buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI
Showing posts with label Gadis Nila. Show all posts
Showing posts with label Gadis Nila. Show all posts

Thursday, 6 November 2014

Gadis Nila

BAB ENAM

Entah sudah berapa air mata yang jatuh karena menceritakan masa laluku. Nathan tersenyum tipis lalu memelukku. Mengelus pundakku dengan sebelah tangannya.

“gue bakal tetep jadi sahabat lo apapun yang terjadi.” Aku melepas pelukannya dan menatap matanya dalam-dalam. Mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. “lo bisa percaya sama gue.” Aku merasakan tangan Nathan mengelus pipiku. Meyakinkanku bahwa omongannya benar-benar bisa dipercaya. Aku merasakan kelegaan luar biasa, setidaknya aku masih mempunyai Nathan yang akan selalu ada disampingku. Dan apapun yang terjadi besok, aku harus siap.

Tiga hari setelahnya semuanya baik-baik saja. Tapi tidak untuk hari selanjutnya. Aku datang kesekolah seperti biasa. Tapi keanehan muncul saat aku menjejakkan kaki digerbang sekolah. beberapa anak yang melihatku terlihat menjauh dan berbisik, membiacarakan sesuatu yang sama sekali tidak aku megerti. Aku tau mereka membicarakanku. Aku melihat nathan dari kejauhan, berjalan kearahku. Aku bisa melihat kerisihannya melihat orang-orang lain.

“kenapa sih tan?” aku mengikuti Nathan menuju taman belakang sekolah. ia lalu mengeluarkan smartphone dari saku celananya. Lalu memutar sebuah video yang dikirim melalui kontak blackberry messenger. Dan yang ada di video itu adalah aku. Aku yang sedang berada ditaman ini dan sedang berbicara sendiri, bukan,  aku yakin aku sedang berbicara dengan farrel. Tapi siapa orang iseng yang tega melakukan hal ini. aku merasa kehancuran ada didepan mataku kali ini. mereka akan menganggap aku aneh, aku gila. Sama seperti kejadian beberapa tahun lalu.

“ini semua nggak akan seburuk yang lo kira. Semuanya akan baik-baik aja.” Dia meremas tanganku. aku bisa melihat bayangan wajahku yang mencoba tersenyum dari bola mata gelapnya.

“tegakkan kepala lo val. Tunjukin sama mereka klo gosip murahan itu sama sekali nggak berpengaruh sama lo.” Nathan mengucapkan kata-kata itu saat aku kembali berjalan menuju kelas. Melewati koridor yang masih diisi oleh anak-anak yang asik bergosip. Aku tersenyum menyadari katanya seperti mantra buatku. Aku mengangkat wajahku dan menatap mereka yang membicarakanku. Sebagian dari mereka memilih menunduk saat aku menatapnya, tapi sebagian lagi memilih tersenyum sinis.

“kalo ada apa-apa bilang gue aja. Ntar gue kesini lagi pas jam istirahat.” Aku tersenyum saat Nathan mengantarku sampai depan kelasku, walau aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi didalam kelasku beberapa menit kemudian.

“makasih yaa.. gue bakal baik-baik aja.” Sekali lagi aku tersenyum dan masuk kedalam kelas. Menatap satu persatu teman sekelasku yang menatapku dengan sarkastis. Tanpa memperdulikan mereka, aku duduk dibangku ku. Dan hanya memikirkan apa yang mereka pikirkan tentangku.

Gue inget beberapa waktu lalu waktu sha-sha jatoh, gue dengar dia bilang hati-hati sama sha-sha. Gue pikir itu salah satu bukti kalo dia emang pembawa sial.

Oia, betul, sama kaya kejadian dikantin pas papan jatoh dari atap. Gue sebenarnya ragu kalo itu kebetulan.

Semua yang dia omongin selalu jadi kenyataan. Pantes aja ga ada orang yang mau deket sama dia.

Beruntunglah  si indah udah ga temenan sama dia, tapi, anak kelas sebelah tuh.. siapa namanya.. ohh,, Nathan.. kok dia masih mau ya temenan sama dia.
­­­­­­­­­Dia belum kena batunya aja.
           
Aku menahan emosiku yang sudah berada diubun-ubun. Tidakkah mereka tau kalau aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini. aku menarik nafas panjang, mencoba menengkan diri walau sebenarnya aku ingin sekali menyumpal mulut mereka satu-persatu. Mengajarkan pada mereka tentang menghargai orang dan tidak dengan asal menghakimi seseorang. Sepanjang pelajaran aku masih bisa mendengar desas-desus gosip yang berembus di tiap sela-sela kelas mengenai diriku.

***

“Lo terlihat lebih dewasa menghadapi mereka semua..” farrel mengikuti masuk kedalam kamar. Seakan tidak bosan mengomentari hidupku. Aku melempar tas ku ke meja belajar dan langsung menjatuhkan diri di ranjang. Menghela nafas panjang karena merasakan panas diluar yang sudah menempel dikulitku. “Nathan menguatkan gue, lo tau kan. Sebelumnya gue tidak pernah berfikir sahabat bisa menjadi sosok yang bisa menguatkan kita seperti ini. dulu gue kuat karena gue punya lo, dan sekarang gue punya Nathan juga. gue nggak peduli apa yang mereka pikirkan.”

Farrel terlihat mengangguk seraya membenarkan kata-kataku. Selama beberapa menit aku hanya menatap langit kamarku dalam diam saat suara ibuku memenuhi gendang telingaku. Menyuruhku untuk makan. Aku keluar tanpa mengganti seragamku, hanya sepatu dan tas yang sudah kutanggalkan dari tubuhku, dan dasi yang hanya kukendorkan ikatannya.

Aku melihat adikku Egi sudah ada dimeja makan. Menunduk saat aku memasuki ruangan. Aku duduk ditempat biasa dan mulai menyendokan nasi ke piringku. Biasanya aku lebih suka makan sendiri, dikamar atau menunggu sampai adikku selesai makan dan enyah dari meja makan. Tapi entah kenapa hari ini aku ingin berada disini. Melihat senyum ibuku dan melihat tatapan dingin adik tiriku.

“sepertinya pindah kesini benar-benar merubah hidup kamu ya.” ibuku melihatku dengan senyum dan aku membalas. Mungkin masalah disekolahku diluar jangkauan ibuku dan sejujurnya aku sangat mensyukuri itu. rumah kami sekarang dikelilingi tembok tinggi dan bisa bilang lebih terisolasi oleh yang lain. Selama tinggal disini aku bahkan tidak begitu mengenal tetanggaku. Tapi aku tau bahwa tetangga disamping kananku adalah sebuah keluarga besar dengan lima orang anak. Dua anak laki-laki tertua dan sisanya adalah anak perempuan. Aku pernah melihat salah satu dari mereka beberapa waktu lalu saat aku hendak berangkat kesekolah.

Dua diantaranya kembar dengan perbedaan sikap dan sifat yang begitu mencolok. Biarpun mereka tidak bisa dikenali secara fisik tapi dari aura yang dikeluarkan mereka semua orang akan bisa membedakan mereka. salah satu dari mereka bersikap sangat feminin. Umurnya mungkin sama denganku karena aku melihatnya juga berseragam SMA. Rambutnya tergarai rapi dengan pita berwarna biru yang menghiasi segaris kepalanya. Ditangannya ada gelang-gelang warna-warni khas wanita. Dan dari kejauhan aku bisa melihat kembarannya bersikap sebaliknya. Rambutnya di ikat acak-acakan dengan ransel dan sepatu lusuh. Tidak mencerminkan seorang gadis pelajar. Tapi aku mengagumi kekompakan keluarga mereka. mereka akan makan kalau semua penghuni rumahnya sudah berkumpul dimeja makan. Ayah mereka tegas dan ibu mereka lembut.

Sedangkan penghuni sebelah rumahnya yang lain. Aahh, aku benar-benar membenci wanita itu. aku dan ibuku pernah sekali membawakan kue sebagai perkenalan tetangga baru. wajahnya bulat, rambutnya keriting dan dicat berwarna merah keunguan, tubuhnya jangkung, aku mengira tubuhnya hanya tulang berbalut kulit. Wanita itu punya seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Wanita itu kasar, selalu membatasi anaknya. Memperlakukan anaknya seperti tahanannya. Mengatur semuanya atas kebaikan anaknya walau sebenarnya itu omong kosong belaka.

***

Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Anak-anak lain belum berhenti menatapku dengan tatapan aneh. Tapi toh aku tidak peduli lagi. Aku masuk ke kelas, melihat indah yang sudah terduduk dikursinya. Sepertinya kecelakaan itu kini sudah tidak meninggalkan bekas diwajahnya, dan kakinya biarpun sudah tidak dibebat oleh perban, tapi aku bisa melihat bahwa kaki indah belum seratus persen pulih.

Aku duduk dikursiku, dua meja didepanku membuat jarak antara aku dan indah. selama beberapa menit  aku hanya menatapnya, merindukan suara gadis itu, teriakannya, tawanya, kecerewetannya. Sosok tampan diambang pintu mengalihkan perhatianku. Nathan berdiri disana, tersenyum pada indah lalu melirikku. Ia sempat menananyakan kabar indah yang dijawabnya dengan dingin lalu beralih ke- mejaku.

Nathan akhirnya mengajakku ke kantin. Keluar dari kondisi dimana aku sedang meratapi persahabatanku dengan indah.

Aku melewati lorong-lorong sekolah hanya untuk mendapat tatapan-tatapan ketakutan dari yang lainnya. Mereka semua dengan spontan menghindar sejauh mungkin dari ku. Membagi jalan untukku dan Nathan.

            “oohh come on valia. Nggak usah anggap mereka penting.” Nathan melotot menatapku dan menyuruhku menyunggingkan senyum. Aku menurut. aku duduk dipojok ruangan sedangkan Nathan membeli minuman. Disana, aku melihat andre sedang duduk bergerombol tak jauh dari tempat dudukku. Dia menatapku, tatapan sinis, bukan tatapan ketakutan seperti beberapa hari yang lalu. Ia mendengus lalu berbalik. Kembali mengobrol dengan teman-temannya.

            Nathan duduk didepanku membawa dua buah minuman botol dan menyodorkan salah satunya kepadaku. Aku mengumamkan terima kasih sambil membuka tutup botol itu.

Gue Cuma butuh tiga hari lagi sampe akhirnya lo semua percaya
kalo gue bisa dapetin cewek manapun yang gue mau. Jadi sebaiknya lo siap kehilangan handphone lo masing-masing.

            Aku meletakkan botol itu dengan kasar, mencengkeram botol itu hingga hampir berubah bentuk. Menahan geram sambil menatap kerumunan orang yang sibuk tertawa tak jauh dari tempatku duduk.

            “lo kenapa val?” dahi Nathan berkerut melihat ekspresiku.

Mereka semua cewek murahan, sampah. Gue gak peduli apa yang terjadi,
Mereka nangis, jerit-jeritan, ngamuk sama gue, gue gak peduli. Toh kita masih pacaran.
Gue bebas putus sama mereka sesuka hati gue.

            Dan kali ini aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Aku meremukkan botol plastik itu dan berjalan menuju andre. “dasar cowok brengsek.” Aku menarik tangannya hingga berdiri dan menamparnya. Cukup keras karena kepalanya sampai terdorong ke belakang.

            “kalo lo pikir gue gak tau akal bulus lo, lo salah. Gue tau rencana busuk lo ndre. Dan sekarang gue akan kasih lo pelajaran karena lo udah mempermainkan sahabat gue.” Aku kembali meninju wajahnya beberapa kali sampai lengan Nathan akhirnya mengapitku. “val, lo kenapa sih. Tenang donk.” Nathan masih berusaha menjauhkanku dari andre hingga akhirnya aku benar-benar berada cukup jauh.

            “gue janji lo gak akan lepas dari gue kalo lo sampe nyakitin indah.” aku tersengal dan berusaha mengatur nafasku yang terengah-engah karena menahan marah. disana, aku bisa melihat andre menatapku dengan tatapan marah sekaligus ketakutan. Sudut bibirnya berdarah dan pelipisnya membiru.

            “dasar cewek pembawa sial. Gue gak takut sama ancaman lo. Gue bakal laporin lo ke guru BP.” Katanya sambil berlalu meninggalkan aku dan kerumunan anak-anak yang ada dikantin.

           Aku kembali duduk dan masih menjadi tontonan. “lo kenapa sih val?” Nathan menyodorkanku segelas air putih yang langsung aku habiskan dengan sekali tenggak.

            “indah itu Cuma bahan taruhannya andre.” Aku melihat Nathan yang terkejut mendengar kata-kataku. “tapi lo liat sendiri kan gimana indah. dia nggak mau dengar kata-kata gue. Dia lebih percaya sama cowok brengsek itu dibanding sama gue.” Aku menutup wajahku dengan talapak tangan. “kita coba bilang lagi ke indah ya.” Kata Nathan pelan. Aku menengadahkan kepalaku, menatap Nathan yang mencoba tersenyum

***

          “valia, lo dipanggil guru BP.” Salah seorang temanku masuk dan berteriak, seakan tidak ingin mendekat kearahku. Aku berdiri dan meninggalkan kelas. Aku sempat melirik indah yang wajahnya sedingin es. Indah mungkin memang tidak ada di tempat saat aku memukul andre. Tapi aku tau pasti kalau dia sudah mendengar insiden itu.

            Aku berdiri diruang BP yang setengah terbuka. Melihat andre yang wajahnya sudah lebam terduduk didalam. Disebuah sofa empuk berwarna hitam. Setelah menarik nafas panjang, aku masuk dan langsung mendapat tatapan tajam dari andre dan bu mia.

            Aku duduk di sebrang andre. Bias kemarahan masih terus terpancar dari matanya. Bu mia duduk di samping kami, di kursi yang mengarah langsung ke pintu.

            “saya dengar kamu memukuli andre sampai seperti ini.” bu mia melirik andre yang menampakkan wajah kesakitan. “iya.” Jawabku cepat.
            “kenapa valia?”
            “karena dia mempermainkan sahabat saya.saya…”
            “BOHONG BU.” Andre langsung menyela bahkan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.
            Hampir tiga puluh menit kami beradu mulut. Bu mia sesekali menggebrak meja hanya untuk membuat kami kembali kekesadaran dan berhenti berbicara. Dan pada kenyataannya andre adalah orang yang pandai membela diri. ia mengemukkakan semua pendapatnya, bahwa aku tidak berhak ikut campur dalam hidupnya. Aku tidak berhak menghakiminya dan aku tidak berhak bertindak seperti itu.

            Dan akhirnya bu mia mengeluarkan surat skors selama tiga hari untuk ku. Akhir yang sudah aku duga sebelumnya. Andre tersenyum penuh kemenangan. Ia keluar terlebih dahulu, sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu ia sempat menoleh dan sekali lagi tersenyum yang membuatku benar-benar muak.

            Aku mengambil surat itu dari tangan bu mia. Lalu kembali ke kelas. Melihat keriuhan kelas yang mendadak senyap saat aku datang. Sedang tidak ada guru yang mengajar dan mereka semua berhenti bercanda saat aku masuk. Mereka berfikir aku seperti apa sih?
            Aku tidak perlu menunggu sampai bel pulang Karena semakin lama aku berada dikelas. Aku semakin muak menerima tatapan-tatapan menjengkelkan itu. aku meraih tas ku dan berjalan cepat keluar kelas. Sebelumnya aku sudah mengirim sms kepada Nathan bahwa aku akan menunggunya ditaman belakang sekolah.

            Aku lupa terakhir aku bertemu farrel, kini aku melihatnya yang tiba-tiba muncul di sebelahku. “di skors lagi?”  tanyanya. Aku hanya mengangguk dan mencoba tersenyum selebar mungkin. toh, ini bukan yang pertama kali buatku.

            “apa yang akan diperbuat pak tua itu kalau tau lo di skors lagi?” aku menoleh dan melihat seringainya. “entahlah, gue udah gede dan gue sama sekali gak peduli sama bokap gue.”

            “Jadi gadis bodoh itu belum mau percaya sama lo?” aku mengangkat bahu dengan acuh dan berkata “gue akan ngomong sekali lagi sama dia. Kalaupun dia nggak percaya sama gue, terserah.” Aku melihat farrel terseyum dan menjulurkan lidahnya, membuatku tertawa.

            Kami masih berada disana saat hari semakin siang. Suasa disana sepi karena jam sekolah belum berakhir. Aku masih terus tertawa saat farrel terus menerus mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya.

            “valia.” Suara itu membuatku dengan spontan menoleh, aku melihat Nathan berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Aku langsung diam dan menatap sejenak kearah farrel. Tapi pria itu malah terbahak melihat perubahan ekspresiku.

            “lo ngomong sama siapa?” Nathan mendekat dan berdiri didepanku, sedangkan farrel sudah menghilang entah kemana. “sama temen gue.” Kataku singkat. nathan duduk disampingku. Aku akhirnya kembali menceritakan farrel. Bahwa farrel masih terus menemaniku sampai saat ini. raut wajah Nathan tidak terbaca, ia hanya mengangguk pelan. “jadi, video yang kemarin itu. lo lagi ngobrol sama dia.” Aku mengangguk setuju. Aku melirik jam tanganku. Mempertanyakan Nathan yang sudah menggendong tasnya kesini padahal sekarang belum memasuki jam pulang.

            “lo kenapa disini? bukan belum jam pulang ya?” dia terlihat mengangkat bahu dengan acuh. “gue pikir lo butuh temen saat ini.”

            Lima menit kemudian kami berdua beranjak. Aku mulai bisa berkata jujur dengan Nathan tentang apa yang bisa aku lihat dan aku ketahui. Aku menceritakan semua makhluk astral yang terlihat olehku juga watak-watak semua orang yang terjangkau olehku. Aku melihat perubahan dalam raut wajah Nathan saat aku dan dia berhasil mendudukan diri disalah satu tempat makan pinggir jalan. Nathan memesan makan sedangkan aku masih terus mengoceh. Memberitahukan apa yang ku tau tentang orang yang duduk tak jauh dari tempat kami. Sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta penuh kepalsuan. Aku bisa tau mereka berdua sebenarnya sudah lama merasa bosan sehingga mereka mempunyai pacar lain. Nathan melotot seakan tidak percaya. “masalah kaya gitu aja lo tau?” aku mengangguk dan wajah Nathan berubah ekspresinya. “jangan-jangan lo juga tau detil hidup gue lagi.” Aku menatap wajah Nathan dengan geli seakan Nathan baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan. “yaiyalah, sebelum gue kenal sama keluarga lo, gue tau seluk beluk keluarga lo.”

            “ya tuhan… untung lo sahabat gue sendiri. Kalo nggak mungkin gue udah malu banget.” Wajahnya merona merah karena malu.

            “kenapa malu?” tanyaku, bersamaan dengan datangnya seorang pelayan yang mengantarkan pasanan kami. Aku langsung menyeruput minumanku dan mulai memegang sendok dan garpu. “ya… lo pasti tau kalo keluarga gue berantakan kan?” Nathan mulai menggerakkan sendok ke mulutnya. “tapi gue berterimakasih karena keluarga gue membaik Karena lo.”  Ia mengerlingkan sebelah matanya. Kami makan dalam diam. Suasana tempat makan yang tadinya sepi mulai ramai manjelang makan siang. “gue suruh indah kesini ya. Kita peringatin dia sekali lagi.” Aku mendengar nada ragu dalam bicaranya. Aku hanya mengangguk sementara dia sibuk dengan ponselnya.

            aku mengamati sekitarku. Suara lonceng selalu terdengar setiap kali pintu terbuka. Pintu kaca itu, sebagai satu-satunya penghubung dengan kaca berwarna gelap seperti menelan dan memuntahkan orang yang keluar masuk. Kaca jendelanya sangat kontras dengan pintu itu. berwarna putih nyaris tanpa noda. Beberapa pelayan sibuk hilir mudik membawakan pesanan para pelanggan. Menyiapkan makan mereka walau mereka sendiri belum makan. Seragam mereka berwarna biru muda, dalam pandanganku seperti seragam para supir taxi. Hanya sebuah topi dan celemek yang tampak trendi yang membedakan.

            “dia bilang lima menit lagi dia sampe. Kebetulan dia baru pulang dari sekolah, jadi pasti lewat sini.” Kata-kata Nathan menggunggah ku dari lamunan. Aku tersenyum kecut  dan menyesap minumanku yang ternyata sudah habis. Hanya menyisakan es yang sudah mencair dan tidak berasa. Aku memutuskan untuk memesan minuman lagi sedangkan Nathan lebih suka mengaduk-adukan minumannya yang masih tersisa seperempat. Menimbulkan bunyi-bunyi es batu yang membentur dinding gelas.

            Entah ini sudah lebih dari lima menit atau memang lima menit terasa begitu lama. Aku sudah menghabiskan minumanku hampir setengah dan indah sama sekali menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Aku melirik nathan yang memperhatikan jam tangannya. Aku bertanya dan ia bilang bahwa kita sudah hampir sepuluh menit menunggu. “mungkin macet.” Katanya mencoba memberikan alasan.

lonceng kembali berbunyi dan saat itulah penantianku berhenti. Indah masuk dan mengedarkan pandangan kesekeliling. Nathan yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari pintu masuk langsung melambaikan tangannya. Mencoba menarik perhatian indah yang masih sibuk mencari keberadaan kami. Indah mendekat, duduk disamping Nathan dengan canggung. Nathan menawarinya minum tapi ia menolak dan berdalih bahwa ia tidak bisa lama-lama. Aku bisa merasakan kegelisahan dalam diri indah. Seperti mendapati bahwa ia berada ditempat yang salah.

“gue sama valia Cuma mau ngomong masalah lo sama andre.” Nathan mulai membuka suara dan yang langsung disambut oleh tatapan sarkastik oleh indah. Aku sendiri masih diam, menunggu reaksinya lebih lanjut. “kenapa lagi sih tan, kenapa lagi sama andre. Gue sayang sama dia dan gue harap lo ga ganggu hubungan gue sama andre.” Nada suara indah masih pelan tapi aku bisa mendengar nada geram dalam kata-katanya. Nathan terlihat menjilat bibir bawahnya. Seakan mencari-cari dari mana ia harus mulai bicara. “tapi ndah, andre itu nggak sebaik yang lo kira. Dia nggak bener-bener serius sama lo.” Seorang anak yang berlari melewati mejaku sedikit mengalihkan perhatianku. Aku kembali mentap indah yang kebingungan. “apa ada bukti? Kata-kata kalian itu nggak berdasar tau.” Kali ini kata-katanya ikut menudingku. Aku masih diam dan ia melirikku dengan tatapan jijik. Seperti tatapan kepada seorang wanita yang hendak merebut pacarnya sendiri.

“lo akan tau ntar. Tapi please kali ini dengerin kata-kata kita.” Dengan segala cara Nathan mencoba meyakinkan indah, tapi ia tetep menyembunyikan identitasku sebagai seorang indigo. Aku melarang Nathan menceritakan bahwa aku adalah seorang indigo kepada siapapun dan dalam keadaan mendesak sekalipun.

Aku melihat raut wajah indah menegang seakan secara mentah-mentah menolak kata-kata Nathan. Ia kembali menguarkan pendapatnya. Mengenai kata-kata Nathan yang tidak berdasar, kita tidak punya bukti dan alasan yang jelas. Ia bilang ia menyayangi andre dan apapun yang aku dan Nathan bilang tidak akan merubah perasaannya pada andre.

Sura lonceng menandakan indah sudah keluar dari resto itu. aku mendesah pelan, Nathan langsung menenggak habis sisa air di gelasnya. Seakan tidak percya bahwa indah begitu sulit diberitahu, indah lebih egois dari yang dikirannya. Selama beberapa detik kami hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ayo pulang tan, bentar lagi ujan.” Aku mulai menenteng tasku dan bersiap beranjak saat Nathan malah sibuk melihat keadaan diluar yang masih begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda mau hujan. Tapi setelah sekali lagi aku menegurnya, ia seakan tersadar bahwa aku adalah seorang indigo yang bisa mengetahui sesuatu diluar jangkauan orang lain.

Kami keluar dari tempat itu setelah memberikan sejumlah uang ke kasir. Aku masih diam saat nathan membuntutiku masuk ke komplek perumahanku. Langkahku lebih cepat dari biasannya, seakan ingin segera sampai dirumah. “val, lo nggak apa-apa? pelan-pelan donk jalannya.” Keluhnya. Aku berbalik “lo ngapain ngikutin gue. Pulang ajalah. Gue nggak apa-apa.” kataku dengan nada agak kencang. Tidak bisa menyembunyikan kekesalanku. “lo nggak baik-baik aja. Gue tau lo kesel karena indah keras kepala. Iya kan?”

Aku medengus mendengar kata-katanya. “gue udah nggak peduli lagi sama indah ataupun andre dan yang lainnya. Mereka semua nggak tau diri. Bertindak sesuka hati mereka, mengejar apa yang menurut mereka baik padahal itu kesalahan besar dan mereka akan berdecak marah Karena seseorang mencoba memperingatkannya.”

Aku merasakan pandanganku kabur dan setetes air mata meluncur mulus dipipiku. Aku mengertakan gigi, mencoba menahan air mata yang akan jatuh lagi. Nathan mendekat dan mengusap bahuku. “val, ada gue disini. gue gak akan ninggalin lo karena hal apapun. Gue nggak kaya mereka. Jadi gue pengen lo gak sedih lagi ya.” Aku merasakan ibu jari Nathan mengusap air mataku. Aku mendongkak dan melihat dia tersenyum. Menaikkan garis bibirnya. Memaksaku melakukan hal yang sama.



Wednesday, 5 November 2014

Gadis Nila

BAB LIMA

Aku lahir di salah satu desa di yogyakarta. Kata ibuku, saat itu hujan sangat deras dan tepat pukul 00.05 menit aku lahir. Awal keanehan yang terjadi adalah ibuku sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun saat melahirkanku. Aku lahir tanpa ayah. Aku tidak tau apakah ayahku meninggal atau mereka bercerai sebelum aku lahir. yang jelas, ibuku selalu mengunci mulutnya rapat-rapat saat aku menanyakan keberadaan ayah kandungku.

Katanya aku tumbuh seperti bayi biasa, tapi saat aku berumur satu tahun aku sudah mulai lancar bicara, bahkan aku mengusai bahasa inggris dengan sangat fasih. Pada umur dua tahun aku sudah bisa menulis dengan baik juga berhitung diluar kemampuan anak seusiaku. “ya tuhan.. bagaimana bisa.” Itulah kata yang diucapkan ibuku saat melihat keanehanku. Ibuku yang saat itu bekerja sebagai guru private benar-benar merasa tidak menyangka aku bisa melakukan hal-hal itu. pada umur tiga tahun aku sudah bisa mengoperasikan perangkat komputer dengan segala macam kesulitannya.  

Pada umur empat tahun pengetahuan-pengetahuanku benar-benar  luar biasa, aku mengerti tentang sejarah, astronomi, biologi dan yang lainnya. Dan pada umur itulah aku bertemu farrel. Saat itu aku sedang menggambar diruang tamu rumahku.  Ibuku sedang mengajar disalah satu ruangan dirumahku.

Seseorang yang berada diluar pagar rumahku menarik perhatianku. Aku keluar dan menemuinya. Dia mengaku bernama farrel dan akhirnya aku mengajaknya bermain diruang tamu. Kami menggambar bersama dan bernyanyi bersama. Dan saat itu aku merasa kalau farrel adalah sahabat yang baik biarpun dia jauh lebih dewasa dariku. Sejujurnya aku tidak begitu menyukai anak-anak seusiaku. Aku lebih suka bermain dengan farrel karena usianya jauh lebih tua dariku. Tapi yang membuatku heran adalah ibuku dan yang lain tidak bisa melihat farrel. “itu Cuma imajinasi kamu aja sayang.” Begitu katanya.

Saat umurku lima tahun aku mengenal ayah tiriku. Dia adalah pegawai swasta yang tak lain adalah teman lama ibuku. Pada awalnya aku tidak begitu menyukainya. Entahlah, aku merasa dia sama sekali tidak menyukaiku.

Saat aku masuk taman kanak-anak. Aku menjadi yang paling pintar diantara yang lain. Aku membuat kagum guru-guru disana. “anak ibu lebih pintar dari anak seusianya.” Katanya pada ibuku saat pertemuan orangtua murid.

Aku ingat saat sedang bermain sore hari, aku melihat sesosok tubuh yang besar dan berbulu berdiri dibawah pohon beringin, wajahnya hitam dengan kepala yang bertanduk. Aku menjerit ketakutan dipelukan ibuku. Mengajaknya untuk segera pergi darisana. Aku ingat bahwa itu bukanlah kali pertama aku melihat makhluk menakutkan seperti itu. waktu kecil aku suka menangis semalaman karena melihat makhluk-makhluk yang menyeramkan disekitar rumahku.

Saat aku berada di sekolah dasar, aku masih bersahabat dengan farrel. Dia sering menemaniku kesekolah. Tapi teman-temanku yang lain bilang bahwa aku gila. Mereka bilang aku berbicara sendiri, aku memberitahu mereka bahwa ada farrel disampingku, tapi mereka semua tidak melihat dan terus saja menjauhiku karena menganggap aku gila.

Dan saat aku menceritakan itu semua. lagi-lagi ibuku bilang bahwa itu hanyalah imajinasiku. Tak lama setelah pernikahan ibuku, ibuku mengandung anak dari ayah tiriku. Dan suatu saat aku bilang padanya bahwa farrel ada disampingnya, dia malah bilang bahwa aku benar-benar gila.

Disekolah aku dijauhi, aku dikucilkan karena yang lain menganggapku aneh. Aku sempat bersikeras tidak mau sekolah, selain karena sikap teman-temanku, aku merasa bahwa aku sudah cukup pintar tanpa harus sekolah. nilai-nilaiku selalu sempurna dan itu membuat guru-guruku heran. Tapi ibuku bilang bahwa sekolah itu penting.

Ada seorang anak yang bilang bahwa aku menakutinya karena bilang bahwa disebelahnya ada sesosok wanita berambut panjang dengan wajah hancur dan darah dimana-mana. Aku berusaha menjelaskan bahwa makhluk itu benar-benar ada. Tapi mereka semua sama sekali tidak percaya.

***

Saat aku kelas empat SD, aku mengalami kecelakaan. Aku ditabrak lari oleh sebuah mobil saat aku pulang sekolah. sebelum tidak sadarkan diri, aku sempat melihat puluhan sosok berjubah putih mengelilingiku.

Aku terbangun dan melihat tubuhku sendiri terbaring lemah diranjang sebuah rumah sakit. Dan saat itulah ibuku dan ayahku berlari kearahku, tapi bukan untuk memelukku, tapi mengguncang-guncangkan tubuhku lalu menangis melihat alat pendeteksi detak jantung yang menunjukkan garis lurus. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa tubuhku. aku berusaha berteriak pada ibuku tapi ia sama sekali tidak mendengar. Apa aku sudah meninggal?? Itulah yang ada dipiranku saat itu. aku akhirnya keluar dari kamar itu dan melihat orang-orang berjubah putih dan hitam berkeliaran. Aku mencoba melihat wajah mereka tapi tidak berhasil karena mereka semua menunduk. Dan tempat itu, sama sekali bukan rumah sakit. Sebuah taman dengan berbagai bunga indah. yang paling mengejutkan adalah, aku bertemu desi. Salah satu temanku yang beberapa hari lalu meninggal karena sakit keras. Aku memanggilnya tapi ia sama sekali tidak mengenaliku. Aku mulai menangis, aku berteriak memanggil-manggil ibuku. Aku mau pulang, aku tidak suka berada disini. Aku terus menangis entah berapa lama, hingga akhirnya salah satu sosok berjubah putih itu mendekat. Tapi aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya karena wajahnya bersinar dan menyilaukan. Ia lalu menunjuk ke ujung, yang baru kusadari adalah sebuah lorong menuju kegelapan. Aku bilang padanya kalau aku takut, tapi ia menyakinkan kalau tidak ada yang perlu ditakutkan. Akhirnya aku mendekati lorong gelap itu hingga kira-kira jarakku satu meter, aku tertarik kedalam lorong itu. tubuhku terasa diputar 360 derajat hingga akhirnya aku meraskan ruhku kembali dihempaskan kedalam tubuhku.

Aku menggerak-gerakkan mataku dan mendengar suara orang mengaji disekelilingku. Saat aku benar-benar membuka mata dan menyingkirkan kain yang menyelimuti seluruh tubuhku. semua orang kaget bukan kepalang, sebagian dari mereka berteriak ketakutan dan berlari, tapi beberapa orang lainnya menatapku heran termasuk ibu dan ayah tiriku.

Setelah meyakinkan ibuku bahwa ini benar-benar aku dan aku masih bernafas, ia memelukku dengan erat sambil menangis. Setelah keadaan kembali tenang, ibuku bilang bahwa aku mengalami mati suri. Aku sudah didiagnosa dokter meninggal saat dirumah sakit.

Aku pikir kehidupanku akan normal saat mengalami mati suri itu. tapi ternyata tidak. Baik indra penglihatan dan indra pendengaran juga kinerja otakku meningkat seratus kali lipat. Jika biasanya aku bisa melihat makhluk-makluk halus disekitarku, kini aku bisa melihat makhluk halus ditempat lain. Aku tau kalau dirumah teman-temanku ada penghuni yang dapat kulihat walau aku belum pernah datang kerumah mereka. Aku bisa mendengar perbincangan orang yang jauh tidak terlihat olehku. Dan yang paling membuatku lebih frustasi adalah, aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang juga kematiannya.

***

Pada suatu hari aku berteriak keras pada tetanggaku untuk berhati-hati karena mereka akan jatuh. Tidak lama kemudian aku mendengar kabar kalau mereka mengalami patah tulang karena jatuh dari sepeda motonya.

Lalu sewaktu aku dibawa kepasar oleh ibuku untuk membeli susu untuk adik tiriku. Aku berteriak kepada seseorang untuk berhenti merokok karena aku tau paru-parunya sudah rusak karena kebiasaannya merokok.  Aku bilang pada seorang pedagang daging untuk berhenti membohongi pembeli dengan tidak menjual daging yang tidak sehat. Juga kepada penjual buah untuk tidak berlaku curang dengan mengurangi timbangan. Dan yang mengejutkanku adalah aku bisa menyembuhkan suatu penyakit, ini terjadi saat adik tiriku menangis semalaman tanpa henti.. badannya panas tinggi . dan entah atas dorongan apa, aku mendekatkan diri dan menaruh sebelah tanganku ke keningnya, dan adikku perlahan tertidur dan panas badannya menurun. Aku menjadi sorotan orang-orang karena kejadian itu. aku suka memberitahukan berita-berita buruk yang akan terjadi pada mereka begitu juga kematian yang akan terjadi. Dan itu malah membuat mereka takut kepadaku, mereka mengira bahwa aku adalah anak pembawa sial. Mereka melarang anak-anak mereka bermain denganku. Aku makin dikucilkan dilingkunganku.

Aku hanya bermain dengan farrel. Dan akhirnya aku mengerti bahwa farrel adalah makhluk astral dimana hanya aku yang mempunyai kemampuan lebih yang bisa melihatnya. Sedangkan yang lain tidak.

Saat beranjak SMP aku sama sekali tidak berubah, aku terus memberitahu mereka kejadian-kejadian yang akan terjadi, itu semakin membuat mereka menjauhiku. Aku semakin malas pergi kesekolah. Aku lebih suka bolos dan bermain bersama farrel. Hingga akhirnya orangtuaku mendapat panggilan dari sekolah. mereka bilang bahwa aku suka membolos dan berlaku aneh disekolah, mereka bilang aku sering berbicara sendiri dan menakut-nakuti temanku, dan itu menyulut kemarahan ayah tiriku. Sepulang dari sekolah ayahku memukuliku, sedangkan ibuku tak kuasa menahan perlakuan ayahku. Ibuku hanya menangis bersama bayinya. Aku terus meronta memanggil nama ibuku dan farrel.

Hubungan aku dan ayahku semakin merenggang, ayahku lebih suka mengajak bermain adik tiriku yang saat itu menginjak usia dua tahun. Nama keluargakupun makin menjadi buah bibir dimasyarakat. Hingga puncaknya amarah ayahku adalah saat ia bertengkar dengan ibuku. Ayahku mengira bahwa aku gila, aku mempunyai kelainan jiwa. Dan ia bermaksud memasukkanku kerumah sakit jiwa. Tapi tentu saja ibuku tidak sama sekali tidak setuju. Ibuku menganggapku normal seperti lain walau aku tau hatinya menyangkal. Aku sempat dikurung dikamar beberapa hari. Dan setiap itu aku selalu meronta dan berteriak-teriak, memaki ayahku sambil melempar semua benda-benda dikamarku. Ayahku hanya membuka pintu saat mengantarkan makanan dan minuman. Dia benar-benar tidak membiarkanku keluar dari kamar. Hanya farrel yang menemaniku. Hanya dia yang mau mendengar cerita dan keluh kesahku.

Hingga pada suatu saat pintu kamar itu terbuka, tapi bukan ayahku yang masuk. Tetapi dua orang laki-laki berseragam yang langsung membawaku keluar, menyuruhku masuk kesebuah mobil rumah sakit jiwa. Aku tak henti-hentinya berteriak dan memberitahu mereka bahwa aku tidak gila.  Dari kaca mobil itu, aku bisa melihat mobil orangtuaku mengikuti dari belakang.

Aku ingin menangis rasanya. Kenapa ini terjadi padaku. Kenapa harus seperti ini. tidak butuh waktu lama karena aku langsung sampai di rumah sakit jiwa. Mereka memegang kedua tanganku dengan sangat erat, menyakinkan bahwa aku tidak akan bisa lari kemana-mana. Aku menangis melihat ibuku dari kejauhan. Aku merindukan ibuku, dan aku sangat membenci ayah tiriku. Aku dipaksa masuk disebuah kamar dan mereka menguncinya dari luar.

Aku menangis dipojok kamar, sekeras apapun farrel menenangkanku. Tak lama seseorang kembali masuk kekamarku dan mengajakku keluar. kali ini ia tidak langsung menarik tanganku melainkan meminta dengan baik-baik. Setelah menatapnya sebentar aku mengikutinya kesebuah ruang dimana kedua orang tuaku berkumpul. Mereka mengenalkanku dengan seorang wanita muda yang mengaku sebagai psikolog anak. “valia nggak gila bu, valia nggak mau tinggal disini.” Aku berusaha menjelaskan kepada kedua orang tuaku. Tapi wanita muda itu malah menyuruh mereka keluar dan meninggalkanku dengan wanita muda itu.

Wanita itu mengaku bernama yasmin. Lalu dia menanyakan banyak hal kepadaku dan aku menjawab semua yang aku ketahui. Perlahan aku menyukainya karena ia tidak menganggap aku sok pintar seperti yang lain. Diapun percaya saat aku bilang ada penghuni diruangan ini. dia percaya semua yang aku bilang.

“saya menduga anak anda adalah seorang indigo, tapi saya meminta izin untuk melakukan beberapa tes lagi terhadap anak anda. Saya bisa menjamin bahwa anak anda tidak gila dan disini bukanlah tempat yang tepat untuknya. “ begitu katanya pada orangtuaku

Setelah itu aku dibawa kesebuah tempat dimana dia bilang aku akan dibaca auranya. Sejujurnya aku tidak begitu peduli. Apapun asal aku bisa kembali kepada ibuku. Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh bu yasmin dan temannya.

“dugaan saya benar, valia adalah anak indigo. Itu kenapa ia mempunyai kemampuan unik daripada anak lain. Dan dia sama sekali tidak gila.” Aku melihat mata kedua orangtuaku membulat.

“maksudnya?”
“anak indigo adalah anak yang mempunyai warna aura nila atau ungu, sama seperti warna aura valia. Dikatakan anak indigo karena mempunyai indera keenam, IQnya diatas rata-rata, dan bijaksana. Dengan kata lain, anak indigo adalah anak yang mempunyai kekuatan supranatural atau diatas rata-rata, mampu melihat fenomena ganjil, dan dapat meramal peristiwa yang akan terjadi.” Dan saat itulah aku tau menyadari bahwa aku adalah anak indigo. Aku mempunyai kelebihan daripada yang lain tapi aku tidak gila.

“adakah cara menyembuhkannyanya?” bu yasmin lekas menggeleng.
“itu bukan sebuah penyakit dan tidak bisa disembuhkan. Tapi valia harus mendapat lingkungan dan penanganan yang baik.”

Ayah tiriku melirik kearahku dengan mata coklatnya yang bening. Mungkin sama sekali tidak menyangka dengan semua ini.

“apa yang harus kami lakukakan?”
“perlakukan dia seperti biasa, dia berhak mendapat perlakuan yang sama dengan anak sebayanya.”
***

Sejak kejadian itu, aku kembali kerumahku dan menjalani hidupku seperti biasa. Tapi nyatanya cap indigo tak juga bisa merubah pemikiran orang-orang disekelilingku. Mereka tetap menganggap aku aneh, aku gila atu aku punya kelainan jiwa. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku berusaha hidup normal dilingkunganku, aku tidak memperdulikan tatapan warga sekelilingku yang selalu menatapku dengan tatapan mencemooh ataupun yang lainnya. Akupun bersikeras tidak mengumbar kelebihanku kepada orang lain.


Sampai akhirnya ayahku mengajak kami sekeluarga pindah ke jakarta. Aku senang karena akhirnya aku akan punya dunia baru, jauh dari tatapan sinis orang-orang disekelilingku. Aku akan lahir kembali menjadi orang baru, setidaknya aku akan berusaha kelihatan normal seperti yang lain. Aku tidak akan mengulangi semua kesalahanku. Aku ingin merasakan hidup seperti anak-anak seusiaku, aku ingin mempunyai teman baik, aku ingin berjalan-jalan bersama mereka. Aku ingin kehidupan yang lebih baik. 

Tuesday, 4 November 2014

Gadis Nila

BAB EMPAT

            Aku terbangun dengan keringat yang mengucur deras didahiku. Nafasku tersengal dan aku bisa merasakan bahwa wajahku pucat saat ini. aku mimpi buruk lagi. Dan yang paling aku takuti adalah pertanda buruk dalam mimpi itu. dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahku. Merasakan keringat dingin yang mulai menyesap kedalam kulitku.

            Pertanda apalagi ini??

            Setelah membersihkan diri. aku keluar kamar dan menemukan keluargaku sudah berkumpul diruang makan. “selamat pagi sayang.” Kata ibuku sambil mengoleskan selai keselembar roti. Membuatku sedikit mengangkat garis bibirku.

            “kamu baik-baik aja?” tanyanya dan aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
            “sepertinya sekolah itu cocok buat kamu. Sampai sekarang ayah belum dapet surat panggilan dari pihak sekolah.” ayahku tersenyum sinis kepadaku. Menguapkan kebencian melalui sela-sela tatapannya. Tapi aku tau kalau apa yang ia bicarakan akan terjadi. Ibuku diam, mencoba mencairkan suasana. Dia bilang kalau orang Jakarta berpikir lebih luas daripada orang-orang dikampungnya dulu.

            “valia berangkat dulu. Oia bu, bilangin ayah, jangan lewat tempat biasa Karena ada pekerjaan jalan. Macet total. Jadi cari jalan lain aja.” Aku melirik ayahku yang kini menatap dengan pandangan angkuhnya.

            Aku turun dari bus dan berjalan menuju sekolahku. Masih butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai kesana.

            Iiisssshhhhh baru punya mobil apa. Aku berbalik dan menatap sebuah picanto dibelakangku yang sudah sejak tadi mengklakson, menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan telinga. Seseorang didalam mobil kini membuka kaca mobil, menampakkan diri sambil memperlihatkan senyum yang membuatku muak.

            “mau bareng nggak?” katanya ramah tapi aku langsung menggeleng cepat sambil terus berjalan.

            “nggak apa-apa. Gue jamin lo sampe gerbang sekolah dengan selamat.” Ia masih terus menjalankan mobil pelan, mensejajarkan dengan langkahku.
            “nggak.. makasih.”

            “oke…” sesaat kemudian aku merasakan kepulan asap yang berasal kenalpot mobil andre menggumpal diudara.

            Pada jam pertama pelajaran aku langsung mendapat panggilan keruang BK. Aku menarik nafas dan pergi menemui bu mia. Selama aku sekolah, guru BK bukan momok buatku. Disekolah lamaku, aku sering dipanggil guru semacam ini karena beberapa kasus.

            “ibu mendapat laporan kalau kamu sering nggak masuk Karena alasan yang tidak jelas.”
Wanita bertubuh agak tambun itu menatap mataku dengan tatapan tajamnya. Kalau pada umumnya guru bimbingan konseling disetiap sekolah berhati ramah dan dituntut untuk mengerti para siswa, bu mia berbeda. Ia dikenal sebagai pribadi yang tegas dan galak.

“kenapa valia, coba beritahu alasan kamu. Kenapa Kamu bolos HAH???.” Guru itu menggebrak meja, membuatku hampir terlonjak.

“apa salah kalo saya bolos sedangkan nilai-nilai saya selalu bagus. Bukankah kita sekolah biar pintar. Lalu kalau saya sudah pintar. Saya harus apa?” aku membalas tatapannya. Seringai muncul dibibirnya. Ia menegakkan tubuhnya. Dan menarik nafas dalam-dalam.

“tapi sekolah ini punya peraturan valia.” Wanita itu kini lebih tenang dan lebih berhati-hati. Dan inilah yang aku benci dari dulu. PERATURAN… peraturan yang menurutku tidak masuk akal. Aku berfikir kalau slogan “peraturan dibuat untuk dilanggar” itu benar. Aku benci terkungkung dalam satu peraturan yang tidak aku sukai.

“kalau semua murid sepertimu, mau jadi apa sekolah ini. berlaku seenaknya. Sekolah ini bukan milik keluargamu valia.”
  
Setelah berdebat cukup sengit dengan bu mia, aku menghambur menuju taman dan menjumpai farrel disana. menghirup udara pagi dalam-dalam dan merasakannya meresap dalam paru-paruku. Aku berbicara panjang lebar dengannya. sampai saat ini hanya dia yang benar-benar bisa mengertiku. Lalu dia mengajakku bernyanyi bersama, melakukan kegiatan yang paling kusukai saat bersamannya. Tapi disamping itu, mimpi burukku tadi malam masih menghantuiku, bayang-bayang buruk itu masih menari-nari dibenakku.

“kayaknya lo harus balik ke kelas deh. Sebelum guru lo yang bawel itu ceramah lagi.” Farrel memberikan senyuman terindahnya. Membuatku mengangguk lalu meninggalkan farrel ditaman.
Saat bel pulang berbunyi aku melihat andre yang berjalan tak jauh dari tempatku berjalan. Sendirian, tidak bersama indah ataupun teman-temannya. Aku lekas berlari dan menarik tangannya ke koridor sekolah yang sepi.

“apa-apaan nih?” katanya mencoba berontak tapi tetap mengikutiku kekoridor.
“klo sekarang lo berencana pergi ke mall itu.” aku menyebutkan sebuah mall yang akan dia kunjungi dan membuatnya menaikkan alis.

“gue mohon jangan pergi.” aku melihat air mukannya berubah, dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut.
“kenapa emang?” dia menatapku dengan tatapan mencemooh.
“gue nggak bisa kasih alasannya, tapi please jangan kesana.” Aku melihat seringai sinis dibibirnya dan semburat kebahagiaan yang tiba-tiba muncul diwajahnya.
“gue bakal turutin kemauan lo asal lo mau jalan sama gue.”
“mimpi lo.” Aku sudah mengepalkan tanganku dan bersiap melemparkan tinju ke wajah tampannya. Sampai akhirnya dia tertawa.

“lo itu bener-bener cewe aneh. Ga usah sok alim. Gue tau lo iri kan sama indah, karena indah sekarang pacaran sama gue.”

“jaga mulut lo.” Aku bisa merasakan kalau buku-buku jariku mulai memutih. Dan seringai diwajahnya tak juga menghilang.

“gue Cuma kasih penawaran simple. dan kalo emang lo iri sama indah, gue bisa mutusin dia dan jadian sama lo. Jujur gue sebenarnya lebih tertarik sama lo” Dia menyentuh lenganku begitu kuat sehingga aku mencoba melepaskan dengan tanganku yang bebas.

“valia…andre.” Aku dan andre menoleh kearah datanganya suara dan melihat indah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya merah padam dan aku bisa memastikan tidak butuh waktu lama kalau amarahnya pasti akan meledak. Apa yang akan ia pikirkan saat pacar dan mantan sahabatnya terlihat bersama.

            “gue bisa jelasin ndah.” Aku melepas peganganku begitu juga andre. Kami mulai saling menjauh tapi raut wajah andre tampak biasa saja. Indah mendekat dan melirik kearahku dan andre secara bergantian.

            “dia ngerayu gue ndah. Dia bilang dia bersedia jadi pacar gue asalkan gue mau mutusin lo.”  Aku memelototi andre dan sama sekali tidak percaya dia berani berbohong seperti itu. Wajah indah semakin memerah dan kali ini aku menyadari bahwa amarah itu sepenuhnya terarah kepadaku.

            “dasar cowok brengsek.” Aku menampar andre lalu kembali menatap indah “Jangan percaya ndah, please ini ga kaya yang dia bilang. Gue nggak kaya gitu…gue…” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku tangan indah berhasil mendarat mulus dipipiku. Tidak keras tapi cukup membuatku terkejut.

            “dasar cewek murahan.” Indah menyambar tangan andre lalu pergi menjauh, meninggalkanku yang masih terpaku ditempat. Meraba pipiku yang mulai memanas, bukan pipi tapi hatiku juga merasakan panas yang lebih, sepeti terbakar.

            Apapun ndah, tapi please  jangan pergi kesana… aku terduduk disana, menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. menangis dan menyesali semua yang terjadi.

***

“lo nggak apa-apa val?” Nathan bertanya saat sampai dirumahnya. Hari ini ibu Nathan mengajakku untuk makan malam bersama keluarganya. Setelah kejadian itu, ibu Nathan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Keputusan yang cukup mengejutkan bagi Nathan maupun ayahnya. Tapi keputusan ibu Nathan sudah bulat. Ia bilang ia akan mengganti semua hari yang telah ia korbankan demi pekerjaannya. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik buat Nathan.

Aku dan Nathan sudah berada dimeja makan saat ibunya masih sibuk menyiapkan makan malam. Nathan berbisik entah sudah berapa lama Nathan tidak mencicipi masakan ibunya, dan Nathan bilang kalau ibunya memang jago masak sejak dulu.

Ibu Nathan melepas celemeknya dan mulai menuang air dan teko bening ke gelasku dan Nathan. ia tersenyum hangat dan menggumamkan maaf karena harus menunggu sampai ayahnya Nathan pulang. Ia bilang ayahnya Nathan akan sampai beberapa menit lagi. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena kini kami bertiga terlibat obrolan menarik. Ibu Nathan bercerita tentang masa kecil Nathan. ketika Nathan pertama kali belajar berjalan, ketika Nathan hampir saja menelan sebutir kelereng, ketika Nathan merengek minta diantar saat hari pertama masuk TK, dan tingkah laku Nathan saat kecil membuatku tertawa dan wajah Nathan bersemu malu.

Ayah Nathan sampai 15 menit kemudian dan ia membawa kabar buruk. Dia bilang salah satu mall yang ia lewati terbakar, mengakibatkan kemacetan karena si jago merah berhasil melalap sebagian badan mall. Gelas yang saat itu aku pegang langsung terjatuh, menimbulkan bunyi nyaring dan mengakibatkan air membasahi meja panjang itu.

“kenapa val?” suara itulah yang akhirnya menyadarkanku. Aku berdiri dan berusaha menghindari tetesan air yang sudah membasahi celanaku. Aku meminta maaf dan salah seorang pelayan mengelap meja yang basah beserta beling-beling yang pecah.

Satu yang terlintas dipikiranku adalah indah. Setelah menggumamkan maaf kami melanjutkan makan tapi pikiranku masih saja tertuju pada kebakaran itu

***

“luka andre sama indah nggak parah katanya. Katanya kaki mereka kekilir karena berdesakan keluar dari tempat itu. ” aku lega mendengar kabar yang diberikan Nathan. mimpi itu benar, kobaran api yang menyala-nyala. Aku bisa mengingat jelas saat beberapa orang berteriak, saling berdesakan untuk keluar dari tempat itu. kobaran api itu berhasil merembet kebeberapa tubuh orang.

“gimana kalo ntar kita jenguk kerumah sakit? Itu juga kalo lo mau.” Aku tanpa sadar mengangguk. Menyadari kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau aku bertemu dengannya. aku tau hal seperti ini pasti akan terus terjadi dalam hidupku. Semua pertanda-pertanda buruk yang akan selalu hadir dalam pikiranku dan aku hampir gila dibuatnya. Bagaimanapun kerasnya aku mencoba menghindari, aku tau itu mustahil.

Selama perjalanan ke rumah sakit, aku lebih banyak diam. Memikirkan kemungkinan buruk setalah aku tahu bahwa andre juga dirawat dirumah sakit yang sama. Setelah mampir ke toko buah, kami melanjutkan perjalanan. Camry putih Nathan dengan lihai membelah kemacetan ibukota. Udara begitu panas hari ini, begitu menyengat. kotaku dulu juga panas, hanya saja tidak seterik ini. dan udara di jogja masih lebih bersih. Tidak seperti disini, asap-asap kenalpot mengudara dimana-mana.

Setelah sampai dirumah sakit, Nathan langsung pergi ke bagian informasi untuk menanyakan dimana pasien atas nama indah dan andre dirawat. Setelah mendapatkan informasi aku dan Nathan langsung pergi menuju lift. Indah dan andre ternyata dirawat diruang yang bersebelahan. “kita kan niat baik val. Lo tenang aja.” Aku merasakan tangan Nathan menggenggam tanganku dan menggiringku masuk keruangan dimana indah dirawat. Aku melihat mamanya terduduk dikursi disebelah ranjang indah. Sebelah kaki indah di gips dan terangkat keatas, dan aku melihat ada sedikit luka bakar di tangannya.

Ibu indah tersenyum melihat kehadiran kami. Setelah mencium tangannya dia memberikan kami sebotol minuman kaleng. Dan meninggalkan kami bertiga.

“gimana keadaan lo?”  aku melihat ada kecanggungan dari pertanyaan Nathan. indah sedikit menaikkan garis bibirnya lalu menatapku dengan tatapan kosong. “baik.” Dia menjawab tapi aku tau pikirannya berada entah kemana. Dan entah kenapa suasana terasa begitu mencekam, seperti senar yang ditarik kencang dan siap putus kapanpun juga.

Selama kurang lebih setengah jam dikamar indah, Nathanlah yang lebih bayak berbicara. Sedangkan aku hanya sempat mengumamkan permintaan maafku, dan itupun tidak dia jawab. Ia lebih suka memandang Nathan daripada aku. Aku masih bisa melihat siratan kebencian ditatapan matanya. Dan aku berusaha untuk tidak peduli. Aku merasa bahwa diriku benar karena berniat baik padanya.

Setelah keluar dari kamar indah, aku dan Nathan masuk kekamar sebelah tempat andre dirawat. Dan lagi-lagi Nathanlah yang mengepalai. Aku lebih suka mengumpat dibalik tubuhnya, sama sekali tidak ingin melihat rekasinya saat melihatku. Kamar Andre lebih ramai karena ada beberapa teman sekelasnya yang aku juga kenal.

“gue abis nengokin indah, jadi gue mampir sekalian.” Aku memberanikan muncul dari balik punggung Nathan dan menatap andre. Raut wajahnya berubah seketika. Dan empat teman-temannya kini menatapku heran. Nathan sudah berjalan mendekati ranjang sedangkan aku masih terpaku ditempat.

“ngapain lo disini? Pergi dari sini? Cewek pembawa sial. Pergiiiiiiiiiiii.” Andre berteriak-teriak seperti orang kesurupan, ia mengambil semua barang yang ada dimeja dan melemparkannya kearahku. Semua orang mencoba menenangkan andre tapi anak itu terus saja meronta seperti orang gila.

“andre stop…” Nathan merentangkan tangan didepanku, mencoba menahan benda-benda yang hampir saja melukaiku.  Setelah melihat andre tak juga menghentikan kegiatannya melemparnya, Nathan menggandeng tanganku keluar dari kamar.

“lo nggak apa-apa val?” aku menatap kosong Nathan dan mengangguk pelan. Kejadian ini persis seperti kejadian bertahun-tahun lalu. Kejadian yang sama sekali tidak ingin aku ulangi. Dan tanpa aku sadari sebutir air mata jatuh dari sudut mataku. Membuat Nathan kebingungan.

“val lo kenapa val?” Nathan meremas bahuku, mencoba memberikan ketenangan. Tapi aku malah berbalik dan berlari keluar rumah sakit. “val… valia..” aku bisa mendengar suara Nathan, semakin lama semakin kencang hingga akhirnya ia bisa meraih tanganku untuk berhenti tepat saat aku berada diluar rumah sakit. “val lo kenapa sih?” aku masih menunduk dan merasakan airmataku masih mengalir.

“val….” Nathan mengangkat daguku dengan jarinya. Membuatku terpaksa melihat karahnya. “kenapa?” dia bertanya lagi tapi aku lebih suka menjawab dengan sebuah gelengan.

Nathan menuntunku ketaman disamping rumah sakit. Duduk disalah satu bangku disana.
“sekarang cerita sama gue, lo kenapa? Lo tersinggung sama kata-kata andre.” Nathan menggenggam tanganku, semakin erat seakan memberiku kekuatan untuk segera menjawab pertanyaannya.

“gue bakal hajar dia kalo dia udah masuk sekolah. gue janji sama lo. Gue nggak suka dia bikin sahabat gue sedih gini.” Aku merasakan ibu jarinya menelusuri pipiku, menghapus bekas air mataku.

“bukan dia yang salah tan, gue yang salah.” Aku mencoba berbicara walau terasa sangat sulit. Seperti ada gumpalan batu yang menyumpat tenggorokanku. Aku bisa melihat sirat kebingungan diwajahnya.

“maksudnya?”
“gue berbeda dari kalian semua.” kini dahi-nya berkerut dan aku tau dia sama sekali belum mengerti.

“gue indigo Nathan, itu kenapa gue tau papan dikantin mau jatoh, gue tau nyokap lo sakit, gue tau kalau ada penghuni lain dikamar tempat nyokap lo dirawat pertama kali. Bahkan kebakaran itu, gue tau dan gue sempet bilang sama andre buat nggak pergi kesana.”


Raut wajah Nathan berubah, antara tidak menyangka dan heran. “jadi yang nyembuhin nyokap gue?” Aku mengangguk membenarkan kata-katanya. Biarlah dia tau semuanya, aku tidak peduli lagi. Nyatanya aku juga sudah kehilangan semuanya. “gimana bisa?”