buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Monday, 3 November 2014

Gadis Nila

BAB TIGA

            Pagi ini aku keluar dari kamar dan melihat adikku yang berseragam melintas didepan kamarku. “selamat pagi.” Aku mencoba menyapanya dengan kaku, dan dia hanya melangkah lebih cepat tanpa memperdulikan sapaanku. Entah sudah berapa lama aku tidak berbicara kepadanya. sepertinya bertahun-tahun. Dirumah, kami hanya saling pandang lalu ia akan lari ketakutan, mendekap dipelukan ibuku dan bilang bahwa ia takut padaku. Dan dengan kasih sayang ibuku, ibuku akan bilang bahwa tidak ada yang harus ditakuti dariku. Ibuku bilang aku adalah kakaknya walaupun kami beda ayah. Tapi tentu saja anak itu tidak mau begitu saja percaya pada ibuku. Dia seperti melihat monster saat melihatku.

            Sesampainya disekolah aku mendengar kabar yang sama sekali tidak mengejutkanku. Aku tau ini akan terjadi. Semua anak disepanjang koridor berbisik. Membicarakan indah yang kini menyandang sebagai pacar andre. Semuanya menginginkan berada dalam posisi indah, mereka menyerukan bahwa indah beruntung bisa mendapatkan andre. Aku benar-benar muak mendengarnya. Aku berpikir bahwa mereka semua bodoh. Hanya melihat orang dari luarnya saja. Benar-benar manusia tidak berguna.

            Aku duduk ditaman belakang sekolah pagi ini. kegiatan yang sudah beberapa hari ini menjadi rutinitasku. Disana aku akan menghirup udara segar dan menemui farrel. Aku akan bercerita panjang lebar dengan farrel. Menceritakan semua yang terjadi pada hari-hariku. Dan farrel akan tertawa keras. Mentertawakan betapa menyedihkannya hidupku. Tapi entah kenapa aku selalu bahagia bersamanya.

            Aku kembali ke kelas saat jam menunjukkan pukul 07.15. lima belas menit lalu bel masuk sudah berbunyi tapi aku tahu kalau belum ada guru dikelasku. Aku masuk dan mataku langsung menangkap pandangan mata indah. “selamat ya.” Aku mencoba membuka percakapan diantara kami. Percakapan pertama yang aku mulai setelah berhari-hari berdiam diri. “makasih.” Jawabnya pendek.

            “tapi bukan berarti gue bakal diam. Gue nggak tau apa yang bisa membuat mata lo melihat kalau andre itu nggak bener-bener suka sama lo.” Kali ini aku bisa merasakan ketersinggungannya.

            “kenapa sih val, apa yang salah sama andre?” suaranya meninggi, membuat beberapa anak menoleh kearah kami.

            “indah, gue berani bersumpah kalo andre itu bukan cowok baik dan dia nggak bener-bener suka sama lo.” Nada suaraku tidak kalah tinggi kali ini. dan dimatanya. Aku melihat api kebencian begitu membara.

            “stop urusin hubungan gue sama andre. Gue tau lo iri kan sama gue? Karena gue bisa dapetin andre. Lo itu sama kaya cewek-cewek lain kan? LO CUMA IRI SAMA GUE.”  Kali ini kami sama-sama berdiri. Benar-benar menciptakan keributan dikelas, menjadi tontonan gratis bagi anak-anak disekeliling kami.

            “lo nggak tau siapa andre sebenarnya dan apa yang dia rencanakan indah.” Aku menahan geram pada indah yang mulai berapi-api.

            “trus… lo pikir lo siapa? Lo pikir lo tau siapa andre? Lo tau apa tentang dia. HAH?” indah menggebrak meja. Membuat beberapa orang mengintip dibalik jendela kelasku.

            “please indah, dengerin gue kali ini. lo harus putus sama andre sebelum lo menyesal.” Kali ini aku melihat sebutir peluh jatuh dari dahinya. Dan ia tersenyum sinis. “lo gila, lo bahkan nggak kasih gue alasan kenapa gue harus putus sama andre. Selain alasan kalau lo IRI sama gue.”

            Aku menyerah dan membawa tasku keluar dari kelas. Melewati kerumunan anak yang ternyata lebih banyak dari dugaanku. Aku sempat mendengar suara Nathan memanggil, tapi aku tidak ingin menoleh sama sekali. Aku berlari keluar dari sekolah dan akhirnya berjalan mengikuti kemana kakiku melangkah. Aku marah, aku bingung, aku sedih, aku tidak tau harus bagaimana lagi sekarang. Persahabatanku hancur sudah. Hal yang dahulu aku idam-idamkan kini hancur lebur tak bersisa. Tidak ada yang bisa diselamatkan maupun diperbaiki. Indah membenciku, bahkan saat aku berusaha menyelamatkannya.

            Aku sampai dirumah sakit tempat ibu Nathan dirawat. Aku juga sebenarnya tidak mengerti kenapa aku kesini. Aku menaiki lift menuju kamarnya. Ruangan itu kosong, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Tapi aku tau masih ada kehidupan  panjang disana. aku masuk kekamar itu dan langsung disambut oleh bau khas rumah sakit.

            Wanita itu tertidur pulas, seperti bayi yang begitu tenang. aku menggenggam tangannya dan ia membuka mata. Aku tersenyum melihatnya mencoba mengingatku. Setelah menekan otaknya sedikit lebih keras. Ia akhirnya bisa mengingatku. Aku mencoba berbicara pelan kepadanya. hingga akhirnya ia kami terlibat obrolan menarik. Aku banyak bercerita kepadanya tentang persahabatanku dengan Nathan. aku bilang bahwa Nathan adalah pria yang begitu baik, dan begitu pintar bermain musik. Aku menceritakan kepadanya saat aku dan Nathan bernyanyi bersama ditaman sekolah. aku bernyanyi sedangkan Nathan mengiringi dengan gitar yang dibelinya secara diam-diam dengan uang jajannya. Aku menceritakan betapa kesepiannya Nathan. bagaiamana Nathan menginginkan keluarga yang sempurna bukan hanya secara materi.

            Setelah aku menceritakan itu semua, aku melihat air matanya jatuh. Aku tersenyum sambil menyekanya dengan ibu jariku. Aku bisa merasakan bagaiamana ia menyesal menelantarkan Nathan. bagaimana ia menyesal karena berfikir uang adalah segalanya. Aku merasakan udara diluar semakin terik. Hingga akhirnya memutuskan untuk pergi darisana. Setelah berpamitan aku keluar dari ruangan itu dan berjalan kembali keluar rumah sakit. Tapi sesaat sebelum aku masuk kedalam lift. Aku mendengar rintihan kesakitan. Begitu jelas hingga akhirnya aku memutuskan untuk berbalik. Diruangan itu aku melihat dokter dan beberapa suster sedang menangani ibu Nathan. seorang perawat yang melihat kehadiranku menghampiri dan menyuruhku untuk menunggu diluar. Tapi suara erangan kesakitan itu makin terdengar nyaring dan membuat hatiku teriris.  Aku mendorong perawat itu dan melesak masuk. Membuat marah dokter yang sedang menangani pasien. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap mendekat dan mengganggam tangannya dengan tangan kiriku, perlahan rintihan ibu Nathan mereda. Lalu, dengan tangan kananku, aku mengusap pelan kening wanita itu. membuat wanita itu memejamkan mata.

            Setelah merasa kalau ibu Nathan tertidur. Aku tersenyum lalu kembali berniat pergi dari sana. Tapi aku lupa kalau disana masih ada dokter dan dua perawat yang kini menatapku dengan pandangan bingung.

            “bagaimana bisa?” dokter itu kini mendekatiku dan melihat kearah ranjang. Menatap pasien yang sebelumnya berteriak kesakitan kini tertidur lelap.

            “berhenti memberikannya obat-obatan dan kemoterapi.”
            Aku pergi menuju taman tak jauh dari komplek perumahanku dan mengindahkan berbagai telpon dan pesan yang membuat hanphoneku berbunyi.

            “lo bilang lo mau jadi anak normal. trus, kenapa lo menyembuhkan wanita itu.” aku mendengar suara itu dan mendapati farrel berada disebelahku entah sejak kapan.

            “entahlah, gue nggak bisa mendengar dia merintih kesakitan. Gue bisa merasakan sakitnya farrel.” Aku mencoba mencari pembenaran dengan menatap farrel dalam-dalam. Dan seketika itu juga farrel terkekeh. “jadi, lo sadar kalo lo nggak akan pernah bisa menjadi seperti mereka.” Aku mengangguk mengakui kekalahanku. Farrel benar. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Aku tersenyum dan kami menghabiskan sore bersama-sama. Aku juga bercerita masalahku dengan indah dan semua ke khawatiranku. Dan dengan enteng dia hanya menjawab “tenang saja, suatu saat dia bakal tau kalo lo benar.” Dia mengucapkan kata itu berulang kali dan sesekali membuatku tertawa.

            Hari-hari berikutnya aku dan indah benar-benar kehilangan kontak. Setiap hari aku dan dia bertingkah seperti orang yang tidak kenal sama sekali. Setelah pertengkaran itu, keesokan harinya ia menjauhiku dengan pindah tempat duduk dengan orang lain. dan yang paling mengejutkan adalah Nathan yang mengetahui kalau ibunya kini sudah sembuh total. Malam itu, setelah dari rumah sakit, ia datang kerumahku. Membari kabar kalau ibunya kini sudah sembuh, dan menurut dokter kemarin ada seorang gadis berseragam yang menenangkan ibunya dari kesakitan dan diperkuat oleh kesaksian ibunya. Akhirnya Nathan tahu kalau gadis itu adalah diriku. Aku bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya tapi kini ia terus saja mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.

            “gue nggak ngelakuin apa-apa Nathan. klo nyokap lo bisa sembuh itu bukan karena gue, tapi karena keajaiban dari tuhan.” Aku bisa melihat nada ketidakpercayaan dari tatapannya. Aku dan Nathan berada disebuah taman dikomplek perumahanku. Menghabiskan waktu dengan menatap kolam air mancur yang sering dipadati para muda-mudi saat malam minggu. Biarpun hari sudah gelap tapi aku bisa melihat jelas kilatan mata nathan yang menanti kebenaran dalam diriku.

            Setalah beradu argumen dan saling ngotot, akhirnya Nathan mengalah dan aku sangat bersyukur akan hal itu. persahabatanku dengan Nathan bisa diselamatkan. Aku tersenyum penuh kepadanya. menggumamkan terima kasih tanpa kata.

            “jadi gimana sama indah?” Nathan merubah topik pembicaraan, tapi menurutku ini sama sekali bukan topik yang menarik. Aku mengambil beberapa kerikil ditanah dan melemparkan satu persatu ke danau tenang didepanku. Menghasilkan bunyi gemricik dan ombak kecil saat air itu menelan butiran kerikil.

            “yang penting gue udah memperingatkan dia.” Semenjak pertengkaran itu, nathan turut menjadi korban. Aku bisa melihat kalau ia dan indah juga mulai menjauh. Aku bisa mendengar kegugupan dalam beberapa sapaannya kepada indah. Mereka seperti orang asing dari dunia yang berbeda. Tapi aku tahu bukan Nathan yang menjauh. Tapi indahlah yang semakin melengketkan diri dengan andre. Ikut bergaul dengan teman-teman andre yang sama bajingannya seperti andre.

            Dalam waktu kurang dari empat hari, ibunya Nathan sudah diperbolehkan pulang. setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter benar-benar percaya bahwa sel-sel kanker itu telah hilang. Walau para dokter terus saja menyangkal kebenarannya. Secara logika mereka benar-benar tidak percaya bahwa ini terjadi. “sel-sel kanker itu secara misterius hilang.” Begitu katanya sambil melirik kearahku. Dia tau semua kecurigaannya berhubungan denganku. Tapi aku menolak memberikan pendapat apapun. aku hanya bilang bahwa ini semua adalah bukti kebesaran tuhan.

            Untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah Nathan, ibunya kini tersenyum sambil mempersilakanku masuk. Kulitnya kembali terlihat segar, tubuhnya kembali ke ukuran normal, dan yang paling tidak bisa disembunyikan adalah senyumnya yang selalu mengembang selama perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumahnya. Ia berkali-kali mengucap syukur, dan sama seperti dokter. Ibu Nathan juga menaruh kecurigaan terhadapku. “mama inget pas valia pegang tangan mama, rasa sakit mama tiba-tiba menghilang dan mama merasa ngantuk.” Begitu katanya.

            Rumah itu besar. Dilapisi dengan cat putih dan ukiran-ukiran mewah ditiang-tiang penyanggahnya. Dihalaman disamping ada sebuah taman dengan dua buah ayunan yang terlihat usang dan berkarat. Dan ditaman itu, aku bisa melihat sesosok wanita sebagai penghuni. Tapi aku tidak perlu khawatir karena ia baik. Ia tidak suka menganggu siapapun. Tapi aku tau kalau ia sebal kalau tukang kebun dirumah Nathan membakar sampah dekat rumahnya.

            Aku memasuki rumah besar itu dan langsung merasakan kehampaan didalamnya. Aku bisa merasakan bahwa ruang tamu ini jarang dibuat berkumpul keluarga, ruang makannya tidak pernah mengumpulkan Nathan dan kedua orang tuanya. Dan percakapan layaknya sebuah keluarga tidak pernah tercipta dirumah ini. Tapi aku berharap semuanya membaik mulai hari ini.

            Nathan mempersilahkanku duduk sedang dirinya masuk kekamar untuk mengganti pakaian dan ibunya memanggil seorang pembantu rumah tangga dan menyuruhnya mengambilkan minum. didalam ruang tamu itu aku melihat beberapa foto Nathan terpajang, juga lukisan-lukisan abstrak yang indah. Dimeja kecil disudut ruangan ada telpon dan sebuah bingkai foto Nathan bersama kedua orang tuanya. Nathan sedang duduk disebuah ayunan dan kedua orang tuanya berdiri dibelakang, tersenyum secara bersamaan.

            Aku tersenyum melihat Nathan menyimpan boneka bear berwarna coklat dikamarnya. Juga puzzle usang yang tersembunyi dibawah laci meja belajarnya. Ada mobil-mobilan kayu yang ia rakit bersama ayahnya saat umurnya enam tahun. Semuanya tampak rapi untuk ukuran kamar laki-laki, tapi aku bisa merasakan hawa dingin yang mengudara dikamar itu. kamar itu jarang terjamah kedua orangtua Nathan. tapi aku bisa melihat bayangan ibu Nathan tiga bulan lalu, tengah malam sepulang kerja, ia mengendap-endap memasuki kamar itu. melihat Nathan yang tidur meringkuk dibawah selimut tebalnya membuat kerinduan membuncah dihatinya. ia tidak tahu betapa Nathan merindukannya, betapa Nathan merindukan sentuhannya, sapaannya, kasih sayangnya. Setelah puas memandangi anak semata wayangnya, ia menarik selimut hingga ke leher Nathan dan mencium keningnya.

            Beberapa menit kemudian, Nathan kembali dan menyuruh ibunya untuk beristirahat. Walaupun ibunya bersikeras karena merasa sudah sembuh total, tapi Nathan tetep menuntut ibunya untuk tidak terlalu banyak beraktivitas karena masih tidak menyangka ibunya akan sembuh dengan cara tidak masuk akal seperti itu.

            “kayaknya lo bakal sering-sering maen kesini deh.” Katanya sambil tersenyum dan duduk disampingku. Membuat sebagian sisi sofa berkeriut saat ia duduki.

            “tau darimana?” kataku sambil menatapnya yang kini terlihat menganakan kaos berwarna hijau muda dengan celana kanvas selutut.

            “nyokap gue kayanya bakal lengket sama lo.” Katanya. Kami berbincang-bincang cukup lama hingga akhirnya ayahnya Nathan tiba dirumah. ini kedua kalinya aku bertemu dengannya. ayahnya Nathan adalah pria berusia 46 tahun dengan kulit putih kemerahan, wajahnya panjang dan matanya sipit. Tulang pipi dan rahangnya terlihat kuat serasi dengan badanya yang masih terlihat tegap. Dan yang diwariskan pada Nathan adalah senyumnya. Ia memiliki senyum yang mempesona, sama seperti Nathan.


            Setelah bersalaman dengannya, ia pergi untuk menengok istrinya. Nathan bilang, ini adalah kali pertama ayahnya pulang lebih cepat. Biasanya ia pulang diatas jam sepuluh malam dan berangkat pagi-pagi sekali.

No comments:

Post a Comment