Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Ruangan kantor itu semakin sepi. Beberapa karyawan berangsur-angsur menjejalkan jarinya ke mesin absen. Ibam masih di tempatnya. Terlihat masih sibuk dengan berkas-berkas perijinan di depannya. Ia membolak-balik lembar demi lembar itu lalu mengetikkan sesuatu pada komputernya.
"Belum pulang?" Ivi menaruh segelas kopi di atas meja Ibam. "Makasih." jawabnya sambil menyingkirkan beberapa dokumen sebelum menyesap pelan kopinya. "Belum, sebentar lagi. Mau email ke Eka dulu abis itu baru pulang. Kamu sendiri?" katanya pelan lalu melihat ke sekitar. Memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Ivi melirik ke arah ruang meeting tak jauh dari tempatnya duduk. "Belum selesai." jawabnya pelan. "Jangan pulang malem-malem. Kamu bawa mobil? Atau mau bareng aku?" Tanya Ibam dengan suara pelan.
"Nggak usah, aku bawa mobil kok." Ivi menyandarkan punggungnya di kursi. "Pokoknya awas aja kalo kamu pulang bareng Adam." Ibam melotot, membuat Ivi tertawa ringan. "Kamu cemburu?" tanyanya. "Ya kamu pikir aja sendiri."
***
Ivi terperajat saat membuka mata dan menemukan jam sudah menjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Ia berteriak lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor Ibam. "Bam, aku kesiangan, kamu jemput aku ya. Titik. Bye." katanya tanpa memberikan kesempatan orang di ujung sambungan untuk berbicara sama sekali.
Ia melangkah cepat menuju kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian "Mama kenapa nggak bangunin Ivi?" katanya pada mamanya yang sedang menyiapkan sarapan. "Mama tadi udah gedor-gedor kamar kamu. Tapi kamunya nggak bangun-bangun juga." Ivi duduk di tempat biasa sambil merengut kesal lalu mengutak-atik ponselnya. "Makannya kamar itu nggak usah di kunci." katanya lagi. Ia mengunyah selembar roti tanpa selai lalu menenguk susu hangatnya cepat.
"Pelan-pelan Vi, nanti keselek." Ivi menoleh. Mendapati Ibam sudah ada di ambang pintu ruang makannya. "Pagi mah." katanya pada Silvia, Mama Ivi. "Pagi nak Ibam, ayo sini sarapan dulu."
"Nggak usah mah, Ibam udah sarapan kok di rumah." katanya mendekat lalu mengusap pucuk kepala Ivi. "Makannya jangan pulang malem-malem. Kesiangan kan." katanya pada Ivi yang masih berjuang menelan lembar kedua rotinya.
"Udah yuk Bam, ntar telat lagi. Ivi duluan Mah." katanya setelah mencium punggung telapak tangan mamanya dan menarik paksa tangan Ibam. "Kan aku udah bilang kalo bareng sama aku itu jangan pake rok." Ibam memperhatikan Ivi yang tampak repot naik ke motornya karena rok pendek ketatnya. Ia membuka jaketnya dan memberikannya pada gadis di belakangnya, menyuruh Ivi menutupi pahanya yang tersingkap. "Udah nggak sempet pilih-pilih baju Ibam." katanya setelah berhasil mendudukkan diri di jok belakang motor matik Ibam. "Oke Sip. Ayo berangkat."
***
Ibam sampai di kantor beberapa menit setelah Ivi. Ia melihat ruangannya yang mulai ramai dan melirik Ivi yang tengah berbicara dengan salah satu anak buahnya di ujung ruangan. Rajin banget. Bukannya nafas dulu udah langsung kerja aja. katanya dalam hati lalu duduk di tempatnya dan menyalakan komputernya.
"Ibam, mau teh nggak? Gue mau bikin nih. Kalau mau gue bikinin sekalian." Lisa, salah satu staf akunting berteriak pada Ibam. "Boleh Lis, aduh lo emang baik banget deh." katanya sambil tersenyum pada Lisa yang kursinya hanya beberapa blok dari tempat duduknya. Ivi melirik sebal pada Lisa yang sudah pergi menuju Pantry. Lalu pandangannya jatuh pada Ibam yang mengangkat bahu dengan tidak ketara.
"Jadi gimana mbak?" suara Iren membuat fokus Ivi kembali terpusat. Ia kembali ke urusannya. Menjelaskan maksudnya pada Iren lalu kembali ke ruangannya.
Ibam : makan siang dimana?
Ivi melirik jam di mejanya . Jam 11.06.
Ivi : belum tau. Ada usul?
Ibam : Aku sama anak-anak mau ke mall sebelah.
Ivi : siapa aja?
Ibam : Fery, Afran, Lisa, Iren, sama Dito
Ivi mendadak sebal melihat nama Lisa ada dilayarnya. Lalu mengetikkan jarinya kembali.
Ivi : Nggak usah deh, aku sama Pipit ke belakang aja.
Ibam : Oke.
"Vi, mau makan di mana? Ibam ngajak makan di mall sebelah." Pipit, salah satu sahabat baik Ivi masuk keruangannya. Ia yang sedang menatap serius komputernya mendongkak. Melihat Pipit yang sudah duduk di kursi di depannya tanpa disuruh. "Kita ke belakang aja deh Pit." jawabnya sambil membereskan mejanya lalu mengambil dompet di tasnya.
"Bam, gue nggak jadi ikut. Ivi mau ke belakang aja." katanya pada Ibam saat keluar dari ruangan Ivi, Ruangan mereka ada di lantai lima, berisi bagian keuangan, Akunting dan Legal. "Oh, yaudah titip Ivi ya Pit." katanya sambil tertawa. Bukan hal yang baru bila Ibam, laki-laki tampan yang terkenal humoris di seantero kantor melontarkan candaan untuk menggoda teman rekan kerjanya. Biasanya Ivi akan biasa aja kalau saja yang digoda bukan Lisa.
"Makan di mana Vi?" mereka menoleh ke asal suara. Adam, Manager Akunting baru saja keluar pintu. "Ke Mall sebelah aja yuk Dam, sekalian cuci mata." Ibam menyahut sebelum Ivi sempat menjawab. "Gue nanya Ivi, buka elo Bam." katanya lalu menghampiri. "Ke belakang." jawabnya pelan. "Udah ikut kita aja Dam, nggak bosen apa ke belakang mulu. Sekali-kali makan sekalian cuci mata. Kali aja ada yang nyangkut." Ibam menghampiri Adam lalu menarik paksa tangannya. Membuat Ivi dan yang lainnya melirik bingung.
"Gue ikut Ivi sama Pipit ke belakang aja." katanya setelah mereka keluar dari lift. "Ih jangan, udah ikut kita aja kenapa sih." katanya kekeuh. Membuat yang lain tertawa. "Lo nggak homo kan Bam." celetuk Fery. Membuat pria itu melotot garang.
"Ibam lucu banget ya Vi." kata Pipit saat mereka berdua duduk disalah satu tempat makan langganan mereka. Misi Ibam memang berhasil untuk membawa serta Adam dalam rombongan makan siangnya atau yang lebih tepat adalah tidak membiarkan Adam dan Ivi makan siang bareng.
"Biasa aja." jawabnya pendek.

No comments:
Post a Comment