buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Monday, 16 February 2015

Surat untuk kau yang entah harus kuanggap apa



Aku merindukan perkenalan kita yang sederhana. Dimulai dari senyum yang terurai satu sama lain. Baralih dengan saling sapa, hingga bertukar nomor handphone. Kau satu-satunya pria dikelas yang berhasil menarik perhatianku. senyum dengan lesung pipi itu selalu mempesonaku. Aku bahkan lebih sering memperhatikanmu daripada dosen yang sedang mengajar dikelas.

                Aku senang melihat kau yang mudah bergaul. Itu mempermudah hubungan kita. Aku tidak akan pernah melupakan hari dimana kita pertama kali jalan bersama. Kau mengajakku ke tempat tidak biasa. Kau mengajakku ke toko buku. Kau bukan pria kutu buku dengan kacamata tebal, tapi kau menyukai  aktivitas itu. Disaat aku beradu dengan rak-rak berisi novel-novel remaja, kau lebih memilih berdiri didepan rak-rak buku biography orang-orang terkenal. Kau tidak menganggap buku-buku tebal itu membosankan. Berbeda denganku.

                Setalah itu, ingatkah saat kita menghabiskan hari di taman kota. Duduk dibawah pohon rindang dengan buku ditangan kita masing-masing. Mungkin orang-orang akan melihat ini sebagai sesuatu yang membosankan. Tapi bagiku tidak. kau selalu meluangkan beberapa menit untuk berbicara denganku. Menutup bukumu sebentar untuk menatapku atau sekedar meminum minuman kalengmu.

                Keesokan harinya. Aku terkejut saat kau tiba-tiba ada didepan pagar rumahku. Tersenyum diatas motor biru-putih andalanmu. Dengan kemeja kotak-kotak merah hitam dan celana jeans juga sepatu kets yang terlihat baru dicuci. Aku senang saat kau mengucapkan “selamat pagi”. Jadi hari itu, kita berangkat bersama ke kampus. Beberapa teman sekelas yang melihat langsung berseru menggoda kita. Membuat pipiku panas karena mungkin langsung merona merah. Tapi kau tidak berkata apa-apa. Kau hanya tersenyum lalu berjalan beriringan denganku.

                Entah sudah berapa lama kedekatan kita berlangsung. Kau bahkan tidak sungkan saat menunjukkan diri didepan pintu rumahku. Bertemu kedua orangtuaku untuk meminta izin karena ingin mengajakku pergi. Aku terasa menjajaki dunia yang berbeda denganmu. Kau bukan pria yang hobi menghabiskan waktu dengan nongkrong di café-café mahal ataupun diskotik-diskotik tengah malam. Seperti yang kubilang, kau bukan kutu buku tapi kau menyukai kesunyian. Kau lebih suka menghabiskan waktu ditempat dimana kau bisa mendapatkan ketenangan, tempat yang membuatmu bisa menghabiskan berlembar-lembar buku bacaanmu. Dan entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan itu.

                Dalam ketidak jelasan hubungan kita. Aku selalu berharap banyak. Perasaan itu semakin lama semakin membumbung tinggi tanpa bisa ditahan. Apakah kau juga merasakan hal sama? Apakah kau merasakan kenyamanan yang sama yang aku rasakan saat bersamamu? Apakah semua perhatianmu boleh kuartikan lebih? Apakah aku boleh berharap menjadi yang lebih dari sekedar teman buatmu?

                Aku tau aku tak lebih dari seorang gadis biasa. Gadis yang tidak mungkin mengungkapkan perasaannya pada seorang pria walaupun rasa itu tidak bisa dianggap remeh. Rasa itu besar, ketertarikan yang tidak pernah aku pikir akan  terus membesar dan semakin besar.

                Pesan darimulah yang pertama kali ku buka setiap pagi dan yang paling akhir kubaca setiap malam. Kau seakan menjadi sosok yang selalu aku pikirkan saat aku membuka mata dan terakhir aku pikirkan saat aku hendak menutup mata. Apakah kau pikir aku berlebihan? Apakah kau melakukan hal yang sama denganku?

                Taukah kau bahwa aku sering tersenyum saat membaca pesan darimu? Pesan darimu seperti magnet yang mudah mendekatkanku dengan kebahagiaan. Apakah itu juga berlaku buatmu? Aku tau kau mungkin butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa aku adalah sosok yang tepat untuk menjadi kekasihmu. Bahwa aku benar-benar jatuh hati padamu. Bahwa mungkin kau tidak akan mendapati sayang yang lebih dari gadis lain selain diriku. Tenanglah. aku akan selalu bersabar. Walau entah sampai kapan.

Terkadang aku ingin sekali bertanya. Sebenarnya siapa aku di matamu? Apakah aku ini sekedar teman? tapi kita terlalu banyak berbagi berbagai hal. Apa aku hanya sahabat mu? tapi mengapa terkadang kau memperlakukanku layaknya seorang kekasih? Atau mungkin kita memang sepasang kekasih. Dan kau berpikir kita sudah terlalu dewasa untuk urusan tembak-menembak seperti yang lainnya?
               


                

No comments:

Post a Comment