
Naya termangu. Wajahnya pias. Ucapan laki-laki didepannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena terasa loncat dari tempatnya. Seingatnya ia belum tuli, tapi kenapa laki-laki itu bisa bicara seperti itu? Naya yang semula menunduk mencoba mendongkak dan menatap bola mata cokelat yang kini berkilat hangat ke arahnya. Wajahnya tampak tegang, seakan apa yang akan keluar dari mulutnya begitu berpengaruh untuk hidup laki-laki itu.
“Nay” kata laki-laki itu, membuat sepenuhnya kesadaran Naya kembali terpusat di otak kecilnya. Ia mengambil nafas panjang. Ia rasanya ingin menceburkan diri ke jurang karena malu dan menonjok laki-laki di depannya karena marah. Tapi lebih dari pada itu dia bingung. Bagaimana bisa?
“kamu serius By?” dan Naya meluruh saat melihat Roby mengangguk mantap tanpa ragu.
“Tapi gimana bisa?” Naya merasakan suaranya bergetar. “Kamu selama ini bohongin aku?” dia menggeleng cepat seakan membantah semua yang berkecambuk di pikiran Naya.
“aku...aku...aku Cuma nggak mau kehilangan kamu.”
Naya mengusap wajahnya kasar. Sudah cukup, Roby sudah benar-benar membuatnya marah. Ia ingin sekali manampar wajah tampan dihadapanya, tapi kenapa tangannya terasa begitu kaku. Ia mau menampar, menonjok atau apapun yang bisa membuat wajah tampan itu manjadi tidak berbentuk.
“jawab jujur. Apa kamu serius sama omongan kamu barusan?” Naya mencoba bersabar. Ia menahan diri mati-matian untuk memberondong Roby dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah membuatnya pikirannya sesak sehingga terasa sakit.
“Aku serius Nay, Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.”
Naya melihat kilatan kesungguhan dalam binar matanya yang membulat sempurna. “tapi kamu kan gay?” Naya melihat senyum kaku Roby berubah getir. Ini lebih dari bencana. Bukan hanya kenyataan bahawa Roby, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka belajar berjalan kini menyatakan cinta padanya. Yang lebih menyakitkan buat Naya adalah kenyataan bahwa Roby bukan gay. Padahal saat mereka duduk dikelas satu SMP Roby meyakinkan Naya bahwa dirinya adalah seorang gay tanpa memperdulikan raut wajah Naya yang berubah kaget dengan sebuah kaleng minuman yang hampir dilemparkannya ke arah Roby.
***
“Kenapa nggak bilang sih kalo mau pulang bareng yayan?” Naya yang masuk ke kamarnya tidak heran melihat Roby yang sudah bersantai mesra dengan ranjangnya. Ini memang selalu menjadi kebiasaan mereka. Kalau tidak mengacak-acak kamar Roby ya pasti mengacak-acak kamar Naya. Kedekatan mereka dari kecil karena bertetangga dan ibu mereka bersahabat membuat mereka bebas berkeliaran disemua sudut rumah.
“iyan By, bukan yayan. Ganti-ganti nama orang aja dehh.” Jawabnya sambil melempar tas ke arah ranjang, hampir mengenai Roby dan membuat remaja itu merengut kesal. “iya nggak penting juga sih aku tau namanya.” Katanya sambil membuka majalah yang baru saja dilempar Naya bersamaan dengan ranselnya.
“Hp aku mati. Jadi nggak sempet ngabarin kamu.” Naya masuk ke kamar mandi dan suara air yang mengucur membuat Roby tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
Naya bersenandung kecil menikmati guyuran air dari shower yang menghujam kulit telanjangnya.
“udah lama? Udah makan siang belom? Mbak minah masak kan?” kata Naya sambil keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh berbalut handuk dari dada sampai pahanya.
“udah. Abisnya nungguin kamu lama.” Jawabnya sambil memperhatikan naya yang sedang berdiri didepan lemari. Memilah-milah pakaiannya sampai mengeluarkan sepotong tanktop dan hotpant warna cokelat.
“maaf deh.” Katanya tanpa membalik badan dan tanpa pertimbangan apapun melepas handuknya dan memakai pakaiannya. Masih didepan lemari dan membelakangin Roby yang menelan ludah dengan tidak ketara.
Ini memang bukan hal biasa. Semenjak Roby memproklamirkan dirinya sebagai seorang gay. Naya tidak pernah ragu untuk melakukan semua hal yang masuk dalam katagori privasi wanita kepada Roby. Ia merasa tidak punya rahasia apapun dengan sahabatnya itu. Dan yang pasti hanya Naya yang tau kondisi Roby. Tidak ada yang lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun
***
“bagusan yang merah apa yang putih By?” Naya yang sedang ada dipusat perbelanjaan itu mengangkat dua buah dalaman dan menunjukkannya pada Roby. “yang merah bagus.” Jawabnya singkat. Ini yang membuat Naya senang. Berteman dengan Roby membuatnya merasa seperti mempunyai sahabat wanita yang satu pikiran. Roby tidak pernah menolak diajak nonton film romantis yang membuat naya akhirnya mewek ditengah-tengah film sampai memilih berbelanja dalaman wanita. Roby sama sekali tidak merasa jengah. Walau pun ya, menurut Naya sayang sekali kalau laki-laki seganteng Roby jadi gay. Dunia kehilangan satu spesis ganteng yang harusnya bisa jadi bahan rebutan gadis-gadis.
***
“Kamu beneran nggak suka cewek By?” tanya Naya suatu kali saat mereka tengah terlentang di hijaunya rumput taman komplek rumah mereka menyaksikan langit yang memerah.
“Kamu tau artinya gay nggak sih Nay? Nggak perlu aku jabarin kayak guru ngejelasin muridnya kan?” Naya menoleh lalu terkikik geli. Menatap mata Roby yang tidak lepas dari hamparan awan yang membentang diatas mereka.
“sayang yah. Cewek-cewek yang ngejar kamu kan banyak. Kalo mereka tau kamu gay pasti bakal ada patah hati masal disekolah kita.” Kali ini Roby melirik Naya melalui ekor matanya dan melihat gadis itu mengukir senyum di bibirnya.
“kamu tau Melani kan By. Dia kan cantik, putih, langsing, kamu nggak naksir juga sama dia?” Naya memperhatian langit yang semakin memerah sementara Roby menghela nafas berat, tapi tidak juga menjawab pertanyaan Naya. Mereka sibuk memperhatian perubahan warna langit hingga sang matahari tenggelam.
“jangan-jangan kamu juga patah hati ya?” tanya Roby saat mereka bangun dari rerumputan. Bersiap untuk pulang.
“iya, aku naksir berat sama kamu By. Tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan.” Naya tertawa renyah. Seakan apa yang baru saja ia beritahu adalah gosip yang sedang hits ditelevisi. Sedangkan Roby terhenyak ditempatnya
***
Sekelebat ingatan itu muncul di otak Naya. Ia memandang Roby yang menatapnya dengan tatapan begitu sulit di artikan. Bayangan saat ia mengganti baju dengan semena-mena di depan Roby, bayangan saat ia meminta Roby mengantarnya membeli baju dalaman, bayangan saat Ia dan Roby sering tidur siang berdua membuat bulu kuduknya meremang. Bukankah ini buruk. Ia malu bercampur marah. Entah mana yang lebih mendominasi, Naya tidak tau. Yang jelas semua rasa berkecambuk didadanya.
“aku nggak bohong kalo dulu aku bilang aku gay Nay.”
“terus?”
“Aku juga nggak tau. Tiba-tiba rasa itu muncul gitu aja. Aku juga nggak ngerti gimana jelasinnya sama kamu?”
“Sejak kapan?”
Roby mengangkat bahu dengan acuh. “kalau kamu nanya kaya gitu aku juga nggak tau.”
“terus kenapa baru sekarang kamu jujur?”
“karena kalau sejak dulu aku jujur sama kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku takut nggak bisa deket lagi sama kamu.”
“ tapi kamu tau kan sekarang akibatnya apa?” Tangis Naya hampir pecah. Roby tidak pernah tau kalau Naya mencintainya. Semenjak Roby bilang bahwa ia gay. Naya berusaha mati-matian untuk mengubur semua perasaannya pada Roby mengingat cintanya tidak akan pernah terbalas. Ini lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kamu cintai mencintai orang lain.
Roby mengangguk lemah. Ia sadar. Tapi bukankah ia memiliki peluang untuk ditolak juga. Bahkan persahabatannya bisa jadi taruhannya kalau sampai Naya menolaknya.
***
Tangis Naya pecah saat para saksi mengatak 'sah' selepas pria berkopiah hitam disampingnya mengucapkan ijab kabul. Ia mendongkak. Memperhatikan guratan bahagia dalam wajah ayahnya. Lalu kesamping. Mencoba tersenyum ke arah pria yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya lalu mencium punggung talapak tangannya pelan.
Ia sempat melihat ke sekeliling dan tatapan jatuh pada ibunya yang menangis haru saking bahagianya.
Dia disana. Naya melihat Roby dengan stelan kemaja dan celana bahannya ada di barisan paling ujung. Tatapan mereka bertemu setelah ustad menyelesaikan doanya. Wajahnya muram, senyum yang biasa melekat di bibirnya menghilang entah kemana. Raut wajahnya menyisakan guratan sakit hati terkait pembicaraan mereka kemarin malam. Malam kejujuran Roby sebelum Naya bersanding dengan laki-laki yang dicintainya. Cinta.. Aahh entahlah apa itu cinta. Yang jelas kalau Naya boleh memilih, ia ingin Roby yang menjabat tangan ayahnya dan mengucapkan ijab kabul untuknya. Tapi ia tau bahwa ia terlambat. Mereka semua terlambat.
satu-satunya kegiatan yang menyenangkan buatku adalah menulis. lari dari kehidupan sebenarnya.. mengumpat dibalik semua imajinasi yang berkembang dalam otak... menyalurkannya dalam sebuah kata...
Wednesday, 20 January 2016
Last Minute
Bisikan Iblis
Thomas tersenyum kepada gadis didepannya. Senang karena hari ini
gadis itu terlihat lebih baik dan lebih tenang. “Bawa aku pergi
dari sini Thomas. Aku nggak mau tinggal disini. Aku sehat. Aku nggak
sakit.” Gadis itu memegang tangan Thomas. Mengusapnya pelan.
Mencoba meyakinkan pria didepannya bahwa ia harus segera membawanya
keluar dari sini. “Kita akan pulang sama-sama. Nanti ya. Setelah
kamu lebih baik.”
Dia tidak menyangimu. Dia itu
membencimu. Dia akan membunuhmu suatu saat. Jadi lebih baik kau bunuh
dia sebelum dia membunuhmu
Suara itu berdengung. Suara brengsek itu berdengung lagi di telinga
Safira. Ia menggeleng lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat.
“kau baik-baik saja?” Thomas mengguncang- guncangkan tubuh
Safira yang mulai berontak tak terkendali.
Kau itu manusia tidak berguna. Makannya
dia menaruhmu disini
TIDAK... safira terus menggeleng dan berontak dari pegangan Thomas.
“Suster...suster.” Tanpa melepas pegangannya, Thomas memanggil
perawat yang datang kurang dari sepuluh detik setelah panggilan
pertama.
Thomas hanya bisa memandang kala kedua perawat itu berusaha
menenangkan Safira. Dokter datang beberapa menit kemudian dan Safira
lebih tenang setelah diberi obat.
“apa dia tidak bisa sembuk dok?” tanya Thomas saat Dokter keluar
dari kamar Safira. “kemungkinanya sangat kecil. Dia harus bisa
mengendalikan pikirannya sendiri. Dalam kasus lainpun kita hanya bisa
meredam, tidak bisa menyembukannya total.” Mereka berpisah tepat
didepan ruangan Dr. Deyas. “Thomas. Mungkin kau tau sesuatu yang
dia sukai. Hobinya mungkin. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan
perhatiannyannya dari penyakit itu.” Thomas terdiam. Dia tidak tau.
Sama sekali tidak tau karena ia tidak mengenal Safira dengan baik. Ia
hanya salah seorang yang menemukan Safira yang hendak melompat diatas
sebuah jembatan.
***
“Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya sambil menarik tangan gadis
itu turun dari sebuah bangku plastik. Setengah menghempaskan menjauh
dari tepi jembatan penyebrangan yang hanya dibatasi oleh tembok
sebatas dada orang dewasa. “siapa kau? Pergilah jangan ganggu aku”
gadis itu meronta dalam pegangan Thomas hingga akhirnya pegangan itu
terlepas. “mau bunuh diri? Apa kau sudah gila Hah?”
Lihat. Dia bilang kau gila. Kau pantas
mati. Ayo jatuhkan tubuhmu kebawah sampai kau mati dan tenang.
Safira menangis “aku akan mati. Oke. Aku akan menjatuhkan diriku
kebawah sampai aku mati.” Safira tidak sadar mengucapkan kata-kata
itu dengan keras sehingga membuat pria didepannya kebingungan. Pria
itu kembali menarik tangan safira yang hendak kembali menaiki kursi
itu. “lepaskan brengsek. Apa kau tidak dengar? Mereka ingin aku
mati. MATI” katanya penuh dengan penekanan.
Thomas kali ini menarik tangan safira turun dari jembatan sekeras
apapun gadis itu berontak. Setelah sampai dibawah jembatan ia
memandang gadis didepannya. Gadis dengan pakaian yang entah sudah
berapa lama tidak diganti. kaus dan jeans lusuh dengan wajah
mengenaskan. Gadis itu benar-benar berantakan.
“dimana rumahmu?” tanya Thomas. Ia sudah melepas pegangangannya
dan melihat gadis itu beringsut menjauh.
Kau punya musuh baru safira. Mungkin dia
orang yang akan membunuhmu. Jadi lebih baik sekarang tabrakan dirimu
dijalan.
Safira memandang ke arah jalan raya dimana mobil dan motor
berlalu lalang. Cukup kencang dan mungkin ia akan dengan cepat mati
kalau menabrakkan diri. Ia melirik ke arah Thomas yang mencoba
berbicara kepadanya. Tapi yang ia dengar hanya suara-suara iblis itu.
Suara iblis yang sudah menghancurkan hidupnya.
Safira melangkah perlahan. Dan saat Thomas tau apa yang akan gadis
itu lakukan ia berlari dan meyambar lengan gadis itu hingga kembali
menubruknya. “sebenarnya apa masalahmu?” Thomas masih memeluk
tubuh gadis itu yang terasa kaku dan tanpa pikir panjang ia
mengiring gadis itu ke mobilnya.
***
Safira membuka mata dan langsung terperajat melihat langit-langit
berwarna putih. Ia bangun dan menyadari bahwa ia disebuah kamar.
Tidak seperti biasanya dimana Ia akan terbangun dengan menatap
lagit-langit sebuah toko ataupun rumah-rumah kosong. Ia terduduk dan
menyandarkan punggungnya dikepala ranjang lalu menatap tubuhnya yang
sudah berganti pakaian.
Ia menekan pikirannya. Mencoba mengingat apa yang membuatnya bisa
ada disini. Laki-laki itu. Ia ingat sekarang. “kau sudah bangun
rupanya.” Thomas mendekat, membuat Safira beringsut menjauh.
“tenang saja. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Dan yang
menggantikan pakaianmu adalah pelayanku. Jadi kau tidak perlu
khawatir.”
Safira menelan ludah dengan tidak ketara. Lalu menatap pria yang
sudah duduk di tepi ranjang itu lekat-lekat. “mandilah, pelayanku
akan membawakanmu pakaian. Setelah itu kita sarapan. Kita butuh
bicara banyak.” kata pria itu sambil berlalu dari pandangan Safira.
Safira keluar dari kamar mandi dengan sebuah jubah mandi yang ia
temukan di lemari kecil didalam kamar mandi. Ia menghampiri
ranjangnya dan menemukan sepotong kaus dan celana pendek warna khaki.
Ia memakainya lalu keluar dari kamar. Sepi. Rumah itu luas namun sepi
seperti tidak berpenghuni. Ia berjalan ke arah kanan, menuruni sebuah
tangga berkarpet merah.
“nona sudah ditunggu diruang makan.” seorang pria paruh baya
menghampiri Safira yang tengah kebingungan di bawah tangga sambil
menunjuk ke sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri.
“duduklah.” Thomas mengisyaratkan agar gadis itu duduk dengan
sebelah tangannya. Safira menurut dan aroma harum langsung menguar
tepat saat ia duduk dihadapan pria itu. Safira lupa kapan terkahir
kali ia makan dengan enak atau bisa disebut makan dengan layak.
Semenjak tinggal dijalanan, ia bisa memakan apapun yang bisa ia makan
dari hasil bekerja serabutan sehari-hari.
Diatas meja itu ada berbagai macam masakan. Goreng, tumis
berkuah dan semuanya begitu menggugah selera Safira. Safira mulai
menggerakan sendok garpunya kala laki-laki itu menaruh nasi dan
segala lauk-pauknya diatas piringnya.
“jadi dimana rumahmu?” tanya Thomas saat mereka mengakhiri
sarapan mereka. Safira meneguk air minumnya dan diam lalu menyebutkan
suatu tempat. “kau serius? Bagaimana bisa? Itu jauh sekali dari
sini.” Thomas nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja
didengarnya.
“lalu kenapa kau bisa ada disini? Dan kenapa kau ingin
bunuh diri?” Safira melihat mata Laki-laki didepannya. Menyadari
bahwa ada pancaran keingintahuan disana.
“aku kabur dari rumah.” jawabnya pelan. “kenapa?”
“karena mereka semua ingin membunuhku.”
Thomas mengerutkan dahi dan mendapati gadis didepannya hanya
menunduk. “kenapa seperti itu?” tanyanya lagi. Gadis didepannya
masih diam. Cukup lama hingga akhirnya ia mengangkat wajahnya. Bukan
untuk menatapnya. Melainkan menatap sebilah pisau buah yang terletak
tak jauh dari tempatnya duduk dan dapat diambilnya dalam satu
jangkauan.
Thomas mengikuti arah pandang gadis didepannya dan langsung
mengerti. Ia beberapa detik lebih cepat untuk mengambil pisau itu.
“berikan pisau itu padaku.” kata Safira.
Lihat, sebentar lagi dia akan
membunuhmu. Ambil pisaunya dan goreskan ke nadimu. Kau lebih baik
mati ditangan sendiri daripada mati ditangan orang itu.
Safira bangkit dan berusaha menggapai pisau yang diangkat
Thomas tinggi-tinggi. Thomas bersyukur bahwa tinggi badannya bisa
dibilang jauh dari gadis didepannya.
“kau sebenarnya kenapa?” Thomas masih mengangkat pisau itu
tinggi-tinggi saat Safira tak juga mau menyerah dan terus berjinjit
didepannya.
***
Sudah Seminggu sejak ia membawa Safira ke rumahnya tapi ia sama
sekali tidak mengerti dengan gadis itu. Ia kadang terlihat normal.
Mengobrol seperti biasa tapi terkadang ia mengamuk dan berusaha
mencelakai dirinya sendiri. Thomas terpaksa mengosongkan kamarnya
dari sesuatu yang tajam. Hanya ada lemari dikamarya karena terakhir
kali Safira menghancurkan kaca riasnya dan mencoba melukai dirinya
dengan pecahan kaca itu. Ia tidak pernah mengerti apa yang
dibicarakan Safira. Kadang ia bilang bahwa ia mendengar suara-suara
orang yang sama sekali tidak bisa didengarnya. Hanya safira yang bisa
mendengar.
Thomas pernah sekali menanyakan keadaan Safira dengan salah satu
teman kampusnya dan teman kampusnya itu menyuruhnya membawa ke
psikiater. Dan hari ini ia memang berniat membawa Safira ke
psikiater untuk memperjelas keadaan Safira.
“kita mau kemana?” tanya Safira saat Thomas mulai menginjak
gasnya dan sedetik kemudian roda berputar. “ke suatu tempat. Aku
harapa kau tidak berfikir macam-macam nantinya.”
Safira mengerutkan dahinya dan menatap Thomas yang masih fokus pada
jalanan yang tampak lenggang hari ini. Safira bisa dibilang beruntung
bertemu dengan Thomas. Laki-laki itu baik. Umurnya hanya terpaut tiga
tahun darinya dan sudah duduk dibangku semester akhir. Ia tidak bisa
memungkiri bahwa hidupnya belum benar-benar tenang. Hidupnya masih
kacau dalam ruang lingkup rumah Thomas yang damai. Suara-suara itu
masih sering muncul memekakan telinganya. Mengejeknya, menghasutnya,
memanipulasi pikirannya.
Ia mengalami malam-malam yang melelahkan kala suara-suara iblis itu
muncul. Ia akan berontak dikamarnya. Menghancurkan semua benda yang
ada disekitarnya kala menutup telinganya sama sekali tidak berguna.
“ini rumah temanku. Aku mau mengenalkannya padamu.” Thomas
menghela Safira masuk saat Anya muncul dibalik pintu yang diketuknya
dan mempersilahkan mereka masuk.
“aku perlu berbicara dengannya. Bisa tinggalkan kami sebentar.”
Anya berbicara pada Thomas dan melihat laki-laki itu mengangguk.
Safira sempat menggenggam tangan Thomas erat saat pria itu hendak
pergi. “dia temanku. Tidak usah takut.”
Thomas tidak pernah tau kalau Safira membenci orang-orang baru yang
ditemuinya. Bagaimana kalau suara-suara iblis itu datang lagi dan
mempengaruhinya. Setelah kurang lebih lima belas menit mengobrol,
Safira baru tahu bahwa Anya adalah seorang psikiter yang masih
sahabat dari Thomas. Dia baik, cantik dan begitu lembut. Ia
memberikan beberapa pertanyaan pada Safira dan ia menjawabnya dengan
jujur. ia bahkan berani menceritakan masa lalunya hingga ia bisa
terdampar dirumah Thomas.
***
“dia punya penyakit kejiwaan.” kata Anya keesokan harinya saat
bertemu dengan Thomas di salah satu cafe. Mata Thomas membulat tak
percaya. “maksudmu dia gila?”
“tidak. dia tidak gila. Dia hanya punya masalah kejiwaan. Dia
menderita skizofrenia.” Thomas mengerutkan dahinya, bingung.
“Skizofrenia?”
“Skizofrenia
itu suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami
kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi,
delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak
biasa. Karena gejala ini, orang dengan skizofrenia dapat
mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mungkin
menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.” penjelasan
pertama yang dijabarkan Anya tidak juga membuat Thomas mengerti.
“penderita
skizofrenia dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang
di sekitar mereka. Mereka bisa mendengar, melihat, mencium bau,
merasakan hal yang tidak dialami oleh orang lain. Bisa dibilang
halusinasi, misalnya mendengar suara. Mereka mungkin memiliki
keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hal yang tidak benar , misalnya
bahwa orang membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau
berencana menyakiti mereka. Ketika dunia mereka kadang-kadang tampak
menyimpang akibat halusinasi dan delusi, orang dengan skizofrenia
dapat merasa takut, cemas dan bingung. Mereka bisa menjadi begitu
kacau sehingga mereka dapat merasa takut sendiri dan juga dapat
membuat orang di sekitar mereka takut.”
Thomas
mengerti. Penjelasan Anya begitu gamblang dan ia bisa menangkap
dengan cepat. “jadi yang dia bilang suara-suara iblis itu tidak
benar-benar ada? Hanya halusinasinya saja?”
Anya
mengangguk dengan mantap. “tapi biasanya suara-suara apa yang
biasanya didengar? Safira selalu ingin bunuh diri.”
“mungkin
suara-suara itu mengejeknya. Memberitahu bahwa ia tidak berguna dan
lebih baik mengakhiri hidupnya.”
Thomas
nyaris tidak percaya ada penyakit semacam itu.
“ini
penyakit kompleks Thomas. Banyak juga orang yang mengaku nabi atau
tuhan karena suara-suara itu terdengar memujanya sebagai nabi dan
tuhan.”
“lalu
apa yang harus aku lakukan padanya.”
Anya
menyesap minumannya pelan. “Dia perlu obat dan kau yang tau
bagaimana kondisi kesehariannya. Kalau memang sudah terlampau parah.
Kau bisa membawanya kerumah sakit jiwa. Dia akan ditangani dengan
baik disana.”
“Rumah
sakit jiwa?” ulangnya. Anya mengangguk. “apa penyakit itu bisa
sembuh?”
“kemungkinannya
sangat kecil. Tergantung penanganan dan dukungan dari orang
sekitarnya.”
“apa
bisa aku merawatnya dirumah?”
“bisa.
Tapi kau harus ekstra berjaga. Aku akan memberikan obat untuknya tapi
kita tidak pernah tau kapan penyakitnya akan kambuh.”
“kalau
kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?”
“aku
akan menaruhnya dirumah sakit jiwa. Bagaimanapun penyakit ini tidak
bisa ditangani oleh orang awam. Safira butuh terapis dan rumah sakit
jiwa bisa memberikan apa yang dia butuhkan untuk menekan
halusinasinya.”
Thomas
menelan ludah. Apa iya dia harus memasukan Safira kerumah sakit jiwa.
Selama beberapa hari ini Safira bahkan menjadi teman yang baik untuk
Thomas. Ia merasakan rumahnya yang sepi mempunyai sedikit warna. Ia
memang tinggal sendiri dirumah itu karena kedua orangtuanya menetap
dikota lain. Dulu ia tinggal bersama adiknya, tapi adiknya harus
pergi karena sebuah kecelakaan. Kalau adiknya masih hidup mungkin ia
seumuran dengan Safira.
“apa
dia akan mengerti kalau aku menceritakan penyakitnya?”
“tentu
saja. Dia memang punya penyakit kejiwaan Thomas, tapi dia tidak gila.
dia sama seperti kita. Mengerti apa yang kita ucapkan. Safira hanya
selalu berhalusinasi.”
“ODS
-orang dengan Skizofrenia- tidak bisa didominasi. Dia akan susah
bergaul dengan orang lain. Mereka bisa saja selalu menyalakan sinyal
bahaya untuk orang-orang yang tidak mereka sukai. Mereka tidak akan
bisa produktif seperti kita. Mereka perlu penanganan khusus apalagi
dalam kasus Safira yang bisa aku golongkan cukup parah.”
***
Safira
memandang Thomas dengan bingung. Laki-laki itu tidak pergi ke kempus
hari ini. Jadi mereka mengobrol diruang tamu. Thomas juga menaruh
laptopnya diatas meja dan menatap Safira ragu.
“kau
tau bahwa temanku yang kemarin adalah psikiater?” Safira
mengangguk. Masih menatap Thomas yang sepertinya perlu berfikir
banyak hanya untuk mengucapkan sepatah dua patah kata padanya.
“dia
bilang kau salah satu pederita skizofrenia.”
“ski...”
“skizofrenia.”
kata Thomas lalu mengetikkan kata itu di mesin pencarian google.
Safira
mengalihkan perhatiannya dari Thomas ke layar yang ada didepannya.
Thomas membuka link wikipedia mengenai Skizofrenia.
Skizofrenia
adalah ganguuan mentalyang
ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang
lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk
halusinasi, paranoid keyakinan atau pikiran yang salah yang tidak
sesuai dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak
berdasarkan logika, dan disertai dengan disfungsi sosial dan
pekerjaan yang signifikan. Gejala awal biasanya muncul pada saat
dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar
0,3% – 0,7%.Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan
pengalaman penderita yang dilaporkan.
Gangguang
mental. Kata
itu begitu cepat tertangkap diotaknya. Jadi selama ini ia mengalami
gangguan mental. Dan apa yang ditulis disana. Halusinasi. Apa yang
dimaksud itu adalah suara-suara iblis yang selama ini ia dengar. Apa
ia bisa dikatagorikan gila?
“jadi
aku mempunyai gangguan mental? Jadi suara-suara itu hanya
halusinasiku saja dan tidak benar-benar ada?”
Thomas
mengangguk lalu mengelus pundak Safira yang tampak tegang. “tapi,
suara-suara itu seperti nyata. Terdengar begitu jelas di telingaku.”
“kau
harus bisa mengendalikannya Safira karena kalau tidak....” Thomas
menggantungkan kalimatnya. Tidak tega untuk bilang bahwa Safira akan
dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
“apa
penyakit ini bisa disembuhkan?”
“kemungkinannya
sangat kecil. Tapi kita selalu punya harapan.”
Pikiran
Safira melayang ke tahun-tahun yang lalu. Ia ingat bahwa dulu ia anak
yang bisa dibilang cerdas. Ia tidak pernah keluar dari peringkat tiga
besar dikelasnya. Tapi suara itu datang saat ia baru menginjak
semester satu.
Ia
kerap mendengar suara-suara yang mengejeknya. Mengatakan bahwa ia
tidak berguna, bahwa semua orang membencinya dan ia lebih baik bunuh
diri.
Ia
ingat malam itu. Ia sedang menonton televisi dan ia mendengar orang
didalam televisi itu berkata lantang kepadanya.
Bukankah
aku sudah menyuruhmu bunuh diri. Kau tidak layak hidup safira. Tidak
ada orang yang mengininkanmu didunia. Bahkan keluargamupun akan
membunuhmu suatu saat nanti.
Suara itu
begitu jelas seperti sengaja dibisikan ke telinganya. Terus menerus,
makin mengejek dan memojokkannya hingga akhirnya ia berteriak. “aku
akan bunuh diri oke, kau akan melihatku mati.” ia mengatakan itu
keras-keras hingga ia merasa tubuhnya diguncang-guncangkan dan
seketika ia sadar bahwa ia sedang berkumpul diruang TV bersama
keluarganya.
Ia melihat kedua orangtuanya dan kakak
laki-lakinya menatapnya bingung. Berusaha menyadarkannnya. Sejak saat
itu hidupnya berubah. Hidupnya tidak baik-baik saja. Hidupnya
terbelenggu oleh bisikan-bisikan iblis itu. Bisikan-bisikan itu bisa
datang kapan saja dan ia akan langsung menutup telinganya
rapat-rapat. ia bahkan sering mengamuk karena suara-suara itu
seringkali mendominasi.
Kuliahnya berantakan dan dirumah kedua
orangtuanya mulai kebingungan melihat sikapnya. Suara-suara itu makin
menjadi-jadi. Menghasutnya. Mengatakan bahwa kedua orangtuanya
membencinya dan akan membunuhnya. ia dilingkupi ketakutan hingga
akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah.
Berbulan-bulan Safira hidup dijalanan tanpa
tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. ia tidak punya tujuan dan
yang ia lakukan setiap hari hanyalah berjalan dan berkerja serabutan
agar mendapatkan uang untuk makan.
Jangan tanya
mengenai suara-suara itu.
Suara-suara itu masih terus terdengar bahkan sampai detik ini. Dan
sekarang Safira tau penyebabnya. Ia mengalami gangguan mental. Semua
pikiran-pikiran buruknya hanya halusinasi dan orang-orang yang selama
ini dikirannya jahat mungkin tidak benar-benar jahat.
***
Keadaan Safira membaik karena obat-obatan yang
diberikan Anya. Obat antipsikotik itu memberikan pengaruh besar pada
Safira. Penyakitnya jarang kambuh dan Thomas sudah berfikir bahwa
Safira sudah benar-benar sembuh. Tapi ia salah, saat ia lengah,
suara-suara iblis itu kembali menyerang Safira. Lebih besar dari
sebelumnya dan Safira yang dalam keadaan seorang diri diruang tamu
berhasil menusukkan sebilah kaca ke perutnya.
***
Thomas memandang Safira yang teridur di
ranjang rumah sakit. Pikirannya salah. benar kata Anya, Safira tidak
mungkin bisa sembuh hanya karena obat-obatan itu. Safira butuh terapi
dan tempat dimana ada orang yang dua puluh empat jam bisa menjaganya.
RUMAH SAKIT JIWA.
“Thomas.” Suara itu terdengar saat Thomas
duduk tertidur dengan sebelah tangan menopang kepalanya dan sebelah
tangannya lagi menggengam telapak tangan Safira yang terasa dingin.
Sedikit lagi, kalau saja asisten rumah tangganya tidak bergerak
cepat. Mungkin Safira sudah kehilangan nywanya.
“kau sudah sadar?” Thomas tersenyum
menatap wajah Safira yang pucat dan melihat gadis itu menarik garis
bibirnya dengan susah payah. “suara-suara itu kembali Thomas.”
katanya dan Thomas bisa merasakan genggaman gadis itu mengerat.
Thomas mengusap pucuk kepala Safira. Mencoba menenangkan gadis
dihadapannya.
***
Thomas tidak tau bagaimana harus berbicara
pada Safira. Apa ia tega harus memasukkan gadis itu kerumah sakit
jiwa. RUMAH SAKIT JIWA. Katanya
dalam hati. Tempat penderita
gangguang mental, orang gila. Hati
Thomas tiba-tiba terenyuh. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini yang
terbaik untuk Safira.
“untuk apa kita kesini?” Safira memandang
tajam saat mobil Thomas berhasil merangsek diparkiran rumah sakit
jiwa itu. “bertemu psikiater untukmu.” katanya, mencoba terlihat
tenang. Safira menelan ludah dan keluar dari mobil, mengikuti Thomas.
“aku tidak mau masuk.” Thomas menoleh dan
menyadari bahwa Safira masih berdiri didepan mobilnya. Ia menarik
nafas berat lalu menghampiri. “tidak apa-apa. Mereka sama seperti
Anya, mereka bisa membantumu untuk sembuh.”
Thomas menarik paksa tangan Safira masuk.
Melewati lorong-lorong dengan kamar-kamar disisi kanan kirinya hingga
akhirnya sampai ke ruangan yang ditujunya. “bawa aku keluar dari
sini Thomas.” kata Safira ketakutan. Ia mendengar puluhan langkah
kaki menghentak-hentak disekelilingnya. “ayo kita pulang Thomas.”
ia mulai menutup telinganya kala suara-suara itu terasa semakin
kencang.
Semua terjadi begitu cepat. Petugas itu
membawa paksa Safira yang mulai mengamuk ke sebuah kamar dan seorang
dokter mengikutinya. Thomas hanya bisa melihat dari jendela. Dokter
itu duduk dihadapan Safira yang tampak ketakutan. Gadis itu terus
menerus meremas kedua tangannya lalu memandang tajam kearah Dokter
yang sejak tadi tersenyum. “kau ada di tangan yang tepat Safira.
Dokter Deyas tidak akan mengecewakanku.”
***
sudah tiga bulan Safira tinggal disana dan
Thomas semakin optimis setiap harinya. Sepulang kuliah ia selalu
menyempatkan diri menemui Safira. Memastikan bahwa Safira dalam
keadaan baik dan semakin baik.
“aku membawakanmu kanvas dan cat air.”
kata Thomas sambil masuk ke ruangan yang ditinggali gadis itu. Hanya
ada ranjang dan sebuah sofa juga meja kayu dan lemari kecil disana.
Minimalis tapi Thomas beryukur karena kamar Safira bisa dibilang
sangat rapi dan bersih.
Safira melihat cat air dan kuas-kuas yang
diletakan Thomas diatas meja lalu beralih ke kanvas dengan penyangga
yang ditaruh laki-laki itu di depan jendela kamarnya.
“aku harap kau tidak kesepian. Dokter Deyas
bilang kau butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranmu dari suara-suara
itu. Aku melihat beberapa coretanmu di tembok kamar.” katanya
sambil tersenyum. Senyum yang selalu dirindukan Safira
“terima kasih.” Safira mengambil tangan
Thomas dan menggenggamnya erat. “terima kasih karena kau masih
disini. Aku tidak tau apa jadinya kalau kau meninggalkanku.”
matanya nanar dan segumpal air mata mulai menggenang dipelupuk
matanya.
Wednesday, 9 December 2015
Aku si ODHA
Surat ini tidak aku tujukan untuk
siapa-siapa, atau setidaknya aku tidak akan mengacungkan telunjukku didepan
wajah kalian. Kalian tau bahwa aku terlalu malu, terlalu merasa hina. Aku hanya
ingin berbagi sepenggal kisah hidupku yang sama sekali tidak akan pernah ingin dialami
orang anak-anak muda lainnya.
Sekilas,
mungkin kalian tidak akan melihat perbedaan dengan diriku. Bagi kalian Aku
mungkin hanya terlihat begitu kurus. Tapi yang lainnya, aku dan kalian tampak
sama. Aku bisa berjalan sama seperti kalian, bahkan berlari. Aku bisa berbicara
lantang, seperti kalian. Tapi ada sesuatu mematikan dalam tubuhku yang
membedakanku dengan kalian. Yaahh.. kalian yang mengetahui apa itu akan
langsung menjauhiku. Menganggapku begitu hina, menganggapku seperti sampah yang
harus kalian buang.
Kalian
tau. Aku tidak pernah ingin mengalami ini semua. Penyesalah bertubi-tubi bahkan
keinginan untuk mengakhiri hidup tidak hanya sekali-dua kali terlintas dalam
pikiranku. Tapi saat keinginan itu begitu kuat, aku tidak pernah benar-benar
menyerahkan nyawaku karena aku sadar diriku sepenuhnya milik tuhan. Hanya Dia
lah yang berhak atas diriku. Aku menyadari bahwa mungkin aku terlambat mengenal
yang namanya “TUHAN”. Aku menghabiskan waktu selama dua puluh satu tahun tanpa
mengenal tuhan dan tiga tahun terakhir menjadikan obat-obatan terlarang sebagai
tuhan.
Semua
berawal dari cinta. Yaahh.. cinta yang kata orang begitu indah, sama sekali
tidak berlaku buatku. Tapi untuk yang bilang cinta itu buta, aku bisa pastikan
seratus persen benar. Aku mengenal pria itu lewat salah satu temanku. Aku
memang tidak bisa dibilang gadis baik-baik karena aku lebih menyukai hingar
bingar dunia malam. Tapi saat itu aku masih bisa menjaga diri dan hanya
berkutat dengan rokok dan minuman keras yang tidak seberapa.
Tapi
malam itu, yaah, aku tidak akan melupakan malam itu. Malam saat aku melihat
seorang pria yang sibuk memainkan piringan hitam dan menghasilkan alunan musik
yang memenuhi ruangan. Pria yang baru kali pertama aku lihat ada di bar itu.
Namanya
Argan, pria berkulit kuning langsat itu dalam seketika berhasil menarik
perhatianku. Dan melalui seorang teman, aku berhasil selangkah lebih dekat
dengannya. Dia pria yang sangat menarik juga begitu humoris. Tapi saat aku
merasakan semakin mencintainya, aku baru mengetahui bahwa ia adalah seorang
pemakai. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri ia sedang menyuntikkan cairah
ke tubuhnya. Mungkin narkoba jenis morfin. Dan setelah itu entah untuk alasan
cinta atau sekedar keingintahuan. Aku ikut terseret kedalamnya.
Aku
mulai mengenal yang namanya, ganja, morfin, opion, heroin, kokain dan yang
lainnya. Argan juga mengenalkanku dengan seorang badar narkoba yang menjadi
langganannya. Aku yang masih berstatus mahasiswi disalah satu universitas
negeri terpaksa harus menguras keuangan orangtuaku yang memang tidak tinggal
satu kota denganku. Aku rela berbohong
hanya untuk mendapatkan uang dan membeli barang haram itu. Barang yang
membuatku kecanduan. Barang yang membuatku melupakan semuanya. Kuliah, orang
tua, adik dan kakakku.
tiga
tahun aku masih bergelut dengan Argan dan dunianya. Alkohol, obat-obatan
terlarang, Bandar narkoba. Tubuhku semakin hari terlihat semakin tidak terurus.
Dan aku tidak pernah memperhatikannya.
Dan
akhirnya hari itu, sabtu pagi dipertengahan bulan juni. Aku menemukan Argan
dalam kondisi tidak bernyawa karena overdosis. Aku melihat bagaimana tubuhnya
yang kurus tergeletak dilantai dengan wajah pucat dan mulut berbusa. Mengerikan,
tak berdaya, tak beryawa karena barang-barang itu.
Aku
hancur seketika. Bukan hanya karena kehilangan Argan, pria yang aku cintai.
Tapi juga menyadari bahwa aku bisa bernasib sama seperti Argan.
Belajar
dari pengalaman Argan. Aku bertekad untuk kembali ke kampung halaman dan
berusaha lepas dari obat-obatan. Aku memberanikan diri menghadap kedua
orangtuaku dan rekasi mereka begitu terkejut melihat keadaan ku. Mereka bilang
aku begitu kurus, pucat dan berantakan. Dan dengan keberanian penuh aku
memberitahu mereka bahwa aku kini bergantung pada barang haram itu. Dalam
hitungan detik ibuku menangis dan ayahku sempat menamparku beberapa kali
sebelum akhirnya kakak laki-lakiku menghalangi.
Keesokan
harinya, setelah kedua orangtuaku kembali tenang. Mereka mengantarku memeriksakan
diri ke dokter sebelum mengantarku ke pusat rehabilitasi. Dan saat itulah bencana
itu muncul. hasil tes darah menyatakan aku
positif HIV AIDS. Aku merasakan langit seakan runtuh di depan mataku saat itu
juga. Bagaimana mungkin? Penyakit mematikan itu kini bersarang ditubuhku yang
lemah. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Kedua orangtuaku
menangis begitu juga dengan kakak dan adikku. Dan saat itu yang terlintas dalam
pikiranku hanyalah KEMATIAN. Bahwa aku si ODHA. Hanya perlu menunggu kematian
menjemputku. Karena jarum suntik yang aku gunakan? Pasti. karena aku pastikan
aku belum pernah berhubungan badan bahkan dengan Argan sekalipun. Aku hanya
punya dua kata. AKU FRUSTASI
***
Rumah
bercat putih itu begitu asri. Pepohonan tumbuh subur memberi sumber kehidupan
untuk semua penghuninya. Di panti rehabilitasi itulah akhirnya aku menghabiskan
hari-hariku selanjutnya. Aku berkenalan dengan sama-sama mantan pemakai. Tapi
hanya akulah satu-satunya pengidap HIV / AIDS. Dan hari itu juga aku merasakan
yang namanya PENOLAKAN yang terasa begitu menyakitkan. Tidak ada orang yang
bersedia dekat denganku bahkan disatukan satu kamar denganku. Mereka selalu
memandangku seperti seonggok daging busuk yang memang harus mereka jauhkan. seperti
virusku bisa menular hanya dengan kita bertatapan muka ataupun bersentuhan
tangan.
Aku
menempati salah satu kamar seorang diri. Disaat kamar dihuni beberapa orang aku
hanya menempati kamar itu seorang diri. Di Pusat rehabilitas itulah aku
akhirnya menjalani hari-hari-ku kemudian. Siang-siang yang menyakitkan,
malam-malam penuh penderitaan hanya untuk lepas dari jerat barang haram itu.
Setiap
hari aku harus meminum beberapa obat dan dokter tidak ada henti-hentinya
menyuntikan cairan-cairan ke tubuhku. Terkadang pada tengah malam aku harus
merasakan menggigil yang begitu hebat, pusing juga mual. Disana aku menjalani
berbagai terapi. Dan yang paling penting. Aku harus mengkonumsi ARV setiap 12
jam sekali. Kata perawat obat itu bisa memperlambat virus mematikan itu.
Yaahh.. hanya memperlambat, tidak untuk menghilangkan virus itu. tapi aku cukup
optimis untuk tetap hidup. Bagaimanapun juga, aku masih ingin berkumpul bersama
keluarga dan orang-orang yang aku cintai.
Satu
tahun kemudian aku keluar dari rehabilitasi itu. Menghirup udara yang begitu
segar dibanding tempat rehabilitasi itu. Aku memang sudah tidak menjadi pecandu
namun aku masih membawa penyakit mematikan itu di tubuhku, kemana-mana, tentu
saja, penyakit itu menyatu dalam darahku.
Dan
seminggu kemudian aku kembali lagi ke panti rehabilitasi itu. Bukan, bukan
karena aku kembali terjerat obat-obatan haram tapi karena aku memutuskan untuk
menjadi bagian dari panti itu. Keluarga menerima kepulanganku, tentu saja. Tapi
tidak dengan orang disekitarku. Kabar bahwa aku menderita HIV AIDS sudah
menyebar luas dan tentu saja menyulitkanku untuk bersosialisasi. Pikiran mereka masih terlalu sempit. Mereka
tidak mengerti bagaimana virus-virus ini bias menular. Mereka tidak tau bahwa
aku tidak akan menularkan virus ini jika hanya berjabat tangan dengan mereka.
Iya, mereka tidak mengerti dan yang mereka lakukan hanya menjauhi ku. Mencari
aman.
Selain
dipanti rehabilitasi itu. Aku aktif memberikan penyuluhan di beberapa tempat.
Forum-forum kesehatan dan kampus-kampus. Menekan rasa malu memberitahu mereka
bahwa aku menderita penyakit menjijikan itu. Tapi aku bersumpah bahwa aku tidak
ingin ada lagi aku-aku yang lain. aku ingin memberitahu mereka bahwa pengaruh
obat-obatan itu jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan dan
sebaiknya tidak mereka coba karena alasan apapun. Bahkan juga alasan klise
karena keingintahuan atau penasaran. Masih begitu banyak hal yang harus mereka
ketahui daripada penasaran akan bentuk ganja, rasa morfin, nikmatinya heroin
dan barang-barang laknat yang lainnya.
Jangan
pernah mengorbankan masa muda kalian hanya untuk penasaran pada hal-hal tidak
berguna yang bisa merusak kalian. Kalian terlalu berharga bagi orang tua,
sahabat bahkan Negara jika rusak karena barang mematikan itu. Karena barang itu
seperti memberikan lorong gelap. Kau akan melupakan segalannya. Yang kau
inginkan hanya terus-menerus berlari untuk mencari jalan keluar tapi kalian
sadar bahwa jalan itu buntu, bahkan setitik cahayapun tidak akan kalian temukan.
Kalian ada kehilangan kesadaran dan yang paling terpenting, kalian tidak akan
pernah bisa memutar waktu.
Tuesday, 10 November 2015
REVIEW - Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas
Penulis :
Eka Kurniawan
Genre :
Fiksi
Penerbit :
PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal :
242 Halaman
Cetakan
Pertama : Mei 2014
Seperti
Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Jangan pernah tertipu dengan
covernya yang unyu-unyu itu yah.
saya
menemukan buku ini diantara rak toko buku gramedia Blok.M. dan pernah
beberapa kali mampir di blognya si penulis, Ekakurniawan.com . Seorang
sastrawan lulusan UGM. Buku ini terbit tahun lalu dengan jarak cukup
jauh dari novel sebelumnya, Lelaki Harimau.
Di
puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu
peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua
bocah melihatnya melalui lubang jendela. Dan seekor burung memutuskan
untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si
burung tidur merupakan alegori tentang kehidpan yang tenang dan
damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya
Seperti
dendam Rindu dibayar tuntas menceritakan keseharian Ajo kawir dan
sahabatnya, Si Tokek yang hobi berkelahi semenjak “burung” Ajo
kawir tidak bisa bangun. Ajo kawir sudah mencoba berbagai cara untuk
membuat burungya kembali seperti semula namun gagal. Mulai dari
mengoleskan cabai,menyengatnya dengan lebah, pergi ke tempat
pelacuran sampai hampir memotong burungnya dengan kapak. Burungnya
tetap teguh pada pendiriannya. Tetap tertidur tenang dan tidak ada
tanda-tanda ingin bangun.
“tidak
ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa
berdiri.” Hal 40
Rasa
frustasinya kembali menjadi-jadi kala ia menyukai seorang gadis,
Iteung. Iteung yang sudah kadung cinta mati sama Ajo kawir akhirnya
mau menerima kekurangan Ajo kawir.
"Apa
yang akan kau lakukan dengan lelaki yang tak bisa ngaceng?” Tanya
Ajo kawir. “aku akan mengawininya” hal 90
Mereka
menikah dan hidup bahagia
Hidupku
mungkin tidak sempurna. Aku tak memiliki kemaluan yang bisa berdiri.
Tapi aku memiliki pernikahan yang indah. Dan akan ada keluarga yang
bahagia. –Ajo kawir. Hal 114
sampai
pada kenyataan bahwa Iteung Hamil. Iteung hamil oleh laki-laki lain
dan akhirnya Ajo Kawir memutuskan untuk berekelana menjadi supir truk
Jawa-Sumatra. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah
tulisan dibelakang truk Ajo Kawir. Saat menjadi supir truk-lah Ajo
Kawir mulai meninggalkan kebiasaannya untuk berkelahi. Ia mulai bisa
menerima jika burungnya memang tidak ingin bangun. Itulah yang
akhirnya dijadikan filosofi hidupnya. Burung itu menginginkan
kedamaian juga dalam hidup Ajo Kawir. Hingga akhirnya ia mamutuskan
untuk berhenti berkelahi walaupun Si Kumbang sangat ingin berduel
dengannya ataupun saat Mono Ompong hampir mati karena berkelahi
dengan Si kumbang.
“Hidup
dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. aku berhenti
berkelahi untuk apapun. Aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung”
– Ajo Kawir. Hal 123
Kenapa
saya tertarik dengan buku ini? Karena saya tau bahwa karya Eka
Kurniawan yang lain (Cantik itu luka dan lelaki Harimau) sudah di
terjemahkan ke beberapa bahasa asing. walaupun saya juga belum membaca
kedua novel itu. :D
buku
ini tidak terlalu tebal. Hanya 242 halaman dan saya selesaikan
dalam waktu dua hari. Eka Kurniawan memilih Cover yang begitu apik untuk menggambarkan isinya. burung yang tertidur pulas.
Penulis menyediakan tema yang Unik dengan latar belakang yang juga
Unik. Bayangkan saja. Bagaimana mungkin “Burung” Ajo Kawir tidak
bisa bangun hanya karena melihat Si Rona Merah di perkosa oleh dua
orang Polisi. Sesuatu yang terasa ganjil namun bisa menjadi realitas
dalam novel ini.
Eka
Kurniawan juga menyuguhkan Tokoh yang begitu berkarakter dan unik
sehingga pembaca tidak akan dibuat bingung oleh banyaknya pemain. Ajo
Kawir, Si Tokek (sahabatnya Ajo Kawir), Rona Merah, iwan Angsa, Wa
Sami, Si Macan, Iteung, Janda Muda, Budi Baik, Mono Ompong dan
nama-nama unik lainnya akan kalian jumpai di buku ini
Plot
yang dibuat secara maju-mundur-maju-mundur Cantik
membuat saya
tidak terlalu kesulitan untuk menangkap karena tiap kalimatnya dibuat
sepadat mungkin. Tidak terlalu banyak ataupun boros kata. Mudah
sekali dicerna, bahkan saya seperti membaca sebuah dongeng.
namun
yang perlu diperhatikan adalah, buku ini termasuk katagori buku
dewasa. Dibelakang buku ini akan kalian temukan angka 21+. yang
artinya hanya boleh dibaca oleh orang diatas umur 21 tahun. karena
memang dalam buku ini tersebar beberapa kata yang mungkin menurut
orang agak
kurang pantas.
“Hanya
orang yang nggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati”
Cukup
Frontal untuk dijadikan kalimat pembuka. Tapi itulah Eka
Kurniawan.Jika penulis-penulis lain mencoba mencari kata-kata yang
lebih pantas untuk menggambar sesuatu, lain halnya dengan Eka
Kurniawan. Eka kurniawan memberikan sesuatu yang terasa bebas, tidak
di tahan-tahan, tidak berusaha diperbaiki dengan bahasa halus dan
benar-benar orisinil. makannya jangan heran kalau dalam novel ini
banyak kata-kata umpatan ataupun kata-kata yang terkesan
jorok yang pastinya tidak untuk dibaca oleh anak-anak kecil.
“Kemaluan
bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupaka otak kedua
manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa
dilakukan kepala”- Ajo Kawir. Hal 126
Untuk
kalian yang hanya sekedar suka baca atau mungkin tidak suka baca tapi
iseng membaca novel ini. Mungkin kalian akan berfikir bahwa novel ini
semacam stensil murahan. Tapisaya akan bilang bahwa novel ini bagus.
Eka Kurniawan memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh
penulis-penulis lain mulai dari tema, tokoh dan pemilihan kata.
Eka
kurniawan menyuarakan kebebasan dalam setiap penggalan katanya. Saya
sedikit berfikir apakah editor akan tetap menerbitkan buku ini
seandainya ini bukanlah karya Eka Kurniawan yang sudah sukses dengan
Cantik Itu Luka dan Lelaki Hariamunya.?Apakah Editor perlu berfikir
panjang untuk menerbitkan buku ini tanpa merubah satupun kata dalam
buku ini?
dunia
memang tidak adil.
Dan jika kita tahu
ada cara membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil. –
Iwan Angsa. Hal 48
Kita
tidak bisa menghentikan seseorang dari jatuh cinta. bahkan orang yang
jatuh cinta itu sendiri. Jatuh cinta itu seperti penyakit. Ia bisa
datang kapan saja, seperti kilat dan geledek, dan bisa tanpa sebab
apapun. – Si Tokek. Hal 64
Tidak
ada yang lebih indah didunia ini jika kau bisa mati ditangan orang
yang kau cintai. –Si Tokek. Hal 83
Tuesday, 27 October 2015
KARENA NYAWA KAMU LEBIH BERHARGA DARI APAPUN
Orang pernah bilang Jakarta tidak
pernah tidur. Mungkin itu benar. Jakarta memang terlihat lebih
lenggang waktu menunjukkan hampir tengah malam. Tapi untuk
tempat-tempat tertentu, keriuhan masih tetap ada. Fella masih disana.
Dengan kaus hitam dan celana pendek membungkus tubuhnya. Mengindahkan
dingin yang menyergap kulit mulusnya.
“Ayooo Dion.” Katanya sambil
berteriak keras dan berjingkrak-jingkrak. Gadis-gadis sebayanya ikut
berteriak seakan memberikan semangat untuk dua pria yang sedang
bersiap-siap di pacuan. Dion menoleh. Tersenyum pada Fella. Lalu
beralih pada seorang wanita dengan bendera yang berada
ditengah-tengah. Diantara dirinya dan lawannya. “SIAP….SATU…DUA…
TIGA…” bendera di tegakkan dan dalam hitungan detik setelah kata
tiga diucapkan,
Dion menarik gasnya, melaju dengan motor gedenya, meninggalkan
kepulan asap dengan segala keriuhan para penonton balapan liar itu.
Ini bukan kali pertama. Ini
adalah rutinitas Dion hampir setiap malam. Menjelajahi sudut ibukota
hanya untuk sekedar beradu di lintasan. Menggesekan karet ban
motornya dengan aspal dan melaju sekencang mungkin untuk mendapatkan
predikat juara dan hari ini pun sepertinya akan menjadi milikknya
karena ia sampai beberapa detik lebih dulu dari lawannya.
“aku tidak tau siapa yang bisa
mengalahkanmu?” Fella menjabat tangan Dion dan memeluknya sekilas.
Memberi ucapan selamat karena ia tau bahwa Dion sangat ahli dalam hal
ini. “ayo kita rayakan.” Katanya. Fella naik ke motor dan mereka
melaju menuju salah satu klab malam di daerah kemang. Rambut panjang
Fella berkibar ditiup angin dan dingin yang menyelimuti malam itu
sepertinya tidak menggugah mereka walau hanya untuk memakai helm
ataupun jaket.
***
Fella tercekat mendengar alarmnya
berbunyi dan melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “MATI
AKU.” ia terlonjak dari ranjangnya mengingat ia ada kuis hari ini
dan itu artinya ia hanya punya waktu kurang dari setengah jam untuk
sampai dikampusnya.
Ia menyambar ponselnya dan masuk
ke kamar mandi. “Dion, aku tunggu dirumah sepuluh menit
lagi.PENTING.” katanya langsung menutup telepon tanpa membiarkan
suara diujung hanya untuk sekedar menyapa. Ia membuka bajunya dan
mandi dengan kilat. Keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian.
Memilih baju dengan asal dan langsung menyambar tasnya saat
mendengar suara klakson dari luar pagar rumahnya.
Dion menyeringai melihat Fella
mengunci rumahnya dengan tergesa-gesa. “kesiangan lagi? Kebiasaan.”
katanya saat Fella sampai didepannya dengan nafas tersengal. “lupa
kalau ada kuis pak Dekas hari ini.” katanya lalu naik ke atas motor
Dion. “ayo buru.” katanya sambil menepuk pundak Dion dan roda ban
motornya mulai berputar.
“pegangan Fell.” katanya
dan tepat saat itu Fella hampir saja terlonjak dari motor karena Dion
baru saja menaiki sebuah trotar. Jalanan memang sedang macet parah,
padat merayap karena memang memasuki jam orang kantoran dan Dion
tidak punya pilihan selain mengambil jalur pejalan kaki untuk sampai
lebih cepat ke kampusnya. “nyantai dong.” katanya sambil menepuk
pelan pundak Dion lalu mengeratkan tangannya di pinggang laki-laki
itu. “katanya telat.” Dion membunyikan klaksonya untuk meminta
beberapa pejalan kaki untuk minggir dan memberinya jalan yang
langsung diprotes oleh makian dari para pejalan kaki.
Masih ada lima menit sebelum
kelas dimulai dan setelah mengucapkan terima kasih ia berlari.
“tunggu dikantin ya.” kata Dion berteriak sambil melambaikan
tangan. Fella menoleh sebentar tanpa berhenti lalu mengacungkan ibu
jarinya.
“kebiasaan. Makannya jangan
dugem mulu.” Fella langsung duduk disebelah Vanya sambil mengatur
nafasnya yang belum teratur. Belum sempat Fella menjawab Pak Dekas
masuk ke ruangan.
Firman mengamati Fella dari
belakang. Memandang rambutnya yang digulung asal-asalan. Gadis itu
kesiangan lagi hari ini dan sebenarnya ia hampir selalu telat di
setiap mata kuliah pertama. Apakah ia tidak punya alarm. Pikirnya.
Tapi ia tau kalau bukan hanya alarm alasannya. Ia tau bahwa Fella
bukan gadis rumahan yang akan mengumpat dibalik selimut saat jam
menunjukkan pukul sepuluh malam, berjaga-jaga agar tidak kesiangan.
Fella menyukai dunia malam, gemerlap lampu dan kebisingan dijalanan
dan mungkin ia juga menyukai Dion. Mereka dekat dan Firman tidak
pernah bisa mengartikan kedekatan mereka. Pacarankah? Atau hanya
sebatas sahabat?
Firman dan Fella menjadi murid
di sekolah menengah yang sama. Firman mengenal Fella dengan baik tapi
sepertinya tidak untuk sebaliknya. Hey.. Fella itu cinta pertamaku.
Katanya dalam hati. Cinta lama yang bahkan belum sempat terucapkan
olehnya. Fella terlalu jauh darinya. Mereka terlalu berbeda dan
mereka berdua tidak akan pernah berada dalam lingkaran pergaulan yang
sama. Bahkan saat mereka satu kelas di kampus yang sama pun mungkin
Fella tidak menyadari bahwa mereka pernah satu SMA.
“nanti malem kemana?” tanya
Vanya sambil membereskan catatannya. “ikut Dion. Balapan palingan.”
katanya acuh sambil melihat ponselnya. “punya ide lain?” tanya
Fella tanpa melepas pandangannya dari telepon genggamnya. “ke salon
gimana?” Fella menoleh, sepertinya tidak buruk. “boleh juga.”
mereka berdua beriringan menuju kantin masih ada setengah jam sebelum
mata kuliah selanjutnya.
“nanti malem aku ke salon ya
sama Vanya.” mereka bedua menghampiri Dion yang sedang asik bermain
game dalam ponselnya. “nggak nememin aku balapan?” laki-laki itu
meneguk botol air mineral yang dibawa Fella dan melihat Fella
menggeleng. “besok aja lagi ya.” Dion mengganguk lalu berdiri
setelah mendengar salah satu temannya memanggil, Mengacungkan bola
oranye. “yaudah kalo gitu. Hati-hati.” katanya sambil mengusap
pelan puncuk kepala Fella.
“Nggak jelas.” Vanya
mendengus sambil menyeruput jus jeruk pesanannya yang baru datang.
“siapa?” Fella menatap Vanya dengan heran. Lalu bangkit dan
mengambil teh botol di kulkas dari salah satu kantin dan menengguknya
pelan. “kalian berdua. Kesana kemari berdua tapi status nggak
jelas. Pacaran tapi bilangnya sahabatan, sahabatan tapi kayak
pacaran.” Fella tergelak, tidak menyangka Vanya akan mengeluarkan
kata-kata ajaibnya dan sebentar lagi ia pasti aka bilang 'kamu
mau aja di PHP-in'
Vanya memang tidak terlalu suka
pada Dion. Dion jauh dari kata 'baik'
dalam pandagannya.
“udah deh, nggak usah cemberut gitu. Kita cuma sahabatan kok.”
katanya sambil menyentuhkan ujung jari telunjukkan pada dagu gadis
didepannya. “mending cari pacar yang ketauan baik Fell. Dari pada
luntang-lantung ikut-ikutan Dion balapan liar sama dugem tiap
malem.”
“dia baik kok.” katanya
tidak mau kalah. “iya, tapi dia nggak bikin kamu jadi pribadi yang
lebih baik Fell. Kamu tiap mata kuliah pagi selalu kesiangan. Lagian
apa enaknya sih nonton balapan liar. Diciduk polisi baru tau rasa deh
semuanya.” Vanya menggerutu sementara Fella terus terkikik.
“dibilangin malah ketawa lagi nih anak. Ngeledek aja.” katanya
sambil memukul pundak Fella dengan botol plastik kosong.
Dion memang bukan good
boy.Dion hanya lebih
menyukai kebisingan di tengah malam dimana suara gas motor gedenya
sukses memekik diatara kerumunan orang yang ada disekitarnya. Ia bisa
dibilang sahabat baik Fella. Mereka pertama kali bertemu saat Fella
berada di salah satu klub dibilangan bintaro dan semakin dekat saat
tau bahwa mereka satu kampus. Fella hanya tinggal dijakarta sendiri.
Orangtuanya pindah ke kota palembang dua tahun yang lalu dan dengan
kesendiriannya bisa dibilang hanya Dion yang bisa diandalkan.
Walaupun menurut Fella, Dion memang sedikit urakan. Laki-laki itu
menyukai kebebasan, dalam hal apapun. Hobi, berpendapat dan sejauh
ini Dion merupakan partner yang baik untuk Fella.
***
Mereka keluar dari Mall saat jam
menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Setelah keluar dari salon
mereka menghabiskan waktu direstoran jepang masih di mall yang sama.
“kamu langsung pulang kan Fell?” Tanya Vanya saat ia menyelinap
dibalik kemudi. “nggak tau nih. aku tanya dulu Dion dimana yaa?
Biar dia ntar yang jemput. Jadi kamu nggak usah nganterin sampe
rumah.”
“Nggak usah, aku anter kamu
kerumah aja langsung.” Fella menoleh dan melihat Vanya cemberut. Ia
tau kalau sahabat wanitanya ini tidak suka dengan semua yang berbau
DION. “segitu
nggak sukanya sama Dion.” Fella melirik sahabatnya. Ia mengenal
Vanya dengan baik seperti halnya mengenal Dion. Mereka dekat saat
mereka sadar bahwa mereka lahir di kota yang sama. Vanya bergeming,
enggan menanggapi kata-kata sahabatnya. “gimana kalau kamu
sekali-kali ikut liat. Lagian nggak bosen apa tiap malem cuma tidur.”
Vanya menoleh. “Fella…. Malem itu emang waktunya tidur,
istirahat. Bukan kelayapan dijalanan.”
Fella tertawa .”berhenti Van.”
katanya. Vanya berhenti mendadak. “kenapa?” tanyanya heran.
“barusan ada kucing lewat. Kayanya kamu tabrak deh.” wajah Vanya
memucat. “yang bener?” tanyanya lagi. Fella mengangguk. Vanya
langsung membuka pintu mobilnya dan melihat ke depan mobilnya lalu
menunduk melongok ke kolong mobilnya. Kosong, tidak ada apapun dan
akhirnya bernapas lega. Ia tau mitos yang membicarakan mengenai
kesialan yang akan didapat kalau mereka menabrak kucing.
Ia menatap Fella yang kini sudah
terduduk dibelakang setir. Menggantikan posisinya sebelumnya dan ia
tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan. ia mendekati Fella.
Mengetuk kaca dan berkata “iseng banget sih.” saat Fella membuka
kaca. “udah ayo masuk. Ikut aku ya.” katanya sambil mengedikkan
bahu ke kursi penumpang disebelahnya. “mau kemana? Jangan
macem-macem ya Fell.” Ancamnya saat roda mobilnya sudah berputar.
Fella tertawa. “nggak macem-macem kok. Cuma satu macem.”
sahutnya.
Fella melihat Vanya cemberut. Ia
sepertinya sadar akan dibawa kemana oleh Fella. Mobilnya berhenti.
Fella keluar sementara Vanya masih terduduk manis ditempatnya. “ayo
keluar aahh.” bujuknya. Vanya masih bergeming. Melirik kesekitar.
Sepi, tapi ia bisa melihat kerumunan orang tak jauh dari tempatnya
sekarang. “mau ngapain sih?” tanyanya ketus. “cari suasana baru
aja buat kamu.” Fella membuka pintu mobil dan setengah menariknya
keluar dari mobil.
Fella tersenyum dan setengah
menyeret Vanya yang terlihat acuh mendekati kerumunan itu. Dan
seperti biasa. Dion sudah berada pada posisinya. Siap beradu dengan
lawan yang berbeda dari yang kemarin. Mata Vanya membulat seketika.
Menatap Dion dari atas sampai bawah. Bibirnya menganga heran sampai
dua orang bermotor itu hilang dari pandangan. Menyisakan keriuhan
mereka.
Senggolan dari Fella-lah yang
akhirnya membuyarkan lamunanya. “kenapa? Terpesona?” godanya.
“HAH? GILA. Mana mungkin.” jawabnya cepat. “trus ngapain
bengong ampe begitu?”
“kamu nggak liat. Balapan liar
dan Dion nggak pake helm, nggak pake jaket, dan Cuma pake celana
pendek. dia nggak takut mati apa?” Fella tersentak, Vanya yang
dikiranya terpesona malah mengungkapkan sesuatu yang tidak diduganya.
“jangan-jangan dijalan juga ugal-ugalan lagi.”
Fella diam dan berfikir sejenak.
Dion memang tidak pernah memakai helm. Dia mungkin punya, tapi
sepertinya dia lebih suka menyimpannya dirumah. “tapi dia nggak
pernah kenapa-kenapa kok.”
“iya, sekarang nggak
kenapa-kenapa. Tapi entar, nyawa manusia kan nggak ada yang tau
Fell.”
“jujur ya. Dia pasti bukan
pengendara yang baik. Dia suka nerobos lampu merah, dia suka masuk
trotoar, dya suka berhenti ditempat yang nggak seharusnya.” katanya
pada Fella sambil menarik tangan gadis itu menjauh dari kerumunan
orang yang masih terus bersorak-sorai menanti pemenang malam ini.
“kalau lagi buru-buru doang
kok.” jawabnya.
“kalo setiap hari aja kamu
kesiangan berarti hampir setiap hari dong kamu diajak ugal-ugalan
dijalan sama dia.” Fella diam. Kehabisan kata-kata. Semua kata-kata
Vanya benar. Tapi bukankah ia baik-baik saja. Ia tidak pernah
mempermasalahkan keamanan berkendara Dion karena memang dia tau Dion
memang seperti itu, sejak dulu. “kamu tuh tinggal dijakarta sendiri
Fell, sama kaya aku. Makannya kamu harus bisa jaga diri baik-baik.”
Katanya lagi sambil masuk ke mobilnya. Fella mengikuti dan duduk di
sebelahnya. “Vanya, Dion itu baik kok.”
“iya aku tau dia baik. Tapi
dia harusnya bisa jagain kamu. Paling nggak ngasih suatu keamanan
buat kamu.” Oke, Fella mulai tidak bisa embantah kata-kata Vanya
karena dia sadar Vanya benar.
***
Hari ini Fella tidak kesiangan
karena ia punya waktu yang cukup untuk tidur tadi malam akibat Vanya
yang terus-menerus mengomelinya masalah keamanan berkendara. Ia
menyisir rambutnya yang masih basah lalu mengambil tasnya diatas meja
dan keluar dari rumahnya. Butuh waktu kurang dari lima belas menit
untuk sampai di depan komplek perumahannya agar bisa menaiki angkutan
menuju kampusnya. Ia menyumpal telinganya dengan earphone bervolume
rendah lalu berjalan pelan menyusuri komplek perumahannya.
Suara klakson itu memekakan
telinga. Menukik gendang telinga Fella yang bahkan sudah disumpal
dengan bundalan yang mengeluarkan suara musik. Fella menoleh dan
tepat saat itu sebuah motor berhenti disampingnya. Fella tidak tau
siapa karena ia memakai helm Full
face dan saat pria itu
membuka kaca helmnya, Fella masih ragu kalau ia mengenal pria itu.
“mau ke kampus?” tanyanya. Fella mengangguk dan melihat
kebingungan Fella, pria itu membuka helmnya. Menunjukkan wajahnya
sepenuhnya. Fella mengernyit lalu berkata. “anak desain juga ya?”
katanya sambil menunjuk ajah pria itu. ia merasa ajah pria itu
familiar di tapi tidak benar-benar mengenalnya. Pria itu mengangguk.
“Firman.” Ia menyodorkan sebelah tangannya. Fella menggapainya
sambil tersenyum.
Ia memang bisa dibilang tidak
terlalu memperhatikan siapa teman-teman sekalasnya. Yang benar-benar
dia tau hanya Vanya dan beberapa teman yang cukup popular dikelasnya.
“bareng yuk. Aku juga mau ke kampus. Mata kuliah pagi pak ihsan
kan?” tanyanya. Fella sekali lagi mengangguk dan terpesona saat
melihat pria itu tersenyum. Dia memang tidak terlalu tampan namun
cukup manis dengan lesung pipinya. “Fell.” Pria itu
menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan wajah Fella yang
sedang melamun. “eehh iya.. kenapa?” katanya tergagap dan hanya
bisa tersipu menyadari bahwa pria didepannya tertawa melihat tingkah
konyol Fella. “berangkat bareng yuk.” Katanya lagi. “boleh.”
Jawabnya singkat sambil mengangguk. pria itu lalu memberikan helm
yang digantungkan dimotornya. “nih.” Katanya menyerahkan pada
Fella. Fella terdiam dan mengambil helm itu. “rambutku masih basah,
nggak usah pake helm ya. Lagian nggak akan ada polisi juga.”
Katanya sambil menyerahkan kembali helm itu. pria didepannya
terkekeh. “Fella, helm itu bukan cuma buat menghidari polisi. Helm
itu untuk keamanan. Kalau nanti kenapa-kenapa dijalan, helm itu bisa
menyelamatkan kepala kamu dari benturan keras. Tapi bukan berarti aku
mendoakan yang macam-macam. Hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi
sesuatu. Aku akan tetap berhati-hati.” Fella termangu. Menyerap
baik-baik kata-kata Firman. Lalu tersenyum malu. Ia merasa seperti
anak kecil yang baru saja diberi ceramah oleh gurunya. “tapikan
kita nggak akan kenapa-kenapa kalo kamu hati-hati.” Katanya lagi,
mencoba mencari celah. Pria itu tersenyum. “jalanan itu nggak bisa
di prediksi Fella. Kecelakaan itu bukan cuma karena kita nggak
hati-hati. Tapi bisa juga karena orang lain nggak hati-hati. Itulah
kenapa kita butuh yang namanya safety
riding. Karena
nyawa kamu lebih berharga dari apapun”
Fella kembali merona
karena malu pada Firman yaahh, ia sadar bahwa semua kata-kata Firman
benar. Firman memakaikan helm itu ke kepala Fella.
Dan perjalanan dengan Firman
seperti sesuatu yang baru baginya. Firman jelas berbeda dengan Dion.
Fiman lebih taat peraturan. Ia menjalankan sepeda motornya tidak
dengan kecepatan tinggi meskipun dibeberapa jalan memang terlihat
lenggang. Ia berhenti disetiap lampu merah, tidak pernah menerobos
meskipun tidak ada kendaraan dari arah lain. Dia tidak mengambil
jalur pejalanan kaki semacet apapun jalanan yang mereka lewati.
Firman memakai helm, memakai jaket dan sepatu. Tidak seperti Dion
yang terkadang bahkan memakai sandal.
“thanks
ya.” Kata Fella
sambil memberikan helmnya pada Firman. Firman tersenyum. Membuka helm
dan jaketnya. Memperlihatkan sosoknya yang hanya berbalut kemaja
hitam yang digulung sampai lengan dan Fella baru menyadari bahwa
mungkin ia menyukai Firman. Bodohnya ia karena selama mereka satu
kelas ia tidak pernah melirik ke arah Firman sedikitpun.
Mereka berjalan beriringan
menuju kelas dan langsung disambut tatapan heran dari Vanya. “bareng
Firman? Atau ketemu didepan?” Tanya Vanya dan hanya disambut oleh
sebuah senyum oleh Fella yang langsung duduk disebelahnya. “ketemu
dikomplek. Ditawarin bareng. Yaudah.” Fella tida bisa
menyembunyikan raut bahagianya yang membuatnya terus menerus diledek
oleh Vanya. “dia itu rajin masuk nggak sih Van? Kok aku jarang liat
ya.” Katanya sedikit berbisik pada Vanya karena seorang dosen sudah
mulai berceloteh didepan kelas. “rajinlah. Nggak kaya kamu. IPKnya
diatas 3.6” Fella langsung membulatkan matanya. Lalu mengangguk
pelan. “kenapa? Mulai naksir.” Vanya terkikik sepelan mungkin
membuat pipi Fella merona.
“mau pulang bareng lagi?”
Fella dan Vanya yang sedang makan dikagetkan dengan kedatangan sosok
Firman yang langsung duduk disamping Vanya, tepat didepan Fella.
Firman tidak tau bagaimana bisa ia manjadi terlalu percaya diri untuk
mengajak Fella pulang bareng padahal sebelunya jangankan berbicara,
menatapnya pun ia tidak berani.
“Nggak usah, aku bareng Dion
aja nanti.” Katanya. “ngapain bareng Dion? Emang itu orang
daritadi batang hidunya keliatan?” Vanya menyambar. “udah deh,
bareng Firman aja.” Katanya lagi. Dari tadi pagi memang Fella belum
sama sekali melihat Dion. Ponselnya pun tidak aktif. “yaudah deh
kalo nggak ngerepotin.” Katanya dengan senyum simpul.
Fella buka tipe wanita yang
mudah jatuh cinta makannya kali ini ia bingung bagaimana
mendeskripsikan perasaanya pada Fiman. Ia pikir selama ini ia
menyukai pria seperti Dion. Tapi ternyata ia salah. Hanya dengan
kata-kata Firman dan itu bisa langsung menghipnotisnya.
Kata-kata itu terus berputar
diotak kecilnya. Dan ia tersenyum sementara Firman fokus ke jalanan
yang ramai sore ini. suara dering ponsel membuatnya tersentak dan ia
meraihnya dari dalam tas. “iya… kenapa… APA? aku kesana
sekarang.”
“Firman, kita kerumah sakit
dulu ya.” Katanya sambil mengucapkan nama rumah sakit yang
dimaksud. “kenapa Fell?” Tanyanya pada Fella setelah mengangguk.
tapi yang ia lihat dari kaca spionnya adalah Fella yang wajahnya
memucat dan dalam hitungan detik airmatanya turun.
Firman tidak bertanya lebih
lanjut dan kembali fokus pada jalanan. Saat sampai di parkiran. Fella
langsung turun dan memberikan helm yang dipakainya kepada Firman dan
melesak masuk ke rumah sakit. Firman mencoba mengejar Fella yang
setengah berlari. “sus, kamar atas nama Dion Setya Nugraha.”
Katanya pada suster yang berjaga di depan. Masih mencoba mengahalau
airmata yang berusaha terjun bebas melewati kelopak matanya. “Dion
kenapa Fell?” Tanya Firman sementara suster mencari data atas
pasien atas nema Dion. “Dion kecelakaan.” Dan air mata itu turun
lagi. Firman mengarahkan buku-buku jarinya untuk mengapus air mata
itu. “kamar mawar nomor 205 dilantai dua.” Fella secara tidak
sadar langsung menggadeng tangan Firman menuju tangga setelah
mengucapkan terima kasih pada suster. Dan matanya terpaku pada sosok
orang yang terbaring diranjang kamar nomor 205. Ia masih berdiri
didepan. Hanya melihat dari kaca yang ada ditengah pintu. Ia bisa
melihat hampir seluruh tubuh Dion dibalut perban. Sebelah kakinya di
gips dan tergantung agak keatas. Perban itu juga menyilang dari bahu
kiri sampai ke pinggang kanan Dion. Kepalanya juga di perban dan
wajahnya, Fella bisa melihat pipi sebelah kanan Dion luka. Sepertinya
terkena aspal.
Bibir Fella bergetar dan ia
menagis tanpa suara. Ia membalik badanya dan memeluk Firman. “itu
Dion Firman, itu Dion” katanya sabil menangis didada Firman. Firman
mengelus pundak Fella. Mencoba memberikan ketenangan untuk gadis itu.
“Fella.” Yang dipanggil menoleh dan mendapati Adnan menghampiri
mereka. Adnan adalah salah satu sahabat Dion yang ia kenal. “Adnan,
Dion nggak kenapa-kenapa kan? Kenapa bisa jadi begini?” Fella
sesenggukan sementara Adnan hanya memandang nya dengan kesedihan yang
sama. “Dion tabrakan Fell, dia nerobos lampu merah jam tiga pagi.
Dia nggak nggak sadar ada mobil yang melaju kencang dari arah lain.”
Fella menutup mulutnya. “dia nggak pake helm jadi kerangka otaknya
pecah dan sekarang dia koma.” Hati Fella mencelos seketika. Ia
menatap Fimran dan sekelebat bayangan saat dirinya naik motor bersama
Dion berputar bagai slide. Hanya Dion, bagaimana kalau saat itu
dirinya bersama Dion. apa yang akan terjadi padanya.
“Fella, helm itu bukan cuma
buat menghidari polisi. Helm itu untuk keamanan. Kalau nanti
kenapa-kenapa dijalan, helm itu bisa menyelamatkan kepala kamu dari
benturan keras. Tapi bukan berarti aku mendoakan yang macam-macam.
Hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Aku akan tetap
berhati-hati.”
“jalanan itu nggak bisa di
prediksi Fella. Kecelakaan itu bukan cuma karena kita nggak
hati-hati. Tapi bisa juga karena orang lain nggak hati-hati. Itulah
kenapa kita butuh yang namanya safety riding. Karena
nyawa kamu lebih berharga dari apapun”
Subscribe to:
Posts (Atom)



