buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Saturday, 8 November 2014

Hanya Aku dan Marcell


    Mataku menyalang tajam menatap suamiku yang terduduk disamping ranjang rumah sakit. Wajahnya letih dengan garis-garis kelelahan yang sama sekali tidak tersamarkan bahkan saat ia mengulas senyumnya.

     “Maafkan aku.” Aku berbisik Pelan pada Marcell. Pria sempurna yang sudah 4 tahun menemani hidupku. “Tidak apa-apa. Yang penting kau baik-baik saja.” ia meringis mengelus perutku yang beberapa jam lalu besar dan Sekarang sudah kembali ke ukuran semula. Aku tahu ia berbohong. Dia Tidak baik-baik saja, ia kecewa, aku bisa melihat dari sirat matanya. Aku merasakan hati kecilku teriris, tapi buru-buru aku enyahkan, bukankah aku seharusnya senang? Bahagia? Semuanya akan kembali seperti semula. Hanya aku dan suamiku, Marcell. Tanpa anak, tanpa pengganggu dan tanpa orang lain.

    Orang mungkin akan mengganggapku gila karena aku sama sekali tidak ingin memiliki anak. Aku terlalu mencintai Marcell. Aku tidak ingin ada orang lain dalam keluarga kecilku, aku tidak ingin marcell membagi cintanya, hatinya, perhatiannya dan semuanya pada yang lain. Aku membutuhkan semua itu seutuhnya seakan itu ada sumber kehidupanku.

   Empat tahun lalu, Marcell Melamarku setelah 2 tahun kami berpacaran. Dan rasanya melebihi kata “BAHAGIA”.  aku tidak perlu lagi berjauhan dengannya, kami akan tinggal satu atap, satu rumah dan kami akan selalu bersama. Aku tidak perlu takut lagi kala ia pulang malam dari kantornya karena sekarang aku yang  akan menyambutnya dengan senyum. Tiap mentari menyemburatkan cahayanya, ialah orang pertama yang akan aku lihat, wajah tampannya yang acak-acakan dan aku sangat menyukainya. Aku membuatkan sarapan kesukaannya. Roti isi telur dadar dan kopi hitam lalu membuatkan bekal untuk makan siangnya, aku tidak mau ia makan diluar dan terlibat sosialisasi yang terlalu berlebihan. Siangnya, aku akan mencuci bajunya. Mencium aroma maskulin yang menempel di kemejanya. Wangi yang sangat aku sukai. Setelahnya, aku akan menunggu jam menunjukkan pukul 12 siang, karena aku akan selalu menelponnya. Mengingatkannya agar tidak telat makan dan menemani makan siangnya melalui telepon. Lalu, aku akan memasak, membuat makanan kesukaannya. Begitu seterusnya. Rutinitas yang menurut orang mungkin membosankan. Tapi aku tidak, aku selalu menikmati detik-detik melayaninya, menit-menit memanjakannya, berjam-jam bersamannya, dan selamanya akan seperti itu.

    Awal pernikahan kami, aku mengutarakan keinginanku untuk menunda memiliki anak, Dan melihat umurku yang masih terbilang muda, Marcell mengiyakannya dan akhirnya setuju aku meminum Pil KB untuk menunda kehamilan. Tapi itu hanya berjalan tiga tahun. Rupanya Marcell mulai mengingnkan tawa dan tangis bayi diantara kita. Aku melihat begitu besar keinginannya untuk memiliki anak. Dan dengan terpaksa aku bilang tidak akan mengkonsumsi Pil KB lagi. Berbulan-bulan sejak itu sebenarnya aku masih meminum rutin Pil itu tanpa sepengetahannya. Apapun asal aku tidak hamil. Diapun tidak menaruh curiga sedikitpun.

   Pertengahan bulan maret aku menaruh curiga karena aku tak kunjung datang bulan. Aku sempat khawatir karena takut kalau aku hamil. Jawaban langsung kudapatkan saat aku melakukan test menggunakan test pack dan semua ketakutanku menyeruak. Positif , Bagaimana mungkin? Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan aku melihat Marcell tersenyum. “aku pulang lebih cepat. Kau sudah lebih baik? Atau kita butuh ke dokter?” Tiga hari kemarin memang aku sempat mengalami sakit. Perutku mual aku selalu memuntahkan semua makanan yang aku makan. Dan sekarang aku tersadar, aku bukan sakit tapi aku hamil. aku yang kaget justru menjatuhkan alat periksa kehamilan itu, dan berharap Marcell tidak menyadarinya.“tidak, aku sudah lebih baik.” Aku tersenyum kaku saat melihat Marcell mendekat dan dalam hitungan detik justru kaki-nyalah yang menginjak benda panjang itu. Ia yang menyadari lantas mengambil benda itu dan tersenyum lebar seakan tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. “kamu hamil?” aku diam, tidak tau harus memperlihat wajah seperti apa. Aku mematung lalu merasakan tubuhku dipeluk erat olehnya. “oohh terima kasih tuhan.” Ia melepas pelukannya dan aku melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya. “kita harus memastikan secepatnya ke dokter.”

     Aku tidak tau bagaimana aku bisa hamil, mungkin aku pernah lupa mengkonsumsi Pil KB itu atau entahlah. Yang jelas, sekarang aku hamil. Aku akan mempunyai seorang anak. Akan ada yang mengambil sebagian perhatian Marcell, Cinta Marcell, dan Kasih sayang Marcell. Tidak..Tidak Boleh. Ini tidak boleh terjadi. Kasih sayang Marcell Hanya untukku. Tidak ada yang lain.

     Selama kehamilanku, aku merasa Marcell Tidak berubah. Ia masih menjadi sosok yang hangat. Perhatiannya bahkan menjadi dua kali lipat. Ia jarang pulang malam, Ia rajin memijat kakiku yang terasa pegal, Membuatkanku teh hijau saat aku merasa perutku bermasalah, mengingatkanku agar tidak lupa meminum susu hamil, dan setiap malam ia selalu mengusap-usap perutku hingga aku terlelap tidur. Tapi aku sadar, semua itu bukan untukku. Itu semua untuk bayi ini, bayi yang tengah ku kandung, darah dagingnya yang sama sekali tidak aku harapkan.

     Selama hamil aku sama sekali tidak mengurangi kegiatanku. Aku melakukan semua pekerjaan dirumah seperti biasa sekeras apapun Marcell melarangku. Tapi aku tidak peduli, tanpa sepengetahuannyapun aku kerap meminum-minuman bersoda dan berakohol. Berharap itu akan mempengaruhi janin yang sedang ku kandung dan yang pasti, aku sering mengkosumsi Nanas muda. Buah yang kata orang ampuh untuk masalah menggugurkan kandungan.

    Kehamilanku menginjak 5 bulan dan aku semakin cemas. Kandunganku baik-baik saja dan terkesan semakin kuat. Ia seakan memang ditakdirkan untuk terlahir diantara aku dan Marcell. Aahh tolonglah aku tuhan. Aku tidak sanggup menerima anak ini. Aku tidak menginginkannya, aku sama sekali tidak mengharapkannya. Tiap malam aku selalu diburu ketakutan. Dan kata-kata ABORSI  Pernah terlintas dipikiranku. Tapi sekali lagi, apa aku tega. Bukan..bukan pada calon bayiku. Tapi pada Marcell. Apa aku tega Melenyapkan kebahagiaan Marcell. Apa jika aku kehilangan bayiku senyuman itu akan tetap ada? Lagipula aborsi terlalu beresiko.

    Usia kandunganku menginjak 7 bulan dan sepertinya aku tidak punya pilihan selain membiarkan anak ini lahir kedunia. Mengambil alih duniaku dan Marcell. Apa aku siap kehilangan Marcell? Apa aku siap membagi cinta dan kasih sayang Marcell untuk anak ini?

     Sore itu. Aku tengah bersantai menunggu kepulangan Marcell. Aku duduk di sofa kamarku. Kehamilan ini benar-benar membuatku lemah. Membuat gerak-gerikku terbatas. Suara bel pintu membuyarkan perhatianku dari televisi didepanku. Bel itu terus berbunyi karena aku masih harus melewati ruang tamu untuk sampai dipintu utama.

    Karena orang diluar terus menerus membunyikan bel yang memekakan telinga. Aku berusaha mempercepat langkah kakiku. Tapi karena ketidak hati-hatianku. Aku terpeleset dan jatuh tersungkur. Aku sempat berteriak sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

      Dan beberapa Jam yang lalu. Aku tersadar diruangan serba putih dengan bau menyengat yang sangat khas. Marcell yang mengetahui aku sudah siuman langsung menghampiri “aku dimana?” tanyaku dengan suara lirih. “kau dirumah sakit sayang. Kau terpeleset di ruang tamu dan kita kehilangan calon bayi kita.” Wajahnya pucat, sendu, dan terlihat acak-acakan, frustasi dan lelah. Tak kudapati lagi Marcell yang selalu terlihat sempurna dengan senyum manisnya. Tapi… aku keguguran… itu artinya aku tidak melahirkan anak Marcell, Tidak akan ada yang hadir diantara aku dan Marcell, aku tidak harus berbagi cinta dan Kasih sayang Marcell. Hanya aku dan Marcell.



     Mungkin kalian akan berfikir aku gila, Psykopat, punya kelainan jiwa atau apapun. tapi aku mencintainya. Begitu besar. Aku terobsesi padanya. aku tidak menginginkan orang lain selain Marcell, hanya Marcell. Dan sekarang kau tau bagaimana rasanya? Rasanya seperti kau terbang bersama kekasihmu, lega luar biasa tanpa takut akan angin kencang ataupun hujan.  Sekali lagi Hanya aku dan Marcell

No comments:

Post a Comment