buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 20 January 2016

Last Minute



Naya termangu. Wajahnya pias. Ucapan laki-laki didepannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena terasa loncat dari tempatnya. Seingatnya ia belum tuli, tapi kenapa laki-laki itu bisa bicara seperti itu? Naya yang semula menunduk mencoba mendongkak dan menatap bola mata cokelat yang kini berkilat hangat ke arahnya. Wajahnya tampak tegang, seakan apa yang akan keluar dari mulutnya begitu berpengaruh untuk hidup laki-laki itu.

“Nay” kata laki-laki itu, membuat sepenuhnya kesadaran Naya kembali terpusat di otak kecilnya. Ia mengambil nafas panjang. Ia rasanya ingin menceburkan diri ke jurang karena malu dan menonjok laki-laki di depannya karena marah. Tapi lebih dari pada itu dia bingung. Bagaimana bisa?

“kamu serius By?” dan Naya meluruh saat melihat Roby mengangguk mantap tanpa ragu.

“Tapi gimana bisa?” Naya merasakan suaranya bergetar. “Kamu selama ini bohongin aku?” dia menggeleng cepat seakan membantah semua yang berkecambuk di pikiran Naya.

“aku...aku...aku Cuma nggak mau kehilangan kamu.”

Naya mengusap wajahnya kasar. Sudah cukup, Roby sudah benar-benar membuatnya marah. Ia ingin sekali manampar wajah tampan dihadapanya, tapi kenapa tangannya terasa begitu kaku. Ia mau menampar, menonjok atau apapun yang bisa membuat wajah tampan itu manjadi tidak berbentuk.

“jawab jujur. Apa kamu serius sama omongan kamu barusan?” Naya mencoba bersabar. Ia menahan diri mati-matian untuk memberondong Roby dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah membuatnya pikirannya sesak sehingga terasa sakit.

“Aku serius Nay, Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.”

Naya melihat kilatan kesungguhan dalam binar matanya yang membulat sempurna. “tapi kamu kan gay?” Naya melihat senyum kaku Roby berubah getir. Ini lebih dari bencana. Bukan hanya kenyataan bahawa Roby, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka belajar berjalan kini menyatakan cinta padanya. Yang lebih menyakitkan buat Naya adalah kenyataan bahwa Roby bukan gay. Padahal saat mereka duduk dikelas satu SMP Roby meyakinkan Naya bahwa dirinya adalah seorang gay tanpa memperdulikan raut wajah Naya yang berubah kaget dengan sebuah kaleng minuman yang hampir dilemparkannya ke arah Roby.

***

“Kenapa nggak bilang sih kalo mau pulang bareng yayan?” Naya yang masuk ke kamarnya tidak heran melihat Roby yang sudah bersantai mesra dengan ranjangnya. Ini memang selalu menjadi kebiasaan mereka. Kalau tidak mengacak-acak kamar Roby ya pasti mengacak-acak kamar Naya. Kedekatan mereka dari kecil karena bertetangga dan ibu mereka bersahabat membuat mereka bebas berkeliaran disemua sudut rumah.

“iyan By, bukan yayan. Ganti-ganti nama orang aja dehh.” Jawabnya sambil melempar tas ke arah ranjang, hampir mengenai Roby dan membuat remaja itu merengut kesal. “iya nggak penting juga sih aku tau namanya.” Katanya sambil membuka majalah yang baru saja dilempar Naya bersamaan dengan ranselnya.

“Hp aku mati. Jadi nggak sempet ngabarin kamu.” Naya masuk ke kamar mandi dan suara air yang mengucur membuat Roby tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
Naya bersenandung kecil menikmati guyuran air dari shower yang menghujam kulit telanjangnya.

“udah lama? Udah makan siang belom? Mbak minah masak kan?” kata Naya sambil keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh berbalut handuk dari dada sampai pahanya.

“udah. Abisnya nungguin kamu lama.” Jawabnya sambil memperhatikan naya yang sedang berdiri didepan lemari. Memilah-milah pakaiannya sampai mengeluarkan sepotong tanktop dan hotpant warna cokelat.

“maaf deh.” Katanya tanpa membalik badan dan tanpa pertimbangan apapun melepas handuknya dan memakai pakaiannya. Masih didepan lemari dan membelakangin Roby yang menelan ludah dengan tidak ketara.

Ini memang bukan hal biasa. Semenjak Roby memproklamirkan dirinya sebagai seorang gay. Naya tidak pernah ragu untuk melakukan semua hal yang masuk dalam katagori privasi wanita kepada Roby. Ia merasa tidak punya rahasia apapun dengan sahabatnya itu. Dan yang pasti hanya Naya yang tau kondisi Roby. Tidak ada yang lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun

***

“bagusan yang merah apa yang putih By?” Naya yang sedang ada dipusat perbelanjaan itu mengangkat dua buah dalaman dan menunjukkannya pada Roby. “yang merah bagus.” Jawabnya singkat. Ini yang membuat Naya senang. Berteman dengan Roby membuatnya merasa seperti mempunyai sahabat wanita yang satu pikiran. Roby tidak pernah menolak diajak nonton film romantis yang membuat naya akhirnya mewek ditengah-tengah film sampai memilih berbelanja dalaman wanita. Roby sama sekali tidak merasa jengah. Walau pun ya, menurut Naya sayang sekali kalau laki-laki seganteng Roby jadi gay. Dunia kehilangan satu spesis ganteng yang harusnya bisa jadi bahan rebutan gadis-gadis.

***

“Kamu beneran nggak suka cewek By?” tanya Naya suatu kali saat mereka tengah terlentang di hijaunya rumput taman komplek rumah mereka menyaksikan langit yang memerah.

“Kamu tau artinya gay nggak sih Nay? Nggak perlu aku jabarin kayak guru ngejelasin muridnya kan?” Naya menoleh lalu terkikik geli. Menatap mata Roby yang tidak lepas dari hamparan awan yang membentang diatas mereka.

“sayang yah. Cewek-cewek yang ngejar kamu kan banyak. Kalo mereka tau kamu gay pasti bakal ada patah hati masal disekolah kita.” Kali ini Roby melirik Naya melalui ekor matanya dan melihat gadis itu mengukir senyum di bibirnya.

“kamu tau Melani kan By. Dia kan cantik, putih, langsing, kamu nggak naksir juga sama dia?” Naya memperhatian langit yang semakin memerah sementara Roby menghela nafas berat, tapi tidak juga menjawab pertanyaan Naya. Mereka sibuk memperhatian perubahan warna langit hingga sang matahari tenggelam.

“jangan-jangan kamu juga patah hati ya?” tanya Roby saat mereka bangun dari rerumputan. Bersiap untuk pulang.

“iya, aku naksir berat sama kamu By. Tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan.” Naya tertawa renyah. Seakan apa yang baru saja ia beritahu adalah gosip yang sedang hits ditelevisi. Sedangkan Roby terhenyak ditempatnya

***

Sekelebat ingatan itu muncul di otak Naya. Ia memandang Roby yang menatapnya dengan tatapan begitu sulit di artikan. Bayangan saat ia mengganti baju dengan semena-mena di depan Roby, bayangan saat ia meminta Roby mengantarnya membeli baju dalaman, bayangan saat Ia dan Roby sering tidur siang berdua membuat bulu kuduknya meremang. Bukankah ini buruk. Ia malu bercampur marah. Entah mana yang lebih mendominasi, Naya tidak tau. Yang jelas semua rasa berkecambuk didadanya.

“aku nggak bohong kalo dulu aku bilang aku gay Nay.”

“terus?”

“Aku juga nggak tau. Tiba-tiba rasa itu muncul gitu aja. Aku juga nggak ngerti gimana jelasinnya sama kamu?”

“Sejak kapan?”

Roby mengangkat bahu dengan acuh. “kalau kamu nanya kaya gitu aku juga nggak tau.”

“terus kenapa baru sekarang kamu jujur?”

“karena kalau sejak dulu aku jujur sama kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku takut nggak bisa deket lagi sama kamu.”

“ tapi kamu tau kan sekarang akibatnya apa?” Tangis Naya hampir pecah. Roby tidak pernah tau kalau Naya mencintainya. Semenjak Roby bilang bahwa ia gay. Naya berusaha mati-matian untuk mengubur semua perasaannya pada Roby mengingat cintanya tidak akan pernah terbalas. Ini lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kamu cintai mencintai orang lain.
Roby mengangguk lemah. Ia sadar. Tapi bukankah ia memiliki peluang untuk ditolak juga. Bahkan persahabatannya bisa jadi taruhannya kalau sampai Naya menolaknya.

***

Tangis Naya pecah saat para saksi mengatak 'sah' selepas pria berkopiah hitam disampingnya mengucapkan ijab kabul. Ia mendongkak. Memperhatikan guratan bahagia dalam wajah ayahnya. Lalu kesamping. Mencoba tersenyum ke arah pria yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya lalu mencium punggung talapak tangannya pelan.
Ia sempat melihat ke sekeliling dan tatapan jatuh pada ibunya yang menangis haru saking bahagianya.
Dia disana. Naya melihat Roby dengan stelan kemaja dan celana bahannya ada di barisan paling ujung. Tatapan mereka bertemu setelah ustad menyelesaikan doanya. Wajahnya muram, senyum yang biasa melekat di bibirnya menghilang entah kemana. Raut wajahnya menyisakan guratan sakit hati terkait pembicaraan mereka kemarin malam. Malam kejujuran Roby sebelum Naya bersanding dengan laki-laki yang dicintainya. Cinta.. Aahh entahlah apa itu cinta. Yang jelas kalau Naya boleh memilih, ia ingin Roby yang menjabat tangan ayahnya dan mengucapkan ijab kabul untuknya. Tapi ia tau bahwa ia terlambat. Mereka semua terlambat.


No comments:

Post a Comment