Mataku menyalang
tajam menatap suamiku yang terduduk disamping ranjang rumah sakit. Wajahnya
letih dengan garis-garis kelelahan yang sama sekali tidak tersamarkan bahkan
saat ia mengulas senyumnya.
“Maafkan
aku.” Aku berbisik Pelan pada Marcell. Pria sempurna yang sudah 4 tahun
menemani hidupku. “Tidak apa-apa. Yang penting kau baik-baik saja.” ia meringis
mengelus perutku yang beberapa jam lalu besar dan Sekarang sudah kembali ke
ukuran semula. Aku tahu ia berbohong. Dia Tidak baik-baik saja, ia kecewa, aku
bisa melihat dari sirat matanya. Aku merasakan hati kecilku teriris, tapi
buru-buru aku enyahkan, bukankah aku seharusnya senang? Bahagia? Semuanya akan
kembali seperti semula. Hanya aku dan suamiku, Marcell. Tanpa anak, tanpa
pengganggu dan tanpa orang lain.
Orang
mungkin akan mengganggapku gila karena aku sama sekali tidak ingin memiliki
anak. Aku terlalu mencintai Marcell. Aku tidak ingin ada orang lain dalam
keluarga kecilku, aku tidak ingin marcell membagi cintanya, hatinya,
perhatiannya dan semuanya pada yang lain. Aku membutuhkan semua itu seutuhnya
seakan itu ada sumber kehidupanku.
Empat
tahun lalu, Marcell Melamarku setelah 2 tahun kami berpacaran. Dan rasanya
melebihi kata “BAHAGIA”. aku tidak perlu
lagi berjauhan dengannya, kami akan tinggal satu atap, satu rumah dan kami akan
selalu bersama. Aku tidak perlu takut lagi kala ia pulang malam dari kantornya
karena sekarang aku yang akan
menyambutnya dengan senyum. Tiap mentari menyemburatkan cahayanya, ialah orang
pertama yang akan aku lihat, wajah tampannya yang acak-acakan dan aku sangat
menyukainya. Aku membuatkan sarapan kesukaannya. Roti isi telur dadar dan kopi
hitam lalu membuatkan bekal untuk makan siangnya, aku tidak mau ia makan diluar
dan terlibat sosialisasi yang terlalu berlebihan. Siangnya, aku akan mencuci
bajunya. Mencium aroma maskulin yang menempel di kemejanya. Wangi yang sangat
aku sukai. Setelahnya, aku akan menunggu jam menunjukkan pukul 12 siang, karena
aku akan selalu menelponnya. Mengingatkannya agar tidak telat makan dan
menemani makan siangnya melalui telepon. Lalu, aku akan memasak, membuat
makanan kesukaannya. Begitu seterusnya. Rutinitas yang menurut orang mungkin
membosankan. Tapi aku tidak, aku selalu menikmati detik-detik melayaninya,
menit-menit memanjakannya, berjam-jam bersamannya, dan selamanya akan seperti
itu.
Awal
pernikahan kami, aku mengutarakan keinginanku untuk menunda memiliki anak, Dan melihat
umurku yang masih terbilang muda, Marcell mengiyakannya dan akhirnya setuju aku
meminum Pil KB untuk menunda kehamilan. Tapi itu hanya berjalan tiga tahun.
Rupanya Marcell mulai mengingnkan tawa dan tangis bayi diantara kita. Aku
melihat begitu besar keinginannya untuk memiliki anak. Dan dengan terpaksa aku
bilang tidak akan mengkonsumsi Pil KB lagi. Berbulan-bulan sejak itu sebenarnya
aku masih meminum rutin Pil itu tanpa sepengetahannya. Apapun asal aku tidak
hamil. Diapun tidak menaruh curiga sedikitpun.
Pertengahan
bulan maret aku menaruh curiga karena aku tak kunjung datang bulan. Aku sempat
khawatir karena takut kalau aku hamil. Jawaban langsung kudapatkan saat aku
melakukan test menggunakan test pack dan
semua ketakutanku menyeruak. Positif
, Bagaimana mungkin? Pintu kamar
tiba-tiba terbuka dan aku melihat Marcell tersenyum. “aku pulang lebih cepat. Kau
sudah lebih baik? Atau kita butuh ke dokter?” Tiga hari kemarin memang aku
sempat mengalami sakit. Perutku mual aku selalu memuntahkan semua makanan yang
aku makan. Dan sekarang aku tersadar, aku bukan sakit tapi aku hamil. aku yang
kaget justru menjatuhkan alat periksa kehamilan itu, dan berharap Marcell tidak
menyadarinya.“tidak, aku sudah lebih baik.” Aku tersenyum kaku saat melihat
Marcell mendekat dan dalam hitungan detik justru kaki-nyalah yang menginjak
benda panjang itu. Ia yang menyadari lantas mengambil benda itu dan tersenyum
lebar seakan tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. “kamu hamil?” aku
diam, tidak tau harus memperlihat wajah seperti apa. Aku mematung lalu
merasakan tubuhku dipeluk erat olehnya. “oohh terima kasih tuhan.” Ia melepas
pelukannya dan aku melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya.
“kita harus memastikan secepatnya ke dokter.”
Aku
tidak tau bagaimana aku bisa hamil, mungkin aku pernah lupa mengkonsumsi Pil KB
itu atau entahlah. Yang jelas, sekarang aku hamil. Aku akan mempunyai seorang
anak. Akan ada yang mengambil sebagian perhatian Marcell, Cinta Marcell, dan
Kasih sayang Marcell. Tidak..Tidak Boleh. Ini tidak boleh terjadi. Kasih sayang
Marcell Hanya untukku. Tidak ada yang lain.
Selama
kehamilanku, aku merasa Marcell Tidak berubah. Ia masih menjadi sosok yang
hangat. Perhatiannya bahkan menjadi dua kali lipat. Ia jarang pulang malam, Ia
rajin memijat kakiku yang terasa pegal, Membuatkanku teh hijau saat aku merasa
perutku bermasalah, mengingatkanku agar tidak lupa meminum susu hamil, dan
setiap malam ia selalu mengusap-usap perutku hingga aku terlelap tidur. Tapi
aku sadar, semua itu bukan untukku. Itu semua untuk bayi ini, bayi yang tengah
ku kandung, darah dagingnya yang sama sekali tidak aku harapkan.
Selama
hamil aku sama sekali tidak mengurangi kegiatanku. Aku melakukan semua
pekerjaan dirumah seperti biasa sekeras apapun Marcell melarangku. Tapi aku
tidak peduli, tanpa sepengetahuannyapun aku kerap meminum-minuman bersoda dan
berakohol. Berharap itu akan mempengaruhi janin yang sedang ku kandung dan yang
pasti, aku sering mengkosumsi Nanas muda. Buah yang kata orang ampuh untuk
masalah menggugurkan kandungan.
Kehamilanku
menginjak 5 bulan dan aku semakin cemas. Kandunganku baik-baik saja dan
terkesan semakin kuat. Ia seakan memang ditakdirkan untuk terlahir diantara aku
dan Marcell. Aahh tolonglah aku tuhan. Aku
tidak sanggup menerima anak ini. Aku tidak menginginkannya, aku sama sekali
tidak mengharapkannya. Tiap malam aku selalu diburu ketakutan. Dan kata-kata ABORSI Pernah terlintas dipikiranku. Tapi sekali
lagi, apa aku tega. Bukan..bukan pada calon bayiku. Tapi pada Marcell. Apa aku
tega Melenyapkan kebahagiaan Marcell. Apa jika aku kehilangan bayiku senyuman
itu akan tetap ada? Lagipula aborsi terlalu beresiko.
Usia
kandunganku menginjak 7 bulan dan sepertinya aku tidak punya pilihan selain
membiarkan anak ini lahir kedunia. Mengambil alih duniaku dan Marcell. Apa aku
siap kehilangan Marcell? Apa aku siap membagi cinta dan kasih sayang Marcell
untuk anak ini?
Sore
itu. Aku tengah bersantai menunggu kepulangan Marcell. Aku duduk di sofa
kamarku. Kehamilan ini benar-benar membuatku lemah. Membuat gerak-gerikku
terbatas. Suara bel pintu membuyarkan perhatianku dari televisi didepanku. Bel
itu terus berbunyi karena aku masih harus melewati ruang tamu untuk sampai
dipintu utama.
Karena
orang diluar terus menerus membunyikan bel yang memekakan telinga. Aku berusaha
mempercepat langkah kakiku. Tapi karena ketidak hati-hatianku. Aku terpeleset
dan jatuh tersungkur. Aku sempat berteriak sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Dan
beberapa Jam yang lalu. Aku tersadar diruangan serba putih dengan bau menyengat
yang sangat khas. Marcell yang mengetahui aku sudah siuman langsung menghampiri
“aku dimana?” tanyaku dengan suara lirih. “kau dirumah sakit sayang. Kau
terpeleset di ruang tamu dan kita kehilangan calon bayi kita.” Wajahnya pucat,
sendu, dan terlihat acak-acakan, frustasi dan lelah. Tak kudapati lagi Marcell
yang selalu terlihat sempurna dengan senyum manisnya. Tapi… aku keguguran… itu
artinya aku tidak melahirkan anak Marcell, Tidak akan ada yang hadir diantara
aku dan Marcell, aku tidak harus berbagi cinta dan Kasih sayang Marcell. Hanya
aku dan Marcell.
Mungkin
kalian akan berfikir aku gila, Psykopat, punya
kelainan jiwa atau apapun. tapi aku mencintainya. Begitu besar. Aku terobsesi
padanya. aku tidak menginginkan orang lain selain Marcell, hanya Marcell. Dan
sekarang kau tau bagaimana rasanya? Rasanya seperti kau terbang bersama kekasihmu,
lega luar biasa tanpa takut akan angin kencang ataupun hujan. Sekali lagi Hanya aku dan Marcell

No comments:
Post a Comment