buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 11 June 2013

Karma



Aku memandang ke pojok ruangan. Melihat dua orang wanita dan satu pria asik mengobrol disana.  aku hanya memperhatikannya dari kejauhan. Menatap mereka dengan penuh rasa menyesal. Mengutuk diri sendiri karena begitu bodoh melepaskan dua sahabat terbaik dan satu-satunya orang yang kusayang. Seharusnya aku berada disana. Bercanda dengan mereka, menikmati tiap menit dan detik bersama mereka. Dan aku.. aku harusnya menggenggam tangan pria itu. merasakan halus kulitnya. Mengapa aku begitu bodoh melepaskan mereka semua?? Mengorbankan kebahagiaan yang sekarang tidak aku miliki. Aku kehilangan semuanya. Kehilangan semua yang dulu menjadi kebahagiaan dan kebanggaan dihidupku

3 bulan yang lalu
Aku merasa kehidupan remajaku sempurna saat ini. Aku mempunyai dua sahabat baik yang selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Gita dan Sasha. Mereka selalu mengisi hari-hariku. Kami melewati hari bersama. Suka dan duka bersama.  Dan yang lebih membahagiakan adalah kehadiran Kamal dihidupku. Pria manis yang sudah 2 tahun menjadi kekasihku. Memberikan perhatian kepadaku. Pria romantis yang selalu hadir melengkapi hidupku.
Kamal dan aku satu sekolah dan akhirnya menjalin hubungan serius. Semuanya terlihat membahagikan hingga akhirnya Rumah kosong disamping rumahku dihuni sebuah keluarga. Tidak ada yang aneh dengan keluarga itu. hanya saja seseorang yang beberapa hari kemudian kuketahui bernama gilang mulai menarik perhatianku. Aku berkenalan dan mulai dekat dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Dan entah sadar atau tidak aku semakin manjauh dari kamal. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama gilang dan kebersamaan kami ternyata menimbulkan rasa dihatiku. Rasa yang setelah beberapa hari kuketahui bahwa aku menyukai gilang.

                “kamu kemana kemarin siang? Aku menghubungi ponselmu tapi tidak aktif. Aku telpon kerumah katanya kau tidak ada?” mataku membulat  mendengar pertanyaan kamal secara tiba-tiba. Dia mengerutkan alis melihat ekspresi kagetku. “aku mengunjungi kawan lamaku yang sedang sakit. Maaf tidak memberitahumu. Aku mendapat berita itu mendadak dan battery ponselku habis” aku menarik nafas lega. Aku tidak pandai berbohong tapi kali ini kau berharap kamal percaya.
“yasudah tidak apa-apa. Bagaimana keadaan temanmu?” aku tersenyum lembut kepadanya, ada sedikit rasa sakit karena aku telah membohonginya. Kamal terlalu baik.

***

Tepat di sebulan perkenalanku dengan gilang. Hal yang kutakuti akhirnya terjadi. Gilang menyatakan cintanya padaku. Mengingatkanku pada wajah kamal yang begitu baik. Apa ini saatnya ku memilih antara gilang atau kamal?? Aku tau ini salah dan gilangpun tau kalau aku sudah mempunyai kamal.  Tapi entah apa yang ada dipikiran gilang. Ia secara terang-terangan mengaku tidak masalah kalau kita backstreet. Kita bisa menjalin hubungan dan aku tidak harus memutuskan Kamal. Dan entah sadar atau tidak aku justru mengiyakannya.

Sebulan aku berhasil menyembunyikan semuanya. Baik dan begitu rapi. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku. Aku bahagia bersama gilang. Tapi seperti kata pepatah sepandai-pandainya bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga. Itulah yang akhirnya terjadi. Yang pertama tau semuanya adalah kedua sahabatku.

Sore itu mereka mendatangi rumahku. Dengan wajah yang sangat tidak ramah. Wajah yang penuh kemarahan yang siap meledak. Kemarin ternyata mereka melihatku berjalan mesra dengan gilang disebuah mall. Dan aku.. hanya diam menatap mereka semua. Mendengar semua omelan mereka. Sampai pada akhirnya hatiku terasa panas dan aku mengakui semuanya, bahkan aku mengakui hubungan gelapku dengan gilang. Dan mereka semua meradang, mereka bilang bahwa pria sebaik kamal tidak pantas aku perlakukan seperti itu. dan aku yang merasa terpojok justru makin marah melihat emosi gita yang begitu meluap-luap, aku menuduhnya masih menyimpan rasa pada kamal. Dulu gita memang punya rasa pada kamal, tapi justru aku yang mendapatkannya. Dan aku pikir gita masih menyimpan rasa itu makannya ia sebegitunya membela kamal. Aku bertengkar hebat dengan kedua sahabatku. Gita semakin marah mendengar ucapanku.  Dan akhirnya memutuskan tali persahabatan kita saat itu juga.

Aku menatap malam dengan suasana sepi. Menanti-nanti ponsel ku berbunyi. Bukan.. lebih tepatnya menantikan amarah kamal. Menantikan ia menanyakan semuanya terhadapku. Aku yakin gita dan sasha tentu akan memberitahukan semuanya pada kamal. Dan aku?? Hanya perlu menunggu dan bom itu pasti meledak. Sebuah ketukan pintu menyadarkannku dari lamunan.  “sayang, ada kamal dibawah” suara lembut mama menyusuri gendang telingaku. Setelah menjawab aku masih terdiam dikamar. Menyiapkan diri. Jantungku berdegup 10 kali lebih cepat. Manatap wajahku dicermin yang ternyata sedikit pucat. Tapi aku harus berani. Aku harus berbicara pada Kamal. Walau aku tak tahu akan bagaimana akhirnya nanti. Sejenak terbersit wajah gilang. Wajah yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku dengan begitu indah. Aku tersenyum kecut lalu berjalan pelan keluar dari kamarku.

Itu dia… aku melihat kamal yang duduk tenang membelakangiku. Aku tidak punya pilihan lain selain maju. Aku menghampirinya dan tersenyum kecil. Ia membalas dengan ramah. “maaf mengganggumu? Apa kau sibuk?” katanya pelan, aku buru-buru menggeleng. Dan kamal akhirnya berbicara, ia sudah tau semuanya. Dan kamal memang pria yang baik, aku tidak melihat aura kemarahan dalam dirinya walau kutahu ia pasti merasa sakit hati atas perlakuanku. Ia bahkan tidak meminta penjelasan apapun dariku. Ia hanya memastikan kalau semua yang diberi tahu kedua sahabatku benar adanya. Dan aku tidak punya pilihan lain selain mengakui semuanya.

Semua berjalan begitu cepat. Kamal akhirnya memutuskan hubungan  saat itu juga, tapi semuanya tidak terasa berbeda selama beberapa hari. Mungkin hanya saat aku berada disekolah kesepian itu begitu terasa. Aku dan kedua sahabatku benar-benar memutuskan hubungan. Tidak ada lagi tegur sapa. Bahkan senyumpun mereka enggan. Tapi sejauh ini gilang menyempurnakan semuanya. Perhatiannya, kasih sayangnya. Kembali menjadikan hari-hariku bahagia, melupakan semua masalah yang terjadi. Dan sadar atau tidak aku malah menyukuri, mungkin kemarin adalah pengorbananku untuk meraih kebahagiaan bersama gilang. Karena akhirnya aku sadar aku benar-benar menyayangi gilang

Bulan bulan selanjutnya

Semuanya masih seperti biasa, sampai pada akhirnya gilang datang dan ternyata membawa kabar buruk untukku.  Seperti sebuah mimpi buruk yang harus menjadi kenyataan. Gilang secara sepihak memutuskan  hubungan kita dan alasannnya yang benar-benar tidak kuduga. Jauh sebelum menjalin hubungan denganku ia sebenarnya sudah mempunyai pacar yang amat sangat ia cintai dan ia tidak tega jika harus membohongi pacarnya terus menerus, dan hubungan kita kemarin… ia merasa kalau ia khilaf dan akhirnya sadar kalau ia mempunyai pacar yang sangat ia cintai. Air mata mengalir dari sudut mataku. Sejenak terbayang wajah kamal. Jadi semuanya hanya kebohongan, dan akhirnya aku tersadarkan bahwa mungkin ini karma untukku.  Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi air mata itu.. bukan karena keputusan gilang. Tapi karena akhirnya aku menyadari bahwa aku mengorbankan semuanya untuk orang yang salah.

Dan sekarang.. aku melihat mereka bersama. Mengobrol, tertawa. Hatiku terasa teriris. Seandainya waktu bisa kuputar. Mungkin kini aku berada diantara mereka dan menggenggam erat tangan kamal.

END-



Monday, 3 June 2013

when i was your man




          Danish memandang jauh kearah taman dari jendela mobilnya. Menatap lurus keseorang gadis yang duduk sendiri ditaman itu. gadis yang kira-kira berumur 19 th itu begitu manis dengan kaos merah dan jeans sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi melewati bahu. Alas kakinya hanya berupa sepatu kets warna senada dengan bajunya. Jam tangan warna senada berbahan karet juga melingkar indah dipergelangan tangan kirinya. Sudah 5 menit gadis itu disana, dan sudah 5 menit pula Danish memperhatikannya. Hembusan angin semilir ternyata tak cukup membuat hati Danish tenang. Dadanya terasa sesak oleh suatu perasaan. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Melepaskan kerinduan yang membuat dadanya terasa sesak tiap kali mengingat gadis itu.
Bukan, bukan karena ia menyukai gadis itu tapi tidak bisa mengungkapkannya. Lebih karena Ia sudah kehilangan kesempatan itu. Kania nama gadis itu, ia kuliah disalah satu universitas negeri dijakarta. Selang beberapa menit seorang pria muda menghampiri gadis itu, ia terlihat membawa sebatang cokelat dan ice cream. Gadis itu menyambut dengan senyum paling ramah. Membuat dada Danish makin terasa sesak karena rasa bersalah. Selama 8 bulan ia berpacaran dengan kania, ia bahkan tidak pernah memberikannya cokelat atau pun ice cream. Dan ia baru menyadari kalau ia sangat menyayangi kania adalah saat hubungan itu benar-benar berakhir

***

“pagi sayang… happy Monday ya”
Sender : kania

          Itu adalah pesan wajib yang akan masuk ke ponsel Danish setiap pagi. Membuat dirinya selalu melengkungkan senyum.Ia 2 tahun lebih tua dari kania dan kini ia bekerja disebuah perusahaan property sebagai manager diperusaan itu. Ia dan kania bertemu di sebuah pameran. Perkenalan singkat itu terjalin hingga akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Danish merasa kania adalah gadis manis dan ceria. Ia tidak pernah menuntut banyak pada Danish, baik waktu ataupun sikap-sikap selayaknya sepasang kekasih. Tidak seperti wanita-wanita lain yang cenderung menuntut waktu yang tidak bisa Danish berikan.

          “maaf ya sayang, aku tidak bisa menjemputmu hari ini,ada meeting diluar dan belum                            juga selesai. Tidak masalahkan kan kalau kau pulang sendiri?”
Sender : Danish

          Pesan itu masuk kehandphone kania saat ia berada di kantin kampusnya. Sudah 30 menit ia menunggu Danish dan ternyata Danish lagi-lagi membatalkan janji secara mendadak. Ini bukan sekali ataupun dua kali. Sudah sering Danish membatalkan janji sepihak karena pekerjaannya.
Kania tersenyum kecut lalu membalas pesan singkat itu

“tidak apa-apa. Kamu hati-hati ya, jangan sampai telat makan”
Sender : kania

          Ada rasa kesal tetapi rasa sayangnya terhadap Danish mengalahkan semuanya. Ia merasa Danish adalah pria yang sempurna untuknya. Ia selalu merasa nyaman saat berada didekat Danish, kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan pada pria-pria lain. Walaupun Danish tidak pernah menunjukkan perhatian lebih layaknya seorang kekasih. tapi ia begitu mencintai Danish dan meski Danish adalah tipe pria yang cuek dan tidak peka. Ia tetap mencintai Danish dan menaruh harapan banyak untuk bisa selalu bersama-sama Danish.

***

          “bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya kania saat mereka makan disalah satu resto didaerah Jakarta. Ia merasakan rindu karena sudah seminggu tidak bertemu dengan pria ini. Danish menarik nafas dengan berat  “ya begitu, masih sibuk mengurusi anak perusahaan yang baru. Belum lagi masalah pengadaan bahan baku yang sedang sulit. Makannya banyak meeting akhir-akhir ini.“ katanya sambil menyuapkan steak ke mulutnya. Sedangkan kania mendengarkannya penuh minat. Memperhatikan gerak bibir pria itu tanpa ingin melewatkannya sedetik pun. Tampan dan aku sangat menyayanginya… katanya dalam hati.

***

          “apa kau sibuk malam ini? Aku ingin mengajakmu menonton film bersama teman-temanku”. Kania menanti-nanti jawaban dari seberang sana.  Walau ia tahu pacarnya tidak akan punya waktu karena ia terlalu sibuk. Tapi tidak ada salahnya mencoba, pekiknya dalam hati. “maaf ya kania, sepertinya aku harus  lembur lagi hari ini. ” Danish berkata dengan berat hati. Ia mendengar nada kecewa dari kania. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaan lebih penting baginya. “yasudah, tidak apa-apa. Jangan sampai telat makan ya. Love you”

***

          “dia sibuk lin.” Kata kania agak keras kepada linda. Ia hanya curhat masalah Danish yang tidak punya waktu untuknya, tapi ternyata itu mengundang kekesalan linda. Linda berfikir kalau Danish tidak menyayangi kania. Tapi kania membantah dengan segala alasan.
“kania.. kalau dia menyayangimu, dia pasti punya waktu untukmu sesibuk apapun dia” wajah linda menegang, mengetahui kebodohan kania. Kania terlalu polos, pikirnya dalam hati. Danish adalah pacar pertama kania, wajar kalau kania benar-benar mempertahankan Danish meskipun Danish sangat cuek kepadanya. Wajah kania mendadak pucat, ada garis kekecewaan diwajah manisnya. Ia meneguk minuman kaleng yang sedari tadi tergeletak dimeja samping ranjangnya. Membirkan air soda itu membanjiri tenggorokkannya.

          “oke.. kalaupun dia menyayangimu, tidak untuk menjadi pacarnya. Kau mengerti?? Hanya status. Dia hanya focus pada pekerjaannya. Tidak untuk pacaran. Dia belum siap berhubungan dengan kondisinya yang selalu mementingkan pekerjaannya. Tidakkah kau mengerti kania?”

          Kata-kata linda kali ini ampuh membuat kania tersadar lalu menatap linda tajam. Linda benar, ia butuh pria yang bisa memperhatikannya seperti teman-temannya yang lain. Yang bisa membalas semua perhatiannya, yang bisa memberikan waktu luang untuknya, yang bisa ia banggakan didepan teman-temannya. Tapi ia begitu menyayangi Danish…

          “acara pesta fabby minggu besok. Apa kau sudah mengajak Danish?” linda kembali membuka mulut melihat kania hanya terdiam. Kania hanya mengangkat bahu, ia ingin mengajak Danish menemaninya ke pesta itu. Tapi niat itu diurungkannya hingga hari ini karena ia tahu Danish mungkin akan menolak karena alasan pekerjaannya. Itu pasti. “dia pasti bisa meluangkan waktunya kali ini. kalau benar-benar menyayangimu” kata linda sambil mengulurkan ponsel kearah kania. Dengan ragu kania mengambil ponselnya dari tangan linda. Mencari kontak Danish dan masih dengan perasaan ragu menekan tombol call. Beberapa detik kemudian terdengar suara disebrang yang sudah sangat dikenal kania. “kenapa kania” suara disebrang terdengar terburu-buru. “minggu besok. Apa kau punya waktu?. aku ingin kau menemaniku ke pesta salah satu sahabatku”. Terdengar suara helaan nafas disebrang sana, pertanda buruk untuk kania. “aku tidak bisa janji kania, kamu mengerti kan?”. Dan itu adalah jawaban untuk TIDAK.  Saat libur Danish memang lebih memilih beristirahat diapartmentnya. Jiwanya yang workaholic memang menguras waktu dan tenaganya. Itu kanapa ia lebih memilih istirahat saat libur. Setelah menucapkan salam kania menutup telpon, dan linda sudah tahu jawabannya. “terbukti bukan?”

Dan hari itu tiba…
          Hari masih sangat pagi,  seperti biasa setiap hari sabtu kania selalu datang ke apartment Danish dengan sekantong plastic makanan untuk sarapan. Danish hanya tinggal sendiri diapartment ini. Kedua orang tuanya tinggal diluar kota. Beberapa detik berlalu tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan didalam.

    Ia memencet bel berulang kali. Hingga akhirnya pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria tegap dibalik pintu itu. Kania tersenyum melihat danish dengan kaos dan celana pendek dan muka yang masih kusut. “pagi sekali” katanya dengan suara serak sambil membuka pintunya setengah. Membiarkan kania masuk dan langsung menaruh kantong makananya diatas meja makan.  Sedangkan Danish masih terpaku dibelakang pintu, masih mencoba tersadar dari tidurnya yang dibangunkan tiba-tiba.  “mandilah.. aku membawakan makanan kesukaanmu” kata kania sambil berlalu kearah dapur. Dengan langkah gontai Danish masuk kekamar mandi.

          Suara handphone Danish yang berada di meja ruang tamu berbunyi. Membuat kania bergerak cepat menghampiri. Dilihatnya nama pria teman sekantor Danish. Kania tahu karena Danish pernah beberapa kali  bercerita tentang hubungan kerjanya dengan pria ini. Dengan gerakan cepat ia mematikan panggilan itu dan menonaktifkan ponsel Danish. Ini hari sabtu..Danish masih ada kemungkinan pergi kekantor setengah hari kalau ada urusan mendadak.Tapi kali ini kania tidak akan membiarkan Danish kemana-mana. Ia ingin seharian bersama Danish.

          “kau datang pagi sekali?” kata Danish saat sampai dimeja makan dan duduk di kursi dihadapan kania yang sudah terlebih dahulu berada disana. Kania hanya menjawab dengan senyuman. danish sudah terlihat segar dengan kaos dan celana santai. Harum sabun tercium dari tubuhnya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat kania merasa begitu kecil dihadapan Danish. Danish yang diperhatikan lebih tertarik pada makanan yang dibawa kania. Ada nasi dan ayam marego yang sudah tersaji diatas piring dengan cantik. Ayam marego adalah masakan asal perancis dengan bahan utama ayam dan jamur . juga chocolate mousse sebagai hidangan penutup. “kau yang membuatnya?” Tanya Danish yang menyadarkan kania dari lamunannya. “iya, makanlah”. Kania lalu menyendokkan nasi kepiring Danish lengkap dengan lauknya. Juga menuangkan segelas air ke gelas Danish. “kau tidak makan?” Danish bertanya pada kania karena melihat kania hanya memperhatikannya makan. Piringnyapun masih dibiarkan terbalik diatas meja. Kania menggeleng sambil tersenyum. “aku sudah makan dirumah” katanya singkat masih mengarahkan mata indahnya kearah pria dihadapannya. Melihatnya begitu menikmati makanannya.

***

          “apa kau tidak lelah kania?” kata Danish pada kania saat mereka menuruni satu wahana ditaman bermain yang mereka kunjungi. Hari ini untuk pertama kalinya kania memaksakan kehendaknya dengan mengajak Danish ke taman bermain terbesar dikota itu. Mengajak Danish menaiki semua wahana ditaman bermain itu. Meluapkan sebuah rasa yang tak pernah ia beritahu pada Danish. Menggenggam erat tangan Danish, seakan tak ingin melepaskan sedetikpun. Melengkungkan senyum setiap saat meski hatinya ingin menangis. Dengan patuh Danish mengikuti kania, mengikuti arah genggamannya pergi, dan terpaksa melakukan apa yang kania inginkan. Hanya hari ini Danish bisa melepaskan semua beban pekerjaannya. Ia tinggalkan kemeja dan jas resminya, berganti dengan kemeja dan celana santai. Berubah dari seorang workaholic  menjadi orang biasa saja. Dan kenapa Danish baru merasakannya hari ini. perasaan lega karena bisa melepas semua beban pekerjaannya. Ia sadar ia terlalu sibuk bekerja dan bekerja. Dan hari ini kania benar-benar merubah harinya.

***

         “apa kau senang hari ini?” kata kania sebelum ia turun dari mobil Danish. Mobil itu sudah berada didepan rumah kania. “hari yang melelahkan, tapi menyenangkan” ada sebuah senyuman dibibir Danish seraya mengucapkan terima kasih.  Sedangkan kania, terihat gugup.. tidak..tidak hanya gugup tapi lebih dari itu, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Seakan mendorong dirinya untuk segera melepaskan perasaan ini. “aku ingin mengakhiri hubungan kita” kata-kata itu meluncur dari mulut kania, dan kania merasakan lega didadanya. Sedangkan Danish, hanya menatap tajam kania dengan rasa tak percaya.

          “kenapa??” Tanya Danish dengan suara serak, tanpa melepas pandangannya dari kania, sedangkan kania hanya menunduk, tak berani menatap Danish, ia takut hatinya lemah ketika harus kembali bertatapan dengan pria itu. “aku tidak mau membebanimu. kau sudah terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Dan aku sebenarnya tak ingin menuntut banyak. Tapi nyatanya aku butuh yang lebih dari itu. Perhatian, pengertian dan waktu mu untukku. “ mata kania berkaca-kaca tapi ia berusaha setegar mungkin. Ia harus melakukan ini. demi dirinya dan demi Danish. Danish memalingkan mukanya dari kania yang masih menunduk. Matanya menatap jalanan yang terlihat sepi. Ternyata kania sama saja dengan wanita lain yang suka menuntut. Ia pikir kania berbeda dengan wanita lain. “kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa melarang”. Kata-kata yang keluar dari mulut Danish membuat dada kania terasa sesak. Semudah itukah?? Apa benar Danish tidak menyayangi kania.? Kania menarik nafas panjang, mencoba menahan agar air matanya tidak keluar, bukan karena ia harus meninggalkan Danish. Tapi karena ia akhirnya sadar kalau Danish memang tidak pernah menyayanginya. “terima kasih untuk waktunya hari ini”. sedetik kemudian kania beranjak keluar dari mobil Danish. Berjalan pelan memasuki rumah dan berusaha tidak menoleh sedikitpun walau airmata sudah membanjiri wajahnya.  Semudah inikah????”

***

          Hari-hari setelah kepergian kania dari hidup Danish bener-benar terasa berbeda. Ia pikir ia bisa tanpa kania. Tapi ternyata tidak. Tidak ada lagi ucapan selamat pagi dari kania yang masuk ke ponselnya. Tidak ada lagi yang menelponnya saat jam makan siang untuk mengingatkannya agar tidak telat makan karena terlalu focus pada pekerjaannya. Tidak ada lagi yang berkata hati-hati kepadanya. Tidak ada lagi yang menanyakan “bagaimana pekerjaanmu hari ini?”. dan akirnya ia sadar, semua perhatian kania tidak pernah ia balas. Ia tidak pernah menyapa kania setiap pagi lewat pesan singkat seperti yang kania lakukan, ia tidak pernah mengingatkan kania untuk makan ataupun hal-hal kecil lainnya, ia tidak pernah berfikir kemana kania pergi hari ini dan apa yang ia lakukan.. yaa tuhah… Danish menghela nafas menyadari kebodohannya selama ini.

          4 hari setelah pernyataan putus yang kania lontarkan membuat Danish tidak bisa berfikir jernih. Bayang-bayang kania seperti sebuah slide yang terus berputar-putar dibenak Danish. Jam 2 siang, ia keluar dari kantor dan pergi kekampus kania. Memarkirkan mobilnya agak jauh dari gerbang kampus namun tetap bisa menatap jelas tiap orang yang masuk dan keluar dari gedung itu. Setengah jam kemudian kania keluar, Danish langsung menatap gadis itu baik-baik, ia berdiri didepan gerbang sebentar lalu sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan, seorang pria keluar dan membukakan pintu mobil untuk kania. Siapa pria itu??? Pertanyaan itu langsung menyeruak diotak Danish. Pacar atau teman?? Ya tuhan, bahkan selama 8 bulan mereka pacaran Danish sama sekali tidak mengenal 1 pun teman kania. Tidak pernah mengantar ataupun menjemput kania dikampusnya. Selama ini kalau mereka ingin bertemu atau jalan mereka selalu bertemu ditempat yang mereka janjikan. Danish memijat-mijat kepalannya yang terasa sakit, tidak.. hatinya jauh lebih sakit. Bukan karena melihat kania dengan pria itu. Tapi menyadari kebodohannya karena menyianyiakan gadis sebaik kania. 8 bulan dan kania bisa bertahan untuknya. Tidak mnegeluh sedikitpun dengan sikap cueknya.

          Dan hari ini ia melihat kania bersenda gurau dengan pria itu ditaman. Melihat senyum dan tawa kania membuat dada Danish terasa hangat, tapi seharusnya Danish yang berada disana. Dia yang seharusnya memberikan cokelat ataupun bunga pada kania. Membuat kania tersenyum dan tertawa. Tapi ia sadar ia sudah kehilangan kesempatan itu.
Ia harus bertemu dangan kania. Ia harus meminta maaf  Atas semua sikapnya selama ini.

***

          Kania berdiri didepan pintu apartement Danish dengan ragu. Tadi malam danish menghubunginya dan meminta kania datang kesini. Awalnya kania ragu, tapi ia tidak bisa membohongi diri kalau ia benar-benar merindukan Danish. Lepas dari Danish tidak semudah perkiraannya. ia benar-benar harus berjuang keras sampai akhirnya rasa itu berkurang. Walau tak sepenuhnya hilang tapi setidaknya ia tak lagi harus tersiksa dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Danish. Dengan jari gemetar ia memencet bel sambil mengatur perasaannya yang terasa tak karuan.  Suara derak langkah  semakin dekat dan dalam hitungan detik pintu itu terbuka.  “hai kania, masuklah” suara Danish terdengar gugup, kania membalas dengan senyum gugup pula. Ia melangkah pelan dan duduk disofa ruang tamu. Membiarkan Danish mengikutinya dibelakang, dan melirik Danish yang pergi menuju dapur. Kania duduk terpaku disofa, ruangan ini masih sama seperti terakhir kali kania datang kesini. Masih rapi dengan wangi ruangan yang begitu khas. Disudut ruangan ada rak kaca tempat menyimpan barang-barang unik koleksi Danish.  Didinding-dindingnya terpajang beberapa foto dirinya dan keluarganya yang berbingkai rapi. Disudut yang berlawanan ada sebuah piano. Danish memang seorang yang ahli dalam bermain piano. Piano itu terkadang menjadi sumber dirinya melepaskan kepenatan. Hanya dengan bermain piano dan Danish akan merasa seluruh bebannya hilang.ruangan itu Terasa nyaman dengan nuansa putih dan lantai marmer berwarna peach. Danish datang dengan membawa coklat hangat, salah satu minuman kesukaan kania. kania tersenyum melihat Danish menaruh gelas berisi air berwarna coklat itu diatas meja. “minumlah.. udara diluar begitu dingin. Ini akan sedikit menghangatkanmu” suara Danish terdengar serak, namun tetap jelas. Kania kembali tersenyum dan menyesap hot coklatnya. Rasa hangat dari minuman itu langsung menyebar ditenggorokkannya. Membuatnya sedikit lebih tenang. Suasana begitu hening dan kaku, seperti sebuah senar yang tertarik kencang dan siap putus. Danish menelan ludah. Ini tidak semudah pikiran Danish, hanya meminta maaf Danish, ayo lakukan. Danish menggerutu dalam hati karena ternyata ini lebih sulit dari bayangannya. Ia menatap kania lalu beranjak dari sofa, menghampiri piano disudut ruangan dan duduk dikursinya. Kania hanya menatap Danish yang duduk didepan piano dengan memunggunginya.  Jemari lentik Danish mulai menyatu dengan tuts-tuts piano itu, menghasilkan nada yang begitu indah
Same day, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don’t sound the same
When ours  friends talk about you
All it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sound like uh..uh..uh..
Hhhmmm too young, to dumb too realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have given all my hours
When I had the chance
Take you too every paty
Cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing,
But she’s dancing with another man
My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Cause a good strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean out the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man

          Mata kania berkaca-kaca. Saat Danish menyanyikan reff dari lagu Bruno mars itu, kania sudah tidak sanggup membendung air matanya. Tapi ia mencoba terlihat tegar dan setenang mungkin. Ia berdiri lalu tersenyum melihat Danish yang kini berbalik dan menatapnya dengan rasa bersalah. Bukan hanya bersalah tapi meyesal. Danish mendekat lalu memeluk kania. “maafkan aku kania. maaf atas semua sikapku selama ini. maaf aku yang selalu menyakitimu” suara Danish hilang, terasa tertelan ditenggorokan. “aku mohon kembalilah kepadaku. Bukan karena kau mencintaiku, tapi karena aku benar-benar mencintaimu. Aku berjanji akan berubah. Kumohon” suara itu terdengar lirih ditelinga kania. kania melepas pelukannya. Ia melihat mata Danish yang juga berkaca-kaca. Kania tersenyum sambil mengusap pipi danish lembut. Lalu menggeleng pelan, hati Danish terasa dihamtam begitu keras melihat kania menggeleng.  “kesempatanmu sudah 8 bulan dan kau menyianyiakannya. Tidak cukupkah??? Kau perlu belajar. Tapi tanpa aku.” Kania menatap mata Danish yang berkaca-kaca “I love you” kania mencium pipi Danish lalu beranjak menjauh dari Danish. Meninggalkan Danish yang masih berdiri mematung. Suara pintu tertutup akhirnya menyadarkan Danish kealam nyata. Ia menjatuhkan diri disofa. Memejamkan matanya dengan perasaan yang teraduk-aduk. Penyesalan kali ini benar-benar menyesakkan dadanya. Tapi kania benar. Kesempatannya sudah habis. Ia sudah diberi kesempatan selama 8 bulan dan ia menyianyiakannya. “terima kasih kania, terima kasih atas kesempatan yang telah kau berikan. Terima kasih atas semua kebaikanmu yang belum sempat ku balas. Aku janji aku akan membalas semua kebaikanmu suatu saat nanti”
My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Cause a good strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean out the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I’ll be the first to say that I was wrong
Oohh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he bought your flowers
I hope he hold your hands
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you love to dance
Do all the things I should have done
When I was your man


Tuesday, 21 May 2013

STUPID BOY II




          “woy, bengong aja lo. Kasian ayam tetangga pada mati”. Iras menepuk pundak ryan keras karena melihat temannya duduk sendiri di balcon kamarnya. “sialan lo, sakit tau” katanya sambil menoleh kebelakang. Dilihatnya iras sudah tidur diranjangnya dengan sebuah majalan ditangan. “Yan, lo sama tiara jadian ya?” iras melontarkan pertanyaan tapi matanya tertuju pada majalahnya. “kaga” jawabnya singkat sambil  menghampiri iras dan duduk ditepi ranjang. “owh.. abis anak-anak pada heran liat lo mendadak jadi rajin semenjak duduk sama tiara. Tapi lo suka sama dia?” tanyanya lagi. kali ini iras memandang ryan yang memunggunginya dan melihat ryan mengangguk. Iras langsung bangun dan duduk sejajar dengan ryan. “tembak donk bro.aahh jangan bilang lo ga berani.” Katanya sambil menepuk bahu ryan. “sembarangan lo, gue udah ditolak malahan” katanya sambil merebahkan tubuhnya diranjang. Iras yang mendengar bukannya bersimpati malah tertawa geli.

          “kok malah ketawa” ryan mengeryit mendapati iras yang kini balik memunggunginya. “abisnya lucu, gue baru mau nyuruh lo nembak dia eehh ternyata  lo malah udah ditolak. Btw, kapan nembakknya?”

          “kemaren.” Jawabnya pelan.Iras berdiri dan mengulurkan sebelah tanggannya, ryan menyambut tangannya dan dengan cepat menariknya. Membuat ryan dengan cepat terangkat dan kembali mendudukan diri ditepi ranjang. “dengerin gue bro, tiara itu beda dari cewe-cewe lain. Lo ga bisa seminggu ajak dia jalan trus nembak dia.” Ryan menatap temanya.Benar kata iras, semuanya terlalu cepat buat tiara.Ga salah kalau tiara menolaknya. “jadi butuh berapa lama?” tanyanya balik
“ga perlu berapa lama. Yang penting lo ngerasa yakin kalau tiara punya perasaan yang sama kaya lo.” Ryan mengangkat kaki dan menyilangkannya, menyatukan salah satu sikut dengan lututnya, membuat telapak tangan menopang dagunya.Membuatnya terlihat seperti orang yang sedang berfikir keras.

       “Ada apaan sih?”.Ryan masuk menerobos sekumpulan anak yang berkumpul di mading.“LOMBA SAINS TINGKAT SMA” dahinya berkerut “hadiah beasiswa S1 ke university of Melbourne. Uang jajan setiap bulan” ryan keluar dari kerumunan karena merasa tidak berminat, lebih sadar diri tepatnya. Ia kembali melangkahkan kaki menuju kelas.Mendapati tiara yang sedang duduk santai dan mata tertuju pada buku yang ia pinjam dari perpus kemarin. “pagi tiara” sapanya lembut, tiara menoleh dan menjawab dengan sebuah senyuman. “makasi ya tadi pagi udah di telpon, kalo nggak gue pasti kesiangan” katanya lagi sambil melepas ransel dari pundaknya. “sama-sama” tiara kembali menoleh. Dan tatapan mereka bertemu…  suasana hening sejenak, tiara menelan ludah mencoba menetralkan rasa yang akhir-akhir ini hinggap dihatinya. “makasih juga udah ingetin kalau hari ini hari senin, jadi gue ga saltum lagi.” Ryan akhirnya memecah keheningan.“sama-sama” kata tiara gugup.

           Apa ia salah kalau ia menyatakan cintanya pada tiara. Ia merasa tiara sangat baik padanya. Mengajarinya belajar, mengingatkan semua yang mungkin ia lupakan, merubah ryan menjadi lebih baik Dan ia merasa tiara juga punya perasaan yang sama padanya. Ryan melirik tiara yang masih sibuk dengan buku bacaannya. Lalu melepas pandangannya. Makin intens ia menatap tiara makin ia menginginkannya.

             “lo biasa makan disini ra?” kata ryan saat mereka duduk disebuah tempat makan pinggir jalan dekat taman. Tiara menggangguk. “mau makan apa?” Tanya tiara, ia melirik ryan yang menampakkan wajah ragu. “apa aja” jawabnya singkat. “-apa aja- itu makanan baru ya?” tiara tersenyum, begitupun ryan, teringat kejadian waktu itu. Dadanya terasa sesak mengingatnya. Ryan melihat sekeliling. “ga pernah makan dipinggir jalanya?” tiara membuat ryan menoleh dengan cepat. Ryan hanya mengangkat bahu. “nasi goreng disini enak lho, ga kalah sama restoran di mall-mall.” Kata tiara sambil menyesap es teh manisnya. Ryan emang ga biasa makan ditempat kaya gini.Hari ini ia mengantar tiara membeli buku setelah pulang mengajar, tapi setelah itu tiara menolak diajak makan di mall, ia malah mengajak ryan ketempat ini.  Tempat ini cukup bersih, tidak seperti tempat makan yang ada di pinggir-pinggir jalan pada umumnya, letaknya  berada disamping taman,  dan tempatnya tertutup. Hanya saja lebih sederhana dibanding resto-resto dimall pada umumnya. Cuma tiara yang berani nolak diajak makan dimall, Cuma tiara yang nolak dibeliin barang-barang bagus, dan Cuma tiara yang akhirnya bikin hati ryan ga karuan.

          “kali ini gantian gue yang traktir ya?” kara tiara sambil mengeluarkan dompet dari tasnya setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dan segelas es teh manis. “ga usah ra, gue aja” kata ryan mencegah tiara mengeluarkan uang dari dompetnya. “ga papa, gue udah keseringan di traktir lo”
“tapi gue ga biasa dibayarin cewe”. Katanya agak keras. Membuat tiara menoleh dan menatapnya. “pokoknya gue yang traktir”. Katanya lalu pergi menghampiri penjual dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu kembali ke mejanya.

          “makasih ya traktirannya. Tapi lain kali gue ga mau kalo dibayarin lo lagi.” Katanya sambil memberhentikan motor didepan rumah tiara. Tiara hanya tersenyum. “makasih juga udah nemenin ketoko buku”. Ryan tersenyum “oia, lo mau ikut test lomba sains itu. “. Tiara mengangguk “besok testnya”. “lo udah pasti lolos ra, tenang aja” ryan berusaha meyakinkan. “lo kan keturunannya einstein” tambahnya. Tiara hanya tersenyum lalu berlalu dari pandangan ryan.

           Jam sudah menunjukkan pukul 21.30, tapi tiara masih terlihat gelisah diranjangnya. Matanya sama sekali tidak ingin terpejam. Padahal ia harus mengistirahatkan diri untuk test lomba sains besok.
Ryan…. Ryan penyebabnya. Wajah ryan terus berkelebat dalam pikiran tiara. Senyumnya, tawanya, kebersamaan mereka..aarrrgghh.. gue kenapa siih???  Ia menghardik diri sendiri. Kenapa ada rasa menyesal saat menolak ryan waktu itu. apa gue suka sama ryan?? Gak..ga bisa.. gue ga boleh pacaran, atau sekolah gue bakal berantakan.

“ra, sorry ya hari ini gue ga bisa bareng sama lo,
Hari ini gue ga masuk. Tolong izininin gue ya.Gue ga enak badan”
Sender :ryan

Pesan itu masuk kehandphone tiara. Ia mengerutkan dahi. Ryan sakit????
“sakit apa yan? Iya gpp.”
Sender : tiara

          Tiara memakai sepatunya lalu berpamitan dengan ibunya. Melangkahkan kaki menyusuri komplek-komplek perumahan yang terhubung kesekolahnya. Saat sampai digerbang hanphonenya kembali bergetar.

“Cuma demam ra, tenang aja. Ga usah kuatir gitu donk..ckckckk. 
Oia, good luck ya buat testnya ntar”
Sender :ryan

Tiara tersenyum. “lagi sakit masih aja bisa kepedean”

          Ryan menunggu didepan laboraturium dengan wajah pucat pasi, ia merasakan suhu tubuhnya kembali meninggi. Ia hari ini tidak masuk sekolah, tapi sore hari ini ia datang kesekolah untuk melihat tiara. Ia masuk melalui pintu belakang. Sekolah sudah sepi hanya beberapa orang yang masih mempunyai kegiatan disekolah. Ia melongok dari jendela, melihat tiara dan beberapa anak serius mengerjakan soal-soal dimeja mereka masing-masing. 

          Mata tiara membulat melihat ryan duduk dibangku depan laboraturium. “ryan”. yang dipanggil langsung menoleh. Ryan berdiri didepan tiara dan mengulurkan tangannya. “selamat ya, gue yakin lo bisa”. Tiara menjabat tangan ryan. “tangan lo panas yan”. Ia menatap ryan cemas, lalu menaruh balik telapak tangannya didahi ryan. “yan, lo panas banget. Pucat lagi”

          “ga papa, paling demam biasa” jawabnya enteng sambil mencoba tersenyum, walau ternyata terasa berat. “gak, lo harus kedokter ryan. Kita kedokter ya”. Ryan menggenggam tangan tiara. “ga usah, paling demam biasa”.

          “dia kena tipes, kenapa baru dibawa sekarang? Dia harus dirawat” dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan menemui tiara yang menunggu ryan diluar. “saya akan pindahkan dia keruang perawatan”.  Tiara memandang cemas melihat ryan dipindahkan keruang perawatan oleh beberapa suster. Ia mengeluarkan handphonenya, mencari kontak iras di phonebook lalu menekan tombol call. Hanya iras yang bisa membantunya. Ia tidak mengenal keluarga ryan sama sekali. “yaudah, lo tenang dulu ya. Bentar lagi gue otw”. Tuut..tuutt… suara diujung sana terputus. Ia kembali menatap hadnphonenya lalu menghubungi ibunya. Memberitahu kalau ia akan pulang agak malam.

          Tiara duduk disebuah kursi tepat disamping ranjang ryan. Ia menatap ryan yang sedang tertidur pulas. “kenapa sih lo keras kepala banget jadi anak, lagi sakit bukannya istirahat dirumah malah kelayaban.” tiara berbicara satu arah dengan ryan. Yang diajak mengobrol masih tertidur pulas akibat obat yang diberikan dokter tadi. Kreekk… suara derit pintu berbunyi, menampakkan iras yang berada dibaliknya. “sakit apa ra?” kata iras yang langsung menghampiri tiara.

          “tipes ras” katanya singkat. “kok bisa? Lo dari rumah ryan tadi?” iras melihat ada kecemasan yang tersirat diwajah tiara.  Tadi pagi ia melihat tiara begitu cemas menghadapi test untuk olimpiade sainsnya, tapi kali ini ia melihat kecemasan itu karena ryan. “tadi sore dya kesekolah”.  Iras mengerutkan dahi. Tadi pagi ryan ga masuk sekolah, tapi sorenya dia pasti dateng buat nemenin tiara test. “yaudah, gue udah nelfon kakak sepupunya tadi. Dya lagi otw katanya. Orang tuanya ryan lagi diluar kota”. Tiara tak memperdulikan iras, tatapannya hanya tertuju pada ryan yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. “gue cariin lo makan dulu ya ra, lo pasti belom makan kan?”. Tiara menatap iras dan akhirnya mengangguk. Iras melangkahkan kaki menuju pintu keluar.

          Tiara menggenggam sebelah tangan ryan. Suhu badanya sudah tidak sepanas tadi. Ya tuhan.. mengapa ia begitu menhawatirkan anak ini. Suara derit pintu kembali berbunyi, tapi bukan iras yang ada dibaliknya. Seorang cewek cantik yang usianya kira-kira 2 tahun diatas tiara. Wanita dengan blus biru muda dan rok selutut juga high heels itu menghampiri tiara sambil tersenyum.Tiara buru-buru melepas genggamannya dari ryan.. “kamu pasti tiara” katanya tanpa melepas senyumannya. Tiara spontan menggeser bangkunya dan berdiri, ia ikut tersenyum sambil mengangguk. “saya  lisa, kakak sepupunya ryan.” Ia mengulurkan tangannya , membuat tiara dengan sigap menjabat tangannya. Tiara dan lisa duduk disofa agak jauh dari tempat tidur ryan. “kamu lebih cantik dari bayangan kakak.” Pipi tiara merona merah, lalu menatap lisa penuh kebingungan. “ryan banyak cerita tentang kamu”. Lisa seakan tau apa yang ada dipikiran tiara. “makasih yang udah bikin ryan berubah”. Katanya lagi, kali ini matanya menatap ryan dari kejauhan. “itu karena ryan yang pengen berubah ka, bukan karena tiara”. Tiara mengikuti arah pandang lisa yang tertuju pada ryan. “ryan itu sayang banget sama kamu.” Kali ini kata-kata lisa ampuh membuat tiara berbalik, menatap lisa yang matanya masih tertuju ke ranjang. “dya banyak cerita tentang kamu sama kakak. Waktu itu kakak sempet beberapa kali nginep dirumah ryan. Udah hampir tengah malem dya masih sibuk diruang tamu, belajar buat ulangan biologi katanya. Pertama kakak ga percaya, tapi ternyata dia serius, disaat itulah dia cerita tentang kamu. Dya ngerasa nyaman dideket kamu, dia ngerasa kamu beda dari cewe-cewe lain. Saat itulah dia mutusin buat rajin belajar. Biar bisa deket sama kamu. Mungkin kamu ga pernah tau. Dia sempet denger beberapa anak ngomongin dya disekolah. Mereka mengira ryan deket sama kamu Cuma buat manfaatin kepintaran kamu., dan kamu manfaatin ryan karena kekayaannya. Padahal dya ga sejahat itu. Kamu tau kan.”. tiara menghela nafas panjang, ya tuhan.. ia sama sekali ga pernah punya pikiran seperti itu tentang ryan. “mulai saat itu dya belajar biar bisa setara sama kamu, biar dia bisa buktiin sama anak-anak lain kalau dya ga seperti yang mereka pikirkan. Dan keesokan harinya. Dya pulang dengan baju yang udah basah karena keringetan, dan mengeluh kalau kakinya cape banget karena jalan kaki dari rumah ke sekolah, buat apa? Biar bisa jalan bareng kamu. Setiap hari dia nunggu kamu di komplek deket rumah kamu. Seolah-seolah kalian bertemu karena ketidak sengajaan.”. lisa menghentikan kata-katanya, lalu menoleh kerah tiara. Melihat matanya yang berkaca-kaca. “dua hari yang lalu sebenarnya dia udah ngeluh kalau ga enak badan. Tapi dia tetep maksa masuk sekolah terus nganterin kamu ke toko buku. Dia bener-bener ga pengen ngelewatin hari tanpa kamu. “ mata lisa kembali melirik tiara sambil tersenyum, lalu menaruh telapak tangan di pundak tiara dan mengelusnya lembut. Membuat tiara menoleh. Tatapan sendunya bertemu dengan tatapan lisa yang juga berkaca-kaca. “ Kakak udah hubungin orangtua ryan, kemungkinan tengah malem nanti mereka sampai dijakarta. “. Iras muncul dari balik pintu dengan sekantong makanan ditangannya. “ka lisa” katanya sambil menghampiri mereka berdua. Iras sudah duduk disamping tiara dan mengeluarkan 2 box makanan dari kantong plastiknya. Tapi tiara masih sibuk menenangkan perasaanya yang terasa teraduk-aduk. Makanan yang terlihat enak itupun sama sekali tidak menggugah selera makannya. ”makan dulu ra” kata iras ragu karena melihat air muka tiara yang menampakkan kesedihat lebih dalam dari yang tadi. “gue ga laper ras” katanya pelan. “kamu harus makan tiara. Kalau kamu ikutan sakit gimana?. mending kalian berdua makan. Abis itu pulang terus istirahat. Besok harus sekolah kan”


          “assalamualaikum”. Tiara membuka pintu. Melihat lisa yang masih berada dirumah sakit dan wanita muda yang kemungkinan adalah ibu ryan.  Hari masih sangat pagi, tapi tiara memutuskan untuk datang kerumah sakit sebelum berangkat sekolah. Ia menjabat tangan ibunya ryan yang tersenyum ramah kepadanya. “tiara”. Katanya pelan. Lalu melirik kearah ryan yang masih tertidur pulas diranjangnya. “ryan baik-baik aja kok. Kamu tenang aja” ka lisa mencoba meyakinkan tiara sambil berjalan keluar ruangan. Meninggalkan tiara dengan ibu selvi yang membuat tiara gugup karena tidak tau harus berbuat apa. Bu selvi akhirnya mempersilahkan tiara duduk. “makasih ya tiara, tante ga tau harus bilang apa lagi sama kamu.” Bu selvi tersenyum, tiara juga walau sebenarnya ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud sebenarnya. “lisa udah cerita banyak tentang kamu”. Dan saat itulah bu selvi mengakui kesalahan karena jarang memperhatikan ryan. Ia hanya memperhatikan ryan dari segi financial. Tiara melihat raut wajah penyesalan dalam diri bu selvi. Wajar kalau ryan tumbuh menjadi anak yang susah diatur. Tapi ia tahu kalau sebenarnya bu selvi sangat menyanyangi ryan. “tiara.” Suara itu terdengar pelan namun ampuh membuat kedua wanita itu menoleh kearah datangnya suara. “ryan” spontan tiara beranjak dari sofa dan menghampiri ryan. Ia kemarin meninggalkan ryan dalam keadaan tertidur pulas, dan pagi ini ia begitu merindukan anak ini. “kamu udah kenalan sama mama.” Katanya pelan, suaranya seperti tertelan ditenggorokan. Tiara hanya mengangguk sambil tersennyum, bu selvi sudah ada disamping tiara dan menatap ryan penuh kelembutan.  Ia melihat ketenangan diwajah ryan. Membuatnya hanya diam dan menatapnya. “aku berangkat dulu ya. Kamu cepet sembuh, bentar lagi kita kan ujian.” Tiara tersenyum lalu menggenggam tangan ryan sebentar.

***

          3 hari sudah berlalu, setiap pagi dan sore setelah mengajar tiara selalu mampir kerumah sakit. Menyadari bahwa ia benar-benar peduli pada ryan, bukan hanya peduli, ia mencintai ryan. Dan itu tidak dapat Ia pungkiri lagi. Hari ini ryan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, tiara menyusuri lorong-lorong rumah sakit. dan mendapati keluarga ryan termasuk ka lisa berkumpul di ruang perawatan ryan. Ryan sudah terduduk diranjang saat tiara masuk. Ia langsung tersenyum melihat tiara datang. “ibu titip salam buat lo”  kata tiara sambil menatap ryan yang sudah kelihatan sehat. Wajahnya sudah tidak pucat seperti beberapa waktu lalu dan Suaranya sudah terdengar lantang.

          Ryan benar-benar anak orang kaya. Tiara membatin saat mereka sampai disebuah rumah mewah bercat putih. Tiara berjalan beriringan dengan ryan dan keluarga mamasuki rumah itu. Ruang tamu di design dengan gaya modern dengan kesan sangat mewah. Tiara dan ryan duduk disofa sedangkan yang lain masuk ke kamar masing-masing. Mungkin ingin sedikit beristirahat karena beberapa hari ini tidurnya berkurang karena menjaga ryan dirumah sakit. Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dan menaruh segelas es jeruk untuk tiara. Tiara tersenyum smbil megucapkan terima kasih.  “diminum ra” ryan mempersilahkan tiara menyesap minumannya. Tiara mengangguk sambil menegak setengah dari isi gelasnya. “oia, ini catatan selama lo ga masuk.” Tiara mengelurakan beberapa buku bersampul coklat dan memberikannya kepada ryan yang duduk manis disampingnya. Ryan mengeryit “gue kan baru sembuh ra, lo mau bikin gue mabok apa” katanya sambil tersenyum, tiara ikut tersenyum saat mengetahui ryan bercanda. Ryan adalah warna dihidup tiara. Dahulu hidupnya hanya seputar sekolah dan bekerja, kini ryan merubah segalanya. Membuat hidup tiara lebih berwarna. Dan tiara kini menjadi sumber inspirasi ryan. sumber semangat ryan buat jadi orang yang lebih baik.

          “gimana ujiannya?” tiara melihat ryan dengan tampang kusutnya langsung duduk disamping tiara yang sedang asik menyeruput soft drinknya dikantin. Ryan menghela nafas. “susah ra” katanya singkat lalu memejamkan mata, mencoba sedikit menenangkan otaknya yang serasa terbakar. Hari ini adalah hari terakhir dilaksanakannya ujian nasional tingkat SMA.

         “tiara….selamat ya, lo lolos jadi peserta olimpiade sains” Diana berlari dari kejauhan menghampiri tiara. Suara kencangnya ampuh membuat seisi kantin menoleh kearah datangnya suara. “selamat ya tiara.” Diana menjabat tangan tiara dan memeluknya erat, diikuti ryan yang tak mau kalah. Sedangkan tiara masih menenangkan hatinya yang terasa tak karuan, matanya terlihat berkaca-kaca.  “pengumumannya udah dipajang dimading barusan. Lombanya abis kita ujian sekolah” lanjut Diana setelah mereka duduk melingkar dibangku kantin.

          Hari-hari berikutnya dilalui tiara dengan kerja keras. Ia meminimalisir jadwal mengajarnya dari 5x seminggu menjadi 3x seminggu. Ia menfokuskan diri dengan ujian sekolah beberapa hari lagi dan olimpiade sainsnya. Kesempatan beasiswa ini sangat menyulut semangatnya. Inilah impiannya selama ini. Dan sudah ada didepan mata.

          “selamat ya ra” Kata-kata meluncur disepanjang jalan dari lorong-lorong sekolah. Kemenangan tiara dalam olimpiade sains kamarin langsung menyebar ke segala penjuru sekolah. Bahkan fotonya dan atrikel tentang olimpiade kemarin dipajang dimading sekolah.

          “jadi donk lo ra, kuliah di australy” Suara lirih itu keluar dari mulut ryan yang sedang duduk ditaman berdua dengan tiara dengan sebuah ice cream ditangan masing-masing. Tiara tersentak, seperti tersadar dari sesuatu. Tiara menelan ludah lalu menatap ryan dengan wajah datar. Suasana hening sejenak sampai akhirnya suara ringtone dari handphone tiara memecah keheningan. Tiara mengalihkan pandangan menuju hanphonenya. Ia mengangkat alis karena malihat nomor baru memanggil di layar handphonenya. Ia lalau menekan tombol answer “iya, bener.. apaaa?? Terus sekarang dimana?” airmata mengalir dari mata indahnya, sedangkan ryan mulai panic melihat tiara menangis. “kenapa ra?” Tanya ryan dengan wajah kebingungan. “ibu yan, ibu jadi korban tabrak lari. Sekarang kita harus kerumah sakit”.

         Ryan mengemudikan motornya dengan cepat walau tetap hati-hati. Tiara yang duduk dibelakang masih menangis sejadi-jadinya. Sampai dirumah sakit tiara berlari menuju resepsionis dan bertanya keberadaan ibunya, setelah itu ia menggandeng tangan ryan setengah berlari. Sampai diruangan yang dituju, ia melihat dari kaca ibunya terbaring dengan beberapa selang menempel ditubuhnya juga  dokter dan beberapa perawat. Salah seorang perawat yang mengetahui kehadiran tiara langsung keluar mencoba mencegah tiara masuk. “saya anak dari pasien didalam suster, gimana keadaan ibu saya?” kata tiara masih dengan air mata yang terus menetes dari matanya. Ryan menggenggam tangan tiara erat.

             “keadaannya kritis, dokter sedang mengusahakan yang tebaik untuk ibu anda. Lebih baik anda tenang dan tidak menganggu konsentrasi dokter.”. suster itu pergi, meninggalkan tiara dan ryan dilorong rumah sakit. Ryan menuntun tiara agar duduk dikursi. “tenang ra, ibu lo pasti baik-baik aja” tangan ryan mengelus pundak tiara lembut. Tanpa sadar tiara menyandarkan kepalanya dibahu ryan. masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Otaknya sibuk menerka-nerka apa yang sekiranya terjadi dengan ibunya. Ia hanya punya ibunya didunia ini. Tidak ada sanak saudara ataupun yang lain, hanya ibunya.

          15 menit kemudian dokter keluar dari ruangan membuat tiara dan ryan terlonjak dari kursinya. “gimana keadaan ibu saya dok?” kata tiara cemas. “ibu anda kritis, kecelakaan itu membuat rangka otak ibu anda pecah, ia kehilangan banyak darah dan sekarang dia koma.”. kata-kata dokter membuat tiara bagai disambar petir, air mata yang tadi sudah mengering kini mengalir kembali. “sebaiknya anda terus berdoa, karena saya sudah berusaha semampu saya. Dan untuk tindakan perawatan selanjutnya anda bisa mengurusnya ke bagian administrasi.”. tiara mengangkat dagu dan menatap dokter itu. “tapi saya boleh melihat ibu saya sekarang kan dok?”. Suaranya lirih tertelan dengan tangisannya. Dokter itu mengangguk. “lo masuk aja ra, biar gue yang urus perawatannya. “ . ryan melepas genggamannya dari tangan lembut tiara. Tiara tak memikirkan apa lagi, Ia hanya ingin melihat ibunya.

          Suasana diruangan itu begitu sepi, hanya bunyi yang berasal dari mesin-mesin penunjang kehidupan yang ada disana. Tiara kembali histeris melihat ibunya terbaring tak berdaya dengan balutan perban dikepala dan tangannya. Ia menggenggam tangan ibunya lalu menciumnya. “ibu harus bagun bu, tiara ga bisa kalau ga ada ibu”. Menit demi menit berlalu, tiara masih terduduk disamping ranjang ibunya. Masih tidak percaya dengan yang terjadi. Saat itulah sebuah tangan menepuk pundaknya lembut. Ryan memberikan sebotol minuman kepada tiara. “makasih” katanya pelan.

          Sudah 2 hari tiara dirumah sakit, ryan dengan setia menemani tiara. Hari ini ruangan perawatan tak hanya ada tiara dan ryan. ibu ryan, ayah ryan, ka lisa ada disana. Mencoba ikut merasakan kesedihan tiara yang sebenarnya jauh dari yang mereka bayangkan. “sabar ya tiara. Tante terus berdoa untuk ibu kamu” bu selvi tersenyum mencoba menghibur tiara. “makasih tante.”
Sore harinya beberapa teman sekolahnya juga datang untuk menjenguk ibu tiara. Tapi nyatanya itu semua tak cukup mengurangi kesedihan tiara. Ia hanya ingin ibunya tak ingin yang lain.

           “Sorry ya yan, gue jadi ngerepotin lo banget.” tiara terduduk disofa. Masih menatap ibunya yang sampai detik ini belum sadarkan diri. Tadi pagi ia pergi ke bagian kasir untuk menyelesaikan administrasi. Tapi ternyata semua biaya perawatan sudah diselesaikan oleh keluarga ryan. entah apa lagi yang harus tiara perbuat untuk membalas semua kebaikan keluarga ryan.  jam menunjukkan pukul 11.00 WIB dan saat itu pula handphone keduanya berdering. Mereka mengambil handphone mereka yang teregletak diatas meja lalu membuka pesan masuk. Pesan dari Diana memberitahu kalau tiara lulus dengan nilai terbaik, dan  ryan juga lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan. Tiara dan ryan bertatapan dan saling berpelukan. Ungkapan kebahagian yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “selamat ya ra” suara itu menggelitik telingan tiara. “lo juga yan”. Tiara melepas pelukannya dengan cepat saat mendengar suara mesin kehidupan itu berbunyi dan menunjukkan tanda-tanda buruk. “ibu…..” tiara langsung menghampiri ibunya yang masih dalam keadaan tenang. “yan, panggil dokter yan”

           Tiara masih terisak dimakam ibunya, beberapa temannya yang ikut melayat sudah berangsur-angsur pergi, menyisakan tiara dan ryan yang masih terpaku dipemakaman. “bu, kenapa ibu tinggalin tiara? Tiara ga bisa kalau ga ada ibu. Cuma ibu yang tiara punya, sekarang tiara sebatang kara” kata-kata lirih itu keluar dari bibir mungil tiara. Ryan hanya menatap tiara, ia sangat mengerti kesedihan tiara.

          “kita pulang ya ra. Bentar lagi ujan kayanya”. Ryan mencoba membuat tiara mengalihkan sedikit pandangannya. “gue mau disini aja yan”. Katanya tanpa menoleh dari makam ibunya. “ra, lo harus istirahat. Lo lupa sama beasiswa lo ke australy?” kali ini kata-kata ryan ampuh membuat tiara menoleh. Yaa tuhan, ia bahkan lupa dengan cita-citanya. Tapi semua itu kini tak ada artinya lagi. Ia hanya ingin ibunya. “ra, biarpun ibu lo udah ga ada, lo harus tetep bikin dia bangga?” ryan seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan tiara.

           Dan sekarang disinilah tiara. Disebuah rumah besar yang sama sekali tidak pernah terfikirkan untuk tinggal disini. 2 minggu setelah kepergian ibunya, bu selvi. Ibunya ryan memaksa tiara untuk tinggal dirumahnya. Awalnya tiara menolak, ia sudah terlalu banyak berhutang budi pada keluarga ryan. tapi bu selvi dan ka lisa memaksa. Hari ini tiara sudah menyelesaikan urusannya disekolah, ia sudah mengambil semua surat-surat berharga sehubungan dengan kelulusannya. Dan 3 hari lagi ia dan beberapa orang juara dalam olimpiade sains kemarin akan berangkat keaustraly, panitia sudah mengurus semuanya. Ia hanya tinggal mengemas barang-barangnya dan berkumpul besok dibandara. Kali ini tiara bangkit, ia berusah tegar dengan semua cobaan yang diberikan tuhan. Ia harus melanjutkan hidupnya, mengejar mimpi-mimpinya dan membuat ibunya bangga dialam sana.

           Diwaktu yang sama tapi ditempat yang berbeda, ryan merenung diatas ranjangnya. Apa ia bisa melepas tiara? Apa ia bisa hidup tanpa tiara? Tiara sangat berpengaruh dalam hidupnya. Dan Ia benar-benar sadar kalau ia sangat mencintai tiara.  Bagaimana kalau tiara jauh dari hidupnya?.

        “belum tidur?” ryan memenukan tiara yang duduk sendiri ditaman belakang rumahnya. Beberapa helai rambutnya berterbangan tertiup angin malam. Tiara menoleh kearah datangnya suara mendapati ryan berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. “ga dingin? Udah malem lho” ryan duduk disamping tiara yang menatapnya tanpa ekspresi. Tiara hanya tersenyum sambil menggeleng. “besok lo jadi berangkat?” ryan memecah keheningan sekali lagi. Membuat tiara menjawab dengan sebuah anggukan. “tapi lo bakal balik kan ra? Gue… gue sayang banget sama lo” kali ini kata-kata ryan terdengar serius. Tiara kembali menoleh. “gue Cuma punya lo yan sekarang, gue janji gue bakal balik buat lo. Lo mau nunggu gue kan?” kata-kata meluncur dari bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Ryan tersenyum sambil menggenggam tangan tiara erat. “gue janji gue bakal nungguin lo”. Ryan tersenyum , lalu mencium kening tiara dan memelukanya erat.
Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap. Dan menjadi sebuah janji yang tidak tau dapat ditepati atau tidak.

bersambung