buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 5 November 2014

Menyayangimu... Menyakitkan



     Aku tidak pernah tau kalau mencintai harus menyakitkan seperti ini. Mengumpat dibalik tembok kantin hanya untuk melihatnya diam-diam, lebih lama, lebih seksama, karena nyatanya melihatnya didalam kelas-pun terasa kurang. Mencoba tersenyum kaku saat berpapasan dengannya. Aku bahkan harus ekstra hati-hati kalau ingin meliriknya di kelas. Takut kalau ada orang yang tahu. Akan panjang urusannya kalau sampai ada yang tahu kalau aku menyukainya.

     Fellyno, laki-laki dengan tinggi kurang lebih 170cm, berat badan 54 (itu yang terakhir aku tau), rumahnya tidak jauh dari sekolah, kulitnya sawo matang dengan kacamata membingkai mata indahnya. Awalnya aku tidak pernah menyangka akan menyukainya. Tapi kejadian saat MOS merubah segalanya. Saat aku mendapat hukuman dari kakak osis karena telat. Fellyno yang kebetulan juga telat sama-sama disuruh membersikan Perpustakaan sekolah. Disaat itulah aku mulai menyukainya. Dia ramah, bahkan padaku yang saat itu baru dikenalnya. Dia lucu, beberapa kali ia membuatku tertawa karena leluconnya. Dan dalam pandanganku, akan sangat beruntung siapapun yang menjadi pacarnya.

     Saat MOS selesai tuhan memberikan kado terindah dengan menempatkan laki-laki itu sekelas denganku. Hal itulah yang membuatku semakin tidak karuan. Semakian aku melihatnya, semakin aku ingin memilikinya. Tapi pada kenyataannya ia tidak pernah melihatku. Hubungan kami hanya sebatas teman biasa. Mungkin ia lebih menyukai Alisa, gadis manis dengan dua lesung pipi, atau mungkin Cika, gadis feminim yang selalu berhasil menarik semua perhatian anak-anak dikelas, atau mungkin Eva, gadis paling pintar dikelas, mungkin bisa juga Mutia, gadis pendiam yang mungkin memancing rasa penasarannya. Aaaahhh mereka semua tidak ada yang pantas mendampingi Fellyno-ku. Mereka semua terlalu biasa. 

     Tapi kenapa mereka bisa seberuntung itu. Merasakan dekat dengan laki-laki itu dan kenapa ia bisa sebegitu perhatian pada wanita-wanita itu, kenapa tidak denganku? Ia akan dengan sabar mengajari gadis-gadis dikelas yang tidak mengerti apa yang dijelaskan guru. Ia akan dengan senang hati membantu mereka. Lalu aku? Hanya bisa melihat kedekatan mereka dengan rasa cemburu yang hampir membakar hatiku.

     Ia akan bertutur lembut kepada gadis-gadis sedangkan denganku ia akan berbicara keras dan lantang, tidakkah ia bisa lembut saat berbicara denganku? Tidakkah ia bisa menatap mataku saat seperti ia menatap gadis-gadis itu, tidakkah ia bisa tersenyum lembut seperti senyum yang selalu ia tunjukkan kepada gadis-gadis lain? Kenapa ia tidak bisa sedekat itu denganku. Aahh bodoh, tentu saja sulit, memangnya aku ini siapa??

     “woooyyy bambaaaaang, ngapain lo disini? Ngeliatin fellyno lagi, homo lu yee.” Suara ferry, salah satu temanku membuyarkan perhatianku. Aku tersentak gugup lalu menatap wajahnya dengan sarkastik. 

No comments:

Post a Comment