dunia itu tak seluas daun kelor. Mungkin itu kata yang tepat
untuk ryan ardiansyah. Sulit menerima kenyataan kalau ternyata cintanya
tertambat pada tiara.Cewek biasa aja disekolahnya tapi super duper jenius. Dan
ternyata menakhlukkan tiara tak semudah yang ia kira,padahal ia punya
segalanya. Wajah yang tampan, harta yang banyak. Hanya satu kekurangannya, ia
punya IQ dibawah rata-rata. Tidak bisa dibilang bodoh. Hanya ia menyadari ia
yang terlalu malas belajar. Ia masih mengenang kejadian itu. Kejadian yang
membuatnya menyadari kalau cintanya begitu dekat.
Ryan berjalan dibelakang tiara menuju ruang BP. Ini bukan
kali pertama ia dipanggil ke ruang guru, makannya ia sudah sangat terbiasa.
Kalau tidak karena sering bolos ataupun nilainya yang selalu jelek pasti karena
ulah-ulahnya yang tak biasa.Ia menatap tiara yang berdiri didepan pintu ruang
BP.
“lo mau masuk ruang BP kaya mau masuk kuburan. Biasa aja
kali”.Ryan menyela tiara dan membuka pintu. Sebelumnya tiara nggak pernah ke
ruang guru BP, Makannya kali ini ia agak heran karena tiba-tiba dipanggil kesini.
Semua anak yang dipanggil kesini adalah anak-anak yang bermasalah.Ia mengingat
kira-kira apa gerangan yang membuatnya sampai dipanggil kesini. Ia menatap
wanita yang terkenal galak duduk dengan sorot mata tajam saat ia dan ryan
masuk. Wajah ryan terlihat tenang, sangat kontras dengan tiara yang terihat
cemas. “duduk.” Katanya sambil mengarahkan pendangannya ke 2 bangku ada ada
didepan mejanya.
“kalian tau kenapa ibu panggil kalian berdua kesini?” suara
itu manatap tajam ke arah tiara dan ryan secara bergantian. Yang menjawab hanya
tiara itupun hanya dengan gelengan kepala. “kamu ryan?” suara tegas itu kini
mengarah ke ryan. “nilai ryan jelek? Ryan suka bolos? Ryan melanggar aturan?.
Pasti salah satu dari itu kan bu?” ryan menjawab dengan entengnya.Bu anna
menyandarkan punggunya dikursi sambil menghela nafas.Membenarkan letak
kacamatanya. “ibu dapat laporan dari guru-guru kalau nilai kamu ryan… makin ga
karuan. Gimana kamu mau lulus?” suara itu terdengar biasa untuk ryan. Bukan
berupa omelan ataupun nasehat.Hanya angin lalu buatnya.“ya ga gimana-gimana bu”
jawabnya enteng. Mendengar jawaban ryan yang seenaknya bu anna menggebrak meja.
Membuat tiara hampir terlonjak dari kursinya. “dengar ya ryan. Jangan Karena
orang tua kamu donatur terbesar disekolahan ini kami pihak sekolah bisa
meluluskan kamu dengan Cuma-Cuma. Kamu tetep harus belajar” katanya setengah
marah, matanya menatap ryan tajam, tak memperdulikan tiara yang mulai merasa
risih disana. Ryan hanya menggaruk-ngaruk kepalannya yang ia sadari tidak
gatal. “iyaaaaa ibuuuuuuu” katanya sambil tersenyum ke arah bu anna. Dan yang
diberi senyum mengeryit kebingungan.Sedangkan tiara tertawa dalam hati.
“sudahlah, ibu nyerah nasehatin kamu. Ibu Cuma mau mulai sekarang kamu duduk
sama tiara di depan. Dan tiara tolong bantu ryan ya”. Dua anak manusia yang
duduk bersebelahan menganga “apaaaa?” katanya kompak. “tapi bu, tiara kan udah
duduk sama Diana.” Kata tiara ragu-ragu. “Diana bisa duduk dibangku ryan. Ibu sudah
membicarakan ini sama dia.” Bu anna tersenyum melihat reaksi ryan dan tiara.
Tiara dan ryan beriringan menuju kelas. Lorong-lorong kelas
sudah sepi karena jam masuk sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Ia melirik
kearah tiara yang berjalan pelan disampingnya. Sudah 3 tahun mereka satu kelas,
tapi ryan tidak begitu mengenal tiara. Mereka jarang bertegur sapa dan bercanda
seperti yang lain. Tiara emang gadis popular di sekolah mereka. Tapi bukan
karena ia cantik ataupun kaya. Ia popular karena pintar walau setelah
diperhatikan tiara emang cantik.Ia selalu jadi juara kelas, selalu jadi anak
kesayangan guru-guru. Tapi ryan memandang kalau tiara adalah gadis yang kaku
dan kutu buku, walaupun penampilannya tak menunjukkan seperti itu. Ia
berseragam rapi, tidak terlalu tinggi tapi tidak pendek juga, tidak memakai
kacamata seperti imej-imej kutu buku pada umumnya.Kulitnya kuning langsat,
Rambutnya pajang dan selalu tergerai rapi melewati bahunya.Sepatunya hanya
sepetu kets biasa, tidak terlalu mencolok seperti yang lain, yaah sekolah
mereka memang sekolah bagus.Siswa-siswa disana bisa dibilang berasal dari kelas
menengah keatas.Makannya tak heran kalau banyak siswa yang lebih mementingkan
fashion.
Ryan membayangkan hidupnya disekolah akan menjadi amat
sangat membosankan. Mereka memasuki kelas yang sedang serius karena pa adam
sudah mulai mengajar. Bangku tiara sudah kosong dan Diana sudah pindah dibangku
ryan, tas ryanpun sudah tergeletak di bangku samping tiara. Sebelum duduk ia
melihat ke arah iras, teman sebangkunya, laki-laki itu tersenyum kepadanya.
Senyum mengejek kalau ryan rasa. Ryan mengambil buku tulisnya dari tas dan
melihat pak adam yang cerita panjang kali lebar kali tinggi tepat didepannya.
“pak adam kalau dari depan keliatan gendut ya?” ryan berbisik pada tiara sambil
tertawa kecil. Sedangkan tiara hanya mengisyaratkan agar ryan diam “ssttt… lo
tuh sekarang duduk didepan. Jadi ga bisa bebas ngobrol kaya waktu duduk
dibelakang.”.ryan mendengus dan kembali menatap pak adam yang sebenarnya tak
enak dipandang. Memaksakan diri walau
sebenarnya ia ingin duduk dibelakang dan mengobrol dengan iras, teman
sebangkunya. Ataupun menggambar tokoh kartun kesayangannya. Tapi sekarang ia
tidak bisa melakukan apa-apa selain memperhatikan. Ia melirik tiara yang
terlihat serius, tangannya sesekali mencatat yang mungkin penting ke buku
catatannya yang tersampul rapi. Mending besok bolos ajalah.Niatnya dalam hati.
Ryan memberhentikan motornya didepan sebuah tempat les
karena melihat orang yang ia kenal keluar dari sana. “tiara” katanya sambil
membuka kaca helmnya. Tiara berbalik dan melihat ryan dengan motor satria nya.
“baru pulang yan?” kata tiara sambil tersenyum. “iya, abis latihan basket. Lo
les disini? Pantesan aja lo pinter.” Kata ryan sambil memandang ke arah
bangunan luas itu. Ia tau kalau itu adalah tempat les yang terkenal bagus.
Tiara hanya tertawa sambil menggeleng. Ryan mengangkat alis kebingungan. Kalo
nggak les disana kenapa tiara tadi keluar lewat sana? “gue ngajar disini” tiara
menjawab seakan tau apa yang dipikirkan ryan. “HAH!!!” ryan setengah kaget mendengarnya.
“iyaa.. jadi tiap gue pulang sekolah gue ngajar disana.
Emang sih kebanyakan adalah anak-anak sebaya gue bahkan ada beberapa yang udah
kuliah. Tapi ga masalahlah buat gue” tiara bercerita saat ryan akhirnya
mengajaknya makan disebuah café tak jauh dari tempat kerja tiara. Ryan
mendengarkan cerita tiara dengan minat.Memperhatikan wajah tiara dengan
seksama. Cantik… gumamnya dalam hati
“tapi apa lo ga cape. Abis sekolah terus kerja gitu?” ryan
bertanya dengan tangan yang masih mengaduk-aduk makanannya. “cape siih, tapi
udah biasa”
Ryan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Tiara emang cewe beda, dia mandiri, ga kaya
cewe-cewe lain dan pasti dia cantik… satu rasa hadir saat tadi mereka makan
bersama. Rasa nyaman saat menatap wajahnya yang lembut.Tiara bukan berasal dari
keluarga kaya seperti dirinya.Itu dia tau saat tadi mengantar tiara
pulang.Rumahnya hanya rumah sederhana, tidak ada kesan mewah tapi rapi.Ia
tinggal hanya dengan ibunya. Ayanya telah meninggal sejak tiara kecil.Ibunya
hanya seorang penjahit.Dan itulah yang membuat tiara memutuskan membantu
perekonomian keluarga kecilnya.sejak SD tiara selalu mengusahakan agar mendapat
beasiswa sampai SMA sekarang. Itulah alasan mengapa ia selalu belajar dengan
giat. Ia tau kalau nilainya sedikit saja turun, pihak sekolah dapat mencabut
beasiswanya kapan saja. Dan kini… wajah tiara terus terbayang dalam
benaknya.Ryan menarik nafas panjang.
Apa mungkin gue suka
sama tiara?? Tapi kenapa baru sekarang .itu menjadi pertanyaan yang sulit
ryan jawab sendiri.
Hujan deras mengguyur Jakarta tepat saat ryan ingin
mengeluarkan motornya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Dengan
santai ia kembali masuk dan menjatuhkan diri disofa ruang tamu. Berkali-kali ia
melirik jendela yang masih menampakaan butir-butir hujan padanya. Membuatnya
semakin malas untuk pergi sekolah.Ia akhirnya melangkah menuju kamarnya,
siap-siap melepas seragamnya. Ia menghentikan kegiatannya lalu melongok kearah
balcon kamarnya. Hujan sudah reda.Sial.Katanya dalam hati.Ia kembali merapikan
seragam putihnya dan berlari menuju garasi. Diliriknya jam tangan yang
melingkar dipergelangannya, menunjukkan pukul 07.40 WIB. Entah mengapa ia
begitu ingin bertemu tiara.
“permisi” ryan masuk dengan santainya. Beberapa helai
rambutnya basah terkena rintik-rintik hujan saat memarkirkan motonya. “darimana
saja kamu ryan. Kamu tau ini jam berapa?” seorang wanita paruh baya yang
tadinya duduk langsung berdiri dan memandang ryan tajam. “jam 08.15 bu. Tadi
pas saya mau berangkat ujan, yaudah saya tunggu dulu ujannya sampai reda”
jawabnya enteng. Beberapa anak dikelas
itu terdengar cekikikan mendengar jawaban ryan yang tanpa dosa.
“kamu berangkat jam berapa??? Ujan itu turun setelah jam
masuk.” Guru menatap ryan dari ujung kaki-hingga ujung kepala. “jam 06.45 bu”.
Bu ratna menggertakan gigi pertanda kesal, tetapi ryan tampaknya terlihat
santai “coba kamu lihat teman-teman kamu”. Mata bu ratna bergerak menuju
anak-anak yang sudah duduk rapi dibangkunya masih-masing. “inikan hari kamis,
kemana batik kamu? Udah telat, saltum lagi” pertanyaan bu ratna disambut dengan
tawa anak-anak karena melihat wajah ryan yang tampak kebingungan.
“lupa bu, kalo namannya lupa kan ga inget” kata ryan santai.
Kini tawa anak-anak semakin meledak mendengar jawaban ryan yang begitu entengnya. “DIIIAAAAAAMMM”.Suara itu
menggelegar membuat penghuni kelas menutup mulut rapat-rapat.Ryan sempat
melirik tiara sebentar lalu tersenyum kepadanya. “ryan, sekarang kamu berdiri
didepan pintu sampai bel istirahat berbunyi.” Ryan menatap bu ratna dengan
enggan.Ia tidak mau, ia ingin belajar bersama tiara. Bohong..ia hanya ingin
bersama tiara. “ga mau ah bu, ryan kan mau belajar. Masa disuruh berdiri
didepan pintu sih”. Bu ratna menganga mendengar kata-kata ryan. Biasanya anak
ini selau senang karena bisa bebas dari mata pelajarannya. “kalau kamu niat
belajar. Kamu nggak akan telat ryan”
“iihh ibu mah, kata pepatah juga lebih baik telat daripada
tidak sama sekali.” Ryan mengatakannya sambil tersenyum. Bu ratna menghela
nafas, memang susah mengatur anak yang satu ini. “yasudah, duduk ditempat
kamu”. “makasih ibu cantik”
“tiara.. mau ke kantin ya?? Ikut donk” ryan setengah berlari
mengejar tiara yang sudah lebih dulu keluar dari kelas. Tiara berhenti
mendengar sesorang memanggilnya. “mau ke kantin? Bareng yah?” ryan mengulangi
pertanyaannya sambil menatur nafasnya yang terengah-engah. “nggak.. gue mau ke
perpus” tiara menjawab dan melihat ryan mengangkat alisnya. “eehhmmm… gue ikut
deh” sekarang gantian tiara yang mengangkat alis. “mau ngapain?”. Ryan memutar
bola matanya sambil berfikir “mau cari… cari…. Artikel tentang basket.” Tiara
tersenyum mengetahui akal pintar ryan. Mereka berjalan beriringan menuju
perpus, tiara berjalan tenang sedangkan ryan sibuk menenangkan hatinya yang
terasa tak karuan. Sampai di depan pintu perpus, ryan mendorong pintunya tapi
pintu itu tak bergerak sedikitpun “perpusnya belum buka” kata ryan polos. Ia
melongok ke dalam melalui kaca yang terpasang
ditengah pintu “tapi ada orangnya ra didalem”. Tiara tertawa melihat
tingkah ryan “ryan..ryan.. lo berapa tahun sih sekolah disini. Pintu perpus itu
digeser, bukan didorong.” Tiara menggeser pintu itu dan dengan mudah terbuka.Ryan
hanya menggaruk-nggaruk kepala menyadari kebodohannya.Ia sudah tiga tahun sekolah
disini tapi baru kali ini menginjak perpus. Jelaslah, buatnya kantin itu jauh
lebih menarik dibanding perpus.
“Ryan… ngapain kamu kesini?” Tanya penjaga perpus dengan
wajah bingung. “yailah ibu, ngeliat ryan masuk perpus, kaya ngeliat setan masuk
masjid. Biasa aja kali bu. Toh didepan pintu juga ga ada tulisan –ryan dilarang
masuk- jadi ryan boleh dunk kesini” Kata ryan sambil tersenyum kearah bu lia
yang hari ini bertugas menjaga perpus. perpus hari itu tidak terlalu ramai. Hanya
da beberapa orang yang sama sekali tidak dikenal ryan. “artikel olahraga ada
disana” kata tiara sambil menunjuk ke arah sebuah rak.sedangkan tiara berjalan
ke rak lain. “lo mau kemana ra?” Tanya ryan. “gue mau ke rak sains. Ada diujung
sana”.Katanya menunjukkan rak yang berlawanan. “di sana ada artikel olahraga
ga?” kata ryan polos, dan lagi-lagi membuat tiara terkekeh.
Pagi yang cerah. Tiara dan ryan berjalan beriringan menuju
sekolah. Ryan emang sengaja menunggu tiara di taman dekat komplek perumahan
tiara dan yang pasti sengaja tidak membawa motornya. Ia ingin berangkat bareng
tiara berjalan kaki. Mereka tidak janjian hanya saja ryan begitu pandai membuat
sesuatu menjadi kebetulan dan dijadikan sebagai alasan. Mereka mengobrol
banyak, entah mengapa ryan merasa sangat nyambung mengobrol dengan tiara. Semua
hal yang tersembunyi dalam diri ryan seakan ia beritahu pada tiara. Tentang
keluarganya yang jarang memperhatikannya, tentang alasan kenapa ia suka bolos
dan sebagainya. Tiara mendengarkan dengan seksama. Sambil sesekali tertawa
karena tingkah ryan. “yan, motornya kemana? Kok jalan kaki?” seseorang bertanya
saat mereka belum sampai gerbang sekolah. “kenapa?? Ga pernah liat orang
ganteng jalan kaki yaa?” katanya sambil tertawa, orang yang diajak bicara malah
menunjukkan muka muak semuak-muaknya. Tiara hanya tersenyum menyadari kalau
sebenarnya ryan adalah orang yang sangat menyenangkan.
Dan ternyata kehadiran tiara membuat perubahan besar
terhadap diri ryan. Ia jadi jarang bolos dan jadi rajin belajar. Ia tahu kapan
harus bercanda dan kapan harus memperhatikan guru yang sedang mengajar. Satu
yang ryan sesalkan, kenapa baru sekarang ia dekat dengan tiara? Kenapa tidak
dari dulu.Benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Siapa yang bakal
menyangka kalau ryan akhinya jatuh cinta pada tiara. Mereka jadi sering jalan
bareng walau dengan waktu yang minim karena tiara harus bekerja sepulang
sekolah.Dan kenyamanan itu dirasakan juga oleh tiara. Sifat ryan yang humoris
kadang mampu mengusir rasa penat yang tiara rasakan. Mereka berbagi beban
bersama.
“assalamualaikum”. Ryan mengetuk pintu disebuah rumah yang
sudah tidak asing baginya. Yaa..rumah tiara. Ia sempat beberapa kali main
kesana dan berkenalan dengan ibu tiara. Rumah itu memang sangat sederhana tapi
rapi, bagian dalamnyapun begitu.Tak lama terdengar suara
seseorang menjawab salam yang ia ucapkan.dalam hitungan detik pintu terbuka dan
mendapati sesosok wanita paruh baya disana. ”eehh ryan, masuk nak. Tiara…”
wanita paruh baya itu agak berteriak memanggil tiara sambil menggiring ryan dan
mempersilahkannya duduk. “bentar ya ryan. Mau minum apa?” katanya ramah. “ga
usah repot-repot tante. Keluarin aja semua yang ada dikulkas” katanya sambil
tertawa.Ryan emang mudah akrab dengan ibu tiara.Dya ngerasa kalau ibu tiara
baik banget. Beda sama mamanya yang ga pernah memperdulikannya. Itu alasannya
ia lebih suka maen daripada ada dirumah. Orang tuanya terlalu sibuk dengan
pekerjaan mereka. Secara finansial ryan emang ga pernah kekurangan. Ia bisa
beli apapun yang ia mau. Tapi lebih dari itu ia ingin diperhatikan kedua
orantuanya. “mau kemana yan?, ga belajar lagi?” kata bu vira sambil menyodorkan
segelas minuman kepada ryan. Biasanya ryan datang menemui tiara untuk belajar
bersama. Tapi kali ini sepertinya tidak. “jalan-jalan tante, bosen belajar
mulu. Otak ryan kan ga kaya otak tiara tante. Belajar sejam aja otak udah
ngebul” Katanya sambil menyeruput air digelasnya. Bu vira hanya tertawa
mendengar jawaban ryan. “trus nanti abis lulus mau ngalanjutin ke jurusan apa?”
ryan memandang bu vira lalu membuka suara “jurusan blok.m – pondok labu tante”
mereka tertawa bersama seperti tidak ada jarak usia diantara mereka. Tak lama tiara keluar sudah dengan keadaan
rapi. “udah siap ra. Tante... pinjem tiaranya bentar yaa.. dijamin pulang kerumah
dalam keadaan utuh. Ga kurang dan ga lebih”. Katanya meyakinkan. Bu vira hanya
mengangguk sambil tersenyum. Lalu melepas kepergian mereka didepan pintu. Ryan mengajak
tiara kesebuah café, tiara terlihat cantik dengan kemeja sederhana dan blue
jeansnya. Rambutnya tergerai melewati bahunya.
“mau pesen apa ra?” Tanya ryan sambil membenarkan posisi
duduknya agar lebih nyaman. “apa aja” jawabnya singkat. “-apa aja- itu nama
makanan baru ya?” kata ryan sambil
tertawa kecil, tiara ikut tertawa dan kembali memperhatikan ryan yang
sibuk melihat-lihat daftar menu. Setelah itu ia memanggil seorang pelayan untuk
mencatat pesanannya.
“lo cantik banget ra malam ini” kata ryan memecah
keheningan. Tiara hanya tersenyum dilihatnya ryan yang entah mengapa ia rasa
agak gugup hari ini. Ryan terlihat tampan dengan setelan kemeja hitam panjang
yang digulung rapi hingga lengannya dan bawahan blue jeans. Jam tangan mahal
terlihat melingkar dipergelangan tangannya. Ryan menarik nafas panjang. Mencoba
membuat hatinya tenang karena ia sudah memantapkan diri untuk menyatakan cinta
pada tiara. Entah mengapa ini terasa begitu sulit untuknya, ayo ryan… Cuma seorang tiara. Ga sulit…katanya
dalam hati
“ra, gue boleh ngomong sesuatu ga” ryan berusaha setenang
mungkin, pada saat yang sama seorang pelayan datang mengantarkan minuman
pesanan mereka. “boleh ngomong aja” kata tiara saat pelayan sudah pergi dari
meja mereka. “hhmmmm…. Gue suka sama lo. Lo mau ga jadi pacar gue”. Tiara hampir
saja menyemburkan minuman yang sedang ia tengguk. Matanya menatap ryan
dalam-dalam. Tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia diam
lalu menunduk. “kenapa?” Tanya ryan dengan ragu, ia merasa punya firasat tidak
baik. “gue ga bisa yan” akhirnya tiara kembali mengangkat kepalanya melihat ke
wajah ryan yang menyiratkan sebuah kekecewaan. “lo tau kan kondisi gue? Gue ga
akan punya waktu buat pacaran”. Hanya kata-kata itu yang bisa meluncur dari
mulut tiara. “gue ga akan minta banyak waktu ra sama lo. Gue ngerti banget sama
kondisi lo. Jadi lo..” kata-kata itu terpotong karena tiara kembali buka mulut.
“gue ga bisa yan, gue ga mau kalo pada akhirnya malah nyakitin lo. Kita lebih
baik jalan kaya gini aja ya” tambahnya. Ryan menghela nafas mencoba untuk
tersenyum walau sebenarnya hatinya remuk seremuk-remuknya. Tapi ia sadar ia tak
bisa memaksakan kehendaknya. Ia menatap tiara dalam-dalam “yaudah ga papa,
mungkin emang lebih baik kaya gini”. Bohong, ryan mengharapkan yang lebih dari
ini, tapi ia tak akan menyerah hari ini. Ia selalu dapat apa yang ia mau,
begitupun saat ia menginginkan tiara.
Bersambung….

No comments:
Post a Comment