Danish memandang jauh kearah taman dari
jendela mobilnya. Menatap lurus keseorang gadis yang duduk sendiri ditaman itu.
gadis yang kira-kira berumur 19 th itu begitu manis dengan kaos merah dan jeans
sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi melewati bahu. Alas kakinya hanya berupa
sepatu kets warna senada dengan bajunya. Jam tangan warna senada berbahan karet
juga melingkar indah dipergelangan tangan kirinya. Sudah 5 menit gadis itu disana,
dan sudah 5 menit pula Danish memperhatikannya. Hembusan angin semilir ternyata
tak cukup membuat hati Danish tenang. Dadanya terasa sesak oleh suatu perasaan.
Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Melepaskan kerinduan
yang membuat dadanya terasa sesak tiap kali mengingat gadis itu.
Bukan, bukan karena ia menyukai gadis
itu tapi tidak bisa mengungkapkannya. Lebih karena Ia sudah kehilangan kesempatan
itu. Kania nama gadis itu, ia kuliah disalah satu universitas negeri dijakarta.
Selang beberapa menit seorang pria muda menghampiri gadis itu, ia terlihat membawa
sebatang cokelat dan ice cream. Gadis itu menyambut dengan senyum paling ramah.
Membuat dada Danish makin terasa sesak karena rasa bersalah. Selama 8 bulan ia berpacaran
dengan kania, ia bahkan tidak pernah memberikannya cokelat atau pun ice cream.
Dan ia baru menyadari kalau ia sangat menyayangi kania adalah saat hubungan itu
benar-benar berakhir
***
“pagi sayang… happy Monday ya”
Sender : kania
Itu adalah pesan wajib yang akan masuk
ke ponsel Danish setiap pagi. Membuat dirinya selalu melengkungkan senyum.Ia 2
tahun lebih tua dari kania dan kini ia bekerja disebuah perusahaan property
sebagai manager diperusaan itu. Ia dan kania bertemu di sebuah pameran.
Perkenalan singkat itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih.
Danish merasa kania adalah gadis manis dan ceria. Ia tidak pernah menuntut banyak
pada Danish, baik waktu ataupun sikap-sikap selayaknya sepasang kekasih. Tidak seperti
wanita-wanita lain yang cenderung menuntut waktu yang tidak bisa Danish berikan.
“maaf
ya sayang, aku tidak bisa menjemputmu hari ini,ada meeting diluar dan belum juga
selesai. Tidak masalahkan kan kalau kau pulang sendiri?”
Sender
: Danish
Pesan itu masuk kehandphone kania saat
ia berada di kantin kampusnya. Sudah 30 menit ia menunggu Danish dan ternyata
Danish lagi-lagi membatalkan janji secara mendadak. Ini bukan sekali ataupun dua
kali. Sudah sering Danish membatalkan janji sepihak karena pekerjaannya.
Kania tersenyum kecut lalu membalas
pesan singkat itu
“tidak
apa-apa. Kamu hati-hati ya, jangan sampai telat makan”
Sender
: kania
Ada rasa kesal tetapi rasa
sayangnya terhadap Danish mengalahkan semuanya. Ia merasa Danish adalah pria
yang sempurna untuknya. Ia selalu merasa nyaman saat berada didekat Danish,
kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan pada pria-pria lain. Walaupun Danish
tidak pernah menunjukkan perhatian lebih layaknya seorang kekasih. tapi ia begitu
mencintai Danish dan meski Danish adalah tipe pria yang cuek dan tidak peka. Ia
tetap mencintai Danish dan menaruh harapan banyak untuk bisa selalu bersama-sama
Danish.
***
“bagaimana pekerjaanmu hari ini?”
Tanya kania saat mereka makan disalah satu resto didaerah Jakarta. Ia merasakan
rindu karena sudah seminggu tidak bertemu dengan pria ini. Danish menarik nafas
dengan berat “ya begitu, masih sibuk mengurusi
anak perusahaan yang baru. Belum lagi masalah pengadaan bahan baku yang sedang sulit.
Makannya banyak meeting akhir-akhir ini.“ katanya sambil menyuapkan steak ke mulutnya.
Sedangkan kania mendengarkannya penuh minat. Memperhatikan gerak bibir pria itu
tanpa ingin melewatkannya sedetik pun. Tampan
dan aku sangat menyayanginya… katanya dalam hati.
***
“apa kau sibuk malam ini? Aku ingin mengajakmu
menonton film bersama teman-temanku”. Kania menanti-nanti jawaban dari seberang
sana. Walau ia tahu pacarnya tidak akan punya
waktu karena ia terlalu sibuk. Tapi tidak ada salahnya mencoba, pekiknya dalam hati.
“maaf ya kania, sepertinya aku harus lembur
lagi hari ini. ” Danish berkata dengan berat hati. Ia mendengar nada kecewa dari
kania. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaan lebih penting baginya.
“yasudah, tidak apa-apa. Jangan sampai telat makan ya. Love you”
***
“dia sibuk lin.” Kata kania agak keras kepada linda. Ia hanya
curhat masalah Danish yang tidak punya waktu untuknya, tapi ternyata itu mengundang
kekesalan linda. Linda berfikir kalau Danish tidak menyayangi kania. Tapi kania
membantah dengan segala alasan.
“kania.. kalau dia menyayangimu,
dia pasti punya waktu untukmu sesibuk apapun dia” wajah linda menegang,
mengetahui kebodohan kania. Kania terlalu polos, pikirnya dalam hati. Danish
adalah pacar pertama kania, wajar kalau kania benar-benar mempertahankan Danish
meskipun Danish sangat cuek kepadanya. Wajah kania mendadak pucat, ada garis kekecewaan
diwajah manisnya. Ia meneguk minuman kaleng yang sedari tadi tergeletak dimeja samping
ranjangnya. Membirkan air soda itu membanjiri tenggorokkannya.
“oke.. kalaupun dia menyayangimu,
tidak untuk menjadi pacarnya. Kau mengerti?? Hanya status. Dia hanya focus pada
pekerjaannya. Tidak untuk pacaran. Dia belum siap berhubungan dengan kondisinya
yang selalu mementingkan pekerjaannya. Tidakkah kau mengerti kania?”
Kata-kata linda kali ini ampuh membuat kania
tersadar lalu menatap linda tajam. Linda benar, ia butuh pria yang bisa memperhatikannya
seperti teman-temannya yang lain. Yang bisa membalas semua perhatiannya, yang
bisa memberikan waktu luang untuknya, yang bisa ia banggakan didepan teman-temannya.
Tapi ia begitu menyayangi Danish…
“acara pesta fabby minggu besok.
Apa kau sudah mengajak Danish?” linda kembali membuka mulut melihat kania hanya
terdiam. Kania hanya mengangkat bahu, ia ingin mengajak Danish menemaninya ke
pesta itu. Tapi niat itu diurungkannya hingga hari ini karena ia tahu Danish
mungkin akan menolak karena alasan pekerjaannya. Itu pasti. “dia pasti bisa
meluangkan waktunya kali ini. kalau benar-benar menyayangimu” kata linda sambil
mengulurkan ponsel kearah kania. Dengan ragu kania mengambil ponselnya dari
tangan linda. Mencari kontak Danish dan masih dengan perasaan ragu menekan
tombol call. Beberapa detik kemudian terdengar suara disebrang yang sudah
sangat dikenal kania. “kenapa kania” suara disebrang terdengar terburu-buru.
“minggu besok. Apa kau punya waktu?. aku ingin kau menemaniku ke pesta salah
satu sahabatku”. Terdengar suara helaan nafas disebrang sana, pertanda buruk
untuk kania. “aku tidak bisa janji kania, kamu mengerti kan?”. Dan itu adalah
jawaban untuk TIDAK. Saat libur Danish
memang lebih memilih beristirahat diapartmentnya. Jiwanya yang workaholic
memang menguras waktu dan tenaganya. Itu kanapa ia lebih memilih istirahat saat
libur. Setelah menucapkan salam kania menutup telpon, dan linda sudah tahu
jawabannya. “terbukti bukan?”
Dan hari itu tiba…
Hari masih sangat pagi, seperti biasa setiap hari sabtu kania selalu datang
ke apartment Danish dengan sekantong plastic makanan untuk sarapan. Danish hanya
tinggal sendiri diapartment ini. Kedua orang tuanya tinggal diluar kota.
Beberapa detik berlalu tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan didalam.
Ia memencet bel berulang kali.
Hingga akhirnya pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria tegap dibalik
pintu itu. Kania tersenyum melihat danish dengan kaos dan celana pendek dan muka
yang masih kusut. “pagi sekali” katanya dengan suara serak sambil membuka pintunya
setengah. Membiarkan kania masuk dan langsung menaruh kantong makananya diatas meja
makan. Sedangkan Danish masih terpaku dibelakang
pintu, masih mencoba tersadar dari tidurnya yang dibangunkan tiba-tiba. “mandilah.. aku membawakan makanan kesukaanmu”
kata kania sambil berlalu kearah dapur. Dengan langkah gontai Danish masuk kekamar
mandi.
Suara handphone Danish yang berada
di meja ruang tamu berbunyi. Membuat kania bergerak cepat menghampiri. Dilihatnya
nama pria teman sekantor Danish. Kania tahu karena Danish pernah beberapa kali bercerita tentang hubungan kerjanya dengan
pria ini. Dengan gerakan cepat ia mematikan panggilan itu dan menonaktifkan ponsel
Danish. Ini hari sabtu..Danish masih ada kemungkinan pergi kekantor setengah hari
kalau ada urusan mendadak.Tapi kali ini kania tidak akan membiarkan Danish
kemana-mana. Ia ingin seharian bersama Danish.
“kau datang pagi sekali?” kata
Danish saat sampai dimeja makan dan duduk di kursi dihadapan kania yang sudah terlebih
dahulu berada disana. Kania hanya menjawab dengan senyuman. danish sudah terlihat
segar dengan kaos dan celana santai. Harum sabun tercium dari tubuhnya.
Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat kania merasa begitu kecil dihadapan
Danish. Danish yang diperhatikan lebih tertarik pada makanan yang dibawa kania.
Ada nasi dan ayam marego yang sudah tersaji diatas piring dengan cantik. Ayam
marego adalah masakan asal perancis dengan bahan utama ayam dan jamur . juga
chocolate mousse sebagai hidangan penutup. “kau yang membuatnya?” Tanya Danish
yang menyadarkan kania dari lamunannya. “iya, makanlah”. Kania lalu
menyendokkan nasi kepiring Danish lengkap dengan lauknya. Juga menuangkan
segelas air ke gelas Danish. “kau tidak makan?” Danish bertanya pada kania
karena melihat kania hanya memperhatikannya makan. Piringnyapun masih dibiarkan
terbalik diatas meja. Kania menggeleng sambil tersenyum. “aku sudah makan dirumah”
katanya singkat masih mengarahkan mata indahnya kearah pria dihadapannya.
Melihatnya begitu menikmati makanannya.
***
“apa kau tidak lelah kania?” kata
Danish pada kania saat mereka menuruni satu wahana ditaman bermain yang mereka
kunjungi. Hari ini untuk pertama kalinya kania memaksakan kehendaknya dengan
mengajak Danish ke taman bermain terbesar dikota itu. Mengajak Danish menaiki
semua wahana ditaman bermain itu. Meluapkan sebuah rasa yang tak pernah ia
beritahu pada Danish. Menggenggam erat tangan Danish, seakan tak ingin
melepaskan sedetikpun. Melengkungkan senyum setiap saat meski hatinya ingin
menangis. Dengan patuh Danish mengikuti kania, mengikuti arah genggamannya
pergi, dan terpaksa melakukan apa yang kania inginkan. Hanya hari ini Danish
bisa melepaskan semua beban pekerjaannya. Ia tinggalkan kemeja dan jas
resminya, berganti dengan kemeja dan celana santai. Berubah dari seorang
workaholic menjadi orang biasa saja. Dan
kenapa Danish baru merasakannya hari ini. perasaan lega karena bisa melepas
semua beban pekerjaannya. Ia sadar ia terlalu sibuk bekerja dan bekerja. Dan
hari ini kania benar-benar merubah harinya.
***
“apa kau senang hari ini?” kata
kania sebelum ia turun dari mobil Danish. Mobil itu sudah berada didepan rumah
kania. “hari yang melelahkan, tapi menyenangkan” ada sebuah senyuman dibibir
Danish seraya mengucapkan terima kasih.
Sedangkan kania, terihat gugup.. tidak..tidak hanya gugup tapi lebih
dari itu, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Seakan mendorong dirinya
untuk segera melepaskan perasaan ini. “aku ingin mengakhiri hubungan kita”
kata-kata itu meluncur dari mulut kania, dan kania merasakan lega didadanya.
Sedangkan Danish, hanya menatap tajam kania dengan rasa tak percaya.
“kenapa??” Tanya Danish dengan suara
serak, tanpa melepas pandangannya dari kania, sedangkan kania hanya menunduk,
tak berani menatap Danish, ia takut hatinya lemah ketika harus kembali
bertatapan dengan pria itu. “aku tidak mau membebanimu. kau sudah terlalu sibuk
dengan pekerjaanmu. Dan aku sebenarnya tak ingin menuntut banyak. Tapi nyatanya
aku butuh yang lebih dari itu. Perhatian, pengertian dan waktu mu untukku. “
mata kania berkaca-kaca tapi ia berusaha setegar mungkin. Ia harus melakukan
ini. demi dirinya dan demi Danish. Danish memalingkan mukanya dari kania yang
masih menunduk. Matanya menatap jalanan yang terlihat sepi. Ternyata kania sama
saja dengan wanita lain yang suka menuntut. Ia pikir kania berbeda dengan
wanita lain. “kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa melarang”. Kata-kata yang
keluar dari mulut Danish membuat dada kania terasa sesak. Semudah itukah?? Apa
benar Danish tidak menyayangi kania.? Kania menarik nafas panjang, mencoba
menahan agar air matanya tidak keluar, bukan karena ia harus meninggalkan
Danish. Tapi karena ia akhirnya sadar kalau Danish memang tidak pernah
menyayanginya. “terima kasih untuk waktunya hari ini”. sedetik kemudian kania
beranjak keluar dari mobil Danish. Berjalan pelan memasuki rumah dan berusaha
tidak menoleh sedikitpun walau airmata sudah membanjiri wajahnya. Semudah inikah????”
***
Hari-hari setelah kepergian kania
dari hidup Danish bener-benar terasa berbeda. Ia pikir ia bisa tanpa kania.
Tapi ternyata tidak. Tidak ada lagi ucapan selamat pagi dari kania yang masuk
ke ponselnya. Tidak ada lagi yang menelponnya saat jam makan siang untuk
mengingatkannya agar tidak telat makan karena terlalu focus pada pekerjaannya.
Tidak ada lagi yang berkata hati-hati kepadanya. Tidak ada lagi yang menanyakan
“bagaimana pekerjaanmu hari ini?”. dan akirnya ia sadar, semua perhatian kania
tidak pernah ia balas. Ia tidak pernah menyapa kania setiap pagi lewat pesan
singkat seperti yang kania lakukan, ia tidak pernah mengingatkan kania untuk
makan ataupun hal-hal kecil lainnya, ia tidak pernah berfikir kemana kania
pergi hari ini dan apa yang ia lakukan.. yaa tuhah… Danish menghela nafas
menyadari kebodohannya selama ini.
4 hari setelah pernyataan putus
yang kania lontarkan membuat Danish tidak bisa berfikir jernih. Bayang-bayang
kania seperti sebuah slide yang terus berputar-putar dibenak Danish. Jam 2
siang, ia keluar dari kantor dan pergi kekampus kania. Memarkirkan mobilnya
agak jauh dari gerbang kampus namun tetap bisa menatap jelas tiap orang yang
masuk dan keluar dari gedung itu. Setengah jam kemudian kania keluar, Danish
langsung menatap gadis itu baik-baik, ia berdiri didepan gerbang sebentar lalu
sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan, seorang pria keluar dan
membukakan pintu mobil untuk kania. Siapa pria itu??? Pertanyaan itu langsung
menyeruak diotak Danish. Pacar atau teman?? Ya tuhan, bahkan selama 8 bulan
mereka pacaran Danish sama sekali tidak mengenal 1 pun teman kania. Tidak
pernah mengantar ataupun menjemput kania dikampusnya. Selama ini kalau mereka
ingin bertemu atau jalan mereka selalu bertemu ditempat yang mereka janjikan. Danish
memijat-mijat kepalannya yang terasa sakit, tidak.. hatinya jauh lebih sakit.
Bukan karena melihat kania dengan pria itu. Tapi menyadari kebodohannya karena
menyianyiakan gadis sebaik kania. 8 bulan dan kania bisa bertahan untuknya.
Tidak mnegeluh sedikitpun dengan sikap cueknya.
Dan hari ini ia melihat kania
bersenda gurau dengan pria itu ditaman. Melihat senyum dan tawa kania membuat
dada Danish terasa hangat, tapi seharusnya Danish yang berada disana. Dia yang
seharusnya memberikan cokelat ataupun bunga pada kania. Membuat kania tersenyum
dan tertawa. Tapi ia sadar ia sudah kehilangan kesempatan itu.
Ia harus bertemu dangan kania. Ia harus
meminta maaf Atas semua sikapnya selama
ini.
***
Kania berdiri didepan pintu
apartement Danish dengan ragu. Tadi malam danish menghubunginya dan meminta
kania datang kesini. Awalnya kania ragu, tapi ia tidak bisa membohongi diri
kalau ia benar-benar merindukan Danish. Lepas dari Danish tidak semudah
perkiraannya. ia benar-benar harus berjuang keras sampai akhirnya rasa itu
berkurang. Walau tak sepenuhnya hilang tapi setidaknya ia tak lagi harus
tersiksa dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Danish. Dengan jari
gemetar ia memencet bel sambil mengatur perasaannya yang terasa tak
karuan. Suara derak langkah semakin dekat dan dalam hitungan detik pintu
itu terbuka. “hai kania, masuklah” suara
Danish terdengar gugup, kania membalas dengan senyum gugup pula. Ia melangkah
pelan dan duduk disofa ruang tamu. Membiarkan Danish mengikutinya dibelakang,
dan melirik Danish yang pergi menuju dapur. Kania duduk terpaku disofa, ruangan
ini masih sama seperti terakhir kali kania datang kesini. Masih rapi dengan wangi
ruangan yang begitu khas. Disudut ruangan ada rak kaca tempat menyimpan
barang-barang unik koleksi Danish.
Didinding-dindingnya terpajang beberapa foto dirinya dan keluarganya
yang berbingkai rapi. Disudut yang berlawanan ada sebuah piano. Danish memang
seorang yang ahli dalam bermain piano. Piano itu terkadang menjadi sumber
dirinya melepaskan kepenatan. Hanya dengan bermain piano dan Danish akan merasa
seluruh bebannya hilang.ruangan itu Terasa nyaman dengan nuansa putih dan
lantai marmer berwarna peach. Danish datang dengan membawa coklat hangat, salah
satu minuman kesukaan kania. kania tersenyum melihat Danish menaruh gelas
berisi air berwarna coklat itu diatas meja. “minumlah.. udara diluar begitu
dingin. Ini akan sedikit menghangatkanmu” suara Danish terdengar serak, namun
tetap jelas. Kania kembali tersenyum dan menyesap hot coklatnya. Rasa hangat
dari minuman itu langsung menyebar ditenggorokkannya. Membuatnya sedikit lebih
tenang. Suasana begitu hening dan kaku, seperti sebuah senar yang tertarik
kencang dan siap putus. Danish menelan ludah. Ini tidak semudah pikiran Danish,
hanya meminta maaf Danish, ayo lakukan. Danish
menggerutu dalam hati karena ternyata ini lebih sulit dari bayangannya. Ia
menatap kania lalu beranjak dari sofa, menghampiri piano disudut ruangan dan
duduk dikursinya. Kania hanya menatap Danish yang duduk didepan piano dengan
memunggunginya. Jemari lentik Danish
mulai menyatu dengan tuts-tuts piano itu, menghasilkan nada yang begitu indah
Same day, but it feels just a little bit
bigger now
Our song on the radio, but it don’t sound
the same
When ours
friends talk about you
All it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear
your name
It all just sound like uh..uh..uh..
Hhhmmm too young, to dumb too realize
That I should have bought you flowers and
held your hand
Should have given all my hours
When I had the chance
Take you too every paty
Cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing,
But she’s dancing with another man
My pride, my ego, my needs and my selfish
ways
Cause a good strong woman like you walk out
my life
Now I’ll never, never get to clean out the
mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the
chance
Take you to every party cause I remember how
much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man
Mata kania berkaca-kaca. Saat
Danish menyanyikan reff dari lagu Bruno mars itu, kania sudah tidak sanggup
membendung air matanya. Tapi ia mencoba terlihat tegar dan setenang mungkin. Ia
berdiri lalu tersenyum melihat Danish yang kini berbalik dan menatapnya dengan
rasa bersalah. Bukan hanya bersalah tapi meyesal. Danish mendekat lalu memeluk
kania. “maafkan aku kania. maaf atas semua sikapku selama ini. maaf aku yang
selalu menyakitimu” suara Danish hilang, terasa tertelan ditenggorokan. “aku
mohon kembalilah kepadaku. Bukan karena kau mencintaiku, tapi karena aku
benar-benar mencintaimu. Aku berjanji akan berubah. Kumohon” suara itu
terdengar lirih ditelinga kania. kania melepas pelukannya. Ia melihat mata
Danish yang juga berkaca-kaca. Kania tersenyum sambil mengusap pipi danish
lembut. Lalu menggeleng pelan, hati Danish terasa dihamtam begitu keras melihat
kania menggeleng. “kesempatanmu sudah 8
bulan dan kau menyianyiakannya. Tidak cukupkah??? Kau perlu belajar. Tapi tanpa
aku.” Kania menatap mata Danish yang berkaca-kaca “I love you” kania mencium
pipi Danish lalu beranjak menjauh dari Danish. Meninggalkan Danish yang masih
berdiri mematung. Suara pintu tertutup akhirnya menyadarkan Danish kealam nyata.
Ia menjatuhkan diri disofa. Memejamkan matanya dengan perasaan yang
teraduk-aduk. Penyesalan kali ini benar-benar menyesakkan dadanya. Tapi kania
benar. Kesempatannya sudah habis. Ia sudah diberi kesempatan selama 8 bulan dan
ia menyianyiakannya. “terima kasih kania, terima kasih atas kesempatan yang
telah kau berikan. Terima kasih atas semua kebaikanmu yang belum sempat ku
balas. Aku janji aku akan membalas semua kebaikanmu suatu saat nanti”
My pride, my ego, my needs and my selfish
ways
Cause a good strong woman like you walk out
my life
Now I’ll never, never get to clean out the
mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the
chance
Take you to every party cause I remember how
much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man

No comments:
Post a Comment