buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 5 November 2014

Gadis Nila

BAB LIMA

Aku lahir di salah satu desa di yogyakarta. Kata ibuku, saat itu hujan sangat deras dan tepat pukul 00.05 menit aku lahir. Awal keanehan yang terjadi adalah ibuku sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun saat melahirkanku. Aku lahir tanpa ayah. Aku tidak tau apakah ayahku meninggal atau mereka bercerai sebelum aku lahir. yang jelas, ibuku selalu mengunci mulutnya rapat-rapat saat aku menanyakan keberadaan ayah kandungku.

Katanya aku tumbuh seperti bayi biasa, tapi saat aku berumur satu tahun aku sudah mulai lancar bicara, bahkan aku mengusai bahasa inggris dengan sangat fasih. Pada umur dua tahun aku sudah bisa menulis dengan baik juga berhitung diluar kemampuan anak seusiaku. “ya tuhan.. bagaimana bisa.” Itulah kata yang diucapkan ibuku saat melihat keanehanku. Ibuku yang saat itu bekerja sebagai guru private benar-benar merasa tidak menyangka aku bisa melakukan hal-hal itu. pada umur tiga tahun aku sudah bisa mengoperasikan perangkat komputer dengan segala macam kesulitannya.  

Pada umur empat tahun pengetahuan-pengetahuanku benar-benar  luar biasa, aku mengerti tentang sejarah, astronomi, biologi dan yang lainnya. Dan pada umur itulah aku bertemu farrel. Saat itu aku sedang menggambar diruang tamu rumahku.  Ibuku sedang mengajar disalah satu ruangan dirumahku.

Seseorang yang berada diluar pagar rumahku menarik perhatianku. Aku keluar dan menemuinya. Dia mengaku bernama farrel dan akhirnya aku mengajaknya bermain diruang tamu. Kami menggambar bersama dan bernyanyi bersama. Dan saat itu aku merasa kalau farrel adalah sahabat yang baik biarpun dia jauh lebih dewasa dariku. Sejujurnya aku tidak begitu menyukai anak-anak seusiaku. Aku lebih suka bermain dengan farrel karena usianya jauh lebih tua dariku. Tapi yang membuatku heran adalah ibuku dan yang lain tidak bisa melihat farrel. “itu Cuma imajinasi kamu aja sayang.” Begitu katanya.

Saat umurku lima tahun aku mengenal ayah tiriku. Dia adalah pegawai swasta yang tak lain adalah teman lama ibuku. Pada awalnya aku tidak begitu menyukainya. Entahlah, aku merasa dia sama sekali tidak menyukaiku.

Saat aku masuk taman kanak-anak. Aku menjadi yang paling pintar diantara yang lain. Aku membuat kagum guru-guru disana. “anak ibu lebih pintar dari anak seusianya.” Katanya pada ibuku saat pertemuan orangtua murid.

Aku ingat saat sedang bermain sore hari, aku melihat sesosok tubuh yang besar dan berbulu berdiri dibawah pohon beringin, wajahnya hitam dengan kepala yang bertanduk. Aku menjerit ketakutan dipelukan ibuku. Mengajaknya untuk segera pergi darisana. Aku ingat bahwa itu bukanlah kali pertama aku melihat makhluk menakutkan seperti itu. waktu kecil aku suka menangis semalaman karena melihat makhluk-makhluk yang menyeramkan disekitar rumahku.

Saat aku berada di sekolah dasar, aku masih bersahabat dengan farrel. Dia sering menemaniku kesekolah. Tapi teman-temanku yang lain bilang bahwa aku gila. Mereka bilang aku berbicara sendiri, aku memberitahu mereka bahwa ada farrel disampingku, tapi mereka semua tidak melihat dan terus saja menjauhiku karena menganggap aku gila.

Dan saat aku menceritakan itu semua. lagi-lagi ibuku bilang bahwa itu hanyalah imajinasiku. Tak lama setelah pernikahan ibuku, ibuku mengandung anak dari ayah tiriku. Dan suatu saat aku bilang padanya bahwa farrel ada disampingnya, dia malah bilang bahwa aku benar-benar gila.

Disekolah aku dijauhi, aku dikucilkan karena yang lain menganggapku aneh. Aku sempat bersikeras tidak mau sekolah, selain karena sikap teman-temanku, aku merasa bahwa aku sudah cukup pintar tanpa harus sekolah. nilai-nilaiku selalu sempurna dan itu membuat guru-guruku heran. Tapi ibuku bilang bahwa sekolah itu penting.

Ada seorang anak yang bilang bahwa aku menakutinya karena bilang bahwa disebelahnya ada sesosok wanita berambut panjang dengan wajah hancur dan darah dimana-mana. Aku berusaha menjelaskan bahwa makhluk itu benar-benar ada. Tapi mereka semua sama sekali tidak percaya.

***

Saat aku kelas empat SD, aku mengalami kecelakaan. Aku ditabrak lari oleh sebuah mobil saat aku pulang sekolah. sebelum tidak sadarkan diri, aku sempat melihat puluhan sosok berjubah putih mengelilingiku.

Aku terbangun dan melihat tubuhku sendiri terbaring lemah diranjang sebuah rumah sakit. Dan saat itulah ibuku dan ayahku berlari kearahku, tapi bukan untuk memelukku, tapi mengguncang-guncangkan tubuhku lalu menangis melihat alat pendeteksi detak jantung yang menunjukkan garis lurus. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa tubuhku. aku berusaha berteriak pada ibuku tapi ia sama sekali tidak mendengar. Apa aku sudah meninggal?? Itulah yang ada dipiranku saat itu. aku akhirnya keluar dari kamar itu dan melihat orang-orang berjubah putih dan hitam berkeliaran. Aku mencoba melihat wajah mereka tapi tidak berhasil karena mereka semua menunduk. Dan tempat itu, sama sekali bukan rumah sakit. Sebuah taman dengan berbagai bunga indah. yang paling mengejutkan adalah, aku bertemu desi. Salah satu temanku yang beberapa hari lalu meninggal karena sakit keras. Aku memanggilnya tapi ia sama sekali tidak mengenaliku. Aku mulai menangis, aku berteriak memanggil-manggil ibuku. Aku mau pulang, aku tidak suka berada disini. Aku terus menangis entah berapa lama, hingga akhirnya salah satu sosok berjubah putih itu mendekat. Tapi aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya karena wajahnya bersinar dan menyilaukan. Ia lalu menunjuk ke ujung, yang baru kusadari adalah sebuah lorong menuju kegelapan. Aku bilang padanya kalau aku takut, tapi ia menyakinkan kalau tidak ada yang perlu ditakutkan. Akhirnya aku mendekati lorong gelap itu hingga kira-kira jarakku satu meter, aku tertarik kedalam lorong itu. tubuhku terasa diputar 360 derajat hingga akhirnya aku meraskan ruhku kembali dihempaskan kedalam tubuhku.

Aku menggerak-gerakkan mataku dan mendengar suara orang mengaji disekelilingku. Saat aku benar-benar membuka mata dan menyingkirkan kain yang menyelimuti seluruh tubuhku. semua orang kaget bukan kepalang, sebagian dari mereka berteriak ketakutan dan berlari, tapi beberapa orang lainnya menatapku heran termasuk ibu dan ayah tiriku.

Setelah meyakinkan ibuku bahwa ini benar-benar aku dan aku masih bernafas, ia memelukku dengan erat sambil menangis. Setelah keadaan kembali tenang, ibuku bilang bahwa aku mengalami mati suri. Aku sudah didiagnosa dokter meninggal saat dirumah sakit.

Aku pikir kehidupanku akan normal saat mengalami mati suri itu. tapi ternyata tidak. Baik indra penglihatan dan indra pendengaran juga kinerja otakku meningkat seratus kali lipat. Jika biasanya aku bisa melihat makhluk-makluk halus disekitarku, kini aku bisa melihat makhluk halus ditempat lain. Aku tau kalau dirumah teman-temanku ada penghuni yang dapat kulihat walau aku belum pernah datang kerumah mereka. Aku bisa mendengar perbincangan orang yang jauh tidak terlihat olehku. Dan yang paling membuatku lebih frustasi adalah, aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang juga kematiannya.

***

Pada suatu hari aku berteriak keras pada tetanggaku untuk berhati-hati karena mereka akan jatuh. Tidak lama kemudian aku mendengar kabar kalau mereka mengalami patah tulang karena jatuh dari sepeda motonya.

Lalu sewaktu aku dibawa kepasar oleh ibuku untuk membeli susu untuk adik tiriku. Aku berteriak kepada seseorang untuk berhenti merokok karena aku tau paru-parunya sudah rusak karena kebiasaannya merokok.  Aku bilang pada seorang pedagang daging untuk berhenti membohongi pembeli dengan tidak menjual daging yang tidak sehat. Juga kepada penjual buah untuk tidak berlaku curang dengan mengurangi timbangan. Dan yang mengejutkanku adalah aku bisa menyembuhkan suatu penyakit, ini terjadi saat adik tiriku menangis semalaman tanpa henti.. badannya panas tinggi . dan entah atas dorongan apa, aku mendekatkan diri dan menaruh sebelah tanganku ke keningnya, dan adikku perlahan tertidur dan panas badannya menurun. Aku menjadi sorotan orang-orang karena kejadian itu. aku suka memberitahukan berita-berita buruk yang akan terjadi pada mereka begitu juga kematian yang akan terjadi. Dan itu malah membuat mereka takut kepadaku, mereka mengira bahwa aku adalah anak pembawa sial. Mereka melarang anak-anak mereka bermain denganku. Aku makin dikucilkan dilingkunganku.

Aku hanya bermain dengan farrel. Dan akhirnya aku mengerti bahwa farrel adalah makhluk astral dimana hanya aku yang mempunyai kemampuan lebih yang bisa melihatnya. Sedangkan yang lain tidak.

Saat beranjak SMP aku sama sekali tidak berubah, aku terus memberitahu mereka kejadian-kejadian yang akan terjadi, itu semakin membuat mereka menjauhiku. Aku semakin malas pergi kesekolah. Aku lebih suka bolos dan bermain bersama farrel. Hingga akhirnya orangtuaku mendapat panggilan dari sekolah. mereka bilang bahwa aku suka membolos dan berlaku aneh disekolah, mereka bilang aku sering berbicara sendiri dan menakut-nakuti temanku, dan itu menyulut kemarahan ayah tiriku. Sepulang dari sekolah ayahku memukuliku, sedangkan ibuku tak kuasa menahan perlakuan ayahku. Ibuku hanya menangis bersama bayinya. Aku terus meronta memanggil nama ibuku dan farrel.

Hubungan aku dan ayahku semakin merenggang, ayahku lebih suka mengajak bermain adik tiriku yang saat itu menginjak usia dua tahun. Nama keluargakupun makin menjadi buah bibir dimasyarakat. Hingga puncaknya amarah ayahku adalah saat ia bertengkar dengan ibuku. Ayahku mengira bahwa aku gila, aku mempunyai kelainan jiwa. Dan ia bermaksud memasukkanku kerumah sakit jiwa. Tapi tentu saja ibuku tidak sama sekali tidak setuju. Ibuku menganggapku normal seperti lain walau aku tau hatinya menyangkal. Aku sempat dikurung dikamar beberapa hari. Dan setiap itu aku selalu meronta dan berteriak-teriak, memaki ayahku sambil melempar semua benda-benda dikamarku. Ayahku hanya membuka pintu saat mengantarkan makanan dan minuman. Dia benar-benar tidak membiarkanku keluar dari kamar. Hanya farrel yang menemaniku. Hanya dia yang mau mendengar cerita dan keluh kesahku.

Hingga pada suatu saat pintu kamar itu terbuka, tapi bukan ayahku yang masuk. Tetapi dua orang laki-laki berseragam yang langsung membawaku keluar, menyuruhku masuk kesebuah mobil rumah sakit jiwa. Aku tak henti-hentinya berteriak dan memberitahu mereka bahwa aku tidak gila.  Dari kaca mobil itu, aku bisa melihat mobil orangtuaku mengikuti dari belakang.

Aku ingin menangis rasanya. Kenapa ini terjadi padaku. Kenapa harus seperti ini. tidak butuh waktu lama karena aku langsung sampai di rumah sakit jiwa. Mereka memegang kedua tanganku dengan sangat erat, menyakinkan bahwa aku tidak akan bisa lari kemana-mana. Aku menangis melihat ibuku dari kejauhan. Aku merindukan ibuku, dan aku sangat membenci ayah tiriku. Aku dipaksa masuk disebuah kamar dan mereka menguncinya dari luar.

Aku menangis dipojok kamar, sekeras apapun farrel menenangkanku. Tak lama seseorang kembali masuk kekamarku dan mengajakku keluar. kali ini ia tidak langsung menarik tanganku melainkan meminta dengan baik-baik. Setelah menatapnya sebentar aku mengikutinya kesebuah ruang dimana kedua orang tuaku berkumpul. Mereka mengenalkanku dengan seorang wanita muda yang mengaku sebagai psikolog anak. “valia nggak gila bu, valia nggak mau tinggal disini.” Aku berusaha menjelaskan kepada kedua orang tuaku. Tapi wanita muda itu malah menyuruh mereka keluar dan meninggalkanku dengan wanita muda itu.

Wanita itu mengaku bernama yasmin. Lalu dia menanyakan banyak hal kepadaku dan aku menjawab semua yang aku ketahui. Perlahan aku menyukainya karena ia tidak menganggap aku sok pintar seperti yang lain. Diapun percaya saat aku bilang ada penghuni diruangan ini. dia percaya semua yang aku bilang.

“saya menduga anak anda adalah seorang indigo, tapi saya meminta izin untuk melakukan beberapa tes lagi terhadap anak anda. Saya bisa menjamin bahwa anak anda tidak gila dan disini bukanlah tempat yang tepat untuknya. “ begitu katanya pada orangtuaku

Setelah itu aku dibawa kesebuah tempat dimana dia bilang aku akan dibaca auranya. Sejujurnya aku tidak begitu peduli. Apapun asal aku bisa kembali kepada ibuku. Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh bu yasmin dan temannya.

“dugaan saya benar, valia adalah anak indigo. Itu kenapa ia mempunyai kemampuan unik daripada anak lain. Dan dia sama sekali tidak gila.” Aku melihat mata kedua orangtuaku membulat.

“maksudnya?”
“anak indigo adalah anak yang mempunyai warna aura nila atau ungu, sama seperti warna aura valia. Dikatakan anak indigo karena mempunyai indera keenam, IQnya diatas rata-rata, dan bijaksana. Dengan kata lain, anak indigo adalah anak yang mempunyai kekuatan supranatural atau diatas rata-rata, mampu melihat fenomena ganjil, dan dapat meramal peristiwa yang akan terjadi.” Dan saat itulah aku tau menyadari bahwa aku adalah anak indigo. Aku mempunyai kelebihan daripada yang lain tapi aku tidak gila.

“adakah cara menyembuhkannyanya?” bu yasmin lekas menggeleng.
“itu bukan sebuah penyakit dan tidak bisa disembuhkan. Tapi valia harus mendapat lingkungan dan penanganan yang baik.”

Ayah tiriku melirik kearahku dengan mata coklatnya yang bening. Mungkin sama sekali tidak menyangka dengan semua ini.

“apa yang harus kami lakukakan?”
“perlakukan dia seperti biasa, dia berhak mendapat perlakuan yang sama dengan anak sebayanya.”
***

Sejak kejadian itu, aku kembali kerumahku dan menjalani hidupku seperti biasa. Tapi nyatanya cap indigo tak juga bisa merubah pemikiran orang-orang disekelilingku. Mereka tetap menganggap aku aneh, aku gila atu aku punya kelainan jiwa. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku berusaha hidup normal dilingkunganku, aku tidak memperdulikan tatapan warga sekelilingku yang selalu menatapku dengan tatapan mencemooh ataupun yang lainnya. Akupun bersikeras tidak mengumbar kelebihanku kepada orang lain.


Sampai akhirnya ayahku mengajak kami sekeluarga pindah ke jakarta. Aku senang karena akhirnya aku akan punya dunia baru, jauh dari tatapan sinis orang-orang disekelilingku. Aku akan lahir kembali menjadi orang baru, setidaknya aku akan berusaha kelihatan normal seperti yang lain. Aku tidak akan mengulangi semua kesalahanku. Aku ingin merasakan hidup seperti anak-anak seusiaku, aku ingin mempunyai teman baik, aku ingin berjalan-jalan bersama mereka. Aku ingin kehidupan yang lebih baik. 

No comments:

Post a Comment