buku tamu

LETAKKAN KODE SHOUTBOX, FOLLOWBOX, DLL TERSERAH ANDA DISINI

Thursday, 13 August 2015

Senja di sebuah Taman

 Sejak sejam yang lalu Damar belum bergerak dari posisinya.
Ia menatap ke taman. Kaca mobilnya dibuka lebar-lebar sehingga ia bisa dengan jelas melihat dua sosok yang sejak tadi tidak lepas dari pandangannya.
Bagi orang lain. Melihat seorang ibu dan anak penjual kue itu memang tidak menarik.
Wanita paruh baya dan seorang anak yang kira-kira berusia 10 tahun itu berpakaian lusuh. Duduk di depan taman dengan menggelar sebuah koran dan menaruh dua baskon berisikan dagangan mereka.
raut wajah wanita itu sendu dan terlihat lelah anaknya pun terlihat seperti tidak begitu terurus. Kaus yang dipakainya lusuh. Seperti telah dipakai berhari hari tanpa dicuci.
Damar sudah hapal jadwal dua orang itu. Sepuluh menit lagi. Mereka akan beranjak dari tempatnya sekarang dan menyusuri perumahan megah untuk menuju gubuk mereka.
Damar masih mengikutinya dari belakang. Pelan-pelan hingga tidak ada satupun yang curiga. Hingga sampai ke sebuah rumah kecil diujung jalan. Kedua orang itu masuk. Dan setengah jam kemudian anak kecil itu keluar kembali. Dengan kaus yang sedikit lebih bersih dan rambut yang masih basah, ia berlari menuju lapangan bola tak jauh dari rumahnya.
Damar sempat melihat sebuah senyum tersungging dari bibir anak itu. Selang kepergian anak kecil itu, seseorang seumur dirinya menyambangi rumah itu. Dengan kemeja kotak-kotak dan jeans belel, laki-laki itu masuk setelah melepas alas kakinya.
Hari beranjak sore dan damar belum merubah posisi mobilnya, belum juga berniat meninggalkan tempat itu. Hingga senja berganti pekat. seorang laki-laki paruh baya mengelap peluh saat sampai dirumah itu. Pria itu duduk sebentar didepan rumah, baru akhirnya masuk.
Lima belas menit kemudian. Seisi rumah keluar. bersama seorang anak kecil yang telah kembali dari kegiatan bermainnya, dengan wajah sumringah seakan lelahnya hari ini tak mereka rasakan. Ketiga laki-laki itu memakai sarung dan ibunya menenteng mukena.
Damar keluar dari mobil. Dan perlahan mengikuti jejak keluarga itu, seperti rutinitasnya kemarin-kemarin.
Damar bisa melihat sayup-sayup percakapan mereka. Membuat hatinya terasa nyeri. Tawa renyah tak pernah lepas dari bibir mereka.
Mereka memasuki sebuah mushola kecil di kampung itu. Begitu juga dengan Damar. Ia mengikuti para laki-laki menuju tempat wudhu dan mulai berwudhu tanpa membuat orang lain terlebih keluarga itu curiga.
sebelum sholat dimulai. Ia duduk menyender di tembok, mengambil sisi paling kiri sambil menunggu sang imam. Ia hanya berjarak beberapa meter dari pantauannya. Setelah imam masuk dan menyuruh makmum merapikan shaf. Damar tersentak oleh suara itu "sini nak, masih muat" pria paruh baya yang sejak tadi dipandanginya itu kini menatap kearahnya dengan senyum tulus. Dengan canggung ia mendekat dan kini berada disebelah pria itu.
Setelah menyelesaikan solat. Ia menoleh dan sedikit terkejut melihat pria itu mengulurkan tangannya. Seperti yang biasa orang lain lakukan ketika selesai sholat. Damar menjabat tangan itu. Satu detik.. dua detik... tiga detik.. ia belum juga melepaskan tangan itu. Ia menarik nafas panjang. Mencoba menahan air mata yang sudah terasa menggenang dipelupuk matanya. Mendorong keinginan untuk mencium tangan itu atau mengempaskannya dengan kasar. Bingung harus tersenyum atau malah meluapkan marah pada pria itu.
Pria itu berdehem, membuat damar kembali dari lamunanya. "Eehh maaf pak." katanya sambil melepaskan jabatannya pelan-pelan.
"Kamu bukan orang sini ya nak?"pria itu menoleh setelah selesai berdoa. Damar menggeleng pelan. "Darimana dan mau kemana?" Tanyanya lagi
"Saya mau pulang. Hanya sekedar mampir karena pas jamnya sholat." Katanya berbohong. Pria itu mengangguk. Hanya kali ini damar bisa melihat wajah itu dengan jelas. Wajah yang dihiasi guratan kelelahan. Tanpak tidak terurus. Kulit pria itu hitam seakan ia menghabiskan setiap harinya dibawah paparan sinar matahari.
"Bapak tinggal didaerah sini?" Tanyanya.
"Iya, tidak jauh dari sini. Diujung jalan." Selesai berdoa pria itu menyingkir mempersilahkan orang lain yang ingin sholat. Damar mengikuti.
"Itu anak-anak bapak?" Tanyanya lagi sambil melirik ke dua laki-laki beda umur yang sedang mengobrol dengan warga lain.
"Iya."
"Hanya dua?" Tanyanya lagi
"Iya cuma dua." Jawabnya singkat dan seketika itu juga Damar serasa dihantam oleh batu ribuan ton. Dadanya nyeri dan sesak oleh rasa sakit hati.
"Sebenernya anak saya ada satu lagi." Damar yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya dan melihat raut wajah pria itu berubah sendu.
"Kemana dia pak?" Tanya damar pelan.
"Dia diangkat oleh sebuah kelurga kaya. Dan sekarang mungkin dia sudah bahagia. Tidak merasakan susah seperti adik-adiknya."
Damar tersenyum kecut. Dadanya berdentam-dentam dengan keras sampai terasa ingin melompat dari tempatnya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang. Apa ia harus berterimakasih pada ayah kandungnya, pria yang ada didepannya ini bahwa ia membiarkan anaknya diasuh oleh keluarga kaya. Rumah megah, mobil mewah, pendidikan tinggi dan uanga banyak yang bisa ia nikmati.
Atau ia harus marah karena pada kenyataannya ayahnya membiarkannya jatuh ke tangan seorang koruptor kelas kakap dan seorang pecandu narkoba.
Ayah dan ibu angkatnya begitu baik. Walaupun mereka jarang berada dirumah karena sibuk, rumah megah itu kosong. Tiap pulang, ia merasakan hawa dingin menyelimuti rumah itu. Rumah seperti tidak berpenghuni.
Orang tuanya memang selalu mencukupinya dengan uang, bahkan lebih dari yang ia minta tapi pada kenyataannya itu saja tidak cukup buatnya.
Ia ingin orangtuanya ada saat itu membuka mata, mereka akan sarapan bersama. Lalu pulangnya, ia akan disambut oleh senyum hangat ibunya dan mereka ada bercengkrama bersama hingga makan malam. Tapi pada kenyataannya semua itu hanya menjadi angan buatnya. Orangtuanya terlalu sibuk bekerja untuk mengejar duniawi.
Tiga bulan yang lalu beberapa anggota polisi datang kerumah dan menangkap ayahnya karena kasus dugaan korupsi dan sebulan kemudian ibunya digerebek disebuah tempat tengah mengadakan pesta barang haram. dan akhirnya ia tau bahwa ia bukan anak kandung keluarga itu. ia diadopsi sejak berumur dua tahun lebih. Tidak lama setelah ibunya melahirkan adiknya. Ibu angkatnya menceritakan semuanya saat Damar berkunjung ke panti rehabilitasi tempat ibunya dirawat.
Dan sekarang ia berada dihadapan ayah kandungnya. Segudang pertanyaan bergumul diotaknya
Apakah orangtuanya tau kalau ia menderita?
Kebahagiannya tidak seperti yang mereka kira?
Apakah mereka tau kalau selama hidupnya Damar kesepian?
Apakah mereka sadar kalau mereka memberikan Damar ke orang yang salah?
Apa mereka tau bahwa ayah angkatnya adalah seorang koruptor dan ibunya seorang pecandu narkoba?
Apakah mereka tau kalau Damar tidak mendapatkan kasih sayang seperti yang mereka harapkan?
Dan pertanyaan terkahir dalam benaknya adalah

Apakah mereka tidak menyesal saat tau bahwa anaknya, darah dagingnya telah dihidupi dengan uang haram??





Thursday, 19 February 2015

Surat untuk Kau yang Pernah Kupanggil SAHABAT







        
           Sebelumnya, aku tidak pernah berfikir untuk menulis surat ini. aku bukan seorang penulis yang pandai merangkai kata. Menyulap sebuah makian menjadi kata yang begitu indah. Tapi aku sadar bahwa mungkin dengan menulis surat ini. akan sedikit mengurangi rasa sakit hatiku. Mungkin kalau kau membaca surat ini. kau akan berfikir bahwa aku pengecut. Aku pria yang terlihat baik-baik saja tapi menyimpan jutaan rasa sakit yang bahkan tidak akan pernah bisa kau bayangkan. 

         Tapi harusnya kau sadar bahwa aku hanya manusia biasa. Mudah merasa sakit saat tergores luka. Mudah terbakar saat kau sulut api. Bahkan bisa menangis saat merasakan pedih. Aku nyatanya sudah kehabisan kata untuk memakimu. Aku sudah terlalu lelah untuk menonjok ataupun menamparmu. Aku sudah ingin menutup lembaran demi lembaran yang kau torehkan dalam hidupku, juga mantanku yang tak lain adalah pacarmu. Tapi kenapa terasa begitu sulit.
              
          Aku hanya ingin mengenang sedikit tentang kita. Tentang persahabatan kita yang tidak pernah kubayangkan akan berakhir seperti ini. kau ingat saat kita pertama kali bertemu di bangku sekolah menengah. Kita sama-sama dihukum karena telat. Dan sejak itu kau dan aku bagai saudara yang begitu sulit terpisahkan. Walaupun berada di kelas yang berbeda, saat lepas dari jam pelajaran bisa dipastikan dimana ada aku situ kau selalu beriringan dengaku. Kita bagai dua sejoli yang tidak terpisahkan. Kita tidak pernah peduli saat banyak orang bilang bahwa kita “homo”. Kita selalu menutup telinga saat orang bilang bahwa kita aneh dengan segala tingkah laku kita.
              
            Orangpun banyak berpikir bagaimana mungkin kita bisa sebegitu dekat padahal kepribadian kita begitu berbeda. Aku adalah laki-laki pendiam dan cenderung kaku sedangkan kau adalah laki-laki urakan yang begitu cerewet dan tidak bisa diam. Tapi aku sadar mungkin perbedaan itulah yang membuat kita bisa saling melengkapi. Kau bisa membuatku menjadi sosok yang tak kalah cerewet denganmu yang akhirnya membuatmu diam tanpa suara. 

        Kau ingat saat pertama kali kau jatuh cinta? Saat kita kelas 2 SMA. Yaah.. tuhan begitu baik membiarkan kita masuk ke sekolah menengah atas yang sama.  Kau jatuh cinta pada Mila, anak baru yang menurutmu begitu lucu. Gadis berkuncir kuda dengan kacamata yang selalu membingkai mata indahnya. Iya, kau yang nyatanya begitu pandai bergaul pun Nampak mati kutu saat bertemu dengannya. Kau hanya berani sesekali meliriknya di kantin dan melempar senyum kecut saat berpapasan dengannya. 

         Hingga akhirnya kau mengandalkanku yang kebetulan satu eskul dengannya. Aku yang notabenya kurang pandai bergaulpun harus mulai memberanikan diri untuk membantumu. Mulai dari mengobrol dengannya sampai akhirnya mengenalkan kalian. Meminta berbagai macam media sosialnya hanya agar kau bisa mengetahui lebih dalam tentangnya. Tentang perasaannya setiap hari, makanan kesukaannya, film favoritnya hingga foto-foto di akun media sosialnya.

           Hey sahabat… kau ingat saat kau menelponku jam 2 pagi hanya karena kau tidak bisa tidur karena habis bertelpon ria dengannya. Kau ingat saat pagi buta di hari minggu kau sudah menggugah tidur nyenyakku hanya untuk membantumu memilih pakaian yang cocok untuk jalan dengannya. Kalau kau lupa dengan yang itu, kau harus ingat yang ini. ingat saat hujan deras dan kau meminta tolong untuk membelikan sekotak cokelat untuk Mila yang saat itu ngambek karena kau telat menjemputnya. Iya.. saat itu hujan deras dan demi kau, sahabatku, aku rela melaju dengan sepeda motorku menuju kafé tempat kalian berada. Sebagian tubuhku basah karena jas hujanku nyaris tidak berfungsi dibawah hujan yang begitu derasnya. Dengan keadaan setengah kuyub kau menemuiku hanya untuk mengambil cokelat itu dariku dan memberikannya pada pacarmu.

            Aku bukannya ingin mengungkit apa yang sudah aku lakukan padamu. Pada kenyataannya kau juga begitu baik padaku. Ingat saat aku kesulitan mengerjakan tugas melukis dari guru kesenianku. Kaulah yang malam itu begadang mencoret-coretkan cat air di kanvas. Kau masih terjaga bahkan saat aku sudah terlelap tidur. Ingat saat aku terlibat pertengkaran dengan anak sekolah lain yang kalah saat bermain basket denganku. Kaulah orang pertama yang maju. Tidak peduli bahwa mereka beramai-ramai dan kita hanya berdua. Kau yang punya keahlian bela diripun tidak luput dari luka memar akibat tertonjok. 

            Hingga kita lulus dan masuk di kampus yang sama. Semuanya masih begitu indah. Kita mulai berbagi semua-muanya. Kita berbagi kamar, berbagi lemari, berbagi makan bahkan berbagi pakaian. yaah.. kita memang akhirnya memilih menjadi lebih mandiri dengan kost digang dekat kampus. Kau mungkin tidak akan melupakan bagaimana kita berjuang mati-matian menghemat uang jajan agar bisa sampai akhir bulan. Membatasi setiap pengeluaran agar tidak perlu meminta uang saku kepada orang tua di pertengahan bulan. Kau ingat saat kita makan sepiring berdua?? Lucu kala mengingat bagaimana kita dulu begitu solid. Aku bahkan rela memberikan uang simpananku untuk membantumu membayar uang semester kala orangtuanmu telat mengirimimu uang. Sekali lagi, aku bukannya ingin mengungkit kebaikanku padamu. Hanya ingin kita sama mengingat bagaimana kita, yang dulu begitu dekat bisa menjadi seperti dua orang yang tak saling kenal. Kita dulu yang selalu beriringan bisa menjadi bersebrangan. Sulit dipercaya kalau hidup bisa berbalik secepat itu. 

         Kau ingat saat kau meluapkan emosi padaku saat putus dengan Mila. Hubungan kalian yang sudah bertahun-tahun harus kandas begitu saja. Sahabat, apakah kau tau bahwa aku juga merasakan sakit. Bahwa aku bisa merasakan kesedihanmu, bahwa aku rela kau jadikan pelampiasan kekesalanmu. Aku tetap terduduk diatas ranjangku kala kau bercerita dengan dada naik turun dan emosi yang terus membuncah. Lalu kau marah saat aku dengan santainya bilang “sudah, masih banyak wanita diluar sana yang lebih baik dari dia.” Kau tersulut amarah dan bilang bahwa aku tidak tau apa-apa soal cinta dan wanita. Aku yang memang belum pernah berpacaran kembali menjadi sasaran kekesalanmu. Aku sadar mungkin kata-katamu benar. Aku memang tidak mengerti apa-apa soal cinta dan pada akhirnya kau keluar dari kamar dengan membanting pintu keras-keras. Aku yang semalaman tidak bisa tidur karena menanti kau belum pulang terus menerus mencoba menguhubungimu dengan ponselku dan mendapati nomor telponmu tidak aktif. 

         Kau tau bahwa tidak sampai disitu sahabat. Tengah malam aku sibuk berkeliling mengunjungi tempat-tempat nongkrong kita dan berharap menemukanmu disalah satu tempat, tapi hasilnya nihil. Badanku menggigil menahan dinginnya angin malam karena tidak membawa jaket saking terburu-burunya. Lalu jam 3 pagi aku kembali kerumah dan mendapatimu tergeletak didepan rumah dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol menguar dari mulutmu dan membuatku ingin muntah, tapi ternyata setelah aku membawamu masuk justru kau yang muntah. 

         Paginya aku bolos kuliah hanya untuk merawatmu yang belum sepenuhnya sadar. Padahal  aku ada kuis di dua mata kuliah hari itu. kau terbangun dengan rasa pusing yang sangat pada kepalamu. Itulah yang kau bilang saat itu. aku mengambilkanmu air hangat tapi tidak berani berkomentar apapun. Aku takut kau kembali tersulut amarah dan aku tidak mau kau kehilangan kendali seperti semalam. Tapi sudah kuduga bahwa kau orang yang begitu baik. Kau meminta maaf padaku atas kejadian semalam dan saat itulah aku melihat pancaran kehidupan baru dalam bola matamu. 

         Gairah hidupmu kembali lagi. Kau kembali menjadi orang yang kukenal dulu. dan pada akhirnya kaulah yang menjadi saksi pertama kali aku jatuh cinta. Yaahh.. aku yang kau bilang masih polos kini jatuh cinta. Aku menyukai seorang wanita. Wanita berambut panjang anak fakultas ekonomi. Aku yang cenderung pemalu kau godok habis-habisan untuk bisa lebih percaya diri. Kau mengajarkanku cara berkenal dengan seorang wanita. Aku bingung, dulu aku bisa dekat dengan Mila untuk mengenalkanmu padanya. Tapi kali ini kenapa terasa begitu sulit. Mungkin ini juga yang kau rasakan dulu. nyatanya kau yang jelas-jelas pandai bergaulpun tidak mudah mendekatkan diri pada wanita pujaanmu. 

         Kau membenahiku dari segala sudut. Kau mengajariku cara berbicara agar tidak cenderung kaku. Memperbaiki penampilanku yang terkesan jadul dan akhirnya kau juga yang menjadi mak comblang buatku. Fania, yaa Fania namanya, kau mendekati Fania hingga akhirnya mengenalkanku padanya. kau tidak tau bagaimana aku berterima kasih padamu sahabat. Kau membuat semuanya terlihat mudah kala gayung bersambut. Aku mulai sering menghabiskan waktuku dengan Fania, kau tidak marah karena sadar kau juga dulu menghabiskan banyak waktu bersama Mila dan aku tidak masalah. Kita sama-sama mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta. Kita tidak pernah berhenti saling support.

 Tapi kini kau punya sahabat baru, Fania tak ubahnya sahabat bagimu. Kita sering pergi bertiga. Menghabiskan malam minggu bertiga. Mengerjakan hal-hal konyol bertiga. Aku tidak merasa cemburu karena berfikir bahwa itu adalah hal yang wajar. Justru aku senang karena kau menerima Fania dengan baik. Sehingga aku tidak terlalu merasa mengabaikanmu. Bahwa kita masih tetap bersama saat aku mempunyai kekasih. 

Aku tidak pernah tau kalau itu adalah awal bencana untuk persahabatan kita. Iyaa… persahabatan kita yang akhirnya menjadi taruhannya. Malam itu, malam saat aku bertengkar hebat dengan Fania dan Fania memutuskan hubungan. Kau lah yang pertama mengulurkan tangan kepadaku. Kau merentangkan lenganmu dan memelukku. Mengucapkan beribu kata bahwa banyak wanita diluar sana yang jauh lebih baik dari Fania dan aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku mau. Saat itu aku memang tidak menangis atau meluapkan emosi sepertimu. Tapi kau tau bahwa aku merasakan sakit yang teramat dalam. 

 Kau akhirnya menuntunku kembali. Kau membakar kembali semangatku yang beberapa hari pupus. Aku tidak menyangka bahwa efek putus cinta bisa sebegitu dahsyatnya. Aku jadi berfikir bahwa dulu kau menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan mungkin wajar karena pada akhirnya kau lebih cepat pulih dibanding aku yang hanya bisa diam dan tidak berani mengekspresikan luka itu.

 Tapi, saat luka itu perlahan terobati. Kenapa kau yang membantuku menutup luka itu justru merobek paksa luka itu bahkan semakin dalam? Aku tidak akan pernah melupakan malam itu. malam dimana kau berdandan begitu rapi. Kau yang biasanya cuek mendadak menjadi begitu rapi dan wangi pada saat itu. aku yang melihatmu bahkan sempat menggoda mu dan mengira mungkin kau sedang jatuh cinta lagi. Tapi kau tidak bersikap seperti biasa. Kau terkesan menyembunyikan sesuatu. Kau menjawab pertanyaanku hanya dengan sepotong senyum kecut yang sulit aku artikan. Kau keluar dari kamar dengan setangkai mawar yang kau sembunyikan di laci meja belajarmu. Lalu pergi begitu saat tanpa pamit. 

Aku yang entah kenapa mempunyai firasat tidak enak langsung membuntutimu dari belakang. dan saat itulah aku merasakan langit seakan runtuh didepan mataku. Kakiku terasa tidak memijak tanah kala dari kaca sebuah kafe aku melihatmu tersenyum pada Fania, mencium keningnya dan memberikan mawar itu padanya. berulang kali aku mengucek mataku dan berfikir bahwa aku salah liat, tapi sosok Fania terasa semakin nyata. Yaa.. itu Fania, aku tidak mungkin tidak mengenalinya walau kami sudah tidak bersama. 

Aku langsung berfikir apa kau pikirkan saat itu sobat? Apa kau terpikir akan aku saat kau tersenyum dan mencium kening wanita itu?  heeyy.. wanita itu mantan kekasihku dan kau sahabat terbaikku. Bagaimana mungkin kau melakukan itu padaku? Dadaku terus berdentum-dentum keras kala melihat kau asik bercanda dengannya. Apa kau alasan wanita itu memutuskan hubungan denganku. Oohh aku harap tidak. Sungguh aku tidak bisa menerima kenyataan itu. 

Malam itu kau pulang dengan senyum sumringah. Aku berusaha bertanya dan luka itu terasa menggores lebih dalam kala kau sekali lagi hanya menjawab dengan senyum tanpa dosa itu. berhari-hari aku menyembunyikan luka itu dan berusaha bersikap sebiasa mungkin denganmu tapi ternyata kau yang lebih banyak berubah. Kau lebih sering membatalkan janji nongkrong denganku. Kau sering menghilang tanpa jejak. Bahkan kau jadi lebih sulit dihubungi. Apa karena Fania? 

Aku tidak tau apa yang lebih menyakitkan dari ini. dari kenyataan bahwa sahabat terbaikku sekarang menjadi pacar dari mantanku. Dan mungkin dia adalah alasan kenapa Fania memutuskanku. Hari itu. aku memberanikan diri bertemu dengan Fania. Aku terpaksa menunggu wanita itu didepan kelasnya Karena ia sama sekali menolak bertemu denganku. 

Kau tau sobat apa yang aku rasakan saat itu? saat aku mendengar dari telingaku sendiri bahwa mantan pacarku, mencintaimu. Mencintai sahabatku dan yang lebih parah, kau tega menjadikannya pacar saat dia menjadi milikku. Kau tau apa yang lebih sakit dari itu? kau adalah alasannya sobat. Kau adalah alasan kenapa ia memutuskan hubungannya denganku. Dia akhirnya memilihmu atau mungkin kau yang menyuruhnya memilih?

Aku yakin kau tidak tau bagaimana sakitnya karena itu tidak akan ada dalam pikiranmu. Yaa.. jangankan kau, akupun tidak pernah berfikir bahwa kejadian ini akan aku alami. Luka yang kau buat, yang bahkan belum sempat terobati kini malah kau siram dengan air garam. Seandainya ada kata diatas kata “SAKIT HATI” mungkin itu yang pantas aku sandang. Bagaimana mungkin kau tega melakukan itu padaku kawan? Apakah persahabatan kita tidak ada harganya buatmu? Adakah sedikit terlintas wajahku saat kau berdua dengannya. Adakah kau teringat bagaimana aku bilang bahwa aku sangat menyayanginya? Tidakkah kau berfikir bagaimana perasaanku saat mengetahui ini semua?

Dan kini setelah malam itu aku mengepaki barang-barangku sehabis membongkar hubunganmu dengan mantanku. Aku masih saja sering teringat denganmu. Aku tau bahwa maaf yang kau ucapkan malam itu belum bisa aku jawab bahkan sampai detik ini. bukannya aku tidak pemaaf. Aku hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya. Melupakan tiap inci goresan luka yang kalian buat. Mungkin kau akan bilang aku berlebihan, bahwasanya hal seperti ini sering juga terjadi pada yang lain. Tapi nyatanya kau mungkin tidak akan pernah terfikir bagaimana kalau kau ada di posisiku. 

Aku tidak berharap kau membaca surat ini. aku hanya ingin kau tau bahwa aku masih sering merindukanmu sobat. Merindukan persahabatan kita. Apakah kau juga sama? Atau mungkin kau sudah sibuk dengan yang lainnya. Nanti, disaat rasa sakit hati itu memudar, kala goresan luka itu menghilang, kala aku bisa mengingatmu tanpa merasakan sakit. Saat itulah aku akan menemuimu. Aku akan berdiri didepan rumahmu, rumah kita dulu, aku akan berdiri disana, merentangkan lenganku lebar-lebar dan berkata “kau tetap sahabat terbaikku.”

Tuesday, 17 February 2015

Surat untukmu yang Beribadah Ditempat yang Berbeda


                Heei kamu, iya kamu.. apa kabarmu hari ini? Aku harap kau selalu dalam keadaan baik-baik saja. hari ini aku terbangun bersama derasnya air hujan diluar. Dan entah mengapa aku teringat denganmu.

               Mungkin saat ini kau sedang beribadah di gereja. Memanjatkan berbagai doa. Mungkin termasuk mendoakan hubungan kita. Hubungan yang mungkin buat orang lain terasa “TERLARANG”

Yaahh… aku tidak tau dari sekian banyak pria muslim di dunia ini. Kenapa tuhan justru menambatkan hatiku padamu.  Kau mencuri semua perhatianku. Bahkan saat aku memiliki seseorang. Aku tau ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan kini hatiku menjadi tumbalnya. Aku menyukaimu saat aku terlibat hubungan pacaran dengan seseorang.  Dan bodohnya, melihat gayung bersambut darimu aku malah semakin berani menunjukkan perasaanku. Kita menjalani hubungan yang tak biasa. aku jujur mengenai statusku dan kau merasa tidak ada masalah. Sepertinya aku layak disebut PESELINGKUH yang hebat. Bisa menutupi semuanya dengan begitu rapi dan bersih. tapi nada-nada sumbang sering terdengar kala teman-temanku mengetahui hubungan terlarangku. Tapi aku bertahan karena merasa aku benar. Mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan.

Jujur.. kau berbeda dengan pacarku. Kau terlihat lebih pendiam dan begitu tampak apa adanya. Dari awal, aku tau bahwa kau adalah sosok yang selama ini aku cari-cari. Kau begitu hangat dan penyayang. Itulah yang membuat aku mengambil keputusan berani untuk putus dengan pacarku dan lebih memilihmu. Aku pikir semuanya akan menjadi lebih baik. Tapi nyatanya tidak. nada-nada sumbang yang lain bertiup lebih kencang dan terasa menggoyahkan.

“untuk apa kau menjalin hubungan dengan laki-laki beda agama, membuang-buang waktu saja”

“apa tidak ada laki-laki lain? Hubungan beda agama? Mau kau bawa kemana nanti akhirnya?”

Itu mungkin yang  sering terdengar dan tak pelak lama-lama membuatku muak. Aku terkadang ingin berteriak didepan wajah mereka. “aku mencintainya, aku tidak peduli agamanya dan biarkan kami menjalani hubungan ini sewajarnya.” Tapi akhirnya aku sadar bahwa kata-kata itu hanya pantas diucapkan oleh anak-anak belia yang baru mengenal cinta. Bukan aku yang sudah cukup dewasa untuk memilih laki-laki pendamping hidup.

                Kata-kata itu terdengar naïf dan sekarang aku menyadarinya. Kau tau sayang bagaimana aku mencoba menutup telinga serapat mungkin. Kau tau bagaimana namamu tidak pernah luput dari doa-ku setiap aku menengadahkan tangan diatas sajadah. Semoga tuhan memberikan rencana indah dibalik semua ini. Semoga kelak tuhan dengan caranya menyatukan kita dibawah atap yang sama.

                Aku tau aku dan kamu begitu sulit menjadi “kita”. Kita sama-sama memperjuangkan sesuatu yang tidak mudah.  Aku berjuang dengan agamaku dan kau berjuang atas nama agamamu. Lalu bagaimana mungkin aku dan kamu menjadi “KITA”?

                Tapi tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah bosan berdiri disampingmu, berjalan beriringan denganmu dan tersenyum untukmu. Tapi kenapa semakin hari kau terlihat semakin pesimis.  Mana suara lantang yang sering kau ucapkan padaku bahwa kita bisa melawan dunia dengan segala perbedaan yang kita punya. Kenapa kau seakan diam saat aku menggandeng tanganmu untuk maju. Kenapa kau sekarang bersembunyi dibalik perbedaan kita.

                Aku tau ini tidak mudah. Akupun tidak tau akan mendapat restu orang tua atau tidak. Tapi apakah tidak terlalu cepat kalau kita menyerah sekarang? Kita bahkan belum mencapai setengah jalan? Apa hanya sampai disini keberanianmu memperjuangkanku?

                Sayang… ingatkah saat kita membangun impian bersama. Memimpikan berada di satu atap yang sama. Makan dimeja yang sama. Mengasuh anak-anak kita yang lucu hingga akhirnya menjadi tua bersama. Aahhh itu semua fase yang terlihat begitu mudah. Tapi kenapa terasa begitu sulit bagi kita. Apakah perbedaan itu begitu sulit di enyahkan.

                Aku teringat kata-kata seseorang “kadang tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai pencipta atau ciptaanya” mungkin kata-kata itu yang membuat kita semakin bersebrangan. Tapi apakah kita tidak bisa berjalan beriringan. Apakah tembok besar diantara kita tidak bisa dihancurkan? Bukankah tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan yang berbeda?

Kini aku hanya bisa tersenyum kala melihat fotomu yang masih terbingkai rapi di atas meja kamarku. Aku tau kau tidak sepenuhnya mundur. Ikatan cinta kita masih begitu terasa bahkan sampai detik ini. Kita hanya sedang berjuang masing-masing. Kau dengan kesibukanmu dan aku  dengan kesibukanku. Aku juga percaya bahwa namaku tak lupa kau selipkan dalam setiap doamu.
               


                 

Monday, 16 February 2015

Surat untuk kau yang entah harus kuanggap apa



Aku merindukan perkenalan kita yang sederhana. Dimulai dari senyum yang terurai satu sama lain. Baralih dengan saling sapa, hingga bertukar nomor handphone. Kau satu-satunya pria dikelas yang berhasil menarik perhatianku. senyum dengan lesung pipi itu selalu mempesonaku. Aku bahkan lebih sering memperhatikanmu daripada dosen yang sedang mengajar dikelas.

                Aku senang melihat kau yang mudah bergaul. Itu mempermudah hubungan kita. Aku tidak akan pernah melupakan hari dimana kita pertama kali jalan bersama. Kau mengajakku ke tempat tidak biasa. Kau mengajakku ke toko buku. Kau bukan pria kutu buku dengan kacamata tebal, tapi kau menyukai  aktivitas itu. Disaat aku beradu dengan rak-rak berisi novel-novel remaja, kau lebih memilih berdiri didepan rak-rak buku biography orang-orang terkenal. Kau tidak menganggap buku-buku tebal itu membosankan. Berbeda denganku.

                Setalah itu, ingatkah saat kita menghabiskan hari di taman kota. Duduk dibawah pohon rindang dengan buku ditangan kita masing-masing. Mungkin orang-orang akan melihat ini sebagai sesuatu yang membosankan. Tapi bagiku tidak. kau selalu meluangkan beberapa menit untuk berbicara denganku. Menutup bukumu sebentar untuk menatapku atau sekedar meminum minuman kalengmu.

                Keesokan harinya. Aku terkejut saat kau tiba-tiba ada didepan pagar rumahku. Tersenyum diatas motor biru-putih andalanmu. Dengan kemeja kotak-kotak merah hitam dan celana jeans juga sepatu kets yang terlihat baru dicuci. Aku senang saat kau mengucapkan “selamat pagi”. Jadi hari itu, kita berangkat bersama ke kampus. Beberapa teman sekelas yang melihat langsung berseru menggoda kita. Membuat pipiku panas karena mungkin langsung merona merah. Tapi kau tidak berkata apa-apa. Kau hanya tersenyum lalu berjalan beriringan denganku.

                Entah sudah berapa lama kedekatan kita berlangsung. Kau bahkan tidak sungkan saat menunjukkan diri didepan pintu rumahku. Bertemu kedua orangtuaku untuk meminta izin karena ingin mengajakku pergi. Aku terasa menjajaki dunia yang berbeda denganmu. Kau bukan pria yang hobi menghabiskan waktu dengan nongkrong di café-café mahal ataupun diskotik-diskotik tengah malam. Seperti yang kubilang, kau bukan kutu buku tapi kau menyukai kesunyian. Kau lebih suka menghabiskan waktu ditempat dimana kau bisa mendapatkan ketenangan, tempat yang membuatmu bisa menghabiskan berlembar-lembar buku bacaanmu. Dan entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan itu.

                Dalam ketidak jelasan hubungan kita. Aku selalu berharap banyak. Perasaan itu semakin lama semakin membumbung tinggi tanpa bisa ditahan. Apakah kau juga merasakan hal sama? Apakah kau merasakan kenyamanan yang sama yang aku rasakan saat bersamamu? Apakah semua perhatianmu boleh kuartikan lebih? Apakah aku boleh berharap menjadi yang lebih dari sekedar teman buatmu?

                Aku tau aku tak lebih dari seorang gadis biasa. Gadis yang tidak mungkin mengungkapkan perasaannya pada seorang pria walaupun rasa itu tidak bisa dianggap remeh. Rasa itu besar, ketertarikan yang tidak pernah aku pikir akan  terus membesar dan semakin besar.

                Pesan darimulah yang pertama kali ku buka setiap pagi dan yang paling akhir kubaca setiap malam. Kau seakan menjadi sosok yang selalu aku pikirkan saat aku membuka mata dan terakhir aku pikirkan saat aku hendak menutup mata. Apakah kau pikir aku berlebihan? Apakah kau melakukan hal yang sama denganku?

                Taukah kau bahwa aku sering tersenyum saat membaca pesan darimu? Pesan darimu seperti magnet yang mudah mendekatkanku dengan kebahagiaan. Apakah itu juga berlaku buatmu? Aku tau kau mungkin butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa aku adalah sosok yang tepat untuk menjadi kekasihmu. Bahwa aku benar-benar jatuh hati padamu. Bahwa mungkin kau tidak akan mendapati sayang yang lebih dari gadis lain selain diriku. Tenanglah. aku akan selalu bersabar. Walau entah sampai kapan.

Terkadang aku ingin sekali bertanya. Sebenarnya siapa aku di matamu? Apakah aku ini sekedar teman? tapi kita terlalu banyak berbagi berbagai hal. Apa aku hanya sahabat mu? tapi mengapa terkadang kau memperlakukanku layaknya seorang kekasih? Atau mungkin kita memang sepasang kekasih. Dan kau berpikir kita sudah terlalu dewasa untuk urusan tembak-menembak seperti yang lainnya?
               


                

Thursday, 29 January 2015

Love is Worth The Wait


     Lima tahun yang lalu, aku hanya gadis biasa. Gadis berseragam abu-abu dengan lesung pipi dan rambut terurai sebahu. Aku bisa dibilang cukup poluler disekolah. Dengan reputasi sebagai anak berprestasi dan wajah diatas rata-rata. bukan hal sulit untukku mencari yang namannya pacar.   Bukan hanya satu-dua orang yang berniat menjalin hubungan serius denganku. Tapi aku terus saja kekeuh menolak mereka. Bukan karena mereka tidak cukup baik, tapi karena aku masih menunggu seseorang.

     “kamu itu cantik, pintar. Buat apa mengorbankan masa mudamu untuk menunggu seseorang yang tidak jelas.” Lolita tidak pernah bosan menyerukan kata-kata itu kepadaku ataupun “semakin hari aku semakin sadar betapa bodohnya dirimu. Kau bahkan menolak para laki-laki baik hanya untuk menunggu seseorang yang sedang bersenang-senang dengan gadis lain.” Aku hanya bisa tersenyum kecut. Menyadari semua kata-kata Lolita ada benarnya.

     disudut kantin. Tempat favoritku saat jam istirahat. Aku biasa menghabiskan jam istirahatku disini. Bahkan jika makanan dan minumanku sudah habis. Aku akan tetap berada disana sampai bel masuk berbunyi. Sampai bunyi bel itu membuat dia dan gadisnya pergi. Tidak ada yang bisa aku lakukan disini selain menatapnya. Melihat senyumnya, memperhatikan gerak bibirnya, melihatnya tertawa bersama gadis itu, aku bahkan senang saat gadis itu bisa membuat laki-lakiku menaikkan garis bibirnya. Sedangkan aku sendiri tidak yakin bisa membuatnya tersenyum. Apa aku bisa melakukan sesuatu yang gadis itu lakukan untuk laki-lakiku.

     Lolita benar, aku bodoh, aku mencintai seseorang yang sudah mempunyai kekasih. Raihan, pria yang sukses membuatku merasakan yang namanya love at the first sight. Dan bodohnya aku bahkan masih tersihir sampai detik ini. Aku tidak peduli ia bersama pacarnya ataupun siapa. Yang terpenting aku bisa melihatnya tertawa. Agak munafik memang, aku ingin ada di posisi pacarnya. Bersamanya setiap hari, menghabiskan banyak waktu dengannya, berbagi tawa dan canda ataupun berbagi setiap masalah.

     Tetapi aku yakin. Tiap kebodohan yang aku lakukan untuknya. Tiap aku tanpa henti menatapnya. Aku akan bilang pada diriku sendiri bahwa “aku sedang menunggu jodohku, aku sedang menunggu calon suamiku.” Iyaa.. laki-laki tampan yang sedang bersama gadis itu lah jodohku. Lucu memang, tapi entah kenapa kata-kata itu bagai sebuah mantra buatku. Mantra mahadahsyat yang membuatku tidak berhenti bersikap bodoh.

     Dua tahun kemudian aku dipertemukan kembali dengannya disebuah kampus yang sama. Dengan statusnya yang baru. SINGLE. Yaah dia seorang SINGLE. Dan aku tidak tau apa yang lebih membahagian selain ini. Kami mengambil jurusan yang sama membuat kami semakin akrab. Aku senang saat ia bilang. “kamu lucu, kenapa dulu kita jarang ngobrol yaa walau kita satu kelas.” Tentu saja, ia sudah terlalu sibuk dengan gadisnya. Dunianya hanya untuk gadisnya. Mana mungkin ia membuang-buang waktu untuk mengobrol dengan yang lain.

     Mungkin ia sibuk menutup rapat kehidupannya hanya untuk gadisnya. Bahkan menolak seseorang yang mungkin lebih baik dari gadisnya. Tapi bukankah itu bagus. Ia tidak mudah tergoda. lalu kenapa akhirnya mereka putus? Sayangnya aku tidak ingin membuang waktuku untuk memikirkna hal itu. Aku hanya ingin dekat dengannya. Itu saja.
Lolita hampir tidak percaya saat aku menceritakan kedekatanku dengan raihan. “jadi sekarang udah nggak cinta bertepuk sebelah tangan niih?” katanya menggodaku. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengankat bahu karena pada kenyataannya status hubunganku dengannya masih belum jelas.

          Tok..tok..tok..

     Suara itu terdengar. Aku tersadar dari lamunanku dan menyuruh orang diluar masuk. Ibuku tersenyum dari balik pintu. Dengan kebaya stelan berwarna krem ia menghampiriku. “ayo sayang, semuanya sudah siap.” Aku mengangguk dan meninggalkan meja rias. Berjalan pelan karena kabaya yang kupakai terasa membelit tubuh rampingku.

     Dan disanalah… aku melihat calon suamiku terduduk didepan penghulu. Pria itu dia.. Raihan.. pria yang selama ini aku tunggu-tunggu. Pria yang namanya selalu kuteriaki dalam hati sambil berkata “kamu jodohku… kamu calon suamiku.”


      Ia menoleh. Dengan stelan hitam yang tampak elegan dan kopiah di atas kepalanya. Senyum itu masih sama. Senyum yang lima tahun lalu kulihat. Senyum yang berhasil membodohiku. 

Saturday, 8 November 2014

Hanya Aku dan Marcell


    Mataku menyalang tajam menatap suamiku yang terduduk disamping ranjang rumah sakit. Wajahnya letih dengan garis-garis kelelahan yang sama sekali tidak tersamarkan bahkan saat ia mengulas senyumnya.

     “Maafkan aku.” Aku berbisik Pelan pada Marcell. Pria sempurna yang sudah 4 tahun menemani hidupku. “Tidak apa-apa. Yang penting kau baik-baik saja.” ia meringis mengelus perutku yang beberapa jam lalu besar dan Sekarang sudah kembali ke ukuran semula. Aku tahu ia berbohong. Dia Tidak baik-baik saja, ia kecewa, aku bisa melihat dari sirat matanya. Aku merasakan hati kecilku teriris, tapi buru-buru aku enyahkan, bukankah aku seharusnya senang? Bahagia? Semuanya akan kembali seperti semula. Hanya aku dan suamiku, Marcell. Tanpa anak, tanpa pengganggu dan tanpa orang lain.

    Orang mungkin akan mengganggapku gila karena aku sama sekali tidak ingin memiliki anak. Aku terlalu mencintai Marcell. Aku tidak ingin ada orang lain dalam keluarga kecilku, aku tidak ingin marcell membagi cintanya, hatinya, perhatiannya dan semuanya pada yang lain. Aku membutuhkan semua itu seutuhnya seakan itu ada sumber kehidupanku.

   Empat tahun lalu, Marcell Melamarku setelah 2 tahun kami berpacaran. Dan rasanya melebihi kata “BAHAGIA”.  aku tidak perlu lagi berjauhan dengannya, kami akan tinggal satu atap, satu rumah dan kami akan selalu bersama. Aku tidak perlu takut lagi kala ia pulang malam dari kantornya karena sekarang aku yang  akan menyambutnya dengan senyum. Tiap mentari menyemburatkan cahayanya, ialah orang pertama yang akan aku lihat, wajah tampannya yang acak-acakan dan aku sangat menyukainya. Aku membuatkan sarapan kesukaannya. Roti isi telur dadar dan kopi hitam lalu membuatkan bekal untuk makan siangnya, aku tidak mau ia makan diluar dan terlibat sosialisasi yang terlalu berlebihan. Siangnya, aku akan mencuci bajunya. Mencium aroma maskulin yang menempel di kemejanya. Wangi yang sangat aku sukai. Setelahnya, aku akan menunggu jam menunjukkan pukul 12 siang, karena aku akan selalu menelponnya. Mengingatkannya agar tidak telat makan dan menemani makan siangnya melalui telepon. Lalu, aku akan memasak, membuat makanan kesukaannya. Begitu seterusnya. Rutinitas yang menurut orang mungkin membosankan. Tapi aku tidak, aku selalu menikmati detik-detik melayaninya, menit-menit memanjakannya, berjam-jam bersamannya, dan selamanya akan seperti itu.

    Awal pernikahan kami, aku mengutarakan keinginanku untuk menunda memiliki anak, Dan melihat umurku yang masih terbilang muda, Marcell mengiyakannya dan akhirnya setuju aku meminum Pil KB untuk menunda kehamilan. Tapi itu hanya berjalan tiga tahun. Rupanya Marcell mulai mengingnkan tawa dan tangis bayi diantara kita. Aku melihat begitu besar keinginannya untuk memiliki anak. Dan dengan terpaksa aku bilang tidak akan mengkonsumsi Pil KB lagi. Berbulan-bulan sejak itu sebenarnya aku masih meminum rutin Pil itu tanpa sepengetahannya. Apapun asal aku tidak hamil. Diapun tidak menaruh curiga sedikitpun.

   Pertengahan bulan maret aku menaruh curiga karena aku tak kunjung datang bulan. Aku sempat khawatir karena takut kalau aku hamil. Jawaban langsung kudapatkan saat aku melakukan test menggunakan test pack dan semua ketakutanku menyeruak. Positif , Bagaimana mungkin? Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan aku melihat Marcell tersenyum. “aku pulang lebih cepat. Kau sudah lebih baik? Atau kita butuh ke dokter?” Tiga hari kemarin memang aku sempat mengalami sakit. Perutku mual aku selalu memuntahkan semua makanan yang aku makan. Dan sekarang aku tersadar, aku bukan sakit tapi aku hamil. aku yang kaget justru menjatuhkan alat periksa kehamilan itu, dan berharap Marcell tidak menyadarinya.“tidak, aku sudah lebih baik.” Aku tersenyum kaku saat melihat Marcell mendekat dan dalam hitungan detik justru kaki-nyalah yang menginjak benda panjang itu. Ia yang menyadari lantas mengambil benda itu dan tersenyum lebar seakan tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. “kamu hamil?” aku diam, tidak tau harus memperlihat wajah seperti apa. Aku mematung lalu merasakan tubuhku dipeluk erat olehnya. “oohh terima kasih tuhan.” Ia melepas pelukannya dan aku melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya. “kita harus memastikan secepatnya ke dokter.”

     Aku tidak tau bagaimana aku bisa hamil, mungkin aku pernah lupa mengkonsumsi Pil KB itu atau entahlah. Yang jelas, sekarang aku hamil. Aku akan mempunyai seorang anak. Akan ada yang mengambil sebagian perhatian Marcell, Cinta Marcell, dan Kasih sayang Marcell. Tidak..Tidak Boleh. Ini tidak boleh terjadi. Kasih sayang Marcell Hanya untukku. Tidak ada yang lain.

     Selama kehamilanku, aku merasa Marcell Tidak berubah. Ia masih menjadi sosok yang hangat. Perhatiannya bahkan menjadi dua kali lipat. Ia jarang pulang malam, Ia rajin memijat kakiku yang terasa pegal, Membuatkanku teh hijau saat aku merasa perutku bermasalah, mengingatkanku agar tidak lupa meminum susu hamil, dan setiap malam ia selalu mengusap-usap perutku hingga aku terlelap tidur. Tapi aku sadar, semua itu bukan untukku. Itu semua untuk bayi ini, bayi yang tengah ku kandung, darah dagingnya yang sama sekali tidak aku harapkan.

     Selama hamil aku sama sekali tidak mengurangi kegiatanku. Aku melakukan semua pekerjaan dirumah seperti biasa sekeras apapun Marcell melarangku. Tapi aku tidak peduli, tanpa sepengetahuannyapun aku kerap meminum-minuman bersoda dan berakohol. Berharap itu akan mempengaruhi janin yang sedang ku kandung dan yang pasti, aku sering mengkosumsi Nanas muda. Buah yang kata orang ampuh untuk masalah menggugurkan kandungan.

    Kehamilanku menginjak 5 bulan dan aku semakin cemas. Kandunganku baik-baik saja dan terkesan semakin kuat. Ia seakan memang ditakdirkan untuk terlahir diantara aku dan Marcell. Aahh tolonglah aku tuhan. Aku tidak sanggup menerima anak ini. Aku tidak menginginkannya, aku sama sekali tidak mengharapkannya. Tiap malam aku selalu diburu ketakutan. Dan kata-kata ABORSI  Pernah terlintas dipikiranku. Tapi sekali lagi, apa aku tega. Bukan..bukan pada calon bayiku. Tapi pada Marcell. Apa aku tega Melenyapkan kebahagiaan Marcell. Apa jika aku kehilangan bayiku senyuman itu akan tetap ada? Lagipula aborsi terlalu beresiko.

    Usia kandunganku menginjak 7 bulan dan sepertinya aku tidak punya pilihan selain membiarkan anak ini lahir kedunia. Mengambil alih duniaku dan Marcell. Apa aku siap kehilangan Marcell? Apa aku siap membagi cinta dan kasih sayang Marcell untuk anak ini?

     Sore itu. Aku tengah bersantai menunggu kepulangan Marcell. Aku duduk di sofa kamarku. Kehamilan ini benar-benar membuatku lemah. Membuat gerak-gerikku terbatas. Suara bel pintu membuyarkan perhatianku dari televisi didepanku. Bel itu terus berbunyi karena aku masih harus melewati ruang tamu untuk sampai dipintu utama.

    Karena orang diluar terus menerus membunyikan bel yang memekakan telinga. Aku berusaha mempercepat langkah kakiku. Tapi karena ketidak hati-hatianku. Aku terpeleset dan jatuh tersungkur. Aku sempat berteriak sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

      Dan beberapa Jam yang lalu. Aku tersadar diruangan serba putih dengan bau menyengat yang sangat khas. Marcell yang mengetahui aku sudah siuman langsung menghampiri “aku dimana?” tanyaku dengan suara lirih. “kau dirumah sakit sayang. Kau terpeleset di ruang tamu dan kita kehilangan calon bayi kita.” Wajahnya pucat, sendu, dan terlihat acak-acakan, frustasi dan lelah. Tak kudapati lagi Marcell yang selalu terlihat sempurna dengan senyum manisnya. Tapi… aku keguguran… itu artinya aku tidak melahirkan anak Marcell, Tidak akan ada yang hadir diantara aku dan Marcell, aku tidak harus berbagi cinta dan Kasih sayang Marcell. Hanya aku dan Marcell.



     Mungkin kalian akan berfikir aku gila, Psykopat, punya kelainan jiwa atau apapun. tapi aku mencintainya. Begitu besar. Aku terobsesi padanya. aku tidak menginginkan orang lain selain Marcell, hanya Marcell. Dan sekarang kau tau bagaimana rasanya? Rasanya seperti kau terbang bersama kekasihmu, lega luar biasa tanpa takut akan angin kencang ataupun hujan.  Sekali lagi Hanya aku dan Marcell

Thursday, 6 November 2014

Gadis Nila

BAB ENAM

Entah sudah berapa air mata yang jatuh karena menceritakan masa laluku. Nathan tersenyum tipis lalu memelukku. Mengelus pundakku dengan sebelah tangannya.

“gue bakal tetep jadi sahabat lo apapun yang terjadi.” Aku melepas pelukannya dan menatap matanya dalam-dalam. Mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. “lo bisa percaya sama gue.” Aku merasakan tangan Nathan mengelus pipiku. Meyakinkanku bahwa omongannya benar-benar bisa dipercaya. Aku merasakan kelegaan luar biasa, setidaknya aku masih mempunyai Nathan yang akan selalu ada disampingku. Dan apapun yang terjadi besok, aku harus siap.

Tiga hari setelahnya semuanya baik-baik saja. Tapi tidak untuk hari selanjutnya. Aku datang kesekolah seperti biasa. Tapi keanehan muncul saat aku menjejakkan kaki digerbang sekolah. beberapa anak yang melihatku terlihat menjauh dan berbisik, membiacarakan sesuatu yang sama sekali tidak aku megerti. Aku tau mereka membicarakanku. Aku melihat nathan dari kejauhan, berjalan kearahku. Aku bisa melihat kerisihannya melihat orang-orang lain.

“kenapa sih tan?” aku mengikuti Nathan menuju taman belakang sekolah. ia lalu mengeluarkan smartphone dari saku celananya. Lalu memutar sebuah video yang dikirim melalui kontak blackberry messenger. Dan yang ada di video itu adalah aku. Aku yang sedang berada ditaman ini dan sedang berbicara sendiri, bukan,  aku yakin aku sedang berbicara dengan farrel. Tapi siapa orang iseng yang tega melakukan hal ini. aku merasa kehancuran ada didepan mataku kali ini. mereka akan menganggap aku aneh, aku gila. Sama seperti kejadian beberapa tahun lalu.

“ini semua nggak akan seburuk yang lo kira. Semuanya akan baik-baik aja.” Dia meremas tanganku. aku bisa melihat bayangan wajahku yang mencoba tersenyum dari bola mata gelapnya.

“tegakkan kepala lo val. Tunjukin sama mereka klo gosip murahan itu sama sekali nggak berpengaruh sama lo.” Nathan mengucapkan kata-kata itu saat aku kembali berjalan menuju kelas. Melewati koridor yang masih diisi oleh anak-anak yang asik bergosip. Aku tersenyum menyadari katanya seperti mantra buatku. Aku mengangkat wajahku dan menatap mereka yang membicarakanku. Sebagian dari mereka memilih menunduk saat aku menatapnya, tapi sebagian lagi memilih tersenyum sinis.

“kalo ada apa-apa bilang gue aja. Ntar gue kesini lagi pas jam istirahat.” Aku tersenyum saat Nathan mengantarku sampai depan kelasku, walau aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi didalam kelasku beberapa menit kemudian.

“makasih yaa.. gue bakal baik-baik aja.” Sekali lagi aku tersenyum dan masuk kedalam kelas. Menatap satu persatu teman sekelasku yang menatapku dengan sarkastis. Tanpa memperdulikan mereka, aku duduk dibangku ku. Dan hanya memikirkan apa yang mereka pikirkan tentangku.

Gue inget beberapa waktu lalu waktu sha-sha jatoh, gue dengar dia bilang hati-hati sama sha-sha. Gue pikir itu salah satu bukti kalo dia emang pembawa sial.

Oia, betul, sama kaya kejadian dikantin pas papan jatoh dari atap. Gue sebenarnya ragu kalo itu kebetulan.

Semua yang dia omongin selalu jadi kenyataan. Pantes aja ga ada orang yang mau deket sama dia.

Beruntunglah  si indah udah ga temenan sama dia, tapi, anak kelas sebelah tuh.. siapa namanya.. ohh,, Nathan.. kok dia masih mau ya temenan sama dia.
­­­­­­­­­Dia belum kena batunya aja.
           
Aku menahan emosiku yang sudah berada diubun-ubun. Tidakkah mereka tau kalau aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini. aku menarik nafas panjang, mencoba menengkan diri walau sebenarnya aku ingin sekali menyumpal mulut mereka satu-persatu. Mengajarkan pada mereka tentang menghargai orang dan tidak dengan asal menghakimi seseorang. Sepanjang pelajaran aku masih bisa mendengar desas-desus gosip yang berembus di tiap sela-sela kelas mengenai diriku.

***

“Lo terlihat lebih dewasa menghadapi mereka semua..” farrel mengikuti masuk kedalam kamar. Seakan tidak bosan mengomentari hidupku. Aku melempar tas ku ke meja belajar dan langsung menjatuhkan diri di ranjang. Menghela nafas panjang karena merasakan panas diluar yang sudah menempel dikulitku. “Nathan menguatkan gue, lo tau kan. Sebelumnya gue tidak pernah berfikir sahabat bisa menjadi sosok yang bisa menguatkan kita seperti ini. dulu gue kuat karena gue punya lo, dan sekarang gue punya Nathan juga. gue nggak peduli apa yang mereka pikirkan.”

Farrel terlihat mengangguk seraya membenarkan kata-kataku. Selama beberapa menit aku hanya menatap langit kamarku dalam diam saat suara ibuku memenuhi gendang telingaku. Menyuruhku untuk makan. Aku keluar tanpa mengganti seragamku, hanya sepatu dan tas yang sudah kutanggalkan dari tubuhku, dan dasi yang hanya kukendorkan ikatannya.

Aku melihat adikku Egi sudah ada dimeja makan. Menunduk saat aku memasuki ruangan. Aku duduk ditempat biasa dan mulai menyendokan nasi ke piringku. Biasanya aku lebih suka makan sendiri, dikamar atau menunggu sampai adikku selesai makan dan enyah dari meja makan. Tapi entah kenapa hari ini aku ingin berada disini. Melihat senyum ibuku dan melihat tatapan dingin adik tiriku.

“sepertinya pindah kesini benar-benar merubah hidup kamu ya.” ibuku melihatku dengan senyum dan aku membalas. Mungkin masalah disekolahku diluar jangkauan ibuku dan sejujurnya aku sangat mensyukuri itu. rumah kami sekarang dikelilingi tembok tinggi dan bisa bilang lebih terisolasi oleh yang lain. Selama tinggal disini aku bahkan tidak begitu mengenal tetanggaku. Tapi aku tau bahwa tetangga disamping kananku adalah sebuah keluarga besar dengan lima orang anak. Dua anak laki-laki tertua dan sisanya adalah anak perempuan. Aku pernah melihat salah satu dari mereka beberapa waktu lalu saat aku hendak berangkat kesekolah.

Dua diantaranya kembar dengan perbedaan sikap dan sifat yang begitu mencolok. Biarpun mereka tidak bisa dikenali secara fisik tapi dari aura yang dikeluarkan mereka semua orang akan bisa membedakan mereka. salah satu dari mereka bersikap sangat feminin. Umurnya mungkin sama denganku karena aku melihatnya juga berseragam SMA. Rambutnya tergarai rapi dengan pita berwarna biru yang menghiasi segaris kepalanya. Ditangannya ada gelang-gelang warna-warni khas wanita. Dan dari kejauhan aku bisa melihat kembarannya bersikap sebaliknya. Rambutnya di ikat acak-acakan dengan ransel dan sepatu lusuh. Tidak mencerminkan seorang gadis pelajar. Tapi aku mengagumi kekompakan keluarga mereka. mereka akan makan kalau semua penghuni rumahnya sudah berkumpul dimeja makan. Ayah mereka tegas dan ibu mereka lembut.

Sedangkan penghuni sebelah rumahnya yang lain. Aahh, aku benar-benar membenci wanita itu. aku dan ibuku pernah sekali membawakan kue sebagai perkenalan tetangga baru. wajahnya bulat, rambutnya keriting dan dicat berwarna merah keunguan, tubuhnya jangkung, aku mengira tubuhnya hanya tulang berbalut kulit. Wanita itu punya seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Wanita itu kasar, selalu membatasi anaknya. Memperlakukan anaknya seperti tahanannya. Mengatur semuanya atas kebaikan anaknya walau sebenarnya itu omong kosong belaka.

***

Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Anak-anak lain belum berhenti menatapku dengan tatapan aneh. Tapi toh aku tidak peduli lagi. Aku masuk ke kelas, melihat indah yang sudah terduduk dikursinya. Sepertinya kecelakaan itu kini sudah tidak meninggalkan bekas diwajahnya, dan kakinya biarpun sudah tidak dibebat oleh perban, tapi aku bisa melihat bahwa kaki indah belum seratus persen pulih.

Aku duduk dikursiku, dua meja didepanku membuat jarak antara aku dan indah. selama beberapa menit  aku hanya menatapnya, merindukan suara gadis itu, teriakannya, tawanya, kecerewetannya. Sosok tampan diambang pintu mengalihkan perhatianku. Nathan berdiri disana, tersenyum pada indah lalu melirikku. Ia sempat menananyakan kabar indah yang dijawabnya dengan dingin lalu beralih ke- mejaku.

Nathan akhirnya mengajakku ke kantin. Keluar dari kondisi dimana aku sedang meratapi persahabatanku dengan indah.

Aku melewati lorong-lorong sekolah hanya untuk mendapat tatapan-tatapan ketakutan dari yang lainnya. Mereka semua dengan spontan menghindar sejauh mungkin dari ku. Membagi jalan untukku dan Nathan.

            “oohh come on valia. Nggak usah anggap mereka penting.” Nathan melotot menatapku dan menyuruhku menyunggingkan senyum. Aku menurut. aku duduk dipojok ruangan sedangkan Nathan membeli minuman. Disana, aku melihat andre sedang duduk bergerombol tak jauh dari tempat dudukku. Dia menatapku, tatapan sinis, bukan tatapan ketakutan seperti beberapa hari yang lalu. Ia mendengus lalu berbalik. Kembali mengobrol dengan teman-temannya.

            Nathan duduk didepanku membawa dua buah minuman botol dan menyodorkan salah satunya kepadaku. Aku mengumamkan terima kasih sambil membuka tutup botol itu.

Gue Cuma butuh tiga hari lagi sampe akhirnya lo semua percaya
kalo gue bisa dapetin cewek manapun yang gue mau. Jadi sebaiknya lo siap kehilangan handphone lo masing-masing.

            Aku meletakkan botol itu dengan kasar, mencengkeram botol itu hingga hampir berubah bentuk. Menahan geram sambil menatap kerumunan orang yang sibuk tertawa tak jauh dari tempatku duduk.

            “lo kenapa val?” dahi Nathan berkerut melihat ekspresiku.

Mereka semua cewek murahan, sampah. Gue gak peduli apa yang terjadi,
Mereka nangis, jerit-jeritan, ngamuk sama gue, gue gak peduli. Toh kita masih pacaran.
Gue bebas putus sama mereka sesuka hati gue.

            Dan kali ini aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Aku meremukkan botol plastik itu dan berjalan menuju andre. “dasar cowok brengsek.” Aku menarik tangannya hingga berdiri dan menamparnya. Cukup keras karena kepalanya sampai terdorong ke belakang.

            “kalo lo pikir gue gak tau akal bulus lo, lo salah. Gue tau rencana busuk lo ndre. Dan sekarang gue akan kasih lo pelajaran karena lo udah mempermainkan sahabat gue.” Aku kembali meninju wajahnya beberapa kali sampai lengan Nathan akhirnya mengapitku. “val, lo kenapa sih. Tenang donk.” Nathan masih berusaha menjauhkanku dari andre hingga akhirnya aku benar-benar berada cukup jauh.

            “gue janji lo gak akan lepas dari gue kalo lo sampe nyakitin indah.” aku tersengal dan berusaha mengatur nafasku yang terengah-engah karena menahan marah. disana, aku bisa melihat andre menatapku dengan tatapan marah sekaligus ketakutan. Sudut bibirnya berdarah dan pelipisnya membiru.

            “dasar cewek pembawa sial. Gue gak takut sama ancaman lo. Gue bakal laporin lo ke guru BP.” Katanya sambil berlalu meninggalkan aku dan kerumunan anak-anak yang ada dikantin.

           Aku kembali duduk dan masih menjadi tontonan. “lo kenapa sih val?” Nathan menyodorkanku segelas air putih yang langsung aku habiskan dengan sekali tenggak.

            “indah itu Cuma bahan taruhannya andre.” Aku melihat Nathan yang terkejut mendengar kata-kataku. “tapi lo liat sendiri kan gimana indah. dia nggak mau dengar kata-kata gue. Dia lebih percaya sama cowok brengsek itu dibanding sama gue.” Aku menutup wajahku dengan talapak tangan. “kita coba bilang lagi ke indah ya.” Kata Nathan pelan. Aku menengadahkan kepalaku, menatap Nathan yang mencoba tersenyum

***

          “valia, lo dipanggil guru BP.” Salah seorang temanku masuk dan berteriak, seakan tidak ingin mendekat kearahku. Aku berdiri dan meninggalkan kelas. Aku sempat melirik indah yang wajahnya sedingin es. Indah mungkin memang tidak ada di tempat saat aku memukul andre. Tapi aku tau pasti kalau dia sudah mendengar insiden itu.

            Aku berdiri diruang BP yang setengah terbuka. Melihat andre yang wajahnya sudah lebam terduduk didalam. Disebuah sofa empuk berwarna hitam. Setelah menarik nafas panjang, aku masuk dan langsung mendapat tatapan tajam dari andre dan bu mia.

            Aku duduk di sebrang andre. Bias kemarahan masih terus terpancar dari matanya. Bu mia duduk di samping kami, di kursi yang mengarah langsung ke pintu.

            “saya dengar kamu memukuli andre sampai seperti ini.” bu mia melirik andre yang menampakkan wajah kesakitan. “iya.” Jawabku cepat.
            “kenapa valia?”
            “karena dia mempermainkan sahabat saya.saya…”
            “BOHONG BU.” Andre langsung menyela bahkan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.
            Hampir tiga puluh menit kami beradu mulut. Bu mia sesekali menggebrak meja hanya untuk membuat kami kembali kekesadaran dan berhenti berbicara. Dan pada kenyataannya andre adalah orang yang pandai membela diri. ia mengemukkakan semua pendapatnya, bahwa aku tidak berhak ikut campur dalam hidupnya. Aku tidak berhak menghakiminya dan aku tidak berhak bertindak seperti itu.

            Dan akhirnya bu mia mengeluarkan surat skors selama tiga hari untuk ku. Akhir yang sudah aku duga sebelumnya. Andre tersenyum penuh kemenangan. Ia keluar terlebih dahulu, sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu ia sempat menoleh dan sekali lagi tersenyum yang membuatku benar-benar muak.

            Aku mengambil surat itu dari tangan bu mia. Lalu kembali ke kelas. Melihat keriuhan kelas yang mendadak senyap saat aku datang. Sedang tidak ada guru yang mengajar dan mereka semua berhenti bercanda saat aku masuk. Mereka berfikir aku seperti apa sih?
            Aku tidak perlu menunggu sampai bel pulang Karena semakin lama aku berada dikelas. Aku semakin muak menerima tatapan-tatapan menjengkelkan itu. aku meraih tas ku dan berjalan cepat keluar kelas. Sebelumnya aku sudah mengirim sms kepada Nathan bahwa aku akan menunggunya ditaman belakang sekolah.

            Aku lupa terakhir aku bertemu farrel, kini aku melihatnya yang tiba-tiba muncul di sebelahku. “di skors lagi?”  tanyanya. Aku hanya mengangguk dan mencoba tersenyum selebar mungkin. toh, ini bukan yang pertama kali buatku.

            “apa yang akan diperbuat pak tua itu kalau tau lo di skors lagi?” aku menoleh dan melihat seringainya. “entahlah, gue udah gede dan gue sama sekali gak peduli sama bokap gue.”

            “Jadi gadis bodoh itu belum mau percaya sama lo?” aku mengangkat bahu dengan acuh dan berkata “gue akan ngomong sekali lagi sama dia. Kalaupun dia nggak percaya sama gue, terserah.” Aku melihat farrel terseyum dan menjulurkan lidahnya, membuatku tertawa.

            Kami masih berada disana saat hari semakin siang. Suasa disana sepi karena jam sekolah belum berakhir. Aku masih terus tertawa saat farrel terus menerus mencoba menghiburku dengan tingkah konyolnya.

            “valia.” Suara itu membuatku dengan spontan menoleh, aku melihat Nathan berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Aku langsung diam dan menatap sejenak kearah farrel. Tapi pria itu malah terbahak melihat perubahan ekspresiku.

            “lo ngomong sama siapa?” Nathan mendekat dan berdiri didepanku, sedangkan farrel sudah menghilang entah kemana. “sama temen gue.” Kataku singkat. nathan duduk disampingku. Aku akhirnya kembali menceritakan farrel. Bahwa farrel masih terus menemaniku sampai saat ini. raut wajah Nathan tidak terbaca, ia hanya mengangguk pelan. “jadi, video yang kemarin itu. lo lagi ngobrol sama dia.” Aku mengangguk setuju. Aku melirik jam tanganku. Mempertanyakan Nathan yang sudah menggendong tasnya kesini padahal sekarang belum memasuki jam pulang.

            “lo kenapa disini? bukan belum jam pulang ya?” dia terlihat mengangkat bahu dengan acuh. “gue pikir lo butuh temen saat ini.”

            Lima menit kemudian kami berdua beranjak. Aku mulai bisa berkata jujur dengan Nathan tentang apa yang bisa aku lihat dan aku ketahui. Aku menceritakan semua makhluk astral yang terlihat olehku juga watak-watak semua orang yang terjangkau olehku. Aku melihat perubahan dalam raut wajah Nathan saat aku dan dia berhasil mendudukan diri disalah satu tempat makan pinggir jalan. Nathan memesan makan sedangkan aku masih terus mengoceh. Memberitahukan apa yang ku tau tentang orang yang duduk tak jauh dari tempat kami. Sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta penuh kepalsuan. Aku bisa tau mereka berdua sebenarnya sudah lama merasa bosan sehingga mereka mempunyai pacar lain. Nathan melotot seakan tidak percaya. “masalah kaya gitu aja lo tau?” aku mengangguk dan wajah Nathan berubah ekspresinya. “jangan-jangan lo juga tau detil hidup gue lagi.” Aku menatap wajah Nathan dengan geli seakan Nathan baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan. “yaiyalah, sebelum gue kenal sama keluarga lo, gue tau seluk beluk keluarga lo.”

            “ya tuhan… untung lo sahabat gue sendiri. Kalo nggak mungkin gue udah malu banget.” Wajahnya merona merah karena malu.

            “kenapa malu?” tanyaku, bersamaan dengan datangnya seorang pelayan yang mengantarkan pasanan kami. Aku langsung menyeruput minumanku dan mulai memegang sendok dan garpu. “ya… lo pasti tau kalo keluarga gue berantakan kan?” Nathan mulai menggerakkan sendok ke mulutnya. “tapi gue berterimakasih karena keluarga gue membaik Karena lo.”  Ia mengerlingkan sebelah matanya. Kami makan dalam diam. Suasana tempat makan yang tadinya sepi mulai ramai manjelang makan siang. “gue suruh indah kesini ya. Kita peringatin dia sekali lagi.” Aku mendengar nada ragu dalam bicaranya. Aku hanya mengangguk sementara dia sibuk dengan ponselnya.

            aku mengamati sekitarku. Suara lonceng selalu terdengar setiap kali pintu terbuka. Pintu kaca itu, sebagai satu-satunya penghubung dengan kaca berwarna gelap seperti menelan dan memuntahkan orang yang keluar masuk. Kaca jendelanya sangat kontras dengan pintu itu. berwarna putih nyaris tanpa noda. Beberapa pelayan sibuk hilir mudik membawakan pesanan para pelanggan. Menyiapkan makan mereka walau mereka sendiri belum makan. Seragam mereka berwarna biru muda, dalam pandanganku seperti seragam para supir taxi. Hanya sebuah topi dan celemek yang tampak trendi yang membedakan.

            “dia bilang lima menit lagi dia sampe. Kebetulan dia baru pulang dari sekolah, jadi pasti lewat sini.” Kata-kata Nathan menggunggah ku dari lamunan. Aku tersenyum kecut  dan menyesap minumanku yang ternyata sudah habis. Hanya menyisakan es yang sudah mencair dan tidak berasa. Aku memutuskan untuk memesan minuman lagi sedangkan Nathan lebih suka mengaduk-adukan minumannya yang masih tersisa seperempat. Menimbulkan bunyi-bunyi es batu yang membentur dinding gelas.

            Entah ini sudah lebih dari lima menit atau memang lima menit terasa begitu lama. Aku sudah menghabiskan minumanku hampir setengah dan indah sama sekali menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Aku melirik nathan yang memperhatikan jam tangannya. Aku bertanya dan ia bilang bahwa kita sudah hampir sepuluh menit menunggu. “mungkin macet.” Katanya mencoba memberikan alasan.

lonceng kembali berbunyi dan saat itulah penantianku berhenti. Indah masuk dan mengedarkan pandangan kesekeliling. Nathan yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan dari pintu masuk langsung melambaikan tangannya. Mencoba menarik perhatian indah yang masih sibuk mencari keberadaan kami. Indah mendekat, duduk disamping Nathan dengan canggung. Nathan menawarinya minum tapi ia menolak dan berdalih bahwa ia tidak bisa lama-lama. Aku bisa merasakan kegelisahan dalam diri indah. Seperti mendapati bahwa ia berada ditempat yang salah.

“gue sama valia Cuma mau ngomong masalah lo sama andre.” Nathan mulai membuka suara dan yang langsung disambut oleh tatapan sarkastik oleh indah. Aku sendiri masih diam, menunggu reaksinya lebih lanjut. “kenapa lagi sih tan, kenapa lagi sama andre. Gue sayang sama dia dan gue harap lo ga ganggu hubungan gue sama andre.” Nada suara indah masih pelan tapi aku bisa mendengar nada geram dalam kata-katanya. Nathan terlihat menjilat bibir bawahnya. Seakan mencari-cari dari mana ia harus mulai bicara. “tapi ndah, andre itu nggak sebaik yang lo kira. Dia nggak bener-bener serius sama lo.” Seorang anak yang berlari melewati mejaku sedikit mengalihkan perhatianku. Aku kembali mentap indah yang kebingungan. “apa ada bukti? Kata-kata kalian itu nggak berdasar tau.” Kali ini kata-katanya ikut menudingku. Aku masih diam dan ia melirikku dengan tatapan jijik. Seperti tatapan kepada seorang wanita yang hendak merebut pacarnya sendiri.

“lo akan tau ntar. Tapi please kali ini dengerin kata-kata kita.” Dengan segala cara Nathan mencoba meyakinkan indah, tapi ia tetep menyembunyikan identitasku sebagai seorang indigo. Aku melarang Nathan menceritakan bahwa aku adalah seorang indigo kepada siapapun dan dalam keadaan mendesak sekalipun.

Aku melihat raut wajah indah menegang seakan secara mentah-mentah menolak kata-kata Nathan. Ia kembali menguarkan pendapatnya. Mengenai kata-kata Nathan yang tidak berdasar, kita tidak punya bukti dan alasan yang jelas. Ia bilang ia menyayangi andre dan apapun yang aku dan Nathan bilang tidak akan merubah perasaannya pada andre.

Sura lonceng menandakan indah sudah keluar dari resto itu. aku mendesah pelan, Nathan langsung menenggak habis sisa air di gelasnya. Seakan tidak percya bahwa indah begitu sulit diberitahu, indah lebih egois dari yang dikirannya. Selama beberapa detik kami hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ayo pulang tan, bentar lagi ujan.” Aku mulai menenteng tasku dan bersiap beranjak saat Nathan malah sibuk melihat keadaan diluar yang masih begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda mau hujan. Tapi setelah sekali lagi aku menegurnya, ia seakan tersadar bahwa aku adalah seorang indigo yang bisa mengetahui sesuatu diluar jangkauan orang lain.

Kami keluar dari tempat itu setelah memberikan sejumlah uang ke kasir. Aku masih diam saat nathan membuntutiku masuk ke komplek perumahanku. Langkahku lebih cepat dari biasannya, seakan ingin segera sampai dirumah. “val, lo nggak apa-apa? pelan-pelan donk jalannya.” Keluhnya. Aku berbalik “lo ngapain ngikutin gue. Pulang ajalah. Gue nggak apa-apa.” kataku dengan nada agak kencang. Tidak bisa menyembunyikan kekesalanku. “lo nggak baik-baik aja. Gue tau lo kesel karena indah keras kepala. Iya kan?”

Aku medengus mendengar kata-katanya. “gue udah nggak peduli lagi sama indah ataupun andre dan yang lainnya. Mereka semua nggak tau diri. Bertindak sesuka hati mereka, mengejar apa yang menurut mereka baik padahal itu kesalahan besar dan mereka akan berdecak marah Karena seseorang mencoba memperingatkannya.”

Aku merasakan pandanganku kabur dan setetes air mata meluncur mulus dipipiku. Aku mengertakan gigi, mencoba menahan air mata yang akan jatuh lagi. Nathan mendekat dan mengusap bahuku. “val, ada gue disini. gue gak akan ninggalin lo karena hal apapun. Gue nggak kaya mereka. Jadi gue pengen lo gak sedih lagi ya.” Aku merasakan ibu jari Nathan mengusap air mataku. Aku mendongkak dan melihat dia tersenyum. Menaikkan garis bibirnya. Memaksaku melakukan hal yang sama.