Fellyno, laki-laki dengan tinggi
kurang lebih 170cm, berat badan 54 (itu yang terakhir aku tau), rumahnya tidak
jauh dari sekolah, kulitnya sawo matang dengan kacamata membingkai mata
indahnya. Awalnya aku tidak pernah menyangka akan menyukainya. Tapi kejadian
saat MOS merubah segalanya. Saat aku mendapat hukuman dari kakak osis karena
telat. Fellyno yang kebetulan juga telat sama-sama disuruh membersikan
Perpustakaan sekolah. Disaat itulah aku mulai menyukainya. Dia ramah, bahkan
padaku yang saat itu baru dikenalnya. Dia lucu, beberapa kali ia membuatku
tertawa karena leluconnya. Dan dalam pandanganku, akan sangat beruntung
siapapun yang menjadi pacarnya.
Saat MOS selesai tuhan
memberikan kado terindah dengan menempatkan laki-laki itu sekelas denganku. Hal
itulah yang membuatku semakin tidak karuan. Semakian aku melihatnya, semakin
aku ingin memilikinya. Tapi pada kenyataannya ia tidak pernah melihatku. Hubungan
kami hanya sebatas teman biasa. Mungkin ia lebih menyukai Alisa, gadis manis
dengan dua lesung pipi, atau mungkin Cika, gadis feminim yang selalu berhasil
menarik semua perhatian anak-anak dikelas, atau mungkin Eva, gadis paling
pintar dikelas, mungkin bisa juga Mutia, gadis pendiam yang mungkin memancing
rasa penasarannya. Aaaahhh mereka semua tidak ada yang pantas mendampingi
Fellyno-ku. Mereka semua terlalu biasa.
Tapi kenapa mereka bisa seberuntung
itu. Merasakan dekat dengan laki-laki itu dan kenapa ia bisa sebegitu perhatian
pada wanita-wanita itu, kenapa tidak denganku? Ia akan dengan sabar mengajari
gadis-gadis dikelas yang tidak mengerti apa yang dijelaskan guru. Ia akan
dengan senang hati membantu mereka. Lalu aku? Hanya bisa melihat kedekatan
mereka dengan rasa cemburu yang hampir membakar hatiku.
Ia akan bertutur lembut kepada gadis-gadis
sedangkan denganku ia akan berbicara keras dan lantang, tidakkah ia bisa lembut
saat berbicara denganku? Tidakkah ia bisa menatap mataku saat seperti ia menatap gadis-gadis itu, tidakkah ia bisa tersenyum lembut seperti senyum yang selalu
ia tunjukkan kepada gadis-gadis lain? Kenapa ia tidak bisa sedekat itu
denganku. Aahh bodoh, tentu saja sulit, memangnya aku ini siapa??
“woooyyy
bambaaaaang, ngapain lo disini? Ngeliatin fellyno lagi, homo lu yee.” Suara ferry,
salah satu temanku membuyarkan perhatianku. Aku tersentak gugup lalu menatap
wajahnya dengan sarkastik.

No comments:
Post a Comment