buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Tuesday, 17 February 2015

Surat untukmu yang Beribadah Ditempat yang Berbeda


                Heei kamu, iya kamu.. apa kabarmu hari ini? Aku harap kau selalu dalam keadaan baik-baik saja. hari ini aku terbangun bersama derasnya air hujan diluar. Dan entah mengapa aku teringat denganmu.

               Mungkin saat ini kau sedang beribadah di gereja. Memanjatkan berbagai doa. Mungkin termasuk mendoakan hubungan kita. Hubungan yang mungkin buat orang lain terasa “TERLARANG”

Yaahh… aku tidak tau dari sekian banyak pria muslim di dunia ini. Kenapa tuhan justru menambatkan hatiku padamu.  Kau mencuri semua perhatianku. Bahkan saat aku memiliki seseorang. Aku tau ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan kini hatiku menjadi tumbalnya. Aku menyukaimu saat aku terlibat hubungan pacaran dengan seseorang.  Dan bodohnya, melihat gayung bersambut darimu aku malah semakin berani menunjukkan perasaanku. Kita menjalani hubungan yang tak biasa. aku jujur mengenai statusku dan kau merasa tidak ada masalah. Sepertinya aku layak disebut PESELINGKUH yang hebat. Bisa menutupi semuanya dengan begitu rapi dan bersih. tapi nada-nada sumbang sering terdengar kala teman-temanku mengetahui hubungan terlarangku. Tapi aku bertahan karena merasa aku benar. Mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan.

Jujur.. kau berbeda dengan pacarku. Kau terlihat lebih pendiam dan begitu tampak apa adanya. Dari awal, aku tau bahwa kau adalah sosok yang selama ini aku cari-cari. Kau begitu hangat dan penyayang. Itulah yang membuat aku mengambil keputusan berani untuk putus dengan pacarku dan lebih memilihmu. Aku pikir semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi nyatanya tidak. nada-nada sumbang yang lain bertiup lebih kencang dan terasa menggoyahkan.

“untuk apa kau menjalin hubungan dengan laki-laki beda agama, membuang-buang waktu saja”

“apa tidak ada laki-laki lain? Hubungan beda agama? Mau kau bawa kemana nanti akhirnya?”

Itu mungkin yang  sering terdengar dan tak pelak lama-lama membuatku muak. Aku terkadang ingin berteriak didepan wajah mereka. “aku mencintainya, aku tidak peduli agamanya dan biarkan kami menjalani hubungan ini sewajarnya.” Tapi akhirnya aku sadar bahwa kata-kata itu hanya pantas diucapkan oleh anak-anak belia yang baru mengenal cinta. Bukan aku yang sudah cukup dewasa untuk memilih laki-laki pendamping hidup.

                Kata-kata itu terdengar naïf dan sekarang aku menyadarinya. Kau tau sayang bagaimana aku mencoba menutup telinga serapat mungkin. Kau tau bagaimana namamu tidak pernah luput dari doa-ku setiap aku menengadahkan tangan diatas sajadah. Semoga tuhan memberikan rencana indah dibalik semua ini. Semoga kelak tuhan dengan caranya menyatukan kita dibawah atap yang sama.

                Aku tau aku dan kamu begitu sulit menjadi “kita”. Kita sama-sama memperjuangkan sesuatu yang tidak mudah.  Aku berjuang dengan agamaku dan kau berjuang atas nama agamamu. Lalu bagaimana mungkin aku dan kamu menjadi “KITA”?

                Tapi tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah bosan berdiri disampingmu, berjalan beriringan denganmu dan tersenyum untukmu. Tapi kenapa semakin hari kau terlihat semakin pesimis.  Mana suara lantang yang sering kau ucapkan padaku bahwa kita bisa melawan dunia dengan segala perbedaan yang kita punya. Kenapa kau seakan diam saat aku menggandeng tanganmu untuk maju. Kenapa kau sekarang bersembunyi dibalik perbedaan kita.

                Aku tau ini tidak mudah. Akupun tidak tau akan mendapat restu orang tua atau tidak. Tapi apakah tidak terlalu cepat kalau kita menyerah sekarang? Kita bahkan belum mencapai setengah jalan? Apa hanya sampai disini keberanianmu memperjuangkanku?

                Sayang… ingatkah saat kita membangun impian bersama. Memimpikan berada di satu atap yang sama. Makan dimeja yang sama. Mengasuh anak-anak kita yang lucu hingga akhirnya menjadi tua bersama. Aahhh itu semua fase yang terlihat begitu mudah. Tapi kenapa terasa begitu sulit bagi kita. Apakah perbedaan itu begitu sulit di enyahkan.

                Aku teringat kata-kata seseorang “kadang tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai pencipta atau ciptaanya” mungkin kata-kata itu yang membuat kita semakin bersebrangan. Tapi apakah kita tidak bisa berjalan beriringan. Apakah tembok besar diantara kita tidak bisa dihancurkan? Bukankah tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan yang berbeda?

Kini aku hanya bisa tersenyum kala melihat fotomu yang masih terbingkai rapi di atas meja kamarku. Aku tau kau tidak sepenuhnya mundur. Ikatan cinta kita masih begitu terasa bahkan sampai detik ini. Kita hanya sedang berjuang masing-masing. Kau dengan kesibukanmu dan aku  dengan kesibukanku. Aku juga percaya bahwa namaku tak lupa kau selipkan dalam setiap doamu.
               


                 

Monday, 16 February 2015

Surat untuk kau yang entah harus kuanggap apa



Aku merindukan perkenalan kita yang sederhana. Dimulai dari senyum yang terurai satu sama lain. Baralih dengan saling sapa, hingga bertukar nomor handphone. Kau satu-satunya pria dikelas yang berhasil menarik perhatianku. senyum dengan lesung pipi itu selalu mempesonaku. Aku bahkan lebih sering memperhatikanmu daripada dosen yang sedang mengajar dikelas.

                Aku senang melihat kau yang mudah bergaul. Itu mempermudah hubungan kita. Aku tidak akan pernah melupakan hari dimana kita pertama kali jalan bersama. Kau mengajakku ke tempat tidak biasa. Kau mengajakku ke toko buku. Kau bukan pria kutu buku dengan kacamata tebal, tapi kau menyukai  aktivitas itu. Disaat aku beradu dengan rak-rak berisi novel-novel remaja, kau lebih memilih berdiri didepan rak-rak buku biography orang-orang terkenal. Kau tidak menganggap buku-buku tebal itu membosankan. Berbeda denganku.

                Setalah itu, ingatkah saat kita menghabiskan hari di taman kota. Duduk dibawah pohon rindang dengan buku ditangan kita masing-masing. Mungkin orang-orang akan melihat ini sebagai sesuatu yang membosankan. Tapi bagiku tidak. kau selalu meluangkan beberapa menit untuk berbicara denganku. Menutup bukumu sebentar untuk menatapku atau sekedar meminum minuman kalengmu.

                Keesokan harinya. Aku terkejut saat kau tiba-tiba ada didepan pagar rumahku. Tersenyum diatas motor biru-putih andalanmu. Dengan kemeja kotak-kotak merah hitam dan celana jeans juga sepatu kets yang terlihat baru dicuci. Aku senang saat kau mengucapkan “selamat pagi”. Jadi hari itu, kita berangkat bersama ke kampus. Beberapa teman sekelas yang melihat langsung berseru menggoda kita. Membuat pipiku panas karena mungkin langsung merona merah. Tapi kau tidak berkata apa-apa. Kau hanya tersenyum lalu berjalan beriringan denganku.

                Entah sudah berapa lama kedekatan kita berlangsung. Kau bahkan tidak sungkan saat menunjukkan diri didepan pintu rumahku. Bertemu kedua orangtuaku untuk meminta izin karena ingin mengajakku pergi. Aku terasa menjajaki dunia yang berbeda denganmu. Kau bukan pria yang hobi menghabiskan waktu dengan nongkrong di café-café mahal ataupun diskotik-diskotik tengah malam. Seperti yang kubilang, kau bukan kutu buku tapi kau menyukai kesunyian. Kau lebih suka menghabiskan waktu ditempat dimana kau bisa mendapatkan ketenangan, tempat yang membuatmu bisa menghabiskan berlembar-lembar buku bacaanmu. Dan entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan itu.

                Dalam ketidak jelasan hubungan kita. Aku selalu berharap banyak. Perasaan itu semakin lama semakin membumbung tinggi tanpa bisa ditahan. Apakah kau juga merasakan hal sama? Apakah kau merasakan kenyamanan yang sama yang aku rasakan saat bersamamu? Apakah semua perhatianmu boleh kuartikan lebih? Apakah aku boleh berharap menjadi yang lebih dari sekedar teman buatmu?

                Aku tau aku tak lebih dari seorang gadis biasa. Gadis yang tidak mungkin mengungkapkan perasaannya pada seorang pria walaupun rasa itu tidak bisa dianggap remeh. Rasa itu besar, ketertarikan yang tidak pernah aku pikir akan  terus membesar dan semakin besar.

                Pesan darimulah yang pertama kali ku buka setiap pagi dan yang paling akhir kubaca setiap malam. Kau seakan menjadi sosok yang selalu aku pikirkan saat aku membuka mata dan terakhir aku pikirkan saat aku hendak menutup mata. Apakah kau pikir aku berlebihan? Apakah kau melakukan hal yang sama denganku?

                Taukah kau bahwa aku sering tersenyum saat membaca pesan darimu? Pesan darimu seperti magnet yang mudah mendekatkanku dengan kebahagiaan. Apakah itu juga berlaku buatmu? Aku tau kau mungkin butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa aku adalah sosok yang tepat untuk menjadi kekasihmu. Bahwa aku benar-benar jatuh hati padamu. Bahwa mungkin kau tidak akan mendapati sayang yang lebih dari gadis lain selain diriku. Tenanglah. aku akan selalu bersabar. Walau entah sampai kapan.

Terkadang aku ingin sekali bertanya. Sebenarnya siapa aku di matamu? Apakah aku ini sekedar teman? tapi kita terlalu banyak berbagi berbagai hal. Apa aku hanya sahabat mu? tapi mengapa terkadang kau memperlakukanku layaknya seorang kekasih? Atau mungkin kita memang sepasang kekasih. Dan kau berpikir kita sudah terlalu dewasa untuk urusan tembak-menembak seperti yang lainnya?
               


                

Thursday, 29 January 2015

Love is Worth The Wait


     Lima tahun yang lalu, aku hanya gadis biasa. Gadis berseragam abu-abu dengan lesung pipi dan rambut terurai sebahu. Aku bisa dibilang cukup poluler disekolah. Dengan reputasi sebagai anak berprestasi dan wajah diatas rata-rata. bukan hal sulit untukku mencari yang namannya pacar.   Bukan hanya satu-dua orang yang berniat menjalin hubungan serius denganku. Tapi aku terus saja kekeuh menolak mereka. Bukan karena mereka tidak cukup baik, tapi karena aku masih menunggu seseorang.

     “kamu itu cantik, pintar. Buat apa mengorbankan masa mudamu untuk menunggu seseorang yang tidak jelas.” Lolita tidak pernah bosan menyerukan kata-kata itu kepadaku ataupun “semakin hari aku semakin sadar betapa bodohnya dirimu. Kau bahkan menolak para laki-laki baik hanya untuk menunggu seseorang yang sedang bersenang-senang dengan gadis lain.” Aku hanya bisa tersenyum kecut. Menyadari semua kata-kata Lolita ada benarnya.

     disudut kantin. Tempat favoritku saat jam istirahat. Aku biasa menghabiskan jam istirahatku disini. Bahkan jika makanan dan minumanku sudah habis. Aku akan tetap berada disana sampai bel masuk berbunyi. Sampai bunyi bel itu membuat dia dan gadisnya pergi. Tidak ada yang bisa aku lakukan disini selain menatapnya. Melihat senyumnya, memperhatikan gerak bibirnya, melihatnya tertawa bersama gadis itu, aku bahkan senang saat gadis itu bisa membuat laki-lakiku menaikkan garis bibirnya. Sedangkan aku sendiri tidak yakin bisa membuatnya tersenyum. Apa aku bisa melakukan sesuatu yang gadis itu lakukan untuk laki-lakiku.

     Lolita benar, aku bodoh, aku mencintai seseorang yang sudah mempunyai kekasih. Raihan, pria yang sukses membuatku merasakan yang namanya love at the first sight. Dan bodohnya aku bahkan masih tersihir sampai detik ini. Aku tidak peduli ia bersama pacarnya ataupun siapa. Yang terpenting aku bisa melihatnya tertawa. Agak munafik memang, aku ingin ada di posisi pacarnya. Bersamanya setiap hari, menghabiskan banyak waktu dengannya, berbagi tawa dan canda ataupun berbagi setiap masalah.

     Tetapi aku yakin. Tiap kebodohan yang aku lakukan untuknya. Tiap aku tanpa henti menatapnya. Aku akan bilang pada diriku sendiri bahwa “aku sedang menunggu jodohku, aku sedang menunggu calon suamiku.” Iyaa.. laki-laki tampan yang sedang bersama gadis itu lah jodohku. Lucu memang, tapi entah kenapa kata-kata itu bagai sebuah mantra buatku. Mantra mahadahsyat yang membuatku tidak berhenti bersikap bodoh.

     Dua tahun kemudian aku dipertemukan kembali dengannya disebuah kampus yang sama. Dengan statusnya yang baru. SINGLE. Yaah dia seorang SINGLE. Dan aku tidak tau apa yang lebih membahagian selain ini. Kami mengambil jurusan yang sama membuat kami semakin akrab. Aku senang saat ia bilang. “kamu lucu, kenapa dulu kita jarang ngobrol yaa walau kita satu kelas.” Tentu saja, ia sudah terlalu sibuk dengan gadisnya. Dunianya hanya untuk gadisnya. Mana mungkin ia membuang-buang waktu untuk mengobrol dengan yang lain.

     Mungkin ia sibuk menutup rapat kehidupannya hanya untuk gadisnya. Bahkan menolak seseorang yang mungkin lebih baik dari gadisnya. Tapi bukankah itu bagus. Ia tidak mudah tergoda. lalu kenapa akhirnya mereka putus? Sayangnya aku tidak ingin membuang waktuku untuk memikirkna hal itu. Aku hanya ingin dekat dengannya. Itu saja.
Lolita hampir tidak percaya saat aku menceritakan kedekatanku dengan raihan. “jadi sekarang udah nggak cinta bertepuk sebelah tangan niih?” katanya menggodaku. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengankat bahu karena pada kenyataannya status hubunganku dengannya masih belum jelas.

          Tok..tok..tok..

     Suara itu terdengar. Aku tersadar dari lamunanku dan menyuruh orang diluar masuk. Ibuku tersenyum dari balik pintu. Dengan kebaya stelan berwarna krem ia menghampiriku. “ayo sayang, semuanya sudah siap.” Aku mengangguk dan meninggalkan meja rias. Berjalan pelan karena kabaya yang kupakai terasa membelit tubuh rampingku.

     Dan disanalah… aku melihat calon suamiku terduduk didepan penghulu. Pria itu dia.. Raihan.. pria yang selama ini aku tunggu-tunggu. Pria yang namanya selalu kuteriaki dalam hati sambil berkata “kamu jodohku… kamu calon suamiku.”


      Ia menoleh. Dengan stelan hitam yang tampak elegan dan kopiah di atas kepalanya. Senyum itu masih sama. Senyum yang lima tahun lalu kulihat. Senyum yang berhasil membodohiku. 

Saturday, 8 November 2014

Hanya Aku dan Marcell


    Mataku menyalang tajam menatap suamiku yang terduduk disamping ranjang rumah sakit. Wajahnya letih dengan garis-garis kelelahan yang sama sekali tidak tersamarkan bahkan saat ia mengulas senyumnya.

     “Maafkan aku.” Aku berbisik Pelan pada Marcell. Pria sempurna yang sudah 4 tahun menemani hidupku. “Tidak apa-apa. Yang penting kau baik-baik saja.” ia meringis mengelus perutku yang beberapa jam lalu besar dan Sekarang sudah kembali ke ukuran semula. Aku tahu ia berbohong. Dia Tidak baik-baik saja, ia kecewa, aku bisa melihat dari sirat matanya. Aku merasakan hati kecilku teriris, tapi buru-buru aku enyahkan, bukankah aku seharusnya senang? Bahagia? Semuanya akan kembali seperti semula. Hanya aku dan suamiku, Marcell. Tanpa anak, tanpa pengganggu dan tanpa orang lain.

    Orang mungkin akan mengganggapku gila karena aku sama sekali tidak ingin memiliki anak. Aku terlalu mencintai Marcell. Aku tidak ingin ada orang lain dalam keluarga kecilku, aku tidak ingin marcell membagi cintanya, hatinya, perhatiannya dan semuanya pada yang lain. Aku membutuhkan semua itu seutuhnya seakan itu ada sumber kehidupanku.

   Empat tahun lalu, Marcell Melamarku setelah 2 tahun kami berpacaran. Dan rasanya melebihi kata “BAHAGIA”.  aku tidak perlu lagi berjauhan dengannya, kami akan tinggal satu atap, satu rumah dan kami akan selalu bersama. Aku tidak perlu takut lagi kala ia pulang malam dari kantornya karena sekarang aku yang  akan menyambutnya dengan senyum. Tiap mentari menyemburatkan cahayanya, ialah orang pertama yang akan aku lihat, wajah tampannya yang acak-acakan dan aku sangat menyukainya. Aku membuatkan sarapan kesukaannya. Roti isi telur dadar dan kopi hitam lalu membuatkan bekal untuk makan siangnya, aku tidak mau ia makan diluar dan terlibat sosialisasi yang terlalu berlebihan. Siangnya, aku akan mencuci bajunya. Mencium aroma maskulin yang menempel di kemejanya. Wangi yang sangat aku sukai. Setelahnya, aku akan menunggu jam menunjukkan pukul 12 siang, karena aku akan selalu menelponnya. Mengingatkannya agar tidak telat makan dan menemani makan siangnya melalui telepon. Lalu, aku akan memasak, membuat makanan kesukaannya. Begitu seterusnya. Rutinitas yang menurut orang mungkin membosankan. Tapi aku tidak, aku selalu menikmati detik-detik melayaninya, menit-menit memanjakannya, berjam-jam bersamannya, dan selamanya akan seperti itu.

    Awal pernikahan kami, aku mengutarakan keinginanku untuk menunda memiliki anak, Dan melihat umurku yang masih terbilang muda, Marcell mengiyakannya dan akhirnya setuju aku meminum Pil KB untuk menunda kehamilan. Tapi itu hanya berjalan tiga tahun. Rupanya Marcell mulai mengingnkan tawa dan tangis bayi diantara kita. Aku melihat begitu besar keinginannya untuk memiliki anak. Dan dengan terpaksa aku bilang tidak akan mengkonsumsi Pil KB lagi. Berbulan-bulan sejak itu sebenarnya aku masih meminum rutin Pil itu tanpa sepengetahannya. Apapun asal aku tidak hamil. Diapun tidak menaruh curiga sedikitpun.

   Pertengahan bulan maret aku menaruh curiga karena aku tak kunjung datang bulan. Aku sempat khawatir karena takut kalau aku hamil. Jawaban langsung kudapatkan saat aku melakukan test menggunakan test pack dan semua ketakutanku menyeruak. Positif , Bagaimana mungkin? Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan aku melihat Marcell tersenyum. “aku pulang lebih cepat. Kau sudah lebih baik? Atau kita butuh ke dokter?” Tiga hari kemarin memang aku sempat mengalami sakit. Perutku mual aku selalu memuntahkan semua makanan yang aku makan. Dan sekarang aku tersadar, aku bukan sakit tapi aku hamil. aku yang kaget justru menjatuhkan alat periksa kehamilan itu, dan berharap Marcell tidak menyadarinya.“tidak, aku sudah lebih baik.” Aku tersenyum kaku saat melihat Marcell mendekat dan dalam hitungan detik justru kaki-nyalah yang menginjak benda panjang itu. Ia yang menyadari lantas mengambil benda itu dan tersenyum lebar seakan tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. “kamu hamil?” aku diam, tidak tau harus memperlihat wajah seperti apa. Aku mematung lalu merasakan tubuhku dipeluk erat olehnya. “oohh terima kasih tuhan.” Ia melepas pelukannya dan aku melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya. “kita harus memastikan secepatnya ke dokter.”

     Aku tidak tau bagaimana aku bisa hamil, mungkin aku pernah lupa mengkonsumsi Pil KB itu atau entahlah. Yang jelas, sekarang aku hamil. Aku akan mempunyai seorang anak. Akan ada yang mengambil sebagian perhatian Marcell, Cinta Marcell, dan Kasih sayang Marcell. Tidak..Tidak Boleh. Ini tidak boleh terjadi. Kasih sayang Marcell Hanya untukku. Tidak ada yang lain.

     Selama kehamilanku, aku merasa Marcell Tidak berubah. Ia masih menjadi sosok yang hangat. Perhatiannya bahkan menjadi dua kali lipat. Ia jarang pulang malam, Ia rajin memijat kakiku yang terasa pegal, Membuatkanku teh hijau saat aku merasa perutku bermasalah, mengingatkanku agar tidak lupa meminum susu hamil, dan setiap malam ia selalu mengusap-usap perutku hingga aku terlelap tidur. Tapi aku sadar, semua itu bukan untukku. Itu semua untuk bayi ini, bayi yang tengah ku kandung, darah dagingnya yang sama sekali tidak aku harapkan.

     Selama hamil aku sama sekali tidak mengurangi kegiatanku. Aku melakukan semua pekerjaan dirumah seperti biasa sekeras apapun Marcell melarangku. Tapi aku tidak peduli, tanpa sepengetahuannyapun aku kerap meminum-minuman bersoda dan berakohol. Berharap itu akan mempengaruhi janin yang sedang ku kandung dan yang pasti, aku sering mengkosumsi Nanas muda. Buah yang kata orang ampuh untuk masalah menggugurkan kandungan.

    Kehamilanku menginjak 5 bulan dan aku semakin cemas. Kandunganku baik-baik saja dan terkesan semakin kuat. Ia seakan memang ditakdirkan untuk terlahir diantara aku dan Marcell. Aahh tolonglah aku tuhan. Aku tidak sanggup menerima anak ini. Aku tidak menginginkannya, aku sama sekali tidak mengharapkannya. Tiap malam aku selalu diburu ketakutan. Dan kata-kata ABORSI  Pernah terlintas dipikiranku. Tapi sekali lagi, apa aku tega. Bukan..bukan pada calon bayiku. Tapi pada Marcell. Apa aku tega Melenyapkan kebahagiaan Marcell. Apa jika aku kehilangan bayiku senyuman itu akan tetap ada? Lagipula aborsi terlalu beresiko.

    Usia kandunganku menginjak 7 bulan dan sepertinya aku tidak punya pilihan selain membiarkan anak ini lahir kedunia. Mengambil alih duniaku dan Marcell. Apa aku siap kehilangan Marcell? Apa aku siap membagi cinta dan kasih sayang Marcell untuk anak ini?

     Sore itu. Aku tengah bersantai menunggu kepulangan Marcell. Aku duduk di sofa kamarku. Kehamilan ini benar-benar membuatku lemah. Membuat gerak-gerikku terbatas. Suara bel pintu membuyarkan perhatianku dari televisi didepanku. Bel itu terus berbunyi karena aku masih harus melewati ruang tamu untuk sampai dipintu utama.

    Karena orang diluar terus menerus membunyikan bel yang memekakan telinga. Aku berusaha mempercepat langkah kakiku. Tapi karena ketidak hati-hatianku. Aku terpeleset dan jatuh tersungkur. Aku sempat berteriak sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

      Dan beberapa Jam yang lalu. Aku tersadar diruangan serba putih dengan bau menyengat yang sangat khas. Marcell yang mengetahui aku sudah siuman langsung menghampiri “aku dimana?” tanyaku dengan suara lirih. “kau dirumah sakit sayang. Kau terpeleset di ruang tamu dan kita kehilangan calon bayi kita.” Wajahnya pucat, sendu, dan terlihat acak-acakan, frustasi dan lelah. Tak kudapati lagi Marcell yang selalu terlihat sempurna dengan senyum manisnya. Tapi… aku keguguran… itu artinya aku tidak melahirkan anak Marcell, Tidak akan ada yang hadir diantara aku dan Marcell, aku tidak harus berbagi cinta dan Kasih sayang Marcell. Hanya aku dan Marcell.



     Mungkin kalian akan berfikir aku gila, Psykopat, punya kelainan jiwa atau apapun. tapi aku mencintainya. Begitu besar. Aku terobsesi padanya. aku tidak menginginkan orang lain selain Marcell, hanya Marcell. Dan sekarang kau tau bagaimana rasanya? Rasanya seperti kau terbang bersama kekasihmu, lega luar biasa tanpa takut akan angin kencang ataupun hujan.  Sekali lagi Hanya aku dan Marcell

Thursday, 6 November 2014

Gadis Nila

BAB ENAM

Entah sudah berapa air mata yang jatuh karena menceritakan masa laluku. Nathan tersenyum tipis lalu memelukku. Mengelus pundakku dengan sebelah tangannya.

“gue bakal tetep jadi sahabat lo apapun yang terjadi.” Aku melepas pelukannya dan menatap matanya dalam-dalam. Mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. “lo bisa percaya sama gue.” Aku merasakan tangan Nathan mengelus pipiku. Meyakinkanku bahwa omongannya benar-benar bisa dipercaya. Aku merasakan kelegaan luar biasa, setidaknya aku masih mempunyai Nathan yang akan selalu ada disampingku. Dan apapun yang terjadi besok, aku harus siap.

Tiga hari setelahnya semuanya baik-baik saja. Tapi tidak untuk hari selanjutnya. Aku datang kesekolah seperti biasa. Tapi keanehan muncul saat aku menjejakkan kaki digerbang sekolah. beberapa anak yang melihatku terlihat menjauh dan berbisik, membiacarakan sesuatu yang sama sekali tidak aku megerti. Aku tau mereka membicarakanku. Aku melihat nathan dari kejauhan, berjalan kearahku. Aku bisa melihat kerisihannya melihat orang-orang lain.

“kenapa sih tan?” aku mengikuti Nathan menuju taman belakang sekolah. ia lalu mengeluarkan smartphone dari saku celananya. Lalu memutar sebuah video yang dikirim melalui kontak blackberry messenger. Dan yang ada di video itu adalah aku. Aku yang sedang berada ditaman ini dan sedang berbicara sendiri, bukan,  aku yakin aku sedang berbicara dengan farrel. Tapi siapa orang iseng yang tega melakukan hal ini. aku merasa kehancuran ada didepan mataku kali ini. mereka akan menganggap aku aneh, aku gila. Sama seperti kejadian beberapa tahun lalu.

“ini semua nggak akan seburuk yang lo kira. Semuanya akan baik-baik aja.” Dia meremas tanganku. aku bisa melihat bayangan wajahku yang mencoba tersenyum dari bola mata gelapnya.

“tegakkan kepala lo val. Tunjukin sama mereka klo gosip murahan itu sama sekali nggak berpengaruh sama lo.” Nathan mengucapkan kata-kata itu saat aku kembali berjalan menuju kelas. Melewati koridor yang masih diisi oleh anak-anak yang asik bergosip. Aku tersenyum menyadari katanya seperti mantra buatku. Aku mengangkat wajahku dan menatap mereka yang membicarakanku. Sebagian dari mereka memilih menunduk saat aku menatapnya, tapi sebagian lagi memilih tersenyum sinis.

“kalo ada apa-apa bilang gue aja. Ntar gue kesini lagi pas jam istirahat.” Aku tersenyum saat Nathan mengantarku sampai depan kelasku, walau aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi didalam kelasku beberapa menit kemudian.

“makasih yaa.. gue bakal baik-baik aja.” Sekali lagi aku tersenyum dan masuk kedalam kelas. Menatap satu persatu teman sekelasku yang menatapku dengan sarkastis. Tanpa memperdulikan mereka, aku duduk dibangku ku. Dan hanya memikirkan apa yang mereka pikirkan tentangku.

Gue inget beberapa waktu lalu waktu sha-sha jatoh, gue dengar dia bilang hati-hati sama sha-sha. Gue pikir itu salah satu bukti kalo dia emang pembawa sial.

Oia, betul, sama kaya kejadian dikantin pas papan jatoh dari atap. Gue sebenarnya ragu kalo itu kebetulan.

Semua yang dia omongin selalu jadi kenyataan. Pantes aja ga ada orang yang mau deket sama dia.

Beruntunglah  si indah udah ga temenan sama dia, tapi, anak kelas sebelah tuh.. siapa namanya.. ohh,, Nathan.. kok dia masih mau ya temenan sama dia.
­­­­­­­­­Dia belum kena batunya aja.
           
Aku menahan emosiku yang sudah berada diubun-ubun. Tidakkah mereka tau kalau aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini. aku menarik nafas panjang, mencoba menengkan diri walau sebenarnya aku ingin sekali menyumpal mulut mereka satu-persatu. Mengajarkan pada mereka tentang menghargai orang dan tidak dengan asal menghakimi seseorang. Sepanjang pelajaran aku masih bisa mendengar desas-desus gosip yang berembus di tiap sela-sela kelas mengenai diriku.

***

“Lo terlihat lebih dewasa menghadapi mereka semua..” farrel mengikuti masuk kedalam kamar. Seakan tidak bosan mengomentari hidupku. Aku melempar tas ku ke meja belajar dan langsung menjatuhkan diri di ranjang. Menghela nafas panjang karena merasakan panas diluar yang sudah menempel dikulitku. “Nathan menguatkan gue, lo tau kan. Sebelumnya gue tidak pernah berfikir sahabat bisa menjadi sosok yang bisa menguatkan kita seperti ini. dulu gue kuat karena gue punya lo, dan sekarang gue punya Nathan juga. gue nggak peduli apa yang mereka pikirkan.”

Farrel terlihat mengangguk seraya membenarkan kata-kataku. Selama beberapa menit aku hanya menatap langit kamarku dalam diam saat suara ibuku memenuhi gendang telingaku. Menyuruhku untuk makan. Aku keluar tanpa mengganti seragamku, hanya sepatu dan tas yang sudah kutanggalkan dari tubuhku, dan dasi yang hanya kukendorkan ikatannya.

Aku melihat adikku Egi sudah ada dimeja makan. Menunduk saat aku memasuki ruangan. Aku duduk ditempat biasa dan mulai menyendokan nasi ke piringku. Biasanya aku lebih suka makan sendiri, dikamar atau menunggu sampai adikku selesai makan dan enyah dari meja makan. Tapi entah kenapa hari ini aku ingin berada disini. Melihat senyum ibuku dan melihat tatapan dingin adik tiriku.

“sepertinya pindah kesini benar-benar merubah hidup kamu ya.” ibuku melihatku dengan senyum dan aku membalas. Mungkin masalah disekolahku diluar jangkauan ibuku dan sejujurnya aku sangat mensyukuri itu. rumah kami sekarang dikelilingi tembok tinggi dan bisa bilang lebih terisolasi oleh yang lain. Selama tinggal disini aku bahkan tidak begitu mengenal tetanggaku. Tapi aku tau bahwa tetangga disamping kananku adalah sebuah keluarga besar dengan lima orang anak. Dua anak laki-laki tertua dan sisanya adalah anak perempuan. Aku pernah melihat salah satu dari mereka beberapa waktu lalu saat aku hendak berangkat kesekolah.

Dua diantaranya kembar dengan perbedaan sikap dan sifat yang begitu mencolok. Biarpun mereka tidak bisa dikenali secara fisik tapi dari aura yang dikeluarkan mereka semua orang akan bisa membedakan mereka. salah satu dari mereka bersikap sangat feminin. Umurnya mungkin sama denganku karena aku melihatnya juga berseragam SMA. Rambutnya tergarai rapi dengan pita berwarna biru yang menghiasi segaris kepalanya. Ditangannya ada gelang-gelang warna-warni khas wanita. Dan dari kejauhan aku bisa melihat kembarannya bersikap sebaliknya. Rambutnya di ikat acak-acakan dengan ransel dan sepatu lusuh. Tidak mencerminkan seorang gadis pelajar. Tapi aku mengagumi kekompakan keluarga mereka. mereka akan makan kalau semua penghuni rumahnya sudah berkumpul dimeja makan. Ayah mereka tegas dan ibu mereka lembut.

Sedangkan penghuni sebelah rumahnya yang lain. Aahh, aku benar-benar membenci wanita itu. aku dan ibuku pernah sekali membawakan kue sebagai perkenalan tetangga baru. wajahnya bulat, rambutnya keriting dan dicat berwarna merah keunguan, tubuhnya jangkung, aku mengira tubuhnya hanya tulang berbalut kulit. Wanita itu punya seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Wanita itu kasar, selalu membatasi anaknya. Memperlakukan anaknya seperti tahanannya. Mengatur semuanya atas kebaikan anaknya walau sebenarnya itu omong kosong belaka.

***

Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Anak-anak lain belum berhenti menatapku dengan tatapan aneh. Tapi toh aku tidak peduli lagi. Aku masuk ke kelas, melihat indah yang sudah terduduk dikursinya. Sepertinya kecelakaan itu kini sudah tidak meninggalkan bekas diwajahnya, dan kakinya biarpun sudah tidak dibebat oleh perban, tapi aku bisa melihat bahwa kaki indah belum seratus persen pulih.

Aku duduk dikursiku, dua meja didepanku membuat jarak antara aku dan indah. selama beberapa menit  aku hanya menatapnya, merindukan suara gadis itu, teriakannya, tawanya, kecerewetannya. Sosok tampan diambang pintu mengalihkan perhatianku. Nathan berdiri disana, tersenyum pada indah lalu melirikku. Ia sempat menananyakan kabar indah yang dijawabnya dengan dingin lalu beralih ke- mejaku.

Nathan akhirnya mengajakku ke kantin. Keluar dari kondisi dimana aku sedang meratapi persahabatanku dengan indah.

Aku melewati lorong-lorong sekolah hanya untuk mendapat tatapan-tatapan ketakutan dari yang lainnya. Mereka semua dengan spontan menghindar sejauh mungkin dari ku. Membagi jalan untukku dan Nathan.

            “oohh come on valia. Nggak usah anggap mereka penting.” Nathan melotot menatapku dan menyuruhku menyunggingkan senyum. Aku menurut. aku duduk dipojok ruangan sedangkan Nathan membeli minuman. Disana, aku melihat andre sedang duduk bergerombol tak jauh dari tempat dudukku. Dia menatapku, tatapan sinis, bukan tatapan ketakutan seperti beberapa hari yang lalu. Ia mendengus lalu berbalik. Kembali mengobrol dengan teman-temannya.

            Nathan duduk didepanku membawa dua buah minuman botol dan menyodorkan salah satunya kepadaku. Aku mengumamkan terima kasih sambil membuka tutup botol itu.

Gue Cuma butuh tiga hari lagi sampe akhirnya lo semua percaya
kalo gue bisa dapetin cewek manapun yang gue mau. Jadi sebaiknya lo siap kehilangan handphone lo masing-masing.

            Aku meletakkan botol itu dengan kasar, mencengkeram botol itu hingga hampir berubah bentuk. Menahan geram sambil menatap kerumunan orang yang sibuk tertawa tak jauh dari tempatku duduk.

            “lo kenapa val?” dahi Nathan berkerut melihat ekspresiku.

Mereka semua cewek murahan, sampah. Gue gak peduli apa yang terjadi,
Mereka nangis, jerit-jeritan, ngamuk sama gue, gue gak peduli. Toh kita masih pacaran.
Gue bebas putus sama mereka sesuka hati gue.

            Dan kali ini aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Aku meremukkan botol plastik itu dan berjalan menuju andre. “dasar cowok brengsek.” Aku menarik tangannya hingga berdiri dan menamparnya. Cukup keras karena kepalanya sampai terdorong ke belakang.

            “kalo lo pikir gue gak tau akal bulus lo, lo salah. Gue tau rencana busuk lo ndre. Dan sekarang gue akan kasih lo pelajaran karena lo udah mempermainkan sahabat gue.” Aku kembali meninju wajahnya beberapa kali sampai lengan Nathan akhirnya mengapitku. “val, lo kenapa sih. Tenang donk.” Nathan masih berusaha menjauhkanku dari andre hingga akhirnya aku benar-benar berada cukup jauh.

            “gue janji lo gak akan lepas dari gue kalo lo sampe nyakitin indah.” aku tersengal dan berusaha mengatur nafasku yang terengah-engah karena menahan marah. disana, aku bisa melihat andre menatapku dengan tatapan marah sekaligus ketakutan. Sudut bibirnya berdarah dan pelipisnya membiru.

            “dasar cewek pembawa sial. Gue gak takut sama ancaman lo. Gue bakal laporin lo ke guru BP.” Katanya sambil berlalu meninggalkan aku dan kerumunan anak-anak yang ada dikantin.

           Aku kembali duduk dan masih menjadi tontonan. “lo kenapa sih val?” Nathan menyodorkanku segelas air putih yang langsung aku habiskan dengan sekali tenggak.

            “indah itu Cuma bahan taruhannya andre.” Aku melihat Nathan yang terkejut mendengar kata-kataku. “tapi lo liat sendiri kan gimana indah. dia nggak mau dengar kata-kata gue. Dia lebih percaya sama cowok brengsek itu dibanding sama gue.” Aku menutup wajahku dengan talapak tangan. “kita coba bilang lagi ke indah ya.” Kata Nathan pelan. Aku menengadahkan kepalaku, menatap Nathan yang mencoba tersenyum

***

          “valia, lo dipanggil guru BP.” Salah seorang temanku masuk dan berteriak, seakan tidak ingin mendekat kearahku. Aku berdiri dan meninggalkan kelas. Aku sempat melirik indah yang wajahnya sedingin es. Indah mungkin memang tidak ada di tempat saat aku memukul andre. Tapi aku tau pasti kalau dia sudah mendengar insiden itu.

            Aku berdiri diruang BP yang setengah terbuka. Melihat andre yang wajahnya sudah lebam terduduk didalam. Disebuah sofa empuk berwarna hitam. Setelah menarik nafas panjang, aku masuk dan langsung mendapat tatapan tajam dari andre dan bu mia.

            Aku duduk di sebrang andre. Bias kemarahan masih terus terpancar dari matanya. Bu mia duduk di samping kami, di kursi yang mengarah langsung ke pintu.

            “saya dengar kamu memukuli andre sampai seperti ini.” bu mia melirik andre yang menampakkan wajah kesakitan. “iya.” Jawabku cepat.
            “kenapa valia?”
            “karena dia mempermainkan sahabat saya.saya…”
            “BOHONG BU.” Andre langsung menyela bahkan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.
            Hampir tiga puluh menit kami beradu mulut. Bu mia sesekali menggebrak meja hanya untuk membuat kami kembali kekesadaran dan berhenti berbicara. Dan pada kenyataannya andre adalah orang yang pandai membela diri. ia mengemukkakan semua pendapatnya, bahwa aku tidak berhak ikut campur dalam hidupnya. Aku tidak berhak menghakiminya dan aku tidak berhak bertindak seperti itu.

            Dan akhirnya bu mia mengeluarkan surat skors selama tiga hari untuk ku. Akhir yang sudah aku duga sebelumnya. Andre tersenyum penuh kemenangan. Ia keluar terlebih dahulu, sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu ia sempat menoleh dan sekali lagi tersenyum yang membuatku benar-benar muak.

            Aku mengambil surat itu dari tangan bu mia. Lalu kembali ke kelas. Melihat keriuhan kelas yang mendadak senyap saat aku datang. Sedang tidak ada guru yang mengajar dan mereka semua berhenti bercanda saat aku masuk. Mereka berfikir aku seperti apa sih?
            Aku tidak perlu menunggu sampai bel pulang Karena semakin lama aku berada dikelas. Aku semakin muak menerima tatapan-tatapan menjengkelkan itu. aku meraih tas ku dan berjalan cepat keluar kelas. Sebelumnya aku sudah mengirim sms kepada Nathan bahwa aku akan menunggunya ditaman belakang sekolah.

            Aku lupa terakhir aku bertemu farrel, kini aku melihatnya yang tiba-tiba muncul di sebelahku. “di skors lagi?”  tanyanya. Aku hanya mengangguk dan mencoba tersenyum selebar mungkin. toh, ini bukan yang pertama kali buatku.

            “apa yang akan diperbuat pak tua itu kalau tau lo di skors lagi?” aku menoleh dan melihat seringainya. “entahlah, gue udah gede dan gue sama sekali gak peduli sama bokap gue.”

            “Jadi gadis bodoh itu belum mau percaya sama lo?” aku mengangkat bahu dengan acuh dan berkata “gue akan ngomong sekali lagi sama dia. Kalaupun dia nggak percaya sama gue, terserah.” Aku melihat farrel terseyum dan menjulurkan lidahnya, membuatku tertawa.

            Kami masih berada disana saat hari semakin siang. Suasa disana sepi karena jam sekolah belum berakhir. Aku masih terus tertawa saat farrel terus menerus mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya.

            “valia.” Suara itu membuatku dengan spontan menoleh, aku melihat Nathan berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Aku langsung diam dan menatap sejenak kearah farrel. Tapi pria itu malah terbahak melihat perubahan ekspresiku.

            “lo ngomong sama siapa?” Nathan mendekat dan berdiri didepanku, sedangkan farrel sudah menghilang entah kemana. “sama temen gue.” Kataku singkat. nathan duduk disampingku. Aku akhirnya kembali menceritakan farrel. Bahwa farrel masih terus menemaniku sampai saat ini. raut wajah Nathan tidak terbaca, ia hanya mengangguk pelan. “jadi, video yang kemarin itu. lo lagi ngobrol sama dia.” Aku mengangguk setuju. Aku melirik jam tanganku. Mempertanyakan Nathan yang sudah menggendong tasnya kesini padahal sekarang belum memasuki jam pulang.

            “lo kenapa disini? bukan belum jam pulang ya?” dia terlihat mengangkat bahu dengan acuh. “gue pikir lo butuh temen saat ini.”

            Lima menit kemudian kami berdua beranjak. Aku mulai bisa berkata jujur dengan Nathan tentang apa yang bisa aku lihat dan aku ketahui. Aku menceritakan semua makhluk astral yang terlihat olehku juga watak-watak semua orang yang terjangkau olehku. Aku melihat perubahan dalam raut wajah Nathan saat aku dan dia berhasil mendudukan diri disalah satu tempat makan pinggir jalan. Nathan memesan makan sedangkan aku masih terus mengoceh. Memberitahukan apa yang ku tau tentang orang yang duduk tak jauh dari tempat kami. Sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta penuh kepalsuan. Aku bisa tau mereka berdua sebenarnya sudah lama merasa bosan sehingga mereka mempunyai pacar lain. Nathan melotot seakan tidak percaya. “masalah kaya gitu aja lo tau?” aku mengangguk dan wajah Nathan berubah ekspresinya. “jangan-jangan lo juga tau detil hidup gue lagi.” Aku menatap wajah Nathan dengan geli seakan Nathan baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan. “yaiyalah, sebelum gue kenal sama keluarga lo, gue tau seluk beluk keluarga lo.”

            “ya tuhan… untung lo sahabat gue sendiri. Kalo nggak mungkin gue udah malu banget.” Wajahnya merona merah karena malu.

            “kenapa malu?” tanyaku, bersamaan dengan datangnya seorang pelayan yang mengantarkan pasanan kami. Aku langsung menyeruput minumanku dan mulai memegang sendok dan garpu. “ya… lo pasti tau kalo keluarga gue berantakan kan?” Nathan mulai menggerakkan sendok ke mulutnya. “tapi gue berterimakasih karena keluarga gue membaik Karena lo.”  Ia mengerlingkan sebelah matanya. Kami makan dalam diam. Suasana tempat makan yang tadinya sepi mulai ramai manjelang makan siang. “gue suruh indah kesini ya. Kita peringatin dia sekali lagi.” Aku mendengar nada ragu dalam bicaranya. Aku hanya mengangguk sementara dia sibuk dengan ponselnya.

            aku mengamati sekitarku. Suara lonceng selalu terdengar setiap kali pintu terbuka. Pintu kaca itu, sebagai satu-satunya penghubung dengan kaca berwarna gelap seperti menelan dan memuntahkan orang yang keluar masuk. Kaca jendelanya sangat kontras dengan pintu itu. berwarna putih nyaris tanpa noda. Beberapa pelayan sibuk hilir mudik membawakan pesanan para pelanggan. Menyiapkan makan mereka walau mereka sendiri belum makan. Seragam mereka berwarna biru muda, dalam pandanganku seperti seragam para supir taxi. Hanya sebuah topi dan celemek yang tampak trendi yang membedakan.

            “dia bilang lima menit lagi dia sampe. Kebetulan dia baru pulang dari sekolah, jadi pasti lewat sini.” Kata-kata Nathan menggunggah ku dari lamunan. Aku tersenyum kecut  dan menyesap minumanku yang ternyata sudah habis. Hanya menyisakan es yang sudah mencair dan tidak berasa. Aku memutuskan untuk memesan minuman lagi sedangkan Nathan lebih suka mengaduk-adukan minumannya yang masih tersisa seperempat. Menimbulkan bunyi-bunyi es batu yang membentur dinding gelas.

            Entah ini sudah lebih dari lima menit atau memang lima menit terasa begitu lama. Aku sudah menghabiskan minumanku hampir setengah dan indah sama sekali menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Aku melirik nathan yang memperhatikan jam tangannya. Aku bertanya dan ia bilang bahwa kita sudah hampir sepuluh menit menunggu. “mungkin macet.” Katanya mencoba memberikan alasan.

lonceng kembali berbunyi dan saat itulah penantianku berhenti. Indah masuk dan mengedarkan pandangan kesekeliling. Nathan yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari pintu masuk langsung melambaikan tangannya. Mencoba menarik perhatian indah yang masih sibuk mencari keberadaan kami. Indah mendekat, duduk disamping Nathan dengan canggung. Nathan menawarinya minum tapi ia menolak dan berdalih bahwa ia tidak bisa lama-lama. Aku bisa merasakan kegelisahan dalam diri indah. Seperti mendapati bahwa ia berada ditempat yang salah.

“gue sama valia Cuma mau ngomong masalah lo sama andre.” Nathan mulai membuka suara dan yang langsung disambut oleh tatapan sarkastik oleh indah. Aku sendiri masih diam, menunggu reaksinya lebih lanjut. “kenapa lagi sih tan, kenapa lagi sama andre. Gue sayang sama dia dan gue harap lo ga ganggu hubungan gue sama andre.” Nada suara indah masih pelan tapi aku bisa mendengar nada geram dalam kata-katanya. Nathan terlihat menjilat bibir bawahnya. Seakan mencari-cari dari mana ia harus mulai bicara. “tapi ndah, andre itu nggak sebaik yang lo kira. Dia nggak bener-bener serius sama lo.” Seorang anak yang berlari melewati mejaku sedikit mengalihkan perhatianku. Aku kembali mentap indah yang kebingungan. “apa ada bukti? Kata-kata kalian itu nggak berdasar tau.” Kali ini kata-katanya ikut menudingku. Aku masih diam dan ia melirikku dengan tatapan jijik. Seperti tatapan kepada seorang wanita yang hendak merebut pacarnya sendiri.

“lo akan tau ntar. Tapi please kali ini dengerin kata-kata kita.” Dengan segala cara Nathan mencoba meyakinkan indah, tapi ia tetep menyembunyikan identitasku sebagai seorang indigo. Aku melarang Nathan menceritakan bahwa aku adalah seorang indigo kepada siapapun dan dalam keadaan mendesak sekalipun.

Aku melihat raut wajah indah menegang seakan secara mentah-mentah menolak kata-kata Nathan. Ia kembali menguarkan pendapatnya. Mengenai kata-kata Nathan yang tidak berdasar, kita tidak punya bukti dan alasan yang jelas. Ia bilang ia menyayangi andre dan apapun yang aku dan Nathan bilang tidak akan merubah perasaannya pada andre.

Sura lonceng menandakan indah sudah keluar dari resto itu. aku mendesah pelan, Nathan langsung menenggak habis sisa air di gelasnya. Seakan tidak percya bahwa indah begitu sulit diberitahu, indah lebih egois dari yang dikirannya. Selama beberapa detik kami hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ayo pulang tan, bentar lagi ujan.” Aku mulai menenteng tasku dan bersiap beranjak saat Nathan malah sibuk melihat keadaan diluar yang masih begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda mau hujan. Tapi setelah sekali lagi aku menegurnya, ia seakan tersadar bahwa aku adalah seorang indigo yang bisa mengetahui sesuatu diluar jangkauan orang lain.

Kami keluar dari tempat itu setelah memberikan sejumlah uang ke kasir. Aku masih diam saat nathan membuntutiku masuk ke komplek perumahanku. Langkahku lebih cepat dari biasannya, seakan ingin segera sampai dirumah. “val, lo nggak apa-apa? pelan-pelan donk jalannya.” Keluhnya. Aku berbalik “lo ngapain ngikutin gue. Pulang ajalah. Gue nggak apa-apa.” kataku dengan nada agak kencang. Tidak bisa menyembunyikan kekesalanku. “lo nggak baik-baik aja. Gue tau lo kesel karena indah keras kepala. Iya kan?”

Aku medengus mendengar kata-katanya. “gue udah nggak peduli lagi sama indah ataupun andre dan yang lainnya. Mereka semua nggak tau diri. Bertindak sesuka hati mereka, mengejar apa yang menurut mereka baik padahal itu kesalahan besar dan mereka akan berdecak marah Karena seseorang mencoba memperingatkannya.”

Aku merasakan pandanganku kabur dan setetes air mata meluncur mulus dipipiku. Aku mengertakan gigi, mencoba menahan air mata yang akan jatuh lagi. Nathan mendekat dan mengusap bahuku. “val, ada gue disini. gue gak akan ninggalin lo karena hal apapun. Gue nggak kaya mereka. Jadi gue pengen lo gak sedih lagi ya.” Aku merasakan ibu jari Nathan mengusap air mataku. Aku mendongkak dan melihat dia tersenyum. Menaikkan garis bibirnya. Memaksaku melakukan hal yang sama.



Wednesday, 5 November 2014

Menyayangimu... Menyakitkan



     Aku tidak pernah tau kalau mencintai harus menyakitkan seperti ini. Mengumpat dibalik tembok kantin hanya untuk melihatnya diam-diam, lebih lama, lebih seksama, karena nyatanya melihatnya didalam kelas-pun terasa kurang. Mencoba tersenyum kaku saat berpapasan dengannya. Aku bahkan harus ekstra hati-hati kalau ingin meliriknya di kelas. Takut kalau ada orang yang tahu. Akan panjang urusannya kalau sampai ada yang tahu kalau aku menyukainya.

     Fellyno, laki-laki dengan tinggi kurang lebih 170cm, berat badan 54 (itu yang terakhir aku tau), rumahnya tidak jauh dari sekolah, kulitnya sawo matang dengan kacamata membingkai mata indahnya. Awalnya aku tidak pernah menyangka akan menyukainya. Tapi kejadian saat MOS merubah segalanya. Saat aku mendapat hukuman dari kakak osis karena telat. Fellyno yang kebetulan juga telat sama-sama disuruh membersikan Perpustakaan sekolah. Disaat itulah aku mulai menyukainya. Dia ramah, bahkan padaku yang saat itu baru dikenalnya. Dia lucu, beberapa kali ia membuatku tertawa karena leluconnya. Dan dalam pandanganku, akan sangat beruntung siapapun yang menjadi pacarnya.

     Saat MOS selesai tuhan memberikan kado terindah dengan menempatkan laki-laki itu sekelas denganku. Hal itulah yang membuatku semakin tidak karuan. Semakian aku melihatnya, semakin aku ingin memilikinya. Tapi pada kenyataannya ia tidak pernah melihatku. Hubungan kami hanya sebatas teman biasa. Mungkin ia lebih menyukai Alisa, gadis manis dengan dua lesung pipi, atau mungkin Cika, gadis feminim yang selalu berhasil menarik semua perhatian anak-anak dikelas, atau mungkin Eva, gadis paling pintar dikelas, mungkin bisa juga Mutia, gadis pendiam yang mungkin memancing rasa penasarannya. Aaaahhh mereka semua tidak ada yang pantas mendampingi Fellyno-ku. Mereka semua terlalu biasa. 

     Tapi kenapa mereka bisa seberuntung itu. Merasakan dekat dengan laki-laki itu dan kenapa ia bisa sebegitu perhatian pada wanita-wanita itu, kenapa tidak denganku? Ia akan dengan sabar mengajari gadis-gadis dikelas yang tidak mengerti apa yang dijelaskan guru. Ia akan dengan senang hati membantu mereka. Lalu aku? Hanya bisa melihat kedekatan mereka dengan rasa cemburu yang hampir membakar hatiku.

     Ia akan bertutur lembut kepada gadis-gadis sedangkan denganku ia akan berbicara keras dan lantang, tidakkah ia bisa lembut saat berbicara denganku? Tidakkah ia bisa menatap mataku saat seperti ia menatap gadis-gadis itu, tidakkah ia bisa tersenyum lembut seperti senyum yang selalu ia tunjukkan kepada gadis-gadis lain? Kenapa ia tidak bisa sedekat itu denganku. Aahh bodoh, tentu saja sulit, memangnya aku ini siapa??

     “woooyyy bambaaaaang, ngapain lo disini? Ngeliatin fellyno lagi, homo lu yee.” Suara ferry, salah satu temanku membuyarkan perhatianku. Aku tersentak gugup lalu menatap wajahnya dengan sarkastik.