buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 20 January 2016

Last Minute



Naya termangu. Wajahnya pias. Ucapan laki-laki didepannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena terasa loncat dari tempatnya. Seingatnya ia belum tuli, tapi kenapa laki-laki itu bisa bicara seperti itu? Naya yang semula menunduk mencoba mendongkak dan menatap bola mata cokelat yang kini berkilat hangat ke arahnya. Wajahnya tampak tegang, seakan apa yang akan keluar dari mulutnya begitu berpengaruh untuk hidup laki-laki itu.

“Nay” kata laki-laki itu, membuat sepenuhnya kesadaran Naya kembali terpusat di otak kecilnya. Ia mengambil nafas panjang. Ia rasanya ingin menceburkan diri ke jurang karena malu dan menonjok laki-laki di depannya karena marah. Tapi lebih dari pada itu dia bingung. Bagaimana bisa?

“kamu serius By?” dan Naya meluruh saat melihat Roby mengangguk mantap tanpa ragu.

“Tapi gimana bisa?” Naya merasakan suaranya bergetar. “Kamu selama ini bohongin aku?” dia menggeleng cepat seakan membantah semua yang berkecambuk di pikiran Naya.

“aku...aku...aku Cuma nggak mau kehilangan kamu.”

Naya mengusap wajahnya kasar. Sudah cukup, Roby sudah benar-benar membuatnya marah. Ia ingin sekali manampar wajah tampan dihadapanya, tapi kenapa tangannya terasa begitu kaku. Ia mau menampar, menonjok atau apapun yang bisa membuat wajah tampan itu manjadi tidak berbentuk.

“jawab jujur. Apa kamu serius sama omongan kamu barusan?” Naya mencoba bersabar. Ia menahan diri mati-matian untuk memberondong Roby dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah membuatnya pikirannya sesak sehingga terasa sakit.

“Aku serius Nay, Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.”

Naya melihat kilatan kesungguhan dalam binar matanya yang membulat sempurna. “tapi kamu kan gay?” Naya melihat senyum kaku Roby berubah getir. Ini lebih dari bencana. Bukan hanya kenyataan bahawa Roby, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka belajar berjalan kini menyatakan cinta padanya. Yang lebih menyakitkan buat Naya adalah kenyataan bahwa Roby bukan gay. Padahal saat mereka duduk dikelas satu SMP Roby meyakinkan Naya bahwa dirinya adalah seorang gay tanpa memperdulikan raut wajah Naya yang berubah kaget dengan sebuah kaleng minuman yang hampir dilemparkannya ke arah Roby.

***

“Kenapa nggak bilang sih kalo mau pulang bareng yayan?” Naya yang masuk ke kamarnya tidak heran melihat Roby yang sudah bersantai mesra dengan ranjangnya. Ini memang selalu menjadi kebiasaan mereka. Kalau tidak mengacak-acak kamar Roby ya pasti mengacak-acak kamar Naya. Kedekatan mereka dari kecil karena bertetangga dan ibu mereka bersahabat membuat mereka bebas berkeliaran disemua sudut rumah.

“iyan By, bukan yayan. Ganti-ganti nama orang aja dehh.” Jawabnya sambil melempar tas ke arah ranjang, hampir mengenai Roby dan membuat remaja itu merengut kesal. “iya nggak penting juga sih aku tau namanya.” Katanya sambil membuka majalah yang baru saja dilempar Naya bersamaan dengan ranselnya.

“Hp aku mati. Jadi nggak sempet ngabarin kamu.” Naya masuk ke kamar mandi dan suara air yang mengucur membuat Roby tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
Naya bersenandung kecil menikmati guyuran air dari shower yang menghujam kulit telanjangnya.

“udah lama? Udah makan siang belom? Mbak minah masak kan?” kata Naya sambil keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh berbalut handuk dari dada sampai pahanya.

“udah. Abisnya nungguin kamu lama.” Jawabnya sambil memperhatikan naya yang sedang berdiri didepan lemari. Memilah-milah pakaiannya sampai mengeluarkan sepotong tanktop dan hotpant warna cokelat.

“maaf deh.” Katanya tanpa membalik badan dan tanpa pertimbangan apapun melepas handuknya dan memakai pakaiannya. Masih didepan lemari dan membelakangin Roby yang menelan ludah dengan tidak ketara.

Ini memang bukan hal biasa. Semenjak Roby memproklamirkan dirinya sebagai seorang gay. Naya tidak pernah ragu untuk melakukan semua hal yang masuk dalam katagori privasi wanita kepada Roby. Ia merasa tidak punya rahasia apapun dengan sahabatnya itu. Dan yang pasti hanya Naya yang tau kondisi Roby. Tidak ada yang lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun

***

“bagusan yang merah apa yang putih By?” Naya yang sedang ada dipusat perbelanjaan itu mengangkat dua buah dalaman dan menunjukkannya pada Roby. “yang merah bagus.” Jawabnya singkat. Ini yang membuat Naya senang. Berteman dengan Roby membuatnya merasa seperti mempunyai sahabat wanita yang satu pikiran. Roby tidak pernah menolak diajak nonton film romantis yang membuat naya akhirnya mewek ditengah-tengah film sampai memilih berbelanja dalaman wanita. Roby sama sekali tidak merasa jengah. Walau pun ya, menurut Naya sayang sekali kalau laki-laki seganteng Roby jadi gay. Dunia kehilangan satu spesis ganteng yang harusnya bisa jadi bahan rebutan gadis-gadis.

***

“Kamu beneran nggak suka cewek By?” tanya Naya suatu kali saat mereka tengah terlentang di hijaunya rumput taman komplek rumah mereka menyaksikan langit yang memerah.

“Kamu tau artinya gay nggak sih Nay? Nggak perlu aku jabarin kayak guru ngejelasin muridnya kan?” Naya menoleh lalu terkikik geli. Menatap mata Roby yang tidak lepas dari hamparan awan yang membentang diatas mereka.

“sayang yah. Cewek-cewek yang ngejar kamu kan banyak. Kalo mereka tau kamu gay pasti bakal ada patah hati masal disekolah kita.” Kali ini Roby melirik Naya melalui ekor matanya dan melihat gadis itu mengukir senyum di bibirnya.

“kamu tau Melani kan By. Dia kan cantik, putih, langsing, kamu nggak naksir juga sama dia?” Naya memperhatian langit yang semakin memerah sementara Roby menghela nafas berat, tapi tidak juga menjawab pertanyaan Naya. Mereka sibuk memperhatian perubahan warna langit hingga sang matahari tenggelam.

“jangan-jangan kamu juga patah hati ya?” tanya Roby saat mereka bangun dari rerumputan. Bersiap untuk pulang.

“iya, aku naksir berat sama kamu By. Tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan.” Naya tertawa renyah. Seakan apa yang baru saja ia beritahu adalah gosip yang sedang hits ditelevisi. Sedangkan Roby terhenyak ditempatnya

***

Sekelebat ingatan itu muncul di otak Naya. Ia memandang Roby yang menatapnya dengan tatapan begitu sulit di artikan. Bayangan saat ia mengganti baju dengan semena-mena di depan Roby, bayangan saat ia meminta Roby mengantarnya membeli baju dalaman, bayangan saat Ia dan Roby sering tidur siang berdua membuat bulu kuduknya meremang. Bukankah ini buruk. Ia malu bercampur marah. Entah mana yang lebih mendominasi, Naya tidak tau. Yang jelas semua rasa berkecambuk didadanya.

“aku nggak bohong kalo dulu aku bilang aku gay Nay.”

“terus?”

“Aku juga nggak tau. Tiba-tiba rasa itu muncul gitu aja. Aku juga nggak ngerti gimana jelasinnya sama kamu?”

“Sejak kapan?”

Roby mengangkat bahu dengan acuh. “kalau kamu nanya kaya gitu aku juga nggak tau.”

“terus kenapa baru sekarang kamu jujur?”

“karena kalau sejak dulu aku jujur sama kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku takut nggak bisa deket lagi sama kamu.”

“ tapi kamu tau kan sekarang akibatnya apa?” Tangis Naya hampir pecah. Roby tidak pernah tau kalau Naya mencintainya. Semenjak Roby bilang bahwa ia gay. Naya berusaha mati-matian untuk mengubur semua perasaannya pada Roby mengingat cintanya tidak akan pernah terbalas. Ini lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kamu cintai mencintai orang lain.
Roby mengangguk lemah. Ia sadar. Tapi bukankah ia memiliki peluang untuk ditolak juga. Bahkan persahabatannya bisa jadi taruhannya kalau sampai Naya menolaknya.

***

Tangis Naya pecah saat para saksi mengatak 'sah' selepas pria berkopiah hitam disampingnya mengucapkan ijab kabul. Ia mendongkak. Memperhatikan guratan bahagia dalam wajah ayahnya. Lalu kesamping. Mencoba tersenyum ke arah pria yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya lalu mencium punggung talapak tangannya pelan.
Ia sempat melihat ke sekeliling dan tatapan jatuh pada ibunya yang menangis haru saking bahagianya.
Dia disana. Naya melihat Roby dengan stelan kemaja dan celana bahannya ada di barisan paling ujung. Tatapan mereka bertemu setelah ustad menyelesaikan doanya. Wajahnya muram, senyum yang biasa melekat di bibirnya menghilang entah kemana. Raut wajahnya menyisakan guratan sakit hati terkait pembicaraan mereka kemarin malam. Malam kejujuran Roby sebelum Naya bersanding dengan laki-laki yang dicintainya. Cinta.. Aahh entahlah apa itu cinta. Yang jelas kalau Naya boleh memilih, ia ingin Roby yang menjabat tangan ayahnya dan mengucapkan ijab kabul untuknya. Tapi ia tau bahwa ia terlambat. Mereka semua terlambat.


Bisikan Iblis

  

Thomas tersenyum kepada gadis didepannya. Senang karena hari ini gadis itu terlihat lebih baik dan lebih tenang. “Bawa aku pergi dari sini Thomas. Aku nggak mau tinggal disini. Aku sehat. Aku nggak sakit.” Gadis itu memegang tangan Thomas. Mengusapnya pelan. Mencoba meyakinkan pria didepannya bahwa ia harus segera membawanya keluar dari sini. “Kita akan pulang sama-sama. Nanti ya. Setelah kamu lebih baik.”


Dia tidak menyangimu. Dia itu membencimu. Dia akan membunuhmu suatu saat. Jadi lebih baik kau bunuh dia sebelum dia membunuhmu


Suara itu berdengung. Suara brengsek itu berdengung lagi di telinga Safira. Ia menggeleng lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat.
“kau baik-baik saja?” Thomas mengguncang- guncangkan tubuh Safira yang mulai berontak tak terkendali.
Kau itu manusia tidak berguna. Makannya dia menaruhmu disini
TIDAK... safira terus menggeleng dan berontak dari pegangan Thomas.
“Suster...suster.” Tanpa melepas pegangannya, Thomas memanggil perawat yang datang kurang dari sepuluh detik setelah panggilan pertama.
Thomas hanya bisa memandang kala kedua perawat itu berusaha menenangkan Safira. Dokter datang beberapa menit kemudian dan Safira lebih tenang setelah diberi obat.
“apa dia tidak bisa sembuk dok?” tanya Thomas saat Dokter keluar dari kamar Safira. “kemungkinanya sangat kecil. Dia harus bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Dalam kasus lainpun kita hanya bisa meredam, tidak bisa menyembukannya total.” Mereka berpisah tepat didepan ruangan Dr. Deyas. “Thomas. Mungkin kau tau sesuatu yang dia sukai. Hobinya mungkin. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannyannya dari penyakit itu.” Thomas terdiam. Dia tidak tau. Sama sekali tidak tau karena ia tidak mengenal Safira dengan baik. Ia hanya salah seorang yang menemukan Safira yang hendak melompat diatas sebuah jembatan.
***
“Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya sambil menarik tangan gadis itu turun dari sebuah bangku plastik. Setengah menghempaskan menjauh dari tepi jembatan penyebrangan yang hanya dibatasi oleh tembok sebatas dada orang dewasa. “siapa kau? Pergilah jangan ganggu aku” gadis itu meronta dalam pegangan Thomas hingga akhirnya pegangan itu terlepas. “mau bunuh diri? Apa kau sudah gila Hah?”


Lihat. Dia bilang kau gila. Kau pantas mati. Ayo jatuhkan tubuhmu kebawah sampai kau mati dan tenang.


Safira menangis “aku akan mati. Oke. Aku akan menjatuhkan diriku kebawah sampai aku mati.” Safira tidak sadar mengucapkan kata-kata itu dengan keras sehingga membuat pria didepannya kebingungan. Pria itu kembali menarik tangan safira yang hendak kembali menaiki kursi itu. “lepaskan brengsek. Apa kau tidak dengar? Mereka ingin aku mati. MATI” katanya penuh dengan penekanan.
Thomas kali ini menarik tangan safira turun dari jembatan sekeras apapun gadis itu berontak. Setelah sampai dibawah jembatan ia memandang gadis didepannya. Gadis dengan pakaian yang entah sudah berapa lama tidak diganti. kaus dan jeans lusuh dengan wajah mengenaskan. Gadis itu benar-benar berantakan.
“dimana rumahmu?” tanya Thomas. Ia sudah melepas pegangangannya dan melihat gadis itu beringsut menjauh.


Kau punya musuh baru safira. Mungkin dia orang yang akan membunuhmu. Jadi lebih baik sekarang tabrakan dirimu dijalan.


Safira memandang ke arah jalan raya dimana mobil dan motor berlalu lalang. Cukup kencang dan mungkin ia akan dengan cepat mati kalau menabrakkan diri. Ia melirik ke arah Thomas yang mencoba berbicara kepadanya. Tapi yang ia dengar hanya suara-suara iblis itu. Suara iblis yang sudah menghancurkan hidupnya.
Safira melangkah perlahan. Dan saat Thomas tau apa yang akan gadis itu lakukan ia berlari dan meyambar lengan gadis itu hingga kembali menubruknya. “sebenarnya apa masalahmu?” Thomas masih memeluk tubuh gadis itu yang terasa kaku dan tanpa pikir panjang ia mengiring gadis itu ke mobilnya.
***
Safira membuka mata dan langsung terperajat melihat langit-langit berwarna putih. Ia bangun dan menyadari bahwa ia disebuah kamar. Tidak seperti biasanya dimana Ia akan terbangun dengan menatap lagit-langit sebuah toko ataupun rumah-rumah kosong. Ia terduduk dan menyandarkan punggungnya dikepala ranjang lalu menatap tubuhnya yang sudah berganti pakaian.
Ia menekan pikirannya. Mencoba mengingat apa yang membuatnya bisa ada disini. Laki-laki itu. Ia ingat sekarang. “kau sudah bangun rupanya.” Thomas mendekat, membuat Safira beringsut menjauh. “tenang saja. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Dan yang menggantikan pakaianmu adalah pelayanku. Jadi kau tidak perlu khawatir.”
Safira menelan ludah dengan tidak ketara. Lalu menatap pria yang sudah duduk di tepi ranjang itu lekat-lekat. “mandilah, pelayanku akan membawakanmu pakaian. Setelah itu kita sarapan. Kita butuh bicara banyak.” kata pria itu sambil berlalu dari pandangan Safira.
Safira keluar dari kamar mandi dengan sebuah jubah mandi yang ia temukan di lemari kecil didalam kamar mandi. Ia menghampiri ranjangnya dan menemukan sepotong kaus dan celana pendek warna khaki. Ia memakainya lalu keluar dari kamar. Sepi. Rumah itu luas namun sepi seperti tidak berpenghuni. Ia berjalan ke arah kanan, menuruni sebuah tangga berkarpet merah.
“nona sudah ditunggu diruang makan.” seorang pria paruh baya menghampiri Safira yang tengah kebingungan di bawah tangga sambil menunjuk ke sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri.
“duduklah.” Thomas mengisyaratkan agar gadis itu duduk dengan sebelah tangannya. Safira menurut dan aroma harum langsung menguar tepat saat ia duduk dihadapan pria itu. Safira lupa kapan terkahir kali ia makan dengan enak atau bisa disebut makan dengan layak. Semenjak tinggal dijalanan, ia bisa memakan apapun yang bisa ia makan dari hasil bekerja serabutan sehari-hari.
Diatas meja itu ada berbagai macam masakan. Goreng, tumis berkuah dan semuanya begitu menggugah selera Safira. Safira mulai menggerakan sendok garpunya kala laki-laki itu menaruh nasi dan segala lauk-pauknya diatas piringnya.
“jadi dimana rumahmu?” tanya Thomas saat mereka mengakhiri sarapan mereka. Safira meneguk air minumnya dan diam lalu menyebutkan suatu tempat. “kau serius? Bagaimana bisa? Itu jauh sekali dari sini.” Thomas nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“lalu kenapa kau bisa ada disini? Dan kenapa kau ingin bunuh diri?” Safira melihat mata Laki-laki didepannya. Menyadari bahwa ada pancaran keingintahuan disana.
“aku kabur dari rumah.” jawabnya pelan. “kenapa?”
“karena mereka semua ingin membunuhku.”
Thomas mengerutkan dahi dan mendapati gadis didepannya hanya menunduk. “kenapa seperti itu?” tanyanya lagi. Gadis didepannya masih diam. Cukup lama hingga akhirnya ia mengangkat wajahnya. Bukan untuk menatapnya. Melainkan menatap sebilah pisau buah yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk dan dapat diambilnya dalam satu jangkauan.
Thomas mengikuti arah pandang gadis didepannya dan langsung mengerti. Ia beberapa detik lebih cepat untuk mengambil pisau itu.
“berikan pisau itu padaku.” kata Safira.


Lihat, sebentar lagi dia akan membunuhmu. Ambil pisaunya dan goreskan ke nadimu. Kau lebih baik mati ditangan sendiri daripada mati ditangan orang itu.


Safira bangkit dan berusaha menggapai pisau yang diangkat Thomas tinggi-tinggi. Thomas bersyukur bahwa tinggi badannya bisa dibilang jauh dari gadis didepannya.
“kau sebenarnya kenapa?” Thomas masih mengangkat pisau itu tinggi-tinggi saat Safira tak juga mau menyerah dan terus berjinjit didepannya.
***
Sudah Seminggu sejak ia membawa Safira ke rumahnya tapi ia sama sekali tidak mengerti dengan gadis itu. Ia kadang terlihat normal. Mengobrol seperti biasa tapi terkadang ia mengamuk dan berusaha mencelakai dirinya sendiri. Thomas terpaksa mengosongkan kamarnya dari sesuatu yang tajam. Hanya ada lemari dikamarya karena terakhir kali Safira menghancurkan kaca riasnya dan mencoba melukai dirinya dengan pecahan kaca itu. Ia tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan Safira. Kadang ia bilang bahwa ia mendengar suara-suara orang yang sama sekali tidak bisa didengarnya. Hanya safira yang bisa mendengar.
Thomas pernah sekali menanyakan keadaan Safira dengan salah satu teman kampusnya dan teman kampusnya itu menyuruhnya membawa ke psikiater. Dan hari ini ia memang berniat membawa Safira ke psikiater untuk memperjelas keadaan Safira.
“kita mau kemana?” tanya Safira saat Thomas mulai menginjak gasnya dan sedetik kemudian roda berputar. “ke suatu tempat. Aku harapa kau tidak berfikir macam-macam nantinya.”
Safira mengerutkan dahinya dan menatap Thomas yang masih fokus pada jalanan yang tampak lenggang hari ini. Safira bisa dibilang beruntung bertemu dengan Thomas. Laki-laki itu baik. Umurnya hanya terpaut tiga tahun darinya dan sudah duduk dibangku semester akhir. Ia tidak bisa memungkiri bahwa hidupnya belum benar-benar tenang. Hidupnya masih kacau dalam ruang lingkup rumah Thomas yang damai. Suara-suara itu masih sering muncul memekakan telinganya. Mengejeknya, menghasutnya, memanipulasi pikirannya.
Ia mengalami malam-malam yang melelahkan kala suara-suara iblis itu muncul. Ia akan berontak dikamarnya. Menghancurkan semua benda yang ada disekitarnya kala menutup telinganya sama sekali tidak berguna.
“ini rumah temanku. Aku mau mengenalkannya padamu.” Thomas menghela Safira masuk saat Anya muncul dibalik pintu yang diketuknya dan mempersilahkan mereka masuk.
“aku perlu berbicara dengannya. Bisa tinggalkan kami sebentar.” Anya berbicara pada Thomas dan melihat laki-laki itu mengangguk. Safira sempat menggenggam tangan Thomas erat saat pria itu hendak pergi. “dia temanku. Tidak usah takut.”
Thomas tidak pernah tau kalau Safira membenci orang-orang baru yang ditemuinya. Bagaimana kalau suara-suara iblis itu datang lagi dan mempengaruhinya. Setelah kurang lebih lima belas menit mengobrol, Safira baru tahu bahwa Anya adalah seorang psikiter yang masih sahabat dari Thomas. Dia baik, cantik dan begitu lembut. Ia memberikan beberapa pertanyaan pada Safira dan ia menjawabnya dengan jujur. ia bahkan berani menceritakan masa lalunya hingga ia bisa terdampar dirumah Thomas.
***
“dia punya penyakit kejiwaan.” kata Anya keesokan harinya saat bertemu dengan Thomas di salah satu cafe. Mata Thomas membulat tak percaya. “maksudmu dia gila?”
“tidak. dia tidak gila. Dia hanya punya masalah kejiwaan. Dia menderita skizofrenia.” Thomas mengerutkan dahinya, bingung.
“Skizofrenia?”
Skizofrenia itu suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa. Karena gejala ini, orang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.” penjelasan pertama yang dijabarkan Anya tidak juga membuat Thomas mengerti.
“penderita skizofrenia dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang di sekitar mereka. Mereka bisa mendengar, melihat, mencium bau, merasakan hal yang tidak dialami oleh orang lain. Bisa dibilang halusinasi, misalnya mendengar suara. Mereka mungkin memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hal yang tidak benar , misalnya bahwa orang membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Ketika dunia mereka kadang-kadang tampak menyimpang akibat halusinasi dan delusi, orang dengan skizofrenia dapat merasa takut, cemas dan bingung. Mereka bisa menjadi begitu kacau sehingga mereka dapat merasa takut sendiri dan juga dapat membuat orang di sekitar mereka takut.”
Thomas mengerti. Penjelasan Anya begitu gamblang dan ia bisa menangkap dengan cepat. “jadi yang dia bilang suara-suara iblis itu tidak benar-benar ada? Hanya halusinasinya saja?”
Anya mengangguk dengan mantap. “tapi biasanya suara-suara apa yang biasanya didengar? Safira selalu ingin bunuh diri.”
“mungkin suara-suara itu mengejeknya. Memberitahu bahwa ia tidak berguna dan lebih baik mengakhiri hidupnya.”
Thomas nyaris tidak percaya ada penyakit semacam itu.
“ini penyakit kompleks Thomas. Banyak juga orang yang mengaku nabi atau tuhan karena suara-suara itu terdengar memujanya sebagai nabi dan tuhan.”
“lalu apa yang harus aku lakukan padanya.”
Anya menyesap minumannya pelan. “Dia perlu obat dan kau yang tau bagaimana kondisi kesehariannya. Kalau memang sudah terlampau parah. Kau bisa membawanya kerumah sakit jiwa. Dia akan ditangani dengan baik disana.”
“Rumah sakit jiwa?” ulangnya. Anya mengangguk. “apa penyakit itu bisa sembuh?”
“kemungkinannya sangat kecil. Tergantung penanganan dan dukungan dari orang sekitarnya.”
“apa bisa aku merawatnya dirumah?”
“bisa. Tapi kau harus ekstra berjaga. Aku akan memberikan obat untuknya tapi kita tidak pernah tau kapan penyakitnya akan kambuh.”
“kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?”
“aku akan menaruhnya dirumah sakit jiwa. Bagaimanapun penyakit ini tidak bisa ditangani oleh orang awam. Safira butuh terapis dan rumah sakit jiwa bisa memberikan apa yang dia butuhkan untuk menekan halusinasinya.”
Thomas menelan ludah. Apa iya dia harus memasukan Safira kerumah sakit jiwa. Selama beberapa hari ini Safira bahkan menjadi teman yang baik untuk Thomas. Ia merasakan rumahnya yang sepi mempunyai sedikit warna. Ia memang tinggal sendiri dirumah itu karena kedua orangtuanya menetap dikota lain. Dulu ia tinggal bersama adiknya, tapi adiknya harus pergi karena sebuah kecelakaan. Kalau adiknya masih hidup mungkin ia seumuran dengan Safira.
“apa dia akan mengerti kalau aku menceritakan penyakitnya?”
“tentu saja. Dia memang punya penyakit kejiwaan Thomas, tapi dia tidak gila. dia sama seperti kita. Mengerti apa yang kita ucapkan. Safira hanya selalu berhalusinasi.”
“ODS -orang dengan Skizofrenia- tidak bisa didominasi. Dia akan susah bergaul dengan orang lain. Mereka bisa saja selalu menyalakan sinyal bahaya untuk orang-orang yang tidak mereka sukai. Mereka tidak akan bisa produktif seperti kita. Mereka perlu penanganan khusus apalagi dalam kasus Safira yang bisa aku golongkan cukup parah.”
***
Safira memandang Thomas dengan bingung. Laki-laki itu tidak pergi ke kempus hari ini. Jadi mereka mengobrol diruang tamu. Thomas juga menaruh laptopnya diatas meja dan menatap Safira ragu.
“kau tau bahwa temanku yang kemarin adalah psikiater?” Safira mengangguk. Masih menatap Thomas yang sepertinya perlu berfikir banyak hanya untuk mengucapkan sepatah dua patah kata padanya.
“dia bilang kau salah satu pederita skizofrenia.”
“ski...”
“skizofrenia.” kata Thomas lalu mengetikkan kata itu di mesin pencarian google.
Safira mengalihkan perhatiannya dari Thomas ke layar yang ada didepannya. Thomas membuka link wikipedia mengenai Skizofrenia.
Skizofrenia adalah ganguuan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi, paranoid keyakinan atau pikiran yang salah yang tidak sesuai dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan. Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% – 0,7%.Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan pengalaman penderita yang dilaporkan.
Gangguang mental. Kata itu begitu cepat tertangkap diotaknya. Jadi selama ini ia mengalami gangguan mental. Dan apa yang ditulis disana. Halusinasi. Apa yang dimaksud itu adalah suara-suara iblis yang selama ini ia dengar. Apa ia bisa dikatagorikan gila?
“jadi aku mempunyai gangguan mental? Jadi suara-suara itu hanya halusinasiku saja dan tidak benar-benar ada?”
Thomas mengangguk lalu mengelus pundak Safira yang tampak tegang. “tapi, suara-suara itu seperti nyata. Terdengar begitu jelas di telingaku.”
“kau harus bisa mengendalikannya Safira karena kalau tidak....” Thomas menggantungkan kalimatnya. Tidak tega untuk bilang bahwa Safira akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
“apa penyakit ini bisa disembuhkan?”
“kemungkinannya sangat kecil. Tapi kita selalu punya harapan.”
Pikiran Safira melayang ke tahun-tahun yang lalu. Ia ingat bahwa dulu ia anak yang bisa dibilang cerdas. Ia tidak pernah keluar dari peringkat tiga besar dikelasnya. Tapi suara itu datang saat ia baru menginjak semester satu.
Ia kerap mendengar suara-suara yang mengejeknya. Mengatakan bahwa ia tidak berguna, bahwa semua orang membencinya dan ia lebih baik bunuh diri.
Ia ingat malam itu. Ia sedang menonton televisi dan ia mendengar orang didalam televisi itu berkata lantang kepadanya.
Bukankah aku sudah menyuruhmu bunuh diri. Kau tidak layak hidup safira. Tidak ada orang yang mengininkanmu didunia. Bahkan keluargamupun akan membunuhmu suatu saat nanti.
Suara itu begitu jelas seperti sengaja dibisikan ke telinganya. Terus menerus, makin mengejek dan memojokkannya hingga akhirnya ia berteriak. “aku akan bunuh diri oke, kau akan melihatku mati.” ia mengatakan itu keras-keras hingga ia merasa tubuhnya diguncang-guncangkan dan seketika ia sadar bahwa ia sedang berkumpul diruang TV bersama keluarganya.
Ia melihat kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya menatapnya bingung. Berusaha menyadarkannnya. Sejak saat itu hidupnya berubah. Hidupnya tidak baik-baik saja. Hidupnya terbelenggu oleh bisikan-bisikan iblis itu. Bisikan-bisikan itu bisa datang kapan saja dan ia akan langsung menutup telinganya rapat-rapat. ia bahkan sering mengamuk karena suara-suara itu seringkali mendominasi.
Kuliahnya berantakan dan dirumah kedua orangtuanya mulai kebingungan melihat sikapnya. Suara-suara itu makin menjadi-jadi. Menghasutnya. Mengatakan bahwa kedua orangtuanya membencinya dan akan membunuhnya. ia dilingkupi ketakutan hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah.
Berbulan-bulan Safira hidup dijalanan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. ia tidak punya tujuan dan yang ia lakukan setiap hari hanyalah berjalan dan berkerja serabutan agar mendapatkan uang untuk makan.
Jangan tanya mengenai suara-suara itu. Suara-suara itu masih terus terdengar bahkan sampai detik ini. Dan sekarang Safira tau penyebabnya. Ia mengalami gangguan mental. Semua pikiran-pikiran buruknya hanya halusinasi dan orang-orang yang selama ini dikirannya jahat mungkin tidak benar-benar jahat.
***
Keadaan Safira membaik karena obat-obatan yang diberikan Anya. Obat antipsikotik itu memberikan pengaruh besar pada Safira. Penyakitnya jarang kambuh dan Thomas sudah berfikir bahwa Safira sudah benar-benar sembuh. Tapi ia salah, saat ia lengah, suara-suara iblis itu kembali menyerang Safira. Lebih besar dari sebelumnya dan Safira yang dalam keadaan seorang diri diruang tamu berhasil menusukkan sebilah kaca ke perutnya.
***
Thomas memandang Safira yang teridur di ranjang rumah sakit. Pikirannya salah. benar kata Anya, Safira tidak mungkin bisa sembuh hanya karena obat-obatan itu. Safira butuh terapi dan tempat dimana ada orang yang dua puluh empat jam bisa menjaganya. RUMAH SAKIT JIWA.
“Thomas.” Suara itu terdengar saat Thomas duduk tertidur dengan sebelah tangan menopang kepalanya dan sebelah tangannya lagi menggengam telapak tangan Safira yang terasa dingin. Sedikit lagi, kalau saja asisten rumah tangganya tidak bergerak cepat. Mungkin Safira sudah kehilangan nywanya.
“kau sudah sadar?” Thomas tersenyum menatap wajah Safira yang pucat dan melihat gadis itu menarik garis bibirnya dengan susah payah. “suara-suara itu kembali Thomas.” katanya dan Thomas bisa merasakan genggaman gadis itu mengerat. Thomas mengusap pucuk kepala Safira. Mencoba menenangkan gadis dihadapannya.
***
Thomas tidak tau bagaimana harus berbicara pada Safira. Apa ia tega harus memasukkan gadis itu kerumah sakit jiwa. RUMAH SAKIT JIWA. Katanya dalam hati. Tempat penderita gangguang mental, orang gila. Hati Thomas tiba-tiba terenyuh. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini yang terbaik untuk Safira.
“untuk apa kita kesini?” Safira memandang tajam saat mobil Thomas berhasil merangsek diparkiran rumah sakit jiwa itu. “bertemu psikiater untukmu.” katanya, mencoba terlihat tenang. Safira menelan ludah dan keluar dari mobil, mengikuti Thomas.
“aku tidak mau masuk.” Thomas menoleh dan menyadari bahwa Safira masih berdiri didepan mobilnya. Ia menarik nafas berat lalu menghampiri. “tidak apa-apa. Mereka sama seperti Anya, mereka bisa membantumu untuk sembuh.”
Thomas menarik paksa tangan Safira masuk. Melewati lorong-lorong dengan kamar-kamar disisi kanan kirinya hingga akhirnya sampai ke ruangan yang ditujunya. “bawa aku keluar dari sini Thomas.” kata Safira ketakutan. Ia mendengar puluhan langkah kaki menghentak-hentak disekelilingnya. “ayo kita pulang Thomas.” ia mulai menutup telinganya kala suara-suara itu terasa semakin kencang.
Semua terjadi begitu cepat. Petugas itu membawa paksa Safira yang mulai mengamuk ke sebuah kamar dan seorang dokter mengikutinya. Thomas hanya bisa melihat dari jendela. Dokter itu duduk dihadapan Safira yang tampak ketakutan. Gadis itu terus menerus meremas kedua tangannya lalu memandang tajam kearah Dokter yang sejak tadi tersenyum. “kau ada di tangan yang tepat Safira. Dokter Deyas tidak akan mengecewakanku.”
***
sudah tiga bulan Safira tinggal disana dan Thomas semakin optimis setiap harinya. Sepulang kuliah ia selalu menyempatkan diri menemui Safira. Memastikan bahwa Safira dalam keadaan baik dan semakin baik.
“aku membawakanmu kanvas dan cat air.” kata Thomas sambil masuk ke ruangan yang ditinggali gadis itu. Hanya ada ranjang dan sebuah sofa juga meja kayu dan lemari kecil disana. Minimalis tapi Thomas beryukur karena kamar Safira bisa dibilang sangat rapi dan bersih.
Safira melihat cat air dan kuas-kuas yang diletakan Thomas diatas meja lalu beralih ke kanvas dengan penyangga yang ditaruh laki-laki itu di depan jendela kamarnya.
“aku harap kau tidak kesepian. Dokter Deyas bilang kau butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranmu dari suara-suara itu. Aku melihat beberapa coretanmu di tembok kamar.” katanya sambil tersenyum. Senyum yang selalu dirindukan Safira
“terima kasih.” Safira mengambil tangan Thomas dan menggenggamnya erat. “terima kasih karena kau masih disini. Aku tidak tau apa jadinya kalau kau meninggalkanku.” matanya nanar dan segumpal air mata mulai menggenang dipelupuk matanya.
“aku akan selalu ada untukmu. Aku berjanji.”

Wednesday, 9 December 2015

Aku si ODHA


Surat ini tidak aku tujukan untuk siapa-siapa, atau setidaknya aku tidak akan mengacungkan telunjukku didepan wajah kalian. Kalian tau bahwa aku terlalu malu, terlalu merasa hina. Aku hanya ingin berbagi sepenggal kisah hidupku yang sama sekali tidak akan pernah ingin dialami orang anak-anak muda lainnya.

            Sekilas, mungkin kalian tidak akan melihat perbedaan dengan diriku. Bagi kalian Aku mungkin hanya terlihat begitu kurus. Tapi yang lainnya, aku dan kalian tampak sama. Aku bisa berjalan sama seperti kalian, bahkan berlari. Aku bisa berbicara lantang, seperti kalian. Tapi ada sesuatu mematikan dalam tubuhku yang membedakanku dengan kalian. Yaahh.. kalian yang mengetahui apa itu akan langsung menjauhiku. Menganggapku begitu hina, menganggapku seperti sampah yang harus kalian buang.

            Kalian tau. Aku tidak pernah ingin mengalami ini semua. Penyesalah bertubi-tubi bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup tidak hanya sekali-dua kali terlintas dalam pikiranku. Tapi saat keinginan itu begitu kuat, aku tidak pernah benar-benar menyerahkan nyawaku karena aku sadar diriku sepenuhnya milik tuhan. Hanya Dia lah yang berhak atas diriku. Aku menyadari bahwa mungkin aku terlambat mengenal yang namanya “TUHAN”. Aku menghabiskan waktu selama dua puluh satu tahun tanpa mengenal tuhan dan tiga tahun terakhir menjadikan obat-obatan terlarang sebagai tuhan.

            Semua berawal dari cinta. Yaahh.. cinta yang kata orang begitu indah, sama sekali tidak berlaku buatku. Tapi untuk yang bilang cinta itu buta, aku bisa pastikan seratus persen benar. Aku mengenal pria itu lewat salah satu temanku. Aku memang tidak bisa dibilang gadis baik-baik karena aku lebih menyukai hingar bingar dunia malam. Tapi saat itu aku masih bisa menjaga diri dan hanya berkutat dengan rokok dan minuman keras yang tidak seberapa.

            Tapi malam itu, yaah, aku tidak akan melupakan malam itu. Malam saat aku melihat seorang pria yang sibuk memainkan piringan hitam dan menghasilkan alunan musik yang memenuhi ruangan. Pria yang baru kali pertama aku lihat ada di bar itu.

            Namanya Argan, pria berkulit kuning langsat itu dalam seketika berhasil menarik perhatianku. Dan melalui seorang teman, aku berhasil selangkah lebih dekat dengannya. Dia pria yang sangat menarik juga begitu humoris. Tapi saat aku merasakan semakin mencintainya, aku baru mengetahui bahwa ia adalah seorang pemakai. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri ia sedang menyuntikkan cairah ke tubuhnya. Mungkin narkoba jenis morfin. Dan setelah itu entah untuk alasan cinta atau sekedar keingintahuan. Aku ikut terseret kedalamnya.

            Aku mulai mengenal yang namanya, ganja, morfin, opion, heroin, kokain dan yang lainnya. Argan juga mengenalkanku dengan seorang badar narkoba yang menjadi langganannya. Aku yang masih berstatus mahasiswi disalah satu universitas negeri terpaksa harus menguras keuangan orangtuaku yang memang tidak tinggal satu kota denganku.  Aku rela berbohong hanya untuk mendapatkan uang dan membeli barang haram itu. Barang yang membuatku kecanduan. Barang yang membuatku melupakan semuanya. Kuliah, orang tua, adik dan kakakku.

            tiga tahun aku masih bergelut dengan Argan dan dunianya. Alkohol, obat-obatan terlarang, Bandar narkoba. Tubuhku semakin hari terlihat semakin tidak terurus. Dan aku tidak pernah memperhatikannya.

            Dan akhirnya hari itu, sabtu pagi dipertengahan bulan juni. Aku menemukan Argan dalam kondisi tidak bernyawa karena overdosis. Aku melihat bagaimana tubuhnya yang kurus tergeletak dilantai dengan wajah pucat dan mulut berbusa. Mengerikan, tak berdaya, tak beryawa karena barang-barang itu.

            Aku hancur seketika. Bukan hanya karena kehilangan Argan, pria yang aku cintai. Tapi juga menyadari bahwa aku bisa bernasib sama seperti Argan.

            Belajar dari pengalaman Argan. Aku bertekad untuk kembali ke kampung halaman dan berusaha lepas dari obat-obatan. Aku memberanikan diri menghadap kedua orangtuaku dan rekasi mereka begitu terkejut melihat keadaan ku. Mereka bilang aku begitu kurus, pucat dan berantakan. Dan dengan keberanian penuh aku memberitahu mereka bahwa aku kini bergantung pada barang haram itu. Dalam hitungan detik ibuku menangis dan ayahku sempat menamparku beberapa kali sebelum akhirnya kakak laki-lakiku menghalangi.

            Keesokan harinya, setelah kedua orangtuaku kembali tenang. Mereka mengantarku memeriksakan diri ke dokter sebelum mengantarku ke pusat rehabilitasi. Dan saat itulah bencana itu muncul.  hasil tes darah menyatakan aku positif HIV AIDS. Aku merasakan langit seakan runtuh di depan mataku saat itu juga. Bagaimana mungkin? Penyakit mematikan itu kini bersarang ditubuhku yang lemah. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Kedua orangtuaku menangis begitu juga dengan kakak dan adikku. Dan saat itu yang terlintas dalam pikiranku hanyalah KEMATIAN. Bahwa aku si ODHA. Hanya perlu menunggu kematian menjemputku. Karena jarum suntik yang aku gunakan? Pasti. karena aku pastikan aku belum pernah berhubungan badan bahkan dengan Argan sekalipun. Aku hanya punya dua kata. AKU FRUSTASI
***
            Rumah bercat putih itu begitu asri. Pepohonan tumbuh subur memberi sumber kehidupan untuk semua penghuninya. Di panti rehabilitasi itulah akhirnya aku menghabiskan hari-hariku selanjutnya. Aku berkenalan dengan sama-sama mantan pemakai. Tapi hanya akulah satu-satunya pengidap HIV / AIDS. Dan hari itu juga aku merasakan yang namanya PENOLAKAN yang terasa begitu menyakitkan. Tidak ada orang yang bersedia dekat denganku bahkan disatukan satu kamar denganku. Mereka selalu memandangku seperti seonggok daging busuk yang memang harus mereka jauhkan. seperti virusku bisa menular hanya dengan kita bertatapan muka ataupun bersentuhan tangan.

            Aku menempati salah satu kamar seorang diri. Disaat kamar dihuni beberapa orang aku hanya menempati kamar itu seorang diri. Di Pusat rehabilitas itulah aku akhirnya menjalani hari-hari-ku kemudian. Siang-siang yang menyakitkan, malam-malam penuh penderitaan hanya untuk lepas dari jerat barang haram itu.

            Setiap hari aku harus meminum beberapa obat dan dokter tidak ada henti-hentinya menyuntikan cairan-cairan ke tubuhku. Terkadang pada tengah malam aku harus merasakan menggigil yang begitu hebat, pusing juga mual. Disana aku menjalani berbagai terapi. Dan yang paling penting. Aku harus mengkonumsi ARV setiap 12 jam sekali. Kata perawat obat itu bisa memperlambat virus mematikan itu. Yaahh.. hanya memperlambat, tidak untuk menghilangkan virus itu. tapi aku cukup optimis untuk tetap hidup. Bagaimanapun juga, aku masih ingin berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang aku cintai.

            Satu tahun kemudian aku keluar dari rehabilitasi itu. Menghirup udara yang begitu segar dibanding tempat rehabilitasi itu. Aku memang sudah tidak menjadi pecandu namun aku masih membawa penyakit mematikan itu di tubuhku, kemana-mana, tentu saja, penyakit itu menyatu dalam darahku.

            Dan seminggu kemudian aku kembali lagi ke panti rehabilitasi itu. Bukan, bukan karena aku kembali terjerat obat-obatan haram tapi karena aku memutuskan untuk menjadi bagian dari panti itu. Keluarga menerima kepulanganku, tentu saja. Tapi tidak dengan orang disekitarku. Kabar bahwa aku menderita HIV AIDS sudah menyebar luas dan tentu saja menyulitkanku untuk bersosialisasi.  Pikiran mereka masih terlalu sempit. Mereka tidak mengerti bagaimana virus-virus ini bias menular. Mereka tidak tau bahwa aku tidak akan menularkan virus ini jika hanya berjabat tangan dengan mereka. Iya, mereka tidak mengerti dan yang mereka lakukan hanya menjauhi ku. Mencari aman.

            Selain dipanti rehabilitasi itu. Aku aktif memberikan penyuluhan di beberapa tempat. Forum-forum kesehatan dan kampus-kampus. Menekan rasa malu memberitahu mereka bahwa aku menderita penyakit menjijikan itu. Tapi aku bersumpah bahwa aku tidak ingin ada lagi aku-aku yang lain. aku ingin memberitahu mereka bahwa pengaruh obat-obatan itu jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan dan sebaiknya tidak mereka coba karena alasan apapun. Bahkan juga alasan klise karena keingintahuan atau penasaran. Masih begitu banyak hal yang harus mereka ketahui daripada penasaran akan bentuk ganja, rasa morfin, nikmatinya heroin dan barang-barang laknat yang lainnya.

            Jangan pernah mengorbankan masa muda kalian hanya untuk penasaran pada hal-hal tidak berguna yang bisa merusak kalian. Kalian terlalu berharga bagi orang tua, sahabat bahkan Negara jika rusak karena barang mematikan itu. Karena barang itu seperti memberikan lorong gelap. Kau akan melupakan segalannya. Yang kau inginkan hanya terus-menerus berlari untuk mencari jalan keluar tapi kalian sadar bahwa jalan itu buntu, bahkan setitik cahayapun tidak akan kalian temukan. Kalian ada kehilangan kesadaran dan yang paling terpenting, kalian tidak akan pernah bisa memutar waktu.
           
           
            

Tuesday, 10 November 2015

REVIEW - Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas



Judul : Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas
Penulis : Eka Kurniawan
Genre : Fiksi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 242 Halaman
Cetakan Pertama : Mei 2014


Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Jangan pernah tertipu dengan covernya yang unyu-unyu itu yah.

saya menemukan buku ini diantara rak toko buku gramedia Blok.M. dan pernah beberapa kali mampir di blognya si penulis, Ekakurniawan.com . Seorang sastrawan lulusan UGM. Buku ini terbit tahun lalu dengan jarak cukup jauh dari novel sebelumnya, Lelaki Harimau.

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidpan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya

Seperti dendam Rindu dibayar tuntas menceritakan keseharian Ajo kawir dan sahabatnya, Si Tokek yang hobi berkelahi semenjak “burung” Ajo kawir tidak bisa bangun. Ajo kawir sudah mencoba berbagai cara untuk membuat burungya kembali seperti semula namun gagal. Mulai dari mengoleskan cabai,menyengatnya dengan lebah, pergi ke tempat pelacuran sampai hampir memotong burungnya dengan kapak. Burungnya tetap teguh pada pendiriannya. Tetap tertidur tenang dan tidak ada tanda-tanda ingin bangun.

tidak ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa berdiri.” Hal 40

Rasa frustasinya kembali menjadi-jadi kala ia menyukai seorang gadis, Iteung. Iteung yang sudah kadung cinta mati sama Ajo kawir akhirnya mau menerima kekurangan Ajo kawir.

"Apa yang akan kau lakukan dengan lelaki yang tak bisa ngaceng?” Tanya Ajo kawir. “aku akan mengawininya” hal 90

Mereka menikah dan hidup bahagia

Hidupku mungkin tidak sempurna. Aku tak memiliki kemaluan yang bisa berdiri. Tapi aku memiliki pernikahan yang indah. Dan akan ada keluarga yang bahagia. –Ajo kawir. Hal 114

sampai pada kenyataan bahwa Iteung Hamil. Iteung hamil oleh laki-laki lain dan akhirnya Ajo Kawir memutuskan untuk berekelana menjadi supir truk Jawa-Sumatra. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah tulisan dibelakang truk Ajo Kawir. Saat menjadi supir truk-lah Ajo Kawir mulai meninggalkan kebiasaannya untuk berkelahi. Ia mulai bisa menerima jika burungnya memang tidak ingin bangun. Itulah yang akhirnya dijadikan filosofi hidupnya. Burung itu menginginkan kedamaian juga dalam hidup Ajo Kawir. Hingga akhirnya ia mamutuskan untuk berhenti berkelahi walaupun Si Kumbang sangat ingin berduel dengannya ataupun saat Mono Ompong hampir mati karena berkelahi dengan Si kumbang.

Hidup dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. aku berhenti berkelahi untuk apapun. Aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung” – Ajo Kawir. Hal 123

Kenapa saya tertarik dengan buku ini? Karena saya tau bahwa karya Eka Kurniawan yang lain (Cantik itu luka dan lelaki Harimau) sudah di terjemahkan ke beberapa bahasa asing. walaupun saya juga belum membaca kedua novel itu. :D

buku ini tidak terlalu tebal. Hanya 242 halaman dan saya selesaikan dalam waktu dua hari. Eka Kurniawan memilih Cover yang begitu apik untuk menggambarkan isinya. burung yang tertidur pulas.

Penulis menyediakan tema yang Unik dengan latar belakang yang juga Unik. Bayangkan saja. Bagaimana mungkin “Burung” Ajo Kawir tidak bisa bangun hanya karena melihat Si Rona Merah di perkosa oleh dua orang Polisi. Sesuatu yang terasa ganjil namun bisa menjadi realitas dalam novel ini.

Eka Kurniawan juga menyuguhkan Tokoh yang begitu berkarakter dan unik sehingga pembaca tidak akan dibuat bingung oleh banyaknya pemain. Ajo Kawir, Si Tokek (sahabatnya Ajo Kawir), Rona Merah, iwan Angsa, Wa Sami, Si Macan, Iteung, Janda Muda, Budi Baik, Mono Ompong dan nama-nama unik lainnya akan kalian jumpai di buku ini

Plot yang dibuat secara maju-mundur-maju-mundur Cantik membuat saya tidak terlalu kesulitan untuk menangkap karena tiap kalimatnya dibuat sepadat mungkin. Tidak terlalu banyak ataupun boros kata. Mudah sekali dicerna, bahkan saya seperti membaca sebuah dongeng.

namun yang perlu diperhatikan adalah, buku ini termasuk katagori buku dewasa. Dibelakang buku ini akan kalian temukan angka 21+. yang artinya hanya boleh dibaca oleh orang diatas umur 21 tahun. karena memang dalam buku ini tersebar beberapa kata yang mungkin menurut orang agak kurang pantas.

“Hanya orang yang nggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati”

Cukup Frontal untuk dijadikan kalimat pembuka. Tapi itulah Eka Kurniawan.Jika penulis-penulis lain mencoba mencari kata-kata yang lebih pantas untuk menggambar sesuatu, lain halnya dengan Eka Kurniawan. Eka kurniawan memberikan sesuatu yang terasa bebas, tidak di tahan-tahan, tidak berusaha diperbaiki dengan bahasa halus dan benar-benar orisinil. makannya jangan heran kalau dalam novel ini banyak kata-kata umpatan ataupun kata-kata yang terkesan jorok yang pastinya tidak untuk dibaca oleh anak-anak kecil.

Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupaka otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala”- Ajo Kawir. Hal 126

Untuk kalian yang hanya sekedar suka baca atau mungkin tidak suka baca tapi iseng membaca novel ini. Mungkin kalian akan berfikir bahwa novel ini semacam stensil murahan. Tapisaya akan bilang bahwa novel ini bagus. Eka Kurniawan memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh penulis-penulis lain mulai dari tema, tokoh dan pemilihan kata.

Eka kurniawan menyuarakan kebebasan dalam setiap penggalan katanya. Saya sedikit berfikir apakah editor akan tetap menerbitkan buku ini seandainya ini bukanlah karya Eka Kurniawan yang sudah sukses dengan Cantik Itu Luka dan Lelaki Hariamunya.?Apakah Editor perlu berfikir panjang untuk menerbitkan buku ini tanpa merubah satupun kata dalam buku ini?

dunia memang tidak adil. Dan jika kita tahu ada cara membuatnya adil, kita layak untuk membuatnya jadi adil. – Iwan Angsa. Hal 48

Kita tidak bisa menghentikan seseorang dari jatuh cinta. bahkan orang yang jatuh cinta itu sendiri. Jatuh cinta itu seperti penyakit. Ia bisa datang kapan saja, seperti kilat dan geledek, dan bisa tanpa sebab apapun. – Si Tokek. Hal 64

Tidak ada yang lebih indah didunia ini jika kau bisa mati ditangan orang yang kau cintai. –Si Tokek. Hal 83




Tuesday, 27 October 2015

KARENA NYAWA KAMU LEBIH BERHARGA DARI APAPUN


Note: Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen 'Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor dijalan."
Orang pernah bilang Jakarta tidak pernah tidur. Mungkin itu benar. Jakarta memang terlihat lebih lenggang waktu menunjukkan hampir tengah malam. Tapi untuk tempat-tempat tertentu, keriuhan masih tetap ada. Fella masih disana. Dengan kaus hitam dan celana pendek membungkus tubuhnya. Mengindahkan dingin yang menyergap kulit mulusnya.
“Ayooo Dion.” Katanya sambil berteriak keras dan berjingkrak-jingkrak. Gadis-gadis sebayanya ikut berteriak seakan memberikan semangat untuk dua pria yang sedang bersiap-siap di pacuan. Dion menoleh. Tersenyum pada Fella. Lalu beralih pada seorang wanita dengan bendera yang berada ditengah-tengah. Diantara dirinya dan lawannya. “SIAP….SATU…DUA… TIGA…” bendera di tegakkan dan dalam hitungan detik setelah kata tiga diucapkan, Dion menarik gasnya, melaju dengan motor gedenya, meninggalkan kepulan asap dengan segala keriuhan para penonton balapan liar itu.
Ini bukan kali pertama. Ini adalah rutinitas Dion hampir setiap malam. Menjelajahi sudut ibukota hanya untuk sekedar beradu di lintasan. Menggesekan karet ban motornya dengan aspal dan melaju sekencang mungkin untuk mendapatkan predikat juara dan hari ini pun sepertinya akan menjadi milikknya karena ia sampai beberapa detik lebih dulu dari lawannya.
“aku tidak tau siapa yang bisa mengalahkanmu?” Fella menjabat tangan Dion dan memeluknya sekilas. Memberi ucapan selamat karena ia tau bahwa Dion sangat ahli dalam hal ini. “ayo kita rayakan.” Katanya. Fella naik ke motor dan mereka melaju menuju salah satu klab malam di daerah kemang. Rambut panjang Fella berkibar ditiup angin dan dingin yang menyelimuti malam itu sepertinya tidak menggugah mereka walau hanya untuk memakai helm ataupun jaket.
***
Fella tercekat mendengar alarmnya berbunyi dan melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “MATI AKU.” ia terlonjak dari ranjangnya mengingat ia ada kuis hari ini dan itu artinya ia hanya punya waktu kurang dari setengah jam untuk sampai dikampusnya.
Ia menyambar ponselnya dan masuk ke kamar mandi. “Dion, aku tunggu dirumah sepuluh menit lagi.PENTING.” katanya langsung menutup telepon tanpa membiarkan suara diujung hanya untuk sekedar menyapa. Ia membuka bajunya dan mandi dengan kilat. Keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian. Memilih baju dengan asal dan langsung menyambar tasnya saat mendengar suara klakson dari luar pagar rumahnya.
Dion menyeringai melihat Fella mengunci rumahnya dengan tergesa-gesa. “kesiangan lagi? Kebiasaan.” katanya saat Fella sampai didepannya dengan nafas tersengal. “lupa kalau ada kuis pak Dekas hari ini.” katanya lalu naik ke atas motor Dion. “ayo buru.” katanya sambil menepuk pundak Dion dan roda ban motornya mulai berputar.
“pegangan Fell.” katanya dan tepat saat itu Fella hampir saja terlonjak dari motor karena Dion baru saja menaiki sebuah trotar. Jalanan memang sedang macet parah, padat merayap karena memang memasuki jam orang kantoran dan Dion tidak punya pilihan selain mengambil jalur pejalan kaki untuk sampai lebih cepat ke kampusnya. “nyantai dong.” katanya sambil menepuk pelan pundak Dion lalu mengeratkan tangannya di pinggang laki-laki itu. “katanya telat.” Dion membunyikan klaksonya untuk meminta beberapa pejalan kaki untuk minggir dan memberinya jalan yang langsung diprotes oleh makian dari para pejalan kaki.
Masih ada lima menit sebelum kelas dimulai dan setelah mengucapkan terima kasih ia berlari. “tunggu dikantin ya.” kata Dion berteriak sambil melambaikan tangan. Fella menoleh sebentar tanpa berhenti lalu mengacungkan ibu jarinya.
“kebiasaan. Makannya jangan dugem mulu.” Fella langsung duduk disebelah Vanya sambil mengatur nafasnya yang belum teratur. Belum sempat Fella menjawab Pak Dekas masuk ke ruangan.
Firman mengamati Fella dari belakang. Memandang rambutnya yang digulung asal-asalan. Gadis itu kesiangan lagi hari ini dan sebenarnya ia hampir selalu telat di setiap mata kuliah pertama. Apakah ia tidak punya alarm. Pikirnya. Tapi ia tau kalau bukan hanya alarm alasannya. Ia tau bahwa Fella bukan gadis rumahan yang akan mengumpat dibalik selimut saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, berjaga-jaga agar tidak kesiangan. Fella menyukai dunia malam, gemerlap lampu dan kebisingan dijalanan dan mungkin ia juga menyukai Dion. Mereka dekat dan Firman tidak pernah bisa mengartikan kedekatan mereka. Pacarankah? Atau hanya sebatas sahabat?
Firman dan Fella menjadi murid di sekolah menengah yang sama. Firman mengenal Fella dengan baik tapi sepertinya tidak untuk sebaliknya. Hey.. Fella itu cinta pertamaku. Katanya dalam hati. Cinta lama yang bahkan belum sempat terucapkan olehnya. Fella terlalu jauh darinya. Mereka terlalu berbeda dan mereka berdua tidak akan pernah berada dalam lingkaran pergaulan yang sama. Bahkan saat mereka satu kelas di kampus yang sama pun mungkin Fella tidak menyadari bahwa mereka pernah satu SMA.
“nanti malem kemana?” tanya Vanya sambil membereskan catatannya. “ikut Dion. Balapan palingan.” katanya acuh sambil melihat ponselnya. “punya ide lain?” tanya Fella tanpa melepas pandangannya dari telepon genggamnya. “ke salon gimana?” Fella menoleh, sepertinya tidak buruk. “boleh juga.” mereka berdua beriringan menuju kantin masih ada setengah jam sebelum mata kuliah selanjutnya.
“nanti malem aku ke salon ya sama Vanya.” mereka bedua menghampiri Dion yang sedang asik bermain game dalam ponselnya. “nggak nememin aku balapan?” laki-laki itu meneguk botol air mineral yang dibawa Fella dan melihat Fella menggeleng. “besok aja lagi ya.” Dion mengganguk lalu berdiri setelah mendengar salah satu temannya memanggil, Mengacungkan bola oranye. “yaudah kalo gitu. Hati-hati.” katanya sambil mengusap pelan puncuk kepala Fella.
“Nggak jelas.” Vanya mendengus sambil menyeruput jus jeruk pesanannya yang baru datang. “siapa?” Fella menatap Vanya dengan heran. Lalu bangkit dan mengambil teh botol di kulkas dari salah satu kantin dan menengguknya pelan. “kalian berdua. Kesana kemari berdua tapi status nggak jelas. Pacaran tapi bilangnya sahabatan, sahabatan tapi kayak pacaran.” Fella tergelak, tidak menyangka Vanya akan mengeluarkan kata-kata ajaibnya dan sebentar lagi ia pasti aka bilang 'kamu mau aja di PHP-in'
Vanya memang tidak terlalu suka pada Dion. Dion jauh dari kata 'baik' dalam pandagannya. “udah deh, nggak usah cemberut gitu. Kita cuma sahabatan kok.” katanya sambil menyentuhkan ujung jari telunjukkan pada dagu gadis didepannya. “mending cari pacar yang ketauan baik Fell. Dari pada luntang-lantung ikut-ikutan Dion balapan liar sama dugem tiap malem.”
“dia baik kok.” katanya tidak mau kalah. “iya, tapi dia nggak bikin kamu jadi pribadi yang lebih baik Fell. Kamu tiap mata kuliah pagi selalu kesiangan. Lagian apa enaknya sih nonton balapan liar. Diciduk polisi baru tau rasa deh semuanya.” Vanya menggerutu sementara Fella terus terkikik. “dibilangin malah ketawa lagi nih anak. Ngeledek aja.” katanya sambil memukul pundak Fella dengan botol plastik kosong.
Dion memang bukan good boy.Dion hanya lebih menyukai kebisingan di tengah malam dimana suara gas motor gedenya sukses memekik diatara kerumunan orang yang ada disekitarnya. Ia bisa dibilang sahabat baik Fella. Mereka pertama kali bertemu saat Fella berada di salah satu klub dibilangan bintaro dan semakin dekat saat tau bahwa mereka satu kampus. Fella hanya tinggal dijakarta sendiri. Orangtuanya pindah ke kota palembang dua tahun yang lalu dan dengan kesendiriannya bisa dibilang hanya Dion yang bisa diandalkan. Walaupun menurut Fella, Dion memang sedikit urakan. Laki-laki itu menyukai kebebasan, dalam hal apapun. Hobi, berpendapat dan sejauh ini Dion merupakan partner yang baik untuk Fella.
***
Mereka keluar dari Mall saat jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Setelah keluar dari salon mereka menghabiskan waktu direstoran jepang masih di mall yang sama. “kamu langsung pulang kan Fell?” Tanya Vanya saat ia menyelinap dibalik kemudi. “nggak tau nih. aku tanya dulu Dion dimana yaa? Biar dia ntar yang jemput. Jadi kamu nggak usah nganterin sampe rumah.”
“Nggak usah, aku anter kamu kerumah aja langsung.” Fella menoleh dan melihat Vanya cemberut. Ia tau kalau sahabat wanitanya ini tidak suka dengan semua yang berbau DION. “segitu nggak sukanya sama Dion.” Fella melirik sahabatnya. Ia mengenal Vanya dengan baik seperti halnya mengenal Dion. Mereka dekat saat mereka sadar bahwa mereka lahir di kota yang sama. Vanya bergeming, enggan menanggapi kata-kata sahabatnya. “gimana kalau kamu sekali-kali ikut liat. Lagian nggak bosen apa tiap malem cuma tidur.” Vanya menoleh. “Fella…. Malem itu emang waktunya tidur, istirahat. Bukan kelayapan dijalanan.”
Fella tertawa .”berhenti Van.” katanya. Vanya berhenti mendadak. “kenapa?” tanyanya heran. “barusan ada kucing lewat. Kayanya kamu tabrak deh.” wajah Vanya memucat. “yang bener?” tanyanya lagi. Fella mengangguk. Vanya langsung membuka pintu mobilnya dan melihat ke depan mobilnya lalu menunduk melongok ke kolong mobilnya. Kosong, tidak ada apapun dan akhirnya bernapas lega. Ia tau mitos yang membicarakan mengenai kesialan yang akan didapat kalau mereka menabrak kucing.
Ia menatap Fella yang kini sudah terduduk dibelakang setir. Menggantikan posisinya sebelumnya dan ia tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan. ia mendekati Fella. Mengetuk kaca dan berkata “iseng banget sih.” saat Fella membuka kaca. “udah ayo masuk. Ikut aku ya.” katanya sambil mengedikkan bahu ke kursi penumpang disebelahnya. “mau kemana? Jangan macem-macem ya Fell.” Ancamnya saat roda mobilnya sudah berputar. Fella tertawa. “nggak macem-macem kok. Cuma satu macem.” sahutnya.
Fella melihat Vanya cemberut. Ia sepertinya sadar akan dibawa kemana oleh Fella. Mobilnya berhenti. Fella keluar sementara Vanya masih terduduk manis ditempatnya. “ayo keluar aahh.” bujuknya. Vanya masih bergeming. Melirik kesekitar. Sepi, tapi ia bisa melihat kerumunan orang tak jauh dari tempatnya sekarang. “mau ngapain sih?” tanyanya ketus. “cari suasana baru aja buat kamu.” Fella membuka pintu mobil dan setengah menariknya keluar dari mobil.
Fella tersenyum dan setengah menyeret Vanya yang terlihat acuh mendekati kerumunan itu. Dan seperti biasa. Dion sudah berada pada posisinya. Siap beradu dengan lawan yang berbeda dari yang kemarin. Mata Vanya membulat seketika. Menatap Dion dari atas sampai bawah. Bibirnya menganga heran sampai dua orang bermotor itu hilang dari pandangan. Menyisakan keriuhan mereka.
Senggolan dari Fella-lah yang akhirnya membuyarkan lamunanya. “kenapa? Terpesona?” godanya. “HAH? GILA. Mana mungkin.” jawabnya cepat. “trus ngapain bengong ampe begitu?”
“kamu nggak liat. Balapan liar dan Dion nggak pake helm, nggak pake jaket, dan Cuma pake celana pendek. dia nggak takut mati apa?” Fella tersentak, Vanya yang dikiranya terpesona malah mengungkapkan sesuatu yang tidak diduganya. “jangan-jangan dijalan juga ugal-ugalan lagi.”
Fella diam dan berfikir sejenak. Dion memang tidak pernah memakai helm. Dia mungkin punya, tapi sepertinya dia lebih suka menyimpannya dirumah. “tapi dia nggak pernah kenapa-kenapa kok.”
“iya, sekarang nggak kenapa-kenapa. Tapi entar, nyawa manusia kan nggak ada yang tau Fell.”
“jujur ya. Dia pasti bukan pengendara yang baik. Dia suka nerobos lampu merah, dia suka masuk trotoar, dya suka berhenti ditempat yang nggak seharusnya.” katanya pada Fella sambil menarik tangan gadis itu menjauh dari kerumunan orang yang masih terus bersorak-sorai menanti pemenang malam ini.
“kalau lagi buru-buru doang kok.” jawabnya.
“kalo setiap hari aja kamu kesiangan berarti hampir setiap hari dong kamu diajak ugal-ugalan dijalan sama dia.” Fella diam. Kehabisan kata-kata. Semua kata-kata Vanya benar. Tapi bukankah ia baik-baik saja. Ia tidak pernah mempermasalahkan keamanan berkendara Dion karena memang dia tau Dion memang seperti itu, sejak dulu. “kamu tuh tinggal dijakarta sendiri Fell, sama kaya aku. Makannya kamu harus bisa jaga diri baik-baik.” Katanya lagi sambil masuk ke mobilnya. Fella mengikuti dan duduk di sebelahnya. “Vanya, Dion itu baik kok.”
“iya aku tau dia baik. Tapi dia harusnya bisa jagain kamu. Paling nggak ngasih suatu keamanan buat kamu.” Oke, Fella mulai tidak bisa embantah kata-kata Vanya karena dia sadar Vanya benar.
***
Hari ini Fella tidak kesiangan karena ia punya waktu yang cukup untuk tidur tadi malam akibat Vanya yang terus-menerus mengomelinya masalah keamanan berkendara. Ia menyisir rambutnya yang masih basah lalu mengambil tasnya diatas meja dan keluar dari rumahnya. Butuh waktu kurang dari lima belas menit untuk sampai di depan komplek perumahannya agar bisa menaiki angkutan menuju kampusnya. Ia menyumpal telinganya dengan earphone bervolume rendah lalu berjalan pelan menyusuri komplek perumahannya.
Suara klakson itu memekakan telinga. Menukik gendang telinga Fella yang bahkan sudah disumpal dengan bundalan yang mengeluarkan suara musik. Fella menoleh dan tepat saat itu sebuah motor berhenti disampingnya. Fella tidak tau siapa karena ia memakai helm Full face dan saat pria itu membuka kaca helmnya, Fella masih ragu kalau ia mengenal pria itu. “mau ke kampus?” tanyanya. Fella mengangguk dan melihat kebingungan Fella, pria itu membuka helmnya. Menunjukkan wajahnya sepenuhnya. Fella mengernyit lalu berkata. “anak desain juga ya?” katanya sambil menunjuk ajah pria itu. ia merasa ajah pria itu familiar di tapi tidak benar-benar mengenalnya. Pria itu mengangguk. “Firman.” Ia menyodorkan sebelah tangannya. Fella menggapainya sambil tersenyum.
Ia memang bisa dibilang tidak terlalu memperhatikan siapa teman-teman sekalasnya. Yang benar-benar dia tau hanya Vanya dan beberapa teman yang cukup popular dikelasnya. “bareng yuk. Aku juga mau ke kampus. Mata kuliah pagi pak ihsan kan?” tanyanya. Fella sekali lagi mengangguk dan terpesona saat melihat pria itu tersenyum. Dia memang tidak terlalu tampan namun cukup manis dengan lesung pipinya. “Fell.” Pria itu menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan wajah Fella yang sedang melamun. “eehh iya.. kenapa?” katanya tergagap dan hanya bisa tersipu menyadari bahwa pria didepannya tertawa melihat tingkah konyol Fella. “berangkat bareng yuk.” Katanya lagi. “boleh.” Jawabnya singkat sambil mengangguk. pria itu lalu memberikan helm yang digantungkan dimotornya. “nih.” Katanya menyerahkan pada Fella. Fella terdiam dan mengambil helm itu. “rambutku masih basah, nggak usah pake helm ya. Lagian nggak akan ada polisi juga.” Katanya sambil menyerahkan kembali helm itu. pria didepannya terkekeh. “Fella, helm itu bukan cuma buat menghidari polisi. Helm itu untuk keamanan. Kalau nanti kenapa-kenapa dijalan, helm itu bisa menyelamatkan kepala kamu dari benturan keras. Tapi bukan berarti aku mendoakan yang macam-macam. Hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Aku akan tetap berhati-hati.” Fella termangu. Menyerap baik-baik kata-kata Firman. Lalu tersenyum malu. Ia merasa seperti anak kecil yang baru saja diberi ceramah oleh gurunya. “tapikan kita nggak akan kenapa-kenapa kalo kamu hati-hati.” Katanya lagi, mencoba mencari celah. Pria itu tersenyum. “jalanan itu nggak bisa di prediksi Fella. Kecelakaan itu bukan cuma karena kita nggak hati-hati. Tapi bisa juga karena orang lain nggak hati-hati. Itulah kenapa kita butuh yang namanya safety riding. Karena nyawa kamu lebih berharga dari apapunFella kembali merona karena malu pada Firman yaahh, ia sadar bahwa semua kata-kata Firman benar. Firman memakaikan helm itu ke kepala Fella.
Dan perjalanan dengan Firman seperti sesuatu yang baru baginya. Firman jelas berbeda dengan Dion. Fiman lebih taat peraturan. Ia menjalankan sepeda motornya tidak dengan kecepatan tinggi meskipun dibeberapa jalan memang terlihat lenggang. Ia berhenti disetiap lampu merah, tidak pernah menerobos meskipun tidak ada kendaraan dari arah lain. Dia tidak mengambil jalur pejalanan kaki semacet apapun jalanan yang mereka lewati. Firman memakai helm, memakai jaket dan sepatu. Tidak seperti Dion yang terkadang bahkan memakai sandal.
thanks ya.” Kata Fella sambil memberikan helmnya pada Firman. Firman tersenyum. Membuka helm dan jaketnya. Memperlihatkan sosoknya yang hanya berbalut kemaja hitam yang digulung sampai lengan dan Fella baru menyadari bahwa mungkin ia menyukai Firman. Bodohnya ia karena selama mereka satu kelas ia tidak pernah melirik ke arah Firman sedikitpun.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas dan langsung disambut tatapan heran dari Vanya. “bareng Firman? Atau ketemu didepan?” Tanya Vanya dan hanya disambut oleh sebuah senyum oleh Fella yang langsung duduk disebelahnya. “ketemu dikomplek. Ditawarin bareng. Yaudah.” Fella tida bisa menyembunyikan raut bahagianya yang membuatnya terus menerus diledek oleh Vanya. “dia itu rajin masuk nggak sih Van? Kok aku jarang liat ya.” Katanya sedikit berbisik pada Vanya karena seorang dosen sudah mulai berceloteh didepan kelas. “rajinlah. Nggak kaya kamu. IPKnya diatas 3.6” Fella langsung membulatkan matanya. Lalu mengangguk pelan. “kenapa? Mulai naksir.” Vanya terkikik sepelan mungkin membuat pipi Fella merona.
“mau pulang bareng lagi?” Fella dan Vanya yang sedang makan dikagetkan dengan kedatangan sosok Firman yang langsung duduk disamping Vanya, tepat didepan Fella. Firman tidak tau bagaimana bisa ia manjadi terlalu percaya diri untuk mengajak Fella pulang bareng padahal sebelunya jangankan berbicara, menatapnya pun ia tidak berani.
“Nggak usah, aku bareng Dion aja nanti.” Katanya. “ngapain bareng Dion? Emang itu orang daritadi batang hidunya keliatan?” Vanya menyambar. “udah deh, bareng Firman aja.” Katanya lagi. Dari tadi pagi memang Fella belum sama sekali melihat Dion. Ponselnya pun tidak aktif. “yaudah deh kalo nggak ngerepotin.” Katanya dengan senyum simpul.
Fella buka tipe wanita yang mudah jatuh cinta makannya kali ini ia bingung bagaimana mendeskripsikan perasaanya pada Fiman. Ia pikir selama ini ia menyukai pria seperti Dion. Tapi ternyata ia salah. Hanya dengan kata-kata Firman dan itu bisa langsung menghipnotisnya.
Kata-kata itu terus berputar diotak kecilnya. Dan ia tersenyum sementara Firman fokus ke jalanan yang ramai sore ini. suara dering ponsel membuatnya tersentak dan ia meraihnya dari dalam tas. “iya… kenapa… APA? aku kesana sekarang.”
“Firman, kita kerumah sakit dulu ya.” Katanya sambil mengucapkan nama rumah sakit yang dimaksud. “kenapa Fell?” Tanyanya pada Fella setelah mengangguk. tapi yang ia lihat dari kaca spionnya adalah Fella yang wajahnya memucat dan dalam hitungan detik airmatanya turun.
Firman tidak bertanya lebih lanjut dan kembali fokus pada jalanan. Saat sampai di parkiran. Fella langsung turun dan memberikan helm yang dipakainya kepada Firman dan melesak masuk ke rumah sakit. Firman mencoba mengejar Fella yang setengah berlari. “sus, kamar atas nama Dion Setya Nugraha.” Katanya pada suster yang berjaga di depan. Masih mencoba mengahalau airmata yang berusaha terjun bebas melewati kelopak matanya. “Dion kenapa Fell?” Tanya Firman sementara suster mencari data atas pasien atas nema Dion. “Dion kecelakaan.” Dan air mata itu turun lagi. Firman mengarahkan buku-buku jarinya untuk mengapus air mata itu. “kamar mawar nomor 205 dilantai dua.” Fella secara tidak sadar langsung menggadeng tangan Firman menuju tangga setelah mengucapkan terima kasih pada suster. Dan matanya terpaku pada sosok orang yang terbaring diranjang kamar nomor 205. Ia masih berdiri didepan. Hanya melihat dari kaca yang ada ditengah pintu. Ia bisa melihat hampir seluruh tubuh Dion dibalut perban. Sebelah kakinya di gips dan tergantung agak keatas. Perban itu juga menyilang dari bahu kiri sampai ke pinggang kanan Dion. Kepalanya juga di perban dan wajahnya, Fella bisa melihat pipi sebelah kanan Dion luka. Sepertinya terkena aspal.
Bibir Fella bergetar dan ia menagis tanpa suara. Ia membalik badanya dan memeluk Firman. “itu Dion Firman, itu Dion” katanya sabil menangis didada Firman. Firman mengelus pundak Fella. Mencoba memberikan ketenangan untuk gadis itu. “Fella.” Yang dipanggil menoleh dan mendapati Adnan menghampiri mereka. Adnan adalah salah satu sahabat Dion yang ia kenal. “Adnan, Dion nggak kenapa-kenapa kan? Kenapa bisa jadi begini?” Fella sesenggukan sementara Adnan hanya memandang nya dengan kesedihan yang sama. “Dion tabrakan Fell, dia nerobos lampu merah jam tiga pagi. Dia nggak nggak sadar ada mobil yang melaju kencang dari arah lain.” Fella menutup mulutnya. “dia nggak pake helm jadi kerangka otaknya pecah dan sekarang dia koma.” Hati Fella mencelos seketika. Ia menatap Fimran dan sekelebat bayangan saat dirinya naik motor bersama Dion berputar bagai slide. Hanya Dion, bagaimana kalau saat itu dirinya bersama Dion. apa yang akan terjadi padanya.

Fella, helm itu bukan cuma buat menghidari polisi. Helm itu untuk keamanan. Kalau nanti kenapa-kenapa dijalan, helm itu bisa menyelamatkan kepala kamu dari benturan keras. Tapi bukan berarti aku mendoakan yang macam-macam. Hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Aku akan tetap berhati-hati.”

jalanan itu nggak bisa di prediksi Fella. Kecelakaan itu bukan cuma karena kita nggak hati-hati. Tapi bisa juga karena orang lain nggak hati-hati. Itulah kenapa kita butuh yang namanya safety riding. Karena nyawa kamu lebih berharga dari apapun