BAB EMPAT
Aku terbangun dengan keringat yang
mengucur deras didahiku. Nafasku tersengal dan aku bisa merasakan bahwa wajahku
pucat saat ini. aku mimpi buruk lagi. Dan yang paling aku takuti adalah
pertanda buruk dalam mimpi itu. dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamar
mandi dan membasuh wajahku. Merasakan keringat dingin yang mulai menyesap
kedalam kulitku.
Pertanda
apalagi ini??
Setelah membersihkan diri. aku
keluar kamar dan menemukan keluargaku sudah berkumpul diruang makan. “selamat
pagi sayang.” Kata ibuku sambil mengoleskan selai keselembar roti. Membuatku
sedikit mengangkat garis bibirku.
“kamu baik-baik aja?” tanyanya dan
aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
“sepertinya sekolah itu cocok buat
kamu. Sampai sekarang ayah belum dapet surat panggilan dari pihak sekolah.”
ayahku tersenyum sinis kepadaku. Menguapkan kebencian melalui sela-sela
tatapannya. Tapi aku tau kalau apa yang ia bicarakan akan terjadi. Ibuku diam,
mencoba mencairkan suasana. Dia bilang kalau orang Jakarta berpikir lebih luas
daripada orang-orang dikampungnya dulu.
“valia berangkat dulu. Oia bu, bilangin
ayah, jangan lewat tempat biasa Karena ada pekerjaan jalan. Macet total. Jadi
cari jalan lain aja.” Aku melirik ayahku yang kini menatap dengan pandangan
angkuhnya.
Aku turun dari bus dan berjalan
menuju sekolahku. Masih butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai kesana.
Iiisssshhhhh
baru punya mobil apa. Aku berbalik dan menatap sebuah picanto dibelakangku
yang sudah sejak tadi mengklakson, menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan
telinga. Seseorang didalam mobil kini membuka kaca mobil, menampakkan diri
sambil memperlihatkan senyum yang membuatku muak.
“mau bareng nggak?” katanya ramah
tapi aku langsung menggeleng cepat sambil terus berjalan.
“nggak apa-apa. Gue jamin lo sampe
gerbang sekolah dengan selamat.” Ia masih terus menjalankan mobil pelan,
mensejajarkan dengan langkahku.
“nggak.. makasih.”
“oke…” sesaat kemudian aku merasakan
kepulan asap yang berasal kenalpot mobil andre menggumpal diudara.
Pada jam pertama pelajaran aku
langsung mendapat panggilan keruang BK. Aku menarik nafas dan pergi menemui bu
mia. Selama aku sekolah, guru BK bukan momok buatku. Disekolah lamaku, aku
sering dipanggil guru semacam ini karena beberapa kasus.
“ibu mendapat laporan kalau kamu
sering nggak masuk Karena alasan yang tidak jelas.”
Wanita
bertubuh agak tambun itu menatap mataku dengan tatapan tajamnya. Kalau pada
umumnya guru bimbingan konseling disetiap sekolah berhati ramah dan dituntut
untuk mengerti para siswa, bu mia berbeda. Ia dikenal sebagai pribadi yang
tegas dan galak.
“kenapa
valia, coba beritahu alasan kamu. Kenapa Kamu bolos HAH???.” Guru itu
menggebrak meja, membuatku hampir terlonjak.
“apa
salah kalo saya bolos sedangkan nilai-nilai saya selalu bagus. Bukankah kita
sekolah biar pintar. Lalu kalau saya sudah pintar. Saya harus apa?” aku
membalas tatapannya. Seringai muncul dibibirnya. Ia menegakkan tubuhnya. Dan
menarik nafas dalam-dalam.
“tapi
sekolah ini punya peraturan valia.” Wanita itu kini lebih tenang dan lebih
berhati-hati. Dan inilah yang aku benci dari dulu. PERATURAN… peraturan yang
menurutku tidak masuk akal. Aku berfikir kalau slogan “peraturan dibuat untuk
dilanggar” itu benar. Aku benci terkungkung dalam satu peraturan yang tidak aku
sukai.
“kalau
semua murid sepertimu, mau jadi apa sekolah ini. berlaku seenaknya. Sekolah ini
bukan milik keluargamu valia.”
Setelah
berdebat cukup sengit dengan bu mia, aku menghambur menuju taman dan menjumpai
farrel disana. menghirup udara pagi dalam-dalam dan merasakannya meresap dalam
paru-paruku. Aku berbicara panjang lebar dengannya. sampai saat ini hanya dia
yang benar-benar bisa mengertiku. Lalu dia mengajakku bernyanyi bersama,
melakukan kegiatan yang paling kusukai saat bersamannya. Tapi disamping itu,
mimpi burukku tadi malam masih menghantuiku, bayang-bayang buruk itu masih menari-nari
dibenakku.
“kayaknya lo harus balik ke kelas
deh. Sebelum guru lo yang bawel itu ceramah lagi.” Farrel
memberikan senyuman terindahnya. Membuatku mengangguk lalu meninggalkan farrel
ditaman.
Saat
bel pulang berbunyi aku melihat andre yang berjalan tak jauh dari tempatku
berjalan. Sendirian, tidak bersama indah ataupun teman-temannya. Aku lekas
berlari dan menarik tangannya ke koridor sekolah yang sepi.
“apa-apaan
nih?” katanya mencoba berontak tapi tetap mengikutiku kekoridor.
“klo
sekarang lo berencana pergi ke mall itu.” aku menyebutkan sebuah mall yang akan
dia kunjungi dan membuatnya menaikkan alis.
“gue
mohon jangan pergi.” aku melihat air mukannya berubah, dahinya berkerut dan
bibirnya mengerucut.
“kenapa
emang?” dia menatapku dengan tatapan mencemooh.
“gue
nggak bisa kasih alasannya, tapi please
jangan kesana.” Aku melihat seringai sinis dibibirnya dan semburat kebahagiaan
yang tiba-tiba muncul diwajahnya.
“gue
bakal turutin kemauan lo asal lo mau jalan sama gue.”
“mimpi
lo.” Aku sudah mengepalkan tanganku dan bersiap melemparkan tinju ke wajah
tampannya. Sampai akhirnya dia tertawa.
“lo
itu bener-bener cewe aneh. Ga usah sok alim. Gue tau lo iri kan sama indah,
karena indah sekarang pacaran sama gue.”
“jaga
mulut lo.” Aku bisa merasakan kalau buku-buku jariku mulai memutih. Dan seringai
diwajahnya tak juga menghilang.
“gue
Cuma kasih penawaran simple. dan kalo emang lo iri sama indah, gue bisa mutusin
dia dan jadian sama lo. Jujur gue sebenarnya lebih tertarik sama lo” Dia
menyentuh lenganku begitu kuat sehingga aku mencoba melepaskan dengan tanganku
yang bebas.
“valia…andre.”
Aku dan andre menoleh kearah datanganya suara dan melihat indah berdiri tak
jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya merah padam dan aku bisa memastikan tidak
butuh waktu lama kalau amarahnya pasti akan meledak. Apa yang akan ia pikirkan
saat pacar dan mantan sahabatnya terlihat bersama.
“gue bisa jelasin ndah.” Aku melepas
peganganku begitu juga andre. Kami mulai saling menjauh tapi raut wajah andre
tampak biasa saja. Indah mendekat dan melirik kearahku dan andre secara
bergantian.
“dia ngerayu gue ndah. Dia bilang
dia bersedia jadi pacar gue asalkan gue mau mutusin lo.” Aku memelototi andre dan sama sekali tidak
percaya dia berani berbohong seperti itu. Wajah indah semakin memerah dan kali
ini aku menyadari bahwa amarah itu sepenuhnya terarah kepadaku.
“dasar cowok brengsek.” Aku menampar
andre lalu kembali menatap indah “Jangan percaya ndah, please ini ga kaya yang dia bilang. Gue nggak kaya gitu…gue…” belum
sempat aku melanjutkan kata-kataku tangan indah berhasil mendarat mulus
dipipiku. Tidak keras tapi cukup membuatku terkejut.
“dasar cewek murahan.” Indah
menyambar tangan andre lalu pergi menjauh, meninggalkanku yang masih terpaku
ditempat. Meraba pipiku yang mulai memanas, bukan pipi tapi hatiku juga
merasakan panas yang lebih, sepeti terbakar.
Apapun
ndah, tapi please jangan pergi kesana… aku
terduduk disana, menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. menangis dan
menyesali semua yang terjadi.
***
“lo
nggak apa-apa val?” Nathan bertanya saat sampai dirumahnya. Hari ini ibu Nathan
mengajakku untuk makan malam bersama keluarganya. Setelah kejadian itu, ibu
Nathan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga.
Keputusan yang cukup mengejutkan bagi Nathan maupun ayahnya. Tapi keputusan ibu
Nathan sudah bulat. Ia bilang ia akan mengganti semua hari yang telah ia
korbankan demi pekerjaannya. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik buat
Nathan.
Aku
dan Nathan sudah berada dimeja makan saat ibunya masih sibuk menyiapkan makan
malam. Nathan berbisik entah sudah berapa lama Nathan tidak mencicipi masakan
ibunya, dan Nathan bilang kalau ibunya memang jago masak sejak dulu.
Ibu
Nathan melepas celemeknya dan mulai menuang air dan teko bening ke gelasku dan
Nathan. ia tersenyum hangat dan menggumamkan maaf karena harus menunggu sampai
ayahnya Nathan pulang. Ia bilang ayahnya Nathan akan sampai beberapa menit
lagi. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena kini kami bertiga terlibat
obrolan menarik. Ibu Nathan bercerita tentang masa kecil Nathan. ketika Nathan
pertama kali belajar berjalan, ketika Nathan hampir saja menelan sebutir
kelereng, ketika Nathan merengek minta diantar saat hari pertama masuk TK, dan
tingkah laku Nathan saat kecil membuatku tertawa dan wajah Nathan bersemu malu.
Ayah
Nathan sampai 15 menit kemudian dan ia membawa kabar buruk. Dia bilang salah
satu mall yang ia lewati terbakar, mengakibatkan kemacetan karena si jago merah
berhasil melalap sebagian badan mall. Gelas yang saat itu aku pegang langsung
terjatuh, menimbulkan bunyi nyaring dan mengakibatkan air membasahi meja
panjang itu.
“kenapa
val?” suara itulah yang akhirnya menyadarkanku. Aku berdiri dan berusaha
menghindari tetesan air yang sudah membasahi celanaku. Aku meminta maaf dan
salah seorang pelayan mengelap meja yang basah beserta beling-beling yang
pecah.
Satu
yang terlintas dipikiranku adalah indah. Setelah menggumamkan maaf kami
melanjutkan makan tapi pikiranku masih saja tertuju pada kebakaran itu
***
“luka
andre sama indah nggak parah katanya. Katanya kaki mereka kekilir karena
berdesakan keluar dari tempat itu. ” aku lega mendengar kabar yang diberikan
Nathan. mimpi itu benar, kobaran api yang menyala-nyala. Aku bisa mengingat
jelas saat beberapa orang berteriak, saling berdesakan untuk keluar dari tempat
itu. kobaran api itu berhasil merembet kebeberapa tubuh orang.
“gimana
kalo ntar kita jenguk kerumah sakit? Itu juga kalo lo mau.” Aku tanpa sadar
mengangguk. Menyadari kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau aku bertemu
dengannya. aku tau hal seperti ini pasti akan terus terjadi dalam hidupku. Semua
pertanda-pertanda buruk yang akan selalu hadir dalam pikiranku dan aku hampir
gila dibuatnya. Bagaimanapun kerasnya aku mencoba menghindari, aku tau itu
mustahil.
Selama
perjalanan ke rumah sakit, aku lebih banyak diam. Memikirkan kemungkinan buruk
setalah aku tahu bahwa andre juga dirawat dirumah sakit yang sama. Setelah
mampir ke toko buah, kami melanjutkan perjalanan. Camry putih Nathan dengan
lihai membelah kemacetan ibukota. Udara begitu panas hari ini, begitu
menyengat. kotaku dulu juga panas, hanya saja tidak seterik ini. dan udara di
jogja masih lebih bersih. Tidak seperti disini, asap-asap kenalpot mengudara
dimana-mana.
Setelah
sampai dirumah sakit, Nathan langsung pergi ke bagian informasi untuk
menanyakan dimana pasien atas nama indah dan andre dirawat. Setelah mendapatkan
informasi aku dan Nathan langsung pergi menuju lift. Indah dan andre ternyata
dirawat diruang yang bersebelahan. “kita kan niat baik val. Lo tenang aja.” Aku
merasakan tangan Nathan menggenggam tanganku dan menggiringku masuk keruangan
dimana indah dirawat. Aku melihat mamanya terduduk dikursi disebelah ranjang
indah. Sebelah kaki indah di gips dan terangkat keatas, dan aku melihat ada
sedikit luka bakar di tangannya.
Ibu
indah tersenyum melihat kehadiran kami. Setelah mencium tangannya dia
memberikan kami sebotol minuman kaleng. Dan meninggalkan kami bertiga.
“gimana
keadaan lo?” aku melihat ada kecanggungan
dari pertanyaan Nathan. indah sedikit menaikkan garis bibirnya lalu menatapku
dengan tatapan kosong. “baik.” Dia menjawab tapi aku tau pikirannya berada
entah kemana. Dan entah kenapa suasana terasa begitu mencekam, seperti senar
yang ditarik kencang dan siap putus kapanpun juga.
Selama
kurang lebih setengah jam dikamar indah, Nathanlah yang lebih bayak berbicara.
Sedangkan aku hanya sempat mengumamkan permintaan maafku, dan itupun tidak dia
jawab. Ia lebih suka memandang Nathan daripada aku. Aku masih bisa melihat
siratan kebencian ditatapan matanya. Dan aku berusaha untuk tidak peduli. Aku
merasa bahwa diriku benar karena berniat baik padanya.
Setelah
keluar dari kamar indah, aku dan Nathan masuk kekamar sebelah tempat andre
dirawat. Dan lagi-lagi Nathanlah yang mengepalai. Aku lebih suka mengumpat
dibalik tubuhnya, sama sekali tidak ingin melihat rekasinya saat melihatku.
Kamar Andre lebih ramai karena ada beberapa teman sekelasnya yang aku juga
kenal.
“gue
abis nengokin indah, jadi gue mampir sekalian.” Aku memberanikan muncul dari
balik punggung Nathan dan menatap andre. Raut wajahnya berubah seketika. Dan
empat teman-temannya kini menatapku heran. Nathan sudah berjalan mendekati
ranjang sedangkan aku masih terpaku ditempat.
“ngapain
lo disini? Pergi dari sini? Cewek pembawa sial. Pergiiiiiiiiiiii.” Andre
berteriak-teriak seperti orang kesurupan, ia mengambil semua barang yang ada
dimeja dan melemparkannya kearahku. Semua orang mencoba menenangkan andre tapi
anak itu terus saja meronta seperti orang gila.
“andre
stop…” Nathan merentangkan tangan didepanku, mencoba menahan benda-benda yang
hampir saja melukaiku. Setelah melihat
andre tak juga menghentikan kegiatannya melemparnya, Nathan menggandeng
tanganku keluar dari kamar.
“lo
nggak apa-apa val?” aku menatap kosong Nathan dan mengangguk pelan. Kejadian
ini persis seperti kejadian bertahun-tahun lalu. Kejadian yang sama sekali
tidak ingin aku ulangi. Dan tanpa aku sadari sebutir air mata jatuh dari sudut
mataku. Membuat Nathan kebingungan.
“val
lo kenapa val?” Nathan meremas bahuku, mencoba memberikan ketenangan. Tapi aku
malah berbalik dan berlari keluar rumah sakit. “val… valia..” aku bisa
mendengar suara Nathan, semakin lama semakin kencang hingga akhirnya ia bisa
meraih tanganku untuk berhenti tepat saat aku berada diluar rumah sakit. “val
lo kenapa sih?” aku masih menunduk dan merasakan airmataku masih mengalir.
“val….”
Nathan mengangkat daguku dengan jarinya. Membuatku terpaksa melihat karahnya.
“kenapa?” dia bertanya lagi tapi aku lebih suka menjawab dengan sebuah
gelengan.
Nathan
menuntunku ketaman disamping rumah sakit. Duduk disalah satu bangku disana.
“sekarang
cerita sama gue, lo kenapa? Lo tersinggung sama kata-kata andre.” Nathan
menggenggam tanganku, semakin erat seakan memberiku kekuatan untuk segera menjawab
pertanyaannya.
“gue
bakal hajar dia kalo dia udah masuk sekolah. gue janji sama lo. Gue nggak suka
dia bikin sahabat gue sedih gini.” Aku merasakan ibu jarinya menelusuri pipiku,
menghapus bekas air mataku.
“bukan
dia yang salah tan, gue yang salah.” Aku mencoba berbicara walau terasa sangat
sulit. Seperti ada gumpalan batu yang menyumpat tenggorokanku. Aku bisa melihat
sirat kebingungan diwajahnya.
“maksudnya?”
“gue
berbeda dari kalian semua.” kini dahi-nya berkerut dan aku tau dia sama sekali
belum mengerti.
“gue
indigo Nathan, itu kenapa gue tau papan dikantin mau jatoh, gue tau nyokap lo
sakit, gue tau kalau ada penghuni lain dikamar tempat nyokap lo dirawat pertama
kali. Bahkan kebakaran itu, gue tau dan gue sempet bilang sama andre buat nggak
pergi kesana.”
Raut
wajah Nathan berubah, antara tidak menyangka dan heran. “jadi yang nyembuhin
nyokap gue?” Aku mengangguk membenarkan kata-katanya. Biarlah dia tau semuanya,
aku tidak peduli lagi. Nyatanya aku juga sudah kehilangan semuanya. “gimana
bisa?”
No comments:
Post a Comment