinya disibukkan dengan
kegiatan shopping dan arisan bersama
ibu-ibu satu komplek dengannya. yang sama dari mereka berdua adalah sama-sama
terlahir sebagai anak tunggal. Walaupun aku tahu kalau sebenarnya Nathan sangat
ingin memiliki adik. Ia berfikir kalau ia memiliki adik, rumahnya tidak akan
sepi, akan ada orang yang diajaknya bermain, yang membuat rumahnya tidak
seperti rumah kosong.
aku dan Nathan masih berada di
restoran itu saat indah pamit untuk pulang. Yaahh.. seperti yang kubilang.
Indah adalah tipe anak manja yang semua tindak-tanduknya selalu diperhatikan
ibunya.
“lo
ngga mau pulang tan?” tanyaku pada Nathan saat aku benar-benar merasa bosan. Bayangkan
saja. Aku dan Nathan hanya duduk disana dan berbicara ngalor-ngidul tanpa
tujuan yang jelas. Walau aku akui obrolan kami cukup menarik dan aku berusaha
untuk tidak merasa boring Mungkin
untuk anak sebayaku ini mungkin yang di namakan “nongkrong”. Tapi buatku, ini
benar-benar hal yang sia-sia. Kita harusnya bisa melakukan hal lain yang lebih
berguna dibanding duduk-duduk tidak jelas seperti ini.
“bentar
lagi ya val. Ntar lo gue anterin sampe rumah deh.” Katanya dengan wajah
memelas. Dan saat itu juga aku bisa merasakan kesepiannya. Ia sendiri, ia
kesepian, ia butuh seseorang. Akhirnya aku berusaha menahan diri dan mengikuti
kemauannya. Kami kembali terlibat obrolan asik. ia menceritakan minatnya
terhadap basket, hobinya bermain gitar, cita-citanya yang ingin menjadi seorang
pemain musik.
“tapi
bokap lo ga suka lo main musik?” tanyaku disela-sela curhatannya.
“iya,
kok lo tau?” Nathan agak kaget dengan pertanyaanku karena ia memang tidak
menyinggung sama sekali soal keluarganya.
“nebak
aja. Hidup lo kaya cerita sinetron.” Aku tertawa kecil mencoba menetralisir
keadaan. Dan aku melihat Nathan mengangguk sambil menyeruput minumannya. “tapi
mending kita pulang yuk… nyokap lo udah sampai dirumah tuh.” Aku lekas
membereskan barang-barangku dan bersiap-siap pergi, tidak memperhatikan raut
wajah Nathan yang berubah bingung.
“ga
mungkin nyokap gue jam segini balik. Jangan sok tau deh lo.” Aku menoleh dan
melihat wajah Nathan berubah. Ia sepertinya jadi sensitif kalau menyangkut
keluarganya.
“lo
harus percaya sama gue karena kayanya nyokap lo sakit deh.” Aku berdiri dan
memaksanya ikut berdiri hingga akhirnya ia memberontak. “gue ga mau pulang.”
Aku menatap matanya dengan tajam aku bisa
merasakan apa yang kamu rasakan Nathan.
“tapi
lo harus balik sekarang karena nyokap lo sakit.” Aku berusaha berbicara pelan
agar tidak menarik perhatian orang-orang disekitarku. “jangan kaya dukun deh.”
Aku mendengar nada suaranya meninggi “apa lo bilang? Dukun?” saat itu juga
amarah bergemuruh dihatiku. Aku benci kata-kata itu ataupun sejenisnya. Dukun,
peramal, paranormal. aku lekas berlari menjauhi Nathan Dan masih sempat
mendengar dia memanggil namaku berkali-kali hingga kahirnya suara itu hilang.
Aku berlari keluar dan mencari taxi. Aku ingin menangis dan menyesal.
Seandainya aku tidak sok tahu dan terus berusaha menjadi anak biasa. Tapi dia sahabatku, aku tidak mungkin tidak
peduli padanya. Suara handphone membuat sedikit perhatianku teralihkan. Ada
nama Nathan dilayar touchscreen itu.
setelah membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya, sebuah pesan singkat
menyusul masuk ke ponselku.
“val,
maafin gue klo gue nyinggung lo.”
Sender
: jo_nathan
Aku
hanya memperhatikan pesan itu tanpa berniat membalasnya. Tak berselang lama,
panggilan itu muncul lagi tapi aku malah mematikannya.
No comments:
Post a Comment