buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 11 June 2013

Karma



Aku memandang ke pojok ruangan. Melihat dua orang wanita dan satu pria asik mengobrol disana.  aku hanya memperhatikannya dari kejauhan. Menatap mereka dengan penuh rasa menyesal. Mengutuk diri sendiri karena begitu bodoh melepaskan dua sahabat terbaik dan satu-satunya orang yang kusayang. Seharusnya aku berada disana. Bercanda dengan mereka, menikmati tiap menit dan detik bersama mereka. Dan aku.. aku harusnya menggenggam tangan pria itu. merasakan halus kulitnya. Mengapa aku begitu bodoh melepaskan mereka semua?? Mengorbankan kebahagiaan yang sekarang tidak aku miliki. Aku kehilangan semuanya. Kehilangan semua yang dulu menjadi kebahagiaan dan kebanggaan dihidupku

3 bulan yang lalu
Aku merasa kehidupan remajaku sempurna saat ini. Aku mempunyai dua sahabat baik yang selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Gita dan Sasha. Mereka selalu mengisi hari-hariku. Kami melewati hari bersama. Suka dan duka bersama.  Dan yang lebih membahagiakan adalah kehadiran Kamal dihidupku. Pria manis yang sudah 2 tahun menjadi kekasihku. Memberikan perhatian kepadaku. Pria romantis yang selalu hadir melengkapi hidupku.
Kamal dan aku satu sekolah dan akhirnya menjalin hubungan serius. Semuanya terlihat membahagikan hingga akhirnya Rumah kosong disamping rumahku dihuni sebuah keluarga. Tidak ada yang aneh dengan keluarga itu. hanya saja seseorang yang beberapa hari kemudian kuketahui bernama gilang mulai menarik perhatianku. Aku berkenalan dan mulai dekat dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan entah sadar atau tidak aku semakin manjauh dari kamal. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama gilang dan kebersamaan kami ternyata menimbulkan rasa dihatiku. Rasa yang setelah beberapa hari kuketahui bahwa aku menyukai gilang.

                “kamu kemana kemarin siang? Aku menghubungi ponselmu tapi tidak aktif. Aku telpon kerumah katanya kau tidak ada?” mataku membulat  mendengar pertanyaan kamal secara tiba-tiba. Dia mengerutkan alis melihat ekspresi kagetku. “aku mengunjungi kawan lamaku yang sedang sakit. Maaf tidak memberitahumu. Aku mendapat berita itu mendadak dan battery ponselku habis” aku menarik nafas lega. Aku tidak pandai berbohong tapi kali ini kau berharap kamal percaya.
“yasudah tidak apa-apa. Bagaimana keadaan temanmu?” aku tersenyum lembut kepadanya, ada sedikit rasa sakit karena aku telah membohonginya. Kamal terlalu baik.

***

Tepat di sebulan perkenalanku dengan gilang. Hal yang kutakuti akhirnya terjadi. Gilang menyatakan cintanya padaku. Mengingatkanku pada wajah kamal yang begitu baik. Apa ini saatnya ku memilih antara gilang atau kamal?? Aku tau ini salah dan gilangpun tau kalau aku sudah mempunyai kamal.  Tapi entah apa yang ada dipikiran gilang. Ia secara terang-terangan mengaku tidak masalah kalau kita backstreet. Kita bisa menjalin hubungan dan aku tidak harus memutuskan Kamal. Dan entah sadar atau tidak aku justru mengiyakannya.

Sebulan aku berhasil menyembunyikan semuanya. Baik dan begitu rapi. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku. Aku bahagia bersama gilang. Tapi seperti kata pepatah sepandai-pandainya bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga. Itulah yang akhirnya terjadi. Yang pertama tau semuanya adalah kedua sahabatku.

Sore itu mereka mendatangi rumahku. Dengan wajah yang sangat tidak ramah. Wajah yang penuh kemarahan yang siap meledak. Kemarin ternyata mereka melihatku berjalan mesra dengan gilang disebuah mall. Dan aku.. hanya diam menatap mereka semua. Mendengar semua omelan mereka. Sampai pada akhirnya hatiku terasa panas dan aku mengakui semuanya, bahkan aku mengakui hubungan gelapku dengan gilang. Dan mereka semua meradang, mereka bilang bahwa pria sebaik kamal tidak pantas aku perlakukan seperti itu. dan aku yang merasa terpojok justru makin marah melihat emosi gita yang begitu meluap-luap, aku menuduhnya masih menyimpan rasa pada kamal. Dulu gita memang punya rasa pada kamal, tapi justru aku yang mendapatkannya. Dan aku pikir gita masih menyimpan rasa itu makannya ia sebegitunya membela kamal. Aku bertengkar hebat dengan kedua sahabatku. Gita semakin marah mendengar ucapanku.  Dan akhirnya memutuskan tali persahabatan kita saat itu juga.

Aku menatap malam dengan suasana sepi. Menanti-nanti ponsel ku berbunyi. Bukan.. lebih tepatnya menantikan amarah kamal. Menantikan ia menanyakan semuanya terhadapku. Aku yakin gita dan sasha tentu akan memberitahukan semuanya pada kamal. Dan aku?? Hanya perlu menunggu dan bom itu pasti meledak. Sebuah ketukan pintu menyadarkannku dari lamunan.  “sayang, ada kamal dibawah” suara lembut mama menyusuri gendang telingaku. Setelah menjawab aku masih terdiam dikamar. Menyiapkan diri. Jantungku berdegup 10 kali lebih cepat. Manatap wajahku dicermin yang ternyata sedikit pucat. Tapi aku harus berani. Aku harus berbicara pada Kamal. Walau aku tak tahu akan bagaimana akhirnya nanti. Sejenak terbersit wajah gilang. Wajah yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku dengan begitu indah. Aku tersenyum kecut lalu berjalan pelan keluar dari kamarku.

Itu dia… aku melihat kamal yang duduk tenang membelakangiku. Aku tidak punya pilihan lain selain maju. Aku menghampirinya dan tersenyum kecil. Ia membalas dengan ramah. “maaf mengganggumu? Apa kau sibuk?” katanya pelan, aku buru-buru menggeleng. Dan kamal akhirnya berbicara, ia sudah tau semuanya. Dan kamal memang pria yang baik, aku tidak melihat aura kemarahan dalam dirinya walau kutahu ia pasti merasa sakit hati atas perlakuanku. Ia bahkan tidak meminta penjelasan apapun dariku. Ia hanya memastikan kalau semua yang diberi tahu kedua sahabatku benar adanya. Dan aku tidak punya pilihan lain selain mengakui semuanya.

Semua berjalan begitu cepat. Kamal akhirnya memutuskan hubungan  saat itu juga, tapi semuanya tidak terasa berbeda selama beberapa hari. Mungkin hanya saat aku berada disekolah kesepian itu begitu terasa. Aku dan kedua sahabatku benar-benar memutuskan hubungan. Tidak ada lagi tegur sapa. Bahkan senyumpun mereka enggan. Tapi sejauh ini gilang menyempurnakan semuanya. Perhatiannya, kasih sayangnya. Kembali menjadikan hari-hariku bahagia, melupakan semua masalah yang terjadi. Dan sadar atau tidak aku malah menyukuri, mungkin kemarin adalah pengorbananku untuk meraih kebahagiaan bersama gilang. Karena akhirnya aku sadar aku benar-benar menyayangi gilang

Bulan bulan selanjutnya

Semuanya masih seperti biasa, sampai pada akhirnya gilang datang dan ternyata membawa kabar buruk untukku.  Seperti sebuah mimpi buruk yang harus menjadi kenyataan. Gilang secara sepihak memutuskan  hubungan kita dan alasannnya yang benar-benar tidak kuduga. Jauh sebelum menjalin hubungan denganku ia sebenarnya sudah mempunyai pacar yang amat sangat ia cintai dan ia tidak tega jika harus membohongi pacarnya terus menerus, dan hubungan kita kemarin… ia merasa kalau ia khilaf dan akhirnya sadar kalau ia mempunyai pacar yang sangat ia cintai. Air mata mengalir dari sudut mataku. Sejenak terbayang wajah kamal. Jadi semuanya hanya kebohongan, dan akhirnya aku tersadarkan bahwa mungkin ini karma untukku.  Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi air mata itu.. bukan karena keputusan gilang. Tapi karena akhirnya aku menyadari bahwa aku mengorbankan semuanya untuk orang yang salah.

Dan sekarang.. aku melihat mereka bersama. Mengobrol, tertawa. Hatiku terasa teriris. Seandainya waktu bisa kuputar. Mungkin kini aku berada diantara mereka dan menggenggam erat tangan kamal.

END-



No comments:

Post a Comment