buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 15 May 2013

LARA DAN AYRA









          lara menatap wajah cantiknya yang terpantul didepan cermin. menyadari wajah cantiknya sekaligus membencinya. tidak, ia tidak membenci dirinya. tapi ia membenci seseorang yang mempunyai wajah yang bagai pinang dibelah dua dengannya. beberapa menit berlalu. ia masih mematut diri di depan cermin. dilihatnya baju seragamnya yang sedikit berantakan. lalu beralih ke sepatu ketsnya yang terlihat sudah berbulan-bulan tidak dicuci. "laraa". suara laki-laki itu masuk ke gendang telinganya tanpa permisi, membuatnya tersadar ke alam nyata. ia menarik tas dari meja belajarnya tanpa menjawab sepatah katapun. membuat orang yang berada diluar kembali berteriak-teriak dengan entengnya.


          "bisa ga sih suara lo disaring biar lebih bagus" katanya sambil membuka pintu. seorang laki-laki sebayanya berdiri dihadapannya. dengan seragam rapi dan bola basket di tangannya juga sebuah senyum melengkung di garis bibirnya. "pagi nona manis" katanya ramah. "brisik" lara menggandeng tangan aldo menuju ruang makan. dilihat saudara kembarnya sedang mengoleskan selai ke selembar roti tawar di tangannya. "pagi ayra". ayra hanya menjawab dengan senyuman, melihat aldo yang kini duduk di sebelahnya. lalu menatap lara yang bermuka masam di hadapannya. "makan ra, gue udah buatin roti buat lo" katanya ramah sambil menyodorkan sepiring berisi roti tawar kearah lara. "ga usah makasih" katanya sambil menyesap susunya dengan lahap. "ayo do" lara beranjak dari kursinya sedangkan aldo masih terlihat sibuk dengan rotinya. "lho.. ga sarapan dulu ra" aldo buru-buru ikut beranjak dari kusinya. "gue duluan ya ay". ayra hanya menatap saudara dan temannya hingga menghilang dari pandangannya. ia menghela hafas panjang. sudah hampir 6 tahun ia tidak pernah merasakan keakraban dengan saudara kembarnya. juga dengan aldo yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.





          "Ra, nanti jangan lupa ntar ada rapat osis ya abis pulang sekolah". suara itu terdengar saat ayra hendak mneuju kantin sekolah. ia menoleh kearah datangnya suara dan tersenyum mendapati awan yang kini berdiri beriringan dengannya. awan adalah satu-satunya orang yang dekat dengan ayra saat ini. mereka satu SMP dan kini satu SMA. kini awan dan ayra menjabat sebagai ketua dan wakil osis. mungkin banyak yang menyangka kalau mereka berdua pacaran. tapi sayangnya hubungan mereka belum sejauh itu. awan setipe dengan arya, sama-sama pinter disekolah, sama-sama jadi kebangganaan disekolah, sama-sama suka dipuji karena kepintarannya. ia menarik nafas panjang saat melihat lara di salah satu bangku dikantin bersama aldo. mata mereka bertemu sampai ayra dan awan duduk di salah satu bangku dikantin yang sama. sejenak ia menyesal duduk dibangku ini. disini arah pandangnya dengan mudah bertemu dengan mata lara. ia melihat kebencian disana. kebencian yang bertahun-tahun ia lihat selalu mambara dimata lara. ia terkadang tak mengerti mengapa lara begitu membencinya. padahal dahulu mereka selalu main bersama. menghabiskan waktu bersama, bersepeda di taman. bermain basket dan banyak hal yang menyenangkan. hatinya terasa perih saat mengenangnya.




          pintu rumah terbuka lebar dan mengeluarkan suara derit yang cukup keras. lara dan aldo masuk dan langsung terpaku di ambang pintu.. dilihatnya ayra yang sedang duduk diruang tamu bersama awan dengan beberapa buku di meja. ia menatap awan yang ikut terdiam saat itu. lalu melirik ayra dengan sinis "sorry ganggu".ia membanting pintu kamarnya lalu merebahkan tubunya diranjang. sedangkan aldo langsung duduk di sofa tepat disamping ayra. "diluar panas banget." ayra melihat butir-butir keringat mengalir dari dahi aldo. seragamnya sudah tidak terlihat rapi seperti tadi pagi. 2 kancing seragamnya sudah terbuka. "gue ambilin minum ya". sepeninggal ayra ke dapur suasana hening. awan dan aldo seperti dua orang yang tidak saling kenal. "lagi ngapain?" kata-kata itu meluncur dari mulut aldo tanpa ia rencanakan. "belajar" awan menjawab singkat sambil melirik kearah buku-nya. "emangnnya harus belajar disini yaa?? ga bisa belajar dirumah sendiri?". awan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan aldo. belum sempat ia menjawab ayra datang dengan sebuah gelas berisi jus jeruk lengkap dengan tetesan-tetesan air di dinding-dinding gelasnya. "makasih ayra."



          "ayo do" lara keluar dengan kaos putih dan celana pendeknya. rambutnya digulung keatas menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus. sepatu kets merah menghiasi kakinya. "mau kemana lagi?" kata itu spontan keluar dari mulut aldo yang masih menyisakan setengah isi digelasnya. "lapangan basket lah. lagian lo jangan gangguin orang yang lagi pacaran lah. jadi setan aja" lara memandang tajam kearah ayra. suasana hening sejanak. "ayo" lara mengulangi ajakannya sambil menarik tangan aldo. aldo menyesap sisa air digelasnya dengan cepat.



           "jangan pulang malem-malem ra" lara berhenti sejenak. membalik badan dan menatap ayra tajam. "sejak kapan lo peduli sama gue". ayra menelan ludah. tak menyangka kata-kata itu akan dipilih lara untuk menanggapi kata-katanya tadi. "nanti papa marah lagi". lara tersenyum sinis. ditatapnya orang yang wajahnya sama dengannya. berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri dan memandangnya penuh kecemasan. "gue udah kebal". katanya sambil berlalu dari ruangan itu. ayra refleks menjatuhkan diri kesofa. dan saat itu juga awan pamit pulang karena merasa kalau ayra butuh istirahat. awan sebenarnya tahu kondisi lara dan ayra. hanya saja ia tak mau terlalu ikut campur.



          "lo ga boleh kali bersikap begitu sama ayra.". Suara aldo pelan tapi begitu tajam di telinga lara. entah kenapa sejak 6 tahun ini. hati dan telinganya begitu sensitif kalau menyangkut ayra. lara melempar bola basketnya keras-keras. tujuannya bukan ke ring. tapi marah karena aldo menyebut nama ayra didepannya. dengan setengah berlari aldo mengejar bola basketnya dan berdiri didepan lara. ditatapnya mata coklat itu. lalu meletakan 1 tanganya dipundak gadis itu. "lo sama ayra itu bersaudara. lo ga seharusnya bersikap kasar gitu sama dya". kata-kata itu meluncur dari mulut aldo tanpa tau kalau kedua tangan lara sudah mengepal menahan marah. lara menepis tangan aldo dengan kasar "berapa kali sih do gue bilang. gue ga suka ya lo nyebut-nyebut nama ayra didepan gue.". lara berkata dengan kasar lalu pergi meninggalkan aldo dan bola basketnya. Aldo melihat lara benar-benar marah. dan ada sebuah kebencian dimatanya. dia sama sekali tidak habis pikir  dengan kedua sahabatnya. mereka memang terlahir kembar identik. tak ada yang bisa membedakan mereka selain dari gaya mereka yang memang bertolak belakang. ayra tumbuh menjadi anak manis dan pintar. ia begitu tertarik dengan yang namanya pelajaran. ia pintar, selalu menjadi juara kelas. ia selalu menjadi sanjungan semua guru disekolah mereka. begitupun dirumah. ayra selalu menjadi kebanggaan orangtuanya. dan yang pasti orang tuanya berharap banyak pada ayra. sedangkan lara, tumbuh menjadi anak tomboy dan suka berontak. ia lebih tertarik pada basket daripada pelajaran. dan orang tuanya tidak pernah suka kalau lara terlalu banyak main. orang tuanya sudah berulang-ulang memberi nasihat lara agar bisa menjadi seperti ayra, anak kebanggaannya. tapi lara selalu menentang dan akhirnya orangtuanya menyerah. tapi dahulu mereka bisa berjalan beriringan. mereka sering bermain bersama. sampai pada akhirnya...... aldo menghela nafas panjang. merasakan semilir angin yang menerbangkan beberapa helai rambutnya.



          "Assalamualaikum" ayra mengetok pintu kayu di sebuah rumah sederhana bercat krem. terdengar suara wanita menjawab salamnya. tak lama pintu itu terbuka dan menunjukkan wajah pemiliknya. "ayra" suara wanita itu begitu terkejut melihat kedatangan ayra. ayra tersenyum manis dan memeluk wanita paruh baya yang ada dihadapannya. "Apa kabar bunda?" wanita itu masih memeluk erat ayra. "ayo masuk. tapi aldo belum pulang tuh ay" katanya sambil menuntun ayra ke sofa empuknya. "ga pa pa bunda, ayra mau nengokin bunda kok. bukan mau ketemu aldo". wanita paruh baya itu masih sama. wajahnya memancarkan kelembutan. sudah berapa lama ayra tak bertemu dengannya?. bu hanna sudah puluhan taun menjadi single parent. suaminya meninggal karena kecelakaan saat aldo masih sangat kecil. keluarga aldo memang sederhana, ibunya hanya seorang guru di sebuah SMP dekat rumahnya. tapi entah mengapa ia begitu nyaman dengan keluarga sederhana ini. ia memperhatikan sekeliling saat bu hanna kebelakang mengambil minum. rumah ini masih sama, tidak ada yang berubah. matanya menatap sebuah frame yang mengambarkan 3 orang anak yang sedang berdiri di taman. itu dirinya, lara dan aldo. "kemana aja nak ayra? lama ga perhan maen?" tanyanya sambil menenteng segelas air berwarna untuknya. "makasih bu. maaf ya ayra jarang main lagi agak sibuk aja" katanya pelan. "ibu tau kok. tiap lara kesini. ibu tanya kamu kenapa jarang maen. lara selalu bilang kamu sibuk" katanya sambil tertawa kecil. ayra benar-benar sadar kalau ia sudah banyak kehilangan waktu untuk sahabatnya, bahkan bu hannapun begitu. matanya membulat melihat sebuah foto yang terpajang didinding. lara dan aldo di sebuah pantai. "minggu lalu mereka pergi ke pulau tidung. katanya sih refreshing" bu hanna seakan tahu apa yang dipikirkan ayra. "memangnya kamu ga ikut?" ayra hanya menggeleng pelan. "assalamualaikum" sebuah suara hadir diantara mereka. "ayra" aldo nampak kaget melihat ayra berada dirumahnya. "hai do" katanya pelan. aldo duduk di sofa dihadapan ayra sedangkan bu hanna lebih memilih masuk dan meninggal mereka berdua. "baru pulang???? lara mana?" tanya ayra canggung. aldo yang merasakan kecanggungan ayra hanya tertawa dalam hati. "masih dilapangan basket. niatnya sih gue pulang cuma mau ganti baju duank." katanya sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan majalah yang ia ambil dibawah meja. "owh". kali ini aldo benar-benar tertawa melihat tingkah ayra yang tak biasa. ayra mengerutkan dahi melihat aldo tertawa cekikikan. "ayra.. ayra.. lo ngomong sama gue kaya tersangka lagi ngomong sama hakim deh". ayra mengehela nafas dan ikut tertawa. "emang iya yaa... ga tau nihh jadi kaku gini".katanya sambil menyeruput sirupnya. "lara gimana?? baik-baik aja?" aldo menatap keraguan dimata ayra. tapi ia tau ayra begitu menyayangi lara. hanya saja lara yang terlalu keras kepala. "aneh, lo kan saudaranya. serumah pula.". ayra hanya tersenyum kecut. dan aldo sangat tau keadaan mereka berdua hingga akhirnya kembali buka suara. "baik kok dia. makin jago lho maen basketnya."




           "lara.....lara... bangun". suara bising itu terdengar di luar kamar lara. dan ia tahu itu suara siapa. bukannya bangun lara malah menutup kuping dengan bantalnya dan kembali menarik selimutnya.

"lara...laraaa..." suara itu memang gagal membangunkan lara. tapi ampuh membuat ayra keluar dari kamar yang memang bersebelahan dengan kamar lara. "aldo.. ngapain pagi-pagi teriak-teriak gitu?" ayra membuka kamarnya dan mendapati aldo tepat didepan pintu kamar lara. "eehhh ayra, maaf yaa ganggu" katanya sambil melihat ayra yang sudah terlihat segar. 

          "ini kan hari minggu. mau kemana??" kata ayra sambil berjalan menuju ruang makan dan aldo mengikuti dari belakang. "mau maen basket.". ayra mengernyit tak berminat."ama lo aja yuuk" tanpa izin aldo menggandeng tangan ayra setengah berlari. "eehhh...eehhh tunggu2" ayra memaksakan diri berhenti. aldo ikut berhenti dan manatapnya. "kenapa?" aldo menatap ayra dalam-dalam. "gue... gue.. ragu". Entah mengapa mendengar kata lapangan basket menyelipkan keraguan dalam hatinya. sudah bertahun-tahun ayra melupakan tempat itu. "udah ayo, diajak ke lapangan basket aja kaya diajak kejurang" aldo tersenyum sambil menggandeng tangan ayra. "kita naek sepeda aja ya" kali ini ia tersenyum menatap aldo yang sedang mengambil sepedanya. "motor lo kemana?".

          "ada dirumah. ayo naek" aldo memberi aba-aba agar ayra duduk dibangku belakang sepedanya. sepeda itu melaju cepat. membuat rambut ayra berterbangan. ia melingkarkan tangannya dipinggang aldo. mengingat masa lalunya. ia dulu biasa bermain sepeda ke taman tapi ayra yang tak pandai mengendarai sepeda selalu dibonceng sama aldo. dan kejadian itu... waktu itu lara pernah jatuh dari sepeda hingga lututnya berdarah, tapi entah mengapa ayra yang merasakan sakit dan akhirnya menangis. waktu itu aldo berkesimpulan bahwa ikatan batin ia dan lara sangat kuat. Aldo menepikan sepedanya disamping lapangan basket. dan melihat ayra hanya diam menatap kearah lapangan basket itu. "ayo" dengan ragu ayra melangkah mengikuti instruksi aldo. ia kini berada ditengah-tengah lapangan. aldo mengambil bola basket di pojok lapangan yang memang dikhususkan untuk umum. lalu menyerahkan bola basket itu ke ayra. ayra hanya memandang bola yang dihadapkan padanya. enggan mengambilnya dari tangan aldo. "lo bisa ay, lo kan dulu jago" katanya berbisik ditelinga ayra. "gue ga bisa do, gue udah bertahun-tahun ninggalin ini". ia hendak berbalik tapi aldo menggenggam tangannya. ayra kembali berbalik dan kini menatap aldo. "lo cuma perlu fokus sama ringnya. dan lempar bolanya. mudah kan?". ayra menelan ludah, tidak.. ini tidak semudah bayanganya. mudah mungkin untuk aldo dan lara yang setiap hari latihan. sedangkan ia?? sudah bertahun-tahun ia melupakan mimpi bersama teman-temannya untuk bermain basket karena papanya menginginkan ia menjadi seorang dokter. papa nya selalu bilang kalau basket itu tidak ada gunanya. sejak saat itulah ia fokus belajar. melupakan kegiatan bermainnya bersama saudara dan sahabatnya.

          aldo menarik tangan ayra dan memberikan bola basket itu. ia menghela nafas. dilihanya aldo yang tersenyum meyakinkan kearahnya. mengisyaratkan agar ayra melempar bola itu ke dalam ring. ia akhirnya menatap kearah ring dalam-dalam. mendriblle bola lalu melempar dengan yakin. dan tepat sasaran. ayra teriak senang dan memeluk sahabatnya erat-erat. "mudah kan ay" suara itu menggelitik telinga aldo yang masih dalam pelukannya. ada rasa yang berbeda saat itu. rasa lega, bebas, dan tanpa beban. juga rasa nyaman yang lama tak dapat ayra rasakan. ayra melepas pelukannya sambil tersenyum senang. "main lagi??" kata aldo lembut sambil membelai rambut ayra. ia menyusuri pandangannya kesekeliling lapangan mencari bola basketnya. "lara". ayra menoleh mengikuti pandangan aldo. bola itu sudah berada ditangan lara. ia menatap sinis kearah ayra. lalu melempar bola itu sembarangan. "sorry ganggu" katanya sambil berbalik. dengan sigap ayra setengah berlari dan menggenggam tangan lara seakan menyurunya berhenti. "lepasin" lara menepis tangan ayra dengan kasar dari pergelangan tangannya. "kenapa sih lo benci banget sama gue?" kata-kata itu meluncur dari mulut ayra tanpa ia rencanakan. tapi sepertinya ia takkan menyesal melontarkan pertanyaan ini. karena lain kali ia mungkin tidak punya keberanian seperti ini. "HIDUP LO!!!! lo ga akan ngerti ay" katanya ketus sambil menatap mata ayra penuh amarah. "gue ngerti ra, gue ngerti. gue cuma...." kata-kata itu terpotong dengan amarah lara yang sudah tak tertahankan. "apa lo bilang??? lo ngerti??? apa lo ngerti selama ini gue hidup dibawah bayang-bayang ayra renata. elo yang selalu jadi anak kesayangan mama-papa, lo yang selalu jadi juara kelas, lo yang selalu di puji guru-guru, lo punya temen banyak. dan yang gue sesali adalah... wajah kita yang sama. gue benci itu. lo bisa dapetin apapun yang lo mau, lo tinggal minta sama papa. sedangkan gue??? gue bahkan harus nabung cuma buat beli bola basket. ga pernah terbayang kan sama lo?? hidup lo udah terlalu sempurna ay. bahkan cuma untuk mimpi jadi gue pun mungkin lo ga akan mau. " kata-kata itu begitu tajam keluar dari mulut lara, tanpa menyadari bahwa air mata sudah membanjiri pipi ayra. tapi itupun belum cukup untuk menyentuh hati lara. ia masih menatap ayra tajam penuh kebencian. tapi kini ia lega, ia bisa mengatakan semuanya dan ia tak perlu memendam kebencian itu lagi. dan ayra... suasana hening sejenak hingga akhirnya ayra buka suara "maafin gue ra," ayra tak mampu melanjutkan kata-katanya karena merasa hatinya makin sesak oleh rasa bersalah. "tapi kalo gue belih milih. gue pengen hidup kaya lo ra, bisa maen kapan aja. tanpa perlu mikirin pelajaran dan sebagainya. sedangkan gue? tiap hari gue harus berurusan sama buku yang sebenarnya bikin gue muak. papa naro harapan banyak ra sama gue, gue tau papa udah kecewa sama lo. makannya gue ga mau bikin papa kecewa juga. makannya gue belajar kadang ga inget waktu, semua waktu bermain gue tersita karena gue harus belajar. itu beban ra buat gue. gue sadar gue ga bisa nentang papa kaya lo. gue... gue ga seberani lo. seandainya lo mau sedikit ada nurut sama papa dan berbagi beban ini. mungkin gue masih bisa nikmati hidup gue" kata-kata itu terdengar lirih. dan saat itu juga lara memeluknya. dan ikut menangis dipelukan saudara kembarnya. "maafin gue ay" lara tak menyangka kalau hidup saudaranya yang ia anggap sempurna ternyata tak jauh lebih baik dari dirinya. aldo hanya tersenyum. ia tau hal ini akan terjadi. dan semuanya akan kembali seperti dulu




          *jangan tanya kapan kesempurnaan hidup kita capai, karena kesempurnaan itu akan kita dapat saat kita mampu mensyukuri hidup* ^__^


No comments:

Post a Comment