buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, 22 March 2016

Dia Mawarku (Mawar bukan Bunga)


"Gue bukan simpanan." Mawar menatap lekat laki-laki di depannya. Matanya menyalang tajam. Berusaha tidak menangis walau ia sadar kalau sudah ada lapisan bening di kedua bola matanya.
"Terus apa namanya kalau bukan simpanan? Dari mana lo bisa kuliah kalau lo aja nggak kerja, lo yatim piatu dan lo nggak punya siapa-siapa di sini, lo juga bukan mahasiswi pinter yang bisa dapet beasiswa." Mata Raka menyalang tajam dengan suara yang menyentak dan gadis di depannya tidak sanggup lagi karena sebulir air matanya lolos. Raka tersenyum, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menusukkan belati tepat ke hati Mawar. Tidak cukup, laki-laki itu mengoyaknya. Menciptakan luka menganga di hati Mawar.
"Dasar wanita murahan." Raka tersenyum kecut. Berusaha menyadarkan gadis di depannya bahwa ia tak lebih dari sampah. Tidak berguna, tidak patut ada dan ia harus tau bahwa Raka membencinya.
"GUE BUKAN SIMPANAN. Beribu kali pun lo bilang begitu. Gue nggak peduli." Mawar menegakkan bahunya dan mendorong bahu lebar Raka hingga menjauh dari laki-laki itu.
Raka menendang salah satu kaki meja di ruang kelasnya. Meruntuk kasar dan mengumpat mendengar kata-kata terakhir Mawar. "Lo harus tau kalau lo nggak lebih dari pelacur perusak rumah tangga orang."


***

Mawar menjatuhkan diri di taman di belakang kampusnya. Mencoba menarik nafas panjang hingga udara sore itu mulai memenuhi rongga pernapasannya. Kata-kata Raka terus terngiang di kepalanya. Berputar seperti sebuah slide yang sedang mempertontonkan rekamannya.

Raka salah, omongan Raka tidak benar. Hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut Mawar untuk membantah semua tuduhan Raka. Raka tidak tahu apa-apa dan tidak seharusnya laki- laki itu mencampuri urusannya.
Raka tidak tahu apa-apa mengenai hidupnya. Dia tidak punya hak menodongkan jari telunjuknya untuk menghina Mawar.


***

Irham masuk ke apartemen itu dan menemukan Mawar tengah bersantai di rumah tamu dengan sebuah laptop di pangkuannya. "Di luar hujan deras." kata Irham sambil duduk di sebelah Mawar dan mengecup keningnya mesra. "Aku buatin teh hangat dulu." kata Mawar tapi belum sempat ia berdiri, tangan Irham mencekalnya. "Nanti aja." katanya lalu merengkuh Mawar dalam pelukannya. Terasa hangat. Batin Mawar. Pelukan yang sama dengan betahun-tahun lalu yang berhasil memporak-porandakan hati Mawar dalam hitungan detik. Mawar tidak pernah bosan biarpun laki-laki itu sudah memeluknya ratusan kali. Mawar selalu merindukannya, bahkan setiap malam.
"Ham, kamu pasti capek. Aku bikinin kamu teh sekalian makan malam ya." kata Mawar tepat di telinga Irham. Irham melepas pelukannya lalu mengangguk. "Kamu istirahat di kamar aja." kata Mawar sambil berlalu dari pandangan Irham menuju dapur.

Irham masuk ke satu-satunya kamar yang ada di apartemen itu. Kamar Mawar, kamarnya, kamar mereka berdua. Kamar yang menjadi saksi bahwa mereka saling mencintai satu sama lain. Tempat yang selalu membuat Irham ingin pulang tapi ia juga sadar bahwa rumahnya bukan di sini. Mawar bukan rumah yang menjadi tujuannya pulang.


Aroma harum yang menguar membuat Irham tergelitik untuk menghampiri Mawar di dapur. "Pas banget. Ayo makan." kata Mawar saat melihat Irham berdiri di ambang pintu.

"Gimana kuliah kamu?" tanya Irham sambil mengunyah. "Baik, skripsi juga udah tahap akhir." Mawar bercerita lugas. Menceritakan kesehariannya di kampus tentu saja minus mengenai kejadiannya bersama Raka. Kegiatan ini rutin mereka lakukan. Setelahnya, Irham akan menceritakan kesehariannya di kantor. Bercerita mengenai klien-kliennya yang menyebalkan.

Mawar sering berandai-andai kalau ia dan Irham bisa berbagi kisah setiap saat. Bukan hanya saat Irham pulang dari kantornya dan mampir ke apartemen Mawar.


Jam menunjukkan pukul delapan saat mereka masih terlihat asik berceloteh di meja makan. Suara denting pesan mengalihkan perhatian mereka. Irham merogoh ponselnya dan menemukan sebuah pesan di sana.

"Udah waktunya pulang?" kata Mawar. Irham tersenyum kecil lalu mengangguk. "Aku pulang dulu ya. Besok aku transfer uang bulanan kamu." kata Irham sambil mencium dahi Mawar lalu menghilang di balik pintu apartemen.

Secepat itu. Kehangatan di apartemen itu selalu menghilang tiap pintu apartemen menghilangkan sosok Irham. Kemewahan di apartemen itu tidak serta merta membuat tiap ruang di sana terasa hidup. Bagi Mawar, hanya Irham yang bisa memberikan hawa kehidupan di tempat tinggalnya itu.

Hanya jejak Irham yang masih menyisakan aroma tubuh pria itu. Di Sofa, dapur bahkan ranjang di kamarnya. Aroma Irham melekat begitu kuat seperti sengaja di tinggalkan agar saat Mawar merindukan pria itu, Mawar tidak akan pernah melupakan wangi khasnya.


***

Irham memarkirkan mobilnya di garasi dan melihat istrinya membukakan pintu. Irham mencoba tersenyum lalu mengecup pipi istrinya. "Kan aku udah bilang nggak usah nunggu aku pulang." kata Irham. Irham mengucapkannya dengan nada dingin tapi di telinga Bunga, kata itu begitu merdu dan hangat. "Aku buatin teh ya." kata Bunga sambil mengambil jas yang di sampirkan asal oleh Irham di sofa. "Nggak usah, langsung istirahat aja. Kamu pasti udah ngantuk." kata Irham sambil masuk ke dalam kamar.

Mata Bunga masih menyalang saat napas Irham mulai teratur, menandakan pria itu mulai lelap. Ia menelusurkan jarinya di wajah pria itu. Dari dahi ke mata, pipi, hidung lalu berakhir di dagunya. Ia terseyum, menyadari bahwa ia begitu mencintai suaminya.
Irham mengeratkan pelukannya pada Bunga. Membuat Bunga terkesiap. Irham merindukan Mawar. Hanya wanita itu yang selalu di pikirkan Irham sebelum tidur. Berharap mimpi bisa menghantarkannya bertemu dengan Mawar.


***

Hampir tiga tahun, sejak Raka menjadi mahasiswa baru di kampus Mawar. Mawar sudah terbiasa mendapat perlakuan buruk dari pria itu. Bukan sekali dua kali Mawar di permalukan oleh pria itu di depan orang banyak hingga bahkan mungkin sebagian dari mereka menganggap Mawar benar-benar wanita simpanan. Tapi sesering apapun Raka menderukan omongan itu tepat di telinga Mawar, Mawar akan langsung menulikan telinganya hingga kata-kata itu terasa seperti hembusan angin lalu. Hingga saat ia sudah kehilangan kesabaran, ia akan menangis. Seperti kemarin.



***

"Jadi udah di transfer berapa puluh juta?" teriak Raka saat melihat Mawar keluar dari bilik ATM di lingkungan kampusnya. Mawar berusaha tak acuh lalu kembali berjalan menuju kantin. Raka yang tidak pernah puas melangkah lebar-lebar mengejar Mawar hingga langkah mereka sejajar. "Jadi abis ini mau ke mana? Belanja barang ber-merk? Nonton? beli perhiasan? Ke salon? Atau malah cari om-om lagi?" Mawar berhenti. Mencoba mengusir bayang-bayar Raka dan senyum mengejeknya. "Apapun yang mau gue lakuin, itu bukan urusan lo." kata Mawar tegas. Berusaha tidak terintimidasi oleh tatapan Raka yang seakan menelanjanginya. Raka tersenyum lebar, menyadari bahwa Mawar sudah selangkah lebih maju karena berani menatapnya secara terang-terangan.

"Pelacur, gue bingung kenapa lo buang-buang waktu buat kuliah. Bukannya melacur nggak membutuhkan pendidikan yang tinggi?" Raka dan Mawar masih berhadapan. Di selimuti oleh amarah yang menguar dari kedua orang tersebut. Mawar merasakan darahnya bergejolak hebat hingga akhirnya satu tamparan mendarat di pipi Raka. Cukup kuat karena wajahnya sampai terpental ke belakang.
"Kalau lo nggak tau apa-apa tentang gue. Jangan pernah campuri urusan gue." kata Mawar dengan kilatan tajam di ke dua bola matanya. Raka mencekal tangan Mawar. "Jangan pernah sentuh gue dengan tangan lo yang kotor itu. Gue jijik." katanya sambil melempar lengan Mawar jauh-jauh.


***

Raka menatap Bunga yang tengah membuat kue di dapurnya. "Kamu tumben jam segini mampir." tanyanya pada Raka yang kini duduk di meja makan dan mencicipi cokelat cair yang ada di meja.

"Iya, dosennya tadi ada yang nggak masuk." jawabnya cepat lalu memperhatikan gerak Bunga yang lincah. "Kakak bikin buat mas Irham?" tanyanya dan melihat wanita itu mengangguk pelan. "Bukannya mas Irham pulangnya selalu malem?" Raka tau persis. Irham akan bilang bahwa ia lembur padahal pria itu tengah mengunjungi simpanannya sepulang kantor. "Iya sih, tapi tadi aku udah minta dia pulang lebih awal dan dia bilang dia akan usahakan." Raka terseyum sinis. Ia tidak pernah tau kalau cinta bisa begitu membodohi seseorang.
"Nggak sekali dua kali lho kak, mas Irham pulang malem. Kakak nggak curiga?" Bunga seketika menoleh dan mendapati Raka tak acuh dan masih sibuk dengan bola-bola cokelat di piringnya. "Kakak percaya sama mas Irham. Kamu kenapa ngomong begitu?" Raka mengangkat bahu. Bingung bagaimana menjawab pertanyaan kakaknya walau ia ingin sekali menunjukkan kebenaran di depan Bunga. Bahwa suami tercintanya, sahabat kecilnya, orang yang paling dia percaya telah berkhianat dan bermain api di belakangnya.


***

Bunga tidak pernah lelah menunggu untuk menyambut Irham sepulang kantor walau akhirnya ia harus mendesah pelan saat mobil Irham tak kunjung menderu di pelataran rumah mereka dan pesan singkat yang dikirimkan Irham selalu berhasil membuatnya tubuhnya lemas tak bertulang.

Bunga tidak tau bahwa persahabatannya dengan Irham yang akhirnya berubah menjadi ikatan suami istri bisa berubah begitu cepat. Dulu, Bunga akan selalu merajuk kalau Irham terlalu sibuk kuliah dan mengabaikannya. Tapi sekarang, Bunga harus menelan kata 'Maklum' bulat-bulat.
Irham nyaris tidak mempunyai waktu untuknya bahkan di saat weekend. Tapi Bunga sadar bahwa ini adalah konsekuensi menjadi istri seorang workaholic.


***

Raka duduk tenang di mobilnya. Menatap apartemen mewah di depannya. Malam bergelayut manja dan Raka berusaha mengusir bosan dengan menyetel musik di mobilnya.

"Dua menit lagi." lirihnya. Ia memfokuskan pandanganya. Sesuai dugaannya, dua menit kemudian seorang pria berpakaian lengkap dengan jas hitam yang sudah sangat ia kenal keluar dan berjalan cepat menuju fortuner yang terparkir di lingkungan apartemen itu.
"Bajingan." runtuknya sambil menyalakan mesin lalu mengikuti mobil itu hingga terparkir sempurna di rumah kakaknya, Bunga.
Ia berdiam sebentar. Mencoba menetralkan emosi yang sudah menguasainya.


***

"Mas Irham sayang sama ka Bunga?" Raka menatap pria yang tampak terkejut di depannya. Raka memang menemui Irham siang ini di kantornya.

"Tentu saja. Kenapa kamu tanya seperti itu?" Raka menyesap kopinya. Berusaha tidak terpancing emosinya.
"Terus kenapa mas Irham selingkuh?" Raka berusaha menatap Irham yang sekali lagi tampak terkejut. "Maksud kamu?"
"Mawar. Gadis simpanan mas Irham. Kenapa mas tega?" Raka melihat wajah Irham memucat seketika. Raka tidak tahu kalau apa yang baru saja dikatakannya mampu menembus dinding kesadaran Irham. Dadanya terasa di tonjok begitu keras.
"Ka Bunga kurang apalagi?" Irham mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Antara kaget, marah, bersalah bercampur menjadi satu dan ia sendiri tidak tau mana yang lebih mendominasi.
"Kamu nggak tau apa-apa tentang Mawar." katanya akhirnya. Ucapannya pelan, nyaris tidak terdengar.
"Raka emang nggak tau apa-apa. Raka cuma tau kalau mas Irham udah ngeduain ka Bunga, mas Irham udah selingkuh, mas Irham bajingan." Raka menadaskan isi gelasnya, lalu berdiri. Meninggalkan Irham yang masih berusaha mengendalikan emosinya.


***

Irham sadar bahwa suatu saat apapun yang ia sembunyikan akan terbongkar. Ia pikir ia bisa jujur pada Bunga mengenai sosok Mawar yang selama ini ada di tengah-tengah mereka.

Mawar si tokoh abu-abu yang selalu terlibat dalam hubungan Irham dan Bunga. Tapi ternyata ia terlambat karena sosok Mawar sudah lebih dulu ditemukan Raka, adik Bunga.
Sebelumnya Irham merasa ia hanya mencintai Bunga dan rasanya pada Mawar hanya rasa kasihan. Tapi ia salah, rasa untuk Mawar terus bertumbuh lalu mengakar begitu kuat. Tapi bagaimana bisa seseorang mencintai dua wanita berbeda di saat yang bersamaan. Irham mengalaminya, bagaimana ia mencintai Bunga dan Mawar diwaktu yang sama. Tentu saja ia tidak diam saja, ia tau bahwa apa yang ia lakukan akan menyakiti mereka berdua. Berbulan-bulan Irham menelaah perasaanya baik-baik dan bukankah memang ada yang harus dikorbankan agar dua-duanya tidak tersakiti.
Tapi pilihan Irham tidak pernah bisa ia eksekusi dengan tepat sehingga akhirnya ia terjebak seperti sekarang.


***

Irham masuk ke apartemen itu dan menemukan Mawar tengah berada di dapur. "Hei." kata Mawar saat melihat Irham berdiri di ambang pintu. Pria itu tersenyum lalu menghampiri meja makan. "Makasih." kata Irham saat Mawar menaruh secangkir teh hangat dengan uap yang masih mengepul di hadapannya.

"Pulang cepet? Kenapa?" tanya Mawar saat melihat jam dinding dan biasanya laki-laki itu baru sampai dua jam lagi.
"Adik Bunga udah tau tentang kamu." Mawar yang sedang menyesap tehnya tersedak kaget. "Kok bisa?" Mawar menatap Irham yang tampak dingin. "Tadi siang dia ke kantor dan bilang kalau dia tau aku punya simpanan."
Hati Mawar bergetar hebat lalu berdiri dan duduk di samping Irham. Ia tau ia tidak akan bisa menjadi seperti Bunga. Ia tidak sepadan dengan Irham meskipun ia memiliki hak atas Irham.
"Aku terima semua keputusan kamu." Mawar mengelus pundak Irham pelan. Berusaha membuat Irham berfikir bahwa ia akan baik-baik saja, walaupun di lubuk hatinya, jantungnya terasa di remas begitu kuat. Sesak.
"Kamu tau apa pilihan aku kan? Aku sayang sama kamu. Aku cinta kamu Mawar." Irham menatap wajah Mawar yang mencoba tersenyum kaku. Irham tau bahwa bukan hanya dirinya tapi Mawar juga dilanda ketakutan luar biasa.
Irham mengambil dagu Mawar untuk menatapnya. Ia tersenyum "Udah tenang aja. Kita pasti baik-baik aja." kata Irham lalu mengecup pelan dahi Mawar.


***

Hujan turun begitu derasnya. Membuat Bunga yang tengah terduduk di ruang tamu khawatir karena Irham belum juga pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Angin dan petir menghiasi hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Suara dering telepon menggugah Bunga dan suara orang di seberang membuat tubuhnya kaku. Air matanya menetes seperti air hujan yang turun di luar. Kakinya lemas, butuh kekuatan agar bisa menopang dirinya sendiri.


***

Mawar nyaris menabrak semua orang yang menghalanginya. Ia membiarkan langkahnya terseok-seok dan gemuruh sumpah serapah mengiringi langkahnya. Yang ingin ia lakukan adalah membuktikan dengan mata kepalanya sendiri kebenaran pesan dari nomor asing yang masuk ke ponselnya.

"Irham kecelakaan. Dia di rumah sakit Medika center." Pesan itu masuk dan nyaris membuatnya tak sadarkan diri.
Dia berdiri di lorong UGD. Kakinya membeku di tempat. Di sana, dia melihat Bunga dan Raka tengah berdiri di ruang UGD. Raka? Kenapa Raka ada di sini? Sekelumit pembicaraannya dengan Irham perlahan muncul. Raka adiknya Bunga, Raka adik ipar Irham. Raka tau tentang Mawar dan itulah yang membuat Raka membenci Mawar.
Mawar masih membeku di tempat. Sama sekali tidak berani mendekat walau selangkah. Air matanya menetes dan ia mundur perlahan. Mengambil ponsel di sakunya dan mengetikan sebuah pesan ke nomor asing yang memberinya kabar mengenai kecelakan Irham.

Gimana keadaannya?

17 maret 2016. 23.25

Raka terkejut mendapati pesan itu di ponselnya. Ia masih memeluk Bunga, memberikan ketenangan untuk wanita itu.


Kritis. Jangan pernah ganggu hubungan Irham sama Bunga mulai detik ini. Lo bukan cuma pelacur tapi lo juga pembawa sial.

17 maret 2016. 23.29

Air mata Mawar mungkin tidak sebanding dengan air mata Bunga. Kesedihan Mawar mungkin tidak sebanding dengan kesedihan Bunga. Tapi bukankah ia juga punya hak atas Irham. Bukankah ia juga berhak ada di samping Irham untuk melewati masa kritis pria itu. Tubuh Mawar merosot ditembok. Ia terduduk dan memeluk lututnya yang terasa dingin. Ia terisak, menangis tanpa suara.



***

Mawar menahan keinginannya itu mendekat dan memeluk batu nisan yang tengah di kerubuti oleh pelayat yang hampir semua memakai baju hitam. Ia terus menangis, tidak peduli sudah berapa banyak air mata yang keluar dari matanya. Menahan dingin yang menyergap kulitnya. Angin berhembus kencang, menandakan sebentar lagi langit bersiap menumpahkan muatannya. Ia masih bertahan di sana saat rintik hujan mulai membasahi gundukan tanah itu. Menatap orang-orang yang perlahan pergi meninggalkan tempat peristirahatan Irham.

Setelah memastikan tidak ada sosok yang tertinggal, ia melangkah gontai dan meluruh memeluk tanah basah itu. Menangis sejadi-jadinya. Mengindahkan tubuhnya yang sudah basah diguyur hujan.
"Irham..." lirihnya nyaris tidak terdengar. Selama ini hanya Irham satu-satunya alasan untuk ia bertahan hidup. Tidak ada yang lain karena Mawar memang sudah tidak punya siapa-siapa.
"Kenapa kamu ninggalin aku." Mawar tidak menyadari bahwa bibirnya mulai berubah warna. Seluruh kulitnya nyaris memucat.
Mawar semakin terisak saat menyadari ia bahkan tidak sempat memeluk Irham sebelum sosok itu masuk ke liang lahat. Ia tidak berada di sisi Irham saat pria itu dalam masa kritis dan menghembuskan napas terakhir. Mawar bahkan tidak sempat walau sekadar melirik Irham di ruang UGD karena Bunga tidak pernah meninggalkan Irham walau sedetik.

Mawar terkesiap saat siluet tegap itu berdiri di belakangnya dan mengarahkan payung di atasnya hingga tetes hujan tidak lagi menyapu kulitnya.

Mawar mengangkat wajah dan terkejut melihat Raka menatapnya dingin, tanpa ekspresi sedikitpun.

Mawar tidak berarti tanpa Irham. Mawar tidak berharga tanpa Irham dan sekarang Mawar harus terseok-seok menjalani hidup tanpa Irham

Wednesday, 20 January 2016

Last Minute



Naya termangu. Wajahnya pias. Ucapan laki-laki didepannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena terasa loncat dari tempatnya. Seingatnya ia belum tuli, tapi kenapa laki-laki itu bisa bicara seperti itu? Naya yang semula menunduk mencoba mendongkak dan menatap bola mata cokelat yang kini berkilat hangat ke arahnya. Wajahnya tampak tegang, seakan apa yang akan keluar dari mulutnya begitu berpengaruh untuk hidup laki-laki itu.

“Nay” kata laki-laki itu, membuat sepenuhnya kesadaran Naya kembali terpusat di otak kecilnya. Ia mengambil nafas panjang. Ia rasanya ingin menceburkan diri ke jurang karena malu dan menonjok laki-laki di depannya karena marah. Tapi lebih dari pada itu dia bingung. Bagaimana bisa?

“kamu serius By?” dan Naya meluruh saat melihat Roby mengangguk mantap tanpa ragu.

“Tapi gimana bisa?” Naya merasakan suaranya bergetar. “Kamu selama ini bohongin aku?” dia menggeleng cepat seakan membantah semua yang berkecambuk di pikiran Naya.

“aku...aku...aku Cuma nggak mau kehilangan kamu.”

Naya mengusap wajahnya kasar. Sudah cukup, Roby sudah benar-benar membuatnya marah. Ia ingin sekali manampar wajah tampan dihadapanya, tapi kenapa tangannya terasa begitu kaku. Ia mau menampar, menonjok atau apapun yang bisa membuat wajah tampan itu manjadi tidak berbentuk.

“jawab jujur. Apa kamu serius sama omongan kamu barusan?” Naya mencoba bersabar. Ia menahan diri mati-matian untuk memberondong Roby dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah membuatnya pikirannya sesak sehingga terasa sakit.

“Aku serius Nay, Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.”

Naya melihat kilatan kesungguhan dalam binar matanya yang membulat sempurna. “tapi kamu kan gay?” Naya melihat senyum kaku Roby berubah getir. Ini lebih dari bencana. Bukan hanya kenyataan bahawa Roby, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka belajar berjalan kini menyatakan cinta padanya. Yang lebih menyakitkan buat Naya adalah kenyataan bahwa Roby bukan gay. Padahal saat mereka duduk dikelas satu SMP Roby meyakinkan Naya bahwa dirinya adalah seorang gay tanpa memperdulikan raut wajah Naya yang berubah kaget dengan sebuah kaleng minuman yang hampir dilemparkannya ke arah Roby.

***

“Kenapa nggak bilang sih kalo mau pulang bareng yayan?” Naya yang masuk ke kamarnya tidak heran melihat Roby yang sudah bersantai mesra dengan ranjangnya. Ini memang selalu menjadi kebiasaan mereka. Kalau tidak mengacak-acak kamar Roby ya pasti mengacak-acak kamar Naya. Kedekatan mereka dari kecil karena bertetangga dan ibu mereka bersahabat membuat mereka bebas berkeliaran disemua sudut rumah.

“iyan By, bukan yayan. Ganti-ganti nama orang aja dehh.” Jawabnya sambil melempar tas ke arah ranjang, hampir mengenai Roby dan membuat remaja itu merengut kesal. “iya nggak penting juga sih aku tau namanya.” Katanya sambil membuka majalah yang baru saja dilempar Naya bersamaan dengan ranselnya.

“Hp aku mati. Jadi nggak sempet ngabarin kamu.” Naya masuk ke kamar mandi dan suara air yang mengucur membuat Roby tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
Naya bersenandung kecil menikmati guyuran air dari shower yang menghujam kulit telanjangnya.

“udah lama? Udah makan siang belom? Mbak minah masak kan?” kata Naya sambil keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh berbalut handuk dari dada sampai pahanya.

“udah. Abisnya nungguin kamu lama.” Jawabnya sambil memperhatikan naya yang sedang berdiri didepan lemari. Memilah-milah pakaiannya sampai mengeluarkan sepotong tanktop dan hotpant warna cokelat.

“maaf deh.” Katanya tanpa membalik badan dan tanpa pertimbangan apapun melepas handuknya dan memakai pakaiannya. Masih didepan lemari dan membelakangin Roby yang menelan ludah dengan tidak ketara.

Ini memang bukan hal biasa. Semenjak Roby memproklamirkan dirinya sebagai seorang gay. Naya tidak pernah ragu untuk melakukan semua hal yang masuk dalam katagori privasi wanita kepada Roby. Ia merasa tidak punya rahasia apapun dengan sahabatnya itu. Dan yang pasti hanya Naya yang tau kondisi Roby. Tidak ada yang lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun

***

“bagusan yang merah apa yang putih By?” Naya yang sedang ada dipusat perbelanjaan itu mengangkat dua buah dalaman dan menunjukkannya pada Roby. “yang merah bagus.” Jawabnya singkat. Ini yang membuat Naya senang. Berteman dengan Roby membuatnya merasa seperti mempunyai sahabat wanita yang satu pikiran. Roby tidak pernah menolak diajak nonton film romantis yang membuat naya akhirnya mewek ditengah-tengah film sampai memilih berbelanja dalaman wanita. Roby sama sekali tidak merasa jengah. Walau pun ya, menurut Naya sayang sekali kalau laki-laki seganteng Roby jadi gay. Dunia kehilangan satu spesis ganteng yang harusnya bisa jadi bahan rebutan gadis-gadis.

***

“Kamu beneran nggak suka cewek By?” tanya Naya suatu kali saat mereka tengah terlentang di hijaunya rumput taman komplek rumah mereka menyaksikan langit yang memerah.

“Kamu tau artinya gay nggak sih Nay? Nggak perlu aku jabarin kayak guru ngejelasin muridnya kan?” Naya menoleh lalu terkikik geli. Menatap mata Roby yang tidak lepas dari hamparan awan yang membentang diatas mereka.

“sayang yah. Cewek-cewek yang ngejar kamu kan banyak. Kalo mereka tau kamu gay pasti bakal ada patah hati masal disekolah kita.” Kali ini Roby melirik Naya melalui ekor matanya dan melihat gadis itu mengukir senyum di bibirnya.

“kamu tau Melani kan By. Dia kan cantik, putih, langsing, kamu nggak naksir juga sama dia?” Naya memperhatian langit yang semakin memerah sementara Roby menghela nafas berat, tapi tidak juga menjawab pertanyaan Naya. Mereka sibuk memperhatian perubahan warna langit hingga sang matahari tenggelam.

“jangan-jangan kamu juga patah hati ya?” tanya Roby saat mereka bangun dari rerumputan. Bersiap untuk pulang.

“iya, aku naksir berat sama kamu By. Tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan.” Naya tertawa renyah. Seakan apa yang baru saja ia beritahu adalah gosip yang sedang hits ditelevisi. Sedangkan Roby terhenyak ditempatnya

***

Sekelebat ingatan itu muncul di otak Naya. Ia memandang Roby yang menatapnya dengan tatapan begitu sulit di artikan. Bayangan saat ia mengganti baju dengan semena-mena di depan Roby, bayangan saat ia meminta Roby mengantarnya membeli baju dalaman, bayangan saat Ia dan Roby sering tidur siang berdua membuat bulu kuduknya meremang. Bukankah ini buruk. Ia malu bercampur marah. Entah mana yang lebih mendominasi, Naya tidak tau. Yang jelas semua rasa berkecambuk didadanya.

“aku nggak bohong kalo dulu aku bilang aku gay Nay.”

“terus?”

“Aku juga nggak tau. Tiba-tiba rasa itu muncul gitu aja. Aku juga nggak ngerti gimana jelasinnya sama kamu?”

“Sejak kapan?”

Roby mengangkat bahu dengan acuh. “kalau kamu nanya kaya gitu aku juga nggak tau.”

“terus kenapa baru sekarang kamu jujur?”

“karena kalau sejak dulu aku jujur sama kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku takut nggak bisa deket lagi sama kamu.”

“ tapi kamu tau kan sekarang akibatnya apa?” Tangis Naya hampir pecah. Roby tidak pernah tau kalau Naya mencintainya. Semenjak Roby bilang bahwa ia gay. Naya berusaha mati-matian untuk mengubur semua perasaannya pada Roby mengingat cintanya tidak akan pernah terbalas. Ini lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kamu cintai mencintai orang lain.
Roby mengangguk lemah. Ia sadar. Tapi bukankah ia memiliki peluang untuk ditolak juga. Bahkan persahabatannya bisa jadi taruhannya kalau sampai Naya menolaknya.

***

Tangis Naya pecah saat para saksi mengatak 'sah' selepas pria berkopiah hitam disampingnya mengucapkan ijab kabul. Ia mendongkak. Memperhatikan guratan bahagia dalam wajah ayahnya. Lalu kesamping. Mencoba tersenyum ke arah pria yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya lalu mencium punggung talapak tangannya pelan.
Ia sempat melihat ke sekeliling dan tatapan jatuh pada ibunya yang menangis haru saking bahagianya.
Dia disana. Naya melihat Roby dengan stelan kemaja dan celana bahannya ada di barisan paling ujung. Tatapan mereka bertemu setelah ustad menyelesaikan doanya. Wajahnya muram, senyum yang biasa melekat di bibirnya menghilang entah kemana. Raut wajahnya menyisakan guratan sakit hati terkait pembicaraan mereka kemarin malam. Malam kejujuran Roby sebelum Naya bersanding dengan laki-laki yang dicintainya. Cinta.. Aahh entahlah apa itu cinta. Yang jelas kalau Naya boleh memilih, ia ingin Roby yang menjabat tangan ayahnya dan mengucapkan ijab kabul untuknya. Tapi ia tau bahwa ia terlambat. Mereka semua terlambat.


Bisikan Iblis

  

Thomas tersenyum kepada gadis didepannya. Senang karena hari ini gadis itu terlihat lebih baik dan lebih tenang. “Bawa aku pergi dari sini Thomas. Aku nggak mau tinggal disini. Aku sehat. Aku nggak sakit.” Gadis itu memegang tangan Thomas. Mengusapnya pelan. Mencoba meyakinkan pria didepannya bahwa ia harus segera membawanya keluar dari sini. “Kita akan pulang sama-sama. Nanti ya. Setelah kamu lebih baik.”


Dia tidak menyangimu. Dia itu membencimu. Dia akan membunuhmu suatu saat. Jadi lebih baik kau bunuh dia sebelum dia membunuhmu


Suara itu berdengung. Suara brengsek itu berdengung lagi di telinga Safira. Ia menggeleng lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat.
“kau baik-baik saja?” Thomas mengguncang- guncangkan tubuh Safira yang mulai berontak tak terkendali.
Kau itu manusia tidak berguna. Makannya dia menaruhmu disini
TIDAK... safira terus menggeleng dan berontak dari pegangan Thomas.
“Suster...suster.” Tanpa melepas pegangannya, Thomas memanggil perawat yang datang kurang dari sepuluh detik setelah panggilan pertama.
Thomas hanya bisa memandang kala kedua perawat itu berusaha menenangkan Safira. Dokter datang beberapa menit kemudian dan Safira lebih tenang setelah diberi obat.
“apa dia tidak bisa sembuk dok?” tanya Thomas saat Dokter keluar dari kamar Safira. “kemungkinanya sangat kecil. Dia harus bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Dalam kasus lainpun kita hanya bisa meredam, tidak bisa menyembukannya total.” Mereka berpisah tepat didepan ruangan Dr. Deyas. “Thomas. Mungkin kau tau sesuatu yang dia sukai. Hobinya mungkin. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannyannya dari penyakit itu.” Thomas terdiam. Dia tidak tau. Sama sekali tidak tau karena ia tidak mengenal Safira dengan baik. Ia hanya salah seorang yang menemukan Safira yang hendak melompat diatas sebuah jembatan.
***
“Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya sambil menarik tangan gadis itu turun dari sebuah bangku plastik. Setengah menghempaskan menjauh dari tepi jembatan penyebrangan yang hanya dibatasi oleh tembok sebatas dada orang dewasa. “siapa kau? Pergilah jangan ganggu aku” gadis itu meronta dalam pegangan Thomas hingga akhirnya pegangan itu terlepas. “mau bunuh diri? Apa kau sudah gila Hah?”


Lihat. Dia bilang kau gila. Kau pantas mati. Ayo jatuhkan tubuhmu kebawah sampai kau mati dan tenang.


Safira menangis “aku akan mati. Oke. Aku akan menjatuhkan diriku kebawah sampai aku mati.” Safira tidak sadar mengucapkan kata-kata itu dengan keras sehingga membuat pria didepannya kebingungan. Pria itu kembali menarik tangan safira yang hendak kembali menaiki kursi itu. “lepaskan brengsek. Apa kau tidak dengar? Mereka ingin aku mati. MATI” katanya penuh dengan penekanan.
Thomas kali ini menarik tangan safira turun dari jembatan sekeras apapun gadis itu berontak. Setelah sampai dibawah jembatan ia memandang gadis didepannya. Gadis dengan pakaian yang entah sudah berapa lama tidak diganti. kaus dan jeans lusuh dengan wajah mengenaskan. Gadis itu benar-benar berantakan.
“dimana rumahmu?” tanya Thomas. Ia sudah melepas pegangangannya dan melihat gadis itu beringsut menjauh.


Kau punya musuh baru safira. Mungkin dia orang yang akan membunuhmu. Jadi lebih baik sekarang tabrakan dirimu dijalan.


Safira memandang ke arah jalan raya dimana mobil dan motor berlalu lalang. Cukup kencang dan mungkin ia akan dengan cepat mati kalau menabrakkan diri. Ia melirik ke arah Thomas yang mencoba berbicara kepadanya. Tapi yang ia dengar hanya suara-suara iblis itu. Suara iblis yang sudah menghancurkan hidupnya.
Safira melangkah perlahan. Dan saat Thomas tau apa yang akan gadis itu lakukan ia berlari dan meyambar lengan gadis itu hingga kembali menubruknya. “sebenarnya apa masalahmu?” Thomas masih memeluk tubuh gadis itu yang terasa kaku dan tanpa pikir panjang ia mengiring gadis itu ke mobilnya.
***
Safira membuka mata dan langsung terperajat melihat langit-langit berwarna putih. Ia bangun dan menyadari bahwa ia disebuah kamar. Tidak seperti biasanya dimana Ia akan terbangun dengan menatap lagit-langit sebuah toko ataupun rumah-rumah kosong. Ia terduduk dan menyandarkan punggungnya dikepala ranjang lalu menatap tubuhnya yang sudah berganti pakaian.
Ia menekan pikirannya. Mencoba mengingat apa yang membuatnya bisa ada disini. Laki-laki itu. Ia ingat sekarang. “kau sudah bangun rupanya.” Thomas mendekat, membuat Safira beringsut menjauh. “tenang saja. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Dan yang menggantikan pakaianmu adalah pelayanku. Jadi kau tidak perlu khawatir.”
Safira menelan ludah dengan tidak ketara. Lalu menatap pria yang sudah duduk di tepi ranjang itu lekat-lekat. “mandilah, pelayanku akan membawakanmu pakaian. Setelah itu kita sarapan. Kita butuh bicara banyak.” kata pria itu sambil berlalu dari pandangan Safira.
Safira keluar dari kamar mandi dengan sebuah jubah mandi yang ia temukan di lemari kecil didalam kamar mandi. Ia menghampiri ranjangnya dan menemukan sepotong kaus dan celana pendek warna khaki. Ia memakainya lalu keluar dari kamar. Sepi. Rumah itu luas namun sepi seperti tidak berpenghuni. Ia berjalan ke arah kanan, menuruni sebuah tangga berkarpet merah.
“nona sudah ditunggu diruang makan.” seorang pria paruh baya menghampiri Safira yang tengah kebingungan di bawah tangga sambil menunjuk ke sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri.
“duduklah.” Thomas mengisyaratkan agar gadis itu duduk dengan sebelah tangannya. Safira menurut dan aroma harum langsung menguar tepat saat ia duduk dihadapan pria itu. Safira lupa kapan terkahir kali ia makan dengan enak atau bisa disebut makan dengan layak. Semenjak tinggal dijalanan, ia bisa memakan apapun yang bisa ia makan dari hasil bekerja serabutan sehari-hari.
Diatas meja itu ada berbagai macam masakan. Goreng, tumis berkuah dan semuanya begitu menggugah selera Safira. Safira mulai menggerakan sendok garpunya kala laki-laki itu menaruh nasi dan segala lauk-pauknya diatas piringnya.
“jadi dimana rumahmu?” tanya Thomas saat mereka mengakhiri sarapan mereka. Safira meneguk air minumnya dan diam lalu menyebutkan suatu tempat. “kau serius? Bagaimana bisa? Itu jauh sekali dari sini.” Thomas nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“lalu kenapa kau bisa ada disini? Dan kenapa kau ingin bunuh diri?” Safira melihat mata Laki-laki didepannya. Menyadari bahwa ada pancaran keingintahuan disana.
“aku kabur dari rumah.” jawabnya pelan. “kenapa?”
“karena mereka semua ingin membunuhku.”
Thomas mengerutkan dahi dan mendapati gadis didepannya hanya menunduk. “kenapa seperti itu?” tanyanya lagi. Gadis didepannya masih diam. Cukup lama hingga akhirnya ia mengangkat wajahnya. Bukan untuk menatapnya. Melainkan menatap sebilah pisau buah yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk dan dapat diambilnya dalam satu jangkauan.
Thomas mengikuti arah pandang gadis didepannya dan langsung mengerti. Ia beberapa detik lebih cepat untuk mengambil pisau itu.
“berikan pisau itu padaku.” kata Safira.


Lihat, sebentar lagi dia akan membunuhmu. Ambil pisaunya dan goreskan ke nadimu. Kau lebih baik mati ditangan sendiri daripada mati ditangan orang itu.


Safira bangkit dan berusaha menggapai pisau yang diangkat Thomas tinggi-tinggi. Thomas bersyukur bahwa tinggi badannya bisa dibilang jauh dari gadis didepannya.
“kau sebenarnya kenapa?” Thomas masih mengangkat pisau itu tinggi-tinggi saat Safira tak juga mau menyerah dan terus berjinjit didepannya.
***
Sudah Seminggu sejak ia membawa Safira ke rumahnya tapi ia sama sekali tidak mengerti dengan gadis itu. Ia kadang terlihat normal. Mengobrol seperti biasa tapi terkadang ia mengamuk dan berusaha mencelakai dirinya sendiri. Thomas terpaksa mengosongkan kamarnya dari sesuatu yang tajam. Hanya ada lemari dikamarya karena terakhir kali Safira menghancurkan kaca riasnya dan mencoba melukai dirinya dengan pecahan kaca itu. Ia tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan Safira. Kadang ia bilang bahwa ia mendengar suara-suara orang yang sama sekali tidak bisa didengarnya. Hanya safira yang bisa mendengar.
Thomas pernah sekali menanyakan keadaan Safira dengan salah satu teman kampusnya dan teman kampusnya itu menyuruhnya membawa ke psikiater. Dan hari ini ia memang berniat membawa Safira ke psikiater untuk memperjelas keadaan Safira.
“kita mau kemana?” tanya Safira saat Thomas mulai menginjak gasnya dan sedetik kemudian roda berputar. “ke suatu tempat. Aku harapa kau tidak berfikir macam-macam nantinya.”
Safira mengerutkan dahinya dan menatap Thomas yang masih fokus pada jalanan yang tampak lenggang hari ini. Safira bisa dibilang beruntung bertemu dengan Thomas. Laki-laki itu baik. Umurnya hanya terpaut tiga tahun darinya dan sudah duduk dibangku semester akhir. Ia tidak bisa memungkiri bahwa hidupnya belum benar-benar tenang. Hidupnya masih kacau dalam ruang lingkup rumah Thomas yang damai. Suara-suara itu masih sering muncul memekakan telinganya. Mengejeknya, menghasutnya, memanipulasi pikirannya.
Ia mengalami malam-malam yang melelahkan kala suara-suara iblis itu muncul. Ia akan berontak dikamarnya. Menghancurkan semua benda yang ada disekitarnya kala menutup telinganya sama sekali tidak berguna.
“ini rumah temanku. Aku mau mengenalkannya padamu.” Thomas menghela Safira masuk saat Anya muncul dibalik pintu yang diketuknya dan mempersilahkan mereka masuk.
“aku perlu berbicara dengannya. Bisa tinggalkan kami sebentar.” Anya berbicara pada Thomas dan melihat laki-laki itu mengangguk. Safira sempat menggenggam tangan Thomas erat saat pria itu hendak pergi. “dia temanku. Tidak usah takut.”
Thomas tidak pernah tau kalau Safira membenci orang-orang baru yang ditemuinya. Bagaimana kalau suara-suara iblis itu datang lagi dan mempengaruhinya. Setelah kurang lebih lima belas menit mengobrol, Safira baru tahu bahwa Anya adalah seorang psikiter yang masih sahabat dari Thomas. Dia baik, cantik dan begitu lembut. Ia memberikan beberapa pertanyaan pada Safira dan ia menjawabnya dengan jujur. ia bahkan berani menceritakan masa lalunya hingga ia bisa terdampar dirumah Thomas.
***
“dia punya penyakit kejiwaan.” kata Anya keesokan harinya saat bertemu dengan Thomas di salah satu cafe. Mata Thomas membulat tak percaya. “maksudmu dia gila?”
“tidak. dia tidak gila. Dia hanya punya masalah kejiwaan. Dia menderita skizofrenia.” Thomas mengerutkan dahinya, bingung.
“Skizofrenia?”
Skizofrenia itu suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa. Karena gejala ini, orang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.” penjelasan pertama yang dijabarkan Anya tidak juga membuat Thomas mengerti.
“penderita skizofrenia dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang di sekitar mereka. Mereka bisa mendengar, melihat, mencium bau, merasakan hal yang tidak dialami oleh orang lain. Bisa dibilang halusinasi, misalnya mendengar suara. Mereka mungkin memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hal yang tidak benar , misalnya bahwa orang membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Ketika dunia mereka kadang-kadang tampak menyimpang akibat halusinasi dan delusi, orang dengan skizofrenia dapat merasa takut, cemas dan bingung. Mereka bisa menjadi begitu kacau sehingga mereka dapat merasa takut sendiri dan juga dapat membuat orang di sekitar mereka takut.”
Thomas mengerti. Penjelasan Anya begitu gamblang dan ia bisa menangkap dengan cepat. “jadi yang dia bilang suara-suara iblis itu tidak benar-benar ada? Hanya halusinasinya saja?”
Anya mengangguk dengan mantap. “tapi biasanya suara-suara apa yang biasanya didengar? Safira selalu ingin bunuh diri.”
“mungkin suara-suara itu mengejeknya. Memberitahu bahwa ia tidak berguna dan lebih baik mengakhiri hidupnya.”
Thomas nyaris tidak percaya ada penyakit semacam itu.
“ini penyakit kompleks Thomas. Banyak juga orang yang mengaku nabi atau tuhan karena suara-suara itu terdengar memujanya sebagai nabi dan tuhan.”
“lalu apa yang harus aku lakukan padanya.”
Anya menyesap minumannya pelan. “Dia perlu obat dan kau yang tau bagaimana kondisi kesehariannya. Kalau memang sudah terlampau parah. Kau bisa membawanya kerumah sakit jiwa. Dia akan ditangani dengan baik disana.”
“Rumah sakit jiwa?” ulangnya. Anya mengangguk. “apa penyakit itu bisa sembuh?”
“kemungkinannya sangat kecil. Tergantung penanganan dan dukungan dari orang sekitarnya.”
“apa bisa aku merawatnya dirumah?”
“bisa. Tapi kau harus ekstra berjaga. Aku akan memberikan obat untuknya tapi kita tidak pernah tau kapan penyakitnya akan kambuh.”
“kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?”
“aku akan menaruhnya dirumah sakit jiwa. Bagaimanapun penyakit ini tidak bisa ditangani oleh orang awam. Safira butuh terapis dan rumah sakit jiwa bisa memberikan apa yang dia butuhkan untuk menekan halusinasinya.”
Thomas menelan ludah. Apa iya dia harus memasukan Safira kerumah sakit jiwa. Selama beberapa hari ini Safira bahkan menjadi teman yang baik untuk Thomas. Ia merasakan rumahnya yang sepi mempunyai sedikit warna. Ia memang tinggal sendiri dirumah itu karena kedua orangtuanya menetap dikota lain. Dulu ia tinggal bersama adiknya, tapi adiknya harus pergi karena sebuah kecelakaan. Kalau adiknya masih hidup mungkin ia seumuran dengan Safira.
“apa dia akan mengerti kalau aku menceritakan penyakitnya?”
“tentu saja. Dia memang punya penyakit kejiwaan Thomas, tapi dia tidak gila. dia sama seperti kita. Mengerti apa yang kita ucapkan. Safira hanya selalu berhalusinasi.”
“ODS -orang dengan Skizofrenia- tidak bisa didominasi. Dia akan susah bergaul dengan orang lain. Mereka bisa saja selalu menyalakan sinyal bahaya untuk orang-orang yang tidak mereka sukai. Mereka tidak akan bisa produktif seperti kita. Mereka perlu penanganan khusus apalagi dalam kasus Safira yang bisa aku golongkan cukup parah.”
***
Safira memandang Thomas dengan bingung. Laki-laki itu tidak pergi ke kempus hari ini. Jadi mereka mengobrol diruang tamu. Thomas juga menaruh laptopnya diatas meja dan menatap Safira ragu.
“kau tau bahwa temanku yang kemarin adalah psikiater?” Safira mengangguk. Masih menatap Thomas yang sepertinya perlu berfikir banyak hanya untuk mengucapkan sepatah dua patah kata padanya.
“dia bilang kau salah satu pederita skizofrenia.”
“ski...”
“skizofrenia.” kata Thomas lalu mengetikkan kata itu di mesin pencarian google.
Safira mengalihkan perhatiannya dari Thomas ke layar yang ada didepannya. Thomas membuka link wikipedia mengenai Skizofrenia.
Skizofrenia adalah ganguuan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi, paranoid keyakinan atau pikiran yang salah yang tidak sesuai dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan. Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% – 0,7%.Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan pengalaman penderita yang dilaporkan.
Gangguang mental. Kata itu begitu cepat tertangkap diotaknya. Jadi selama ini ia mengalami gangguan mental. Dan apa yang ditulis disana. Halusinasi. Apa yang dimaksud itu adalah suara-suara iblis yang selama ini ia dengar. Apa ia bisa dikatagorikan gila?
“jadi aku mempunyai gangguan mental? Jadi suara-suara itu hanya halusinasiku saja dan tidak benar-benar ada?”
Thomas mengangguk lalu mengelus pundak Safira yang tampak tegang. “tapi, suara-suara itu seperti nyata. Terdengar begitu jelas di telingaku.”
“kau harus bisa mengendalikannya Safira karena kalau tidak....” Thomas menggantungkan kalimatnya. Tidak tega untuk bilang bahwa Safira akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
“apa penyakit ini bisa disembuhkan?”
“kemungkinannya sangat kecil. Tapi kita selalu punya harapan.”
Pikiran Safira melayang ke tahun-tahun yang lalu. Ia ingat bahwa dulu ia anak yang bisa dibilang cerdas. Ia tidak pernah keluar dari peringkat tiga besar dikelasnya. Tapi suara itu datang saat ia baru menginjak semester satu.
Ia kerap mendengar suara-suara yang mengejeknya. Mengatakan bahwa ia tidak berguna, bahwa semua orang membencinya dan ia lebih baik bunuh diri.
Ia ingat malam itu. Ia sedang menonton televisi dan ia mendengar orang didalam televisi itu berkata lantang kepadanya.
Bukankah aku sudah menyuruhmu bunuh diri. Kau tidak layak hidup safira. Tidak ada orang yang mengininkanmu didunia. Bahkan keluargamupun akan membunuhmu suatu saat nanti.
Suara itu begitu jelas seperti sengaja dibisikan ke telinganya. Terus menerus, makin mengejek dan memojokkannya hingga akhirnya ia berteriak. “aku akan bunuh diri oke, kau akan melihatku mati.” ia mengatakan itu keras-keras hingga ia merasa tubuhnya diguncang-guncangkan dan seketika ia sadar bahwa ia sedang berkumpul diruang TV bersama keluarganya.
Ia melihat kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya menatapnya bingung. Berusaha menyadarkannnya. Sejak saat itu hidupnya berubah. Hidupnya tidak baik-baik saja. Hidupnya terbelenggu oleh bisikan-bisikan iblis itu. Bisikan-bisikan itu bisa datang kapan saja dan ia akan langsung menutup telinganya rapat-rapat. ia bahkan sering mengamuk karena suara-suara itu seringkali mendominasi.
Kuliahnya berantakan dan dirumah kedua orangtuanya mulai kebingungan melihat sikapnya. Suara-suara itu makin menjadi-jadi. Menghasutnya. Mengatakan bahwa kedua orangtuanya membencinya dan akan membunuhnya. ia dilingkupi ketakutan hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah.
Berbulan-bulan Safira hidup dijalanan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. ia tidak punya tujuan dan yang ia lakukan setiap hari hanyalah berjalan dan berkerja serabutan agar mendapatkan uang untuk makan.
Jangan tanya mengenai suara-suara itu. Suara-suara itu masih terus terdengar bahkan sampai detik ini. Dan sekarang Safira tau penyebabnya. Ia mengalami gangguan mental. Semua pikiran-pikiran buruknya hanya halusinasi dan orang-orang yang selama ini dikirannya jahat mungkin tidak benar-benar jahat.
***
Keadaan Safira membaik karena obat-obatan yang diberikan Anya. Obat antipsikotik itu memberikan pengaruh besar pada Safira. Penyakitnya jarang kambuh dan Thomas sudah berfikir bahwa Safira sudah benar-benar sembuh. Tapi ia salah, saat ia lengah, suara-suara iblis itu kembali menyerang Safira. Lebih besar dari sebelumnya dan Safira yang dalam keadaan seorang diri diruang tamu berhasil menusukkan sebilah kaca ke perutnya.
***
Thomas memandang Safira yang teridur di ranjang rumah sakit. Pikirannya salah. benar kata Anya, Safira tidak mungkin bisa sembuh hanya karena obat-obatan itu. Safira butuh terapi dan tempat dimana ada orang yang dua puluh empat jam bisa menjaganya. RUMAH SAKIT JIWA.
“Thomas.” Suara itu terdengar saat Thomas duduk tertidur dengan sebelah tangan menopang kepalanya dan sebelah tangannya lagi menggengam telapak tangan Safira yang terasa dingin. Sedikit lagi, kalau saja asisten rumah tangganya tidak bergerak cepat. Mungkin Safira sudah kehilangan nywanya.
“kau sudah sadar?” Thomas tersenyum menatap wajah Safira yang pucat dan melihat gadis itu menarik garis bibirnya dengan susah payah. “suara-suara itu kembali Thomas.” katanya dan Thomas bisa merasakan genggaman gadis itu mengerat. Thomas mengusap pucuk kepala Safira. Mencoba menenangkan gadis dihadapannya.
***
Thomas tidak tau bagaimana harus berbicara pada Safira. Apa ia tega harus memasukkan gadis itu kerumah sakit jiwa. RUMAH SAKIT JIWA. Katanya dalam hati. Tempat penderita gangguang mental, orang gila. Hati Thomas tiba-tiba terenyuh. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini yang terbaik untuk Safira.
“untuk apa kita kesini?” Safira memandang tajam saat mobil Thomas berhasil merangsek diparkiran rumah sakit jiwa itu. “bertemu psikiater untukmu.” katanya, mencoba terlihat tenang. Safira menelan ludah dan keluar dari mobil, mengikuti Thomas.
“aku tidak mau masuk.” Thomas menoleh dan menyadari bahwa Safira masih berdiri didepan mobilnya. Ia menarik nafas berat lalu menghampiri. “tidak apa-apa. Mereka sama seperti Anya, mereka bisa membantumu untuk sembuh.”
Thomas menarik paksa tangan Safira masuk. Melewati lorong-lorong dengan kamar-kamar disisi kanan kirinya hingga akhirnya sampai ke ruangan yang ditujunya. “bawa aku keluar dari sini Thomas.” kata Safira ketakutan. Ia mendengar puluhan langkah kaki menghentak-hentak disekelilingnya. “ayo kita pulang Thomas.” ia mulai menutup telinganya kala suara-suara itu terasa semakin kencang.
Semua terjadi begitu cepat. Petugas itu membawa paksa Safira yang mulai mengamuk ke sebuah kamar dan seorang dokter mengikutinya. Thomas hanya bisa melihat dari jendela. Dokter itu duduk dihadapan Safira yang tampak ketakutan. Gadis itu terus menerus meremas kedua tangannya lalu memandang tajam kearah Dokter yang sejak tadi tersenyum. “kau ada di tangan yang tepat Safira. Dokter Deyas tidak akan mengecewakanku.”
***
sudah tiga bulan Safira tinggal disana dan Thomas semakin optimis setiap harinya. Sepulang kuliah ia selalu menyempatkan diri menemui Safira. Memastikan bahwa Safira dalam keadaan baik dan semakin baik.
“aku membawakanmu kanvas dan cat air.” kata Thomas sambil masuk ke ruangan yang ditinggali gadis itu. Hanya ada ranjang dan sebuah sofa juga meja kayu dan lemari kecil disana. Minimalis tapi Thomas beryukur karena kamar Safira bisa dibilang sangat rapi dan bersih.
Safira melihat cat air dan kuas-kuas yang diletakan Thomas diatas meja lalu beralih ke kanvas dengan penyangga yang ditaruh laki-laki itu di depan jendela kamarnya.
“aku harap kau tidak kesepian. Dokter Deyas bilang kau butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranmu dari suara-suara itu. Aku melihat beberapa coretanmu di tembok kamar.” katanya sambil tersenyum. Senyum yang selalu dirindukan Safira
“terima kasih.” Safira mengambil tangan Thomas dan menggenggamnya erat. “terima kasih karena kau masih disini. Aku tidak tau apa jadinya kalau kau meninggalkanku.” matanya nanar dan segumpal air mata mulai menggenang dipelupuk matanya.
“aku akan selalu ada untukmu. Aku berjanji.”

Wednesday, 9 December 2015

Aku si ODHA


Surat ini tidak aku tujukan untuk siapa-siapa, atau setidaknya aku tidak akan mengacungkan telunjukku didepan wajah kalian. Kalian tau bahwa aku terlalu malu, terlalu merasa hina. Aku hanya ingin berbagi sepenggal kisah hidupku yang sama sekali tidak akan pernah ingin dialami orang anak-anak muda lainnya.

            Sekilas, mungkin kalian tidak akan melihat perbedaan dengan diriku. Bagi kalian Aku mungkin hanya terlihat begitu kurus. Tapi yang lainnya, aku dan kalian tampak sama. Aku bisa berjalan sama seperti kalian, bahkan berlari. Aku bisa berbicara lantang, seperti kalian. Tapi ada sesuatu mematikan dalam tubuhku yang membedakanku dengan kalian. Yaahh.. kalian yang mengetahui apa itu akan langsung menjauhiku. Menganggapku begitu hina, menganggapku seperti sampah yang harus kalian buang.

            Kalian tau. Aku tidak pernah ingin mengalami ini semua. Penyesalah bertubi-tubi bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup tidak hanya sekali-dua kali terlintas dalam pikiranku. Tapi saat keinginan itu begitu kuat, aku tidak pernah benar-benar menyerahkan nyawaku karena aku sadar diriku sepenuhnya milik tuhan. Hanya Dia lah yang berhak atas diriku. Aku menyadari bahwa mungkin aku terlambat mengenal yang namanya “TUHAN”. Aku menghabiskan waktu selama dua puluh satu tahun tanpa mengenal tuhan dan tiga tahun terakhir menjadikan obat-obatan terlarang sebagai tuhan.

            Semua berawal dari cinta. Yaahh.. cinta yang kata orang begitu indah, sama sekali tidak berlaku buatku. Tapi untuk yang bilang cinta itu buta, aku bisa pastikan seratus persen benar. Aku mengenal pria itu lewat salah satu temanku. Aku memang tidak bisa dibilang gadis baik-baik karena aku lebih menyukai hingar bingar dunia malam. Tapi saat itu aku masih bisa menjaga diri dan hanya berkutat dengan rokok dan minuman keras yang tidak seberapa.

            Tapi malam itu, yaah, aku tidak akan melupakan malam itu. Malam saat aku melihat seorang pria yang sibuk memainkan piringan hitam dan menghasilkan alunan musik yang memenuhi ruangan. Pria yang baru kali pertama aku lihat ada di bar itu.

            Namanya Argan, pria berkulit kuning langsat itu dalam seketika berhasil menarik perhatianku. Dan melalui seorang teman, aku berhasil selangkah lebih dekat dengannya. Dia pria yang sangat menarik juga begitu humoris. Tapi saat aku merasakan semakin mencintainya, aku baru mengetahui bahwa ia adalah seorang pemakai. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri ia sedang menyuntikkan cairah ke tubuhnya. Mungkin narkoba jenis morfin. Dan setelah itu entah untuk alasan cinta atau sekedar keingintahuan. Aku ikut terseret kedalamnya.

            Aku mulai mengenal yang namanya, ganja, morfin, opion, heroin, kokain dan yang lainnya. Argan juga mengenalkanku dengan seorang badar narkoba yang menjadi langganannya. Aku yang masih berstatus mahasiswi disalah satu universitas negeri terpaksa harus menguras keuangan orangtuaku yang memang tidak tinggal satu kota denganku.  Aku rela berbohong hanya untuk mendapatkan uang dan membeli barang haram itu. Barang yang membuatku kecanduan. Barang yang membuatku melupakan semuanya. Kuliah, orang tua, adik dan kakakku.

            tiga tahun aku masih bergelut dengan Argan dan dunianya. Alkohol, obat-obatan terlarang, Bandar narkoba. Tubuhku semakin hari terlihat semakin tidak terurus. Dan aku tidak pernah memperhatikannya.

            Dan akhirnya hari itu, sabtu pagi dipertengahan bulan juni. Aku menemukan Argan dalam kondisi tidak bernyawa karena overdosis. Aku melihat bagaimana tubuhnya yang kurus tergeletak dilantai dengan wajah pucat dan mulut berbusa. Mengerikan, tak berdaya, tak beryawa karena barang-barang itu.

            Aku hancur seketika. Bukan hanya karena kehilangan Argan, pria yang aku cintai. Tapi juga menyadari bahwa aku bisa bernasib sama seperti Argan.

            Belajar dari pengalaman Argan. Aku bertekad untuk kembali ke kampung halaman dan berusaha lepas dari obat-obatan. Aku memberanikan diri menghadap kedua orangtuaku dan rekasi mereka begitu terkejut melihat keadaan ku. Mereka bilang aku begitu kurus, pucat dan berantakan. Dan dengan keberanian penuh aku memberitahu mereka bahwa aku kini bergantung pada barang haram itu. Dalam hitungan detik ibuku menangis dan ayahku sempat menamparku beberapa kali sebelum akhirnya kakak laki-lakiku menghalangi.

            Keesokan harinya, setelah kedua orangtuaku kembali tenang. Mereka mengantarku memeriksakan diri ke dokter sebelum mengantarku ke pusat rehabilitasi. Dan saat itulah bencana itu muncul.  hasil tes darah menyatakan aku positif HIV AIDS. Aku merasakan langit seakan runtuh di depan mataku saat itu juga. Bagaimana mungkin? Penyakit mematikan itu kini bersarang ditubuhku yang lemah. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Kedua orangtuaku menangis begitu juga dengan kakak dan adikku. Dan saat itu yang terlintas dalam pikiranku hanyalah KEMATIAN. Bahwa aku si ODHA. Hanya perlu menunggu kematian menjemputku. Karena jarum suntik yang aku gunakan? Pasti. karena aku pastikan aku belum pernah berhubungan badan bahkan dengan Argan sekalipun. Aku hanya punya dua kata. AKU FRUSTASI
***
            Rumah bercat putih itu begitu asri. Pepohonan tumbuh subur memberi sumber kehidupan untuk semua penghuninya. Di panti rehabilitasi itulah akhirnya aku menghabiskan hari-hariku selanjutnya. Aku berkenalan dengan sama-sama mantan pemakai. Tapi hanya akulah satu-satunya pengidap HIV / AIDS. Dan hari itu juga aku merasakan yang namanya PENOLAKAN yang terasa begitu menyakitkan. Tidak ada orang yang bersedia dekat denganku bahkan disatukan satu kamar denganku. Mereka selalu memandangku seperti seonggok daging busuk yang memang harus mereka jauhkan. seperti virusku bisa menular hanya dengan kita bertatapan muka ataupun bersentuhan tangan.

            Aku menempati salah satu kamar seorang diri. Disaat kamar dihuni beberapa orang aku hanya menempati kamar itu seorang diri. Di Pusat rehabilitas itulah aku akhirnya menjalani hari-hari-ku kemudian. Siang-siang yang menyakitkan, malam-malam penuh penderitaan hanya untuk lepas dari jerat barang haram itu.

            Setiap hari aku harus meminum beberapa obat dan dokter tidak ada henti-hentinya menyuntikan cairan-cairan ke tubuhku. Terkadang pada tengah malam aku harus merasakan menggigil yang begitu hebat, pusing juga mual. Disana aku menjalani berbagai terapi. Dan yang paling penting. Aku harus mengkonumsi ARV setiap 12 jam sekali. Kata perawat obat itu bisa memperlambat virus mematikan itu. Yaahh.. hanya memperlambat, tidak untuk menghilangkan virus itu. tapi aku cukup optimis untuk tetap hidup. Bagaimanapun juga, aku masih ingin berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang aku cintai.

            Satu tahun kemudian aku keluar dari rehabilitasi itu. Menghirup udara yang begitu segar dibanding tempat rehabilitasi itu. Aku memang sudah tidak menjadi pecandu namun aku masih membawa penyakit mematikan itu di tubuhku, kemana-mana, tentu saja, penyakit itu menyatu dalam darahku.

            Dan seminggu kemudian aku kembali lagi ke panti rehabilitasi itu. Bukan, bukan karena aku kembali terjerat obat-obatan haram tapi karena aku memutuskan untuk menjadi bagian dari panti itu. Keluarga menerima kepulanganku, tentu saja. Tapi tidak dengan orang disekitarku. Kabar bahwa aku menderita HIV AIDS sudah menyebar luas dan tentu saja menyulitkanku untuk bersosialisasi.  Pikiran mereka masih terlalu sempit. Mereka tidak mengerti bagaimana virus-virus ini bias menular. Mereka tidak tau bahwa aku tidak akan menularkan virus ini jika hanya berjabat tangan dengan mereka. Iya, mereka tidak mengerti dan yang mereka lakukan hanya menjauhi ku. Mencari aman.

            Selain dipanti rehabilitasi itu. Aku aktif memberikan penyuluhan di beberapa tempat. Forum-forum kesehatan dan kampus-kampus. Menekan rasa malu memberitahu mereka bahwa aku menderita penyakit menjijikan itu. Tapi aku bersumpah bahwa aku tidak ingin ada lagi aku-aku yang lain. aku ingin memberitahu mereka bahwa pengaruh obat-obatan itu jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan dan sebaiknya tidak mereka coba karena alasan apapun. Bahkan juga alasan klise karena keingintahuan atau penasaran. Masih begitu banyak hal yang harus mereka ketahui daripada penasaran akan bentuk ganja, rasa morfin, nikmatinya heroin dan barang-barang laknat yang lainnya.

            Jangan pernah mengorbankan masa muda kalian hanya untuk penasaran pada hal-hal tidak berguna yang bisa merusak kalian. Kalian terlalu berharga bagi orang tua, sahabat bahkan Negara jika rusak karena barang mematikan itu. Karena barang itu seperti memberikan lorong gelap. Kau akan melupakan segalannya. Yang kau inginkan hanya terus-menerus berlari untuk mencari jalan keluar tapi kalian sadar bahwa jalan itu buntu, bahkan setitik cahayapun tidak akan kalian temukan. Kalian ada kehilangan kesadaran dan yang paling terpenting, kalian tidak akan pernah bisa memutar waktu.