buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Friday, 14 June 2013

Cinta Atau Benci



                “delia… ada firman. Ayo donk kamu temuin. Kasihan dya udah nunggu lama”. Suara lembut yang bersahutan dengan ketukan pintu terdengar oleh delia yang masih duduk tenang dekat jendela rumahnya. Mengirup udara sore yang begitu segar. Angin yang bertiup membuat beberapa helai rambutnya terbang. Ia menatap kearah sebuah mobil yeng terparkir didepan pagar rumahnya. . Untuk apa dia datang kesini lagi?
“ia nanti delia turun ma” katanya dengan nada kesal. Dengan berat ia menggerakkan tangannya untuk menjalankan kursi rodanya. Keluar dari kamar ini saja terasa begitu sulit.. gerutunya dalam hati. Delia berhasil keluar dari kamar dan langsung menatap sesosok pria tampan didepannya. Pria itu tersenyum lembut tetapi delia lebih suka menekuk wajahnya. “biar kubantu” dengan sigap pria itu berdiri, bersiap membantu mendorong kursi roda delia. “tidak usah, terima kasih” delia buru-buru menolak. Membuat firman tersenyum kecil dan hanya mengikuti delia dari belakang. Delia dan kursi rodanya sudah berada dihadapan firman. Tetapi firman hanya menyunggingkan senyum melihat delia. “kalau kau datang kesini hanya untuk senyum mengejek. Lebih baik kau pergi” suara lantang delia terdengar karena merasa risih dengan tatapan firman dan senyumnya yang seolah menertawakan ketidakberdayaannya. “bagaimana kalau kita ketaman”. Delia mengerutkan dahi melihat ekspresi firman yang sama sekali tidak mempan dengan kata-kata kasarnya.

 “tidak mau. Kau pikir kau siapa?” katanya ketus sambil membuang muka dari firman. Firman tertawa kecil, ada kegelian disana membuatnya berdiri dan langsung mendorong kursi roda delia keluar rumah. Delia membelalakan matanya dan menatap firmah penuh amarah.

“apa yang kau lakukan. Cepat berhenti.” Seakan tak mendengar ucapan delia, firmah masih mendorong kursi roda delia hingga ke depan mobilnya. “aku sudah meminta izin kepada ibumu. Kau tenang saja” katanya lembut sambil menatap geli delia yang memasang wajah cemberut.
“kalau aku tidak mau. Kau mau apa?” delia berkata lebih lantang. Sambil menatap firman penuh kebencian.
“aku akan memaksamu.” Katanya sambil membuka pintu mobil dan menggendong delia duduk dibangku depan. Delia yang merasakan tangan firman menyentuh kulitnya hanya pasrah.

Bahkan untuk memberontak dari pria ini saja aku tak mampu. Katanya dalam hati. Ada raut kekecewaan disana, seandainya ia bisa, mungkin ia sudah menghajar siapapun yang berani-beraninya menyentuhnya. Tapi ia tahu kalau firman adalah pria baik. Dan ini bukan pertama kalinya firman memaksakan membawa pergi delia. Orang tua deliapun sudah percaya dengan firman. Ia melirik kearah firman yang sudah berada disamping dan focus pada kemudinya. Tapi ia akhirnya membuang muka kearah jendela.  Ia sebenarnya tidak sudi naik mobil ini apalagi bersama firman.

1 tahun yang lalu.. sebuah kecelakaan hebat membuat delia kehilangan kakinya. Kakinya memang tidak diamputansi, tapi ia kehilangan fungsinya secara keseluruhan. Ia seperti dihantam batu besar saat tau bahwa ia harus menghabiskan sisa hidupnya  dikursi roda.

Sore itu… ia melangkah keluar dari sebuah agensi setelah mendatangi kontrak menjadi seorang model disalah satu majalah fashion terbesar dikotanya. Inilah cita-citanya sejak dulu. Sejak SMP wajahnya sudah sering menghiasi majalah-majalan remaja. Dan kali ini cita-citanya sudah berada didepan mata.

Jalan begitu sepi, ia dengan santai menyebrang hingga akhirnya ia mendengar suara mobil menderu-deru, ia menoleh dan mendapati sebuah mobil dari tikungan melaju kencang kearahnya. Membuatnya terlempar  Sampai akhirnya tak sadarkan diri.

Ia membuka mata dan menyadari ia sudah berada dirumah sakit. Ia bersyukur karena ia pikir ia tidak akan bisa diselamatkan. Tapi ternyata semuanya tidak baik-baik saja. dokter bilang kalau delia akan menghabiskan sisa hidupnya dikursi roda. Kedua kaki delia sudah tidak bisa diselamatkan. Seperti disambar petir disiang bolong, delia menangis sejadi-jadinya. Meratapi semua impian yang sudah ada didepan mata dan tak akan pernah ia gapai. Mengutuk orang yang yang telah menabrakknya yang ternyata melarikan diri.

 Semuanya berubah semenjak kecelakaan itu. delia menjadi pemurung. Ia hanya mengurung diri dikamarnya sambil menangis setiap hari. Ia tidak mau menemui siapapun selain keluarganya. Ia benci melihat tatapan belas kasihan dari orang-orang yang menjenguknya.

Dan hari itu tiba. Delia memutuskan pergi ketaman komplek sendirian. Sudah 3 bulan ia mengurung diri dikamar dan itu membuantnya bosan. Dengan keberaniannya ia memacu kursi rodanya keluar rumah. Mengirup udara segar. Ia menolak ditemani siapapun termasuk ibu dan adiknya. Seperti hari-hari kemarin. Ia ingin selalu sendiri. Dan tatapan-tatapan orang yang ada disana benar-benar membuat delia muak. Tatapan kasihan dan mengejek itu sangat mambuatnya tidak nyaman. Ternyata keluar dari rumahnya juga tidak membuatnya lebih baik.

Ia menggerakkan kursi rodanya agak keras tapi tak bergerak sedikitpun. Ia menghela nafas melihat salah satu roda kursi rodanya tersangkut sebuah batu. Saat itulah uluran tangan lembut firman datang membantunya. Delia terkesiap melihat seseorang mendorong kursi rodanya. “saya bisa sendiri. Terima kasih” wajah delia menatap firman yang tersenyum. Firman memperkenalkan diri lalu menawarkan diri mengantar delia pulang. Tapi saat itulah rasa benci itu datang. “rumah saya  tidak jauh dari sini. Saya bisa pulang sendiri” kata delia sambil memacu kursi rodanya menjauhi firman. Firman yang melihat lalu masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya pelan tepat dibelakang delia. Memastikan delia sampai rumah dengan selamat .

Hari berikutnya firman datang kerumah delia membawa  sekotak coklat, tapi delia secara terang-terangan menolak bahkan mengusir  firman dari rumahnya. Tapi ternyata itu tidak menyurutkan semangat firman. Firman bertekad membuat delia bangkit dari keterpurukannya hingga tanpa sadar tumbuh rasa suka dalam hatinya.  Hampir setiap hari ia datang kerumah delia, membawa berbagai makanan dan bunga terkadang, tapi tidak ada satupun yang delia terima dengan ikhlas. Semua delia terima karena terpaksa, karena paksaan ibunya untuk menghargai pemberian orang. sudah 9 bulan dan firman masih tidak kapok juga. Ia terus datang ke rumah delia walau hanya untuk mendengar cacian dan makian dari delia.

Suara pintu terbuka membuat delia kembali ke kesadarannya. Firman dengan sigap menggendong delia kembali ke kursi rodanya. Mereka menatap kesebuah danau yang ada didepan mereka. “apa kau ingin minum?” kata firman memecah keheningan. Delia hanya menggeleng tanpa melepas pandangannya ke arah danau yang terhampar tenang dihadapannya.
“kau tau? Seharusnya hari ini aku sudah berada dipuncak kesuksesan sebagai model. Menggapai semua cita-citaku. Bukan duduk dikursi roda ini dan menjadi orang yang tidak berguna”. Kata-kata delia membuat firman kembali menoleh ke arah delia, ada rasa sakit dihatinya. Rasa yang begitu menyesakkan dadanya tiap ia melihat delia.
“cita-cita ku sudah ada didepan mata waktu itu. tapi dalam hitungan menit semuanya berubah. Kenapa tuhan masih membiarkanku hidup jika aku tidak bisa berbuat apa-apa”. Air mata menetes dari mata kanan delia. Membuat hati firman semakin teriris. Tapi firman tidak dapat berkata apa-apa. lidahnya kaku, semua suaranya terasa tertelan ditenggorokkan.  “apakah kau pernah mengerti perasaanku?” delia akhirnya menoleh kearah firman. Mata mereka bertemu, mata delia yang berkaca-kaca dan mata firman yang penuh kesedihan. “lalu.. mengapa kau begitu bodoh terus-terusan menemuiku?”. Suara delia lebih lantang kali ini. Firman masih menatap delia dalam diam.
“aku menyayangimu delia” suara firman terdengar serak.
Delia tersenyum sinis  “kau menyayangi orang yang salah. Aku tau kau hanya kasihan padaku. Mulai sekarang lebih baik jangan pernah temui aku lagi.”

***

Semuanya terlambat… firman terduduk  disamping nisan delia. Kemarin orang tua delia menemukan delia dalam keadaan tak sadarkan diri dengan luka dipergelangan tangannya. Ia sengaja bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Tapi sayangnya delia sudah tidak bisa diselamatkan.
kenapa kamu melakukan ini delia. Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mengakui semuanya
firman menatap sebuah surat beramplop biru ditangannya. Surat yang ditinggalkan delia sebelum mengakhiri hidupnya. Dengan tangan gemetar ia membuka kertas itu

dear firman,
aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku kepadamu
semua kata-kata kasarku
semua keegoisanku
maaf aku harus mengakhiri hidupku seperti ini
aku tidak sanggup menanggung semuanya
duduk dikursi roda dan menjadi cacat
aku harap kau mengerti…
jauh dilubuk hatiku aku menyayangimu
tapi jauh dilubuk hatiku pula  aku sangat membencimu
aku terbelenggu oleh dua perasaan yang bertolak belakang
maaf aku tidak dapat menunggumu mengakui kesalahanmu
padahal aku ingin sekali mendengar pengakuanmu bahwa kau yang menabrakku dan menyebabkanku cacat,
sehingga aku bisa menghapuskan kebencian itu dan sepenuhnya menyayangimu
dihari pertama kita bertemu ditaman. Aku sudah mempunyai perasaan padamu,
tapi setelah kau menawarkanku pulang bersama mu dan menunjukkan mobilmu
saat itu pula rasa benci tumbuh dihatiku
saat tabrakan itu, sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri
aku melihat jelas mobil dan plat nomor yang merenggut kebagaiaanku,
dan itu…. mobilmu
tiap kau datang menemuiku.. aku selalu berharap kau akan mengakui semuanya.
Tapi ternyata semuanya sia-sia, itulah yang membuatku semakin membencimu dari hari ke hari
Kau pengecut…

Mata firman berkaca-kaca. Pandangannya mulai kabur
Maafkan aku delia, maafkan aku.. aku terlalu menyayangimu… aku takut kau lebih membenciku kalau kau tahu yang sebenarnya. Tapi kau seharusnya tau kalau aku pasti akan mengakuinya..

END-


No comments:

Post a Comment