buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 21 May 2013

STUPID BOY II




          “woy, bengong aja lo. Kasian ayam tetangga pada mati”. Iras menepuk pundak ryan keras karena melihat temannya duduk sendiri di balcon kamarnya. “sialan lo, sakit tau” katanya sambil menoleh kebelakang. Dilihatnya iras sudah tidur diranjangnya dengan sebuah majalan ditangan. “Yan, lo sama tiara jadian ya?” iras melontarkan pertanyaan tapi matanya tertuju pada majalahnya. “kaga” jawabnya singkat sambil  menghampiri iras dan duduk ditepi ranjang. “owh.. abis anak-anak pada heran liat lo mendadak jadi rajin semenjak duduk sama tiara. Tapi lo suka sama dia?” tanyanya lagi. kali ini iras memandang ryan yang memunggunginya dan melihat ryan mengangguk. Iras langsung bangun dan duduk sejajar dengan ryan. “tembak donk bro.aahh jangan bilang lo ga berani.” Katanya sambil menepuk bahu ryan. “sembarangan lo, gue udah ditolak malahan” katanya sambil merebahkan tubuhnya diranjang. Iras yang mendengar bukannya bersimpati malah tertawa geli.

          “kok malah ketawa” ryan mengeryit mendapati iras yang kini balik memunggunginya. “abisnya lucu, gue baru mau nyuruh lo nembak dia eehh ternyata  lo malah udah ditolak. Btw, kapan nembakknya?”

          “kemaren.” Jawabnya pelan.Iras berdiri dan mengulurkan sebelah tanggannya, ryan menyambut tangannya dan dengan cepat menariknya. Membuat ryan dengan cepat terangkat dan kembali mendudukan diri ditepi ranjang. “dengerin gue bro, tiara itu beda dari cewe-cewe lain. Lo ga bisa seminggu ajak dia jalan trus nembak dia.” Ryan menatap temanya.Benar kata iras, semuanya terlalu cepat buat tiara.Ga salah kalau tiara menolaknya. “jadi butuh berapa lama?” tanyanya balik
“ga perlu berapa lama. Yang penting lo ngerasa yakin kalau tiara punya perasaan yang sama kaya lo.” Ryan mengangkat kaki dan menyilangkannya, menyatukan salah satu sikut dengan lututnya, membuat telapak tangan menopang dagunya.Membuatnya terlihat seperti orang yang sedang berfikir keras.

       “Ada apaan sih?”.Ryan masuk menerobos sekumpulan anak yang berkumpul di mading.“LOMBA SAINS TINGKAT SMA” dahinya berkerut “hadiah beasiswa S1 ke university of Melbourne. Uang jajan setiap bulan” ryan keluar dari kerumunan karena merasa tidak berminat, lebih sadar diri tepatnya. Ia kembali melangkahkan kaki menuju kelas.Mendapati tiara yang sedang duduk santai dan mata tertuju pada buku yang ia pinjam dari perpus kemarin. “pagi tiara” sapanya lembut, tiara menoleh dan menjawab dengan sebuah senyuman. “makasi ya tadi pagi udah di telpon, kalo nggak gue pasti kesiangan” katanya lagi sambil melepas ransel dari pundaknya. “sama-sama” tiara kembali menoleh. Dan tatapan mereka bertemu…  suasana hening sejenak, tiara menelan ludah mencoba menetralkan rasa yang akhir-akhir ini hinggap dihatinya. “makasih juga udah ingetin kalau hari ini hari senin, jadi gue ga saltum lagi.” Ryan akhirnya memecah keheningan.“sama-sama” kata tiara gugup.

           Apa ia salah kalau ia menyatakan cintanya pada tiara. Ia merasa tiara sangat baik padanya. Mengajarinya belajar, mengingatkan semua yang mungkin ia lupakan, merubah ryan menjadi lebih baik Dan ia merasa tiara juga punya perasaan yang sama padanya. Ryan melirik tiara yang masih sibuk dengan buku bacaannya. Lalu melepas pandangannya. Makin intens ia menatap tiara makin ia menginginkannya.

             “lo biasa makan disini ra?” kata ryan saat mereka duduk disebuah tempat makan pinggir jalan dekat taman. Tiara menggangguk. “mau makan apa?” Tanya tiara, ia melirik ryan yang menampakkan wajah ragu. “apa aja” jawabnya singkat. “-apa aja- itu makanan baru ya?” tiara tersenyum, begitupun ryan, teringat kejadian waktu itu. Dadanya terasa sesak mengingatnya. Ryan melihat sekeliling. “ga pernah makan dipinggir jalanya?” tiara membuat ryan menoleh dengan cepat. Ryan hanya mengangkat bahu. “nasi goreng disini enak lho, ga kalah sama restoran di mall-mall.” Kata tiara sambil menyesap es teh manisnya. Ryan emang ga biasa makan ditempat kaya gini.Hari ini ia mengantar tiara membeli buku setelah pulang mengajar, tapi setelah itu tiara menolak diajak makan di mall, ia malah mengajak ryan ketempat ini.  Tempat ini cukup bersih, tidak seperti tempat makan yang ada di pinggir-pinggir jalan pada umumnya, letaknya  berada disamping taman,  dan tempatnya tertutup. Hanya saja lebih sederhana dibanding resto-resto dimall pada umumnya. Cuma tiara yang berani nolak diajak makan dimall, Cuma tiara yang nolak dibeliin barang-barang bagus, dan Cuma tiara yang akhirnya bikin hati ryan ga karuan.

          “kali ini gantian gue yang traktir ya?” kara tiara sambil mengeluarkan dompet dari tasnya setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dan segelas es teh manis. “ga usah ra, gue aja” kata ryan mencegah tiara mengeluarkan uang dari dompetnya. “ga papa, gue udah keseringan di traktir lo”
“tapi gue ga biasa dibayarin cewe”. Katanya agak keras. Membuat tiara menoleh dan menatapnya. “pokoknya gue yang traktir”. Katanya lalu pergi menghampiri penjual dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu kembali ke mejanya.

          “makasih ya traktirannya. Tapi lain kali gue ga mau kalo dibayarin lo lagi.” Katanya sambil memberhentikan motor didepan rumah tiara. Tiara hanya tersenyum. “makasih juga udah nemenin ketoko buku”. Ryan tersenyum “oia, lo mau ikut test lomba sains itu. “. Tiara mengangguk “besok testnya”. “lo udah pasti lolos ra, tenang aja” ryan berusaha meyakinkan. “lo kan keturunannya einstein” tambahnya. Tiara hanya tersenyum lalu berlalu dari pandangan ryan.

           Jam sudah menunjukkan pukul 21.30, tapi tiara masih terlihat gelisah diranjangnya. Matanya sama sekali tidak ingin terpejam. Padahal ia harus mengistirahatkan diri untuk test lomba sains besok.
Ryan…. Ryan penyebabnya. Wajah ryan terus berkelebat dalam pikiran tiara. Senyumnya, tawanya, kebersamaan mereka..aarrrgghh.. gue kenapa siih???  Ia menghardik diri sendiri. Kenapa ada rasa menyesal saat menolak ryan waktu itu. apa gue suka sama ryan?? Gak..ga bisa.. gue ga boleh pacaran, atau sekolah gue bakal berantakan.

“ra, sorry ya hari ini gue ga bisa bareng sama lo,
Hari ini gue ga masuk. Tolong izininin gue ya.Gue ga enak badan”
Sender :ryan

Pesan itu masuk kehandphone tiara. Ia mengerutkan dahi. Ryan sakit????
“sakit apa yan? Iya gpp.”
Sender : tiara

          Tiara memakai sepatunya lalu berpamitan dengan ibunya. Melangkahkan kaki menyusuri komplek-komplek perumahan yang terhubung kesekolahnya. Saat sampai digerbang hanphonenya kembali bergetar.

“Cuma demam ra, tenang aja. Ga usah kuatir gitu donk..ckckckk. 
Oia, good luck ya buat testnya ntar”
Sender :ryan

Tiara tersenyum. “lagi sakit masih aja bisa kepedean”

          Ryan menunggu didepan laboraturium dengan wajah pucat pasi, ia merasakan suhu tubuhnya kembali meninggi. Ia hari ini tidak masuk sekolah, tapi sore hari ini ia datang kesekolah untuk melihat tiara. Ia masuk melalui pintu belakang. Sekolah sudah sepi hanya beberapa orang yang masih mempunyai kegiatan disekolah. Ia melongok dari jendela, melihat tiara dan beberapa anak serius mengerjakan soal-soal dimeja mereka masing-masing. 

          Mata tiara membulat melihat ryan duduk dibangku depan laboraturium. “ryan”. yang dipanggil langsung menoleh. Ryan berdiri didepan tiara dan mengulurkan tangannya. “selamat ya, gue yakin lo bisa”. Tiara menjabat tangan ryan. “tangan lo panas yan”. Ia menatap ryan cemas, lalu menaruh balik telapak tangannya didahi ryan. “yan, lo panas banget. Pucat lagi”

          “ga papa, paling demam biasa” jawabnya enteng sambil mencoba tersenyum, walau ternyata terasa berat. “gak, lo harus kedokter ryan. Kita kedokter ya”. Ryan menggenggam tangan tiara. “ga usah, paling demam biasa”.

          “dia kena tipes, kenapa baru dibawa sekarang? Dia harus dirawat” dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan menemui tiara yang menunggu ryan diluar. “saya akan pindahkan dia keruang perawatan”.  Tiara memandang cemas melihat ryan dipindahkan keruang perawatan oleh beberapa suster. Ia mengeluarkan handphonenya, mencari kontak iras di phonebook lalu menekan tombol call. Hanya iras yang bisa membantunya. Ia tidak mengenal keluarga ryan sama sekali. “yaudah, lo tenang dulu ya. Bentar lagi gue otw”. Tuut..tuutt… suara diujung sana terputus. Ia kembali menatap hadnphonenya lalu menghubungi ibunya. Memberitahu kalau ia akan pulang agak malam.

          Tiara duduk disebuah kursi tepat disamping ranjang ryan. Ia menatap ryan yang sedang tertidur pulas. “kenapa sih lo keras kepala banget jadi anak, lagi sakit bukannya istirahat dirumah malah kelayaban.” tiara berbicara satu arah dengan ryan. Yang diajak mengobrol masih tertidur pulas akibat obat yang diberikan dokter tadi. Kreekk… suara derit pintu berbunyi, menampakkan iras yang berada dibaliknya. “sakit apa ra?” kata iras yang langsung menghampiri tiara.

          “tipes ras” katanya singkat. “kok bisa? Lo dari rumah ryan tadi?” iras melihat ada kecemasan yang tersirat diwajah tiara.  Tadi pagi ia melihat tiara begitu cemas menghadapi test untuk olimpiade sainsnya, tapi kali ini ia melihat kecemasan itu karena ryan. “tadi sore dya kesekolah”.  Iras mengerutkan dahi. Tadi pagi ryan ga masuk sekolah, tapi sorenya dia pasti dateng buat nemenin tiara test. “yaudah, gue udah nelfon kakak sepupunya tadi. Dya lagi otw katanya. Orang tuanya ryan lagi diluar kota”. Tiara tak memperdulikan iras, tatapannya hanya tertuju pada ryan yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. “gue cariin lo makan dulu ya ra, lo pasti belom makan kan?”. Tiara menatap iras dan akhirnya mengangguk. Iras melangkahkan kaki menuju pintu keluar.

          Tiara menggenggam sebelah tangan ryan. Suhu badanya sudah tidak sepanas tadi. Ya tuhan.. mengapa ia begitu menhawatirkan anak ini. Suara derit pintu kembali berbunyi, tapi bukan iras yang ada dibaliknya. Seorang cewek cantik yang usianya kira-kira 2 tahun diatas tiara. Wanita dengan blus biru muda dan rok selutut juga high heels itu menghampiri tiara sambil tersenyum.Tiara buru-buru melepas genggamannya dari ryan.. “kamu pasti tiara” katanya tanpa melepas senyumannya. Tiara spontan menggeser bangkunya dan berdiri, ia ikut tersenyum sambil mengangguk. “saya  lisa, kakak sepupunya ryan.” Ia mengulurkan tangannya , membuat tiara dengan sigap menjabat tangannya. Tiara dan lisa duduk disofa agak jauh dari tempat tidur ryan. “kamu lebih cantik dari bayangan kakak.” Pipi tiara merona merah, lalu menatap lisa penuh kebingungan. “ryan banyak cerita tentang kamu”. Lisa seakan tau apa yang ada dipikiran tiara. “makasih yang udah bikin ryan berubah”. Katanya lagi, kali ini matanya menatap ryan dari kejauhan. “itu karena ryan yang pengen berubah ka, bukan karena tiara”. Tiara mengikuti arah pandang lisa yang tertuju pada ryan. “ryan itu sayang banget sama kamu.” Kali ini kata-kata lisa ampuh membuat tiara berbalik, menatap lisa yang matanya masih tertuju ke ranjang. “dya banyak cerita tentang kamu sama kakak. Waktu itu kakak sempet beberapa kali nginep dirumah ryan. Udah hampir tengah malem dya masih sibuk diruang tamu, belajar buat ulangan biologi katanya. Pertama kakak ga percaya, tapi ternyata dia serius, disaat itulah dia cerita tentang kamu. Dya ngerasa nyaman dideket kamu, dia ngerasa kamu beda dari cewe-cewe lain. Saat itulah dia mutusin buat rajin belajar. Biar bisa deket sama kamu. Mungkin kamu ga pernah tau. Dia sempet denger beberapa anak ngomongin dya disekolah. Mereka mengira ryan deket sama kamu Cuma buat manfaatin kepintaran kamu., dan kamu manfaatin ryan karena kekayaannya. Padahal dya ga sejahat itu. Kamu tau kan.”. tiara menghela nafas panjang, ya tuhan.. ia sama sekali ga pernah punya pikiran seperti itu tentang ryan. “mulai saat itu dya belajar biar bisa setara sama kamu, biar dia bisa buktiin sama anak-anak lain kalau dya ga seperti yang mereka pikirkan. Dan keesokan harinya. Dya pulang dengan baju yang udah basah karena keringetan, dan mengeluh kalau kakinya cape banget karena jalan kaki dari rumah ke sekolah, buat apa? Biar bisa jalan bareng kamu. Setiap hari dia nunggu kamu di komplek deket rumah kamu. Seolah-seolah kalian bertemu karena ketidak sengajaan.”. lisa menghentikan kata-katanya, lalu menoleh kerah tiara. Melihat matanya yang berkaca-kaca. “dua hari yang lalu sebenarnya dia udah ngeluh kalau ga enak badan. Tapi dia tetep maksa masuk sekolah terus nganterin kamu ke toko buku. Dia bener-bener ga pengen ngelewatin hari tanpa kamu. “ mata lisa kembali melirik tiara sambil tersenyum, lalu menaruh telapak tangan di pundak tiara dan mengelusnya lembut. Membuat tiara menoleh. Tatapan sendunya bertemu dengan tatapan lisa yang juga berkaca-kaca. “ Kakak udah hubungin orangtua ryan, kemungkinan tengah malem nanti mereka sampai dijakarta. “. Iras muncul dari balik pintu dengan sekantong makanan ditangannya. “ka lisa” katanya sambil menghampiri mereka berdua. Iras sudah duduk disamping tiara dan mengeluarkan 2 box makanan dari kantong plastiknya. Tapi tiara masih sibuk menenangkan perasaanya yang terasa teraduk-aduk. Makanan yang terlihat enak itupun sama sekali tidak menggugah selera makannya. ”makan dulu ra” kata iras ragu karena melihat air muka tiara yang menampakkan kesedihat lebih dalam dari yang tadi. “gue ga laper ras” katanya pelan. “kamu harus makan tiara. Kalau kamu ikutan sakit gimana?. mending kalian berdua makan. Abis itu pulang terus istirahat. Besok harus sekolah kan”


          “assalamualaikum”. Tiara membuka pintu. Melihat lisa yang masih berada dirumah sakit dan wanita muda yang kemungkinan adalah ibu ryan.  Hari masih sangat pagi, tapi tiara memutuskan untuk datang kerumah sakit sebelum berangkat sekolah. Ia menjabat tangan ibunya ryan yang tersenyum ramah kepadanya. “tiara”. Katanya pelan. Lalu melirik kearah ryan yang masih tertidur pulas diranjangnya. “ryan baik-baik aja kok. Kamu tenang aja” ka lisa mencoba meyakinkan tiara sambil berjalan keluar ruangan. Meninggalkan tiara dengan ibu selvi yang membuat tiara gugup karena tidak tau harus berbuat apa. Bu selvi akhirnya mempersilahkan tiara duduk. “makasih ya tiara, tante ga tau harus bilang apa lagi sama kamu.” Bu selvi tersenyum, tiara juga walau sebenarnya ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud sebenarnya. “lisa udah cerita banyak tentang kamu”. Dan saat itulah bu selvi mengakui kesalahan karena jarang memperhatikan ryan. Ia hanya memperhatikan ryan dari segi financial. Tiara melihat raut wajah penyesalan dalam diri bu selvi. Wajar kalau ryan tumbuh menjadi anak yang susah diatur. Tapi ia tahu kalau sebenarnya bu selvi sangat menyanyangi ryan. “tiara.” Suara itu terdengar pelan namun ampuh membuat kedua wanita itu menoleh kearah datangnya suara. “ryan” spontan tiara beranjak dari sofa dan menghampiri ryan. Ia kemarin meninggalkan ryan dalam keadaan tertidur pulas, dan pagi ini ia begitu merindukan anak ini. “kamu udah kenalan sama mama.” Katanya pelan, suaranya seperti tertelan ditenggorokan. Tiara hanya mengangguk sambil tersennyum, bu selvi sudah ada disamping tiara dan menatap ryan penuh kelembutan.  Ia melihat ketenangan diwajah ryan. Membuatnya hanya diam dan menatapnya. “aku berangkat dulu ya. Kamu cepet sembuh, bentar lagi kita kan ujian.” Tiara tersenyum lalu menggenggam tangan ryan sebentar.

***

          3 hari sudah berlalu, setiap pagi dan sore setelah mengajar tiara selalu mampir kerumah sakit. Menyadari bahwa ia benar-benar peduli pada ryan, bukan hanya peduli, ia mencintai ryan. Dan itu tidak dapat Ia pungkiri lagi. Hari ini ryan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, tiara menyusuri lorong-lorong rumah sakit. dan mendapati keluarga ryan termasuk ka lisa berkumpul di ruang perawatan ryan. Ryan sudah terduduk diranjang saat tiara masuk. Ia langsung tersenyum melihat tiara datang. “ibu titip salam buat lo”  kata tiara sambil menatap ryan yang sudah kelihatan sehat. Wajahnya sudah tidak pucat seperti beberapa waktu lalu dan Suaranya sudah terdengar lantang.

          Ryan benar-benar anak orang kaya. Tiara membatin saat mereka sampai disebuah rumah mewah bercat putih. Tiara berjalan beriringan dengan ryan dan keluarga mamasuki rumah itu. Ruang tamu di design dengan gaya modern dengan kesan sangat mewah. Tiara dan ryan duduk disofa sedangkan yang lain masuk ke kamar masing-masing. Mungkin ingin sedikit beristirahat karena beberapa hari ini tidurnya berkurang karena menjaga ryan dirumah sakit. Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dan menaruh segelas es jeruk untuk tiara. Tiara tersenyum smbil megucapkan terima kasih.  “diminum ra” ryan mempersilahkan tiara menyesap minumannya. Tiara mengangguk sambil menegak setengah dari isi gelasnya. “oia, ini catatan selama lo ga masuk.” Tiara mengelurakan beberapa buku bersampul coklat dan memberikannya kepada ryan yang duduk manis disampingnya. Ryan mengeryit “gue kan baru sembuh ra, lo mau bikin gue mabok apa” katanya sambil tersenyum, tiara ikut tersenyum saat mengetahui ryan bercanda. Ryan adalah warna dihidup tiara. Dahulu hidupnya hanya seputar sekolah dan bekerja, kini ryan merubah segalanya. Membuat hidup tiara lebih berwarna. Dan tiara kini menjadi sumber inspirasi ryan. sumber semangat ryan buat jadi orang yang lebih baik.

          “gimana ujiannya?” tiara melihat ryan dengan tampang kusutnya langsung duduk disamping tiara yang sedang asik menyeruput soft drinknya dikantin. Ryan menghela nafas. “susah ra” katanya singkat lalu memejamkan mata, mencoba sedikit menenangkan otaknya yang serasa terbakar. Hari ini adalah hari terakhir dilaksanakannya ujian nasional tingkat SMA.

         “tiara….selamat ya, lo lolos jadi peserta olimpiade sains” Diana berlari dari kejauhan menghampiri tiara. Suara kencangnya ampuh membuat seisi kantin menoleh kearah datangnya suara. “selamat ya tiara.” Diana menjabat tangan tiara dan memeluknya erat, diikuti ryan yang tak mau kalah. Sedangkan tiara masih menenangkan hatinya yang terasa tak karuan, matanya terlihat berkaca-kaca.  “pengumumannya udah dipajang dimading barusan. Lombanya abis kita ujian sekolah” lanjut Diana setelah mereka duduk melingkar dibangku kantin.

          Hari-hari berikutnya dilalui tiara dengan kerja keras. Ia meminimalisir jadwal mengajarnya dari 5x seminggu menjadi 3x seminggu. Ia menfokuskan diri dengan ujian sekolah beberapa hari lagi dan olimpiade sainsnya. Kesempatan beasiswa ini sangat menyulut semangatnya. Inilah impiannya selama ini. Dan sudah ada didepan mata.

          “selamat ya ra” Kata-kata meluncur disepanjang jalan dari lorong-lorong sekolah. Kemenangan tiara dalam olimpiade sains kamarin langsung menyebar ke segala penjuru sekolah. Bahkan fotonya dan atrikel tentang olimpiade kemarin dipajang dimading sekolah.

          “jadi donk lo ra, kuliah di australy” Suara lirih itu keluar dari mulut ryan yang sedang duduk ditaman berdua dengan tiara dengan sebuah ice cream ditangan masing-masing. Tiara tersentak, seperti tersadar dari sesuatu. Tiara menelan ludah lalu menatap ryan dengan wajah datar. Suasana hening sejenak sampai akhirnya suara ringtone dari handphone tiara memecah keheningan. Tiara mengalihkan pandangan menuju hanphonenya. Ia mengangkat alis karena malihat nomor baru memanggil di layar handphonenya. Ia lalau menekan tombol answer “iya, bener.. apaaa?? Terus sekarang dimana?” airmata mengalir dari mata indahnya, sedangkan ryan mulai panic melihat tiara menangis. “kenapa ra?” Tanya ryan dengan wajah kebingungan. “ibu yan, ibu jadi korban tabrak lari. Sekarang kita harus kerumah sakit”.

         Ryan mengemudikan motornya dengan cepat walau tetap hati-hati. Tiara yang duduk dibelakang masih menangis sejadi-jadinya. Sampai dirumah sakit tiara berlari menuju resepsionis dan bertanya keberadaan ibunya, setelah itu ia menggandeng tangan ryan setengah berlari. Sampai diruangan yang dituju, ia melihat dari kaca ibunya terbaring dengan beberapa selang menempel ditubuhnya juga  dokter dan beberapa perawat. Salah seorang perawat yang mengetahui kehadiran tiara langsung keluar mencoba mencegah tiara masuk. “saya anak dari pasien didalam suster, gimana keadaan ibu saya?” kata tiara masih dengan air mata yang terus menetes dari matanya. Ryan menggenggam tangan tiara erat.

             “keadaannya kritis, dokter sedang mengusahakan yang tebaik untuk ibu anda. Lebih baik anda tenang dan tidak menganggu konsentrasi dokter.”. suster itu pergi, meninggalkan tiara dan ryan dilorong rumah sakit. Ryan menuntun tiara agar duduk dikursi. “tenang ra, ibu lo pasti baik-baik aja” tangan ryan mengelus pundak tiara lembut. Tanpa sadar tiara menyandarkan kepalanya dibahu ryan. masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Otaknya sibuk menerka-nerka apa yang sekiranya terjadi dengan ibunya. Ia hanya punya ibunya didunia ini. Tidak ada sanak saudara ataupun yang lain, hanya ibunya.

          15 menit kemudian dokter keluar dari ruangan membuat tiara dan ryan terlonjak dari kursinya. “gimana keadaan ibu saya dok?” kata tiara cemas. “ibu anda kritis, kecelakaan itu membuat rangka otak ibu anda pecah, ia kehilangan banyak darah dan sekarang dia koma.”. kata-kata dokter membuat tiara bagai disambar petir, air mata yang tadi sudah mengering kini mengalir kembali. “sebaiknya anda terus berdoa, karena saya sudah berusaha semampu saya. Dan untuk tindakan perawatan selanjutnya anda bisa mengurusnya ke bagian administrasi.”. tiara mengangkat dagu dan menatap dokter itu. “tapi saya boleh melihat ibu saya sekarang kan dok?”. Suaranya lirih tertelan dengan tangisannya. Dokter itu mengangguk. “lo masuk aja ra, biar gue yang urus perawatannya. “ . ryan melepas genggamannya dari tangan lembut tiara. Tiara tak memikirkan apa lagi, Ia hanya ingin melihat ibunya.

          Suasana diruangan itu begitu sepi, hanya bunyi yang berasal dari mesin-mesin penunjang kehidupan yang ada disana. Tiara kembali histeris melihat ibunya terbaring tak berdaya dengan balutan perban dikepala dan tangannya. Ia menggenggam tangan ibunya lalu menciumnya. “ibu harus bagun bu, tiara ga bisa kalau ga ada ibu”. Menit demi menit berlalu, tiara masih terduduk disamping ranjang ibunya. Masih tidak percaya dengan yang terjadi. Saat itulah sebuah tangan menepuk pundaknya lembut. Ryan memberikan sebotol minuman kepada tiara. “makasih” katanya pelan.

          Sudah 2 hari tiara dirumah sakit, ryan dengan setia menemani tiara. Hari ini ruangan perawatan tak hanya ada tiara dan ryan. ibu ryan, ayah ryan, ka lisa ada disana. Mencoba ikut merasakan kesedihan tiara yang sebenarnya jauh dari yang mereka bayangkan. “sabar ya tiara. Tante terus berdoa untuk ibu kamu” bu selvi tersenyum mencoba menghibur tiara. “makasih tante.”
Sore harinya beberapa teman sekolahnya juga datang untuk menjenguk ibu tiara. Tapi nyatanya itu semua tak cukup mengurangi kesedihan tiara. Ia hanya ingin ibunya tak ingin yang lain.

           “Sorry ya yan, gue jadi ngerepotin lo banget.” tiara terduduk disofa. Masih menatap ibunya yang sampai detik ini belum sadarkan diri. Tadi pagi ia pergi ke bagian kasir untuk menyelesaikan administrasi. Tapi ternyata semua biaya perawatan sudah diselesaikan oleh keluarga ryan. entah apa lagi yang harus tiara perbuat untuk membalas semua kebaikan keluarga ryan.  jam menunjukkan pukul 11.00 WIB dan saat itu pula handphone keduanya berdering. Mereka mengambil handphone mereka yang teregletak diatas meja lalu membuka pesan masuk. Pesan dari Diana memberitahu kalau tiara lulus dengan nilai terbaik, dan  ryan juga lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan. Tiara dan ryan bertatapan dan saling berpelukan. Ungkapan kebahagian yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “selamat ya ra” suara itu menggelitik telingan tiara. “lo juga yan”. Tiara melepas pelukannya dengan cepat saat mendengar suara mesin kehidupan itu berbunyi dan menunjukkan tanda-tanda buruk. “ibu…..” tiara langsung menghampiri ibunya yang masih dalam keadaan tenang. “yan, panggil dokter yan”

           Tiara masih terisak dimakam ibunya, beberapa temannya yang ikut melayat sudah berangsur-angsur pergi, menyisakan tiara dan ryan yang masih terpaku dipemakaman. “bu, kenapa ibu tinggalin tiara? Tiara ga bisa kalau ga ada ibu. Cuma ibu yang tiara punya, sekarang tiara sebatang kara” kata-kata lirih itu keluar dari bibir mungil tiara. Ryan hanya menatap tiara, ia sangat mengerti kesedihan tiara.

          “kita pulang ya ra. Bentar lagi ujan kayanya”. Ryan mencoba membuat tiara mengalihkan sedikit pandangannya. “gue mau disini aja yan”. Katanya tanpa menoleh dari makam ibunya. “ra, lo harus istirahat. Lo lupa sama beasiswa lo ke australy?” kali ini kata-kata ryan ampuh membuat tiara menoleh. Yaa tuhan, ia bahkan lupa dengan cita-citanya. Tapi semua itu kini tak ada artinya lagi. Ia hanya ingin ibunya. “ra, biarpun ibu lo udah ga ada, lo harus tetep bikin dia bangga?” ryan seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan tiara.

           Dan sekarang disinilah tiara. Disebuah rumah besar yang sama sekali tidak pernah terfikirkan untuk tinggal disini. 2 minggu setelah kepergian ibunya, bu selvi. Ibunya ryan memaksa tiara untuk tinggal dirumahnya. Awalnya tiara menolak, ia sudah terlalu banyak berhutang budi pada keluarga ryan. tapi bu selvi dan ka lisa memaksa. Hari ini tiara sudah menyelesaikan urusannya disekolah, ia sudah mengambil semua surat-surat berharga sehubungan dengan kelulusannya. Dan 3 hari lagi ia dan beberapa orang juara dalam olimpiade sains kemarin akan berangkat keaustraly, panitia sudah mengurus semuanya. Ia hanya tinggal mengemas barang-barangnya dan berkumpul besok dibandara. Kali ini tiara bangkit, ia berusah tegar dengan semua cobaan yang diberikan tuhan. Ia harus melanjutkan hidupnya, mengejar mimpi-mimpinya dan membuat ibunya bangga dialam sana.

           Diwaktu yang sama tapi ditempat yang berbeda, ryan merenung diatas ranjangnya. Apa ia bisa melepas tiara? Apa ia bisa hidup tanpa tiara? Tiara sangat berpengaruh dalam hidupnya. Dan Ia benar-benar sadar kalau ia sangat mencintai tiara.  Bagaimana kalau tiara jauh dari hidupnya?.

        “belum tidur?” ryan memenukan tiara yang duduk sendiri ditaman belakang rumahnya. Beberapa helai rambutnya berterbangan tertiup angin malam. Tiara menoleh kearah datangnya suara mendapati ryan berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. “ga dingin? Udah malem lho” ryan duduk disamping tiara yang menatapnya tanpa ekspresi. Tiara hanya tersenyum sambil menggeleng. “besok lo jadi berangkat?” ryan memecah keheningan sekali lagi. Membuat tiara menjawab dengan sebuah anggukan. “tapi lo bakal balik kan ra? Gue… gue sayang banget sama lo” kali ini kata-kata ryan terdengar serius. Tiara kembali menoleh. “gue Cuma punya lo yan sekarang, gue janji gue bakal balik buat lo. Lo mau nunggu gue kan?” kata-kata meluncur dari bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Ryan tersenyum sambil menggenggam tangan tiara erat. “gue janji gue bakal nungguin lo”. Ryan tersenyum , lalu mencium kening tiara dan memelukanya erat.
Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap. Dan menjadi sebuah janji yang tidak tau dapat ditepati atau tidak.

bersambung


No comments:

Post a Comment