Aku memandang ke pojok ruangan.
Melihat dua orang wanita dan satu pria asik mengobrol disana. aku
hanya memperhatikannya dari kejauhan. Menatap mereka dengan penuh rasa
menyesal. Mengutuk diri sendiri karena begitu bodoh melepaskan dua sahabat terbaik
dan satu-satunya orang yang kusayang. Seharusnya aku berada disana. Bercanda
dengan mereka, menikmati tiap menit dan detik bersama mereka. Dan aku.. aku
harusnya menggenggam tangan pria itu. merasakan halus kulitnya. Mengapa aku
begitu bodoh melepaskan mereka semua?? Mengorbankan kebahagiaan yang sekarang
tidak aku miliki. Aku kehilangan semuanya. Kehilangan semua yang dulu menjadi
kebahagiaan dan kebanggaan dihidupku
3 bulan yang lalu
Aku merasa kehidupan remajaku sempurna saat ini. Aku
mempunyai dua sahabat baik yang selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Gita
dan Sasha. Mereka selalu mengisi hari-hariku. Kami melewati hari bersama. Suka
dan duka bersama. Dan yang lebih
membahagiakan adalah kehadiran Kamal dihidupku. Pria manis yang sudah 2 tahun
menjadi kekasihku. Memberikan perhatian kepadaku. Pria romantis yang selalu
hadir melengkapi hidupku.
Kamal dan aku satu sekolah dan akhirnya menjalin hubungan
serius. Semuanya terlihat membahagikan hingga akhirnya Rumah kosong disamping
rumahku dihuni sebuah keluarga. Tidak ada yang aneh dengan keluarga itu. hanya
saja seseorang yang beberapa hari kemudian kuketahui bernama gilang mulai
menarik perhatianku. Aku berkenalan dan mulai dekat dengannya. Kami
sering menghabiskan waktu bersama. Dan entah sadar atau tidak aku semakin
manjauh dari kamal. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama gilang dan
kebersamaan kami ternyata menimbulkan rasa dihatiku. Rasa yang setelah beberapa
hari kuketahui bahwa aku menyukai gilang.
“kamu
kemana kemarin siang? Aku menghubungi ponselmu tapi tidak aktif. Aku telpon
kerumah katanya kau tidak ada?” mataku membulat mendengar pertanyaan kamal secara tiba-tiba.
Dia mengerutkan alis melihat ekspresi kagetku. “aku mengunjungi kawan lamaku
yang sedang sakit. Maaf tidak memberitahumu. Aku mendapat berita itu mendadak
dan battery ponselku habis” aku menarik nafas lega. Aku tidak pandai berbohong
tapi kali ini kau berharap kamal percaya.
“yasudah tidak apa-apa. Bagaimana keadaan temanmu?” aku
tersenyum lembut kepadanya, ada sedikit rasa sakit karena aku telah
membohonginya. Kamal terlalu baik.
***
Tepat di sebulan perkenalanku dengan gilang. Hal yang
kutakuti akhirnya terjadi. Gilang menyatakan cintanya padaku. Mengingatkanku
pada wajah kamal yang begitu baik. Apa ini saatnya ku memilih antara gilang
atau kamal?? Aku tau ini salah dan gilangpun tau kalau aku sudah mempunyai
kamal. Tapi entah apa yang ada dipikiran
gilang. Ia secara terang-terangan mengaku tidak masalah kalau kita backstreet.
Kita bisa menjalin hubungan dan aku tidak harus memutuskan Kamal. Dan entah
sadar atau tidak aku justru mengiyakannya.
Sebulan aku berhasil menyembunyikan semuanya. Baik dan
begitu rapi. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku. Aku bahagia bersama
gilang. Tapi seperti kata pepatah sepandai-pandainya bangkai disembunyikan
pasti akan tercium juga. Itulah yang akhirnya terjadi. Yang pertama tau
semuanya adalah kedua sahabatku.
Sore itu mereka mendatangi rumahku. Dengan wajah yang
sangat tidak ramah. Wajah yang penuh kemarahan yang siap meledak. Kemarin
ternyata mereka melihatku berjalan mesra dengan gilang disebuah mall. Dan aku..
hanya diam menatap mereka semua. Mendengar semua omelan mereka. Sampai pada
akhirnya hatiku terasa panas dan aku mengakui semuanya, bahkan aku mengakui hubungan
gelapku dengan gilang. Dan mereka semua meradang, mereka bilang bahwa pria
sebaik kamal tidak pantas aku perlakukan seperti itu. dan aku yang merasa
terpojok justru makin marah melihat emosi gita yang begitu meluap-luap, aku
menuduhnya masih menyimpan rasa pada kamal. Dulu gita memang punya rasa pada
kamal, tapi justru aku yang mendapatkannya. Dan aku pikir gita masih menyimpan
rasa itu makannya ia sebegitunya membela kamal. Aku bertengkar hebat dengan
kedua sahabatku. Gita semakin marah mendengar ucapanku. Dan akhirnya memutuskan tali persahabatan
kita saat itu juga.
Aku menatap malam dengan suasana
sepi. Menanti-nanti ponsel ku berbunyi. Bukan.. lebih tepatnya menantikan
amarah kamal. Menantikan ia menanyakan semuanya terhadapku. Aku yakin gita dan
sasha tentu akan memberitahukan semuanya pada kamal. Dan aku?? Hanya perlu
menunggu dan bom itu pasti meledak. Sebuah ketukan pintu menyadarkannku dari
lamunan. “sayang, ada kamal dibawah”
suara lembut mama menyusuri gendang telingaku. Setelah menjawab aku masih
terdiam dikamar. Menyiapkan diri. Jantungku berdegup 10 kali lebih cepat.
Manatap wajahku dicermin yang ternyata sedikit pucat. Tapi aku harus berani.
Aku harus berbicara pada Kamal. Walau aku tak tahu akan bagaimana akhirnya nanti.
Sejenak terbersit wajah gilang. Wajah yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku
dengan begitu indah. Aku tersenyum kecut lalu berjalan pelan keluar dari
kamarku.
Itu dia… aku melihat kamal yang
duduk tenang membelakangiku. Aku tidak punya pilihan lain selain maju. Aku
menghampirinya dan tersenyum kecil. Ia membalas dengan ramah. “maaf
mengganggumu? Apa kau sibuk?” katanya pelan, aku buru-buru menggeleng. Dan
kamal akhirnya berbicara, ia sudah tau semuanya. Dan kamal memang pria yang
baik, aku tidak melihat aura kemarahan dalam dirinya walau kutahu ia pasti
merasa sakit hati atas perlakuanku. Ia bahkan tidak meminta penjelasan apapun
dariku. Ia hanya memastikan kalau semua yang diberi tahu kedua sahabatku benar
adanya. Dan aku tidak punya pilihan lain selain mengakui semuanya.
Semua berjalan begitu cepat. Kamal
akhirnya memutuskan hubungan saat itu juga, tapi semuanya tidak terasa
berbeda selama beberapa hari. Mungkin hanya saat aku berada disekolah kesepian
itu begitu terasa. Aku dan kedua sahabatku benar-benar memutuskan hubungan.
Tidak ada lagi tegur sapa. Bahkan senyumpun mereka enggan. Tapi sejauh ini
gilang menyempurnakan semuanya. Perhatiannya, kasih sayangnya. Kembali
menjadikan hari-hariku bahagia, melupakan semua masalah yang terjadi. Dan sadar
atau tidak aku malah menyukuri, mungkin kemarin adalah pengorbananku untuk
meraih kebahagiaan bersama gilang. Karena akhirnya aku sadar aku benar-benar
menyayangi gilang
Bulan bulan
selanjutnya
Semuanya masih seperti biasa, sampai pada akhirnya gilang
datang dan ternyata membawa kabar buruk untukku. Seperti sebuah mimpi buruk yang harus menjadi
kenyataan. Gilang secara sepihak memutuskan
hubungan kita dan alasannnya yang benar-benar tidak kuduga. Jauh sebelum
menjalin hubungan denganku ia sebenarnya sudah mempunyai pacar yang amat sangat
ia cintai dan ia tidak tega jika harus membohongi pacarnya terus menerus, dan
hubungan kita kemarin… ia merasa kalau ia khilaf dan akhirnya sadar kalau ia
mempunyai pacar yang sangat ia cintai. Air mata mengalir dari sudut mataku.
Sejenak terbayang wajah kamal. Jadi semuanya hanya kebohongan, dan akhirnya aku
tersadarkan bahwa mungkin ini karma untukku.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi air mata itu.. bukan karena
keputusan gilang. Tapi karena akhirnya aku menyadari bahwa aku mengorbankan
semuanya untuk orang yang salah.
Dan sekarang.. aku melihat mereka bersama. Mengobrol,
tertawa. Hatiku terasa teriris. Seandainya waktu bisa kuputar. Mungkin kini aku
berada diantara mereka dan menggenggam erat tangan kamal.
END-
.jpg)
No comments:
Post a Comment