buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 4 November 2014

Gadis Nila

BAB EMPAT

            Aku terbangun dengan keringat yang mengucur deras didahiku. Nafasku tersengal dan aku bisa merasakan bahwa wajahku pucat saat ini. aku mimpi buruk lagi. Dan yang paling aku takuti adalah pertanda buruk dalam mimpi itu. dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahku. Merasakan keringat dingin yang mulai menyesap kedalam kulitku.

            Pertanda apalagi ini??

            Setelah membersihkan diri. aku keluar kamar dan menemukan keluargaku sudah berkumpul diruang makan. “selamat pagi sayang.” Kata ibuku sambil mengoleskan selai keselembar roti. Membuatku sedikit mengangkat garis bibirku.

            “kamu baik-baik aja?” tanyanya dan aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
            “sepertinya sekolah itu cocok buat kamu. Sampai sekarang ayah belum dapet surat panggilan dari pihak sekolah.” ayahku tersenyum sinis kepadaku. Menguapkan kebencian melalui sela-sela tatapannya. Tapi aku tau kalau apa yang ia bicarakan akan terjadi. Ibuku diam, mencoba mencairkan suasana. Dia bilang kalau orang Jakarta berpikir lebih luas daripada orang-orang dikampungnya dulu.

            “valia berangkat dulu. Oia bu, bilangin ayah, jangan lewat tempat biasa Karena ada pekerjaan jalan. Macet total. Jadi cari jalan lain aja.” Aku melirik ayahku yang kini menatap dengan pandangan angkuhnya.

            Aku turun dari bus dan berjalan menuju sekolahku. Masih butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai kesana.

            Iiisssshhhhh baru punya mobil apa. Aku berbalik dan menatap sebuah picanto dibelakangku yang sudah sejak tadi mengklakson, menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan telinga. Seseorang didalam mobil kini membuka kaca mobil, menampakkan diri sambil memperlihatkan senyum yang membuatku muak.

            “mau bareng nggak?” katanya ramah tapi aku langsung menggeleng cepat sambil terus berjalan.

            “nggak apa-apa. Gue jamin lo sampe gerbang sekolah dengan selamat.” Ia masih terus menjalankan mobil pelan, mensejajarkan dengan langkahku.
            “nggak.. makasih.”

            “oke…” sesaat kemudian aku merasakan kepulan asap yang berasal kenalpot mobil andre menggumpal diudara.

            Pada jam pertama pelajaran aku langsung mendapat panggilan keruang BK. Aku menarik nafas dan pergi menemui bu mia. Selama aku sekolah, guru BK bukan momok buatku. Disekolah lamaku, aku sering dipanggil guru semacam ini karena beberapa kasus.

            “ibu mendapat laporan kalau kamu sering nggak masuk Karena alasan yang tidak jelas.”
Wanita bertubuh agak tambun itu menatap mataku dengan tatapan tajamnya. Kalau pada umumnya guru bimbingan konseling disetiap sekolah berhati ramah dan dituntut untuk mengerti para siswa, bu mia berbeda. Ia dikenal sebagai pribadi yang tegas dan galak.

“kenapa valia, coba beritahu alasan kamu. Kenapa Kamu bolos HAH???.” Guru itu menggebrak meja, membuatku hampir terlonjak.

“apa salah kalo saya bolos sedangkan nilai-nilai saya selalu bagus. Bukankah kita sekolah biar pintar. Lalu kalau saya sudah pintar. Saya harus apa?” aku membalas tatapannya. Seringai muncul dibibirnya. Ia menegakkan tubuhnya. Dan menarik nafas dalam-dalam.

“tapi sekolah ini punya peraturan valia.” Wanita itu kini lebih tenang dan lebih berhati-hati. Dan inilah yang aku benci dari dulu. PERATURAN… peraturan yang menurutku tidak masuk akal. Aku berfikir kalau slogan “peraturan dibuat untuk dilanggar” itu benar. Aku benci terkungkung dalam satu peraturan yang tidak aku sukai.

“kalau semua murid sepertimu, mau jadi apa sekolah ini. berlaku seenaknya. Sekolah ini bukan milik keluargamu valia.”
  
Setelah berdebat cukup sengit dengan bu mia, aku menghambur menuju taman dan menjumpai farrel disana. menghirup udara pagi dalam-dalam dan merasakannya meresap dalam paru-paruku. Aku berbicara panjang lebar dengannya. sampai saat ini hanya dia yang benar-benar bisa mengertiku. Lalu dia mengajakku bernyanyi bersama, melakukan kegiatan yang paling kusukai saat bersamannya. Tapi disamping itu, mimpi burukku tadi malam masih menghantuiku, bayang-bayang buruk itu masih menari-nari dibenakku.

“kayaknya lo harus balik ke kelas deh. Sebelum guru lo yang bawel itu ceramah lagi.” Farrel memberikan senyuman terindahnya. Membuatku mengangguk lalu meninggalkan farrel ditaman.
Saat bel pulang berbunyi aku melihat andre yang berjalan tak jauh dari tempatku berjalan. Sendirian, tidak bersama indah ataupun teman-temannya. Aku lekas berlari dan menarik tangannya ke koridor sekolah yang sepi.

“apa-apaan nih?” katanya mencoba berontak tapi tetap mengikutiku kekoridor.
“klo sekarang lo berencana pergi ke mall itu.” aku menyebutkan sebuah mall yang akan dia kunjungi dan membuatnya menaikkan alis.

“gue mohon jangan pergi.” aku melihat air mukannya berubah, dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut.
“kenapa emang?” dia menatapku dengan tatapan mencemooh.
“gue nggak bisa kasih alasannya, tapi please jangan kesana.” Aku melihat seringai sinis dibibirnya dan semburat kebahagiaan yang tiba-tiba muncul diwajahnya.
“gue bakal turutin kemauan lo asal lo mau jalan sama gue.”
“mimpi lo.” Aku sudah mengepalkan tanganku dan bersiap melemparkan tinju ke wajah tampannya. Sampai akhirnya dia tertawa.

“lo itu bener-bener cewe aneh. Ga usah sok alim. Gue tau lo iri kan sama indah, karena indah sekarang pacaran sama gue.”

“jaga mulut lo.” Aku bisa merasakan kalau buku-buku jariku mulai memutih. Dan seringai diwajahnya tak juga menghilang.

“gue Cuma kasih penawaran simple. dan kalo emang lo iri sama indah, gue bisa mutusin dia dan jadian sama lo. Jujur gue sebenarnya lebih tertarik sama lo” Dia menyentuh lenganku begitu kuat sehingga aku mencoba melepaskan dengan tanganku yang bebas.

“valia…andre.” Aku dan andre menoleh kearah datanganya suara dan melihat indah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya merah padam dan aku bisa memastikan tidak butuh waktu lama kalau amarahnya pasti akan meledak. Apa yang akan ia pikirkan saat pacar dan mantan sahabatnya terlihat bersama.

            “gue bisa jelasin ndah.” Aku melepas peganganku begitu juga andre. Kami mulai saling menjauh tapi raut wajah andre tampak biasa saja. Indah mendekat dan melirik kearahku dan andre secara bergantian.

            “dia ngerayu gue ndah. Dia bilang dia bersedia jadi pacar gue asalkan gue mau mutusin lo.”  Aku memelototi andre dan sama sekali tidak percaya dia berani berbohong seperti itu. Wajah indah semakin memerah dan kali ini aku menyadari bahwa amarah itu sepenuhnya terarah kepadaku.

            “dasar cowok brengsek.” Aku menampar andre lalu kembali menatap indah “Jangan percaya ndah, please ini ga kaya yang dia bilang. Gue nggak kaya gitu…gue…” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku tangan indah berhasil mendarat mulus dipipiku. Tidak keras tapi cukup membuatku terkejut.

            “dasar cewek murahan.” Indah menyambar tangan andre lalu pergi menjauh, meninggalkanku yang masih terpaku ditempat. Meraba pipiku yang mulai memanas, bukan pipi tapi hatiku juga merasakan panas yang lebih, sepeti terbakar.

            Apapun ndah, tapi please  jangan pergi kesana… aku terduduk disana, menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. menangis dan menyesali semua yang terjadi.

***

“lo nggak apa-apa val?” Nathan bertanya saat sampai dirumahnya. Hari ini ibu Nathan mengajakku untuk makan malam bersama keluarganya. Setelah kejadian itu, ibu Nathan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Keputusan yang cukup mengejutkan bagi Nathan maupun ayahnya. Tapi keputusan ibu Nathan sudah bulat. Ia bilang ia akan mengganti semua hari yang telah ia korbankan demi pekerjaannya. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik buat Nathan.

Aku dan Nathan sudah berada dimeja makan saat ibunya masih sibuk menyiapkan makan malam. Nathan berbisik entah sudah berapa lama Nathan tidak mencicipi masakan ibunya, dan Nathan bilang kalau ibunya memang jago masak sejak dulu.

Ibu Nathan melepas celemeknya dan mulai menuang air dan teko bening ke gelasku dan Nathan. ia tersenyum hangat dan menggumamkan maaf karena harus menunggu sampai ayahnya Nathan pulang. Ia bilang ayahnya Nathan akan sampai beberapa menit lagi. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena kini kami bertiga terlibat obrolan menarik. Ibu Nathan bercerita tentang masa kecil Nathan. ketika Nathan pertama kali belajar berjalan, ketika Nathan hampir saja menelan sebutir kelereng, ketika Nathan merengek minta diantar saat hari pertama masuk TK, dan tingkah laku Nathan saat kecil membuatku tertawa dan wajah Nathan bersemu malu.

Ayah Nathan sampai 15 menit kemudian dan ia membawa kabar buruk. Dia bilang salah satu mall yang ia lewati terbakar, mengakibatkan kemacetan karena si jago merah berhasil melalap sebagian badan mall. Gelas yang saat itu aku pegang langsung terjatuh, menimbulkan bunyi nyaring dan mengakibatkan air membasahi meja panjang itu.

“kenapa val?” suara itulah yang akhirnya menyadarkanku. Aku berdiri dan berusaha menghindari tetesan air yang sudah membasahi celanaku. Aku meminta maaf dan salah seorang pelayan mengelap meja yang basah beserta beling-beling yang pecah.

Satu yang terlintas dipikiranku adalah indah. Setelah menggumamkan maaf kami melanjutkan makan tapi pikiranku masih saja tertuju pada kebakaran itu

***

“luka andre sama indah nggak parah katanya. Katanya kaki mereka kekilir karena berdesakan keluar dari tempat itu. ” aku lega mendengar kabar yang diberikan Nathan. mimpi itu benar, kobaran api yang menyala-nyala. Aku bisa mengingat jelas saat beberapa orang berteriak, saling berdesakan untuk keluar dari tempat itu. kobaran api itu berhasil merembet kebeberapa tubuh orang.

“gimana kalo ntar kita jenguk kerumah sakit? Itu juga kalo lo mau.” Aku tanpa sadar mengangguk. Menyadari kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau aku bertemu dengannya. aku tau hal seperti ini pasti akan terus terjadi dalam hidupku. Semua pertanda-pertanda buruk yang akan selalu hadir dalam pikiranku dan aku hampir gila dibuatnya. Bagaimanapun kerasnya aku mencoba menghindari, aku tau itu mustahil.

Selama perjalanan ke rumah sakit, aku lebih banyak diam. Memikirkan kemungkinan buruk setalah aku tahu bahwa andre juga dirawat dirumah sakit yang sama. Setelah mampir ke toko buah, kami melanjutkan perjalanan. Camry putih Nathan dengan lihai membelah kemacetan ibukota. Udara begitu panas hari ini, begitu menyengat. kotaku dulu juga panas, hanya saja tidak seterik ini. dan udara di jogja masih lebih bersih. Tidak seperti disini, asap-asap kenalpot mengudara dimana-mana.

Setelah sampai dirumah sakit, Nathan langsung pergi ke bagian informasi untuk menanyakan dimana pasien atas nama indah dan andre dirawat. Setelah mendapatkan informasi aku dan Nathan langsung pergi menuju lift. Indah dan andre ternyata dirawat diruang yang bersebelahan. “kita kan niat baik val. Lo tenang aja.” Aku merasakan tangan Nathan menggenggam tanganku dan menggiringku masuk keruangan dimana indah dirawat. Aku melihat mamanya terduduk dikursi disebelah ranjang indah. Sebelah kaki indah di gips dan terangkat keatas, dan aku melihat ada sedikit luka bakar di tangannya.

Ibu indah tersenyum melihat kehadiran kami. Setelah mencium tangannya dia memberikan kami sebotol minuman kaleng. Dan meninggalkan kami bertiga.

“gimana keadaan lo?”  aku melihat ada kecanggungan dari pertanyaan Nathan. indah sedikit menaikkan garis bibirnya lalu menatapku dengan tatapan kosong. “baik.” Dia menjawab tapi aku tau pikirannya berada entah kemana. Dan entah kenapa suasana terasa begitu mencekam, seperti senar yang ditarik kencang dan siap putus kapanpun juga.

Selama kurang lebih setengah jam dikamar indah, Nathanlah yang lebih bayak berbicara. Sedangkan aku hanya sempat mengumamkan permintaan maafku, dan itupun tidak dia jawab. Ia lebih suka memandang Nathan daripada aku. Aku masih bisa melihat siratan kebencian ditatapan matanya. Dan aku berusaha untuk tidak peduli. Aku merasa bahwa diriku benar karena berniat baik padanya.

Setelah keluar dari kamar indah, aku dan Nathan masuk kekamar sebelah tempat andre dirawat. Dan lagi-lagi Nathanlah yang mengepalai. Aku lebih suka mengumpat dibalik tubuhnya, sama sekali tidak ingin melihat rekasinya saat melihatku. Kamar Andre lebih ramai karena ada beberapa teman sekelasnya yang aku juga kenal.

“gue abis nengokin indah, jadi gue mampir sekalian.” Aku memberanikan muncul dari balik punggung Nathan dan menatap andre. Raut wajahnya berubah seketika. Dan empat teman-temannya kini menatapku heran. Nathan sudah berjalan mendekati ranjang sedangkan aku masih terpaku ditempat.

“ngapain lo disini? Pergi dari sini? Cewek pembawa sial. Pergiiiiiiiiiiii.” Andre berteriak-teriak seperti orang kesurupan, ia mengambil semua barang yang ada dimeja dan melemparkannya kearahku. Semua orang mencoba menenangkan andre tapi anak itu terus saja meronta seperti orang gila.

“andre stop…” Nathan merentangkan tangan didepanku, mencoba menahan benda-benda yang hampir saja melukaiku.  Setelah melihat andre tak juga menghentikan kegiatannya melemparnya, Nathan menggandeng tanganku keluar dari kamar.

“lo nggak apa-apa val?” aku menatap kosong Nathan dan mengangguk pelan. Kejadian ini persis seperti kejadian bertahun-tahun lalu. Kejadian yang sama sekali tidak ingin aku ulangi. Dan tanpa aku sadari sebutir air mata jatuh dari sudut mataku. Membuat Nathan kebingungan.

“val lo kenapa val?” Nathan meremas bahuku, mencoba memberikan ketenangan. Tapi aku malah berbalik dan berlari keluar rumah sakit. “val… valia..” aku bisa mendengar suara Nathan, semakin lama semakin kencang hingga akhirnya ia bisa meraih tanganku untuk berhenti tepat saat aku berada diluar rumah sakit. “val lo kenapa sih?” aku masih menunduk dan merasakan airmataku masih mengalir.

“val….” Nathan mengangkat daguku dengan jarinya. Membuatku terpaksa melihat karahnya. “kenapa?” dia bertanya lagi tapi aku lebih suka menjawab dengan sebuah gelengan.

Nathan menuntunku ketaman disamping rumah sakit. Duduk disalah satu bangku disana.
“sekarang cerita sama gue, lo kenapa? Lo tersinggung sama kata-kata andre.” Nathan menggenggam tanganku, semakin erat seakan memberiku kekuatan untuk segera menjawab pertanyaannya.

“gue bakal hajar dia kalo dia udah masuk sekolah. gue janji sama lo. Gue nggak suka dia bikin sahabat gue sedih gini.” Aku merasakan ibu jarinya menelusuri pipiku, menghapus bekas air mataku.

“bukan dia yang salah tan, gue yang salah.” Aku mencoba berbicara walau terasa sangat sulit. Seperti ada gumpalan batu yang menyumpat tenggorokanku. Aku bisa melihat sirat kebingungan diwajahnya.

“maksudnya?”
“gue berbeda dari kalian semua.” kini dahi-nya berkerut dan aku tau dia sama sekali belum mengerti.

“gue indigo Nathan, itu kenapa gue tau papan dikantin mau jatoh, gue tau nyokap lo sakit, gue tau kalau ada penghuni lain dikamar tempat nyokap lo dirawat pertama kali. Bahkan kebakaran itu, gue tau dan gue sempet bilang sama andre buat nggak pergi kesana.”


Raut wajah Nathan berubah, antara tidak menyangka dan heran. “jadi yang nyembuhin nyokap gue?” Aku mengangguk membenarkan kata-katanya. Biarlah dia tau semuanya, aku tidak peduli lagi. Nyatanya aku juga sudah kehilangan semuanya. “gimana bisa?”

No comments:

Post a Comment