buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Monday, 3 June 2013

when i was your man




          Danish memandang jauh kearah taman dari jendela mobilnya. Menatap lurus keseorang gadis yang duduk sendiri ditaman itu. gadis yang kira-kira berumur 19 th itu begitu manis dengan kaos merah dan jeans sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi melewati bahu. Alas kakinya hanya berupa sepatu kets warna senada dengan bajunya. Jam tangan warna senada berbahan karet juga melingkar indah dipergelangan tangan kirinya. Sudah 5 menit gadis itu disana, dan sudah 5 menit pula Danish memperhatikannya. Hembusan angin semilir ternyata tak cukup membuat hati Danish tenang. Dadanya terasa sesak oleh suatu perasaan. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Melepaskan kerinduan yang membuat dadanya terasa sesak tiap kali mengingat gadis itu.
Bukan, bukan karena ia menyukai gadis itu tapi tidak bisa mengungkapkannya. Lebih karena Ia sudah kehilangan kesempatan itu. Kania nama gadis itu, ia kuliah disalah satu universitas negeri dijakarta. Selang beberapa menit seorang pria muda menghampiri gadis itu, ia terlihat membawa sebatang cokelat dan ice cream. Gadis itu menyambut dengan senyum paling ramah. Membuat dada Danish makin terasa sesak karena rasa bersalah. Selama 8 bulan ia berpacaran dengan kania, ia bahkan tidak pernah memberikannya cokelat atau pun ice cream. Dan ia baru menyadari kalau ia sangat menyayangi kania adalah saat hubungan itu benar-benar berakhir

***

“pagi sayang… happy Monday ya”
Sender : kania

          Itu adalah pesan wajib yang akan masuk ke ponsel Danish setiap pagi. Membuat dirinya selalu melengkungkan senyum.Ia 2 tahun lebih tua dari kania dan kini ia bekerja disebuah perusahaan property sebagai manager diperusaan itu. Ia dan kania bertemu di sebuah pameran. Perkenalan singkat itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Danish merasa kania adalah gadis manis dan ceria. Ia tidak pernah menuntut banyak pada Danish, baik waktu ataupun sikap-sikap selayaknya sepasang kekasih. Tidak seperti wanita-wanita lain yang cenderung menuntut waktu yang tidak bisa Danish berikan.

          “maaf ya sayang, aku tidak bisa menjemputmu hari ini,ada meeting diluar dan belum                            juga selesai. Tidak masalahkan kan kalau kau pulang sendiri?”
Sender : Danish

          Pesan itu masuk kehandphone kania saat ia berada di kantin kampusnya. Sudah 30 menit ia menunggu Danish dan ternyata Danish lagi-lagi membatalkan janji secara mendadak. Ini bukan sekali ataupun dua kali. Sudah sering Danish membatalkan janji sepihak karena pekerjaannya.
Kania tersenyum kecut lalu membalas pesan singkat itu

“tidak apa-apa. Kamu hati-hati ya, jangan sampai telat makan”
Sender : kania

          Ada rasa kesal tetapi rasa sayangnya terhadap Danish mengalahkan semuanya. Ia merasa Danish adalah pria yang sempurna untuknya. Ia selalu merasa nyaman saat berada didekat Danish, kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan pada pria-pria lain. Walaupun Danish tidak pernah menunjukkan perhatian lebih layaknya seorang kekasih. tapi ia begitu mencintai Danish dan meski Danish adalah tipe pria yang cuek dan tidak peka. Ia tetap mencintai Danish dan menaruh harapan banyak untuk bisa selalu bersama-sama Danish.

***

          “bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya kania saat mereka makan disalah satu resto didaerah Jakarta. Ia merasakan rindu karena sudah seminggu tidak bertemu dengan pria ini. Danish menarik nafas dengan berat  “ya begitu, masih sibuk mengurusi anak perusahaan yang baru. Belum lagi masalah pengadaan bahan baku yang sedang sulit. Makannya banyak meeting akhir-akhir ini.“ katanya sambil menyuapkan steak ke mulutnya. Sedangkan kania mendengarkannya penuh minat. Memperhatikan gerak bibir pria itu tanpa ingin melewatkannya sedetik pun. Tampan dan aku sangat menyayanginya… katanya dalam hati.

***

          “apa kau sibuk malam ini? Aku ingin mengajakmu menonton film bersama teman-temanku”. Kania menanti-nanti jawaban dari seberang sana.  Walau ia tahu pacarnya tidak akan punya waktu karena ia terlalu sibuk. Tapi tidak ada salahnya mencoba, pekiknya dalam hati. “maaf ya kania, sepertinya aku harus  lembur lagi hari ini. ” Danish berkata dengan berat hati. Ia mendengar nada kecewa dari kania. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaan lebih penting baginya. “yasudah, tidak apa-apa. Jangan sampai telat makan ya. Love you”

***

          “dia sibuk lin.” Kata kania agak keras kepada linda. Ia hanya curhat masalah Danish yang tidak punya waktu untuknya, tapi ternyata itu mengundang kekesalan linda. Linda berfikir kalau Danish tidak menyayangi kania. Tapi kania membantah dengan segala alasan.
“kania.. kalau dia menyayangimu, dia pasti punya waktu untukmu sesibuk apapun dia” wajah linda menegang, mengetahui kebodohan kania. Kania terlalu polos, pikirnya dalam hati. Danish adalah pacar pertama kania, wajar kalau kania benar-benar mempertahankan Danish meskipun Danish sangat cuek kepadanya. Wajah kania mendadak pucat, ada garis kekecewaan diwajah manisnya. Ia meneguk minuman kaleng yang sedari tadi tergeletak dimeja samping ranjangnya. Membirkan air soda itu membanjiri tenggorokkannya.

          “oke.. kalaupun dia menyayangimu, tidak untuk menjadi pacarnya. Kau mengerti?? Hanya status. Dia hanya focus pada pekerjaannya. Tidak untuk pacaran. Dia belum siap berhubungan dengan kondisinya yang selalu mementingkan pekerjaannya. Tidakkah kau mengerti kania?”

          Kata-kata linda kali ini ampuh membuat kania tersadar lalu menatap linda tajam. Linda benar, ia butuh pria yang bisa memperhatikannya seperti teman-temannya yang lain. Yang bisa membalas semua perhatiannya, yang bisa memberikan waktu luang untuknya, yang bisa ia banggakan didepan teman-temannya. Tapi ia begitu menyayangi Danish…

          “acara pesta fabby minggu besok. Apa kau sudah mengajak Danish?” linda kembali membuka mulut melihat kania hanya terdiam. Kania hanya mengangkat bahu, ia ingin mengajak Danish menemaninya ke pesta itu. Tapi niat itu diurungkannya hingga hari ini karena ia tahu Danish mungkin akan menolak karena alasan pekerjaannya. Itu pasti. “dia pasti bisa meluangkan waktunya kali ini. kalau benar-benar menyayangimu” kata linda sambil mengulurkan ponsel kearah kania. Dengan ragu kania mengambil ponselnya dari tangan linda. Mencari kontak Danish dan masih dengan perasaan ragu menekan tombol call. Beberapa detik kemudian terdengar suara disebrang yang sudah sangat dikenal kania. “kenapa kania” suara disebrang terdengar terburu-buru. “minggu besok. Apa kau punya waktu?. aku ingin kau menemaniku ke pesta salah satu sahabatku”. Terdengar suara helaan nafas disebrang sana, pertanda buruk untuk kania. “aku tidak bisa janji kania, kamu mengerti kan?”. Dan itu adalah jawaban untuk TIDAK.  Saat libur Danish memang lebih memilih beristirahat diapartmentnya. Jiwanya yang workaholic memang menguras waktu dan tenaganya. Itu kanapa ia lebih memilih istirahat saat libur. Setelah menucapkan salam kania menutup telpon, dan linda sudah tahu jawabannya. “terbukti bukan?”

Dan hari itu tiba…
          Hari masih sangat pagi,  seperti biasa setiap hari sabtu kania selalu datang ke apartment Danish dengan sekantong plastic makanan untuk sarapan. Danish hanya tinggal sendiri diapartment ini. Kedua orang tuanya tinggal diluar kota. Beberapa detik berlalu tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan didalam.

    Ia memencet bel berulang kali. Hingga akhirnya pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria tegap dibalik pintu itu. Kania tersenyum melihat danish dengan kaos dan celana pendek dan muka yang masih kusut. “pagi sekali” katanya dengan suara serak sambil membuka pintunya setengah. Membiarkan kania masuk dan langsung menaruh kantong makananya diatas meja makan.  Sedangkan Danish masih terpaku dibelakang pintu, masih mencoba tersadar dari tidurnya yang dibangunkan tiba-tiba.  “mandilah.. aku membawakan makanan kesukaanmu” kata kania sambil berlalu kearah dapur. Dengan langkah gontai Danish masuk kekamar mandi.

          Suara handphone Danish yang berada di meja ruang tamu berbunyi. Membuat kania bergerak cepat menghampiri. Dilihatnya nama pria teman sekantor Danish. Kania tahu karena Danish pernah beberapa kali  bercerita tentang hubungan kerjanya dengan pria ini. Dengan gerakan cepat ia mematikan panggilan itu dan menonaktifkan ponsel Danish. Ini hari sabtu..Danish masih ada kemungkinan pergi kekantor setengah hari kalau ada urusan mendadak.Tapi kali ini kania tidak akan membiarkan Danish kemana-mana. Ia ingin seharian bersama Danish.

          “kau datang pagi sekali?” kata Danish saat sampai dimeja makan dan duduk di kursi dihadapan kania yang sudah terlebih dahulu berada disana. Kania hanya menjawab dengan senyuman. danish sudah terlihat segar dengan kaos dan celana santai. Harum sabun tercium dari tubuhnya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat kania merasa begitu kecil dihadapan Danish. Danish yang diperhatikan lebih tertarik pada makanan yang dibawa kania. Ada nasi dan ayam marego yang sudah tersaji diatas piring dengan cantik. Ayam marego adalah masakan asal perancis dengan bahan utama ayam dan jamur . juga chocolate mousse sebagai hidangan penutup. “kau yang membuatnya?” Tanya Danish yang menyadarkan kania dari lamunannya. “iya, makanlah”. Kania lalu menyendokkan nasi kepiring Danish lengkap dengan lauknya. Juga menuangkan segelas air ke gelas Danish. “kau tidak makan?” Danish bertanya pada kania karena melihat kania hanya memperhatikannya makan. Piringnyapun masih dibiarkan terbalik diatas meja. Kania menggeleng sambil tersenyum. “aku sudah makan dirumah” katanya singkat masih mengarahkan mata indahnya kearah pria dihadapannya. Melihatnya begitu menikmati makanannya.

***

          “apa kau tidak lelah kania?” kata Danish pada kania saat mereka menuruni satu wahana ditaman bermain yang mereka kunjungi. Hari ini untuk pertama kalinya kania memaksakan kehendaknya dengan mengajak Danish ke taman bermain terbesar dikota itu. Mengajak Danish menaiki semua wahana ditaman bermain itu. Meluapkan sebuah rasa yang tak pernah ia beritahu pada Danish. Menggenggam erat tangan Danish, seakan tak ingin melepaskan sedetikpun. Melengkungkan senyum setiap saat meski hatinya ingin menangis. Dengan patuh Danish mengikuti kania, mengikuti arah genggamannya pergi, dan terpaksa melakukan apa yang kania inginkan. Hanya hari ini Danish bisa melepaskan semua beban pekerjaannya. Ia tinggalkan kemeja dan jas resminya, berganti dengan kemeja dan celana santai. Berubah dari seorang workaholic  menjadi orang biasa saja. Dan kenapa Danish baru merasakannya hari ini. perasaan lega karena bisa melepas semua beban pekerjaannya. Ia sadar ia terlalu sibuk bekerja dan bekerja. Dan hari ini kania benar-benar merubah harinya.

***

         “apa kau senang hari ini?” kata kania sebelum ia turun dari mobil Danish. Mobil itu sudah berada didepan rumah kania. “hari yang melelahkan, tapi menyenangkan” ada sebuah senyuman dibibir Danish seraya mengucapkan terima kasih.  Sedangkan kania, terihat gugup.. tidak..tidak hanya gugup tapi lebih dari itu, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Seakan mendorong dirinya untuk segera melepaskan perasaan ini. “aku ingin mengakhiri hubungan kita” kata-kata itu meluncur dari mulut kania, dan kania merasakan lega didadanya. Sedangkan Danish, hanya menatap tajam kania dengan rasa tak percaya.

          “kenapa??” Tanya Danish dengan suara serak, tanpa melepas pandangannya dari kania, sedangkan kania hanya menunduk, tak berani menatap Danish, ia takut hatinya lemah ketika harus kembali bertatapan dengan pria itu. “aku tidak mau membebanimu. kau sudah terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Dan aku sebenarnya tak ingin menuntut banyak. Tapi nyatanya aku butuh yang lebih dari itu. Perhatian, pengertian dan waktu mu untukku. “ mata kania berkaca-kaca tapi ia berusaha setegar mungkin. Ia harus melakukan ini. demi dirinya dan demi Danish. Danish memalingkan mukanya dari kania yang masih menunduk. Matanya menatap jalanan yang terlihat sepi. Ternyata kania sama saja dengan wanita lain yang suka menuntut. Ia pikir kania berbeda dengan wanita lain. “kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa melarang”. Kata-kata yang keluar dari mulut Danish membuat dada kania terasa sesak. Semudah itukah?? Apa benar Danish tidak menyayangi kania.? Kania menarik nafas panjang, mencoba menahan agar air matanya tidak keluar, bukan karena ia harus meninggalkan Danish. Tapi karena ia akhirnya sadar kalau Danish memang tidak pernah menyayanginya. “terima kasih untuk waktunya hari ini”. sedetik kemudian kania beranjak keluar dari mobil Danish. Berjalan pelan memasuki rumah dan berusaha tidak menoleh sedikitpun walau airmata sudah membanjiri wajahnya.  Semudah inikah????”

***

          Hari-hari setelah kepergian kania dari hidup Danish bener-benar terasa berbeda. Ia pikir ia bisa tanpa kania. Tapi ternyata tidak. Tidak ada lagi ucapan selamat pagi dari kania yang masuk ke ponselnya. Tidak ada lagi yang menelponnya saat jam makan siang untuk mengingatkannya agar tidak telat makan karena terlalu focus pada pekerjaannya. Tidak ada lagi yang berkata hati-hati kepadanya. Tidak ada lagi yang menanyakan “bagaimana pekerjaanmu hari ini?”. dan akirnya ia sadar, semua perhatian kania tidak pernah ia balas. Ia tidak pernah menyapa kania setiap pagi lewat pesan singkat seperti yang kania lakukan, ia tidak pernah mengingatkan kania untuk makan ataupun hal-hal kecil lainnya, ia tidak pernah berfikir kemana kania pergi hari ini dan apa yang ia lakukan.. yaa tuhah… Danish menghela nafas menyadari kebodohannya selama ini.

          4 hari setelah pernyataan putus yang kania lontarkan membuat Danish tidak bisa berfikir jernih. Bayang-bayang kania seperti sebuah slide yang terus berputar-putar dibenak Danish. Jam 2 siang, ia keluar dari kantor dan pergi kekampus kania. Memarkirkan mobilnya agak jauh dari gerbang kampus namun tetap bisa menatap jelas tiap orang yang masuk dan keluar dari gedung itu. Setengah jam kemudian kania keluar, Danish langsung menatap gadis itu baik-baik, ia berdiri didepan gerbang sebentar lalu sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan, seorang pria keluar dan membukakan pintu mobil untuk kania. Siapa pria itu??? Pertanyaan itu langsung menyeruak diotak Danish. Pacar atau teman?? Ya tuhan, bahkan selama 8 bulan mereka pacaran Danish sama sekali tidak mengenal 1 pun teman kania. Tidak pernah mengantar ataupun menjemput kania dikampusnya. Selama ini kalau mereka ingin bertemu atau jalan mereka selalu bertemu ditempat yang mereka janjikan. Danish memijat-mijat kepalannya yang terasa sakit, tidak.. hatinya jauh lebih sakit. Bukan karena melihat kania dengan pria itu. Tapi menyadari kebodohannya karena menyianyiakan gadis sebaik kania. 8 bulan dan kania bisa bertahan untuknya. Tidak mnegeluh sedikitpun dengan sikap cueknya.

          Dan hari ini ia melihat kania bersenda gurau dengan pria itu ditaman. Melihat senyum dan tawa kania membuat dada Danish terasa hangat, tapi seharusnya Danish yang berada disana. Dia yang seharusnya memberikan cokelat ataupun bunga pada kania. Membuat kania tersenyum dan tertawa. Tapi ia sadar ia sudah kehilangan kesempatan itu.
Ia harus bertemu dangan kania. Ia harus meminta maaf  Atas semua sikapnya selama ini.

***

          Kania berdiri didepan pintu apartement Danish dengan ragu. Tadi malam danish menghubunginya dan meminta kania datang kesini. Awalnya kania ragu, tapi ia tidak bisa membohongi diri kalau ia benar-benar merindukan Danish. Lepas dari Danish tidak semudah perkiraannya. ia benar-benar harus berjuang keras sampai akhirnya rasa itu berkurang. Walau tak sepenuhnya hilang tapi setidaknya ia tak lagi harus tersiksa dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Danish. Dengan jari gemetar ia memencet bel sambil mengatur perasaannya yang terasa tak karuan.  Suara derak langkah  semakin dekat dan dalam hitungan detik pintu itu terbuka.  “hai kania, masuklah” suara Danish terdengar gugup, kania membalas dengan senyum gugup pula. Ia melangkah pelan dan duduk disofa ruang tamu. Membiarkan Danish mengikutinya dibelakang, dan melirik Danish yang pergi menuju dapur. Kania duduk terpaku disofa, ruangan ini masih sama seperti terakhir kali kania datang kesini. Masih rapi dengan wangi ruangan yang begitu khas. Disudut ruangan ada rak kaca tempat menyimpan barang-barang unik koleksi Danish.  Didinding-dindingnya terpajang beberapa foto dirinya dan keluarganya yang berbingkai rapi. Disudut yang berlawanan ada sebuah piano. Danish memang seorang yang ahli dalam bermain piano. Piano itu terkadang menjadi sumber dirinya melepaskan kepenatan. Hanya dengan bermain piano dan Danish akan merasa seluruh bebannya hilang.ruangan itu Terasa nyaman dengan nuansa putih dan lantai marmer berwarna peach. Danish datang dengan membawa coklat hangat, salah satu minuman kesukaan kania. kania tersenyum melihat Danish menaruh gelas berisi air berwarna coklat itu diatas meja. “minumlah.. udara diluar begitu dingin. Ini akan sedikit menghangatkanmu” suara Danish terdengar serak, namun tetap jelas. Kania kembali tersenyum dan menyesap hot coklatnya. Rasa hangat dari minuman itu langsung menyebar ditenggorokkannya. Membuatnya sedikit lebih tenang. Suasana begitu hening dan kaku, seperti sebuah senar yang tertarik kencang dan siap putus. Danish menelan ludah. Ini tidak semudah pikiran Danish, hanya meminta maaf Danish, ayo lakukan. Danish menggerutu dalam hati karena ternyata ini lebih sulit dari bayangannya. Ia menatap kania lalu beranjak dari sofa, menghampiri piano disudut ruangan dan duduk dikursinya. Kania hanya menatap Danish yang duduk didepan piano dengan memunggunginya.  Jemari lentik Danish mulai menyatu dengan tuts-tuts piano itu, menghasilkan nada yang begitu indah
Same day, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don’t sound the same
When ours  friends talk about you
All it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sound like uh..uh..uh..
Hhhmmm too young, to dumb too realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have given all my hours
When I had the chance
Take you too every paty
Cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing,
But she’s dancing with another man
My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Cause a good strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean out the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man

          Mata kania berkaca-kaca. Saat Danish menyanyikan reff dari lagu Bruno mars itu, kania sudah tidak sanggup membendung air matanya. Tapi ia mencoba terlihat tegar dan setenang mungkin. Ia berdiri lalu tersenyum melihat Danish yang kini berbalik dan menatapnya dengan rasa bersalah. Bukan hanya bersalah tapi meyesal. Danish mendekat lalu memeluk kania. “maafkan aku kania. maaf atas semua sikapku selama ini. maaf aku yang selalu menyakitimu” suara Danish hilang, terasa tertelan ditenggorokan. “aku mohon kembalilah kepadaku. Bukan karena kau mencintaiku, tapi karena aku benar-benar mencintaimu. Aku berjanji akan berubah. Kumohon” suara itu terdengar lirih ditelinga kania. kania melepas pelukannya. Ia melihat mata Danish yang juga berkaca-kaca. Kania tersenyum sambil mengusap pipi danish lembut. Lalu menggeleng pelan, hati Danish terasa dihamtam begitu keras melihat kania menggeleng.  “kesempatanmu sudah 8 bulan dan kau menyianyiakannya. Tidak cukupkah??? Kau perlu belajar. Tapi tanpa aku.” Kania menatap mata Danish yang berkaca-kaca “I love you” kania mencium pipi Danish lalu beranjak menjauh dari Danish. Meninggalkan Danish yang masih berdiri mematung. Suara pintu tertutup akhirnya menyadarkan Danish kealam nyata. Ia menjatuhkan diri disofa. Memejamkan matanya dengan perasaan yang teraduk-aduk. Penyesalan kali ini benar-benar menyesakkan dadanya. Tapi kania benar. Kesempatannya sudah habis. Ia sudah diberi kesempatan selama 8 bulan dan ia menyianyiakannya. “terima kasih kania, terima kasih atas kesempatan yang telah kau berikan. Terima kasih atas semua kebaikanmu yang belum sempat ku balas. Aku janji aku akan membalas semua kebaikanmu suatu saat nanti”
My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Cause a good strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean out the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man


No comments:

Post a Comment