buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Wednesday, 15 May 2013

STUPID BOY I


          dunia itu tak seluas daun kelor. Mungkin itu kata yang tepat untuk ryan ardiansyah. Sulit menerima kenyataan kalau ternyata cintanya tertambat pada tiara.Cewek biasa aja disekolahnya tapi super duper jenius. Dan ternyata menakhlukkan tiara tak semudah yang ia kira,padahal ia punya segalanya. Wajah yang tampan, harta yang banyak. Hanya satu kekurangannya, ia punya IQ dibawah rata-rata. Tidak bisa dibilang bodoh. Hanya ia menyadari ia yang terlalu malas belajar. Ia masih mengenang kejadian itu. Kejadian yang membuatnya menyadari kalau cintanya begitu dekat.


          Ryan berjalan dibelakang tiara menuju ruang BP. Ini bukan kali pertama ia dipanggil ke ruang guru, makannya ia sudah sangat terbiasa. Kalau tidak karena sering bolos ataupun nilainya yang selalu jelek pasti karena ulah-ulahnya yang tak biasa.Ia menatap tiara yang berdiri didepan pintu ruang BP.

          “lo mau masuk ruang BP kaya mau masuk kuburan. Biasa aja kali”.Ryan menyela tiara dan membuka pintu. Sebelumnya tiara nggak pernah ke ruang guru BP, Makannya kali ini ia agak heran karena tiba-tiba dipanggil kesini. Semua anak yang dipanggil kesini adalah anak-anak yang bermasalah.Ia mengingat kira-kira apa gerangan yang membuatnya sampai dipanggil kesini. Ia menatap wanita yang terkenal galak duduk dengan sorot mata tajam saat ia dan ryan masuk. Wajah ryan terlihat tenang, sangat kontras dengan tiara yang terihat cemas. “duduk.” Katanya sambil mengarahkan pendangannya ke 2 bangku ada ada didepan mejanya.

          “kalian tau kenapa ibu panggil kalian berdua kesini?” suara itu manatap tajam ke arah tiara dan ryan secara bergantian. Yang menjawab hanya tiara itupun hanya dengan gelengan kepala. “kamu ryan?” suara tegas itu kini mengarah ke ryan. “nilai ryan jelek? Ryan suka bolos? Ryan melanggar aturan?. Pasti salah satu dari itu kan bu?” ryan menjawab dengan entengnya.Bu anna menyandarkan punggunya dikursi sambil menghela nafas.Membenarkan letak kacamatanya. “ibu dapat laporan dari guru-guru kalau nilai kamu ryan… makin ga karuan. Gimana kamu mau lulus?” suara itu terdengar biasa untuk ryan. Bukan berupa omelan ataupun nasehat.Hanya angin lalu buatnya.“ya ga gimana-gimana bu” jawabnya enteng. Mendengar jawaban ryan yang seenaknya bu anna menggebrak meja. Membuat tiara hampir terlonjak dari kursinya. “dengar ya ryan. Jangan Karena orang tua kamu donatur terbesar disekolahan ini kami pihak sekolah bisa meluluskan kamu dengan Cuma-Cuma. Kamu tetep harus belajar” katanya setengah marah, matanya menatap ryan tajam, tak memperdulikan tiara yang mulai merasa risih disana. Ryan hanya menggaruk-ngaruk kepalannya yang ia sadari tidak gatal. “iyaaaaa ibuuuuuuu” katanya sambil tersenyum ke arah bu anna. Dan yang diberi senyum mengeryit kebingungan.Sedangkan tiara tertawa dalam hati. “sudahlah, ibu nyerah nasehatin kamu. Ibu Cuma mau mulai sekarang kamu duduk sama tiara di depan. Dan tiara tolong bantu ryan ya”. Dua anak manusia yang duduk bersebelahan menganga “apaaaa?” katanya kompak. “tapi bu, tiara kan udah duduk sama Diana.” Kata tiara ragu-ragu. “Diana bisa duduk dibangku ryan. Ibu sudah membicarakan ini sama dia.” Bu anna tersenyum melihat reaksi ryan dan tiara.

          Tiara dan ryan beriringan menuju kelas. Lorong-lorong kelas sudah sepi karena jam masuk sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Ia melirik kearah tiara yang berjalan pelan disampingnya. Sudah 3 tahun mereka satu kelas, tapi ryan tidak begitu mengenal tiara. Mereka jarang bertegur sapa dan bercanda seperti yang lain. Tiara emang gadis popular di sekolah mereka. Tapi bukan karena ia cantik ataupun kaya. Ia popular karena pintar walau setelah diperhatikan tiara emang cantik.Ia selalu jadi juara kelas, selalu jadi anak kesayangan guru-guru. Tapi ryan memandang kalau tiara adalah gadis yang kaku dan kutu buku, walaupun penampilannya tak menunjukkan seperti itu. Ia berseragam rapi, tidak terlalu tinggi tapi tidak pendek juga, tidak memakai kacamata seperti imej-imej kutu buku pada umumnya.Kulitnya kuning langsat, Rambutnya pajang dan selalu tergerai rapi melewati bahunya.Sepatunya hanya sepetu kets biasa, tidak terlalu mencolok seperti yang lain, yaah sekolah mereka memang sekolah bagus.Siswa-siswa disana bisa dibilang berasal dari kelas menengah keatas.Makannya tak heran kalau banyak siswa yang lebih mementingkan fashion.
Ryan membayangkan hidupnya disekolah akan menjadi amat sangat membosankan. Mereka memasuki kelas yang sedang serius karena pa adam sudah mulai mengajar. Bangku tiara sudah kosong dan Diana sudah pindah dibangku ryan, tas ryanpun sudah tergeletak di bangku samping tiara. Sebelum duduk ia melihat ke arah iras, teman sebangkunya, laki-laki itu tersenyum kepadanya. Senyum mengejek kalau ryan rasa. Ryan mengambil buku tulisnya dari tas dan melihat pak adam yang cerita panjang kali lebar kali tinggi tepat didepannya. “pak adam kalau dari depan keliatan gendut ya?” ryan berbisik pada tiara sambil tertawa kecil. Sedangkan tiara hanya mengisyaratkan agar ryan diam “ssttt… lo tuh sekarang duduk didepan. Jadi ga bisa bebas ngobrol kaya waktu duduk dibelakang.”.ryan mendengus dan kembali menatap pak adam yang sebenarnya tak enak dipandang.  Memaksakan diri walau sebenarnya ia ingin duduk dibelakang dan mengobrol dengan iras, teman sebangkunya. Ataupun menggambar tokoh kartun kesayangannya. Tapi sekarang ia tidak bisa melakukan apa-apa selain memperhatikan. Ia melirik tiara yang terlihat serius, tangannya sesekali mencatat yang mungkin penting ke buku catatannya yang tersampul rapi. Mending besok bolos ajalah.Niatnya dalam hati.

          Ryan memberhentikan motornya didepan sebuah tempat les karena melihat orang yang ia kenal keluar dari sana. “tiara” katanya sambil membuka kaca helmnya. Tiara berbalik dan melihat ryan dengan motor satria nya. “baru pulang yan?” kata tiara sambil tersenyum. “iya, abis latihan basket. Lo les disini? Pantesan aja lo pinter.” Kata ryan sambil memandang ke arah bangunan luas itu. Ia tau kalau itu adalah tempat les yang terkenal bagus. Tiara hanya tertawa sambil menggeleng. Ryan mengangkat alis kebingungan. Kalo nggak les disana kenapa tiara tadi keluar lewat sana? “gue ngajar disini” tiara menjawab seakan tau apa yang dipikirkan ryan. “HAH!!!” ryan setengah kaget mendengarnya.

          “iyaa.. jadi tiap gue pulang sekolah gue ngajar disana. Emang sih kebanyakan adalah anak-anak sebaya gue bahkan ada beberapa yang udah kuliah. Tapi ga masalahlah buat gue” tiara bercerita saat ryan akhirnya mengajaknya makan disebuah café tak jauh dari tempat kerja tiara. Ryan mendengarkan cerita tiara dengan minat.Memperhatikan wajah tiara dengan seksama. Cantik… gumamnya dalam hati
“tapi apa lo ga cape. Abis sekolah terus kerja gitu?” ryan bertanya dengan tangan yang masih mengaduk-aduk makanannya. “cape siih, tapi udah biasa”

          Ryan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Tiara emang cewe beda, dia mandiri, ga kaya cewe-cewe lain dan pasti dia cantik… satu rasa hadir saat tadi mereka makan bersama. Rasa nyaman saat menatap wajahnya yang lembut.Tiara bukan berasal dari keluarga kaya seperti dirinya.Itu dia tau saat tadi mengantar tiara pulang.Rumahnya hanya rumah sederhana, tidak ada kesan mewah tapi rapi.Ia tinggal hanya dengan ibunya. Ayanya telah meninggal sejak tiara kecil.Ibunya hanya seorang penjahit.Dan itulah yang membuat tiara memutuskan membantu perekonomian keluarga kecilnya.sejak SD tiara selalu mengusahakan agar mendapat beasiswa sampai SMA sekarang. Itulah alasan mengapa ia selalu belajar dengan giat. Ia tau kalau nilainya sedikit saja turun, pihak sekolah dapat mencabut beasiswanya kapan saja. Dan kini… wajah tiara terus terbayang dalam benaknya.Ryan menarik nafas panjang.
Apa mungkin gue suka sama tiara?? Tapi kenapa baru sekarang .itu menjadi pertanyaan yang sulit ryan jawab sendiri.


           Hujan deras mengguyur Jakarta tepat saat ryan ingin mengeluarkan motornya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Dengan santai ia kembali masuk dan menjatuhkan diri disofa ruang tamu. Berkali-kali ia melirik jendela yang masih menampakaan butir-butir hujan padanya. Membuatnya semakin malas untuk pergi sekolah.Ia akhirnya melangkah menuju kamarnya, siap-siap melepas seragamnya. Ia menghentikan kegiatannya lalu melongok kearah balcon kamarnya. Hujan sudah reda.Sial.Katanya dalam hati.Ia kembali merapikan seragam putihnya dan berlari menuju garasi. Diliriknya jam tangan yang melingkar dipergelangannya, menunjukkan pukul 07.40 WIB. Entah mengapa ia begitu ingin bertemu tiara.

          “permisi” ryan masuk dengan santainya. Beberapa helai rambutnya basah terkena rintik-rintik hujan saat memarkirkan motonya. “darimana saja kamu ryan. Kamu tau ini jam berapa?” seorang wanita paruh baya yang tadinya duduk langsung berdiri dan memandang ryan tajam. “jam 08.15 bu. Tadi pas saya mau berangkat ujan, yaudah saya tunggu dulu ujannya sampai reda” jawabnya enteng.  Beberapa anak dikelas itu terdengar cekikikan mendengar jawaban ryan yang tanpa dosa.

           “kamu berangkat jam berapa??? Ujan itu turun setelah jam masuk.” Guru menatap ryan dari ujung kaki-hingga ujung kepala. “jam 06.45 bu”. Bu ratna menggertakan gigi pertanda kesal, tetapi ryan tampaknya terlihat santai “coba kamu lihat teman-teman kamu”. Mata bu ratna bergerak menuju anak-anak yang sudah duduk rapi dibangkunya masih-masing. “inikan hari kamis, kemana batik kamu? Udah telat, saltum lagi” pertanyaan bu ratna disambut dengan tawa anak-anak karena melihat wajah ryan yang tampak kebingungan.

           “lupa bu, kalo namannya lupa kan ga inget” kata ryan santai. Kini tawa anak-anak semakin meledak mendengar jawaban ryan yang begitu  entengnya. “DIIIAAAAAAMMM”.Suara itu menggelegar membuat penghuni kelas menutup mulut rapat-rapat.Ryan sempat melirik tiara sebentar lalu tersenyum kepadanya. “ryan, sekarang kamu berdiri didepan pintu sampai bel istirahat berbunyi.” Ryan menatap bu ratna dengan enggan.Ia tidak mau, ia ingin belajar bersama tiara. Bohong..ia hanya ingin bersama tiara. “ga mau ah bu, ryan kan mau belajar. Masa disuruh berdiri didepan pintu sih”. Bu ratna menganga mendengar kata-kata ryan. Biasanya anak ini selau senang karena bisa bebas dari mata pelajarannya. “kalau kamu niat belajar. Kamu nggak akan telat ryan”

           “iihh ibu mah, kata pepatah juga lebih baik telat daripada tidak sama sekali.” Ryan mengatakannya sambil tersenyum. Bu ratna menghela nafas, memang susah mengatur anak yang satu ini. “yasudah, duduk ditempat kamu”. “makasih ibu cantik”

            “tiara.. mau ke kantin ya?? Ikut donk” ryan setengah berlari mengejar tiara yang sudah lebih dulu keluar dari kelas. Tiara berhenti mendengar sesorang memanggilnya. “mau ke kantin? Bareng yah?” ryan mengulangi pertanyaannya sambil menatur nafasnya yang terengah-engah. “nggak.. gue mau ke perpus” tiara menjawab dan melihat ryan mengangkat alisnya. “eehhmmm… gue ikut deh” sekarang gantian tiara yang mengangkat alis. “mau ngapain?”. Ryan memutar bola matanya sambil berfikir “mau cari… cari…. Artikel tentang basket.” Tiara tersenyum mengetahui akal pintar ryan. Mereka berjalan beriringan menuju perpus, tiara berjalan tenang sedangkan ryan sibuk menenangkan hatinya yang terasa tak karuan. Sampai di depan pintu perpus, ryan mendorong pintunya tapi pintu itu tak bergerak sedikitpun “perpusnya belum buka” kata ryan polos. Ia melongok ke dalam melalui kaca yang terpasang  ditengah pintu “tapi ada orangnya ra didalem”. Tiara tertawa melihat tingkah ryan “ryan..ryan.. lo berapa tahun sih sekolah disini. Pintu perpus itu digeser, bukan didorong.” Tiara menggeser pintu itu dan dengan mudah terbuka.Ryan hanya menggaruk-nggaruk kepala menyadari kebodohannya.Ia sudah tiga tahun sekolah disini tapi baru kali ini menginjak perpus. Jelaslah, buatnya kantin itu jauh lebih menarik dibanding perpus.

          “Ryan… ngapain kamu kesini?” Tanya penjaga perpus dengan wajah bingung. “yailah ibu, ngeliat ryan masuk perpus, kaya ngeliat setan masuk masjid. Biasa aja kali bu. Toh didepan pintu juga ga ada tulisan –ryan dilarang masuk- jadi ryan boleh dunk kesini” Kata ryan sambil tersenyum kearah bu lia yang hari ini bertugas menjaga perpus. perpus hari itu tidak terlalu ramai. Hanya da beberapa orang yang sama sekali tidak dikenal ryan. “artikel olahraga ada disana” kata tiara sambil menunjuk ke arah sebuah rak.sedangkan tiara berjalan ke rak lain. “lo mau kemana ra?” Tanya ryan. “gue mau ke rak sains. Ada diujung sana”.Katanya menunjukkan rak yang berlawanan. “di sana ada artikel olahraga ga?” kata ryan polos, dan lagi-lagi membuat tiara terkekeh.

         Pagi yang cerah. Tiara dan ryan berjalan beriringan menuju sekolah. Ryan emang sengaja menunggu tiara di taman dekat komplek perumahan tiara dan yang pasti sengaja tidak membawa motornya. Ia ingin berangkat bareng tiara berjalan kaki. Mereka tidak janjian hanya saja ryan begitu pandai membuat sesuatu menjadi kebetulan dan dijadikan sebagai alasan. Mereka mengobrol banyak, entah mengapa ryan merasa sangat nyambung mengobrol dengan tiara. Semua hal yang tersembunyi dalam diri ryan seakan ia beritahu pada tiara. Tentang keluarganya yang jarang memperhatikannya, tentang alasan kenapa ia suka bolos dan sebagainya. Tiara mendengarkan dengan seksama. Sambil sesekali tertawa karena tingkah ryan. “yan, motornya kemana? Kok jalan kaki?” seseorang bertanya saat mereka belum sampai gerbang sekolah. “kenapa?? Ga pernah liat orang ganteng jalan kaki yaa?” katanya sambil tertawa, orang yang diajak bicara malah menunjukkan muka muak semuak-muaknya. Tiara hanya tersenyum menyadari kalau sebenarnya ryan adalah orang yang sangat menyenangkan.

           Dan ternyata kehadiran tiara membuat perubahan besar terhadap diri ryan. Ia jadi jarang bolos dan jadi rajin belajar. Ia tahu kapan harus bercanda dan kapan harus memperhatikan guru yang sedang mengajar. Satu yang ryan sesalkan, kenapa baru sekarang ia dekat dengan tiara? Kenapa tidak dari dulu.Benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Siapa yang bakal menyangka kalau ryan akhinya jatuh cinta pada tiara. Mereka jadi sering jalan bareng walau dengan waktu yang minim karena tiara harus bekerja sepulang sekolah.Dan kenyamanan itu dirasakan juga oleh tiara. Sifat ryan yang humoris kadang mampu mengusir rasa penat yang tiara rasakan. Mereka berbagi beban bersama.

          “assalamualaikum”. Ryan mengetuk pintu disebuah rumah yang sudah tidak asing baginya. Yaa..rumah tiara. Ia sempat beberapa kali main kesana dan berkenalan dengan ibu tiara. Rumah itu memang sangat sederhana tapi rapi, bagian dalamnyapun begitu.Tak lama terdengar suara seseorang menjawab salam yang ia ucapkan.dalam hitungan detik pintu terbuka dan mendapati sesosok wanita paruh baya disana. ”eehh ryan, masuk nak. Tiara…” wanita paruh baya itu agak berteriak memanggil tiara sambil menggiring ryan dan mempersilahkannya duduk. “bentar ya ryan. Mau minum apa?” katanya ramah. “ga usah repot-repot tante. Keluarin aja semua yang ada dikulkas” katanya sambil tertawa.Ryan emang mudah akrab dengan ibu tiara.Dya ngerasa kalau ibu tiara baik banget. Beda sama mamanya yang ga pernah memperdulikannya. Itu alasannya ia lebih suka maen daripada ada dirumah. Orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Secara finansial ryan emang ga pernah kekurangan. Ia bisa beli apapun yang ia mau. Tapi lebih dari itu ia ingin diperhatikan kedua orantuanya. “mau kemana yan?, ga belajar lagi?” kata bu vira sambil menyodorkan segelas minuman kepada ryan. Biasanya ryan datang menemui tiara untuk belajar bersama. Tapi kali ini sepertinya tidak. “jalan-jalan tante, bosen belajar mulu. Otak ryan kan ga kaya otak tiara tante. Belajar sejam aja otak udah ngebul” Katanya sambil menyeruput air digelasnya. Bu vira hanya tertawa mendengar jawaban ryan. “trus nanti abis lulus mau ngalanjutin ke jurusan apa?” ryan memandang bu vira lalu membuka suara “jurusan blok.m – pondok labu tante” mereka tertawa bersama seperti tidak ada jarak usia diantara mereka.  Tak lama tiara keluar sudah dengan keadaan rapi. “udah siap ra. Tante... pinjem tiaranya bentar yaa.. dijamin pulang kerumah dalam keadaan utuh. Ga kurang dan ga lebih”. Katanya meyakinkan. Bu vira hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu melepas kepergian mereka didepan pintu. Ryan mengajak tiara kesebuah café, tiara terlihat cantik dengan kemeja sederhana dan blue jeansnya. Rambutnya tergerai melewati bahunya.
“mau pesen apa ra?” Tanya ryan sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. “apa aja” jawabnya singkat. “-apa aja- itu nama makanan baru ya?” kata ryan sambil  tertawa kecil, tiara ikut tertawa dan kembali memperhatikan ryan yang sibuk melihat-lihat daftar menu. Setelah itu ia memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanannya.

          “lo cantik banget ra malam ini” kata ryan memecah keheningan. Tiara hanya tersenyum dilihatnya ryan yang entah mengapa ia rasa agak gugup hari ini. Ryan terlihat tampan dengan setelan kemeja hitam panjang yang digulung rapi hingga lengannya dan bawahan blue jeans. Jam tangan mahal terlihat melingkar dipergelangan tangannya. Ryan menarik nafas panjang. Mencoba membuat hatinya tenang karena ia sudah memantapkan diri untuk menyatakan cinta pada tiara. Entah mengapa ini terasa begitu sulit untuknya, ayo ryan… Cuma seorang tiara. Ga sulit…katanya dalam hati

          “ra, gue boleh ngomong sesuatu ga” ryan berusaha setenang mungkin, pada saat yang sama seorang pelayan datang mengantarkan minuman pesanan mereka. “boleh ngomong aja” kata tiara saat pelayan sudah pergi dari meja mereka. “hhmmmm…. Gue suka sama lo. Lo mau ga jadi pacar gue”. Tiara hampir saja menyemburkan minuman yang sedang ia tengguk. Matanya menatap ryan dalam-dalam. Tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia diam lalu menunduk. “kenapa?” Tanya ryan dengan ragu, ia merasa punya firasat tidak baik. “gue ga bisa yan” akhirnya tiara kembali mengangkat kepalanya melihat ke wajah ryan yang menyiratkan sebuah kekecewaan. “lo tau kan kondisi gue? Gue ga akan punya waktu buat pacaran”. Hanya kata-kata itu yang bisa meluncur dari mulut tiara. “gue ga akan minta banyak waktu ra sama lo. Gue ngerti banget sama kondisi lo. Jadi lo..” kata-kata itu terpotong karena tiara kembali buka mulut. “gue ga bisa yan, gue ga mau kalo pada akhirnya malah nyakitin lo. Kita lebih baik jalan kaya gini aja ya” tambahnya. Ryan menghela nafas mencoba untuk tersenyum walau sebenarnya hatinya remuk seremuk-remuknya. Tapi ia sadar ia tak bisa memaksakan kehendaknya. Ia menatap tiara dalam-dalam “yaudah ga papa, mungkin emang lebih baik kaya gini”. Bohong, ryan mengharapkan yang lebih dari ini, tapi ia tak akan menyerah hari ini. Ia selalu dapat apa yang ia mau, begitupun saat ia menginginkan tiara.

Bersambung….






No comments:

Post a Comment