Raka melakukan kegiatannya seperti biasa. Menunggu Irham di depan apartemen Mawar dan mengikutinya hingga sampai di rumah. Di tengah hujan deras dan jarak pandang yang terbatas. Ia nyaris berteriak saat melihat mobil dari arah berlawanan melaju kencang dan menabrak mobil Irham. Suara deru tabrakan mengaung mengalahkan bunyi hujan. Ia dan orang di sekitar langsung keluar. Mencoba melihat kondisi si pemilik mobil.
"Mas Irham." teriaknya. Ia melihat Irham menatapnya lirih dengan darah yang sudah mengucur deras dari kepalanya. Tapi butuh waktu lebih dari setengah jam untuk menyelamatkan Irham dari posisinya yang terjepit dan mobilnya yang sudah terbalik. Setelah mobil ambulance datang dan sosok lemah itu berhasil di selamatkan, ia ikut menemani Irham di mobil ambulance.
Darah Raka berdesir melihat kondisi Irham. Wajahnya di penuhi darah segar yang tidak henti-hentinya mengalir.
"Raka." Raka memusatkan pandangannya pada Irham yang memejamkan matanya. Tapi ia yakin ia tidak salah dengar, Irham memanggilnya lirih. Raka lekas menggenggam tangan Irham. "Iya mas. Raka di sini." katanya dan ia melihat Irham membuka matanya dengan susah payah.
"Mawar.... Dia bukan simpanan... Dia istriku... Istri sahku... Istri pertamaku." kata Irham dengan terbata-bata, membuat Raka nyaris tidak percaya.
"Dia Mawarku... Tolong jaga dia... Kalau perlu nikahi dia.. Dia tidak punya siapa- siapa..." Irham kembali memejamkan matanya dan Raka memandanganya dengan tatapan kosong.
***
Untuk pertama kalinya ia mengirim pesan singat ke nomor yang sudah begitu lama ada di ponselnya tapi selalu ia abaikan. Ia lebih nikmat menghina Mawar di depan wajah gadis itu langsung dari pada menerornya melalui pesan. Reaksi Mawar bahkan tangisannya merupakan hiburan paling mewah buatnya. Salah satu tujuannya setelah mengetahui si tokoh abu-abu itu adalah menguarkan kebencian buat Mawar. Apapun yang bisa menyadarkan Mawar bahwa ia adalah wanita yang tidak punya harga diri. Dia adalah perempuan murahan. Dia tak lebih dari pelacur perusak rumah tangga orang. Rumah tangga kakaknya, Bunga dan Irham.
Siapa yang harus menanggung dosa rasa tak terbalaskan kakaknya pada Irham? Mawar
Siapa yang harus menanggung sikap dingin Irham pada Bunga? Mawar
Siapa yang bertanggung jawab atas tatapan kesedihan Bunga tiap menunggu Irham pulang? Mawar
Siapa penyebab renggangnya hubungan Irham dan Bunga? Mawar
Siapa yang patut disalahkan atas waktu yang tidak pernah diberikan Irham pada Bunga? Mawar
Mawar adalah jawabannya. Mawar adalah dalang di balik semua ini. Dan yang pasti Mawar adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas kerikil tajam dalam rumah tangga kakaknya.
"Mawar.... Dia bukan simpanan... Dia istriku... Istri sahku... Istri pertamaku."
Kata itu terus berulang seperti sengaja di putar di telinga Raka. Membuat kepala Raka pusing.
Tubuh Raka mulai menggigil. Tapi bagaimana mungkin sosok yang kini tengah memeluk gundukan tanah itu seolah mati rasa. Apa ia tidak merasakan angin dingin yang menusuk tulang ataupun cipratan air yang membuat kulitnya membeku.
"Aku nggak bisa tanpa kamu." Raka bisa mendengar suara gadis itu bergetar. Entah sudah kalimat ke berapa ribu, yang jelas Mawar tidak bosan menggumamkan bagaimana ia mencintai Irham dan tidak bisa hidup tanpa pria itu. Membuat Dahi Raka berkerut dalam. Sebegitu cintanyakah?
Raka menggeleng pelan. Mawar hanya merasa kehilangan sosok yang selalu menyuplai kebutuhannya. Tidak ada yang sanggup menandingi cinta Bunga pada Irham. Hanya Bunga, kakaknya.
"Dia nggak akan bangun sekalipun lo nangis darah." kata-kata itu sekali lagi menyadarkan Mawar bahwa ia tidak sendiri. Ada Raka yang masih berdiri di sampingnya.
"Gue cuma mau di sini." Mawar makin erat menyerukkan tangannya ke tanah. Membuat kemeja hitam panjangnya berlumuran tanah.
"Gue nggak mau dua kali jadi saksi mata kematian." Mawar mendongkak. Menatap sepasang iris mata Raka yang tampak dingin. Mawar bangun perlahan. Mengibaskan tanah yang sudah menempel di kemeja dan celananya.
Pandangan mereka bertemu, Raka menyadari bahwa mata Mawar merah dan membengkak. Gadis itu menarik nafas panjang lalu mengusap sisa air mata di pipinya.
"Makasih udah bolehin gue ke sini. Makasih karena lo nggak ngusir gue." Air mata Mawar kembali lolos dan ia berjalan meninggalkan Raka yang masih terpaku di tempat. Raka berbalik, melihat siluet Mawar keluar dari area pemakaman. Menembus hujan yang semakin deras.
***
Mawar terpaku mendengar bel di pintu apartemennya. Ia melirik jam dindingnya. Tepat seperti biasa. "Irham." katanya sambil berlari ke pintu dan terkejut melihat Raka yang berdiri di depan apartemennya. Hatinya mencelos seketika. Bodohnya, bagaimana mungkin ia bisa berpikir bahwa Irham yang memencet bel padahal pria itu sudah tenang di surga. Sudah empat hari sejak kematian Irham, Mawar masih berada di antara alam sadarnya.
Sore, terkadang ia masih mengharap Irham datang tapi setelah melihat waktu bergulir dan tak juga mendatangkan sosok Irham, saat itulah ia benar-benar sadar bahwa Irham sudah meninggalkannya.
"Ada apa?" tanyanya lemah. Ia tidak peduli lagi pada Raka. Ia tidak peduli kalau laki-laki itu mau menghinanya. Ia bahkan rela jika Raka membalas dendam sakit hati Bunga dengan membunuhnya kalau saja hal itu bisa mempertemukannya dengan Irham. Pria yang dicintainya.
"Kita perlu bicara." kata Raka. Ia tahu ia datang di saat yang tidak tepat karena melihat keadaan Mawar yang acak-acakan. Wajahnya kuyu dengan lingkar mata yang menghitam ditambah kantung mata yang membuatnya semakin tidak terurus. Ia bahkan tidak tahu sudah berapa hari gadis itu tidak membersihkan diri.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan." kata Mawar datar. Kematian Irham berhasil membawa setengah jiwa Mawar.
"Ada." kata Raka sambil menerobos masuk dan tertegun melihat apartemen Mawar. Bukan kemewahan yang menyita perhatiannya. Tapi ada puluhan foto Irham dan Mawar yang tertempel di dinding, di frame-frame di atas meja. Foto Mawar dan Irham dalam berbagai kesempatan.
Delapan buah album foto tergeletak di meja dan sofa ruang tamu. Apartemen itu penuh dengan jejak kenangan Irham dan Mawar.
Raka menarik napas panjang lalu duduk di sofa. Mengambil salah satu album foto yang ada di atas meja. Foto Irham dan Mawar hanya foto sederhana. Bukan foto dengan latar belakang tempat liburan ataupun kafe mahal. Foto itu diambil di dalam apartemen Mawar. Salah satu foto berhasil menyita perhatiannya. Foto Irham dan Mawar yang masih berseragam SMA dan tanggal yang tercetak di pojok kanan bawah lembar foto itu membuat matanya membulat.
15 Juli 2009
Enam tahun yang lalu. Sudah selama itu? Betapa pintar Irham menyembunyikan rahasianya.
***
Mawar masih diam saat ia duduk di depan Raka yang juga terdiam. Bingung mau memulai dari mana. Yang jelas Raka harus tau sudah sejak kapan hubungan Mawar dengan Irham.
"Kalau lo dateng ke sini buat menghina gue. Maaf tapi gue masih dalam keadaan berduka." Mawar menunduk, mengambil satu album foto itu dan mengusap pelan wajah Irham. "Sejak kapan lo kenal mas Irham?" tanya Raka. Ia sudah tidak tahan berdiam diri.
"Tujuh tahun, mungkin. Entahlah, sepertinya sudah lama sekali." katanya terbata-bata. Mawar menekuk kakinya dan memeluknya, membuat Raka mendesah pelan. Menyadari bahwa ia berada dalam situasi yang tidak tepat.
Suara denting pesan menggema. Membuat Mawar terjaga dan langsung menyambar ponselnya di atas meja. Ia kembali menunduk saat menyadari bahwa bunyi itu bukan berasal dari ponselnya. Jam segini biasanya Irham akan mengiriminya pesan hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanya, sedang apa atau perhatian-perhatian kecil lainnya.
Raka merogoh ponselnya saat menyadari bunyi itu berasal dari ponselnya. Menemukan sebuah pesan di sana. Mengabaikan pesan itu, Raka menatap Mawar yang nampak belum sepenuhnya menerima bahwa Irham sudah tidak ada.
"Mawar." katanya. Wanita itu bergeming. Masih memeluk lututnya dengan posesif.
Raka menelan ludah lalu memberanikan diri duduk di samping Mawar. "Mawar." katanya lebih keras tapi suaranya terdengar seperti hembusan angin di telinga Mawar.
"Lo harus jelasin semuanya sama gue." kata Raka dan memang itu tujuan ia menginjakkan kaki di tempat ini.
"Irham." Mawar melirih. Raka masih menatapnya dengan tatapan bingung lalu menyentuh bahu Mawar. Gadis itu tersentak dan langsung menoleh ke sebelah. Menatap Raka dengan tatapan sulit di artikan. "Irham." katanya lagi lalu bergerak memeluk Raka. Raka terkejut, tapi ia hanya diam saat merasakan pelukan Mawar semakin mengerat. Gadis itu diam, hanya memeluk Raka. Mencari kehangatan yang biasanya ia dapatkan dari Irham hingga akhirnya ia memejamkan matanya dan tertidur.
Raka terpaksa menggendong Mawar yang sudah pulas ke satu-satunya kamar yang ada di sana. Kamar itu luas dan di dominasi warna pastel yang menyejukkan. Perlahan ia menjatuhkan tubuh Mawar dan menidurkannya di ranjang. Ia menatap sekeliling. Foto-foto Irham terhampar hampir di setiap sudut dan yang paling membuatnya ternganga ada foto Irham dan Mawar yang di cetak dengan ukuran besar. Terpampang di dinding dengan senyum sumringah, tidak hanya itu, mereka berdua tengah memegang buku nikah di tangan masing-masing. Irham memakai stelan jas lengkap dengan kopiah sedangkan Mawar tampak cantik dengan kebaya sederhana. Raka mencoba menelaah senyum mereka. Senyum Bahagia, sangat bahagia. Walaupun ia bukan mahasiswa psikologi, ia masih bisa membedakan antara cinta dan tidak. Ia bisa membedakan senyum Irham yang tercetak di tiap foto bersama Mawar dengan senyum yang ia berikan untuk Bunga, istrinya. Senyum itu berbeda. Membuat hatinya tiba-tiba terasa sakit.
Matanya menyapu ruangan itu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sudah di lakukan Irham dan Mawar di kamar ini. Membuat tangannya terkepal secara refleks. Bayangan bagaimana tatapan cemas Bunga setiap menanti Irham menguasainya. Berkeliling mesra di otaknya.
Ia mendekat ke meja belajar dan menyalakan laptop yang bertengger di sana. Lagi-lagi foto Irham dan Mawar menghiasi dekstop background. Dengan lancang ia membuka menu my picture dan hatinya terasa di hantam batu begitu keras. Di sana, ia melihat lebih banyak foto Mawar dan Irham. Tidak sanggup lagi, ia menutup laptop itu dan membaca beberapa post it yang tertempel di meja itu.
-Mawar harus rajin belajar ya.-
-Mawar nggak sendiri. Ada aku yang akan selalu ada buat kamu.-
-Selamat sayang atas kelulusannya.-
-Besok aku beli kaset DVD film terbaru biar kamu tetep update.-
-Layaknya mawar putih yang tidak akan pernah bisa menjadi mawar merah. Kamu tidak butuh menjadi orang lain untuk di cintai.-
Dan catatan-catatan kecil lainnya yang di tulis Irham untuk Mawar. Raka menelan ludah. Menyadari bahwa Mawar mungkin benar-benar kehilangan Irham. Tidak kuat dengan sebagian kebenaran yang berputar di otaknya. Ia memutuskan untuk keluar dari apartemen itu dan memutuskan akan kembali lain kali.
***
"Siapa bilang kamu nggak punya alasan untuk hidup?" Irham menatap Mawar yang terdiam kaku. "Kamu harus inget kalau kamu punya aku. Kamu Mawarku dan kamu harus hidup supaya bisa terus sama aku." Irham mengelus rambut Mawar sambil tersenyum. "Kamu tau kalau Untuk benar-benar menjadi besar, seseorang harus berdampingan dengan orang lain, bukan di atas orang lain." Mawar mendongkak. Menatap bola mata bening milik Irham. "Kamu tau kalau aku ingin jadi besar dan aku butuh kamu. Kalau kamu nggak butuh aku nggak apa-apa. Tapi kamu harus ingat kalau aku butuh kamu. Apa itu cukup buat jadi alasan kamu untuk tetap bertahan hidup?" kebekuan hati Mawar mencair dan ia memberanikan diri memeluk Irham.
Sekelebat bayang-bayang itu menyusup masuk ke pikiran Mawar. Kalau dulu Ia bertahan hidup untuk Irham dan Irham bertahan hidup untuknya. Apa sekarang ia masih punya alasan untuk hidup?
Hujan turun hampir setiap hari. Langit seakan tahu kalau Mawar masih menginginkan kehadiran Irham. Tetesan hujan yang membasahi bumi seperti bukti alam kalau Mawar masih sangat berduka. Sampai detik ini.
Ia menatap tetesan hujan yang membasahi kaca kafe tempatnya merenung. Berharap tiap tetesan hujan itu menghantar rindunya pada Irham. Masih begitu sulit menerima kenyataan yang bahkan sudah terpampang nyata di depannya.
Mawar menarik napas panjang. Mencoba menahan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu tau kalau hujan adalah penghantar rindu paling mujarab." Irham mengeratkan pelukannya pada Mawar. "Ada orang yang percaya kalau tiap hujan turun, tetesan itu menghantarkan pesan rindu dari orang yang ia sayang." Irham melanjutkan. "Jadi percayalah, saat aku nggak ada di samping kamu dan saat itu turun hujan. Tuhan sedang menyampaikan rinduku padamu."
Mawar terlalu lemah. Air mata itu jatuh juga. Seperti air yang meresap dalam tanah. Hujan pesan rindu yang disampaikan Irham sudah sampai ke hatinya. Menyesap begitu dalam.
Mawar sudah lama tidak merasakan kehilangan orang yang disayanginya. Dan ternyata rasanya masih sama. Begitu perih dan menyakitkan. Lebih sakit dari kulitnya yang beradu dengan dinginnya belati dan bahkan lebih perih dari luka luar yang di teteskan jeruk nipis. Mawar bersumpah dari semua kesakitan masa lalunya, ini jauh lebih sakit. Berpuluh-puluh kali lipat lebih sakit dan Mawar tau bahwa obat yang berhasil menyembuhkan luka lamanya telah tiada.
Dan sekarang, ia harus meminta penawar luka ini pada siapa?
"Aku tidak sanggup tuhan." lirihnya sambil menyeka air matanya dengan tisu. Tidak peduli beberapa pasang mata secara terang-terangan menatapnya.
Memandangnya dengan bingung dan kasihan. Tapi Mawar tidak peduli. Ia hanya ingin menatap pesan rindu yang dikirimkan Irham lewat hujan.
No comments:
Post a Comment