buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI
Showing posts with label Elegi. Show all posts
Showing posts with label Elegi. Show all posts

Monday, 21 March 2016

ELEGI (DUA)

Terkadang Cinta tidak hanya butuh pengakuan, tapi juga pembuktian
 "Bam, menurut lo Ivi gimana?" Fery berbisik pada Ibam lalu melirik Ivi yang sedang membicaraan pekerjaan dengan Adam di meja Iren. "Gimana apanya?" tanyanya balik, berusaha tak acuh walau ekor matanya terus menangkap gerik-gerik Ivi.
"Muda, cantik, mapan, jomblo lagi." kata Fery dengan semangat. "Jutek." Ibam berkata tegas lalu kembali membolak-balik surat di depannya. "Tapi kalo dia sama Adam cocok juga ya bro." Fery kembali melirik ke arah Ivi yang tengah jalan berdampingan dengan Adam menuju ruang meeting kecil yang ada di sana. "Nggak cocok. Cocokan sama gue." katanya sambil tertawa membuat sebuah gulungan kertas mengenai kepalanya.
Ibam: Jangan terlalu deket sama Adam.
Ivi membuka pesan itu di tengah-tengah meeting dan sukses membuat dahinya berkerut dalam.
Ivi : kenapa?
Ibam : kamu makin keliatan cocok kalo keseringan deket sama dia.
Ivi tersenyum. Menyadari bahwa isi sms Ibam itu seperti berbunyi 'aku cemburu sama dia.'
Kalau dilihat Adam yang menjabat sebagai Manager Akunting memang begitu cocok jika disandingnkan dengan Vivian Wijaksana yang juga menjabat sebagai Manager keuangan di umurnya yang masih dua puluh lima tahun. Kombinasi tampan dan mapan harusnya membuat keduanya menjadi pasangan yang sempurna.
Ivi keluar dari ruang meeting jam tiga lewat lalu menghampiri meja Lisa. "Lis, saya minta dokumen ini ya. Saya udah bilang sama Pak Adam. Minta tolong besok sebelum jam makan siang kamu kasih ke saya." katanya pada Lisa yang langsung mengangguk. "Siap mbak." jawabnya lalu menghampiri Fery. "Fer, Dokumen yang waktu itu di minta urgent sama pak Arsan udah di selesaikan belum. Udah mau diproses nih?" Ivi menyanggah tangannya di partisi meja Fery. "Oh, itu sama Ibam Vi." katanya sambil menoleh ke arah Ibam yang nampak cuek. "Ibam, mana dokumennya?" kata Ivi, kini ia mendekati Ibam. "Dokumen yang mana?" tanya Ibam. "Itu yang kemarin lo urus. Dokumen perizinannya juga sama elo kan?"
"Oh yang itu." Ibam berdiri. Membuka lemarinya dan mengambil satu map putih. "Ini itu dokumen urgent. Saya kena omel sama pak Arsan karena dikira belum jalanin." Ivi menatap Ibam yang menujukkan wajah tanpa dosa. "Baru clear kemarin malem kok. Emang dikira ini dokumen nggak pake di cek dulu." katanya lalu kembali duduk di kursinya. Membuat Fery geleng-geleng kepala. "Kalau di omelin pak Arsan. Bilang suruh ngomong sama saya." kata Ibam enteng. Ivi menggeram kesal. Bener-bener hari sialnya. Dateng mepet, diburu kerjaan, diomelin sana-sini. "Pit, tolong proses ini ya." katanya pada Pipit lalu kembali ke ruangannya.
Ibam : ntar jangan lembur lagi. Pulang jam lima bareng aku.
Ivi : nggak bisa jawab sekarang. Lagi ngerjain laporan buat pak Arsan.
Ibam : harus
Ivi menaruh ponselnya tanpa membalas. Ia sadar bahwa percuma berdebat dengan Ibam. Hanya membuang-buang waktu karena tau Ibam begitu keras kepala dan tidak mau mengalah padanya sedikitpun. Lebih baik waktu yang akan digunakan untuk berdebat ia gunakan utuk mengerjakan laporan yang diminta Pak Arsan, Direktur keuangannya agar cepet selesai.
Ibam melirik ke ruangan Ivi yang masih tenang. Sepertinya belum ada tanda-tanda orang di dalam mau keluar padahal sudah lewat setengah jam dari jam pulang. "Ayo balik Bam." Fery menepuk pundak Ibam sambil menyanggah ranselnya. "Duluan deh, gue bentar lagi." katanya.
"Ibam ayo pulang. Gue nebeng yah." kata Lisa tepat saat Ivi keluar dari ruangannya. "Eh mbak Ivi. Pulang duluan mbak." katanya ramah pada Ivi yang masih berdiri di depan pintu ruangannya. "Ayo Bam. Gue nebeng boleh kan?"
"Gue belum mau pulang Lis. Lo duluan aja."
"Terus lo balik jam berapa? Kalo nggak lama gue tungguin aja." katanya sambil berjalan menghampiri Ibam. Tidak menyadari bahwa Ivi masih berdiri di sana memperhatikan. "Lama pokoknya. Udah lo duluan aja." katanya, membuat Lisa merengut. "Yaudah gue duluan kalo gitu." Lisa beranjak keluar dari ruangan.
"Belum mau pulang?" tanya Ibam pelan saat berjalan menghampiri Ivi karena melihat Ivi masih membawa sebuah map dan bukan tas. "Mau kasih laporan ke Pak Arsan dulu." jawabnya sambil berjalan keluar ruangan masih dengan nada berbisik. "Ngasih laporan doang tapi bisa ampe berjam-jam. Susah kalo jadi anak buah kesayangan mah." tanpa menoleh Ibam berbelok ke toilet sedangkan Ivi naek ke lantai atas.
Dugaan Ibam benar. Ivi tertahan hampir satu jam padahal niatnya hanya kasih laporan yang diminta Pak Arsan. Ia mulai bosan saat atasannya itu masih saja memberondongnya dengan pertanyaan-pertannyaan mengenai laporan itu. Baca dulu kek pak laporannya, baru kalo ada yang nggak jelas tanya. Percuma saya kasih hard copy sama soft copy kalo ujung-ujungnya saya kudu presentasi gini. runtuknya dalam hati.
Saat kembali ke ruangannya ia melihat meja Ibam sudah rapi. Komputernya juga sudah dimatikan.
Ivi : udah pulang?
Ibam : udah selesai?
Kebiasaan. Ditanya malah balik nanya. Kata Ivi dalam hati
Ivi : udah
Ibam : aku di coffe shop biasa. Aku tunggu di depan lima menit lagi.
Ivi bergegas membereskan barang-barangnya lalu keluar dari ruangannya. "Mau pulang Vi?" Ivi berhenti lalu berbalik, melihat Adam yang baru saja turun dari tangga. "Iya nih, gue duluan ya." katanya sambil masuk ke dalam lift.
Ia perlu melewati tiga gedung kantor untuk bisa melihat motor Ibam menepi di depan sebuah coffe shop. "bener kan? Ngasih laporan aja berjam-jam." katanya sambil menyerahkan helm ke arah Ivi. "Kamu tau banget sih." Ivi balik meledek. Lalu duduk di belakang Ibam.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan kala Ibam dan Ivi terduduk di taman belakang rumah Ivi. "Maaf ya tadi aku sinis sama kamu." kata Ibam sambil merangkul pundak Ivi. "kamu emang selalu menyebelin kalo di kantor." Ivi mengerucutkan bibirnya. "Aku kena semprot sama Pak Arsan karena dikira belum jalanin itu dokumen." Ivi merebahkan kepalannya di bahu Ibam. Mencari kenyamanan disana. "Dokumen itu baru selesai aku cek tadi malem. Lain kali kalo emang kamu nggak salah jangan mau diomelin. Suruh dia ngomong langsung sama yang bersangkutan."
"Kamu kayak nggak kenal Pak Arsan aja sih Bam. Udahlah, males banget ngomongin kerjaan."
Ibam tertawa lalu merengkuh tubuh Ivi lebih erat. "Jadi gimana? Belum mau ngalah?" tanya Ibam
"kamu yang harus ngalah Bam." sungutnya jengkel.
"besok mau bareng aku atau bawa mobil?" Ibam melepas pelukannya, bersiap pulang. "Bawa mobil aja. Kalo bareng kamu pulangnya di buru-buru terus."
"Biar nggak bareng sama aku kamu tetep nggak boleh pulang malem. Jaga kesehatan kamu Vi." katanya sambil mencubit pipi Ivi gemas. "iya bawel."
***
"Ivi sehat Bam, kok jarang maen sih?" Ibam yang sedang sarapan melihat ibunya yang tengah sibuk mengaduk-aduk tehnya. "Sehat. Lagi sibuk baget bun, ntar klo sempet aku ajak kesini deh."
"Terus kamu kapan mau ada kemajuan sama Ivi?" kali ini ayahnya menimpali
"Nanti yah, ini juga udah lagi di pikirin kok."
Setelah menyelesaikan sarapannya Ibam manuju garasi untuk mengambil motornya. Kondisi Jakarta yang macetnya nggak ketulungan ngebuat Ibam lebih memilih motor maticnya daripada mobil. Alasannya cuma satu karena butuh waktu tiga kali lebih banyak jika ia memutuskan untuk membawa benda beroda empat itu.
Suasana kantor pagi ini terasa beda bagi Ibam. Entahlah, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. "Ada apa sih?" tanya Ibam pada Fery saat menyadari hampir semua pasang mata karyawan disana menatap satu pintu. Pintu ruangan Ivi.
"Ada anak magang baru. Anaknya Pak Arsan. Jadi bagian keuangan. Satu ruangan sama Ivi." jawabnya penuh semangat. "Cuma itu?"
"Lo belum liat tampang anaknya Pak Arsan. Ganteng Bam. Anak-anak udah yakin banget kalo Ivi bakal nyangkut sama tuh cowok."
"HAH?" Ibam secara tidak sadar mengucapkan itu keras-keras. Membuat Fery heran. "Lebay lo, biasa aja. Tampangnya nggak ada mirip-miripnya sama pak Arsan. Ini asli kayak anak pungut."
Ibam bergerak gelisan dimejanya. Matanya diam-diam melirik pintu ruangan Ivi. Berharap pintu itu terbuka dan menujukkan sosok anak baru yang sedang menjadi hits di seantero kantornya.
Ivi termangu di mejanya. Merasa risih karena sedari tadi Erga terus menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit diartikan. "Papa sering cerita banyak tentang mbak Ivi. Katanya mbak orang kepercayaan papa." Erga entah sudah berapa puluh kali membuyarkan konsetrasi Ivi karena selalu bertanya atau lebih tepatnya curhat masalah nggak penting kaya gini. Membuat Ivi tidak tau harus menanggapinya seperti apa.
"Mbak Ivi hebat ya. Baru umur dua lima udah bisa jadi manager disini."
"Panggil Ivi aja. Nggak usah terlalu kaku. Semua yang ada disini nggak terlalu formal kok kalo nggak terpaut umur jauh. Lo dua tiga kan? Dulu gue kuliah sambil kerja. Ya kira-kira udah tujuh tahunan. Dan kebetulan udah dari awal jadi anak buahnya pak Arsan."
Ivi melirik Erga yang mengangguk-angguk lalu kembali terfokus ke komputernya.
Ibam : Ada anak magang di ruangan kamu?
Ivi : Iya, Anaknya pak Arsan
Ibam : Kamu jangan terlalu deket sama dia.
Ivi : Kenapa?
Ibam : cewek disini banyak yang naksir. Takut kamu di keroyok. Udah deket sama Adam deket sama dia juga. Kasih kesempatan buat yang lain.
Ivi : Cemburu?
Ibam : Nggak lah, kamu kan nggak mungkin bisa lepas dari aku.
Ibam tidak tau kalau yang disebut Erga itu adalah pria tinggi atletis dengan wajah yang bisa dibilang ganteng pake banget. Ia menelan ludah saat melihat Erga dan Ivi keluar dari ruangan untuk makan siang. "Makan dimana Vi?" Pipit mendekat sementara Ivi sadar bahwa banyak pasang mata kini menatapnya atau lebih tepatnya menatap Erga yang ada disampingnya. "belum tau." Ivi melihat Ibam sekilas. "Makan dimana Bam?" tanyanya. Ia mendongkak, memutar matanya lalu berkata. "Soto ayam dibelakang aja yuk." Ibam mendekati Ivi lalu melirik Erga sekilas. "Ibam." katanya sambil mengulurkan sebelah tangannya. "Eh? Erga." Erga menjabat mantap uluran tangan Ibam.
***
"Bener anaknya pak Arsan?" tanya Ibam saat ia dan enam rekan kerjanya yang lain termasuk Ivi dan Erga selesai menyantap makan siangnya. Pria berumur dua puluh tiga tahun itu mengangguk. "Kok nggak mirip Pak Arsan ya?" tanyanya sambil tertawa kecil, membuat yang lain ikut tertawa. Alih-alih merasa tersinggung Erga justru ikut terkekeh ringan. "Banyak nurun dari nyokap kalo muka sih."
Acara singkat makan siang membuat Ibam langsung bisa menyimpulkan bahwa Erga memang punya rasa yang lebih sama Ivi. Ibam bisa melihat dari caranya menatap Ivi ataupun berbicara pada wanita itu. Fix, Erga naksir sama Ivi.

Wednesday, 16 March 2016

ELEGI (SATU)

Terkadang, Aku hanya tidak tau bagaimana harus bilang bahwa aku menyayangimu lebih dari apapun

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Ruangan kantor itu semakin sepi. Beberapa karyawan berangsur-angsur menjejalkan jarinya ke mesin absen. Ibam masih di tempatnya. Terlihat masih sibuk dengan berkas-berkas perijinan di depannya. Ia membolak-balik lembar demi lembar itu lalu mengetikkan sesuatu pada komputernya.

"Belum pulang?" Ivi menaruh segelas kopi di atas meja Ibam. "Makasih." jawabnya sambil menyingkirkan beberapa dokumen sebelum menyesap pelan kopinya. "Belum, sebentar lagi. Mau email ke Eka dulu abis itu baru pulang. Kamu sendiri?" katanya pelan lalu melihat ke sekitar. Memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Ivi melirik ke arah ruang meeting tak jauh dari tempatnya duduk. "Belum selesai." jawabnya pelan. "Jangan pulang malem-malem. Kamu bawa mobil? Atau mau bareng aku?" Tanya Ibam dengan suara pelan.
"Nggak usah, aku bawa mobil kok." Ivi menyandarkan punggungnya di kursi. "Pokoknya awas aja kalo kamu pulang bareng Adam." Ibam melotot, membuat Ivi tertawa ringan. "Kamu cemburu?" tanyanya. "Ya kamu pikir aja sendiri."
***
Ivi terperajat saat membuka mata dan menemukan jam sudah menjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Ia berteriak lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor Ibam. "Bam, aku kesiangan, kamu jemput aku ya. Titik. Bye." katanya tanpa memberikan kesempatan orang di ujung sambungan untuk berbicara sama sekali.
Ia melangkah cepat menuju kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian "Mama kenapa nggak bangunin Ivi?" katanya pada mamanya yang sedang menyiapkan sarapan. "Mama tadi udah gedor-gedor kamar kamu. Tapi kamunya nggak bangun-bangun juga." Ivi duduk di tempat biasa sambil merengut kesal lalu mengutak-atik ponselnya. "Makannya kamar itu nggak usah di kunci." katanya lagi. Ia mengunyah selembar roti tanpa selai lalu menenguk susu hangatnya cepat.
"Pelan-pelan Vi, nanti keselek." Ivi menoleh. Mendapati Ibam sudah ada di ambang pintu ruang makannya. "Pagi mah." katanya pada Silvia, Mama Ivi. "Pagi nak Ibam, ayo sini sarapan dulu."
"Nggak usah mah, Ibam udah sarapan kok di rumah." katanya mendekat lalu mengusap pucuk kepala Ivi. "Makannya jangan pulang malem-malem. Kesiangan kan." katanya pada Ivi yang masih berjuang menelan lembar kedua rotinya.
"Udah yuk Bam, ntar telat lagi. Ivi duluan Mah." katanya setelah mencium punggung telapak tangan mamanya dan menarik paksa tangan Ibam. "Kan aku udah bilang kalo bareng sama aku itu jangan pake rok." Ibam memperhatikan Ivi yang tampak repot naik ke motornya karena rok pendek ketatnya. Ia membuka jaketnya dan memberikannya pada gadis di belakangnya, menyuruh Ivi menutupi pahanya yang tersingkap. "Udah nggak sempet pilih-pilih baju Ibam." katanya setelah berhasil mendudukkan diri di jok belakang motor matik Ibam. "Oke Sip. Ayo berangkat."
***
Ibam sampai di kantor beberapa menit setelah Ivi. Ia melihat ruangannya yang mulai ramai dan melirik Ivi yang tengah berbicara dengan salah satu anak buahnya di ujung ruangan. Rajin banget. Bukannya nafas dulu udah langsung kerja aja. katanya dalam hati lalu duduk di tempatnya dan menyalakan komputernya.
"Ibam, mau teh nggak? Gue mau bikin nih. Kalau mau gue bikinin sekalian." Lisa, salah satu staf akunting berteriak pada Ibam. "Boleh Lis, aduh lo emang baik banget deh." katanya sambil tersenyum pada Lisa yang kursinya hanya beberapa blok dari tempat duduknya. Ivi melirik sebal pada Lisa yang sudah pergi menuju Pantry. Lalu pandangannya jatuh pada Ibam yang mengangkat bahu dengan tidak ketara.
"Jadi gimana mbak?" suara Iren membuat fokus Ivi kembali terpusat. Ia kembali ke urusannya. Menjelaskan maksudnya pada Iren lalu kembali ke ruangannya.
Ibam : makan siang dimana?
Ivi melirik jam di mejanya . Jam 11.06.
Ivi : belum tau. Ada usul?
Ibam : Aku sama anak-anak mau ke mall sebelah.
Ivi : siapa aja?
Ibam : Fery, Afran, Lisa, Iren, sama Dito
Ivi mendadak sebal melihat nama Lisa ada dilayarnya. Lalu mengetikkan jarinya kembali.
Ivi : Nggak usah deh, aku sama Pipit ke belakang aja.
Ibam : Oke.
"Vi, mau makan di mana? Ibam ngajak makan di mall sebelah." Pipit, salah satu sahabat baik Ivi masuk keruangannya. Ia yang sedang menatap serius komputernya mendongkak. Melihat Pipit yang sudah duduk di kursi di depannya tanpa disuruh. "Kita ke belakang aja deh Pit." jawabnya sambil membereskan mejanya lalu mengambil dompet di tasnya.
"Bam, gue nggak jadi ikut. Ivi mau ke belakang aja." katanya pada Ibam saat keluar dari ruangan Ivi, Ruangan mereka ada di lantai lima, berisi bagian keuangan, Akunting dan Legal. "Oh, yaudah titip Ivi ya Pit." katanya sambil tertawa. Bukan hal yang baru bila Ibam, laki-laki tampan yang terkenal humoris di seantero kantor melontarkan candaan untuk menggoda teman rekan kerjanya. Biasanya Ivi akan biasa aja kalau saja yang digoda bukan Lisa.
"Makan di mana Vi?" mereka menoleh ke asal suara. Adam, Manager Akunting baru saja keluar pintu. "Ke Mall sebelah aja yuk Dam, sekalian cuci mata." Ibam menyahut sebelum Ivi sempat menjawab. "Gue nanya Ivi, buka elo Bam." katanya lalu menghampiri. "Ke belakang." jawabnya pelan. "Udah ikut kita aja Dam, nggak bosen apa ke belakang mulu. Sekali-kali makan sekalian cuci mata. Kali aja ada yang nyangkut." Ibam menghampiri Adam lalu menarik paksa tangannya. Membuat Ivi dan yang lainnya melirik bingung.
"Gue ikut Ivi sama Pipit ke belakang aja." katanya setelah mereka keluar dari lift. "Ih jangan, udah ikut kita aja kenapa sih." katanya kekeuh. Membuat yang lain tertawa. "Lo nggak homo kan Bam." celetuk Fery. Membuat pria itu melotot garang.
"Ibam lucu banget ya Vi." kata Pipit saat mereka berdua duduk disalah satu tempat makan langganan mereka. Misi Ibam memang berhasil untuk membawa serta Adam dalam rombongan makan siangnya atau yang lebih tepat adalah tidak membiarkan Adam dan Ivi makan siang bareng.
"Biasa aja." jawabnya pendek.

Tuesday, 15 March 2016

ELEGI (Prolog)





Siapa bilang "PACARAN" perkara mudah. Buat Ibam dan Ivi, Ini jadi momok menakutkan karena satu peraturan keramat di kantor mereka. "DILARANG BERPACARAN DENGAN SESAMA STAFF." 

Tapi bukankah cinta bisa mengalahkan segalanya?
Ini bukan hanya tentang Cinta. Tapi ini tentang berdamai dengan keadaan dan seberapa bisa kamu bertahan saat engkau di hadapkan dengan seribu alasan untuk pergi.

Ini tentang ego pada tiap orang, Tentang perjuangan menjadi yang PALING BENAR dan menjadikan MENYERAH menjadi titik akhir yang meluruhkan ego.