Aku
merindukan perkenalan kita yang sederhana. Dimulai dari senyum yang terurai
satu sama lain. Baralih dengan saling sapa, hingga bertukar nomor handphone. Kau
satu-satunya pria dikelas yang berhasil menarik perhatianku. senyum dengan
lesung pipi itu selalu mempesonaku. Aku bahkan lebih sering memperhatikanmu
daripada dosen yang sedang mengajar dikelas.
Aku senang melihat kau yang
mudah bergaul. Itu mempermudah hubungan kita. Aku tidak akan pernah melupakan
hari dimana kita pertama kali jalan bersama. Kau mengajakku ke tempat tidak
biasa. Kau mengajakku ke toko buku. Kau bukan pria kutu buku dengan kacamata tebal,
tapi kau menyukai aktivitas itu. Disaat aku
beradu dengan rak-rak berisi novel-novel remaja, kau lebih memilih berdiri
didepan rak-rak buku biography orang-orang terkenal. Kau tidak menganggap
buku-buku tebal itu membosankan. Berbeda denganku.
Setalah itu, ingatkah saat kita
menghabiskan hari di taman kota. Duduk dibawah pohon rindang dengan buku
ditangan kita masing-masing. Mungkin orang-orang akan melihat ini sebagai
sesuatu yang membosankan. Tapi bagiku tidak. kau selalu meluangkan beberapa
menit untuk berbicara denganku. Menutup bukumu sebentar untuk menatapku atau
sekedar meminum minuman kalengmu.
Keesokan harinya. Aku terkejut
saat kau tiba-tiba ada didepan pagar rumahku. Tersenyum diatas motor biru-putih
andalanmu. Dengan kemeja kotak-kotak merah hitam dan celana jeans juga sepatu
kets yang terlihat baru dicuci. Aku senang saat kau mengucapkan “selamat pagi”.
Jadi hari itu, kita berangkat bersama ke kampus. Beberapa teman sekelas yang
melihat langsung berseru menggoda kita. Membuat pipiku panas karena mungkin
langsung merona merah. Tapi kau tidak berkata apa-apa. Kau hanya tersenyum lalu
berjalan beriringan denganku.
Entah sudah berapa lama
kedekatan kita berlangsung. Kau bahkan tidak sungkan saat menunjukkan diri
didepan pintu rumahku. Bertemu kedua orangtuaku untuk meminta izin karena ingin
mengajakku pergi. Aku terasa menjajaki dunia yang berbeda denganmu. Kau bukan
pria yang hobi menghabiskan waktu dengan nongkrong di café-café mahal ataupun diskotik-diskotik
tengah malam. Seperti yang kubilang, kau bukan kutu buku tapi kau menyukai kesunyian.
Kau lebih suka menghabiskan waktu ditempat dimana kau bisa mendapatkan ketenangan,
tempat yang membuatmu bisa menghabiskan berlembar-lembar buku bacaanmu. Dan entah
sejak kapan aku mulai terbiasa dengan itu.
Dalam ketidak jelasan hubungan
kita. Aku selalu berharap banyak. Perasaan itu semakin lama semakin membumbung
tinggi tanpa bisa ditahan. Apakah kau juga merasakan hal sama? Apakah kau
merasakan kenyamanan yang sama yang aku rasakan saat bersamamu? Apakah semua
perhatianmu boleh kuartikan lebih? Apakah aku boleh berharap menjadi yang lebih
dari sekedar teman buatmu?
Aku tau aku tak lebih dari
seorang gadis biasa. Gadis yang tidak mungkin mengungkapkan perasaannya pada
seorang pria walaupun rasa itu tidak bisa dianggap remeh. Rasa itu besar,
ketertarikan yang tidak pernah aku pikir akan
terus membesar dan semakin besar.
Pesan darimulah yang pertama
kali ku buka setiap pagi dan yang paling akhir kubaca setiap malam. Kau seakan
menjadi sosok yang selalu aku pikirkan saat aku membuka mata dan terakhir aku
pikirkan saat aku hendak menutup mata. Apakah kau pikir aku berlebihan? Apakah kau
melakukan hal yang sama denganku?
Taukah kau bahwa aku sering
tersenyum saat membaca pesan darimu? Pesan darimu seperti magnet yang mudah
mendekatkanku dengan kebahagiaan. Apakah itu juga berlaku buatmu? Aku tau kau
mungkin butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa aku adalah sosok yang tepat
untuk menjadi kekasihmu. Bahwa aku benar-benar jatuh hati padamu. Bahwa mungkin
kau tidak akan mendapati sayang yang lebih dari gadis lain selain diriku. Tenanglah.
aku akan selalu bersabar. Walau entah sampai kapan.
Terkadang
aku ingin sekali bertanya. Sebenarnya siapa aku di matamu? Apakah aku ini sekedar
teman? tapi kita terlalu banyak berbagi berbagai hal. Apa aku hanya sahabat mu?
tapi mengapa terkadang kau memperlakukanku layaknya seorang kekasih? Atau mungkin
kita memang sepasang kekasih. Dan kau berpikir kita sudah terlalu dewasa untuk
urusan tembak-menembak seperti yang lainnya?

No comments:
Post a Comment