BAB LIMA
Aku
lahir di salah satu desa di yogyakarta. Kata ibuku, saat itu hujan sangat deras
dan tepat pukul 00.05 menit aku lahir. Awal keanehan yang terjadi adalah ibuku
sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun saat melahirkanku. Aku lahir tanpa
ayah. Aku tidak tau apakah ayahku meninggal atau mereka bercerai sebelum aku
lahir. yang jelas, ibuku selalu mengunci mulutnya rapat-rapat saat aku
menanyakan keberadaan ayah kandungku.
Katanya
aku tumbuh seperti bayi biasa, tapi saat aku berumur satu tahun aku sudah mulai
lancar bicara, bahkan aku mengusai bahasa inggris dengan sangat fasih. Pada umur
dua tahun aku sudah bisa menulis dengan baik juga berhitung diluar kemampuan
anak seusiaku. “ya tuhan.. bagaimana bisa.” Itulah kata yang diucapkan ibuku
saat melihat keanehanku. Ibuku yang saat itu bekerja sebagai guru private benar-benar merasa tidak menyangka aku bisa melakukan hal-hal itu. pada umur
tiga tahun aku sudah bisa mengoperasikan perangkat komputer dengan segala macam
kesulitannya.
Pada
umur empat tahun pengetahuan-pengetahuanku benar-benar luar biasa, aku mengerti tentang sejarah,
astronomi, biologi dan yang lainnya. Dan pada umur itulah aku bertemu farrel.
Saat itu aku sedang menggambar diruang tamu rumahku. Ibuku sedang mengajar disalah satu ruangan
dirumahku.
Seseorang
yang berada diluar pagar rumahku menarik perhatianku. Aku keluar dan
menemuinya. Dia mengaku bernama farrel dan akhirnya aku mengajaknya bermain
diruang tamu. Kami menggambar bersama dan bernyanyi bersama. Dan saat itu aku
merasa kalau farrel adalah sahabat yang baik biarpun dia jauh lebih dewasa
dariku. Sejujurnya aku tidak begitu menyukai anak-anak seusiaku. Aku lebih suka
bermain dengan farrel karena usianya jauh lebih tua dariku. Tapi yang membuatku
heran adalah ibuku dan yang lain tidak bisa melihat farrel. “itu Cuma imajinasi
kamu aja sayang.” Begitu katanya.
Saat
umurku lima tahun aku mengenal ayah tiriku. Dia adalah pegawai swasta yang tak
lain adalah teman lama ibuku. Pada awalnya aku tidak begitu menyukainya.
Entahlah, aku merasa dia sama sekali tidak menyukaiku.
Saat
aku masuk taman kanak-anak. Aku menjadi yang paling pintar diantara yang lain.
Aku membuat kagum guru-guru disana. “anak ibu lebih pintar dari anak
seusianya.” Katanya pada ibuku saat pertemuan orangtua murid.
Aku
ingat saat sedang bermain sore hari, aku melihat sesosok tubuh yang besar dan
berbulu berdiri dibawah pohon beringin, wajahnya hitam dengan kepala yang
bertanduk. Aku menjerit ketakutan dipelukan ibuku. Mengajaknya untuk segera
pergi darisana. Aku ingat bahwa itu bukanlah kali pertama aku melihat makhluk
menakutkan seperti itu. waktu kecil aku suka menangis semalaman karena melihat
makhluk-makhluk yang menyeramkan disekitar rumahku.
Saat
aku berada di sekolah dasar, aku masih bersahabat dengan farrel. Dia sering
menemaniku kesekolah. Tapi teman-temanku yang lain bilang bahwa aku gila. Mereka
bilang aku berbicara sendiri, aku memberitahu mereka bahwa ada farrel
disampingku, tapi mereka semua tidak melihat dan terus saja menjauhiku karena
menganggap aku gila.
Dan
saat aku menceritakan itu semua. lagi-lagi ibuku bilang bahwa itu hanyalah imajinasiku.
Tak lama setelah pernikahan ibuku, ibuku mengandung anak dari ayah tiriku. Dan suatu
saat aku bilang padanya bahwa farrel ada disampingnya, dia malah bilang bahwa
aku benar-benar gila.
Disekolah
aku dijauhi, aku dikucilkan karena yang lain menganggapku aneh. Aku sempat
bersikeras tidak mau sekolah, selain karena sikap teman-temanku, aku merasa
bahwa aku sudah cukup pintar tanpa harus sekolah. nilai-nilaiku selalu sempurna
dan itu membuat guru-guruku heran. Tapi ibuku bilang bahwa sekolah itu penting.
Ada
seorang anak yang bilang bahwa aku menakutinya karena bilang bahwa disebelahnya
ada sesosok wanita berambut panjang dengan wajah hancur dan darah dimana-mana. Aku
berusaha menjelaskan bahwa makhluk itu benar-benar ada. Tapi mereka semua sama
sekali tidak percaya.
***
Saat
aku kelas empat SD, aku mengalami kecelakaan. Aku ditabrak lari oleh sebuah
mobil saat aku pulang sekolah. sebelum tidak sadarkan diri, aku sempat melihat
puluhan sosok berjubah putih mengelilingiku.
Aku
terbangun dan melihat tubuhku sendiri terbaring lemah diranjang sebuah rumah
sakit. Dan saat itulah ibuku dan ayahku berlari kearahku, tapi bukan untuk
memelukku, tapi mengguncang-guncangkan tubuhku lalu menangis melihat alat
pendeteksi detak jantung yang menunjukkan garis lurus. Tak lama kemudian dokter
datang dan langsung memeriksa tubuhku. aku berusaha berteriak pada ibuku tapi
ia sama sekali tidak mendengar. Apa aku sudah meninggal?? Itulah yang ada
dipiranku saat itu. aku akhirnya keluar dari kamar itu dan melihat orang-orang
berjubah putih dan hitam berkeliaran. Aku mencoba melihat wajah mereka tapi
tidak berhasil karena mereka semua menunduk. Dan tempat itu, sama sekali bukan
rumah sakit. Sebuah taman dengan berbagai bunga indah. yang paling mengejutkan
adalah, aku bertemu desi. Salah satu temanku yang beberapa hari lalu meninggal
karena sakit keras. Aku memanggilnya tapi ia sama sekali tidak mengenaliku. Aku
mulai menangis, aku berteriak memanggil-manggil ibuku. Aku mau pulang, aku
tidak suka berada disini. Aku terus menangis entah berapa lama, hingga akhirnya
salah satu sosok berjubah putih itu mendekat. Tapi aku sama sekali tidak bisa
melihat wajahnya karena wajahnya bersinar dan menyilaukan. Ia lalu menunjuk ke ujung,
yang baru kusadari adalah sebuah lorong menuju kegelapan. Aku bilang padanya
kalau aku takut, tapi ia menyakinkan kalau tidak ada yang perlu ditakutkan.
Akhirnya aku mendekati lorong gelap itu hingga kira-kira jarakku satu meter,
aku tertarik kedalam lorong itu. tubuhku terasa diputar 360 derajat hingga
akhirnya aku meraskan ruhku kembali dihempaskan kedalam tubuhku.
Aku
menggerak-gerakkan mataku dan mendengar suara orang mengaji disekelilingku.
Saat aku benar-benar membuka mata dan menyingkirkan kain yang menyelimuti
seluruh tubuhku. semua orang kaget bukan kepalang, sebagian dari mereka
berteriak ketakutan dan berlari, tapi beberapa orang lainnya menatapku heran
termasuk ibu dan ayah tiriku.
Setelah
meyakinkan ibuku bahwa ini benar-benar aku dan aku masih bernafas, ia memelukku
dengan erat sambil menangis. Setelah keadaan kembali tenang, ibuku bilang bahwa
aku mengalami mati suri. Aku sudah didiagnosa dokter meninggal saat dirumah
sakit.
Aku
pikir kehidupanku akan normal saat mengalami mati suri itu. tapi ternyata
tidak. Baik indra penglihatan dan indra pendengaran juga kinerja otakku
meningkat seratus kali lipat. Jika biasanya aku bisa melihat makhluk-makluk
halus disekitarku, kini aku bisa melihat makhluk halus ditempat lain. Aku tau
kalau dirumah teman-temanku ada penghuni yang dapat kulihat walau aku belum
pernah datang kerumah mereka. Aku bisa mendengar perbincangan orang yang jauh
tidak terlihat olehku. Dan yang paling membuatku lebih frustasi adalah, aku
bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang juga kematiannya.
***
Pada
suatu hari aku berteriak keras pada tetanggaku untuk berhati-hati karena mereka
akan jatuh. Tidak lama kemudian aku mendengar kabar kalau mereka mengalami
patah tulang karena jatuh dari sepeda motonya.
Lalu
sewaktu aku dibawa kepasar oleh ibuku untuk membeli susu untuk adik tiriku. Aku
berteriak kepada seseorang untuk berhenti merokok karena aku tau paru-parunya
sudah rusak karena kebiasaannya merokok.
Aku bilang pada seorang pedagang daging untuk berhenti membohongi
pembeli dengan tidak menjual daging yang tidak sehat. Juga kepada penjual buah
untuk tidak berlaku curang dengan mengurangi timbangan. Dan yang mengejutkanku
adalah aku bisa menyembuhkan suatu penyakit, ini terjadi saat adik tiriku
menangis semalaman tanpa henti.. badannya panas tinggi . dan entah atas
dorongan apa, aku mendekatkan diri dan menaruh sebelah tanganku ke keningnya,
dan adikku perlahan tertidur dan panas badannya menurun. Aku menjadi sorotan
orang-orang karena kejadian itu. aku suka memberitahukan berita-berita buruk
yang akan terjadi pada mereka begitu juga kematian yang akan terjadi. Dan itu
malah membuat mereka takut kepadaku, mereka mengira bahwa aku adalah anak
pembawa sial. Mereka melarang anak-anak mereka bermain denganku. Aku makin
dikucilkan dilingkunganku.
Aku
hanya bermain dengan farrel. Dan akhirnya aku mengerti bahwa farrel adalah
makhluk astral dimana hanya aku yang mempunyai kemampuan lebih yang bisa
melihatnya. Sedangkan yang lain tidak.
Saat
beranjak SMP aku sama sekali tidak berubah, aku terus memberitahu mereka
kejadian-kejadian yang akan terjadi, itu semakin membuat mereka menjauhiku. Aku
semakin malas pergi kesekolah. Aku lebih suka bolos dan bermain bersama farrel.
Hingga akhirnya orangtuaku mendapat panggilan dari sekolah. mereka bilang bahwa
aku suka membolos dan berlaku aneh disekolah, mereka bilang aku sering
berbicara sendiri dan menakut-nakuti temanku, dan itu menyulut kemarahan ayah
tiriku. Sepulang dari sekolah ayahku memukuliku, sedangkan ibuku tak kuasa
menahan perlakuan ayahku. Ibuku hanya menangis bersama bayinya. Aku terus
meronta memanggil nama ibuku dan farrel.
Hubungan
aku dan ayahku semakin merenggang, ayahku lebih suka mengajak bermain adik
tiriku yang saat itu menginjak usia dua tahun. Nama keluargakupun makin menjadi
buah bibir dimasyarakat. Hingga puncaknya amarah ayahku adalah saat ia
bertengkar dengan ibuku. Ayahku mengira bahwa aku gila, aku mempunyai kelainan
jiwa. Dan ia bermaksud memasukkanku kerumah sakit jiwa. Tapi tentu saja ibuku
tidak sama sekali tidak setuju. Ibuku menganggapku normal seperti lain walau
aku tau hatinya menyangkal. Aku sempat dikurung dikamar beberapa hari. Dan
setiap itu aku selalu meronta dan berteriak-teriak, memaki ayahku sambil
melempar semua benda-benda dikamarku. Ayahku hanya membuka pintu saat
mengantarkan makanan dan minuman. Dia benar-benar tidak membiarkanku keluar
dari kamar. Hanya farrel yang menemaniku. Hanya dia yang mau mendengar cerita
dan keluh kesahku.
Hingga
pada suatu saat pintu kamar itu terbuka, tapi bukan ayahku yang masuk. Tetapi
dua orang laki-laki berseragam yang langsung membawaku keluar, menyuruhku masuk
kesebuah mobil rumah sakit jiwa. Aku tak henti-hentinya berteriak dan
memberitahu mereka bahwa aku tidak gila.
Dari kaca mobil itu, aku bisa melihat mobil orangtuaku mengikuti dari
belakang.
Aku
ingin menangis rasanya. Kenapa ini terjadi padaku. Kenapa harus seperti ini.
tidak butuh waktu lama karena aku langsung sampai di rumah sakit jiwa. Mereka
memegang kedua tanganku dengan sangat erat, menyakinkan bahwa aku tidak akan
bisa lari kemana-mana. Aku menangis melihat ibuku dari kejauhan. Aku merindukan
ibuku, dan aku sangat membenci ayah tiriku. Aku dipaksa masuk disebuah kamar
dan mereka menguncinya dari luar.
Aku
menangis dipojok kamar, sekeras apapun farrel menenangkanku. Tak lama seseorang
kembali masuk kekamarku dan mengajakku keluar. kali ini ia tidak langsung
menarik tanganku melainkan meminta dengan baik-baik. Setelah menatapnya
sebentar aku mengikutinya kesebuah ruang dimana kedua orang tuaku berkumpul.
Mereka mengenalkanku dengan seorang wanita muda yang mengaku sebagai psikolog
anak. “valia nggak gila bu, valia nggak mau tinggal disini.” Aku berusaha
menjelaskan kepada kedua orang tuaku. Tapi wanita muda itu malah menyuruh
mereka keluar dan meninggalkanku dengan wanita muda itu.
Wanita
itu mengaku bernama yasmin. Lalu dia menanyakan banyak hal kepadaku dan aku
menjawab semua yang aku ketahui. Perlahan aku menyukainya karena ia tidak
menganggap aku sok pintar seperti yang lain. Diapun percaya saat aku bilang ada
penghuni diruangan ini. dia percaya semua yang aku bilang.
“saya
menduga anak anda adalah seorang indigo, tapi saya meminta izin untuk melakukan
beberapa tes lagi terhadap anak anda. Saya bisa menjamin bahwa anak anda tidak
gila dan disini bukanlah tempat yang tepat untuknya. “ begitu katanya pada
orangtuaku
Setelah
itu aku dibawa kesebuah tempat dimana dia bilang aku akan dibaca auranya.
Sejujurnya aku tidak begitu peduli. Apapun asal aku bisa kembali kepada ibuku.
Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh bu yasmin dan temannya.
“dugaan
saya benar, valia adalah anak indigo. Itu kenapa ia mempunyai kemampuan unik
daripada anak lain. Dan dia sama sekali tidak gila.” Aku melihat mata kedua
orangtuaku membulat.
“maksudnya?”
“anak indigo adalah anak yang mempunyai warna aura nila atau ungu,
sama seperti warna aura valia. Dikatakan anak indigo karena mempunyai indera
keenam, IQnya diatas rata-rata, dan bijaksana. Dengan kata lain, anak indigo
adalah anak yang mempunyai kekuatan supranatural atau diatas rata-rata, mampu
melihat fenomena ganjil, dan dapat meramal peristiwa yang akan terjadi.” Dan
saat itulah aku tau menyadari bahwa aku adalah anak indigo. Aku mempunyai
kelebihan daripada yang lain tapi aku tidak gila.
“adakah cara menyembuhkannyanya?” bu yasmin lekas menggeleng.
“itu bukan sebuah penyakit dan tidak bisa disembuhkan. Tapi valia
harus mendapat lingkungan dan penanganan yang baik.”
Ayah tiriku melirik kearahku dengan mata coklatnya yang bening.
Mungkin sama sekali tidak menyangka dengan semua ini.
“apa yang harus kami lakukakan?”
“perlakukan dia seperti biasa, dia berhak mendapat perlakuan yang
sama dengan anak sebayanya.”
***
Sejak kejadian itu, aku kembali kerumahku dan menjalani hidupku
seperti biasa. Tapi nyatanya cap indigo tak juga bisa merubah pemikiran
orang-orang disekelilingku. Mereka tetap menganggap aku aneh, aku gila atu aku
punya kelainan jiwa. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku berusaha hidup
normal dilingkunganku, aku tidak memperdulikan tatapan warga sekelilingku yang
selalu menatapku dengan tatapan mencemooh ataupun yang lainnya. Akupun
bersikeras tidak mengumbar kelebihanku kepada orang lain.
Sampai akhirnya ayahku mengajak kami sekeluarga pindah ke jakarta.
Aku senang karena akhirnya aku akan punya dunia baru, jauh dari tatapan sinis
orang-orang disekelilingku. Aku akan lahir kembali menjadi orang baru,
setidaknya aku akan berusaha kelihatan normal seperti yang lain. Aku tidak akan
mengulangi semua kesalahanku. Aku ingin merasakan hidup seperti anak-anak
seusiaku, aku ingin mempunyai teman baik, aku ingin berjalan-jalan bersama
mereka. Aku ingin kehidupan yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment