buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 17 February 2015

Surat untukmu yang Beribadah Ditempat yang Berbeda


                Heei kamu, iya kamu.. apa kabarmu hari ini? Aku harap kau selalu dalam keadaan baik-baik saja. hari ini aku terbangun bersama derasnya air hujan diluar. Dan entah mengapa aku teringat denganmu.

               Mungkin saat ini kau sedang beribadah di gereja. Memanjatkan berbagai doa. Mungkin termasuk mendoakan hubungan kita. Hubungan yang mungkin buat orang lain terasa “TERLARANG”

Yaahh… aku tidak tau dari sekian banyak pria muslim di dunia ini. Kenapa tuhan justru menambatkan hatiku padamu.  Kau mencuri semua perhatianku. Bahkan saat aku memiliki seseorang. Aku tau ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan kini hatiku menjadi tumbalnya. Aku menyukaimu saat aku terlibat hubungan pacaran dengan seseorang.  Dan bodohnya, melihat gayung bersambut darimu aku malah semakin berani menunjukkan perasaanku. Kita menjalani hubungan yang tak biasa. aku jujur mengenai statusku dan kau merasa tidak ada masalah. Sepertinya aku layak disebut PESELINGKUH yang hebat. Bisa menutupi semuanya dengan begitu rapi dan bersih. tapi nada-nada sumbang sering terdengar kala teman-temanku mengetahui hubungan terlarangku. Tapi aku bertahan karena merasa aku benar. Mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan.

Jujur.. kau berbeda dengan pacarku. Kau terlihat lebih pendiam dan begitu tampak apa adanya. Dari awal, aku tau bahwa kau adalah sosok yang selama ini aku cari-cari. Kau begitu hangat dan penyayang. Itulah yang membuat aku mengambil keputusan berani untuk putus dengan pacarku dan lebih memilihmu. Aku pikir semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi nyatanya tidak. nada-nada sumbang yang lain bertiup lebih kencang dan terasa menggoyahkan.

“untuk apa kau menjalin hubungan dengan laki-laki beda agama, membuang-buang waktu saja”

“apa tidak ada laki-laki lain? Hubungan beda agama? Mau kau bawa kemana nanti akhirnya?”

Itu mungkin yang  sering terdengar dan tak pelak lama-lama membuatku muak. Aku terkadang ingin berteriak didepan wajah mereka. “aku mencintainya, aku tidak peduli agamanya dan biarkan kami menjalani hubungan ini sewajarnya.” Tapi akhirnya aku sadar bahwa kata-kata itu hanya pantas diucapkan oleh anak-anak belia yang baru mengenal cinta. Bukan aku yang sudah cukup dewasa untuk memilih laki-laki pendamping hidup.

                Kata-kata itu terdengar naïf dan sekarang aku menyadarinya. Kau tau sayang bagaimana aku mencoba menutup telinga serapat mungkin. Kau tau bagaimana namamu tidak pernah luput dari doa-ku setiap aku menengadahkan tangan diatas sajadah. Semoga tuhan memberikan rencana indah dibalik semua ini. Semoga kelak tuhan dengan caranya menyatukan kita dibawah atap yang sama.

                Aku tau aku dan kamu begitu sulit menjadi “kita”. Kita sama-sama memperjuangkan sesuatu yang tidak mudah.  Aku berjuang dengan agamaku dan kau berjuang atas nama agamamu. Lalu bagaimana mungkin aku dan kamu menjadi “KITA”?

                Tapi tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah bosan berdiri disampingmu, berjalan beriringan denganmu dan tersenyum untukmu. Tapi kenapa semakin hari kau terlihat semakin pesimis.  Mana suara lantang yang sering kau ucapkan padaku bahwa kita bisa melawan dunia dengan segala perbedaan yang kita punya. Kenapa kau seakan diam saat aku menggandeng tanganmu untuk maju. Kenapa kau sekarang bersembunyi dibalik perbedaan kita.

                Aku tau ini tidak mudah. Akupun tidak tau akan mendapat restu orang tua atau tidak. Tapi apakah tidak terlalu cepat kalau kita menyerah sekarang? Kita bahkan belum mencapai setengah jalan? Apa hanya sampai disini keberanianmu memperjuangkanku?

                Sayang… ingatkah saat kita membangun impian bersama. Memimpikan berada di satu atap yang sama. Makan dimeja yang sama. Mengasuh anak-anak kita yang lucu hingga akhirnya menjadi tua bersama. Aahhh itu semua fase yang terlihat begitu mudah. Tapi kenapa terasa begitu sulit bagi kita. Apakah perbedaan itu begitu sulit di enyahkan.

                Aku teringat kata-kata seseorang “kadang tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai pencipta atau ciptaanya” mungkin kata-kata itu yang membuat kita semakin bersebrangan. Tapi apakah kita tidak bisa berjalan beriringan. Apakah tembok besar diantara kita tidak bisa dihancurkan? Bukankah tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan yang berbeda?

Kini aku hanya bisa tersenyum kala melihat fotomu yang masih terbingkai rapi di atas meja kamarku. Aku tau kau tidak sepenuhnya mundur. Ikatan cinta kita masih begitu terasa bahkan sampai detik ini. Kita hanya sedang berjuang masing-masing. Kau dengan kesibukanmu dan aku  dengan kesibukanku. Aku juga percaya bahwa namaku tak lupa kau selipkan dalam setiap doamu.
               


                 

No comments:

Post a Comment