Heei kamu, iya kamu.. apa
kabarmu hari ini? Aku harap kau selalu dalam keadaan baik-baik saja. hari ini
aku terbangun bersama derasnya air hujan diluar. Dan entah mengapa aku teringat denganmu.
Mungkin saat ini kau sedang
beribadah di gereja. Memanjatkan berbagai doa. Mungkin termasuk mendoakan
hubungan kita. Hubungan yang mungkin buat orang lain terasa “TERLARANG”
Yaahh…
aku tidak tau dari sekian banyak pria muslim di dunia ini. Kenapa tuhan justru
menambatkan hatiku padamu. Kau mencuri
semua perhatianku. Bahkan saat aku memiliki seseorang. Aku tau ini adalah
kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan kini hatiku menjadi tumbalnya. Aku menyukaimu
saat aku terlibat hubungan pacaran dengan seseorang. Dan bodohnya, melihat gayung bersambut darimu
aku malah semakin berani menunjukkan perasaanku. Kita menjalani hubungan yang
tak biasa. aku jujur mengenai statusku dan kau merasa tidak ada masalah. Sepertinya
aku layak disebut PESELINGKUH yang hebat. Bisa menutupi semuanya dengan begitu rapi
dan bersih. tapi nada-nada sumbang sering
terdengar kala teman-temanku mengetahui hubungan terlarangku. Tapi aku bertahan
karena merasa aku benar. Mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak
merasakan apa yang aku rasakan.
Jujur..
kau berbeda dengan pacarku. Kau terlihat lebih pendiam dan begitu tampak apa
adanya. Dari awal, aku tau bahwa kau adalah sosok yang selama ini aku
cari-cari. Kau begitu hangat dan penyayang. Itulah yang membuat aku mengambil
keputusan berani untuk putus dengan pacarku dan lebih memilihmu. Aku pikir
semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi nyatanya tidak. nada-nada sumbang yang lain
bertiup lebih kencang dan terasa menggoyahkan.
“untuk
apa kau menjalin hubungan dengan laki-laki beda agama, membuang-buang waktu
saja”
“apa
tidak ada laki-laki lain? Hubungan beda agama? Mau kau bawa kemana nanti
akhirnya?”
Itu
mungkin yang sering terdengar dan tak
pelak lama-lama membuatku muak. Aku terkadang ingin berteriak didepan wajah
mereka. “aku mencintainya, aku tidak peduli agamanya dan biarkan kami menjalani
hubungan ini sewajarnya.” Tapi akhirnya aku sadar bahwa kata-kata itu hanya
pantas diucapkan oleh anak-anak belia yang baru mengenal cinta. Bukan aku yang
sudah cukup dewasa untuk memilih laki-laki pendamping hidup.
Kata-kata itu terdengar naïf dan
sekarang aku menyadarinya. Kau tau sayang bagaimana aku mencoba menutup telinga
serapat mungkin. Kau tau bagaimana namamu tidak pernah luput dari doa-ku setiap
aku menengadahkan tangan diatas sajadah. Semoga tuhan memberikan rencana indah
dibalik semua ini. Semoga kelak tuhan dengan caranya menyatukan kita dibawah
atap yang sama.
Aku tau aku dan kamu begitu
sulit menjadi “kita”. Kita sama-sama memperjuangkan sesuatu yang tidak mudah. Aku berjuang dengan agamaku dan kau berjuang
atas nama agamamu. Lalu bagaimana mungkin aku dan kamu menjadi “KITA”?
Tapi tenang saja sayang. Aku tidak
akan pernah bosan berdiri disampingmu, berjalan beriringan denganmu dan
tersenyum untukmu. Tapi kenapa semakin hari kau terlihat semakin pesimis. Mana suara lantang yang sering kau ucapkan
padaku bahwa kita bisa melawan dunia dengan segala perbedaan yang kita punya. Kenapa
kau seakan diam saat aku menggandeng tanganmu untuk maju. Kenapa kau sekarang
bersembunyi dibalik perbedaan kita.
Aku tau ini tidak mudah. Akupun tidak
tau akan mendapat restu orang tua atau tidak. Tapi apakah tidak terlalu cepat
kalau kita menyerah sekarang? Kita bahkan belum mencapai setengah jalan? Apa hanya
sampai disini keberanianmu memperjuangkanku?
Sayang… ingatkah saat kita
membangun impian bersama. Memimpikan berada di satu atap yang sama. Makan dimeja
yang sama. Mengasuh anak-anak kita yang lucu hingga akhirnya menjadi tua
bersama. Aahhh itu semua fase yang terlihat begitu mudah. Tapi kenapa terasa
begitu sulit bagi kita. Apakah perbedaan itu begitu sulit di enyahkan.
Aku teringat kata-kata seseorang
“kadang tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan
apakah manusia lebih mencintai pencipta atau ciptaanya” mungkin kata-kata itu
yang membuat kita semakin bersebrangan. Tapi apakah kita tidak bisa berjalan
beriringan. Apakah tembok besar diantara kita tidak bisa dihancurkan? Bukankah tuhan
menciptakan cinta untuk menyatukan yang berbeda?
Kini
aku hanya bisa tersenyum kala melihat fotomu yang masih terbingkai rapi di atas
meja kamarku. Aku tau kau tidak sepenuhnya mundur. Ikatan cinta kita masih
begitu terasa bahkan sampai detik ini. Kita hanya sedang berjuang
masing-masing. Kau dengan kesibukanmu dan aku dengan kesibukanku. Aku juga
percaya bahwa namaku tak lupa kau selipkan dalam setiap doamu.

No comments:
Post a Comment