buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Thursday, 5 September 2013

Mr. Independent BAB DUA

Sita sampai disekolah saat jam masih menunjukkan 06.05. udara masih begitu segar saat ia menghela nafas panjang dan angin sejuk memenuhi paru-parunya. Ia berjalan pelan melewati koridor-koridor menuju kelasnya dan mengedarkan pendangan kesekeliling. Mencoba memperhatikan sekolah barunya. Sekolah barunya termasuk sekolah swasta elit kalau dilihat dari bentuk gedung memang lebih mewah daripada sekolah-sekolah lain. Memiliki fasilitas-fasilitas extra yang mungkin tidak akan ada disekolah-sekolah lain. Terdiri dari empat lantai yang dilengkapi dengan lift untuk mencapai tiap lantainya. Dibagian kanan sekolah ada taman yang cukup luas, hijau dan menawarkan kesejukan untuk mata yang memandang. Lantai dasar dipergunakan sebagai kantor guru, ruang tata usaha, laboraturium-laboratorium praktek dan juga lapangan olahraga baik indoor maupun outdoor. Sedangkan untuk tiga lantai atas sebagai ruang kelas.
            Ia keluar dari lift dilantai tiga dan berjalan menuju ruang kelasnya dan berfikir kalau ia sepertinya datang terlalu pagi karena sekolah masih sangat sepi. ia masuk kekelasnya dan melihat sosok hasby sudah duduk rapi dibangkunya. Ia tersenyum lebar dan langsung menghampirinya. “kemaren gak pulang ya?” ia tersenyum sambil melepas tasnya dari gelungan pundaknya. Hasby menoleh dan langsung menatap sita tajam.
            “lo emang biasa dateng jam segini ya?”
            Suasa hening… beberapa detik berlalu dan hasby belum juga membuka suara untuk menjawab pertanyaan sita. Lo itu tuli ato apa sih by?? Aneh banget jadi orang. batinnya
            “gak usah sok kenal deh sama gue. Gue gak suka.” Hasby membanting komik yang sedang dibacanya diatas meja dan beranjak pergi dari sana. Meninggalkan sita dalam kebingungan yang luar biasa.
            “Ini gue yang salah apa emang dianya yang aneh siih? Perasaan pertanyaan gue wajar deh.” Sita berkata pada diri sendiri.tapi sesaat kemudian ia tersenyum, membayangkan raut wajah hasby yang jutek malah membuatnya ingin tertawa. Entah perasaan apa yang menyulut garis bibirnya hingga mengembang. Dan dihatinya, saat melihat hasby yang muncul adalah rasa penasaran bukan kekesalan atau yang lainnya. Ia yakin dan percaya kalau semua sikap hasby yang tidak wajar itu pasti beralasan. Dan entah sejak kapan ia bertekad untuk mengatahui alasan itu.

            ***

            “sis, lo tau ga sih kenapa hasby itu bisa sejutek itu?” sita bertanya pada siska saat mereka berada dikantin. Siska yang sedang larut dengan makanannya mulai tertarik mendengar pertanyaan sahabat barunya itu. ia lantas melepaskan tangannya dari sendok garpu dan menumpuk kedua lengannya diatas meja. “udah gerah ya sama sikapnya?” katanya setengah berbisik. Sita hanya mengangguk seraya membenarkan. Diingatnya sepanjang pelajaran tadi hasby sama sekali tidak menoleh kearahnya maupun mengajaknya bicara. Laki-laki itu seakan tidak pernah menganggap kalau sita ada disampingnya.
            Sitapun akhirnya menceritakan insiden tadi pagi dan membuat siska terbahak, seakan sita baru saya menceritakan kejadian lucu. Ia mendengus dan pasrah dirinya dijadikan bahan tertawaan sahabat barunya itu. “kalo lo mau cari aman sama hasby? Satu-satunya cara ya lo diem. Anggep aja hasby ga ada.” Siska terkekeh dengan kata-katanya sendiri. Membuat sita mengernyit. “gilo lo, lo pikir gue batu apa.” Jawabnya lantang walau sebenarnya kalau dipikir-pikir mungkin itu adalah pilihan terbaik.
            “lo tau gak sih kenapa dia bisa kaya begitu?” saat sita bertanya ricky datang menghampiri mereka dan langsung duduk disamping wanitanya. Mencoba langsung menatap gadis didepan dan disebelahnya seakan tidak ingin ketinggalan berita. “ada apa nih, dari jauh keliatannya seru banget?” dan tanpa basa-basi siska menceritakan semua yang baru saja diceritakan sita kepada ricky, membuat laki-laki itu tertawa juga.
            “haduh.. udah donk.. cariin solusi kek, malah ngetawain lagi.” Sita merajuk melihat kedua temannya malah sibuk menertawakan dirinya.
            “abis lo lucu ta, udah dibilang kemaren hasby itu jutek. Malah berani-beraninya nyapa dia.” Ricky terkekeh membayangkan ekpresi jutek hasby.
            “emang dia semenakutkan itu ya?” sita bertanya tepat saat pesanannya datang. Setelah mengucapkan terima kasih kepada penjualnya ia langsung mengadu sendok dan garpu dipiringnya.
            “lebih dari itu sita. Hasby itu terkenal dingin banget sama cewe. Lo mau nanya baik-baik juga pasti jawabannya pasti jutek.” Siska memperhatikan sita yang sibuk dengan makanannya tapi ia tahu kalau telinga sita pasti masih difungsikan seratus persen.
            “pantes aja duduk sendiri. Pasti ga akan ada yang mau deket-deket sama dia.” Sita masih mengunyah saat mengeluarkan kata-kata barusan. Membuat siska yang sedang menyeruput soft drinknya menggeleng cepat. “jangan salah, salah satu cewe paling tajir dan paling popular disekolah ini justru cinta mati sama dia.” Sita mengernyit dan sesaat terbersit wajah hasby. Wajah hasby memang tampan, dan sejauh yang ia lihat ia tampak sempurna secara fisik. Walau pada akhirnya tuhan menunjukkan keadilannya. Hasby diberi fisik yang rupawan tapi tidak dengan sikap dan sifatnya.
            “kayanya sejauh ini Cuma dia yang kebal sama hasby. Tapi udah dikejar kaya apa juga hasby mana mau luluh. Lagian siapa juga mau sama cewe kaya dia.”
            “kaya gimana maksud lo?”
            “sok berkuasa mentang-mentang orang tuanya termasuk salah satu donator terbesar disekolah ini. suka berbuat seenaknya, pokoknya cewe yang super duper nyebelin deh.” Siska menggeram mengingat sikap cewe yang diceritakannya. Membuatnya terbakar emosi. Dan seketika itu juga membuat sita terkikik. “lo kayanya punya dendam pribadi ya sama tu orang?” simpulnya
            “gue ga suka aja sama sikapnya yang sok berkuasa itu. untungya dia minggu ini lagi izin. Kabarnya sih keluar negeri. Tau deh negeri mana. Gue berdoa sih semoga tu anak nyasar terus ga balik lagi kesini.” Katanya sambil tertawa membayangkan betapa damainya sekolah ini kalau keinginannya menjadi kenyataan.
            “cewe lo parah banget ky.”. ricky langsung mengangguk membenarkan. “kalau ngomongin tu orang emang dia selalu emosi bawaannya.”
        
    ***

            “pak..pak tolong ikutin motor itu dulu ya. Tapi agak jaga jarak” Sita menyuruh supirnya membelokkan mobil kearah berlawanan dengan arah yang seharusnya. Ia melihat hasby dan motornya menikung tepat didepan mobilnya. Walau hasby memakai helm full face dan jaket yang menutupi seluruh badannya dari panasnya sinar matahari.  Ia yakin karena sangat mengenali ransel hasby. Atau entah sejak kapan ia mulai memperhatikannya. Dengan patuh, mobilnya kini mengekori sepeda motor hasby dengan jarak agak jauh tapi masih bisa dilihat.
            Motor mewah hasby meluncur mulus membelah kemacetan Jakarta. Ia mulai masuk kesebuah komplek yang sebenarnya tidak jauh dari sekolahnya dan masuk kesebuah rumah berplang “SANGAR SENI ANANDA”.
            Sita menyuruh supirnya berhenti lebih dekat lalu membuka kaca mobilnya. Ia melihat hasby memarkirkan motornya dipelataran sanggar. Beberapa anak disana terdengar menyapa dengan senyum paling ramah. Hasby terlihat melengkungkan garis bibirnya sambil membuka jaketnya dan langsung masuk kedalam sanggar.
            Itu orang bisa senyum juga toh. Tapi Buat apa hasby disini?? Apa dia salah satu anggota disanggar ini?? sita membatin sambil menyuruh supirnya kembali menginjak gas. Tapi semenit kemudian ia kembali menyuruh supirnya berhenti karena rasa penasaran kembali menyeruak dihatinya.
            “bapak pulang duluan ya, nanti sita naik taksi aja.” Katanya sambil turun dari mobilnya. Setelah orang yang diajak bicara mengangguk mobilnya mulai berjalan meninggalkannya hingga hilang dari pandangan. Ia kembali mendekati rumah berplang itu dan memperhatikan sejenak. dari luar gerbang ia dapat melihat dengan jelas beberapa anak yang kemungkinan usia SMP dan mungkin sebayanya terlihat bergerombol dihalaman sanggar. Setelah memperhatikan sebentar ia berbalik dan masuk ke sebuah café yang tepat berada didepan sanggar itu. ia bisa jamin kalau orang yang ada dicafe itu sebagian adalah anggota disanggar itu karena letak café berada tepat didepan sanggar dan beberapa dari mereka terlihat memakai kaos yang sama dengan tulisan yang sama dengan nama sanggar. ia mengedarkan pandangan dan langsung duduk dipojok ruangangan dekat kaca yang arahnya langsung menghadap kegerbang sanggar. setelah memesan minum yang sita lakukan hanya memandang kearah gerbang sanggar hingga akhirnya terdengar suara anak-anak sebayanya yang duduk didepan mejanya.
            “ka hasby emang pendiem gitu ya orangnya?” seseorang yang berambut pendek yang masih berseragam SMP terlihat bersemangat bertanya dengan dua orang dihadapannya.
            “emang gitu, tapi kalo lo udah kenal. Ka hasby baik kok.” Orang yang berbaju merah menyahut sambil tersenyum.
            Sita makin menajamkan telinganya mendengar nama hasby diperbincangkan.
            “tapi aneh ya, ganteng-ganteng gitu kok ga punya pacar.” Salah seorang yang lain buka suara.
        
    ***

            Hasby memarkirkan motornya dan langsung masuk kedalam sanggar. menyapa beberapa anak yang langsung menyambutnya dengan senyum paling manis. Setelah manaruh tas diruang aula. Ia bergegas kebelakang sanggar. hanya disini ia bisa tersenyum ramah  Karena pada kenyataannya hanya disinilah ia merasa nyaman. Hanya dirinya, kuas dan kanvas.
Sudah bertahun-tahun ia menghabiskan waktu ditempat ini. mulai dari menjadi anggota sanggar lukis hingga sekarang menjadi salah satu pengajar disini. Ia melangkah menuju gazebo luas tempatnya mengajar. Melihat dari jauh anak-anak yang sudah berkumpul menunggunya.
            Jam menunjukkan pukul 16.50 ia keluar dari sangar menuju café diseberang untuk membeli minum. sejak keluar dari sanggar matanya langsung tertuju ke salah satu bangku café yang ditempati seorang gadis berseragam dan saat mata mereka bertemu gadis itu langsung menutup wajahnya dengan buku menu.
            Hasby masuk kecafe itu dan langsung memesan jus alpukat favouritnya. Terdengar beberapa anak yang dikenalnya menyapa ramah. Tapi mata hasby hanya menatap ke pojok ruangan, ke tempat beberapa menit lalu pandangannya tertuju. Setelah meyakinkah diri bahwa ia mengenal orang yang duduk disana ia menghampiri.
            “ngapain lo disini?” katanya . sepersekian detik kemudian sita terpaksa menurunkan buku menu yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia tersenyum melihat hasby dengan wajah datar menatapnya bak polisi yang menemukan tersangka.
            “emang gue ga boleh ada disini.” Sita membalas tatapan hasby yang semakin tajam
            “lo ngikutin gue?” hasby mengingat mobil yang mengikutinya dari tikungan sekolah menuju sanggar.
            “ternyata selain jutek, lo juga kepedean banget yah. Siapa juga yang ngikutin lo. Inikan tempat umum, suka-suka gue donk.” Sita tertawa melihat wajah hasby yang mulai menampakkan kebingungan besar. Hasby masih berdiri ditempatnya sedangkan sita sudah beranjak mendekati kasir dan setelah membayar minumannya ia keluar dari café diikuti tatapan heran dari beberapa penghuni isi café.
        
    ***

            Sita terlonjak dari tidurnya saat menyadari sinar matahari terasa menyilaukan wajahnya. Ia mengerjapkan mata dan terperangah melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.15. Ia berlari menuju kamar mandi dan dalam jangka waktu beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi. “ma, sita duluan yaa.. udah telat nih.” Ia mencium punggung telapak tangan ibunya dan mengambil sepotong roti ditangan ibunya. Setelah mengucapkan salami ia tersenyum melihat ibunya yang geleng-geleng kepala.
            “ayo berangkat pak.” Sita menepuk pungguk supirnya dan hampir saja membuat kopi yang baru diseruput pria paruh baya itu menyembur. “iya non.” Katanya sambil menghabiskan segelas kopi miliknya sebelum akhirnya mengikuti sita masuk ke mobilnya.
            Dimobil sita sibuk memperhatikan jam tangannya. Waktu berjalan cepat tapi ia merasa gerak mobilnya lambat karena macet yang sudah dimulai dijalanan ibukota. Dan mobilnya berhenti mulus didepan gerbang sekolahnya yang sudah tertutup tepat saat jam menunjukkan pukul 07.20. ia langsung menghambur keluar dari mobil dan sedikit membanting pintu mobil sebelum akhirnya berhasil mencapai gerbang.
            Untung saja satpam yang baik hati itu masih memperbolehkannya masuk. Sedetik setelah pintu gerbang terbuka ia berlari sekuat tenaga menyusuri lorong-lorong menuju lift yang berada di ujung koridor. Tapi belum sempat ia mencapai lift. Di pertigaan koridor ia menabrak seseorang hingga jatuh tersungkur. Ia belum mendongkak karena mulai merasakan lututnya yang terasa panas. “kalo mau main lari-larian jangan disini. Dilapangan sana.” Suara yang begitu dikenal sita membuatnya terpaksa menengadahkan kepalanya. Hasby berdiri disana dengan wajah datar seperti biasa. Dan yang paling tidak diduga sita adalah, hasby hanya menatap sita sebentar lalu berlalu begitu saja. Tanpa memberikan pertolongan atau hanya sekedar basa-basi meminta maaf.
        
    ***

            Setelah mengumpulkan sisa-sisa tenaga sita kembali berdiri dan sekilas melihat lututnya yang memerah dan ada rasa nyeri disana. hasby sialan runtuknya dalam hati. Setelah meminta maaf dan menberika beribu-ribu alasan dari guru piket, ia bisa meluncur mulus ke kelasnya tanpa mendapatkan hukuman karena telat. Hasby duduk tenang dibangkunya dengan raut wajah yang sama sekali tidak bisa ditebak. Hasby Belum menatapnya dan berbicara apapun saat sita berhasil mendudukan diri disana.
            Tapi saat sita mengeluarkan buku pelajarannya hasby menoleh kearahnya, memutar badannya empat puluh lima derajat kearahnya. cukup lama menatap sita dengan tatapan datar dan ekspresi tidak terbaca. Seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi begitu sulit keluar dari tenggorokkannya. Apa sebegitu sulitnya minta maaf . sita berkata dalam hati. Sita yang merasa risih akhirnya menyeletuk. “ga usah minta maaf, gue yang salah.” Sita membalik badan berusaha menghindari tatapan hasby yang terasa sedingin es.
            “gak salah?” suara hasby berhasil membuat sita kembali menoleh. Ia menaikkan alis karena bingung
            “siapa juga yang mau minta maaf. Gue Cuma mau bilang, jadi anak baru kok telat.”
            “anak baru juga manusia kali.” Sita mendengus dengan marah sekaligus malu karena berfikir laki-laki disampingnya ingin meminta maaf padanya. Ia kembali memfokuskan pandangan kedepan. Ke seorang guru wanita yang sibuk mengoceh tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.
            “ternyata hasby selain dingin dan jutek, juga tidak berperi kemanusiaan yaa.” Sita mengoceh saat siska datang bermaksud mengajaknya ke kantin sekolah. Orang yang dibicarakan kebetulah sudah kabur entah kemana tak lama setelah bel istirahan berbunyi.
            Siska manatap tajam kearah sita, ada keingintahuan disana. setelah menghela nafas panjang sita menceritakan kejadian tadi pagi. Dan kali ini tidak membuatnya tertawa tapi simpati kepada kemalangan yang dialami oleh gadis yang kini menjadi sahabatnya itu.
            “sabar ya ta, gue ga tau kalau hasby jadi kelewatan gitu.” Siska melempar pandangan kasihan kepada sita.
            “tapi lo tau sanggar seni ananda gak?” raut wajah dan cara bicara sita berubah antusias saat mengingat sesuatu. Membuat siska mengernyit karena merasa kalau sahabatnya sangat pintar memainkan raut mukanya. Ia diam sambil menerawang, mencoba mengingat sesuatu yang ditanyakan sita.
            “yang ada dikomplek belakang sekolah?” katanya meyakinkan sedikit ingatannya.
            “iya.”
            “kenapa emang sama sanggar itu?” katanya sambil membolak-balik buku catatan yang ada didepannya.
            “kemaren gue ngikutin hasby sampe kesana.”
            “HAH??” kali ini siska tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Memikirkan apa maksud sita mengikuti hasby sampai sana. “waah… lo cari masalah aja deh. Tapi dia gak tau kan?”
            “dia ngeliat gue dan kayanya dia pasti tau persis kalogue ngikutin dia.”
Siska menepuk jidatnya mendengar tingkah konyol sahabatnya. “jangan bilang lo suka sama hasby?”
            Sita mengulum senyum dan membuat siska semakin waswas. Pasalnya kalau sampai sita tertarik dengan hasby dan menunjukkan secara terang-terangan, sita juga pasti akan berurusan dengan elit. “mungkin, gue ngerasa dia beda aja dari yang lain.” Sedetik kemudian siska menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda ketidaksetujuannya. Membuat sita kembali berujar “bukan berarti gue mengharapkan dia juga, tapi yang jelas gue harus tau alasan kenapa dia bisa sedingin itu sama cewe.”
  
***

            Sita memasuki gerbang sekolahnya saat hari masih sangat pagi. Beberapa petugas kebersihan terlihat sibuk mengepel sepanjang koridor sekolah. “hasby?” sita menatap bingung melihat hasby sudah terduduk dibangkunya. Emang selalu sepagi ini ya? Ia menelan ludah dan berjalan pelan menghampirinya. Suasana begitu hening karena tidak ada yang membuka suara. Seperti biasa, hasby sedang sibuk dengan komik favouritnya. Hasby sendiri menyadari kedatangan sita. Tapi ia lebih memilih diam dan menganggap tidak ada orang. sebelumnya juga seperti itu.
            “lo anggota disanggar ananda itu ya by?” dengan keberanian penuh sita bertanya. Terdengar suara helaan nafas dari laki-laki disampingnya disusul suara berdebam keras dari buku yang dibanting. “bukan urusan lo.” Katanya cepat.
            “gue nanya baik-baik by, bisa nggak jawabnya ga usah ketus gitu?” sita menatap hasby yang masih acuh. Laki-laki itu menoleh. “gak bisa. Kalo ga mau diketusin ga usah ikut campur urusan orang.” hasby memundurkan bangkunya dengan keras dan berjalan hingga berlalu dari pandangan sita. Tapi entah dorongan apa yang membuat sita akhinya ikut keluar dari kelas. Ia melihat kesekeliling dan menemukan hasby didepan lift. Dia setengah berlari, tapi akhirnya ia menendang bak sampah didepan lift hingga meninbulkan bunyi nyaring saat lift itu sudah bergerak turun. Tak lama pintu lift terbuka, sita masuk dan menyusul hasby, walau ia sama sekali tidak tau hasby mendarat dilantai berapa. Ia akhirnya menekan tombol satu. Setelah pintu terbuka ia melihat kesekililing dan sama sekali tidak meninggalkan jejak hasby. Setelah berfikir cukup lama ia mulai bergerak ke koridor sebelah kanan. Kenapa gue jadi aneh gini sih,  sita mulai bertanya-tanya dalam hati atas rasa penasarannya atas semua sikap hasby. Selama masuk sekolah ini ia benar-benar menjadi orang yang tidak dikenalnya. Suka bersikap impulsif dan ia benar-benar membenci dirinya sendiri.
            Ia terus berjalan hingga akhirnya sebuah ruangan menarik perhatiannya. Ruang galeri, ia melongok kejendela bening yang menyelimuti ruangan itu. tembok yang menghalangin pandangan hanya sebatas lehernya. Sehingga ia bisa dengan jelas siapa sosok yang baru saja mendudukan diri disana. Hasby… sedang mengayunkan kuas diatas kanvas dengan posisi memblakanginya sehingga sita tidak bisa melihat apa yang dilukis hasby. Dengan penasaran ia berjalan pelan kepintu galeri yang tidak tertutup rapat untuk melihat hasby lebih jelas.
            Beberapa menit ia berdiri disana sama sekali tidak membuatnya bisa melihat kanvas hasby. Ia berfikir kalau hasby mungkin saja meluapkan amarah padanya diatas kanvas itu.
            “dooorrr…” suara itu hampir saja membuat jantungnya copot kedasar jurang. Tapi sedetik kemudian hening menyelimuti mereka. Sita hanya menatap hasby yang kini menolehnya dengan wajah merah padam. Begitupun siska yang sadar kalau ia bercanda disaat yang tidak tepat.
            “lo lagi?? Ngapain sih?” hasby maju mendekati sita yang langsung beringsut menjauh dan menabrak siska yang ada dibelakangnya. Dan saat itulah sita bisa melihat apa yang sedang dilukis hasby. “cantik.” Ia tidak sadar mengucapkan kata itu keras-keras, membuat amarah hasby makin tersulut. “dia siapa by?” sita bertanya tanpa melihat hasby yang siap meledakkan amarahnya. Sedangkan siska sudah berusa menyadarkan sita dengan menarik tangannya. Tapi sita masih diam disana. menatap seorang wanita cantik yang tergambar dikanvas hasby. Wanita tinggi dengan kulit kuning lansat dan rambut yang keriting menggantung sampai pinggang. Wanita anggun dengan gaun putih selutut yang sedang tersenyum manis kearahnya.
            “CUKUP, SEKARANG LO PERGI ATAU GUE YANG BAKAL NYERET LO KELUAR DARI SINI.” Hasby mencengkeram pergelangan tangan sita, membuat sita tersadar kealam nyata dan langsung meronta sekuat tenaga. Tapi usahanya gagal saat cengkraman hasby semakin mengencang dan ia yakin akan meninggalkan bekas memar dipergelangan tangannya.
            “ini kan tempat umum. Gue boleh donk ada disini juga?”  sita menantang saat dirinya mulai kelelahan karena usahanya melepaskan diri dari hasby tidak juga berhasil.
            “tapi bukan berarti lo bisa nanya-nanya seenaknya. Lagian lo bukan salah satu anak lukis kan? Jadi bisa dibilang LO TERLARANG MASUK RUANGAN INI.” mata tajam hasby membara menatap sita dan cengkramannya semakin kuat, membuat sita mengernyit kesakitan. Ia sebenarnya tidak mau berbuat kasar kepada siapapun. Tapi anak baru yang ada dihadapannya ini benar-benar menganggu hidupnya. Dan ia sama sekali tidak menyukai itu.


BERSAMBUNG KE BAB TIGA

Saturday, 24 August 2013

Mr. Independent BAB SATU


            “saya sita azzahra. Saya pindahan dari Bandung.” Sita yang berseragam putih abu-abu berdiri disekitar tigapuluh orang sebayanya. Diliriknya sekeliling, orang-orang didepannya tersenyum ramah. Membuatnya berfikir mungkin tidak akan terlalu sulit memulai adaptasi baru disini.
            “kamu boleh duduk ditempat yang kosong nak,” kata seorang guru dengan arah pandang yang menunjukkan satu-satunya bangku kosong ditempat itu. ia mengernyit menatap sesosok laki-laki sebagai penghuninya. Ia terlihat sibuk menatap buku dimejanya tanpa memperhatikan kegiatan sekitar. Dengan ragu ia berjalan mendekati arah pandangnya. Dan setelah berhasil mendudukan diri ia memberanikan melirik ke orang disebelahnya yang belum juga menoleh. “gue sita.” Katanya sambil mengulurkan tangannya. Beberapa detik tapi orang yang diajak berkenalan sama sekali belum menoleh kearahnya. “gue sita.” Ia bergumam kembali saat tidak mendapat tanggapan dari orang disebelahnya.
            “Hasby.” Katanya pelan tanpa menoleh kearah sita.
            “siapa?” tanyanya lagi, masih mengacungkan tangan berharap uluran serupa
            “Hasby” laki-laki itu masih belum menoleh. Membuat sita mengerutkan dahi.
           “siapa?” sita masih berusaha melambaikan sebelah tangannya. Berharap dapat balasan layaknya orang berkenalan.
            “MAHERZA HASBY ALFARIZY. Budeg banget sih lo.” Sita mendadak pucat saat hasby menoleh dan mengucapkan namanya keras-keras. Membuat semua mata anak menoleh karahnya. Sedetik kemudian terdengar suara anak-anak yang menahan tawa. Untung saja entah sejak kapan guru yang tadi mengantarnya lenyap tak berjejak. Ia masih menatap hasby penuh Tanya dan masih mengulurkan tangan.
            Hasby melirik tangan sita yang terulur lalu kembali ke bacaannya, tidak memperhatikan raut wajah sita yang kebingungan.
            Bukan salam perkenalan yang baik, katanya dalam hati. Ia menghela nafas dan langsung mengeluarkan buku catatan saat guru kembali kekelas dan kembali meracau didepan. Sesekali ia melirik kesamping, melihat orang yang baru saja diketahui bernama hasby yang begitu tenang. dan setelah diperhatikan ia berkesimpulan kalau hasby adalah tipe orang yang tidak terlalu pandai bersosialisasi. Tapi, sesaat ia mengingat wajah yang baru saja menatapnya. tampan, ia bergumam.

            Sita terpaksa ikut pindah saat ayahnya dipindahtugaskan dikota ini. Ia sendiri sebenarnya berat meninggalkan bandung karena ia lahir dan besar disana. terlalu banyak kenangan manis dikota paris pan java itu. tapi mau bagaimana lagi.
            Dering bel istirahat menggema diseantero sekolah. Membuat semua anak yang terkurung dikelas menghambur keluar kelas.
            “gue boleh tau ga dimana kantinya?” tanya sita kearah hasby saat melihat beberapa anak dikelasnya mulai berjejalan keluar.
            “kayanya gue bukan satu-satunya orang yang ada disini deh. Jadi mending lo Tanya orang lain sana.” Suaranya begitu enteng dan tatapannya masih ke buku bacannya. Sama sekali tidak melihat sita yang amarahnya sudah merambat ke ubun-ubun.
            Seseorang yang masih berada dikelas itu dan duduk tak jauh dari sana mendengar percakapan mereka dan tersenyum . “lo ikut gue aja ayo. Percuma nanya sama hasby.” Ia tersenyum mengisyaratkan agar sita mengikutinya. Sita tersenyum sinis kearah hasby lalu mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia setengah berlari agar bisa mensejajarkan langkahnya dengan laki-laki itu.
            “gue ricky.” Katanya sambil mengulurkan tangannya. Sita tersenyum lalu menjabat tangannya. “ga usah heran ya sama hasby. Dia emang kaya gitu.” Laki-laki itu terkekeh saat mereka memasuki gerbang hijau yang sudah dipadati siswa-siswi lain. Ricky mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan besar itu. mencoba mencari meja kosong.
            “emang jutek gitu orangnya?” Tanya sita saat mereka berhasil menemukan satu meja kosong. Ricky hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan sita. “lo mau makan apa? Biar gue pesenin sekalian?” sepersekian detik setelah ricky bertanya ia mengedarkan pandangannya kesekeliling dan menjawab “bakso aja, thanks sebelumnya.” Ricky tersenyum lalu melangkah pergi.
            Ia mengarahkan pandangan kesekeliling dan mendapati tatapan aneh dari yang orang-orang disana. mungkin mereka sadar kalau ada anak baru disekolah mereka. Beberapa orang tampak tersenyum ramah padanya.
            Beberapa menit kemudian ricky kembali dengan seorang wanita disebelahnya. “ta, kenalin ini siska, cewe gue.” Katanya sambil duduk dibangku sebrang diikuti cewe manis disebelahnya. “siska.” Katanya ramah sambil menjabat tangan sita. Setelah sita menyebutkan namannya makanan pesanannya datang.
            “pindahan dari mana ta?” Tanya siska kearah sita yang sedang sibuk dengan makannnya. Belum sempat ia membuka mulut ricky menjawab. “bandung” sita tersenyum melihat siska yang melirik sebal kearah ricky. “masuk ke kelas mana?” tanyanya lagi.
            “ke kelas aku.” Lagi-lagi ricky mengambil alih bagian sita menjawab. Membuat sita tersenyum melihat raut wajah siska yang semakin sebal sedangkan ricky terlihat cuek dan sibuk dengan garpu dan sendok ditangannya. Bersamaan dengan itu ia melihat hasby masuk kekantin seorang diri dan langsung duduk dipojok ruangan. Tempat yang cukup membuat sita bisa melihat jelas kearahnya. wajahnya terlihat dingin dan tanpa ekspresi.
            “hayooo… kenapa ngeliatin hasby?” suara siska membuatnya tersadar sekaligus malu karena ketauan memperhatikan hasby. Ia hanya terseyum kecil.
            “lo udah kenalan ta sama hasby?” Tanya siska.
            “udah, udah dibentak juga malah.” Ricky kembali buka suara dan benar-benar membuat pacarnya jengkel.
            “daritadi aku tuh nanya sita. Kenapa kamu mulu yang jawab. Kamu udah ganti nama jadi sita. Hah?” kali ini ricky mendongkak dan menatap wajah pacarnya yang diliputi kejengkelan. Ia tertawa melihat siska mengerucutkan bibirnya. “abis kalo denger suara kamu, aku bawaannya mau nyaut mulu.” Ia masih terkekeh hingga akhirnya melanjutkan makannya.
            “jadi beneran lo udah dapet salam perkenalan dari hasby?”
            “udah, dia duduk disamping hasby malah.”
            “kamu bisa diem dulu gak? Kalo nggak aku sumpel juga mulut kamu pake tisu.” Siska melirik kearah tisu dimeja lalu membulatkan matanya kearah ricky yang tertawa dan langsung meminta maaf.
            “jadi bener lo duduk disamping hasby?” kali ini ia menatap sita yang mengangguk sambil tersenyum. Terdengar suara siska tertawa, membuat sita menaikkan alis. “kalau begitu lo harus siap-siap memperbanyak stok kesabaran lo.”
  “emang bakal separah itu ya?” kali ini sita mencoba bertanya apa yang sejak tadi berputar dipikirannya. Gadis manis didepannya terlihat mengangguk lalu menengguk es teh manis dari gelasnya sebelum akhirnya berbicara. tenang aja, sebenarnya dia baik kok. Gue dulu satu SMP sama dia,dulu dia gaa kaya gitu. Emang sih klo liat sikap dia kaya gitu, siapa yg mau deket sama dia. Belum deket aja udah pada kabur tuh cewe-cewe. Tapi tenang aja, dia nggak gigit kok. Kalo lo pengen deket sama dia, lo Cuma perlu mahamin dia, dan buat dia nyaman ada disamping lo. Dan yang perlu lo tau Dia itu orangnya mandiri banget. Dia selalu ngerasa bisa ngelakuin apa-apa sendiri. Makannya dia nggak begitu suka bersosialisasi kaya kita-kita. Dia ampe dapet julukan Mr.INDEPENDENT.” siska terus mengoceh tentang hasby dan sita hanya memperhatikannya dengan cermat tanpa ingin ketinggalan satu beritapun tentang hasby.
            Sita menimpali kata-kata siska dengan sebuah senyuman dan kembali memusatkan perhatiannya ke mangkuk yang isinya sudah berteriak-teriak minta dihabiskan. Sekilas ia melirik hasby yang masih terduduk dibangkunya dipojok ruangan seorang diri. ia tidak memperhatikan sekelilinganya bahkan mungkin ia merasa punya dunia sendiri.

bersambung ke BAB DUA



Saturday, 29 June 2013

Tetesan Tinta 2

Tidak semua orang Hebat selalu menang.. 
ada mereka yang justru kalah karena mereka Hebat...

Saturday, 22 June 2013

Tetesan tinta 1

Hidup itu bukan PILIHAN tapi PERJUANGAN
 banyak org yang nyatanya tidak punya PILIHAN,, tapi semua org pasti pernah merasakan PERJUANGAN

Friday, 14 June 2013

Cinta Atau Benci



                “delia… ada firman. Ayo donk kamu temuin. Kasihan dya udah nunggu lama”. Suara lembut yang bersahutan dengan ketukan pintu terdengar oleh delia yang masih duduk tenang dekat jendela rumahnya. Mengirup udara sore yang begitu segar. Angin yang bertiup membuat beberapa helai rambutnya terbang. Ia menatap kearah sebuah mobil yeng terparkir didepan pagar rumahnya. . Untuk apa dia datang kesini lagi?
“ia nanti delia turun ma” katanya dengan nada kesal. Dengan berat ia menggerakkan tangannya untuk menjalankan kursi rodanya. Keluar dari kamar ini saja terasa begitu sulit.. gerutunya dalam hati. Delia berhasil keluar dari kamar dan langsung menatap sesosok pria tampan didepannya. Pria itu tersenyum lembut tetapi delia lebih suka menekuk wajahnya. “biar kubantu” dengan sigap pria itu berdiri, bersiap membantu mendorong kursi roda delia. “tidak usah, terima kasih” delia buru-buru menolak. Membuat firman tersenyum kecil dan hanya mengikuti delia dari belakang. Delia dan kursi rodanya sudah berada dihadapan firman. Tetapi firman hanya menyunggingkan senyum melihat delia. “kalau kau datang kesini hanya untuk senyum mengejek. Lebih baik kau pergi” suara lantang delia terdengar karena merasa risih dengan tatapan firman dan senyumnya yang seolah menertawakan ketidakberdayaannya. “bagaimana kalau kita ketaman”. Delia mengerutkan dahi melihat ekspresi firman yang sama sekali tidak mempan dengan kata-kata kasarnya.

 “tidak mau. Kau pikir kau siapa?” katanya ketus sambil membuang muka dari firman. Firman tertawa kecil, ada kegelian disana membuatnya berdiri dan langsung mendorong kursi roda delia keluar rumah. Delia membelalakan matanya dan menatap firmah penuh amarah.

“apa yang kau lakukan. Cepat berhenti.” Seakan tak mendengar ucapan delia, firmah masih mendorong kursi roda delia hingga ke depan mobilnya. “aku sudah meminta izin kepada ibumu. Kau tenang saja” katanya lembut sambil menatap geli delia yang memasang wajah cemberut.
“kalau aku tidak mau. Kau mau apa?” delia berkata lebih lantang. Sambil menatap firman penuh kebencian.
“aku akan memaksamu.” Katanya sambil membuka pintu mobil dan menggendong delia duduk dibangku depan. Delia yang merasakan tangan firman menyentuh kulitnya hanya pasrah.

Bahkan untuk memberontak dari pria ini saja aku tak mampu. Katanya dalam hati. Ada raut kekecewaan disana, seandainya ia bisa, mungkin ia sudah menghajar siapapun yang berani-beraninya menyentuhnya. Tapi ia tahu kalau firman adalah pria baik. Dan ini bukan pertama kalinya firman memaksakan membawa pergi delia. Orang tua deliapun sudah percaya dengan firman. Ia melirik kearah firman yang sudah berada disamping dan focus pada kemudinya. Tapi ia akhirnya membuang muka kearah jendela.  Ia sebenarnya tidak sudi naik mobil ini apalagi bersama firman.

1 tahun yang lalu.. sebuah kecelakaan hebat membuat delia kehilangan kakinya. Kakinya memang tidak diamputansi, tapi ia kehilangan fungsinya secara keseluruhan. Ia seperti dihantam batu besar saat tau bahwa ia harus menghabiskan sisa hidupnya  dikursi roda.

Sore itu… ia melangkah keluar dari sebuah agensi setelah mendatangi kontrak menjadi seorang model disalah satu majalah fashion terbesar dikotanya. Inilah cita-citanya sejak dulu. Sejak SMP wajahnya sudah sering menghiasi majalah-majalan remaja. Dan kali ini cita-citanya sudah berada didepan mata.

Jalan begitu sepi, ia dengan santai menyebrang hingga akhirnya ia mendengar suara mobil menderu-deru, ia menoleh dan mendapati sebuah mobil dari tikungan melaju kencang kearahnya. Membuatnya terlempar  Sampai akhirnya tak sadarkan diri.

Ia membuka mata dan menyadari ia sudah berada dirumah sakit. Ia bersyukur karena ia pikir ia tidak akan bisa diselamatkan. Tapi ternyata semuanya tidak baik-baik saja. dokter bilang kalau delia akan menghabiskan sisa hidupnya dikursi roda. Kedua kaki delia sudah tidak bisa diselamatkan. Seperti disambar petir disiang bolong, delia menangis sejadi-jadinya. Meratapi semua impian yang sudah ada didepan mata dan tak akan pernah ia gapai. Mengutuk orang yang yang telah menabrakknya yang ternyata melarikan diri.

 Semuanya berubah semenjak kecelakaan itu. delia menjadi pemurung. Ia hanya mengurung diri dikamarnya sambil menangis setiap hari. Ia tidak mau menemui siapapun selain keluarganya. Ia benci melihat tatapan belas kasihan dari orang-orang yang menjenguknya.

Dan hari itu tiba. Delia memutuskan pergi ketaman komplek sendirian. Sudah 3 bulan ia mengurung diri dikamar dan itu membuantnya bosan. Dengan keberaniannya ia memacu kursi rodanya keluar rumah. Mengirup udara segar. Ia menolak ditemani siapapun termasuk ibu dan adiknya. Seperti hari-hari kemarin. Ia ingin selalu sendiri. Dan tatapan-tatapan orang yang ada disana benar-benar membuat delia muak. Tatapan kasihan dan mengejek itu sangat mambuatnya tidak nyaman. Ternyata keluar dari rumahnya juga tidak membuatnya lebih baik.

Ia menggerakkan kursi rodanya agak keras tapi tak bergerak sedikitpun. Ia menghela nafas melihat salah satu roda kursi rodanya tersangkut sebuah batu. Saat itulah uluran tangan lembut firman datang membantunya. Delia terkesiap melihat seseorang mendorong kursi rodanya. “saya bisa sendiri. Terima kasih” wajah delia menatap firman yang tersenyum. Firman memperkenalkan diri lalu menawarkan diri mengantar delia pulang. Tapi saat itulah rasa benci itu datang. “rumah saya  tidak jauh dari sini. Saya bisa pulang sendiri” kata delia sambil memacu kursi rodanya menjauhi firman. Firman yang melihat lalu masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya pelan tepat dibelakang delia. Memastikan delia sampai rumah dengan selamat .

Hari berikutnya firman datang kerumah delia membawa  sekotak coklat, tapi delia secara terang-terangan menolak bahkan mengusir  firman dari rumahnya. Tapi ternyata itu tidak menyurutkan semangat firman. Firman bertekad membuat delia bangkit dari keterpurukannya hingga tanpa sadar tumbuh rasa suka dalam hatinya.  Hampir setiap hari ia datang kerumah delia, membawa berbagai makanan dan bunga terkadang, tapi tidak ada satupun yang delia terima dengan ikhlas. Semua delia terima karena terpaksa, karena paksaan ibunya untuk menghargai pemberian orang. sudah 9 bulan dan firman masih tidak kapok juga. Ia terus datang ke rumah delia walau hanya untuk mendengar cacian dan makian dari delia.

Suara pintu terbuka membuat delia kembali ke kesadarannya. Firman dengan sigap menggendong delia kembali ke kursi rodanya. Mereka menatap kesebuah danau yang ada didepan mereka. “apa kau ingin minum?” kata firman memecah keheningan. Delia hanya menggeleng tanpa melepas pandangannya ke arah danau yang terhampar tenang dihadapannya.
“kau tau? Seharusnya hari ini aku sudah berada dipuncak kesuksesan sebagai model. Menggapai semua cita-citaku. Bukan duduk dikursi roda ini dan menjadi orang yang tidak berguna”. Kata-kata delia membuat firman kembali menoleh ke arah delia, ada rasa sakit dihatinya. Rasa yang begitu menyesakkan dadanya tiap ia melihat delia.
“cita-cita ku sudah ada didepan mata waktu itu. tapi dalam hitungan menit semuanya berubah. Kenapa tuhan masih membiarkanku hidup jika aku tidak bisa berbuat apa-apa”. Air mata menetes dari mata kanan delia. Membuat hati firman semakin teriris. Tapi firman tidak dapat berkata apa-apa. lidahnya kaku, semua suaranya terasa tertelan ditenggorokkan.  “apakah kau pernah mengerti perasaanku?” delia akhirnya menoleh kearah firman. Mata mereka bertemu, mata delia yang berkaca-kaca dan mata firman yang penuh kesedihan. “lalu.. mengapa kau begitu bodoh terus-terusan menemuiku?”. Suara delia lebih lantang kali ini. Firman masih menatap delia dalam diam.
“aku menyayangimu delia” suara firman terdengar serak.
Delia tersenyum sinis  “kau menyayangi orang yang salah. Aku tau kau hanya kasihan padaku. Mulai sekarang lebih baik jangan pernah temui aku lagi.”

***

Semuanya terlambat… firman terduduk  disamping nisan delia. Kemarin orang tua delia menemukan delia dalam keadaan tak sadarkan diri dengan luka dipergelangan tangannya. Ia sengaja bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Tapi sayangnya delia sudah tidak bisa diselamatkan.
kenapa kamu melakukan ini delia. Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mengakui semuanya
firman menatap sebuah surat beramplop biru ditangannya. Surat yang ditinggalkan delia sebelum mengakhiri hidupnya. Dengan tangan gemetar ia membuka kertas itu

dear firman,
aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku kepadamu
semua kata-kata kasarku
semua keegoisanku
maaf aku harus mengakhiri hidupku seperti ini
aku tidak sanggup menanggung semuanya
duduk dikursi roda dan menjadi cacat
aku harap kau mengerti…
jauh dilubuk hatiku aku menyayangimu
tapi jauh dilubuk hatiku pula  aku sangat membencimu
aku terbelenggu oleh dua perasaan yang bertolak belakang
maaf aku tidak dapat menunggumu mengakui kesalahanmu
padahal aku ingin sekali mendengar pengakuanmu bahwa kau yang menabrakku dan menyebabkanku cacat,
sehingga aku bisa menghapuskan kebencian itu dan sepenuhnya menyayangimu
dihari pertama kita bertemu ditaman. Aku sudah mempunyai perasaan padamu,
tapi setelah kau menawarkanku pulang bersama mu dan menunjukkan mobilmu
saat itu pula rasa benci tumbuh dihatiku
saat tabrakan itu, sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri
aku melihat jelas mobil dan plat nomor yang merenggut kebagaiaanku,
dan itu…. mobilmu
tiap kau datang menemuiku.. aku selalu berharap kau akan mengakui semuanya.
Tapi ternyata semuanya sia-sia, itulah yang membuatku semakin membencimu dari hari ke hari
Kau pengecut…

Mata firman berkaca-kaca. Pandangannya mulai kabur
Maafkan aku delia, maafkan aku.. aku terlalu menyayangimu… aku takut kau lebih membenciku kalau kau tahu yang sebenarnya. Tapi kau seharusnya tau kalau aku pasti akan mengakuinya..

END-


Tuesday, 11 June 2013

Karma



Aku memandang ke pojok ruangan. Melihat dua orang wanita dan satu pria asik mengobrol disana.  aku hanya memperhatikannya dari kejauhan. Menatap mereka dengan penuh rasa menyesal. Mengutuk diri sendiri karena begitu bodoh melepaskan dua sahabat terbaik dan satu-satunya orang yang kusayang. Seharusnya aku berada disana. Bercanda dengan mereka, menikmati tiap menit dan detik bersama mereka. Dan aku.. aku harusnya menggenggam tangan pria itu. merasakan halus kulitnya. Mengapa aku begitu bodoh melepaskan mereka semua?? Mengorbankan kebahagiaan yang sekarang tidak aku miliki. Aku kehilangan semuanya. Kehilangan semua yang dulu menjadi kebahagiaan dan kebanggaan dihidupku

3 bulan yang lalu
Aku merasa kehidupan remajaku sempurna saat ini. Aku mempunyai dua sahabat baik yang selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Gita dan Sasha. Mereka selalu mengisi hari-hariku. Kami melewati hari bersama. Suka dan duka bersama.  Dan yang lebih membahagiakan adalah kehadiran Kamal dihidupku. Pria manis yang sudah 2 tahun menjadi kekasihku. Memberikan perhatian kepadaku. Pria romantis yang selalu hadir melengkapi hidupku.
Kamal dan aku satu sekolah dan akhirnya menjalin hubungan serius. Semuanya terlihat membahagikan hingga akhirnya Rumah kosong disamping rumahku dihuni sebuah keluarga. Tidak ada yang aneh dengan keluarga itu. hanya saja seseorang yang beberapa hari kemudian kuketahui bernama gilang mulai menarik perhatianku. Aku berkenalan dan mulai dekat dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan entah sadar atau tidak aku semakin manjauh dari kamal. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama gilang dan kebersamaan kami ternyata menimbulkan rasa dihatiku. Rasa yang setelah beberapa hari kuketahui bahwa aku menyukai gilang.

                “kamu kemana kemarin siang? Aku menghubungi ponselmu tapi tidak aktif. Aku telpon kerumah katanya kau tidak ada?” mataku membulat  mendengar pertanyaan kamal secara tiba-tiba. Dia mengerutkan alis melihat ekspresi kagetku. “aku mengunjungi kawan lamaku yang sedang sakit. Maaf tidak memberitahumu. Aku mendapat berita itu mendadak dan battery ponselku habis” aku menarik nafas lega. Aku tidak pandai berbohong tapi kali ini kau berharap kamal percaya.
“yasudah tidak apa-apa. Bagaimana keadaan temanmu?” aku tersenyum lembut kepadanya, ada sedikit rasa sakit karena aku telah membohonginya. Kamal terlalu baik.

***

Tepat di sebulan perkenalanku dengan gilang. Hal yang kutakuti akhirnya terjadi. Gilang menyatakan cintanya padaku. Mengingatkanku pada wajah kamal yang begitu baik. Apa ini saatnya ku memilih antara gilang atau kamal?? Aku tau ini salah dan gilangpun tau kalau aku sudah mempunyai kamal.  Tapi entah apa yang ada dipikiran gilang. Ia secara terang-terangan mengaku tidak masalah kalau kita backstreet. Kita bisa menjalin hubungan dan aku tidak harus memutuskan Kamal. Dan entah sadar atau tidak aku justru mengiyakannya.

Sebulan aku berhasil menyembunyikan semuanya. Baik dan begitu rapi. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku. Aku bahagia bersama gilang. Tapi seperti kata pepatah sepandai-pandainya bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga. Itulah yang akhirnya terjadi. Yang pertama tau semuanya adalah kedua sahabatku.

Sore itu mereka mendatangi rumahku. Dengan wajah yang sangat tidak ramah. Wajah yang penuh kemarahan yang siap meledak. Kemarin ternyata mereka melihatku berjalan mesra dengan gilang disebuah mall. Dan aku.. hanya diam menatap mereka semua. Mendengar semua omelan mereka. Sampai pada akhirnya hatiku terasa panas dan aku mengakui semuanya, bahkan aku mengakui hubungan gelapku dengan gilang. Dan mereka semua meradang, mereka bilang bahwa pria sebaik kamal tidak pantas aku perlakukan seperti itu. dan aku yang merasa terpojok justru makin marah melihat emosi gita yang begitu meluap-luap, aku menuduhnya masih menyimpan rasa pada kamal. Dulu gita memang punya rasa pada kamal, tapi justru aku yang mendapatkannya. Dan aku pikir gita masih menyimpan rasa itu makannya ia sebegitunya membela kamal. Aku bertengkar hebat dengan kedua sahabatku. Gita semakin marah mendengar ucapanku.  Dan akhirnya memutuskan tali persahabatan kita saat itu juga.

Aku menatap malam dengan suasana sepi. Menanti-nanti ponsel ku berbunyi. Bukan.. lebih tepatnya menantikan amarah kamal. Menantikan ia menanyakan semuanya terhadapku. Aku yakin gita dan sasha tentu akan memberitahukan semuanya pada kamal. Dan aku?? Hanya perlu menunggu dan bom itu pasti meledak. Sebuah ketukan pintu menyadarkannku dari lamunan.  “sayang, ada kamal dibawah” suara lembut mama menyusuri gendang telingaku. Setelah menjawab aku masih terdiam dikamar. Menyiapkan diri. Jantungku berdegup 10 kali lebih cepat. Manatap wajahku dicermin yang ternyata sedikit pucat. Tapi aku harus berani. Aku harus berbicara pada Kamal. Walau aku tak tahu akan bagaimana akhirnya nanti. Sejenak terbersit wajah gilang. Wajah yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku dengan begitu indah. Aku tersenyum kecut lalu berjalan pelan keluar dari kamarku.

Itu dia… aku melihat kamal yang duduk tenang membelakangiku. Aku tidak punya pilihan lain selain maju. Aku menghampirinya dan tersenyum kecil. Ia membalas dengan ramah. “maaf mengganggumu? Apa kau sibuk?” katanya pelan, aku buru-buru menggeleng. Dan kamal akhirnya berbicara, ia sudah tau semuanya. Dan kamal memang pria yang baik, aku tidak melihat aura kemarahan dalam dirinya walau kutahu ia pasti merasa sakit hati atas perlakuanku. Ia bahkan tidak meminta penjelasan apapun dariku. Ia hanya memastikan kalau semua yang diberi tahu kedua sahabatku benar adanya. Dan aku tidak punya pilihan lain selain mengakui semuanya.

Semua berjalan begitu cepat. Kamal akhirnya memutuskan hubungan  saat itu juga, tapi semuanya tidak terasa berbeda selama beberapa hari. Mungkin hanya saat aku berada disekolah kesepian itu begitu terasa. Aku dan kedua sahabatku benar-benar memutuskan hubungan. Tidak ada lagi tegur sapa. Bahkan senyumpun mereka enggan. Tapi sejauh ini gilang menyempurnakan semuanya. Perhatiannya, kasih sayangnya. Kembali menjadikan hari-hariku bahagia, melupakan semua masalah yang terjadi. Dan sadar atau tidak aku malah menyukuri, mungkin kemarin adalah pengorbananku untuk meraih kebahagiaan bersama gilang. Karena akhirnya aku sadar aku benar-benar menyayangi gilang

Bulan bulan selanjutnya

Semuanya masih seperti biasa, sampai pada akhirnya gilang datang dan ternyata membawa kabar buruk untukku.  Seperti sebuah mimpi buruk yang harus menjadi kenyataan. Gilang secara sepihak memutuskan  hubungan kita dan alasannnya yang benar-benar tidak kuduga. Jauh sebelum menjalin hubungan denganku ia sebenarnya sudah mempunyai pacar yang amat sangat ia cintai dan ia tidak tega jika harus membohongi pacarnya terus menerus, dan hubungan kita kemarin… ia merasa kalau ia khilaf dan akhirnya sadar kalau ia mempunyai pacar yang sangat ia cintai. Air mata mengalir dari sudut mataku. Sejenak terbayang wajah kamal. Jadi semuanya hanya kebohongan, dan akhirnya aku tersadarkan bahwa mungkin ini karma untukku.  Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi air mata itu.. bukan karena keputusan gilang. Tapi karena akhirnya aku menyadari bahwa aku mengorbankan semuanya untuk orang yang salah.

Dan sekarang.. aku melihat mereka bersama. Mengobrol, tertawa. Hatiku terasa teriris. Seandainya waktu bisa kuputar. Mungkin kini aku berada diantara mereka dan menggenggam erat tangan kamal.

END-



Monday, 3 June 2013

when i was your man




          Danish memandang jauh kearah taman dari jendela mobilnya. Menatap lurus keseorang gadis yang duduk sendiri ditaman itu. gadis yang kira-kira berumur 19 th itu begitu manis dengan kaos merah dan jeans sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi melewati bahu. Alas kakinya hanya berupa sepatu kets warna senada dengan bajunya. Jam tangan warna senada berbahan karet juga melingkar indah dipergelangan tangan kirinya. Sudah 5 menit gadis itu disana, dan sudah 5 menit pula Danish memperhatikannya. Hembusan angin semilir ternyata tak cukup membuat hati Danish tenang. Dadanya terasa sesak oleh suatu perasaan. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Melepaskan kerinduan yang membuat dadanya terasa sesak tiap kali mengingat gadis itu.
Bukan, bukan karena ia menyukai gadis itu tapi tidak bisa mengungkapkannya. Lebih karena Ia sudah kehilangan kesempatan itu. Kania nama gadis itu, ia kuliah disalah satu universitas negeri dijakarta. Selang beberapa menit seorang pria muda menghampiri gadis itu, ia terlihat membawa sebatang cokelat dan ice cream. Gadis itu menyambut dengan senyum paling ramah. Membuat dada Danish makin terasa sesak karena rasa bersalah. Selama 8 bulan ia berpacaran dengan kania, ia bahkan tidak pernah memberikannya cokelat atau pun ice cream. Dan ia baru menyadari kalau ia sangat menyayangi kania adalah saat hubungan itu benar-benar berakhir

***

“pagi sayang… happy Monday ya”
Sender : kania

          Itu adalah pesan wajib yang akan masuk ke ponsel Danish setiap pagi. Membuat dirinya selalu melengkungkan senyum.Ia 2 tahun lebih tua dari kania dan kini ia bekerja disebuah perusahaan property sebagai manager diperusaan itu. Ia dan kania bertemu di sebuah pameran. Perkenalan singkat itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Danish merasa kania adalah gadis manis dan ceria. Ia tidak pernah menuntut banyak pada Danish, baik waktu ataupun sikap-sikap selayaknya sepasang kekasih. Tidak seperti wanita-wanita lain yang cenderung menuntut waktu yang tidak bisa Danish berikan.

          “maaf ya sayang, aku tidak bisa menjemputmu hari ini,ada meeting diluar dan belum                            juga selesai. Tidak masalahkan kan kalau kau pulang sendiri?”
Sender : Danish

          Pesan itu masuk kehandphone kania saat ia berada di kantin kampusnya. Sudah 30 menit ia menunggu Danish dan ternyata Danish lagi-lagi membatalkan janji secara mendadak. Ini bukan sekali ataupun dua kali. Sudah sering Danish membatalkan janji sepihak karena pekerjaannya.
Kania tersenyum kecut lalu membalas pesan singkat itu

“tidak apa-apa. Kamu hati-hati ya, jangan sampai telat makan”
Sender : kania

          Ada rasa kesal tetapi rasa sayangnya terhadap Danish mengalahkan semuanya. Ia merasa Danish adalah pria yang sempurna untuknya. Ia selalu merasa nyaman saat berada didekat Danish, kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan pada pria-pria lain. Walaupun Danish tidak pernah menunjukkan perhatian lebih layaknya seorang kekasih. tapi ia begitu mencintai Danish dan meski Danish adalah tipe pria yang cuek dan tidak peka. Ia tetap mencintai Danish dan menaruh harapan banyak untuk bisa selalu bersama-sama Danish.

***

          “bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya kania saat mereka makan disalah satu resto didaerah Jakarta. Ia merasakan rindu karena sudah seminggu tidak bertemu dengan pria ini. Danish menarik nafas dengan berat  “ya begitu, masih sibuk mengurusi anak perusahaan yang baru. Belum lagi masalah pengadaan bahan baku yang sedang sulit. Makannya banyak meeting akhir-akhir ini.“ katanya sambil menyuapkan steak ke mulutnya. Sedangkan kania mendengarkannya penuh minat. Memperhatikan gerak bibir pria itu tanpa ingin melewatkannya sedetik pun. Tampan dan aku sangat menyayanginya… katanya dalam hati.

***

          “apa kau sibuk malam ini? Aku ingin mengajakmu menonton film bersama teman-temanku”. Kania menanti-nanti jawaban dari seberang sana.  Walau ia tahu pacarnya tidak akan punya waktu karena ia terlalu sibuk. Tapi tidak ada salahnya mencoba, pekiknya dalam hati. “maaf ya kania, sepertinya aku harus  lembur lagi hari ini. ” Danish berkata dengan berat hati. Ia mendengar nada kecewa dari kania. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaan lebih penting baginya. “yasudah, tidak apa-apa. Jangan sampai telat makan ya. Love you”

***

          “dia sibuk lin.” Kata kania agak keras kepada linda. Ia hanya curhat masalah Danish yang tidak punya waktu untuknya, tapi ternyata itu mengundang kekesalan linda. Linda berfikir kalau Danish tidak menyayangi kania. Tapi kania membantah dengan segala alasan.
“kania.. kalau dia menyayangimu, dia pasti punya waktu untukmu sesibuk apapun dia” wajah linda menegang, mengetahui kebodohan kania. Kania terlalu polos, pikirnya dalam hati. Danish adalah pacar pertama kania, wajar kalau kania benar-benar mempertahankan Danish meskipun Danish sangat cuek kepadanya. Wajah kania mendadak pucat, ada garis kekecewaan diwajah manisnya. Ia meneguk minuman kaleng yang sedari tadi tergeletak dimeja samping ranjangnya. Membirkan air soda itu membanjiri tenggorokkannya.

          “oke.. kalaupun dia menyayangimu, tidak untuk menjadi pacarnya. Kau mengerti?? Hanya status. Dia hanya focus pada pekerjaannya. Tidak untuk pacaran. Dia belum siap berhubungan dengan kondisinya yang selalu mementingkan pekerjaannya. Tidakkah kau mengerti kania?”

          Kata-kata linda kali ini ampuh membuat kania tersadar lalu menatap linda tajam. Linda benar, ia butuh pria yang bisa memperhatikannya seperti teman-temannya yang lain. Yang bisa membalas semua perhatiannya, yang bisa memberikan waktu luang untuknya, yang bisa ia banggakan didepan teman-temannya. Tapi ia begitu menyayangi Danish…

          “acara pesta fabby minggu besok. Apa kau sudah mengajak Danish?” linda kembali membuka mulut melihat kania hanya terdiam. Kania hanya mengangkat bahu, ia ingin mengajak Danish menemaninya ke pesta itu. Tapi niat itu diurungkannya hingga hari ini karena ia tahu Danish mungkin akan menolak karena alasan pekerjaannya. Itu pasti. “dia pasti bisa meluangkan waktunya kali ini. kalau benar-benar menyayangimu” kata linda sambil mengulurkan ponsel kearah kania. Dengan ragu kania mengambil ponselnya dari tangan linda. Mencari kontak Danish dan masih dengan perasaan ragu menekan tombol call. Beberapa detik kemudian terdengar suara disebrang yang sudah sangat dikenal kania. “kenapa kania” suara disebrang terdengar terburu-buru. “minggu besok. Apa kau punya waktu?. aku ingin kau menemaniku ke pesta salah satu sahabatku”. Terdengar suara helaan nafas disebrang sana, pertanda buruk untuk kania. “aku tidak bisa janji kania, kamu mengerti kan?”. Dan itu adalah jawaban untuk TIDAK.  Saat libur Danish memang lebih memilih beristirahat diapartmentnya. Jiwanya yang workaholic memang menguras waktu dan tenaganya. Itu kanapa ia lebih memilih istirahat saat libur. Setelah menucapkan salam kania menutup telpon, dan linda sudah tahu jawabannya. “terbukti bukan?”

Dan hari itu tiba…
          Hari masih sangat pagi,  seperti biasa setiap hari sabtu kania selalu datang ke apartment Danish dengan sekantong plastic makanan untuk sarapan. Danish hanya tinggal sendiri diapartment ini. Kedua orang tuanya tinggal diluar kota. Beberapa detik berlalu tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan didalam.

    Ia memencet bel berulang kali. Hingga akhirnya pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria tegap dibalik pintu itu. Kania tersenyum melihat danish dengan kaos dan celana pendek dan muka yang masih kusut. “pagi sekali” katanya dengan suara serak sambil membuka pintunya setengah. Membiarkan kania masuk dan langsung menaruh kantong makananya diatas meja makan.  Sedangkan Danish masih terpaku dibelakang pintu, masih mencoba tersadar dari tidurnya yang dibangunkan tiba-tiba.  “mandilah.. aku membawakan makanan kesukaanmu” kata kania sambil berlalu kearah dapur. Dengan langkah gontai Danish masuk kekamar mandi.

          Suara handphone Danish yang berada di meja ruang tamu berbunyi. Membuat kania bergerak cepat menghampiri. Dilihatnya nama pria teman sekantor Danish. Kania tahu karena Danish pernah beberapa kali  bercerita tentang hubungan kerjanya dengan pria ini. Dengan gerakan cepat ia mematikan panggilan itu dan menonaktifkan ponsel Danish. Ini hari sabtu..Danish masih ada kemungkinan pergi kekantor setengah hari kalau ada urusan mendadak.Tapi kali ini kania tidak akan membiarkan Danish kemana-mana. Ia ingin seharian bersama Danish.

          “kau datang pagi sekali?” kata Danish saat sampai dimeja makan dan duduk di kursi dihadapan kania yang sudah terlebih dahulu berada disana. Kania hanya menjawab dengan senyuman. danish sudah terlihat segar dengan kaos dan celana santai. Harum sabun tercium dari tubuhnya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat kania merasa begitu kecil dihadapan Danish. Danish yang diperhatikan lebih tertarik pada makanan yang dibawa kania. Ada nasi dan ayam marego yang sudah tersaji diatas piring dengan cantik. Ayam marego adalah masakan asal perancis dengan bahan utama ayam dan jamur . juga chocolate mousse sebagai hidangan penutup. “kau yang membuatnya?” Tanya Danish yang menyadarkan kania dari lamunannya. “iya, makanlah”. Kania lalu menyendokkan nasi kepiring Danish lengkap dengan lauknya. Juga menuangkan segelas air ke gelas Danish. “kau tidak makan?” Danish bertanya pada kania karena melihat kania hanya memperhatikannya makan. Piringnyapun masih dibiarkan terbalik diatas meja. Kania menggeleng sambil tersenyum. “aku sudah makan dirumah” katanya singkat masih mengarahkan mata indahnya kearah pria dihadapannya. Melihatnya begitu menikmati makanannya.

***

          “apa kau tidak lelah kania?” kata Danish pada kania saat mereka menuruni satu wahana ditaman bermain yang mereka kunjungi. Hari ini untuk pertama kalinya kania memaksakan kehendaknya dengan mengajak Danish ke taman bermain terbesar dikota itu. Mengajak Danish menaiki semua wahana ditaman bermain itu. Meluapkan sebuah rasa yang tak pernah ia beritahu pada Danish. Menggenggam erat tangan Danish, seakan tak ingin melepaskan sedetikpun. Melengkungkan senyum setiap saat meski hatinya ingin menangis. Dengan patuh Danish mengikuti kania, mengikuti arah genggamannya pergi, dan terpaksa melakukan apa yang kania inginkan. Hanya hari ini Danish bisa melepaskan semua beban pekerjaannya. Ia tinggalkan kemeja dan jas resminya, berganti dengan kemeja dan celana santai. Berubah dari seorang workaholic  menjadi orang biasa saja. Dan kenapa Danish baru merasakannya hari ini. perasaan lega karena bisa melepas semua beban pekerjaannya. Ia sadar ia terlalu sibuk bekerja dan bekerja. Dan hari ini kania benar-benar merubah harinya.

***

         “apa kau senang hari ini?” kata kania sebelum ia turun dari mobil Danish. Mobil itu sudah berada didepan rumah kania. “hari yang melelahkan, tapi menyenangkan” ada sebuah senyuman dibibir Danish seraya mengucapkan terima kasih.  Sedangkan kania, terihat gugup.. tidak..tidak hanya gugup tapi lebih dari itu, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Seakan mendorong dirinya untuk segera melepaskan perasaan ini. “aku ingin mengakhiri hubungan kita” kata-kata itu meluncur dari mulut kania, dan kania merasakan lega didadanya. Sedangkan Danish, hanya menatap tajam kania dengan rasa tak percaya.

          “kenapa??” Tanya Danish dengan suara serak, tanpa melepas pandangannya dari kania, sedangkan kania hanya menunduk, tak berani menatap Danish, ia takut hatinya lemah ketika harus kembali bertatapan dengan pria itu. “aku tidak mau membebanimu. kau sudah terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Dan aku sebenarnya tak ingin menuntut banyak. Tapi nyatanya aku butuh yang lebih dari itu. Perhatian, pengertian dan waktu mu untukku. “ mata kania berkaca-kaca tapi ia berusaha setegar mungkin. Ia harus melakukan ini. demi dirinya dan demi Danish. Danish memalingkan mukanya dari kania yang masih menunduk. Matanya menatap jalanan yang terlihat sepi. Ternyata kania sama saja dengan wanita lain yang suka menuntut. Ia pikir kania berbeda dengan wanita lain. “kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa melarang”. Kata-kata yang keluar dari mulut Danish membuat dada kania terasa sesak. Semudah itukah?? Apa benar Danish tidak menyayangi kania.? Kania menarik nafas panjang, mencoba menahan agar air matanya tidak keluar, bukan karena ia harus meninggalkan Danish. Tapi karena ia akhirnya sadar kalau Danish memang tidak pernah menyayanginya. “terima kasih untuk waktunya hari ini”. sedetik kemudian kania beranjak keluar dari mobil Danish. Berjalan pelan memasuki rumah dan berusaha tidak menoleh sedikitpun walau airmata sudah membanjiri wajahnya.  Semudah inikah????”

***

          Hari-hari setelah kepergian kania dari hidup Danish bener-benar terasa berbeda. Ia pikir ia bisa tanpa kania. Tapi ternyata tidak. Tidak ada lagi ucapan selamat pagi dari kania yang masuk ke ponselnya. Tidak ada lagi yang menelponnya saat jam makan siang untuk mengingatkannya agar tidak telat makan karena terlalu focus pada pekerjaannya. Tidak ada lagi yang berkata hati-hati kepadanya. Tidak ada lagi yang menanyakan “bagaimana pekerjaanmu hari ini?”. dan akirnya ia sadar, semua perhatian kania tidak pernah ia balas. Ia tidak pernah menyapa kania setiap pagi lewat pesan singkat seperti yang kania lakukan, ia tidak pernah mengingatkan kania untuk makan ataupun hal-hal kecil lainnya, ia tidak pernah berfikir kemana kania pergi hari ini dan apa yang ia lakukan.. yaa tuhah… Danish menghela nafas menyadari kebodohannya selama ini.

          4 hari setelah pernyataan putus yang kania lontarkan membuat Danish tidak bisa berfikir jernih. Bayang-bayang kania seperti sebuah slide yang terus berputar-putar dibenak Danish. Jam 2 siang, ia keluar dari kantor dan pergi kekampus kania. Memarkirkan mobilnya agak jauh dari gerbang kampus namun tetap bisa menatap jelas tiap orang yang masuk dan keluar dari gedung itu. Setengah jam kemudian kania keluar, Danish langsung menatap gadis itu baik-baik, ia berdiri didepan gerbang sebentar lalu sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan, seorang pria keluar dan membukakan pintu mobil untuk kania. Siapa pria itu??? Pertanyaan itu langsung menyeruak diotak Danish. Pacar atau teman?? Ya tuhan, bahkan selama 8 bulan mereka pacaran Danish sama sekali tidak mengenal 1 pun teman kania. Tidak pernah mengantar ataupun menjemput kania dikampusnya. Selama ini kalau mereka ingin bertemu atau jalan mereka selalu bertemu ditempat yang mereka janjikan. Danish memijat-mijat kepalannya yang terasa sakit, tidak.. hatinya jauh lebih sakit. Bukan karena melihat kania dengan pria itu. Tapi menyadari kebodohannya karena menyianyiakan gadis sebaik kania. 8 bulan dan kania bisa bertahan untuknya. Tidak mnegeluh sedikitpun dengan sikap cueknya.

          Dan hari ini ia melihat kania bersenda gurau dengan pria itu ditaman. Melihat senyum dan tawa kania membuat dada Danish terasa hangat, tapi seharusnya Danish yang berada disana. Dia yang seharusnya memberikan cokelat ataupun bunga pada kania. Membuat kania tersenyum dan tertawa. Tapi ia sadar ia sudah kehilangan kesempatan itu.
Ia harus bertemu dangan kania. Ia harus meminta maaf  Atas semua sikapnya selama ini.

***

          Kania berdiri didepan pintu apartement Danish dengan ragu. Tadi malam danish menghubunginya dan meminta kania datang kesini. Awalnya kania ragu, tapi ia tidak bisa membohongi diri kalau ia benar-benar merindukan Danish. Lepas dari Danish tidak semudah perkiraannya. ia benar-benar harus berjuang keras sampai akhirnya rasa itu berkurang. Walau tak sepenuhnya hilang tapi setidaknya ia tak lagi harus tersiksa dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Danish. Dengan jari gemetar ia memencet bel sambil mengatur perasaannya yang terasa tak karuan.  Suara derak langkah  semakin dekat dan dalam hitungan detik pintu itu terbuka.  “hai kania, masuklah” suara Danish terdengar gugup, kania membalas dengan senyum gugup pula. Ia melangkah pelan dan duduk disofa ruang tamu. Membiarkan Danish mengikutinya dibelakang, dan melirik Danish yang pergi menuju dapur. Kania duduk terpaku disofa, ruangan ini masih sama seperti terakhir kali kania datang kesini. Masih rapi dengan wangi ruangan yang begitu khas. Disudut ruangan ada rak kaca tempat menyimpan barang-barang unik koleksi Danish.  Didinding-dindingnya terpajang beberapa foto dirinya dan keluarganya yang berbingkai rapi. Disudut yang berlawanan ada sebuah piano. Danish memang seorang yang ahli dalam bermain piano. Piano itu terkadang menjadi sumber dirinya melepaskan kepenatan. Hanya dengan bermain piano dan Danish akan merasa seluruh bebannya hilang.ruangan itu Terasa nyaman dengan nuansa putih dan lantai marmer berwarna peach. Danish datang dengan membawa coklat hangat, salah satu minuman kesukaan kania. kania tersenyum melihat Danish menaruh gelas berisi air berwarna coklat itu diatas meja. “minumlah.. udara diluar begitu dingin. Ini akan sedikit menghangatkanmu” suara Danish terdengar serak, namun tetap jelas. Kania kembali tersenyum dan menyesap hot coklatnya. Rasa hangat dari minuman itu langsung menyebar ditenggorokkannya. Membuatnya sedikit lebih tenang. Suasana begitu hening dan kaku, seperti sebuah senar yang tertarik kencang dan siap putus. Danish menelan ludah. Ini tidak semudah pikiran Danish, hanya meminta maaf Danish, ayo lakukan. Danish menggerutu dalam hati karena ternyata ini lebih sulit dari bayangannya. Ia menatap kania lalu beranjak dari sofa, menghampiri piano disudut ruangan dan duduk dikursinya. Kania hanya menatap Danish yang duduk didepan piano dengan memunggunginya.  Jemari lentik Danish mulai menyatu dengan tuts-tuts piano itu, menghasilkan nada yang begitu indah
Same day, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don’t sound the same
When ours  friends talk about you
All it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sound like uh..uh..uh..
Hhhmmm too young, to dumb too realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have given all my hours
When I had the chance
Take you too every paty
Cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing,
But she’s dancing with another man
My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Cause a good strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean out the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man

          Mata kania berkaca-kaca. Saat Danish menyanyikan reff dari lagu Bruno mars itu, kania sudah tidak sanggup membendung air matanya. Tapi ia mencoba terlihat tegar dan setenang mungkin. Ia berdiri lalu tersenyum melihat Danish yang kini berbalik dan menatapnya dengan rasa bersalah. Bukan hanya bersalah tapi meyesal. Danish mendekat lalu memeluk kania. “maafkan aku kania. maaf atas semua sikapku selama ini. maaf aku yang selalu menyakitimu” suara Danish hilang, terasa tertelan ditenggorokan. “aku mohon kembalilah kepadaku. Bukan karena kau mencintaiku, tapi karena aku benar-benar mencintaimu. Aku berjanji akan berubah. Kumohon” suara itu terdengar lirih ditelinga kania. kania melepas pelukannya. Ia melihat mata Danish yang juga berkaca-kaca. Kania tersenyum sambil mengusap pipi danish lembut. Lalu menggeleng pelan, hati Danish terasa dihamtam begitu keras melihat kania menggeleng.  “kesempatanmu sudah 8 bulan dan kau menyianyiakannya. Tidak cukupkah??? Kau perlu belajar. Tapi tanpa aku.” Kania menatap mata Danish yang berkaca-kaca “I love you” kania mencium pipi Danish lalu beranjak menjauh dari Danish. Meninggalkan Danish yang masih berdiri mematung. Suara pintu tertutup akhirnya menyadarkan Danish kealam nyata. Ia menjatuhkan diri disofa. Memejamkan matanya dengan perasaan yang teraduk-aduk. Penyesalan kali ini benar-benar menyesakkan dadanya. Tapi kania benar. Kesempatannya sudah habis. Ia sudah diberi kesempatan selama 8 bulan dan ia menyianyiakannya. “terima kasih kania, terima kasih atas kesempatan yang telah kau berikan. Terima kasih atas semua kebaikanmu yang belum sempat ku balas. Aku janji aku akan membalas semua kebaikanmu suatu saat nanti”
My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Cause a good strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean out the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man