buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 4 November 2014

Gadis Nila

BAB EMPAT

            Aku terbangun dengan keringat yang mengucur deras didahiku. Nafasku tersengal dan aku bisa merasakan bahwa wajahku pucat saat ini. aku mimpi buruk lagi. Dan yang paling aku takuti adalah pertanda buruk dalam mimpi itu. dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahku. Merasakan keringat dingin yang mulai menyesap kedalam kulitku.

            Pertanda apalagi ini??

            Setelah membersihkan diri. aku keluar kamar dan menemukan keluargaku sudah berkumpul diruang makan. “selamat pagi sayang.” Kata ibuku sambil mengoleskan selai keselembar roti. Membuatku sedikit mengangkat garis bibirku.

            “kamu baik-baik aja?” tanyanya dan aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
            “sepertinya sekolah itu cocok buat kamu. Sampai sekarang ayah belum dapet surat panggilan dari pihak sekolah.” ayahku tersenyum sinis kepadaku. Menguapkan kebencian melalui sela-sela tatapannya. Tapi aku tau kalau apa yang ia bicarakan akan terjadi. Ibuku diam, mencoba mencairkan suasana. Dia bilang kalau orang Jakarta berpikir lebih luas daripada orang-orang dikampungnya dulu.

            “valia berangkat dulu. Oia bu, bilangin ayah, jangan lewat tempat biasa Karena ada pekerjaan jalan. Macet total. Jadi cari jalan lain aja.” Aku melirik ayahku yang kini menatap dengan pandangan angkuhnya.

            Aku turun dari bus dan berjalan menuju sekolahku. Masih butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai kesana.

            Iiisssshhhhh baru punya mobil apa. Aku berbalik dan menatap sebuah picanto dibelakangku yang sudah sejak tadi mengklakson, menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan telinga. Seseorang didalam mobil kini membuka kaca mobil, menampakkan diri sambil memperlihatkan senyum yang membuatku muak.

            “mau bareng nggak?” katanya ramah tapi aku langsung menggeleng cepat sambil terus berjalan.

            “nggak apa-apa. Gue jamin lo sampe gerbang sekolah dengan selamat.” Ia masih terus menjalankan mobil pelan, mensejajarkan dengan langkahku.
            “nggak.. makasih.”

            “oke…” sesaat kemudian aku merasakan kepulan asap yang berasal kenalpot mobil andre menggumpal diudara.

            Pada jam pertama pelajaran aku langsung mendapat panggilan keruang BK. Aku menarik nafas dan pergi menemui bu mia. Selama aku sekolah, guru BK bukan momok buatku. Disekolah lamaku, aku sering dipanggil guru semacam ini karena beberapa kasus.

            “ibu mendapat laporan kalau kamu sering nggak masuk Karena alasan yang tidak jelas.”
Wanita bertubuh agak tambun itu menatap mataku dengan tatapan tajamnya. Kalau pada umumnya guru bimbingan konseling disetiap sekolah berhati ramah dan dituntut untuk mengerti para siswa, bu mia berbeda. Ia dikenal sebagai pribadi yang tegas dan galak.

“kenapa valia, coba beritahu alasan kamu. Kenapa Kamu bolos HAH???.” Guru itu menggebrak meja, membuatku hampir terlonjak.

“apa salah kalo saya bolos sedangkan nilai-nilai saya selalu bagus. Bukankah kita sekolah biar pintar. Lalu kalau saya sudah pintar. Saya harus apa?” aku membalas tatapannya. Seringai muncul dibibirnya. Ia menegakkan tubuhnya. Dan menarik nafas dalam-dalam.

“tapi sekolah ini punya peraturan valia.” Wanita itu kini lebih tenang dan lebih berhati-hati. Dan inilah yang aku benci dari dulu. PERATURAN… peraturan yang menurutku tidak masuk akal. Aku berfikir kalau slogan “peraturan dibuat untuk dilanggar” itu benar. Aku benci terkungkung dalam satu peraturan yang tidak aku sukai.

“kalau semua murid sepertimu, mau jadi apa sekolah ini. berlaku seenaknya. Sekolah ini bukan milik keluargamu valia.”
  
Setelah berdebat cukup sengit dengan bu mia, aku menghambur menuju taman dan menjumpai farrel disana. menghirup udara pagi dalam-dalam dan merasakannya meresap dalam paru-paruku. Aku berbicara panjang lebar dengannya. sampai saat ini hanya dia yang benar-benar bisa mengertiku. Lalu dia mengajakku bernyanyi bersama, melakukan kegiatan yang paling kusukai saat bersamannya. Tapi disamping itu, mimpi burukku tadi malam masih menghantuiku, bayang-bayang buruk itu masih menari-nari dibenakku.

“kayaknya lo harus balik ke kelas deh. Sebelum guru lo yang bawel itu ceramah lagi.” Farrel memberikan senyuman terindahnya. Membuatku mengangguk lalu meninggalkan farrel ditaman.
Saat bel pulang berbunyi aku melihat andre yang berjalan tak jauh dari tempatku berjalan. Sendirian, tidak bersama indah ataupun teman-temannya. Aku lekas berlari dan menarik tangannya ke koridor sekolah yang sepi.

“apa-apaan nih?” katanya mencoba berontak tapi tetap mengikutiku kekoridor.
“klo sekarang lo berencana pergi ke mall itu.” aku menyebutkan sebuah mall yang akan dia kunjungi dan membuatnya menaikkan alis.

“gue mohon jangan pergi.” aku melihat air mukannya berubah, dahinya berkerut dan bibirnya mengerucut.
“kenapa emang?” dia menatapku dengan tatapan mencemooh.
“gue nggak bisa kasih alasannya, tapi please jangan kesana.” Aku melihat seringai sinis dibibirnya dan semburat kebahagiaan yang tiba-tiba muncul diwajahnya.
“gue bakal turutin kemauan lo asal lo mau jalan sama gue.”
“mimpi lo.” Aku sudah mengepalkan tanganku dan bersiap melemparkan tinju ke wajah tampannya. Sampai akhirnya dia tertawa.

“lo itu bener-bener cewe aneh. Ga usah sok alim. Gue tau lo iri kan sama indah, karena indah sekarang pacaran sama gue.”

“jaga mulut lo.” Aku bisa merasakan kalau buku-buku jariku mulai memutih. Dan seringai diwajahnya tak juga menghilang.

“gue Cuma kasih penawaran simple. dan kalo emang lo iri sama indah, gue bisa mutusin dia dan jadian sama lo. Jujur gue sebenarnya lebih tertarik sama lo” Dia menyentuh lenganku begitu kuat sehingga aku mencoba melepaskan dengan tanganku yang bebas.

“valia…andre.” Aku dan andre menoleh kearah datanganya suara dan melihat indah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya merah padam dan aku bisa memastikan tidak butuh waktu lama kalau amarahnya pasti akan meledak. Apa yang akan ia pikirkan saat pacar dan mantan sahabatnya terlihat bersama.

            “gue bisa jelasin ndah.” Aku melepas peganganku begitu juga andre. Kami mulai saling menjauh tapi raut wajah andre tampak biasa saja. Indah mendekat dan melirik kearahku dan andre secara bergantian.

            “dia ngerayu gue ndah. Dia bilang dia bersedia jadi pacar gue asalkan gue mau mutusin lo.”  Aku memelototi andre dan sama sekali tidak percaya dia berani berbohong seperti itu. Wajah indah semakin memerah dan kali ini aku menyadari bahwa amarah itu sepenuhnya terarah kepadaku.

            “dasar cowok brengsek.” Aku menampar andre lalu kembali menatap indah “Jangan percaya ndah, please ini ga kaya yang dia bilang. Gue nggak kaya gitu…gue…” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku tangan indah berhasil mendarat mulus dipipiku. Tidak keras tapi cukup membuatku terkejut.

            “dasar cewek murahan.” Indah menyambar tangan andre lalu pergi menjauh, meninggalkanku yang masih terpaku ditempat. Meraba pipiku yang mulai memanas, bukan pipi tapi hatiku juga merasakan panas yang lebih, sepeti terbakar.

            Apapun ndah, tapi please  jangan pergi kesana… aku terduduk disana, menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. menangis dan menyesali semua yang terjadi.

***

“lo nggak apa-apa val?” Nathan bertanya saat sampai dirumahnya. Hari ini ibu Nathan mengajakku untuk makan malam bersama keluarganya. Setelah kejadian itu, ibu Nathan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Keputusan yang cukup mengejutkan bagi Nathan maupun ayahnya. Tapi keputusan ibu Nathan sudah bulat. Ia bilang ia akan mengganti semua hari yang telah ia korbankan demi pekerjaannya. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik buat Nathan.

Aku dan Nathan sudah berada dimeja makan saat ibunya masih sibuk menyiapkan makan malam. Nathan berbisik entah sudah berapa lama Nathan tidak mencicipi masakan ibunya, dan Nathan bilang kalau ibunya memang jago masak sejak dulu.

Ibu Nathan melepas celemeknya dan mulai menuang air dan teko bening ke gelasku dan Nathan. ia tersenyum hangat dan menggumamkan maaf karena harus menunggu sampai ayahnya Nathan pulang. Ia bilang ayahnya Nathan akan sampai beberapa menit lagi. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena kini kami bertiga terlibat obrolan menarik. Ibu Nathan bercerita tentang masa kecil Nathan. ketika Nathan pertama kali belajar berjalan, ketika Nathan hampir saja menelan sebutir kelereng, ketika Nathan merengek minta diantar saat hari pertama masuk TK, dan tingkah laku Nathan saat kecil membuatku tertawa dan wajah Nathan bersemu malu.

Ayah Nathan sampai 15 menit kemudian dan ia membawa kabar buruk. Dia bilang salah satu mall yang ia lewati terbakar, mengakibatkan kemacetan karena si jago merah berhasil melalap sebagian badan mall. Gelas yang saat itu aku pegang langsung terjatuh, menimbulkan bunyi nyaring dan mengakibatkan air membasahi meja panjang itu.

“kenapa val?” suara itulah yang akhirnya menyadarkanku. Aku berdiri dan berusaha menghindari tetesan air yang sudah membasahi celanaku. Aku meminta maaf dan salah seorang pelayan mengelap meja yang basah beserta beling-beling yang pecah.

Satu yang terlintas dipikiranku adalah indah. Setelah menggumamkan maaf kami melanjutkan makan tapi pikiranku masih saja tertuju pada kebakaran itu

***

“luka andre sama indah nggak parah katanya. Katanya kaki mereka kekilir karena berdesakan keluar dari tempat itu. ” aku lega mendengar kabar yang diberikan Nathan. mimpi itu benar, kobaran api yang menyala-nyala. Aku bisa mengingat jelas saat beberapa orang berteriak, saling berdesakan untuk keluar dari tempat itu. kobaran api itu berhasil merembet kebeberapa tubuh orang.

“gimana kalo ntar kita jenguk kerumah sakit? Itu juga kalo lo mau.” Aku tanpa sadar mengangguk. Menyadari kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau aku bertemu dengannya. aku tau hal seperti ini pasti akan terus terjadi dalam hidupku. Semua pertanda-pertanda buruk yang akan selalu hadir dalam pikiranku dan aku hampir gila dibuatnya. Bagaimanapun kerasnya aku mencoba menghindari, aku tau itu mustahil.

Selama perjalanan ke rumah sakit, aku lebih banyak diam. Memikirkan kemungkinan buruk setalah aku tahu bahwa andre juga dirawat dirumah sakit yang sama. Setelah mampir ke toko buah, kami melanjutkan perjalanan. Camry putih Nathan dengan lihai membelah kemacetan ibukota. Udara begitu panas hari ini, begitu menyengat. kotaku dulu juga panas, hanya saja tidak seterik ini. dan udara di jogja masih lebih bersih. Tidak seperti disini, asap-asap kenalpot mengudara dimana-mana.

Setelah sampai dirumah sakit, Nathan langsung pergi ke bagian informasi untuk menanyakan dimana pasien atas nama indah dan andre dirawat. Setelah mendapatkan informasi aku dan Nathan langsung pergi menuju lift. Indah dan andre ternyata dirawat diruang yang bersebelahan. “kita kan niat baik val. Lo tenang aja.” Aku merasakan tangan Nathan menggenggam tanganku dan menggiringku masuk keruangan dimana indah dirawat. Aku melihat mamanya terduduk dikursi disebelah ranjang indah. Sebelah kaki indah di gips dan terangkat keatas, dan aku melihat ada sedikit luka bakar di tangannya.

Ibu indah tersenyum melihat kehadiran kami. Setelah mencium tangannya dia memberikan kami sebotol minuman kaleng. Dan meninggalkan kami bertiga.

“gimana keadaan lo?”  aku melihat ada kecanggungan dari pertanyaan Nathan. indah sedikit menaikkan garis bibirnya lalu menatapku dengan tatapan kosong. “baik.” Dia menjawab tapi aku tau pikirannya berada entah kemana. Dan entah kenapa suasana terasa begitu mencekam, seperti senar yang ditarik kencang dan siap putus kapanpun juga.

Selama kurang lebih setengah jam dikamar indah, Nathanlah yang lebih bayak berbicara. Sedangkan aku hanya sempat mengumamkan permintaan maafku, dan itupun tidak dia jawab. Ia lebih suka memandang Nathan daripada aku. Aku masih bisa melihat siratan kebencian ditatapan matanya. Dan aku berusaha untuk tidak peduli. Aku merasa bahwa diriku benar karena berniat baik padanya.

Setelah keluar dari kamar indah, aku dan Nathan masuk kekamar sebelah tempat andre dirawat. Dan lagi-lagi Nathanlah yang mengepalai. Aku lebih suka mengumpat dibalik tubuhnya, sama sekali tidak ingin melihat rekasinya saat melihatku. Kamar Andre lebih ramai karena ada beberapa teman sekelasnya yang aku juga kenal.

“gue abis nengokin indah, jadi gue mampir sekalian.” Aku memberanikan muncul dari balik punggung Nathan dan menatap andre. Raut wajahnya berubah seketika. Dan empat teman-temannya kini menatapku heran. Nathan sudah berjalan mendekati ranjang sedangkan aku masih terpaku ditempat.

“ngapain lo disini? Pergi dari sini? Cewek pembawa sial. Pergiiiiiiiiiiii.” Andre berteriak-teriak seperti orang kesurupan, ia mengambil semua barang yang ada dimeja dan melemparkannya kearahku. Semua orang mencoba menenangkan andre tapi anak itu terus saja meronta seperti orang gila.

“andre stop…” Nathan merentangkan tangan didepanku, mencoba menahan benda-benda yang hampir saja melukaiku.  Setelah melihat andre tak juga menghentikan kegiatannya melemparnya, Nathan menggandeng tanganku keluar dari kamar.

“lo nggak apa-apa val?” aku menatap kosong Nathan dan mengangguk pelan. Kejadian ini persis seperti kejadian bertahun-tahun lalu. Kejadian yang sama sekali tidak ingin aku ulangi. Dan tanpa aku sadari sebutir air mata jatuh dari sudut mataku. Membuat Nathan kebingungan.

“val lo kenapa val?” Nathan meremas bahuku, mencoba memberikan ketenangan. Tapi aku malah berbalik dan berlari keluar rumah sakit. “val… valia..” aku bisa mendengar suara Nathan, semakin lama semakin kencang hingga akhirnya ia bisa meraih tanganku untuk berhenti tepat saat aku berada diluar rumah sakit. “val lo kenapa sih?” aku masih menunduk dan merasakan airmataku masih mengalir.

“val….” Nathan mengangkat daguku dengan jarinya. Membuatku terpaksa melihat karahnya. “kenapa?” dia bertanya lagi tapi aku lebih suka menjawab dengan sebuah gelengan.

Nathan menuntunku ketaman disamping rumah sakit. Duduk disalah satu bangku disana.
“sekarang cerita sama gue, lo kenapa? Lo tersinggung sama kata-kata andre.” Nathan menggenggam tanganku, semakin erat seakan memberiku kekuatan untuk segera menjawab pertanyaannya.

“gue bakal hajar dia kalo dia udah masuk sekolah. gue janji sama lo. Gue nggak suka dia bikin sahabat gue sedih gini.” Aku merasakan ibu jarinya menelusuri pipiku, menghapus bekas air mataku.

“bukan dia yang salah tan, gue yang salah.” Aku mencoba berbicara walau terasa sangat sulit. Seperti ada gumpalan batu yang menyumpat tenggorokanku. Aku bisa melihat sirat kebingungan diwajahnya.

“maksudnya?”
“gue berbeda dari kalian semua.” kini dahi-nya berkerut dan aku tau dia sama sekali belum mengerti.

“gue indigo Nathan, itu kenapa gue tau papan dikantin mau jatoh, gue tau nyokap lo sakit, gue tau kalau ada penghuni lain dikamar tempat nyokap lo dirawat pertama kali. Bahkan kebakaran itu, gue tau dan gue sempet bilang sama andre buat nggak pergi kesana.”


Raut wajah Nathan berubah, antara tidak menyangka dan heran. “jadi yang nyembuhin nyokap gue?” Aku mengangguk membenarkan kata-katanya. Biarlah dia tau semuanya, aku tidak peduli lagi. Nyatanya aku juga sudah kehilangan semuanya. “gimana bisa?”

Monday, 3 November 2014

Gadis Nila

BAB TIGA

            Pagi ini aku keluar dari kamar dan melihat adikku yang berseragam melintas didepan kamarku. “selamat pagi.” Aku mencoba menyapanya dengan kaku, dan dia hanya melangkah lebih cepat tanpa memperdulikan sapaanku. Entah sudah berapa lama aku tidak berbicara kepadanya. sepertinya bertahun-tahun. Dirumah, kami hanya saling pandang lalu ia akan lari ketakutan, mendekap dipelukan ibuku dan bilang bahwa ia takut padaku. Dan dengan kasih sayang ibuku, ibuku akan bilang bahwa tidak ada yang harus ditakuti dariku. Ibuku bilang aku adalah kakaknya walaupun kami beda ayah. Tapi tentu saja anak itu tidak mau begitu saja percaya pada ibuku. Dia seperti melihat monster saat melihatku.

            Sesampainya disekolah aku mendengar kabar yang sama sekali tidak mengejutkanku. Aku tau ini akan terjadi. Semua anak disepanjang koridor berbisik. Membicarakan indah yang kini menyandang sebagai pacar andre. Semuanya menginginkan berada dalam posisi indah, mereka menyerukan bahwa indah beruntung bisa mendapatkan andre. Aku benar-benar muak mendengarnya. Aku berpikir bahwa mereka semua bodoh. Hanya melihat orang dari luarnya saja. Benar-benar manusia tidak berguna.

            Aku duduk ditaman belakang sekolah pagi ini. kegiatan yang sudah beberapa hari ini menjadi rutinitasku. Disana aku akan menghirup udara segar dan menemui farrel. Aku akan bercerita panjang lebar dengan farrel. Menceritakan semua yang terjadi pada hari-hariku. Dan farrel akan tertawa keras. Mentertawakan betapa menyedihkannya hidupku. Tapi entah kenapa aku selalu bahagia bersamanya.

            Aku kembali ke kelas saat jam menunjukkan pukul 07.15. lima belas menit lalu bel masuk sudah berbunyi tapi aku tahu kalau belum ada guru dikelasku. Aku masuk dan mataku langsung menangkap pandangan mata indah. “selamat ya.” Aku mencoba membuka percakapan diantara kami. Percakapan pertama yang aku mulai setelah berhari-hari berdiam diri. “makasih.” Jawabnya pendek.

            “tapi bukan berarti gue bakal diam. Gue nggak tau apa yang bisa membuat mata lo melihat kalau andre itu nggak bener-bener suka sama lo.” Kali ini aku bisa merasakan ketersinggungannya.

            “kenapa sih val, apa yang salah sama andre?” suaranya meninggi, membuat beberapa anak menoleh kearah kami.

            “indah, gue berani bersumpah kalo andre itu bukan cowok baik dan dia nggak bener-bener suka sama lo.” Nada suaraku tidak kalah tinggi kali ini. dan dimatanya. Aku melihat api kebencian begitu membara.

            “stop urusin hubungan gue sama andre. Gue tau lo iri kan sama gue? Karena gue bisa dapetin andre. Lo itu sama kaya cewek-cewek lain kan? LO CUMA IRI SAMA GUE.”  Kali ini kami sama-sama berdiri. Benar-benar menciptakan keributan dikelas, menjadi tontonan gratis bagi anak-anak disekeliling kami.

            “lo nggak tau siapa andre sebenarnya dan apa yang dia rencanakan indah.” Aku menahan geram pada indah yang mulai berapi-api.

            “trus… lo pikir lo siapa? Lo pikir lo tau siapa andre? Lo tau apa tentang dia. HAH?” indah menggebrak meja. Membuat beberapa orang mengintip dibalik jendela kelasku.

            “please indah, dengerin gue kali ini. lo harus putus sama andre sebelum lo menyesal.” Kali ini aku melihat sebutir peluh jatuh dari dahinya. Dan ia tersenyum sinis. “lo gila, lo bahkan nggak kasih gue alasan kenapa gue harus putus sama andre. Selain alasan kalau lo IRI sama gue.”

            Aku menyerah dan membawa tasku keluar dari kelas. Melewati kerumunan anak yang ternyata lebih banyak dari dugaanku. Aku sempat mendengar suara Nathan memanggil, tapi aku tidak ingin menoleh sama sekali. Aku berlari keluar dari sekolah dan akhirnya berjalan mengikuti kemana kakiku melangkah. Aku marah, aku bingung, aku sedih, aku tidak tau harus bagaimana lagi sekarang. Persahabatanku hancur sudah. Hal yang dahulu aku idam-idamkan kini hancur lebur tak bersisa. Tidak ada yang bisa diselamatkan maupun diperbaiki. Indah membenciku, bahkan saat aku berusaha menyelamatkannya.

            Aku sampai dirumah sakit tempat ibu Nathan dirawat. Aku juga sebenarnya tidak mengerti kenapa aku kesini. Aku menaiki lift menuju kamarnya. Ruangan itu kosong, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Tapi aku tau masih ada kehidupan  panjang disana. aku masuk kekamar itu dan langsung disambut oleh bau khas rumah sakit.

            Wanita itu tertidur pulas, seperti bayi yang begitu tenang. aku menggenggam tangannya dan ia membuka mata. Aku tersenyum melihatnya mencoba mengingatku. Setelah menekan otaknya sedikit lebih keras. Ia akhirnya bisa mengingatku. Aku mencoba berbicara pelan kepadanya. hingga akhirnya ia kami terlibat obrolan menarik. Aku banyak bercerita kepadanya tentang persahabatanku dengan Nathan. aku bilang bahwa Nathan adalah pria yang begitu baik, dan begitu pintar bermain musik. Aku menceritakan kepadanya saat aku dan Nathan bernyanyi bersama ditaman sekolah. aku bernyanyi sedangkan Nathan mengiringi dengan gitar yang dibelinya secara diam-diam dengan uang jajannya. Aku menceritakan betapa kesepiannya Nathan. bagaiamana Nathan menginginkan keluarga yang sempurna bukan hanya secara materi.

            Setelah aku menceritakan itu semua, aku melihat air matanya jatuh. Aku tersenyum sambil menyekanya dengan ibu jariku. Aku bisa merasakan bagaiamana ia menyesal menelantarkan Nathan. bagaimana ia menyesal karena berfikir uang adalah segalanya. Aku merasakan udara diluar semakin terik. Hingga akhirnya memutuskan untuk pergi darisana. Setelah berpamitan aku keluar dari ruangan itu dan berjalan kembali keluar rumah sakit. Tapi sesaat sebelum aku masuk kedalam lift. Aku mendengar rintihan kesakitan. Begitu jelas hingga akhirnya aku memutuskan untuk berbalik. Diruangan itu aku melihat dokter dan beberapa suster sedang menangani ibu Nathan. seorang perawat yang melihat kehadiranku menghampiri dan menyuruhku untuk menunggu diluar. Tapi suara erangan kesakitan itu makin terdengar nyaring dan membuat hatiku teriris.  Aku mendorong perawat itu dan melesak masuk. Membuat marah dokter yang sedang menangani pasien. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap mendekat dan mengganggam tangannya dengan tangan kiriku, perlahan rintihan ibu Nathan mereda. Lalu, dengan tangan kananku, aku mengusap pelan kening wanita itu. membuat wanita itu memejamkan mata.

            Setelah merasa kalau ibu Nathan tertidur. Aku tersenyum lalu kembali berniat pergi dari sana. Tapi aku lupa kalau disana masih ada dokter dan dua perawat yang kini menatapku dengan pandangan bingung.

            “bagaimana bisa?” dokter itu kini mendekatiku dan melihat kearah ranjang. Menatap pasien yang sebelumnya berteriak kesakitan kini tertidur lelap.

            “berhenti memberikannya obat-obatan dan kemoterapi.”
            Aku pergi menuju taman tak jauh dari komplek perumahanku dan mengindahkan berbagai telpon dan pesan yang membuat hanphoneku berbunyi.

            “lo bilang lo mau jadi anak normal. trus, kenapa lo menyembuhkan wanita itu.” aku mendengar suara itu dan mendapati farrel berada disebelahku entah sejak kapan.

            “entahlah, gue nggak bisa mendengar dia merintih kesakitan. Gue bisa merasakan sakitnya farrel.” Aku mencoba mencari pembenaran dengan menatap farrel dalam-dalam. Dan seketika itu juga farrel terkekeh. “jadi, lo sadar kalo lo nggak akan pernah bisa menjadi seperti mereka.” Aku mengangguk mengakui kekalahanku. Farrel benar. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Aku tersenyum dan kami menghabiskan sore bersama-sama. Aku juga bercerita masalahku dengan indah dan semua ke khawatiranku. Dan dengan enteng dia hanya menjawab “tenang saja, suatu saat dia bakal tau kalo lo benar.” Dia mengucapkan kata itu berulang kali dan sesekali membuatku tertawa.

            Hari-hari berikutnya aku dan indah benar-benar kehilangan kontak. Setiap hari aku dan dia bertingkah seperti orang yang tidak kenal sama sekali. Setelah pertengkaran itu, keesokan harinya ia menjauhiku dengan pindah tempat duduk dengan orang lain. dan yang paling mengejutkan adalah Nathan yang mengetahui kalau ibunya kini sudah sembuh total. Malam itu, setelah dari rumah sakit, ia datang kerumahku. Membari kabar kalau ibunya kini sudah sembuh, dan menurut dokter kemarin ada seorang gadis berseragam yang menenangkan ibunya dari kesakitan dan diperkuat oleh kesaksian ibunya. Akhirnya Nathan tahu kalau gadis itu adalah diriku. Aku bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya tapi kini ia terus saja mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.

            “gue nggak ngelakuin apa-apa Nathan. klo nyokap lo bisa sembuh itu bukan karena gue, tapi karena keajaiban dari tuhan.” Aku bisa melihat nada ketidakpercayaan dari tatapannya. Aku dan Nathan berada disebuah taman dikomplek perumahanku. Menghabiskan waktu dengan menatap kolam air mancur yang sering dipadati para muda-mudi saat malam minggu. Biarpun hari sudah gelap tapi aku bisa melihat jelas kilatan mata nathan yang menanti kebenaran dalam diriku.

            Setalah beradu argumen dan saling ngotot, akhirnya Nathan mengalah dan aku sangat bersyukur akan hal itu. persahabatanku dengan Nathan bisa diselamatkan. Aku tersenyum penuh kepadanya. menggumamkan terima kasih tanpa kata.

            “jadi gimana sama indah?” Nathan merubah topik pembicaraan, tapi menurutku ini sama sekali bukan topik yang menarik. Aku mengambil beberapa kerikil ditanah dan melemparkan satu persatu ke danau tenang didepanku. Menghasilkan bunyi gemricik dan ombak kecil saat air itu menelan butiran kerikil.

            “yang penting gue udah memperingatkan dia.” Semenjak pertengkaran itu, nathan turut menjadi korban. Aku bisa melihat kalau ia dan indah juga mulai menjauh. Aku bisa mendengar kegugupan dalam beberapa sapaannya kepada indah. Mereka seperti orang asing dari dunia yang berbeda. Tapi aku tahu bukan Nathan yang menjauh. Tapi indahlah yang semakin melengketkan diri dengan andre. Ikut bergaul dengan teman-teman andre yang sama bajingannya seperti andre.

            Dalam waktu kurang dari empat hari, ibunya Nathan sudah diperbolehkan pulang. setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter benar-benar percaya bahwa sel-sel kanker itu telah hilang. Walau para dokter terus saja menyangkal kebenarannya. Secara logika mereka benar-benar tidak percaya bahwa ini terjadi. “sel-sel kanker itu secara misterius hilang.” Begitu katanya sambil melirik kearahku. Dia tau semua kecurigaannya berhubungan denganku. Tapi aku menolak memberikan pendapat apapun. aku hanya bilang bahwa ini semua adalah bukti kebesaran tuhan.

            Untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah Nathan, ibunya kini tersenyum sambil mempersilakanku masuk. Kulitnya kembali terlihat segar, tubuhnya kembali ke ukuran normal, dan yang paling tidak bisa disembunyikan adalah senyumnya yang selalu mengembang selama perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumahnya. Ia berkali-kali mengucap syukur, dan sama seperti dokter. Ibu Nathan juga menaruh kecurigaan terhadapku. “mama inget pas valia pegang tangan mama, rasa sakit mama tiba-tiba menghilang dan mama merasa ngantuk.” Begitu katanya.

            Rumah itu besar. Dilapisi dengan cat putih dan ukiran-ukiran mewah ditiang-tiang penyanggahnya. Dihalaman disamping ada sebuah taman dengan dua buah ayunan yang terlihat usang dan berkarat. Dan ditaman itu, aku bisa melihat sesosok wanita sebagai penghuni. Tapi aku tidak perlu khawatir karena ia baik. Ia tidak suka menganggu siapapun. Tapi aku tau kalau ia sebal kalau tukang kebun dirumah Nathan membakar sampah dekat rumahnya.

            Aku memasuki rumah besar itu dan langsung merasakan kehampaan didalamnya. Aku bisa merasakan bahwa ruang tamu ini jarang dibuat berkumpul keluarga, ruang makannya tidak pernah mengumpulkan Nathan dan kedua orang tuanya. Dan percakapan layaknya sebuah keluarga tidak pernah tercipta dirumah ini. Tapi aku berharap semuanya membaik mulai hari ini.

            Nathan mempersilahkanku duduk sedang dirinya masuk kekamar untuk mengganti pakaian dan ibunya memanggil seorang pembantu rumah tangga dan menyuruhnya mengambilkan minum. didalam ruang tamu itu aku melihat beberapa foto Nathan terpajang, juga lukisan-lukisan abstrak yang indah. Dimeja kecil disudut ruangan ada telpon dan sebuah bingkai foto Nathan bersama kedua orang tuanya. Nathan sedang duduk disebuah ayunan dan kedua orang tuanya berdiri dibelakang, tersenyum secara bersamaan.

            Aku tersenyum melihat Nathan menyimpan boneka bear berwarna coklat dikamarnya. Juga puzzle usang yang tersembunyi dibawah laci meja belajarnya. Ada mobil-mobilan kayu yang ia rakit bersama ayahnya saat umurnya enam tahun. Semuanya tampak rapi untuk ukuran kamar laki-laki, tapi aku bisa merasakan hawa dingin yang mengudara dikamar itu. kamar itu jarang terjamah kedua orangtua Nathan. tapi aku bisa melihat bayangan ibu Nathan tiga bulan lalu, tengah malam sepulang kerja, ia mengendap-endap memasuki kamar itu. melihat Nathan yang tidur meringkuk dibawah selimut tebalnya membuat kerinduan membuncah dihatinya. ia tidak tahu betapa Nathan merindukannya, betapa Nathan merindukan sentuhannya, sapaannya, kasih sayangnya. Setelah puas memandangi anak semata wayangnya, ia menarik selimut hingga ke leher Nathan dan mencium keningnya.

            Beberapa menit kemudian, Nathan kembali dan menyuruh ibunya untuk beristirahat. Walaupun ibunya bersikeras karena merasa sudah sembuh total, tapi Nathan tetep menuntut ibunya untuk tidak terlalu banyak beraktivitas karena masih tidak menyangka ibunya akan sembuh dengan cara tidak masuk akal seperti itu.

            “kayaknya lo bakal sering-sering maen kesini deh.” Katanya sambil tersenyum dan duduk disampingku. Membuat sebagian sisi sofa berkeriut saat ia duduki.

            “tau darimana?” kataku sambil menatapnya yang kini terlihat menganakan kaos berwarna hijau muda dengan celana kanvas selutut.

            “nyokap gue kayanya bakal lengket sama lo.” Katanya. Kami berbincang-bincang cukup lama hingga akhirnya ayahnya Nathan tiba dirumah. ini kedua kalinya aku bertemu dengannya. ayahnya Nathan adalah pria berusia 46 tahun dengan kulit putih kemerahan, wajahnya panjang dan matanya sipit. Tulang pipi dan rahangnya terlihat kuat serasi dengan badanya yang masih terlihat tegap. Dan yang diwariskan pada Nathan adalah senyumnya. Ia memiliki senyum yang mempesona, sama seperti Nathan.


            Setelah bersalaman dengannya, ia pergi untuk menengok istrinya. Nathan bilang, ini adalah kali pertama ayahnya pulang lebih cepat. Biasanya ia pulang diatas jam sepuluh malam dan berangkat pagi-pagi sekali.

Friday, 31 October 2014

Gadis Nila

BAB DUA

            Aku masuk kerumah dan langsung merasakan hawa dingin menyelimuti. Yaah… aku juga salah satu anak yang tidak betah dirumah. karena aku tidak pernah merasakan kenyamanan dirumah ini. hanya ibuku yang membuat aku ingin pulang. Ayahku adalah ayah tiri yang menikahi ibuku saat aku berumur 5 tahun dan aku benar-benar membencinya. Dia adalah pria berumur 45 tahun dan bekerja sebagai salah satu kepala bagian keuangan disalah satu perusahaan furniture dijakarta. Ekonomi keluarga kami memang baik, tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Hubunganku dengannya hanya sebatas anak dan ayah tiri. Aku tidak dekat dengannya dan tidak pernah berusaha mendekatkan diri dengannya.

            Ibuku sendiri adalah ibu rumah tangga yang terbaik menurutku. Dia ibuku, tapi dia bisa menjadi ayahku, bisa menjadi kakakku bahkan bisa menjadi adikku. Aku sebenarnya hanya butuh ibuku karena ibuku bisa menjadi siapa saja yang aku butuhkan. Dan satu yang tidak terlupakan adalah adik tiriku. Sama seperti ayahku, aku tidak terlalu menyukai laki-laki berusia 9 tahun itu. alasannya sama… karena ia lebih mirip ayah tiriku daripada ibuku.

            Aku mencium tangan ibuku dan mencium pipinya saat menemuinya duduk diruang tamu.
“kenapa baru pulang? ibu telpon hp kamu sibuk terus.” Ibuku langsung berjalan menuju dapur dan kembali dengan segelas teh hangat yang langsung aku terima dengan senyum seraya mengucapkan terima kasih. “maaf bu, tadi temen valia ada yang mau traktir gitu. Tapi valia malah keasikan nongkrongnya.”

            Farrel… itu kamu…. Aku setengah berlari menuju kamarku dan tersenyum melihat sosok laki-laki terduduk diranjangku.

            “kok lo bisa ada disini?” aku langsung menghampirinya dan duduk disampingnya. Farrel adalah sahabatku sejak kecil, sahabat yang selalu ada disaat aku membutuhkannya, satu-satunya sahabat yang mengerti aku. Laki-laki itu berkulit putih dengan lesung pipi dan rambut hitam lebat.

            “iya, gue kangen sama lo.” Katanya sambil tersenyum. “gimana sekolah dan hidup baru lo?” tanyanya. Dan aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu. “gue masih menyesuaikan diri.”

            Malam ini aku tidur lewat dari tengah malam karena terlalu asik mengobrol dengan farrel. Kami melakukan hal yang dulu sering kami lakukan bersama. Kami bercerita dan bernyanyi bersama. Hingga aku terlelap entah jam berapa.

            Aku terbangun saat jam menunjuk pukul 05.30. aku masih bisa meraskan hawa dingin diluar. Tapi beruntung kali ini tidak ada yang menampakkan diri diranjangku seperti kemarin dan farrel… dia juga sudah tidak terlihat dikamarku. Aku keluar dari kamar hanya untuk melihat keluargaku berkumpul dimeja makan. Dan adik tiriku…Egi… aku melihatnya menatapku dengan tatapan penuh ketakutan. Tapi aku sama sekali tidak peduli padanya. Aku tidak peduli bahwa dia pernah berkata pada ibuku kalau aku gila, aku aneh dan dia takut padaku. Aku tidak pernah bertegur sapa dengannya walau kami tinggal satu atap dan sekali lagi aku tidak pernah peduli dengannya dan apa yang dia katakan.

            Aku bertemu kembali dengan farrel saat turun dari bis menuju sekolahku. Itulah yang akhirnya membuatku tidak jadi sekolah dan lebih memilih berjalan-jalan bersama farrel. Bolos sekolah bukan hal pertama yang aku lakukan. Karena dulu, aku memang tidak suka dengan yang namanya sekolah. aku merasa tidak butuh sekolah karena aku merasa aku lebih pintar dari guru-guru yang mengajarku. Aku bisa tahu apa yang tidak mereka tahu dan sebenarnya aku tidak butuh belajar. Sekolah hanya sebuah formalitas untukku.

            Aku dan farrel berjalan mengelilingi kota hari ini. kami bersenang-senang tanpa memperdulikan orang yang memandangku dengan tatapan aneh sampai tatapan ketakutan. Aku pergi ke toko buku, pergi ke taman hiburan, dan taman kota. Yang jelas aku senang hari ini. tidak ada yang membatasiku dan aku benar-benar merasa bebas. Aku mendengar ponselku berbunyi dan mengeluarkannya dari tas. Ada lima pesan masuk dan tiga belas panggilan tak terjawab dari Nathan. aku membuka pesan itu satu persatu.

Pesan pertama
“val, gue bener-bener minta maaf soal kemaren”
Sender: jo_nathan

Pesan kedua
“val, kata indah lo gak masuk? Kenapa?”
Sender: jo_nathan
Pesan ketiga
“val… apa lo sakit? Kenapa ga masuk?”
Sender: jo_nathan
­­­­
Pesan keempat
“val, please bales sms gue atau angkat telpon gue.”
Sender: jo_nathan
Pesan terakhir
“val… gue ada dirumah sakit, nemenin nyokap gue.
Jadi mungkin nanti malem gue bakal kerumah lo, kalo lo nggak juga bales sms gue.”
Sender: jo_nathan

            Melihat pesan terakhir aku langsung bergegas menuju rumah sakit. farrel ada disebelahku dan aku menceritakan kejadian tadi malam. Aku memang kesal malam itu. tapi aku sudah melupakan semuanya. Aku tidak bisa melarang orang lain berfikir aneh tentang diriku karena memang aku berbeda dari mereka. Tapi aku hanya tidak menyangka, kalau Nathan bisa berkata seperti itu.

            Aku masuk ke gedung itu dan menyadari bahwa farrel sudah tidak berada didekatku. Aku memejamkan mata sebentar lalu berjalan menuju lift. Satu-satunya yang aku benci saat berada dirumah sakit adalah para penghuni tak lazim yang selalu terlihat olehku. Mereka tersebar dimana-mana. Di tiap sudut, berkeliaran dengan bebas dan aku melihat mereka dengan jelas. Aku keluar dari lift dilantai tiga dan langsung menuju koridor sebelah kanan, tidak butuh waktu lama karena akhirnya aku melihat Nathan duduk didepan pintu kamar 408.

            Aku bisa melihat keterkejutan Nathan melihatku yang berjalan mendekat. “valia… darimana lo tau gue dirumah sakit ini.” ia langsung berdiri dan berjalan mendekatiku. Aku bisa melihat kecemasan dan penyesalan dimatanya.

            “gimana keadaan nyokap lo?” aku bertanya dan sebenarnya lebih ingin mengalihkan perhatiannya. Dia berjalan kearah pintu dan aku mengekorinya dari belakang. Dari jendela yang terpasang dipintu putih itu, aku bisa melihat ibunya terbaring lemah tidak berdaya.

Kanker otak… aku bergumam setelah melihat penyakit yang bersarang ditubuh ibunya Nathan.

“darimana lo tau?” Nathan memegang bahuku membuatku menoleh. “apanya?” aku berlagak polos menanggapi kata-katanya.

“kanker otak. Lo tau kalo nyokap gue kena kanker otak?. Darimana lo bisa tau?”saat itu juga aku terkekeh, membuat keningnya berkerut. “Nathan… gimana gue gak tau. Lantai ini kan emang khusus untuk pasien kanker.” Aku melihat air mukanya berubah lemas dan ia memdudukan diri dikursi tak jauh dari sana. Dan yang membuat aku menyesal adalah aku tidak bisa membaca pikirannya sama sekali.

Nathan tiba-tiba mengeluarkan sebuah Koran dan memberikannya padaku. Aku sudah tau apa maksudnya. Kecelakan bis kemarin masuk dalam halaman depan Koran Jakarta itu.

“gue bodoh banget ya, tadinya gue pikir lo berbeda. Lo tau kalau papan dikantin mau jatuh, lo tau kalau bis itu bakal kecelakaan, lo tau kalau nyokap gue sakit.” Nathan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dan aku merasakan nyeri dihatiku. Aku tidak tau harus berbicara apa.

“gue Cuma punya feeling tan, dan mungkin feeling gue kebetulan aja bener.” Aku lagi-lagi berusaha meyakinkannya dan mengusap pundaknya dengan lembut. Aku kembali berdiri karena melihat farrel berdiri didepan pintu. Aku ikut melongok kearah kamar ibu Nathan dan terkejut melihat sesosok wanita menatap kami dipojok ruangan. Dengan spontan aku memasuki ruangan itu.

Jangan ganggu dia..  aku mencoba berbicara dengannya, wanita bertubuh kurus dengan wajah pucat pasi dan rambut berwarna emas itu dulu adalah pasien di kamar ini.

Aku tidak suka dia tidur ranjangku… aku mau dia pergi…  aku bisa melihat dan mendengar farrel berusaha berbicara lagi dengan wanita itu. tapi wanita itu berkeras bahwa ia tidak suka ada orang dikamar ini. ia merasa bahwa ini adalah rumahnya.

“percuma val, mending lo suruh temen lo mindahin ibunya kekamar lain. Aura disini bener-benar gak  enak. Lagipula dia meninggal bukan karena kanker, tapi karena dibunuh.”

Aku menelan ludah lalu berbalik dan melihat Nathan tengah menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku seperti tersangka yang tertangkap basah olehnya.

            “kenapa val?” aku mendekat dan menggandeng tangannya keluar dari kamar itu.
            “mending lo pindahin nyokap lo dari kamar ini. gue ngerasa kamar ini gak cocok buat nyokap lo?” aku langsung berniat meninggalkannya saat itu juga tapi ia menggenggam tanganku. menahanku agar tidak beranjak selangkah lagi.

            “kasih gue alasan logis?” aku menatap matanya dan menyentuh pipinya dengan tangan kananku. “ga semuanya perlu alasan jonathan.” Aku melepaskan diri dari Nathan dan mulai beranjak pergi. Menyusuri tiap koridor rumah sakit bersama farrel, sahabatku. aku hanya berharap kalau Nathan mau mendengarku untuk memindahkan ibunya ke kamar lain.

            “apa lo ga bisa baca pikiran dia? Dia itu ada rasa sama lo.” Aku menatap farrel dengan tatapan tidak percaya. Beberapa detik kemudian aku menggeleng dengan cepat.

            “gue gak mau ngerusak hubungan gue sama Nathan.” aku melihat farrel tertawa. Dan kini dia berdiri didepanku, membelakangiku.

            “lo ngetawain gue?” aku berbicara cukup keras dan menyadari beberapa pasang mata yang ada ditaman itu mulai mendaratkan pandangan kearahku. Yaah, mungkin mereka menaganggap aku gila, tapi bukankah aku sudah terbiasa. Aku kembali duduk dibangku dan membiarkan farrel terus mengoceh sesuatu yang sama sekali tidak bisa kutangkap.

            “valia…. Lo harusnya sadar kalo lo itu berbeda dari yang lain. Lo gak akan bisa jadi sama kaya mereka.” Farrel kini duduk disampingku dan aku malah menatapnya seperti orang bodoh. Kata-kata itu sudah ribuan kali farrel ucapakan kepadaku. Tapi semakin ia mengucapkan itu, aku semakin ingin menjadi gadis normal. Aku ingin seperti gadis lain sebayaku yang bisa hidup bebas tanpa harus terbebani oleh hal diluar nalar manusia.

            Taman mulai sepi saat hari beranjak malam. Aku berjalan pulang ditemani farrel yang masih setia menjadi temanku sampai saat ini. dan akhirnya aku tersenyum melihat Nathan mau mengikuti saranku untuk memindahkan ibunya ke kamar lain.

            Keesokan harinya, aku masuk kelas dan langsung diberondong pertanyaan oleh indah. Ia marah karena aku tidak mengabarinya saat tidak masuk sekolah kemarin. Aku tidak pernah punya sahabat sebelumnya, jadi aku tidak pernah terbiasa memberikan kabar apapun kepada orang lain. Satu-satunya sahabatku adalah farrel, dan ia selalu tau dimana aku berada tanpa aku beritahu.

            “val, menurut lo andre gimana?” aku mengikuti arah pandang indah ke lapangan. Ke-sekelompok orang yang sedang beradu memperebutkan bola oranye itu dengan begitu lincah. Panas yang menyengat sama sekali tidak menghalangi langkah mereka untuk bermain.

            “nggak baik.” Aku memperhatikan orang yang dimaksud indah dengan seksama. Andre satu tingkat diatas kami. Dia adalah salah satu kakak kelas yang paling digemari anak wanita disekolah ini. tidak salah, karena ia punya tampang diatas rata-rata. Dia cukup pintar dan yang menarik adalah prestasinya dibidang bola basket. Pernah membawa nama sekolah sampai ke tingkat provinsi. Dan yang tidak bisa disembunyikan darinya adalah kekeayan kedua orang tuanya yang selalu ia tonjolkan dihadapan semua orang. ferrari dengan warna terang selalu lancar mengantarkannya sampai kesekolah, belum lagi sebuah picanto dan motor gede yang terparkir di garasi rumahnya yang terletak dikawasan elit ibukota. Tapi dari semua kelebihan fisiknya, kalau membicarakan sikap dan sifatnya benar-benar terbalik tiga ratus enam puluh derajat. Aku bisa tau kalau saat SMP ia mendapat cap playboy  karena suka gonta-ganti pacar.

            “kenapa gitu? Kemaren dia senyum sama gue pas kita papasan dikantin.”
            “bad boy”  aku mengeluarkan salah satu buku dari dalam tasku, bersiap memulai ujian biologi dijam pertama.

            “aduh valia, lo nggak boleh nge-judge  orang gitu donk. Lo kan ga tau gimana dia sebenarnya.” Kali ini aku memandang indah penuh tanda Tanya.

            “terserah deh, tapi yang jelas gue ga suka lo berhubungan sama dia.” Aku menutup pembicaraan saat melihat raut kesal dalam wajah indah. Tak lama bu Ami masuk dan langsung membagikan selembar kertas jawaban bersama soal. Bu Ami hanya memberikan waktu empat puluh lima menit untuk mengerjakan soal. Tapi buatku, itu waktu yang lama. Dalam waktu kurang lebih sepuluh menit, aku telah sampai disoal terkahir.

            “gue duluan ya.” Aku berbisik pada indah yang masih berkutat dengan soal-soal biologi itu dan melihatnya memandangku dengan tatapan tidak percaya.

            “kamu yakin sama jawaban kamu? Waktu masih banyak valia.” Bu Ami memberi peringatan agar aku tidak terlalu tergesa-gesa. Tapi aku bisa yakin 100 persen kalau jawaban aku benar. Setelah mengangguk dengan mantap aku keluar dari kelas meninggalkan semua teman sekelasku yang masih dilanda kebingungan besar. Aku menyusuri lorong sekolah menuju kantin dan langsung duduk disalah satu bangku disana. mengamati andre yang masuk kekantin seorang diri dan langsung duduk tak jauh dari tempatku. Ia tersenyum lalu entah angin apa yang membuatnya menghampiriku.

            “anak kelas X ya?” tanyanya ramah, dan tanpa aba-aba langsung duduk didepanku. Aku yang langsung merasa gugup hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

            “andre” ia mengulurkan sebelah tangannya, dan aku hanya menatapnya sebentar sebelum akhirnya menjabat tangannya.

            “bisa nggak tinggalin gue sendiri.” Sebelum ia sempat melanjutkan obrolan, aku sudah terlebih dahulu mengusirnya. Entahlah, aku merasa tidak suka dengannya, kini ia memicingkan matanya, dan sekali lagi aku mengulangi kata-kataku dan membuatnya langsung tersenyum kaku lalu pergi dari hadapanku. Aku bisa merasakan kekesalannya.

            Sepulang sekolah aku dan Nathan pergi kerumah sakit untuk mengunjungi ibunya. Ia tidak pernah menyinggung lagi alasan aku menyuruhnya memindahkan kamar ibunya.

            “kata dokter kanker nyokap gue kanker ganas, dan minggu kemarin dia udah menjalani kemoterapi pasca operasi.” Nathan bercerita didepan ruangan ibunya yang sedang diperiksa oleh dokter. Aku bisa melihat betapa besar kasih sayang Nathan kepada ibunya. Walaupun begitu jelas bahwa orangtuanya jarang memperhatikannya. Setelah dokter selesai memeriksa keadaan ibunya. aku dan Nathan memasuki ruang perawatan itu dan Nathan memperkenalkan aku kepada ibunya. Wanita paruh baya itu terlihat lemah dan kulitnya terlihat menguning, tubuhnya kurus seakan digrogoti penyakitnya. Aku mencoba tersenyum lemah saat membawa telapak tangannya ke bibirku. “mama mau pulang.” Suara lemah itu keluar dari mulut ibunya dan langsung membuat Nathan menggeleng. “nanti kalau mama sudah baikan ya. Sekarang mama minum dulu ya.” Nathan mengambil sebuah gelas dari meja kecil disebelah ranjang. Mendudukan ibunya sebentar dan menjejalkan ujung gelas ke bibir ibunya.

            “sakit Nathan.” ibunya terdengar menggeram menahan sakit. Ia memegang kepalanya tapi nyatanya itu sama sekali tidak mengurangi sakitnya. Mungkin obat dari kemoterapi itu mulai bekerja. “sabar ya ma, mama pasti sembuh.” Omongan Nathan sama sekali tidak direspon oleh ibunya. Ibunya tetap mengerang kesakitan.

            Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya Nathan, aku bisa merasakan sakitnya. Aku lekas mendekat dan menggenggam tangannya. Mencoba memenangkannya. Perlahan erangannya mulai menghilang hingga akhirnya ia tertidur.
            “val, nyokap gue nggak apa-apa kan?”
            “nggak apa-apa, dia Cuma tidur.”

            Aku keluar dari rumah sakit menuju sebuah cafĂ© yang terletak tak jauh dari rumah sakit itu. setelah ibu Nathan tertidur, beberapa kerabatnya datang untung menjenguk. Itulah yang membuat Nathan berani meninggalkan ibunya sebentar.

            Udara siang itu sangat panas, membuatku bisa menghabiskan jus jeruk dalam satu kali tenggakan. Nathan terkekeh melihatku lalu berterimakasih atas kepedulianku kepada ibunya. Aku tidak bisa menahan senyum dan terus memberikan motivasi bahwa ibunya pasti sembuh walau kemungkinannya sangat kecil. Tapi aku selalu tau pada keajaiban tuhan.

            Indah…bukannya gue udah pernah bilang ya…. Aku mengeluarkan ponsel dari tasku dan memencet kontak indah. Cukup lama hingga akhirnya terhubung. “indah.. lo dimana?” aku bertanya dengan nada agak tinggi dan aku bisa dengar kegugupannya menjawab pertanyaanku. “dirumah sepupu gue val, kan gue udah bilang klo gue ada acara keluarga.” Aku bisa mendengar keramaian disekelilingnya. Seperti suara orang berbincang-bincang dengan jarak cukup jauh, juga suara sendok garpu yang beradu diatas piring.

            “gue Tanya sekali lagi, lo dimana sekarang?” aku mengencangkan sedikit suaraku. Mencoba menetralkan kekecewaanku. Dan kali ini indah menjawab lebih tegas. Dan ada kejengkelan dinadanya. “gue dirumah sepupu gue valia, lo kenapa sih? Lo nggak percaya sama gue? Terserah lo mau percaya apa nggak”… tuuut..tuuut. panggilan itu terputus dan aku kembali menaruh ponselku di tas.
            “indah?? Kenapa dia?” Nathan bertanya padaku, aku yakin ia juga bisa melihat raut kekesalan dalam wajahku. Aku menggeleng dan berusaha mengusir bayang-bayang indah dari pikiranku.   

***

            Keesokan harinya, aku bertemu indah dan berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia hanya tersenyum kecil saat melihat aku memasuki kelas. Setelah duduk disampingnya, aku diam, menunggunya berbicara duluan. Menunggu kejujurannya. Tapi dia tidak berkata-kata, aku bisa merasakan kegelisahannya. Angin yang berembus disekeliling kami seperti salju yang menciptakan kebekuan luar biasa. Aku berdehem lalu melirik kearahnya saat ia melontarkan pertanyaan mengenai keadaan ibu Nathan. ia juga melontarkan penyesalannya karena tidak bisa ikut menjenguk ibu Nathan kemarin.

            “ibunya wanita yang kuat. Keadaannya terus membaik.” Aku mencoba menghilangkan ketegangan dalam nada suaraku. Atau sebenarnya berusaha memancing kejujurannya. Aku tau kemarin ia tidak sedang ada acara keluarga, aku tau kemarin dia berada dimana, dengan siapa. Tapi kenapa ia harus berbohong. Apa ini yang namanya sahabat? Dulu, sahabatku hanya farrel dan aku tau dia tidak pernah berbohong padaku. Dia selalu menceritakan semua kebenaran yang terjadi padanya.

            Aku tersenyum sinis saat melihat andre memasuki kelas. Memperlihatkan pesona dari senyumnya kepada indah. Indah membalas senyum andre dengan kaku.

            “makasih ya kemaren udah nemenin gue nonton. Gue seneng jalan sama lo. Oia, gimana klo nanti lo pulang bareng gue?”

            Aku melihat kepalsuan dalam kata-kata itu. sebuah ketulusan yang tidak benar-benar ada. Sebuah kepedulian yang sebenarnya hanya omong kosong belaka. Wajah indah memucat, aku tau sebenarnya ia juga ingin melontarkan kebahagiannya berasama andre, tapi karena aku ada disana. aku tau ketakutan indah akhirnya terwujud. Yaah, biarpun aku sudah mengetahui sebelumya, tapi aku bisa melihat raut wajah indah yang akhirnya kebohongan terbongkar. Andre melirik kearahku dan indah secara bergantian. Aku tau ia bingung melihat kita hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.

            Aku yang mulai merasa risih lalu berdiri dan berjalan keluar dari kelas saat itu juga. pergi menuju taman dibelakang sekolah. Aku merasakan dadaku sesak karena suatu perasaan. Dan saat itulah farrel muncul.

            “apa yang terjadi?” Dia bertanya saat sudah sampai didepanku. Aku menengadahkan kepalaku, mencoba melirik senyum farrel yang dihiasi lesung pipi.

            “indah, dia bohong sama gue. Gue udah bilang kalo andre itu bukan cowok baik. Tapi entah gimana caranya kemaren mereka jalan bareng. Dan indah bilang sama gue klo dia kerumah sepupunya Karena ada acara keluarga.” Aku menutup wajaku dengan kedua telapak tangan. Menyesali perasaan yang tumbuh. Apa aku harus merasa sekecewa ini? dibohongi?? Aku seharusnya tau bahwa ini bukan hal yang aneh. Tapi, dia sahabatku, bagaimana lagi aku harus memberitahunya.

            “lo emang ga butuh sahabat valia, udah ada gue yang selalu ada buat lo. Lo seharusnya nggak mengorbankan hidup lo untuk punya sahabat yang nggak ada gunanya kaya mereka.” Farrel masih terus mengoceh hingga akhirnya aku kembali menengadahkan kepalaku. Aku melihat sosok farrel yang selalu awet muda. Sejak mengenalnya belasan tahun lalu, dia tidak berubah sampai saat ini.

            “tapi, gue sayang sama mereka? Gue nggak mau terjadi apa-apa sama mereka.” Aku mendengar senyum sinis dar farrel.

            “lo dulu juga begitu, begitu menghawatirkan orang yang lo sayang padahal mereka sama sekali nggak sayang sama lo. Mereka malah mengganggap lo aneh, mereka mengira lo gila, mereka bilang lo  punya kelainan, dan mereka bilang lo pembawa sial.”

        “sttttooooooooopppppppppp.” Aku menutup telingaku rapat-rapat sebelum farrel menyelesaikan pidato menyakitkan itu. aku memejamkan mata dan kejadian bertahun-tahun lalu berputar dipikiranku.

            “ayolah valia, berapa kali lo mau menentang kodrat bahwa lo beda dari mereka.”
         “stoop fareel, please stop.” Aku memohon padanya untuk berhenti bicara. Saat Air disudut mataku menetes, aku menangis. Bimbang antara membenarkan kata-kata farrel tapi begitu berkeinginan menentang atas semua kebenarannya.

            “tapi gimanapun lo. Lo akan tetap jadi sahabat gue sampai kapanpun.”  Seketika itu juga farrel menghilang entah kemana. Dan saat aku menengadahkan kepalaku dan bersiap meninggalkan taman. Aku melihat berpasang-pasang mata menoleh kearahku. Sorot mata mereka semua sama. Penuh ketakutan dan semuanya terasa mengintimidasiku. Aku lekas berlari kembali kekelas dan melihat indah tidak ada dibangkunya. beberapa anak-anak dikelas sudah berhamburan keluar kelas karena lima menit sebelumnya bel istirahat telah berbunyi.

            Aku terduduk dibangku ku. Meratapi semua kata-kata farrel yang hampir semuanya benar. Seharusnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa menyangkal itu semua. aku berbeda dari mereka

***

“val, gue cariin dikantin. Ternyata lo masih disini.” Nathan masuk dan langsung duduk disampingku. Dia juga menanyakan indah yang sudah menghilang entah kemana. Tapi aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu.

            “lo kenapa val?” aku berfikir kalau Nathan mungkin merasakan ketidakberesanku.
          “nggak kenapa-kenapa.” Aku tersenyum selebar mungkin. Membuatnya percaya dan membalas senyumku. Nathan mengajakku ke kantin hanya untuk melihat indah yang sedang duduk disatu meja dengan andre. Aku menatapnya dan seketika itu juga dia menunduk. Tidak membalas tatapanku sedikitpun.

            “indah kok bisa sama andre?” Nathan membelikanku sepiring somay dan langsung kusambut dengan uluran tangan. Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu.

            “lo berantem sama indah?.” Aku mulai asik menyantap isi piringku dan kembali mengangkat bahu. Membuat Nathan berdecak kesal.

            “ada apa sih sama lo berdua?”  Nathan mulai bawel menanyai masalahku dengan indah. Tapi sejujurnya aku lebih ingin menyuruh Nathan diam. Karena aku tidak tau harus mulai darimana. Lagipula, aku tidak punya alasan untuk melarang indah berhubungan dengan andre hanya karena aku tau niat busuknya yang tidak bisa kujadikan bukti karena hanya sekedar ucapanku.

            “nggak ada apa-apa. Kemarin, dia bilang dia gak bisa jenguk nyokap lo karena ada acara keluarga. Tapi sebenarnya dia jalan sama andre.” Gelas Nathan melayang, ia tidak jadi meminumnya dan malah menggantunggannya diudara. Matanya membulat mencoba mencari keyakinan pada ucapanku.

            “gue ga suka dia berhubungan sama andre karena andre ga sebaik yang dia kira.” Nathan menaikkan alisnya. Lalu sekilas melirik indah yang duduk tak jauh dari tempat kita duduk.


            “udah.. indah kan udah gede. Lagian, mereka berdua kan belum tentu jadian. Sebenarnya, gue juga nggak terlalu suka sama andre.” Nathan kini berhasil menengguk minumannya dan aku hanya mengangguk pelan. Walau sebenarnya aku tau kalau suatu saat hal itu pasti terjadi.