buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 22 March 2016

Dia Mawarku (Mawar bukan Bunga)


"Gue bukan simpanan." Mawar menatap lekat laki-laki di depannya. Matanya menyalang tajam. Berusaha tidak menangis walau ia sadar kalau sudah ada lapisan bening di kedua bola matanya.
"Terus apa namanya kalau bukan simpanan? Dari mana lo bisa kuliah kalau lo aja nggak kerja, lo yatim piatu dan lo nggak punya siapa-siapa di sini, lo juga bukan mahasiswi pinter yang bisa dapet beasiswa." Mata Raka menyalang tajam dengan suara yang menyentak dan gadis di depannya tidak sanggup lagi karena sebulir air matanya lolos. Raka tersenyum, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menusukkan belati tepat ke hati Mawar. Tidak cukup, laki-laki itu mengoyaknya. Menciptakan luka menganga di hati Mawar.
"Dasar wanita murahan." Raka tersenyum kecut. Berusaha menyadarkan gadis di depannya bahwa ia tak lebih dari sampah. Tidak berguna, tidak patut ada dan ia harus tau bahwa Raka membencinya.
"GUE BUKAN SIMPANAN. Beribu kali pun lo bilang begitu. Gue nggak peduli." Mawar menegakkan bahunya dan mendorong bahu lebar Raka hingga menjauh dari laki-laki itu.
Raka menendang salah satu kaki meja di ruang kelasnya. Meruntuk kasar dan mengumpat mendengar kata-kata terakhir Mawar. "Lo harus tau kalau lo nggak lebih dari pelacur perusak rumah tangga orang."


***

Mawar menjatuhkan diri di taman di belakang kampusnya. Mencoba menarik nafas panjang hingga udara sore itu mulai memenuhi rongga pernapasannya. Kata-kata Raka terus terngiang di kepalanya. Berputar seperti sebuah slide yang sedang mempertontonkan rekamannya.

Raka salah, omongan Raka tidak benar. Hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut Mawar untuk membantah semua tuduhan Raka. Raka tidak tahu apa-apa dan tidak seharusnya laki- laki itu mencampuri urusannya.
Raka tidak tahu apa-apa mengenai hidupnya. Dia tidak punya hak menodongkan jari telunjuknya untuk menghina Mawar.


***

Irham masuk ke apartemen itu dan menemukan Mawar tengah bersantai di rumah tamu dengan sebuah laptop di pangkuannya. "Di luar hujan deras." kata Irham sambil duduk di sebelah Mawar dan mengecup keningnya mesra. "Aku buatin teh hangat dulu." kata Mawar tapi belum sempat ia berdiri, tangan Irham mencekalnya. "Nanti aja." katanya lalu merengkuh Mawar dalam pelukannya. Terasa hangat. Batin Mawar. Pelukan yang sama dengan betahun-tahun lalu yang berhasil memporak-porandakan hati Mawar dalam hitungan detik. Mawar tidak pernah bosan biarpun laki-laki itu sudah memeluknya ratusan kali. Mawar selalu merindukannya, bahkan setiap malam.
"Ham, kamu pasti capek. Aku bikinin kamu teh sekalian makan malam ya." kata Mawar tepat di telinga Irham. Irham melepas pelukannya lalu mengangguk. "Kamu istirahat di kamar aja." kata Mawar sambil berlalu dari pandangan Irham menuju dapur.

Irham masuk ke satu-satunya kamar yang ada di apartemen itu. Kamar Mawar, kamarnya, kamar mereka berdua. Kamar yang menjadi saksi bahwa mereka saling mencintai satu sama lain. Tempat yang selalu membuat Irham ingin pulang tapi ia juga sadar bahwa rumahnya bukan di sini. Mawar bukan rumah yang menjadi tujuannya pulang.


Aroma harum yang menguar membuat Irham tergelitik untuk menghampiri Mawar di dapur. "Pas banget. Ayo makan." kata Mawar saat melihat Irham berdiri di ambang pintu.

"Gimana kuliah kamu?" tanya Irham sambil mengunyah. "Baik, skripsi juga udah tahap akhir." Mawar bercerita lugas. Menceritakan kesehariannya di kampus tentu saja minus mengenai kejadiannya bersama Raka. Kegiatan ini rutin mereka lakukan. Setelahnya, Irham akan menceritakan kesehariannya di kantor. Bercerita mengenai klien-kliennya yang menyebalkan.

Mawar sering berandai-andai kalau ia dan Irham bisa berbagi kisah setiap saat. Bukan hanya saat Irham pulang dari kantornya dan mampir ke apartemen Mawar.


Jam menunjukkan pukul delapan saat mereka masih terlihat asik berceloteh di meja makan. Suara denting pesan mengalihkan perhatian mereka. Irham merogoh ponselnya dan menemukan sebuah pesan di sana.

"Udah waktunya pulang?" kata Mawar. Irham tersenyum kecil lalu mengangguk. "Aku pulang dulu ya. Besok aku transfer uang bulanan kamu." kata Irham sambil mencium dahi Mawar lalu menghilang di balik pintu apartemen.

Secepat itu. Kehangatan di apartemen itu selalu menghilang tiap pintu apartemen menghilangkan sosok Irham. Kemewahan di apartemen itu tidak serta merta membuat tiap ruang di sana terasa hidup. Bagi Mawar, hanya Irham yang bisa memberikan hawa kehidupan di tempat tinggalnya itu.

Hanya jejak Irham yang masih menyisakan aroma tubuh pria itu. Di Sofa, dapur bahkan ranjang di kamarnya. Aroma Irham melekat begitu kuat seperti sengaja di tinggalkan agar saat Mawar merindukan pria itu, Mawar tidak akan pernah melupakan wangi khasnya.


***

Irham memarkirkan mobilnya di garasi dan melihat istrinya membukakan pintu. Irham mencoba tersenyum lalu mengecup pipi istrinya. "Kan aku udah bilang nggak usah nunggu aku pulang." kata Irham. Irham mengucapkannya dengan nada dingin tapi di telinga Bunga, kata itu begitu merdu dan hangat. "Aku buatin teh ya." kata Bunga sambil mengambil jas yang di sampirkan asal oleh Irham di sofa. "Nggak usah, langsung istirahat aja. Kamu pasti udah ngantuk." kata Irham sambil masuk ke dalam kamar.

Mata Bunga masih menyalang saat napas Irham mulai teratur, menandakan pria itu mulai lelap. Ia menelusurkan jarinya di wajah pria itu. Dari dahi ke mata, pipi, hidung lalu berakhir di dagunya. Ia terseyum, menyadari bahwa ia begitu mencintai suaminya.
Irham mengeratkan pelukannya pada Bunga. Membuat Bunga terkesiap. Irham merindukan Mawar. Hanya wanita itu yang selalu di pikirkan Irham sebelum tidur. Berharap mimpi bisa menghantarkannya bertemu dengan Mawar.


***

Hampir tiga tahun, sejak Raka menjadi mahasiswa baru di kampus Mawar. Mawar sudah terbiasa mendapat perlakuan buruk dari pria itu. Bukan sekali dua kali Mawar di permalukan oleh pria itu di depan orang banyak hingga bahkan mungkin sebagian dari mereka menganggap Mawar benar-benar wanita simpanan. Tapi sesering apapun Raka menderukan omongan itu tepat di telinga Mawar, Mawar akan langsung menulikan telinganya hingga kata-kata itu terasa seperti hembusan angin lalu. Hingga saat ia sudah kehilangan kesabaran, ia akan menangis. Seperti kemarin.



***

"Jadi udah di transfer berapa puluh juta?" teriak Raka saat melihat Mawar keluar dari bilik ATM di lingkungan kampusnya. Mawar berusaha tak acuh lalu kembali berjalan menuju kantin. Raka yang tidak pernah puas melangkah lebar-lebar mengejar Mawar hingga langkah mereka sejajar. "Jadi abis ini mau ke mana? Belanja barang ber-merk? Nonton? beli perhiasan? Ke salon? Atau malah cari om-om lagi?" Mawar berhenti. Mencoba mengusir bayang-bayar Raka dan senyum mengejeknya. "Apapun yang mau gue lakuin, itu bukan urusan lo." kata Mawar tegas. Berusaha tidak terintimidasi oleh tatapan Raka yang seakan menelanjanginya. Raka tersenyum lebar, menyadari bahwa Mawar sudah selangkah lebih maju karena berani menatapnya secara terang-terangan.

"Pelacur, gue bingung kenapa lo buang-buang waktu buat kuliah. Bukannya melacur nggak membutuhkan pendidikan yang tinggi?" Raka dan Mawar masih berhadapan. Di selimuti oleh amarah yang menguar dari kedua orang tersebut. Mawar merasakan darahnya bergejolak hebat hingga akhirnya satu tamparan mendarat di pipi Raka. Cukup kuat karena wajahnya sampai terpental ke belakang.
"Kalau lo nggak tau apa-apa tentang gue. Jangan pernah campuri urusan gue." kata Mawar dengan kilatan tajam di ke dua bola matanya. Raka mencekal tangan Mawar. "Jangan pernah sentuh gue dengan tangan lo yang kotor itu. Gue jijik." katanya sambil melempar lengan Mawar jauh-jauh.


***

Raka menatap Bunga yang tengah membuat kue di dapurnya. "Kamu tumben jam segini mampir." tanyanya pada Raka yang kini duduk di meja makan dan mencicipi cokelat cair yang ada di meja.

"Iya, dosennya tadi ada yang nggak masuk." jawabnya cepat lalu memperhatikan gerak Bunga yang lincah. "Kakak bikin buat mas Irham?" tanyanya dan melihat wanita itu mengangguk pelan. "Bukannya mas Irham pulangnya selalu malem?" Raka tau persis. Irham akan bilang bahwa ia lembur padahal pria itu tengah mengunjungi simpanannya sepulang kantor. "Iya sih, tapi tadi aku udah minta dia pulang lebih awal dan dia bilang dia akan usahakan." Raka terseyum sinis. Ia tidak pernah tau kalau cinta bisa begitu membodohi seseorang.
"Nggak sekali dua kali lho kak, mas Irham pulang malem. Kakak nggak curiga?" Bunga seketika menoleh dan mendapati Raka tak acuh dan masih sibuk dengan bola-bola cokelat di piringnya. "Kakak percaya sama mas Irham. Kamu kenapa ngomong begitu?" Raka mengangkat bahu. Bingung bagaimana menjawab pertanyaan kakaknya walau ia ingin sekali menunjukkan kebenaran di depan Bunga. Bahwa suami tercintanya, sahabat kecilnya, orang yang paling dia percaya telah berkhianat dan bermain api di belakangnya.


***

Bunga tidak pernah lelah menunggu untuk menyambut Irham sepulang kantor walau akhirnya ia harus mendesah pelan saat mobil Irham tak kunjung menderu di pelataran rumah mereka dan pesan singkat yang dikirimkan Irham selalu berhasil membuatnya tubuhnya lemas tak bertulang.

Bunga tidak tau bahwa persahabatannya dengan Irham yang akhirnya berubah menjadi ikatan suami istri bisa berubah begitu cepat. Dulu, Bunga akan selalu merajuk kalau Irham terlalu sibuk kuliah dan mengabaikannya. Tapi sekarang, Bunga harus menelan kata 'Maklum' bulat-bulat.
Irham nyaris tidak mempunyai waktu untuknya bahkan di saat weekend. Tapi Bunga sadar bahwa ini adalah konsekuensi menjadi istri seorang workaholic.


***

Raka duduk tenang di mobilnya. Menatap apartemen mewah di depannya. Malam bergelayut manja dan Raka berusaha mengusir bosan dengan menyetel musik di mobilnya.

"Dua menit lagi." lirihnya. Ia memfokuskan pandanganya. Sesuai dugaannya, dua menit kemudian seorang pria berpakaian lengkap dengan jas hitam yang sudah sangat ia kenal keluar dan berjalan cepat menuju fortuner yang terparkir di lingkungan apartemen itu.
"Bajingan." runtuknya sambil menyalakan mesin lalu mengikuti mobil itu hingga terparkir sempurna di rumah kakaknya, Bunga.
Ia berdiam sebentar. Mencoba menetralkan emosi yang sudah menguasainya.


***

"Mas Irham sayang sama ka Bunga?" Raka menatap pria yang tampak terkejut di depannya. Raka memang menemui Irham siang ini di kantornya.

"Tentu saja. Kenapa kamu tanya seperti itu?" Raka menyesap kopinya. Berusaha tidak terpancing emosinya.
"Terus kenapa mas Irham selingkuh?" Raka berusaha menatap Irham yang sekali lagi tampak terkejut. "Maksud kamu?"
"Mawar. Gadis simpanan mas Irham. Kenapa mas tega?" Raka melihat wajah Irham memucat seketika. Raka tidak tahu kalau apa yang baru saja dikatakannya mampu menembus dinding kesadaran Irham. Dadanya terasa di tonjok begitu keras.
"Ka Bunga kurang apalagi?" Irham mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Antara kaget, marah, bersalah bercampur menjadi satu dan ia sendiri tidak tau mana yang lebih mendominasi.
"Kamu nggak tau apa-apa tentang Mawar." katanya akhirnya. Ucapannya pelan, nyaris tidak terdengar.
"Raka emang nggak tau apa-apa. Raka cuma tau kalau mas Irham udah ngeduain ka Bunga, mas Irham udah selingkuh, mas Irham bajingan." Raka menadaskan isi gelasnya, lalu berdiri. Meninggalkan Irham yang masih berusaha mengendalikan emosinya.


***

Irham sadar bahwa suatu saat apapun yang ia sembunyikan akan terbongkar. Ia pikir ia bisa jujur pada Bunga mengenai sosok Mawar yang selama ini ada di tengah-tengah mereka.

Mawar si tokoh abu-abu yang selalu terlibat dalam hubungan Irham dan Bunga. Tapi ternyata ia terlambat karena sosok Mawar sudah lebih dulu ditemukan Raka, adik Bunga.
Sebelumnya Irham merasa ia hanya mencintai Bunga dan rasanya pada Mawar hanya rasa kasihan. Tapi ia salah, rasa untuk Mawar terus bertumbuh lalu mengakar begitu kuat. Tapi bagaimana bisa seseorang mencintai dua wanita berbeda di saat yang bersamaan. Irham mengalaminya, bagaimana ia mencintai Bunga dan Mawar diwaktu yang sama. Tentu saja ia tidak diam saja, ia tau bahwa apa yang ia lakukan akan menyakiti mereka berdua. Berbulan-bulan Irham menelaah perasaanya baik-baik dan bukankah memang ada yang harus dikorbankan agar dua-duanya tidak tersakiti.
Tapi pilihan Irham tidak pernah bisa ia eksekusi dengan tepat sehingga akhirnya ia terjebak seperti sekarang.


***

Irham masuk ke apartemen itu dan menemukan Mawar tengah berada di dapur. "Hei." kata Mawar saat melihat Irham berdiri di ambang pintu. Pria itu tersenyum lalu menghampiri meja makan. "Makasih." kata Irham saat Mawar menaruh secangkir teh hangat dengan uap yang masih mengepul di hadapannya.

"Pulang cepet? Kenapa?" tanya Mawar saat melihat jam dinding dan biasanya laki-laki itu baru sampai dua jam lagi.
"Adik Bunga udah tau tentang kamu." Mawar yang sedang menyesap tehnya tersedak kaget. "Kok bisa?" Mawar menatap Irham yang tampak dingin. "Tadi siang dia ke kantor dan bilang kalau dia tau aku punya simpanan."
Hati Mawar bergetar hebat lalu berdiri dan duduk di samping Irham. Ia tau ia tidak akan bisa menjadi seperti Bunga. Ia tidak sepadan dengan Irham meskipun ia memiliki hak atas Irham.
"Aku terima semua keputusan kamu." Mawar mengelus pundak Irham pelan. Berusaha membuat Irham berfikir bahwa ia akan baik-baik saja, walaupun di lubuk hatinya, jantungnya terasa di remas begitu kuat. Sesak.
"Kamu tau apa pilihan aku kan? Aku sayang sama kamu. Aku cinta kamu Mawar." Irham menatap wajah Mawar yang mencoba tersenyum kaku. Irham tau bahwa bukan hanya dirinya tapi Mawar juga dilanda ketakutan luar biasa.
Irham mengambil dagu Mawar untuk menatapnya. Ia tersenyum "Udah tenang aja. Kita pasti baik-baik aja." kata Irham lalu mengecup pelan dahi Mawar.


***

Hujan turun begitu derasnya. Membuat Bunga yang tengah terduduk di ruang tamu khawatir karena Irham belum juga pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Angin dan petir menghiasi hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Suara dering telepon menggugah Bunga dan suara orang di seberang membuat tubuhnya kaku. Air matanya menetes seperti air hujan yang turun di luar. Kakinya lemas, butuh kekuatan agar bisa menopang dirinya sendiri.


***

Mawar nyaris menabrak semua orang yang menghalanginya. Ia membiarkan langkahnya terseok-seok dan gemuruh sumpah serapah mengiringi langkahnya. Yang ingin ia lakukan adalah membuktikan dengan mata kepalanya sendiri kebenaran pesan dari nomor asing yang masuk ke ponselnya.

"Irham kecelakaan. Dia di rumah sakit Medika center." Pesan itu masuk dan nyaris membuatnya tak sadarkan diri.
Dia berdiri di lorong UGD. Kakinya membeku di tempat. Di sana, dia melihat Bunga dan Raka tengah berdiri di ruang UGD. Raka? Kenapa Raka ada di sini? Sekelumit pembicaraannya dengan Irham perlahan muncul. Raka adiknya Bunga, Raka adik ipar Irham. Raka tau tentang Mawar dan itulah yang membuat Raka membenci Mawar.
Mawar masih membeku di tempat. Sama sekali tidak berani mendekat walau selangkah. Air matanya menetes dan ia mundur perlahan. Mengambil ponsel di sakunya dan mengetikan sebuah pesan ke nomor asing yang memberinya kabar mengenai kecelakan Irham.

Gimana keadaannya?

17 maret 2016. 23.25

Raka terkejut mendapati pesan itu di ponselnya. Ia masih memeluk Bunga, memberikan ketenangan untuk wanita itu.


Kritis. Jangan pernah ganggu hubungan Irham sama Bunga mulai detik ini. Lo bukan cuma pelacur tapi lo juga pembawa sial.

17 maret 2016. 23.29

Air mata Mawar mungkin tidak sebanding dengan air mata Bunga. Kesedihan Mawar mungkin tidak sebanding dengan kesedihan Bunga. Tapi bukankah ia juga punya hak atas Irham. Bukankah ia juga berhak ada di samping Irham untuk melewati masa kritis pria itu. Tubuh Mawar merosot ditembok. Ia terduduk dan memeluk lututnya yang terasa dingin. Ia terisak, menangis tanpa suara.



***

Mawar menahan keinginannya itu mendekat dan memeluk batu nisan yang tengah di kerubuti oleh pelayat yang hampir semua memakai baju hitam. Ia terus menangis, tidak peduli sudah berapa banyak air mata yang keluar dari matanya. Menahan dingin yang menyergap kulitnya. Angin berhembus kencang, menandakan sebentar lagi langit bersiap menumpahkan muatannya. Ia masih bertahan di sana saat rintik hujan mulai membasahi gundukan tanah itu. Menatap orang-orang yang perlahan pergi meninggalkan tempat peristirahatan Irham.

Setelah memastikan tidak ada sosok yang tertinggal, ia melangkah gontai dan meluruh memeluk tanah basah itu. Menangis sejadi-jadinya. Mengindahkan tubuhnya yang sudah basah diguyur hujan.
"Irham..." lirihnya nyaris tidak terdengar. Selama ini hanya Irham satu-satunya alasan untuk ia bertahan hidup. Tidak ada yang lain karena Mawar memang sudah tidak punya siapa-siapa.
"Kenapa kamu ninggalin aku." Mawar tidak menyadari bahwa bibirnya mulai berubah warna. Seluruh kulitnya nyaris memucat.
Mawar semakin terisak saat menyadari ia bahkan tidak sempat memeluk Irham sebelum sosok itu masuk ke liang lahat. Ia tidak berada di sisi Irham saat pria itu dalam masa kritis dan menghembuskan napas terakhir. Mawar bahkan tidak sempat walau sekadar melirik Irham di ruang UGD karena Bunga tidak pernah meninggalkan Irham walau sedetik.

Mawar terkesiap saat siluet tegap itu berdiri di belakangnya dan mengarahkan payung di atasnya hingga tetes hujan tidak lagi menyapu kulitnya.

Mawar mengangkat wajah dan terkejut melihat Raka menatapnya dingin, tanpa ekspresi sedikitpun.

Mawar tidak berarti tanpa Irham. Mawar tidak berharga tanpa Irham dan sekarang Mawar harus terseok-seok menjalani hidup tanpa Irham

Monday, 21 March 2016

ELEGI (DUA)

Terkadang Cinta tidak hanya butuh pengakuan, tapi juga pembuktian
 "Bam, menurut lo Ivi gimana?" Fery berbisik pada Ibam lalu melirik Ivi yang sedang membicaraan pekerjaan dengan Adam di meja Iren. "Gimana apanya?" tanyanya balik, berusaha tak acuh walau ekor matanya terus menangkap gerik-gerik Ivi.
"Muda, cantik, mapan, jomblo lagi." kata Fery dengan semangat. "Jutek." Ibam berkata tegas lalu kembali membolak-balik surat di depannya. "Tapi kalo dia sama Adam cocok juga ya bro." Fery kembali melirik ke arah Ivi yang tengah jalan berdampingan dengan Adam menuju ruang meeting kecil yang ada di sana. "Nggak cocok. Cocokan sama gue." katanya sambil tertawa membuat sebuah gulungan kertas mengenai kepalanya.
Ibam: Jangan terlalu deket sama Adam.
Ivi membuka pesan itu di tengah-tengah meeting dan sukses membuat dahinya berkerut dalam.
Ivi : kenapa?
Ibam : kamu makin keliatan cocok kalo keseringan deket sama dia.
Ivi tersenyum. Menyadari bahwa isi sms Ibam itu seperti berbunyi 'aku cemburu sama dia.'
Kalau dilihat Adam yang menjabat sebagai Manager Akunting memang begitu cocok jika disandingnkan dengan Vivian Wijaksana yang juga menjabat sebagai Manager keuangan di umurnya yang masih dua puluh lima tahun. Kombinasi tampan dan mapan harusnya membuat keduanya menjadi pasangan yang sempurna.
Ivi keluar dari ruang meeting jam tiga lewat lalu menghampiri meja Lisa. "Lis, saya minta dokumen ini ya. Saya udah bilang sama Pak Adam. Minta tolong besok sebelum jam makan siang kamu kasih ke saya." katanya pada Lisa yang langsung mengangguk. "Siap mbak." jawabnya lalu menghampiri Fery. "Fer, Dokumen yang waktu itu di minta urgent sama pak Arsan udah di selesaikan belum. Udah mau diproses nih?" Ivi menyanggah tangannya di partisi meja Fery. "Oh, itu sama Ibam Vi." katanya sambil menoleh ke arah Ibam yang nampak cuek. "Ibam, mana dokumennya?" kata Ivi, kini ia mendekati Ibam. "Dokumen yang mana?" tanya Ibam. "Itu yang kemarin lo urus. Dokumen perizinannya juga sama elo kan?"
"Oh yang itu." Ibam berdiri. Membuka lemarinya dan mengambil satu map putih. "Ini itu dokumen urgent. Saya kena omel sama pak Arsan karena dikira belum jalanin." Ivi menatap Ibam yang menujukkan wajah tanpa dosa. "Baru clear kemarin malem kok. Emang dikira ini dokumen nggak pake di cek dulu." katanya lalu kembali duduk di kursinya. Membuat Fery geleng-geleng kepala. "Kalau di omelin pak Arsan. Bilang suruh ngomong sama saya." kata Ibam enteng. Ivi menggeram kesal. Bener-bener hari sialnya. Dateng mepet, diburu kerjaan, diomelin sana-sini. "Pit, tolong proses ini ya." katanya pada Pipit lalu kembali ke ruangannya.
Ibam : ntar jangan lembur lagi. Pulang jam lima bareng aku.
Ivi : nggak bisa jawab sekarang. Lagi ngerjain laporan buat pak Arsan.
Ibam : harus
Ivi menaruh ponselnya tanpa membalas. Ia sadar bahwa percuma berdebat dengan Ibam. Hanya membuang-buang waktu karena tau Ibam begitu keras kepala dan tidak mau mengalah padanya sedikitpun. Lebih baik waktu yang akan digunakan untuk berdebat ia gunakan utuk mengerjakan laporan yang diminta Pak Arsan, Direktur keuangannya agar cepet selesai.
Ibam melirik ke ruangan Ivi yang masih tenang. Sepertinya belum ada tanda-tanda orang di dalam mau keluar padahal sudah lewat setengah jam dari jam pulang. "Ayo balik Bam." Fery menepuk pundak Ibam sambil menyanggah ranselnya. "Duluan deh, gue bentar lagi." katanya.
"Ibam ayo pulang. Gue nebeng yah." kata Lisa tepat saat Ivi keluar dari ruangannya. "Eh mbak Ivi. Pulang duluan mbak." katanya ramah pada Ivi yang masih berdiri di depan pintu ruangannya. "Ayo Bam. Gue nebeng boleh kan?"
"Gue belum mau pulang Lis. Lo duluan aja."
"Terus lo balik jam berapa? Kalo nggak lama gue tungguin aja." katanya sambil berjalan menghampiri Ibam. Tidak menyadari bahwa Ivi masih berdiri di sana memperhatikan. "Lama pokoknya. Udah lo duluan aja." katanya, membuat Lisa merengut. "Yaudah gue duluan kalo gitu." Lisa beranjak keluar dari ruangan.
"Belum mau pulang?" tanya Ibam pelan saat berjalan menghampiri Ivi karena melihat Ivi masih membawa sebuah map dan bukan tas. "Mau kasih laporan ke Pak Arsan dulu." jawabnya sambil berjalan keluar ruangan masih dengan nada berbisik. "Ngasih laporan doang tapi bisa ampe berjam-jam. Susah kalo jadi anak buah kesayangan mah." tanpa menoleh Ibam berbelok ke toilet sedangkan Ivi naek ke lantai atas.
Dugaan Ibam benar. Ivi tertahan hampir satu jam padahal niatnya hanya kasih laporan yang diminta Pak Arsan. Ia mulai bosan saat atasannya itu masih saja memberondongnya dengan pertanyaan-pertannyaan mengenai laporan itu. Baca dulu kek pak laporannya, baru kalo ada yang nggak jelas tanya. Percuma saya kasih hard copy sama soft copy kalo ujung-ujungnya saya kudu presentasi gini. runtuknya dalam hati.
Saat kembali ke ruangannya ia melihat meja Ibam sudah rapi. Komputernya juga sudah dimatikan.
Ivi : udah pulang?
Ibam : udah selesai?
Kebiasaan. Ditanya malah balik nanya. Kata Ivi dalam hati
Ivi : udah
Ibam : aku di coffe shop biasa. Aku tunggu di depan lima menit lagi.
Ivi bergegas membereskan barang-barangnya lalu keluar dari ruangannya. "Mau pulang Vi?" Ivi berhenti lalu berbalik, melihat Adam yang baru saja turun dari tangga. "Iya nih, gue duluan ya." katanya sambil masuk ke dalam lift.
Ia perlu melewati tiga gedung kantor untuk bisa melihat motor Ibam menepi di depan sebuah coffe shop. "bener kan? Ngasih laporan aja berjam-jam." katanya sambil menyerahkan helm ke arah Ivi. "Kamu tau banget sih." Ivi balik meledek. Lalu duduk di belakang Ibam.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan kala Ibam dan Ivi terduduk di taman belakang rumah Ivi. "Maaf ya tadi aku sinis sama kamu." kata Ibam sambil merangkul pundak Ivi. "kamu emang selalu menyebelin kalo di kantor." Ivi mengerucutkan bibirnya. "Aku kena semprot sama Pak Arsan karena dikira belum jalanin itu dokumen." Ivi merebahkan kepalannya di bahu Ibam. Mencari kenyamanan disana. "Dokumen itu baru selesai aku cek tadi malem. Lain kali kalo emang kamu nggak salah jangan mau diomelin. Suruh dia ngomong langsung sama yang bersangkutan."
"Kamu kayak nggak kenal Pak Arsan aja sih Bam. Udahlah, males banget ngomongin kerjaan."
Ibam tertawa lalu merengkuh tubuh Ivi lebih erat. "Jadi gimana? Belum mau ngalah?" tanya Ibam
"kamu yang harus ngalah Bam." sungutnya jengkel.
"besok mau bareng aku atau bawa mobil?" Ibam melepas pelukannya, bersiap pulang. "Bawa mobil aja. Kalo bareng kamu pulangnya di buru-buru terus."
"Biar nggak bareng sama aku kamu tetep nggak boleh pulang malem. Jaga kesehatan kamu Vi." katanya sambil mencubit pipi Ivi gemas. "iya bawel."
***
"Ivi sehat Bam, kok jarang maen sih?" Ibam yang sedang sarapan melihat ibunya yang tengah sibuk mengaduk-aduk tehnya. "Sehat. Lagi sibuk baget bun, ntar klo sempet aku ajak kesini deh."
"Terus kamu kapan mau ada kemajuan sama Ivi?" kali ini ayahnya menimpali
"Nanti yah, ini juga udah lagi di pikirin kok."
Setelah menyelesaikan sarapannya Ibam manuju garasi untuk mengambil motornya. Kondisi Jakarta yang macetnya nggak ketulungan ngebuat Ibam lebih memilih motor maticnya daripada mobil. Alasannya cuma satu karena butuh waktu tiga kali lebih banyak jika ia memutuskan untuk membawa benda beroda empat itu.
Suasana kantor pagi ini terasa beda bagi Ibam. Entahlah, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. "Ada apa sih?" tanya Ibam pada Fery saat menyadari hampir semua pasang mata karyawan disana menatap satu pintu. Pintu ruangan Ivi.
"Ada anak magang baru. Anaknya Pak Arsan. Jadi bagian keuangan. Satu ruangan sama Ivi." jawabnya penuh semangat. "Cuma itu?"
"Lo belum liat tampang anaknya Pak Arsan. Ganteng Bam. Anak-anak udah yakin banget kalo Ivi bakal nyangkut sama tuh cowok."
"HAH?" Ibam secara tidak sadar mengucapkan itu keras-keras. Membuat Fery heran. "Lebay lo, biasa aja. Tampangnya nggak ada mirip-miripnya sama pak Arsan. Ini asli kayak anak pungut."
Ibam bergerak gelisan dimejanya. Matanya diam-diam melirik pintu ruangan Ivi. Berharap pintu itu terbuka dan menujukkan sosok anak baru yang sedang menjadi hits di seantero kantornya.
Ivi termangu di mejanya. Merasa risih karena sedari tadi Erga terus menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit diartikan. "Papa sering cerita banyak tentang mbak Ivi. Katanya mbak orang kepercayaan papa." Erga entah sudah berapa puluh kali membuyarkan konsetrasi Ivi karena selalu bertanya atau lebih tepatnya curhat masalah nggak penting kaya gini. Membuat Ivi tidak tau harus menanggapinya seperti apa.
"Mbak Ivi hebat ya. Baru umur dua lima udah bisa jadi manager disini."
"Panggil Ivi aja. Nggak usah terlalu kaku. Semua yang ada disini nggak terlalu formal kok kalo nggak terpaut umur jauh. Lo dua tiga kan? Dulu gue kuliah sambil kerja. Ya kira-kira udah tujuh tahunan. Dan kebetulan udah dari awal jadi anak buahnya pak Arsan."
Ivi melirik Erga yang mengangguk-angguk lalu kembali terfokus ke komputernya.
Ibam : Ada anak magang di ruangan kamu?
Ivi : Iya, Anaknya pak Arsan
Ibam : Kamu jangan terlalu deket sama dia.
Ivi : Kenapa?
Ibam : cewek disini banyak yang naksir. Takut kamu di keroyok. Udah deket sama Adam deket sama dia juga. Kasih kesempatan buat yang lain.
Ivi : Cemburu?
Ibam : Nggak lah, kamu kan nggak mungkin bisa lepas dari aku.
Ibam tidak tau kalau yang disebut Erga itu adalah pria tinggi atletis dengan wajah yang bisa dibilang ganteng pake banget. Ia menelan ludah saat melihat Erga dan Ivi keluar dari ruangan untuk makan siang. "Makan dimana Vi?" Pipit mendekat sementara Ivi sadar bahwa banyak pasang mata kini menatapnya atau lebih tepatnya menatap Erga yang ada disampingnya. "belum tau." Ivi melihat Ibam sekilas. "Makan dimana Bam?" tanyanya. Ia mendongkak, memutar matanya lalu berkata. "Soto ayam dibelakang aja yuk." Ibam mendekati Ivi lalu melirik Erga sekilas. "Ibam." katanya sambil mengulurkan sebelah tangannya. "Eh? Erga." Erga menjabat mantap uluran tangan Ibam.
***
"Bener anaknya pak Arsan?" tanya Ibam saat ia dan enam rekan kerjanya yang lain termasuk Ivi dan Erga selesai menyantap makan siangnya. Pria berumur dua puluh tiga tahun itu mengangguk. "Kok nggak mirip Pak Arsan ya?" tanyanya sambil tertawa kecil, membuat yang lain ikut tertawa. Alih-alih merasa tersinggung Erga justru ikut terkekeh ringan. "Banyak nurun dari nyokap kalo muka sih."
Acara singkat makan siang membuat Ibam langsung bisa menyimpulkan bahwa Erga memang punya rasa yang lebih sama Ivi. Ibam bisa melihat dari caranya menatap Ivi ataupun berbicara pada wanita itu. Fix, Erga naksir sama Ivi.

Wednesday, 16 March 2016

ELEGI (SATU)

Terkadang, Aku hanya tidak tau bagaimana harus bilang bahwa aku menyayangimu lebih dari apapun

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Ruangan kantor itu semakin sepi. Beberapa karyawan berangsur-angsur menjejalkan jarinya ke mesin absen. Ibam masih di tempatnya. Terlihat masih sibuk dengan berkas-berkas perijinan di depannya. Ia membolak-balik lembar demi lembar itu lalu mengetikkan sesuatu pada komputernya.

"Belum pulang?" Ivi menaruh segelas kopi di atas meja Ibam. "Makasih." jawabnya sambil menyingkirkan beberapa dokumen sebelum menyesap pelan kopinya. "Belum, sebentar lagi. Mau email ke Eka dulu abis itu baru pulang. Kamu sendiri?" katanya pelan lalu melihat ke sekitar. Memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Ivi melirik ke arah ruang meeting tak jauh dari tempatnya duduk. "Belum selesai." jawabnya pelan. "Jangan pulang malem-malem. Kamu bawa mobil? Atau mau bareng aku?" Tanya Ibam dengan suara pelan.
"Nggak usah, aku bawa mobil kok." Ivi menyandarkan punggungnya di kursi. "Pokoknya awas aja kalo kamu pulang bareng Adam." Ibam melotot, membuat Ivi tertawa ringan. "Kamu cemburu?" tanyanya. "Ya kamu pikir aja sendiri."
***
Ivi terperajat saat membuka mata dan menemukan jam sudah menjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Ia berteriak lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor Ibam. "Bam, aku kesiangan, kamu jemput aku ya. Titik. Bye." katanya tanpa memberikan kesempatan orang di ujung sambungan untuk berbicara sama sekali.
Ia melangkah cepat menuju kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian "Mama kenapa nggak bangunin Ivi?" katanya pada mamanya yang sedang menyiapkan sarapan. "Mama tadi udah gedor-gedor kamar kamu. Tapi kamunya nggak bangun-bangun juga." Ivi duduk di tempat biasa sambil merengut kesal lalu mengutak-atik ponselnya. "Makannya kamar itu nggak usah di kunci." katanya lagi. Ia mengunyah selembar roti tanpa selai lalu menenguk susu hangatnya cepat.
"Pelan-pelan Vi, nanti keselek." Ivi menoleh. Mendapati Ibam sudah ada di ambang pintu ruang makannya. "Pagi mah." katanya pada Silvia, Mama Ivi. "Pagi nak Ibam, ayo sini sarapan dulu."
"Nggak usah mah, Ibam udah sarapan kok di rumah." katanya mendekat lalu mengusap pucuk kepala Ivi. "Makannya jangan pulang malem-malem. Kesiangan kan." katanya pada Ivi yang masih berjuang menelan lembar kedua rotinya.
"Udah yuk Bam, ntar telat lagi. Ivi duluan Mah." katanya setelah mencium punggung telapak tangan mamanya dan menarik paksa tangan Ibam. "Kan aku udah bilang kalo bareng sama aku itu jangan pake rok." Ibam memperhatikan Ivi yang tampak repot naik ke motornya karena rok pendek ketatnya. Ia membuka jaketnya dan memberikannya pada gadis di belakangnya, menyuruh Ivi menutupi pahanya yang tersingkap. "Udah nggak sempet pilih-pilih baju Ibam." katanya setelah berhasil mendudukkan diri di jok belakang motor matik Ibam. "Oke Sip. Ayo berangkat."
***
Ibam sampai di kantor beberapa menit setelah Ivi. Ia melihat ruangannya yang mulai ramai dan melirik Ivi yang tengah berbicara dengan salah satu anak buahnya di ujung ruangan. Rajin banget. Bukannya nafas dulu udah langsung kerja aja. katanya dalam hati lalu duduk di tempatnya dan menyalakan komputernya.
"Ibam, mau teh nggak? Gue mau bikin nih. Kalau mau gue bikinin sekalian." Lisa, salah satu staf akunting berteriak pada Ibam. "Boleh Lis, aduh lo emang baik banget deh." katanya sambil tersenyum pada Lisa yang kursinya hanya beberapa blok dari tempat duduknya. Ivi melirik sebal pada Lisa yang sudah pergi menuju Pantry. Lalu pandangannya jatuh pada Ibam yang mengangkat bahu dengan tidak ketara.
"Jadi gimana mbak?" suara Iren membuat fokus Ivi kembali terpusat. Ia kembali ke urusannya. Menjelaskan maksudnya pada Iren lalu kembali ke ruangannya.
Ibam : makan siang dimana?
Ivi melirik jam di mejanya . Jam 11.06.
Ivi : belum tau. Ada usul?
Ibam : Aku sama anak-anak mau ke mall sebelah.
Ivi : siapa aja?
Ibam : Fery, Afran, Lisa, Iren, sama Dito
Ivi mendadak sebal melihat nama Lisa ada dilayarnya. Lalu mengetikkan jarinya kembali.
Ivi : Nggak usah deh, aku sama Pipit ke belakang aja.
Ibam : Oke.
"Vi, mau makan di mana? Ibam ngajak makan di mall sebelah." Pipit, salah satu sahabat baik Ivi masuk keruangannya. Ia yang sedang menatap serius komputernya mendongkak. Melihat Pipit yang sudah duduk di kursi di depannya tanpa disuruh. "Kita ke belakang aja deh Pit." jawabnya sambil membereskan mejanya lalu mengambil dompet di tasnya.
"Bam, gue nggak jadi ikut. Ivi mau ke belakang aja." katanya pada Ibam saat keluar dari ruangan Ivi, Ruangan mereka ada di lantai lima, berisi bagian keuangan, Akunting dan Legal. "Oh, yaudah titip Ivi ya Pit." katanya sambil tertawa. Bukan hal yang baru bila Ibam, laki-laki tampan yang terkenal humoris di seantero kantor melontarkan candaan untuk menggoda teman rekan kerjanya. Biasanya Ivi akan biasa aja kalau saja yang digoda bukan Lisa.
"Makan di mana Vi?" mereka menoleh ke asal suara. Adam, Manager Akunting baru saja keluar pintu. "Ke Mall sebelah aja yuk Dam, sekalian cuci mata." Ibam menyahut sebelum Ivi sempat menjawab. "Gue nanya Ivi, buka elo Bam." katanya lalu menghampiri. "Ke belakang." jawabnya pelan. "Udah ikut kita aja Dam, nggak bosen apa ke belakang mulu. Sekali-kali makan sekalian cuci mata. Kali aja ada yang nyangkut." Ibam menghampiri Adam lalu menarik paksa tangannya. Membuat Ivi dan yang lainnya melirik bingung.
"Gue ikut Ivi sama Pipit ke belakang aja." katanya setelah mereka keluar dari lift. "Ih jangan, udah ikut kita aja kenapa sih." katanya kekeuh. Membuat yang lain tertawa. "Lo nggak homo kan Bam." celetuk Fery. Membuat pria itu melotot garang.
"Ibam lucu banget ya Vi." kata Pipit saat mereka berdua duduk disalah satu tempat makan langganan mereka. Misi Ibam memang berhasil untuk membawa serta Adam dalam rombongan makan siangnya atau yang lebih tepat adalah tidak membiarkan Adam dan Ivi makan siang bareng.
"Biasa aja." jawabnya pendek.

Tuesday, 15 March 2016

ELEGI (Prolog)





Siapa bilang "PACARAN" perkara mudah. Buat Ibam dan Ivi, Ini jadi momok menakutkan karena satu peraturan keramat di kantor mereka. "DILARANG BERPACARAN DENGAN SESAMA STAFF." 

Tapi bukankah cinta bisa mengalahkan segalanya?
Ini bukan hanya tentang Cinta. Tapi ini tentang berdamai dengan keadaan dan seberapa bisa kamu bertahan saat engkau di hadapkan dengan seribu alasan untuk pergi.

Ini tentang ego pada tiap orang, Tentang perjuangan menjadi yang PALING BENAR dan menjadikan MENYERAH menjadi titik akhir yang meluruhkan ego.

Thursday, 25 February 2016

Covenant Of Marriage


Anna hanya punya Ibunya didunia ini dan bekerja sebagai seorang Asisten pribadi dokter adalah pekerjaan terbaik yang bisa ia dapat selepas drop out dari Columbia University.

Tapi pada kenyataannya, takdir membawanya pada Jullian Peter Haynsworth. Dokter muda yang menggiringnya kesebuah perjanjian pernikahan yang sama sekali tidak bisa ditolaknya, karena ia sadar bahwa ia membutuhkan apa yang ditawarkan pria itu kepadanya.
"Pintu hati Jullian adalah hal yang harus ia jauhi. Jangankan masuk, mengetukpun jangan. Tapi bisakan ia menekan perasaannya saat Jullian begitu terlihat manis dan menggoda. "
Cek kelanjutannya di sini

Friday, 12 February 2016

Laras Hati (Prologue)

Cantik dan Mandiri. Siapa sangka Lula C. Dimitri punya masalah kompleks dalam hidupnya. Diusianya yang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun dengan status “Single” Lula lebih suka fokus pada pekerjaannya sebagai Asistan Manager Accounting di salah satu perusahaan manufaktur keramik dan kaca terbesar di Jakarta. Disaat teman-teman seusianya sudah menyandang tiga posisi, sebagai wanita karier, istri dan seorang ibu. Lula harus puas hanya menyandang status wanita karir tanpa suami bahkan tanpa kekasih.

Lula pun harus pintar menulikkan telinganya saat mendengar orang-orang melontarkan kalimat dari neraka kepadanya. Apalagi kalau bukan “kapan nikah?”. Dan sialnya bukan hanya saat acara pernikahan yang ia hadiri yang mampu membuat Lula tersenyum getir mendengar pertanyaan itu tapi ibunya yang berada di Surabaya sepertinya punya jadwal dalam seminggu untuk menanyakan hal itu pada Lula.

Rafa A. Dinata tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. Tapi melihat sosok seorang gadis yang membentur benteng kesadarannya membuatnya yakin bahwa kini ia terseret pada pesona Love at the first sight. Rafa harus puas mengalami puluhan penolakan dan ke-sinisan hanya karena satu perbedaan “USIA.”

Wednesday, 20 January 2016

Last Minute



Naya termangu. Wajahnya pias. Ucapan laki-laki didepannya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena terasa loncat dari tempatnya. Seingatnya ia belum tuli, tapi kenapa laki-laki itu bisa bicara seperti itu? Naya yang semula menunduk mencoba mendongkak dan menatap bola mata cokelat yang kini berkilat hangat ke arahnya. Wajahnya tampak tegang, seakan apa yang akan keluar dari mulutnya begitu berpengaruh untuk hidup laki-laki itu.

“Nay” kata laki-laki itu, membuat sepenuhnya kesadaran Naya kembali terpusat di otak kecilnya. Ia mengambil nafas panjang. Ia rasanya ingin menceburkan diri ke jurang karena malu dan menonjok laki-laki di depannya karena marah. Tapi lebih dari pada itu dia bingung. Bagaimana bisa?

“kamu serius By?” dan Naya meluruh saat melihat Roby mengangguk mantap tanpa ragu.

“Tapi gimana bisa?” Naya merasakan suaranya bergetar. “Kamu selama ini bohongin aku?” dia menggeleng cepat seakan membantah semua yang berkecambuk di pikiran Naya.

“aku...aku...aku Cuma nggak mau kehilangan kamu.”

Naya mengusap wajahnya kasar. Sudah cukup, Roby sudah benar-benar membuatnya marah. Ia ingin sekali manampar wajah tampan dihadapanya, tapi kenapa tangannya terasa begitu kaku. Ia mau menampar, menonjok atau apapun yang bisa membuat wajah tampan itu manjadi tidak berbentuk.

“jawab jujur. Apa kamu serius sama omongan kamu barusan?” Naya mencoba bersabar. Ia menahan diri mati-matian untuk memberondong Roby dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah membuatnya pikirannya sesak sehingga terasa sakit.

“Aku serius Nay, Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.”

Naya melihat kilatan kesungguhan dalam binar matanya yang membulat sempurna. “tapi kamu kan gay?” Naya melihat senyum kaku Roby berubah getir. Ini lebih dari bencana. Bukan hanya kenyataan bahawa Roby, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka belajar berjalan kini menyatakan cinta padanya. Yang lebih menyakitkan buat Naya adalah kenyataan bahwa Roby bukan gay. Padahal saat mereka duduk dikelas satu SMP Roby meyakinkan Naya bahwa dirinya adalah seorang gay tanpa memperdulikan raut wajah Naya yang berubah kaget dengan sebuah kaleng minuman yang hampir dilemparkannya ke arah Roby.

***

“Kenapa nggak bilang sih kalo mau pulang bareng yayan?” Naya yang masuk ke kamarnya tidak heran melihat Roby yang sudah bersantai mesra dengan ranjangnya. Ini memang selalu menjadi kebiasaan mereka. Kalau tidak mengacak-acak kamar Roby ya pasti mengacak-acak kamar Naya. Kedekatan mereka dari kecil karena bertetangga dan ibu mereka bersahabat membuat mereka bebas berkeliaran disemua sudut rumah.

“iyan By, bukan yayan. Ganti-ganti nama orang aja dehh.” Jawabnya sambil melempar tas ke arah ranjang, hampir mengenai Roby dan membuat remaja itu merengut kesal. “iya nggak penting juga sih aku tau namanya.” Katanya sambil membuka majalah yang baru saja dilempar Naya bersamaan dengan ranselnya.

“Hp aku mati. Jadi nggak sempet ngabarin kamu.” Naya masuk ke kamar mandi dan suara air yang mengucur membuat Roby tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
Naya bersenandung kecil menikmati guyuran air dari shower yang menghujam kulit telanjangnya.

“udah lama? Udah makan siang belom? Mbak minah masak kan?” kata Naya sambil keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh berbalut handuk dari dada sampai pahanya.

“udah. Abisnya nungguin kamu lama.” Jawabnya sambil memperhatikan naya yang sedang berdiri didepan lemari. Memilah-milah pakaiannya sampai mengeluarkan sepotong tanktop dan hotpant warna cokelat.

“maaf deh.” Katanya tanpa membalik badan dan tanpa pertimbangan apapun melepas handuknya dan memakai pakaiannya. Masih didepan lemari dan membelakangin Roby yang menelan ludah dengan tidak ketara.

Ini memang bukan hal biasa. Semenjak Roby memproklamirkan dirinya sebagai seorang gay. Naya tidak pernah ragu untuk melakukan semua hal yang masuk dalam katagori privasi wanita kepada Roby. Ia merasa tidak punya rahasia apapun dengan sahabatnya itu. Dan yang pasti hanya Naya yang tau kondisi Roby. Tidak ada yang lain bahkan kedua orang tuanya sekalipun

***

“bagusan yang merah apa yang putih By?” Naya yang sedang ada dipusat perbelanjaan itu mengangkat dua buah dalaman dan menunjukkannya pada Roby. “yang merah bagus.” Jawabnya singkat. Ini yang membuat Naya senang. Berteman dengan Roby membuatnya merasa seperti mempunyai sahabat wanita yang satu pikiran. Roby tidak pernah menolak diajak nonton film romantis yang membuat naya akhirnya mewek ditengah-tengah film sampai memilih berbelanja dalaman wanita. Roby sama sekali tidak merasa jengah. Walau pun ya, menurut Naya sayang sekali kalau laki-laki seganteng Roby jadi gay. Dunia kehilangan satu spesis ganteng yang harusnya bisa jadi bahan rebutan gadis-gadis.

***

“Kamu beneran nggak suka cewek By?” tanya Naya suatu kali saat mereka tengah terlentang di hijaunya rumput taman komplek rumah mereka menyaksikan langit yang memerah.

“Kamu tau artinya gay nggak sih Nay? Nggak perlu aku jabarin kayak guru ngejelasin muridnya kan?” Naya menoleh lalu terkikik geli. Menatap mata Roby yang tidak lepas dari hamparan awan yang membentang diatas mereka.

“sayang yah. Cewek-cewek yang ngejar kamu kan banyak. Kalo mereka tau kamu gay pasti bakal ada patah hati masal disekolah kita.” Kali ini Roby melirik Naya melalui ekor matanya dan melihat gadis itu mengukir senyum di bibirnya.

“kamu tau Melani kan By. Dia kan cantik, putih, langsing, kamu nggak naksir juga sama dia?” Naya memperhatian langit yang semakin memerah sementara Roby menghela nafas berat, tapi tidak juga menjawab pertanyaan Naya. Mereka sibuk memperhatian perubahan warna langit hingga sang matahari tenggelam.

“jangan-jangan kamu juga patah hati ya?” tanya Roby saat mereka bangun dari rerumputan. Bersiap untuk pulang.

“iya, aku naksir berat sama kamu By. Tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan.” Naya tertawa renyah. Seakan apa yang baru saja ia beritahu adalah gosip yang sedang hits ditelevisi. Sedangkan Roby terhenyak ditempatnya

***

Sekelebat ingatan itu muncul di otak Naya. Ia memandang Roby yang menatapnya dengan tatapan begitu sulit di artikan. Bayangan saat ia mengganti baju dengan semena-mena di depan Roby, bayangan saat ia meminta Roby mengantarnya membeli baju dalaman, bayangan saat Ia dan Roby sering tidur siang berdua membuat bulu kuduknya meremang. Bukankah ini buruk. Ia malu bercampur marah. Entah mana yang lebih mendominasi, Naya tidak tau. Yang jelas semua rasa berkecambuk didadanya.

“aku nggak bohong kalo dulu aku bilang aku gay Nay.”

“terus?”

“Aku juga nggak tau. Tiba-tiba rasa itu muncul gitu aja. Aku juga nggak ngerti gimana jelasinnya sama kamu?”

“Sejak kapan?”

Roby mengangkat bahu dengan acuh. “kalau kamu nanya kaya gitu aku juga nggak tau.”

“terus kenapa baru sekarang kamu jujur?”

“karena kalau sejak dulu aku jujur sama kamu, aku takut kehilangan kamu. Aku takut nggak bisa deket lagi sama kamu.”

“ tapi kamu tau kan sekarang akibatnya apa?” Tangis Naya hampir pecah. Roby tidak pernah tau kalau Naya mencintainya. Semenjak Roby bilang bahwa ia gay. Naya berusaha mati-matian untuk mengubur semua perasaannya pada Roby mengingat cintanya tidak akan pernah terbalas. Ini lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kamu cintai mencintai orang lain.
Roby mengangguk lemah. Ia sadar. Tapi bukankah ia memiliki peluang untuk ditolak juga. Bahkan persahabatannya bisa jadi taruhannya kalau sampai Naya menolaknya.

***

Tangis Naya pecah saat para saksi mengatak 'sah' selepas pria berkopiah hitam disampingnya mengucapkan ijab kabul. Ia mendongkak. Memperhatikan guratan bahagia dalam wajah ayahnya. Lalu kesamping. Mencoba tersenyum ke arah pria yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya lalu mencium punggung talapak tangannya pelan.
Ia sempat melihat ke sekeliling dan tatapan jatuh pada ibunya yang menangis haru saking bahagianya.
Dia disana. Naya melihat Roby dengan stelan kemaja dan celana bahannya ada di barisan paling ujung. Tatapan mereka bertemu setelah ustad menyelesaikan doanya. Wajahnya muram, senyum yang biasa melekat di bibirnya menghilang entah kemana. Raut wajahnya menyisakan guratan sakit hati terkait pembicaraan mereka kemarin malam. Malam kejujuran Roby sebelum Naya bersanding dengan laki-laki yang dicintainya. Cinta.. Aahh entahlah apa itu cinta. Yang jelas kalau Naya boleh memilih, ia ingin Roby yang menjabat tangan ayahnya dan mengucapkan ijab kabul untuknya. Tapi ia tau bahwa ia terlambat. Mereka semua terlambat.