BAB
TIGA
Pagi ini aku keluar dari kamar dan
melihat adikku yang berseragam melintas didepan kamarku. “selamat pagi.” Aku
mencoba menyapanya dengan kaku, dan dia hanya melangkah lebih cepat tanpa
memperdulikan sapaanku. Entah sudah berapa lama aku tidak berbicara kepadanya.
sepertinya bertahun-tahun. Dirumah, kami hanya saling pandang lalu ia akan lari
ketakutan, mendekap dipelukan ibuku dan bilang bahwa ia takut padaku. Dan
dengan kasih sayang ibuku, ibuku akan bilang bahwa tidak ada yang harus
ditakuti dariku. Ibuku bilang aku adalah kakaknya walaupun kami beda ayah. Tapi
tentu saja anak itu tidak mau begitu saja percaya pada ibuku. Dia seperti
melihat monster saat melihatku.
Sesampainya disekolah aku mendengar
kabar yang sama sekali tidak mengejutkanku. Aku tau ini akan terjadi. Semua
anak disepanjang koridor berbisik. Membicarakan indah yang kini menyandang
sebagai pacar andre. Semuanya menginginkan berada dalam posisi indah, mereka
menyerukan bahwa indah beruntung bisa mendapatkan andre. Aku benar-benar muak
mendengarnya. Aku berpikir bahwa mereka semua bodoh. Hanya melihat orang dari
luarnya saja. Benar-benar manusia tidak berguna.
Aku duduk ditaman belakang sekolah
pagi ini. kegiatan yang sudah beberapa hari ini menjadi rutinitasku. Disana aku
akan menghirup udara segar dan menemui farrel. Aku akan bercerita panjang lebar
dengan farrel. Menceritakan semua yang terjadi pada hari-hariku. Dan farrel
akan tertawa keras. Mentertawakan betapa menyedihkannya hidupku. Tapi entah
kenapa aku selalu bahagia bersamanya.
Aku kembali ke kelas saat jam
menunjukkan pukul 07.15. lima belas menit lalu bel masuk sudah berbunyi tapi
aku tahu kalau belum ada guru dikelasku. Aku masuk dan mataku langsung
menangkap pandangan mata indah. “selamat ya.” Aku mencoba membuka percakapan
diantara kami. Percakapan pertama yang aku mulai setelah berhari-hari berdiam
diri. “makasih.” Jawabnya pendek.
“tapi bukan berarti gue bakal diam.
Gue nggak tau apa yang bisa membuat mata lo melihat kalau andre itu nggak
bener-bener suka sama lo.” Kali ini aku bisa merasakan ketersinggungannya.
“kenapa sih val, apa yang salah sama
andre?” suaranya meninggi, membuat beberapa anak menoleh kearah kami.
“indah, gue berani bersumpah kalo
andre itu bukan cowok baik dan dia nggak bener-bener suka sama lo.” Nada
suaraku tidak kalah tinggi kali ini. dan dimatanya. Aku melihat api kebencian
begitu membara.
“stop urusin hubungan gue sama
andre. Gue tau lo iri kan sama gue? Karena gue bisa dapetin andre. Lo itu sama
kaya cewek-cewek lain kan? LO CUMA IRI SAMA GUE.” Kali ini kami sama-sama berdiri. Benar-benar menciptakan keributan
dikelas, menjadi tontonan gratis bagi anak-anak disekeliling kami.
“lo nggak tau siapa andre sebenarnya
dan apa yang dia rencanakan indah.” Aku menahan geram pada indah yang mulai
berapi-api.
“trus… lo pikir lo siapa? Lo pikir
lo tau siapa andre? Lo tau apa tentang dia. HAH?” indah menggebrak meja.
Membuat beberapa orang mengintip dibalik jendela kelasku.
“please indah, dengerin gue kali
ini. lo harus putus sama andre sebelum lo menyesal.” Kali ini aku melihat
sebutir peluh jatuh dari dahinya. Dan ia tersenyum sinis. “lo gila, lo bahkan
nggak kasih gue alasan kenapa gue harus putus sama andre. Selain alasan kalau
lo IRI sama gue.”
Aku menyerah dan membawa tasku
keluar dari kelas. Melewati kerumunan anak yang ternyata lebih banyak dari
dugaanku. Aku sempat mendengar suara Nathan memanggil, tapi aku tidak ingin
menoleh sama sekali. Aku berlari keluar dari sekolah dan akhirnya berjalan
mengikuti kemana kakiku melangkah. Aku marah, aku bingung, aku sedih, aku tidak
tau harus bagaimana lagi sekarang. Persahabatanku hancur sudah. Hal yang dahulu
aku idam-idamkan kini hancur lebur tak bersisa. Tidak ada yang bisa
diselamatkan maupun diperbaiki. Indah membenciku, bahkan saat aku berusaha
menyelamatkannya.
Aku sampai dirumah sakit tempat ibu
Nathan dirawat. Aku juga sebenarnya tidak mengerti kenapa aku kesini. Aku
menaiki lift menuju kamarnya. Ruangan itu kosong, seperti tidak ada tanda-tanda
kehidupan didalamnya. Tapi aku tau masih ada kehidupan panjang disana. aku masuk kekamar itu dan
langsung disambut oleh bau khas rumah sakit.
Wanita itu tertidur pulas, seperti
bayi yang begitu tenang. aku menggenggam tangannya dan ia membuka mata. Aku
tersenyum melihatnya mencoba mengingatku. Setelah menekan otaknya sedikit lebih
keras. Ia akhirnya bisa mengingatku. Aku mencoba berbicara pelan kepadanya.
hingga akhirnya ia kami terlibat obrolan menarik. Aku banyak bercerita
kepadanya tentang persahabatanku dengan Nathan. aku bilang bahwa Nathan adalah
pria yang begitu baik, dan begitu pintar bermain musik. Aku menceritakan
kepadanya saat aku dan Nathan bernyanyi bersama ditaman sekolah. aku bernyanyi sedangkan
Nathan mengiringi dengan gitar yang dibelinya secara diam-diam dengan uang
jajannya. Aku menceritakan betapa kesepiannya Nathan. bagaiamana Nathan
menginginkan keluarga yang sempurna bukan hanya secara materi.
Setelah aku menceritakan itu semua,
aku melihat air matanya jatuh. Aku tersenyum sambil menyekanya dengan ibu
jariku. Aku bisa merasakan bagaiamana ia menyesal menelantarkan Nathan.
bagaimana ia menyesal karena berfikir uang adalah segalanya. Aku merasakan
udara diluar semakin terik. Hingga akhirnya memutuskan untuk pergi darisana.
Setelah berpamitan aku keluar dari ruangan itu dan berjalan kembali keluar
rumah sakit. Tapi sesaat sebelum aku masuk kedalam lift. Aku mendengar rintihan
kesakitan. Begitu jelas hingga akhirnya aku memutuskan untuk berbalik.
Diruangan itu aku melihat dokter dan beberapa suster sedang menangani ibu
Nathan. seorang perawat yang melihat kehadiranku menghampiri dan menyuruhku
untuk menunggu diluar. Tapi suara erangan kesakitan itu makin terdengar nyaring
dan membuat hatiku teriris. Aku
mendorong perawat itu dan melesak masuk. Membuat marah dokter yang sedang
menangani pasien. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap mendekat dan mengganggam
tangannya dengan tangan kiriku, perlahan rintihan ibu Nathan mereda. Lalu,
dengan tangan kananku, aku mengusap pelan kening wanita itu. membuat wanita itu
memejamkan mata.
Setelah merasa kalau ibu Nathan
tertidur. Aku tersenyum lalu kembali berniat pergi dari sana. Tapi aku lupa
kalau disana masih ada dokter dan dua perawat yang kini menatapku dengan
pandangan bingung.
“bagaimana bisa?” dokter itu kini
mendekatiku dan melihat kearah ranjang. Menatap pasien yang sebelumnya
berteriak kesakitan kini tertidur lelap.
“berhenti memberikannya obat-obatan
dan kemoterapi.”
Aku pergi menuju taman tak jauh dari
komplek perumahanku dan mengindahkan berbagai telpon dan pesan yang membuat
hanphoneku berbunyi.
“lo
bilang lo mau jadi anak normal. trus, kenapa lo menyembuhkan wanita itu.” aku
mendengar suara itu dan mendapati farrel berada disebelahku entah sejak kapan.
“entahlah, gue nggak bisa mendengar
dia merintih kesakitan. Gue bisa merasakan sakitnya farrel.” Aku mencoba
mencari pembenaran dengan menatap farrel dalam-dalam. Dan seketika itu juga
farrel terkekeh. “jadi, lo sadar kalo lo
nggak akan pernah bisa menjadi seperti mereka.” Aku mengangguk mengakui
kekalahanku. Farrel benar. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menjadi
seperti mereka. Aku tersenyum dan kami menghabiskan sore bersama-sama. Aku juga
bercerita masalahku dengan indah dan semua ke khawatiranku. Dan dengan enteng
dia hanya menjawab “tenang saja, suatu
saat dia bakal tau kalo lo benar.” Dia mengucapkan kata itu berulang kali
dan sesekali membuatku tertawa.
Hari-hari berikutnya aku dan indah
benar-benar kehilangan kontak. Setiap hari aku dan dia bertingkah seperti orang
yang tidak kenal sama sekali. Setelah pertengkaran itu, keesokan harinya ia
menjauhiku dengan pindah tempat duduk dengan orang lain. dan yang paling
mengejutkan adalah Nathan yang mengetahui kalau ibunya kini sudah sembuh total.
Malam itu, setelah dari rumah sakit, ia datang kerumahku. Membari kabar kalau
ibunya kini sudah sembuh, dan menurut dokter kemarin ada seorang gadis
berseragam yang menenangkan ibunya dari kesakitan dan diperkuat oleh kesaksian
ibunya. Akhirnya Nathan tahu kalau gadis itu adalah diriku. Aku bisa melihat
kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya tapi kini ia terus saja mendesakku
dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.
“gue nggak ngelakuin apa-apa Nathan.
klo nyokap lo bisa sembuh itu bukan karena gue, tapi karena keajaiban dari tuhan.”
Aku bisa melihat nada ketidakpercayaan dari tatapannya. Aku dan Nathan berada
disebuah taman dikomplek perumahanku. Menghabiskan waktu dengan menatap kolam
air mancur yang sering dipadati para muda-mudi saat malam minggu. Biarpun hari
sudah gelap tapi aku bisa melihat jelas kilatan mata nathan yang menanti
kebenaran dalam diriku.
Setalah beradu argumen dan saling
ngotot, akhirnya Nathan mengalah dan aku sangat bersyukur akan hal itu.
persahabatanku dengan Nathan bisa diselamatkan. Aku tersenyum penuh kepadanya.
menggumamkan terima kasih tanpa kata.
“jadi gimana sama indah?” Nathan
merubah topik pembicaraan, tapi menurutku ini sama sekali bukan topik yang
menarik. Aku mengambil beberapa kerikil ditanah dan melemparkan satu persatu ke
danau tenang didepanku. Menghasilkan bunyi gemricik dan ombak kecil saat air
itu menelan butiran kerikil.
“yang penting gue udah memperingatkan
dia.” Semenjak pertengkaran itu, nathan turut menjadi korban. Aku bisa melihat
kalau ia dan indah juga mulai menjauh. Aku bisa mendengar kegugupan dalam
beberapa sapaannya kepada indah. Mereka seperti orang asing dari dunia yang
berbeda. Tapi aku tahu bukan Nathan yang menjauh. Tapi indahlah yang semakin
melengketkan diri dengan andre. Ikut bergaul dengan teman-teman andre yang sama
bajingannya seperti andre.
Dalam waktu kurang dari empat hari,
ibunya Nathan sudah diperbolehkan pulang. setelah menjalani serangkaian
pemeriksaan, dokter benar-benar percaya bahwa sel-sel kanker itu telah hilang.
Walau para dokter terus saja menyangkal kebenarannya. Secara logika mereka
benar-benar tidak percaya bahwa ini terjadi. “sel-sel kanker itu secara
misterius hilang.” Begitu katanya sambil melirik kearahku. Dia tau semua
kecurigaannya berhubungan denganku. Tapi aku menolak memberikan pendapat apapun.
aku hanya bilang bahwa ini semua adalah bukti kebesaran tuhan.
Untuk pertama kalinya aku
mengunjungi rumah Nathan, ibunya kini tersenyum sambil mempersilakanku masuk.
Kulitnya kembali terlihat segar, tubuhnya kembali ke ukuran normal, dan yang
paling tidak bisa disembunyikan adalah senyumnya yang selalu mengembang selama
perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumahnya. Ia berkali-kali mengucap
syukur, dan sama seperti dokter. Ibu Nathan juga menaruh kecurigaan terhadapku.
“mama inget pas valia pegang tangan mama, rasa sakit mama tiba-tiba menghilang
dan mama merasa ngantuk.” Begitu katanya.
Rumah itu besar. Dilapisi dengan cat
putih dan ukiran-ukiran mewah ditiang-tiang penyanggahnya. Dihalaman disamping
ada sebuah taman dengan dua buah ayunan yang terlihat usang dan berkarat. Dan
ditaman itu, aku bisa melihat sesosok wanita sebagai penghuni. Tapi aku tidak
perlu khawatir karena ia baik. Ia tidak suka menganggu siapapun. Tapi aku tau kalau
ia sebal kalau tukang kebun dirumah Nathan membakar sampah dekat rumahnya.
Aku memasuki rumah besar itu dan
langsung merasakan kehampaan didalamnya. Aku bisa merasakan bahwa ruang tamu
ini jarang dibuat berkumpul keluarga, ruang makannya tidak pernah mengumpulkan
Nathan dan kedua orang tuanya. Dan percakapan layaknya sebuah keluarga tidak
pernah tercipta dirumah ini. Tapi aku berharap semuanya membaik mulai hari ini.
Nathan mempersilahkanku duduk sedang
dirinya masuk kekamar untuk mengganti pakaian dan ibunya memanggil seorang
pembantu rumah tangga dan menyuruhnya mengambilkan minum. didalam ruang tamu
itu aku melihat beberapa foto Nathan terpajang, juga lukisan-lukisan abstrak
yang indah. Dimeja kecil disudut ruangan ada telpon dan sebuah bingkai foto
Nathan bersama kedua orang tuanya. Nathan sedang duduk disebuah ayunan dan
kedua orang tuanya berdiri dibelakang, tersenyum secara bersamaan.
Aku tersenyum melihat Nathan
menyimpan boneka bear berwarna coklat dikamarnya. Juga puzzle usang yang
tersembunyi dibawah laci meja belajarnya. Ada mobil-mobilan kayu yang ia rakit
bersama ayahnya saat umurnya enam tahun. Semuanya tampak rapi untuk ukuran
kamar laki-laki, tapi aku bisa merasakan hawa dingin yang mengudara dikamar
itu. kamar itu jarang terjamah kedua orangtua Nathan. tapi aku bisa melihat
bayangan ibu Nathan tiga bulan lalu, tengah malam sepulang kerja, ia
mengendap-endap memasuki kamar itu. melihat Nathan yang tidur meringkuk dibawah
selimut tebalnya membuat kerinduan membuncah dihatinya. ia tidak tahu betapa
Nathan merindukannya, betapa Nathan merindukan sentuhannya, sapaannya, kasih
sayangnya. Setelah puas memandangi anak semata wayangnya, ia menarik selimut
hingga ke leher Nathan dan mencium keningnya.
Beberapa
menit kemudian, Nathan kembali dan menyuruh ibunya untuk beristirahat. Walaupun
ibunya bersikeras karena merasa sudah sembuh total, tapi Nathan tetep menuntut
ibunya untuk tidak terlalu banyak beraktivitas karena masih tidak menyangka
ibunya akan sembuh dengan cara tidak masuk akal seperti itu.
“kayaknya lo bakal sering-sering
maen kesini deh.” Katanya sambil tersenyum dan duduk disampingku. Membuat
sebagian sisi sofa berkeriut saat ia duduki.
“tau darimana?” kataku sambil
menatapnya yang kini terlihat menganakan kaos berwarna hijau muda dengan celana
kanvas selutut.
“nyokap gue kayanya bakal lengket
sama lo.” Katanya. Kami berbincang-bincang cukup lama hingga akhirnya ayahnya
Nathan tiba dirumah. ini kedua kalinya aku bertemu dengannya. ayahnya Nathan
adalah pria berusia 46 tahun dengan kulit putih kemerahan, wajahnya panjang dan
matanya sipit. Tulang pipi dan rahangnya terlihat kuat serasi dengan badanya
yang masih terlihat tegap. Dan yang diwariskan pada Nathan adalah senyumnya. Ia
memiliki senyum yang mempesona, sama seperti Nathan.
Setelah bersalaman dengannya, ia
pergi untuk menengok istrinya. Nathan bilang, ini adalah kali pertama ayahnya
pulang lebih cepat. Biasanya ia pulang diatas jam sepuluh malam dan berangkat
pagi-pagi sekali.
No comments:
Post a Comment